(2 votes)
(2 votes)
Read 2955 times | Diposting pada

Diintimidasi Kelompok Tak Dikenal, Acara Ladyfast di Yogya Terpaksa Dihentikan

Diintimidasi Kelompok Tak Dikenal, Acara Ladyfast di Yogya Terpaksa Dihentikan Suasana pembubaran acara Ladyfast. Sumber foto laman Facebook Kolektif Betina

 

Selang satu bulan sejak pembubaran paksa Festival Belok Kiri di Jakarta, kasus serupa terulang lagi di Yogyakarta. Kegiatan seni Ladyfast yang rencananya akan digelar selama 2 hari (2 dan 3 April 2016) di kawasan Bantul, Yogyakarta dibubarkan paksa oleh kelompok tak dikenal berartibut keagamaan pada Sabtu malam (02/04).

"Jam 10 kami kedatangan kurang lebih 15 orang yang tidak mengidentifikasi dari kelompok mana mereka berasal. Mereka menuntut acara dibubarkan saat itu juga. Pemilik tempat dan panitia berusaha menjelaskan mengenai acara LadyFast. Ditanggapi oleh kelompok tersebut dengan makian dan kata-kata yang mengintimidasi," jelas panitia seperti yang dikutip di laman Facebook Kolektif Betina, Minggu sore ini (03/04).

Dijelaskan pula bahwa pada saat pembubaran terjadi, polisi sudah ada di lokasi. Perwakilan panitia dan pemilik tempat acara sendiri terus mencoba berdialog dengan kelompok tersebut, namun tidak digubris dan terus mengintimidasi. 

Kekerasan Verbal dan Menolak Dialog

Kolektif Betina, selaku inisiator kegiatan ini juga menjelaskan bagaimana kelompok tersebut menolak dialog. "Perwakilan Lady Fast dan perwakilan pemilik tempat acara terus mencoba berdialog dengan kelompok tersebut. Tidak ditanggapi dengan baik oleh kelompok tersebut, justru dibalas dengan berbagai makian dan hinaan, Menuding kami merusak moral dan pakaian kami menodai, dikatakan tempat maksiat. Mengeluarkan tuduhan komunis. Mengancam bahwa 500 orang akan menyerang acara kami. Mereka menunjukkan gestur yang mengarah pada kekerasan fisik," lanjutnya.

Meski panitia kemudian sepakat untuk menyudahi acara dan mengumumkan pada pengunjung acara untuk pulang dengan tertib, intimidasi verbal terus dilancarkan, salah seorang peserta mengalami serangan fisik hingga serangan verbal seperti “Najis” “Perempuan nggak bener” “Merusak, menodai!” “Sampah!”

Tidak hanya sampai di situ, selepas panitia membereskan peralatan, kelompok tersebut memaksa masuk ke halaman rumah pemilik tempat acara, merekam video, mengambil gambar tanpa izin, mengobrak-abrik tempat sampah, kemudian merusak gagang dan engsel pintu lalu memaksa masuk ke dalam rumah pemilik tempat acara.

Polisi Membiarkan Intimidasi

Pihak kepolisian yang ada ketika insiden juga tidak banyak membantu dan cenderung melakukan pembiaran. Alih-alih menjadi menengahi, salah satu polisi berpakaian sipil dilaporkan sempat melepaskan satu tembakan ke udara tepat disebelah seorang ibu dan anak kecil ketika insiden pembubaran berlangsung.

Bahkan setelah pintu berhasil terbuka, polisi dan sekitar 15-20 orang dari kelompok tersebut masuk ke dalam rumah, merekam video, mengambil gambar wajah kawan-kawan. Salah satu peserta meminta agar mereka tidak mengambil gambar karena anak-anak ketakutan, mereka menjawab “Mbak, kamu mau adu argumen atau debat? Kamu maunya apa? Kamu ini perempuan loh, gampang aku tonjok” dengan posisi tangan orang tersebut sudah di depan wajah peserta tersebut.

Polisi lalu mengamankan 4 orang diantaranya ke Polsek Kasihan, Bantul untuk diinterogasi perihal acara. Menjelang dini hari, mereka baru diperbolehkan pulang dengan didampingi LBH Jogja.

Solidaritas Netizen 

Sampai tulisan ini diturunkan, netizen terus memberikan solidaritas dan ramai-ramai menyayangkan insiden ini. "Kegilaan tanpa akal sudah merampas hak kita sebagai manusia yang dilindungi undang undang. Hanya kebencian yang melegitimasi tindakan kekerasan seperti di atas," komentar Ucu Agustin, jurnalis dan film maker kenamaan menanggapi insiden ini.

Beberapa diantaranya mengkhawatirkan kejadian ini akan terus berulang. "Acara cewe2 HC/punk ‪#‎Ladyfast‬ semalem dibubarin ormas. Besok2 bisa jadi gig2 hardcore juga bakal diperlakukan sama," tulis Betterday Zine, salah satu media underground di Yogyakarta. di status Facebooknya.

Ladyfast sendiri merupakan kegiatan kebudayaan yang diinisiasi Kolektif Betina sebagai ruang untuk saling berbagi, saling mendukung dan menularkan semangat kesetaraan untuk semua, baik laki-laki maupun perempuan. Tak kurang dari 50 peserta turut meramaikan hajat kolektif berisi pameran, workshop, diskusi dan pertunjukan musik. (Pry)

Last modified on: 5 April 2016
Browse More »

Telusuri juga Kanal Musik, Sastra, Politik, Sosial Budaya dan Seni