(1 Vote)
(1 Vote)
Read 431 times | Diposting pada

Seekor Kuda Melenggang Masuk ke Bar

David Grossman dan Jessica Cohen David Grossman dan Jessica Cohen Arsip resmi The Man Booker Prizes

 

"Saya ingin Anda semua melihat kepada saya, melihat benar-benar, dan setelah itu tolong beritahu saya."

"Beritahu apa?"

"Apa yang Anda lihat."

 

Dovaleh Gee mencari nafkah dengan berdiri di panggung dan melucu. Ia pernah menjadi bintang komedi yang cukup bersinar, tetapi masa-masa itu sudah berlalu, dan malam itu, di sebuah klub komedi di kota kecil Israel, bukannya melucu ia malah hancur-lebur di atas panggung di hadapan seluruh penonton yang sudah terlanjur datang dengan harapan ingin tertawa sampai keluar air mata. Di antara penonton itu duduklah Avishai Lazar, yang adalah seorang pensiunan hakim, mantan teman masa kecil Dovaleh, sekaligus narator kita. Sepanjang novel A Horse Walks into a Bar, kita akan dibawa masuk ke dalam kehidupan Dovaleh Gee sang stand up comedian melalui Avishai, sehingga kita pun serasa sedang duduk dalam keremangan ruangan dingin bersama lusinan orang lain, mendengarkan kisah tragisnya. "Buku ini tidak hanya tentang Israel," demikian kata The Guardian, "namun juga tentang orang-orang dan masyarakat yang tidak berfungsi dengan benar."

A Horse Walks into a Bar merupakan karya David Grossman, salah satu penulis terlaris Israel. Novel ini diterjemahkan oleh Jessica Cohen dan beredar di Inggris melalui penerbit Jonathan Cape. Malam tadi, tepatnya hari Rabu tanggal 14 Juni, novel tersebut diumumkan sebagai pemenang Man Booker International Prize 2017 oleh Nick Barley, ketua dewan juri serta direktur Edinburgh International Book Festival. A Horse Walks into a Bar mengalahkan Compass karya Mathias Enard, The Unseen karya Roy Jacobsen, Mirror, Shoulder, Signal karya Dorthe Nors; Fever Dream karya Samanta Schweblin, serta Judas karya penulis Israel lain dalam Shortlist ini, Amos Oz.  

Grossman dan Cohen telah lama malang-melintang di dunia sastra. David Grossman menulis sembilan novel serta beberapa buku anak-anak, juga telah banyak memenangkan penghargaan berskala internasional, sementara Jessica Cohen telah menerjemahkan karya-karya penulis Israel lainnya seperti Etgar Keret, Dorit Rabinyan, Ronit Matalon, Rutu Modan, Amir Gutfreund, serta Tom Segev. Kolaborasi pertama Grossman dan Cohen adalah untuk novel To the End of the Land. 

Kita dapat memandang adanya Man Booker International Prize ini sebagai suatu komitmen memajukan penerjemahan serta upaya meneropong sastra dunia yang sebelumnya kurang terjamah. Tahun ini merupakan tahun kedua Man Booker International Prize dipersembahkan kepada karya tunggal, setelah Han Kang dan Deborah Smith keluar sebagai pemenang tahun 2016 lalu melalui The Vegetarian. Semenjak kemenangan Han Kang, kita menyaksikan kebangkitan yang sangat signifikan dari sastra Korea Selatan. Tiba-tiba penulis-penulis Korea Selatan seperti Kyung-Sook Shin, Suki Kim, dan Kim Hyesoon menjadi buah bibir di seluruh dunia. Bahkan menurut statistik Nielsen Book yang dikutip di laman resmi The Man Booker Prize, penerjemahan atas sastra Korea Selatan melambung sampai menyentuh angka empat ratus persen sepanjang tahun 2016 saja. Tentu angka tersebut tidak hanya akan berhenti di sana.

Tahun lalu Eka Kurniawan dan Labodalih Sembiring masuk ke dalam Longlist The Man Booker International Prize dengan novel Man Tiger atau Lelaki Harimau. Kini marilah kita bekerja keras agar Man Tiger tidak akan menjadi satu-satunya karya sastra Indonesia yang berhasil menembus garda komite Man Booker. 

 

 

 

 

Last modified on: 15 Juni 2017

    Baca Juga

  • Membaca "Human Acts", Membaca Kekerasan


    Tidak ada negara yang luput dari sejarah kekerasan. Tidak Indonesia, tidak pula Korea. Siapa mengira, negeri ginseng tempat tinggal pemuda dan pemudi idola para penggemar K-Pop itu juga menyimpan cerita-cerita…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni