(0 votes)
(0 votes)
Read 2419 times | Diposting pada

Dalai Lama Terakhir (?)

 

Last Week Tonight bersama John Oliver baru saja mengeluarkan sebuah video tentang pertemuan komedian Inggris itu dengan Dalai Lama. Menurut saya, ini adalah salah satu video terpenting tahun ini karena beberapa hal. Pertama, dunia sedang menghadapi krisis fundamentalisme agama---dan saya tidak hendak menunjuk Islam. Fundamentalisme agama dan intoleransi hari ini ada di hampir semua negara dengan mayoritas agama tertentu: di negara-negara mayoritas Islam seperti Indonesia, Bangladesh dan negara-negara timur tengah; negara mayoritas kristen seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, bahkan negara dengan agama yang terkenal paling damai, Buddha, di Myanmar. Dalai Lama adalah salah satu agen toleransi dan perdamaian yang sangat aktif, setara dengan Paus Francis hari ini. 

Kedua, Cina menjadi raksasa ekonomi di peradaban saat ini dan mereka membenci Dalai Lama setengah mati, karena ia adalah kekuatan spiritual dan politik terbesar di Tibet yang bisa menghasilkan martir-martir yang rela membakar diri untuk dirinya. Dalam video ini, Dalai Lama mengaku bingung harus berkata apa melihat kenyataan 140 orang yang membakar diri, karena bunuh diri dilarang dalam ajaran Buddha tapi ia tidak mau menyakiti hati keluarga yang ditinggalkan para pembakar diri tersebut. 

Ketiga, Dalai Lama hari ini bisa jadi Dalai Lama terakhir di zaman kita. Cina menculik Panchen Lama yang terpilih di tahun 1995, Gedhun Choekyi Nyima. Panchen Lama adalah anak pilihan Dalai Lama yang bertugas memilih Dalai Lama selanjutnya ketika Dalai Lama meninggal nanti. Cina menyembunyikan Gedhun Choekyi Nyima, dan meresmikan Panchen Lama-nya sendiri, Gyaincain Norbu, untuk selanjutnya memilih Dalai Lama berdasarkan instruksi pemerintah Cina.

Sejarah menunjukkan bahwa pemegang kuasa di dunia bisa semena-mena membunuh orang atas nama negara dan kuasa. Lebih jauh lagi, mereka bisa membunuh simbol. Membunuh simbol lebih kejam daripada membunuh orang, karena artinya orang itu tidak akan pernah diingat dan dihapus keberadaannya dari sejarah. Pembunuhan simbolis ini bukan yang pertama. Dari zaman Mesir kuno, misalnya, penguasa Mesir Madya (1200 SM) pernah mencoba membunuh simbol Hapshepsut, Fir'aun penerus Thutmoses II. Sebagai salah satu Fir'aun yang membawa Mesir ke masa kejayaan, Hapshepsut adalah momok bagi kerajaan karena ia perempuan. Ia mewarisi tahta dari suaminya dan memerintah selama 20 tahun bersama dengan anak tirinya, Thutmoses III yang masih balita ketika Fir'aun sebelumnya meninggal. Beberapa dekade setelah kematian Hapshepsut, ada pihak-pihak dalam Mesir Madyayang  berusaha menghancurkan segala peninggalan Fir'aun perempuan itu secara sistematis, untuk menghilangkan jejaknya sebagai Fir'aun perempuan. Ia bahkan tercatat sebagai Fir'aun (laki-laki) yang lalim--sangat terbalik dengan teks-teks tersembunyi yang ditemukan oleh para arkeolog. Untungnya arkeolog berhasil menemukan makam dan artifak-artifak tersembunyi yang mengungkapkan siapa Hapsepsut sebenarnya--walau hingga saat ini belum terbukti apakah teks-teks tersembunyi itu benar adanya karena kebanyakan teks tersebut disusun oleh Hapshepsut sendiri--sebagaimana banyak teks-teks peninggalan raja-raja masa lalu. Di Indonesia, pembantaian PKI 1965 dan kampanye anti komunis sampai masa reformasi adalah cara-cara pembunuhan simbol pula. 

Kembali ke Dalai Lama, video ini menjadi penting untuk disimak karena Dalai Lama sudah berusia 81 tahun, dan tinggal menunggu ajal. Ketika ajal itu datang, bisa diperkirakan apa yang akan dilakukan pemerintah Cina: (1) menyuruh Panchen Lama bonekanya untuk menunjuk Dalai Lama boneka, dan (2) menguasai Tibet yang kaya sumber daya alam secara legal. Sekarang kita semua yang harus mengingat darma-darma Dalai Lama ke 14, yang penuh toleransi, kedamaian, dan kutipan-kutipannya mencerahkan kita. Dalai Lama nampak tenang melihat gelagat Cina yang mencari legitimasi untuk menguasai Tibet dengan menunjuk Panchen Lama dan Dalai Lama boneka; karena legitimasi adalah masalah kepercayaan, kalau sudah tidak percaya maka ia otomatis gugur.

    Baca Juga

  • Kita Adalah “Ndeso” yang Lain


    Di Jawa orang mengenalnya sebagai Ndeso dan “Wong Ndeso”. Di Jakarta ada istilah “udik” dan “orang udik”. Di Sumatera mungkin akan ada yang memakimu “kampungan kali kau!”. Dan di sini,…

     

  • Video: Stranger Things dalam 8-bit


    Amerika menjadi negara besar karena arsip yang tersimpan baik, dan setiap generasi dibuat peka terhadap referensi-referensi kesejarahan mereka dengan banyaknya buku-buku yang harus dilahap bahkan oleh anak SD. Hipsterdom di…

     

  • Agama di Indonesia: Awal Mula dan Problematikanya


    Dalam karyanya yang berjudul The Meaning and End of Religion, Wilfred C Smith menjabarkan reification sebagai proses penginstitusian agama atau dimana religio sebagai kata sifat berubah menjadi religion yang merupakan…

     

  • Fiksi dan Sejarah Karya Pram: Hikayat Siti Aini ke Siti Mariah


    SALAH satu ciri utama yang mewarnai karya-karya Pramoedya Ananta Toer adalah saling hubungan antara sejarah (realitas) dan sastra (fiksi). Kekuatan pengarang ini adalah “menghidupkan” tokoh-tokoh sejarah atau periode tertentu sejarah…

     

Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni