Home Politika Politisi dan Musik
caleg dan musik
Berangkat dari Indie Print E-mail
Saturday, 14 February 2009 12:17

Oleh: dr.Nova Riyanti Yusuf, penulis novel, caleg Partai Demokrat

 

 

Menjadi bebas atau menjaga kebebasan lebih mahal dari tawaran dengan nominal harga yang mahal sekalipun. Memang belum tentu prinsip ini berlaku untuk semua orang. Ada kalanya, prinsip ini tidak tepat guna. Karena pada saat kebebasan berekspresi tergadaikan pada kadar takaran yang berbeda, tetap ada unsur untung dan rugi yang perlu dipertimbangkan. Saya pernah merasakan berkarya dalam arus indie. Ketika itu saya tidak yakin bahwa karya saya akan langsung diterima oleh sebuah penerbitan besar, sedangkan saya masih ingin mempertahankan orisinalitas dari karya saya tersebut. Setelah karya saya dilirik oleh penerbitan besar, ternyata tidak banyak idealisme saya yang harus ikut terbuang dalam arus pikir sebuah perusahaan penerbitan besar. Tetapi ada juga penulis yang misalnya masih senang dengan jalur penerbitan indie karena pertimbangan margin keuntungan yang lebih besar.

 

 

Setelah berangkat menjadi penulis dengan latar belakang indie, saya tidak pernah berpikir lebih dalam tentang makna atau hal-ikhwal prinsip indie yang sudah ber-snowball menjadi komunitas-komunitas indie, sampai pada tahun 2007 Garin Nugroho meminta saya berbicara tentang “Pandangan Psikologi terhadap Komunitas Indie” pada forum LA Lights Indie Movie Festival.

Last Updated on Saturday, 23 January 2010 12:38
 
Sorga di Bumi (Catatan untuk Ulil Abshar Abdalla) Print E-mail
Tuesday, 03 February 2009 05:18
Oleh Hamid Basyaib, Direktur Eksekutif SPIN (Strategic Political Intelligence), caleg PDI-P

 

Saya rasa Ulil beruntung karena masih bisa menikmati musik secara, kurang-lebih, "apa adanya", meski dia tak luput juga dari menganalisis cukup mendalam (terlepas dari apakah analisisnya cukup akurat).



Karena Ulil banyak membicarakan Umm Khultum, saya segera teringat CD Umm Khultum yg dulu saya berikan pada dia. Saya senang kalau Ulil masih menyimpan rekaman dari tahun 1926 itu (ketika teknologi rekaman masih "mono" -- ini tak ada hubungan dengan Mas Mono, supir tetangga saya -- dan belum stereo seperti sekarang, apalagi dengan varian2 teknologi penyempurnanya seperti Dolby, THX Lucas dsb).

Umm Khultum memang ajaib, meski saya bukan pemujanya. Setiap saya mendengar nama besar ini disebut, saya hanya ingat kolom Mahbub Djunaidi, yang menyebut bahwa Umm Khultum-lah faktor pemersatu bangsa Arab modern, bukan Islam atau bahkan pan-Arab.

 

Last Updated on Saturday, 18 April 2009 15:31
 
Bisikan Angels & Airwaves Membangkitkan Proses Kreatif Print E-mail
Friday, 30 January 2009 12:33

Oleh: dr.Nova Riyanti Yusuf; penulis novel, caleg Partai Demokrat

 

Setiap orang pernah bergumul dengan proses kreatif. Tidak harus dalam bentuk output buku, puisi, film, dan lain-lain. Kreativitas dibutuhkan dalam segala kesempatan sederhana. Saat berbohong pada pasangan, saat mencuri-curi kesempatan melihat situs saru, saat caleg harus tiarap dari panwaslu semasa kampanye (yang ini rasanya karena tidak memahami bahwa ada satu buku tebal yang berisi pasal-pasal larangan kampanye), dan lain-lain. Semua contoh tadi berkisar pada tema cinta. Ada yang erotik, organik, platonik, publik, dan naif.

 

 

Terlalu banyak stimulus di dunia ini yang centil mencari perhatian panca indera manusia. Namun justru tidak semua stimulus positif dapat tertangkap menjadi input yang berguna untuk diproses menjadi ouput. Problemnya kalau tidak karena panca indera yang mati rasa karena kurang diasah, bisa juga mesin-mesin tubuh ini melunglai karena kurangnya asupan gelombang musik untuk membangun sebuah conflict-free egosphere yaitu suatu wilayah yang seimbang antara dorongan impuls yang mengedepankan kesenangan; dengan dorongan disiplin untuk menghantarkan ide-ide primitif melalui proses kreatif menjadi output berwujud.     

 

Sampai di sini, saya teringat pada album kelompok Angels & Airwaves, We Don’t Need To Whisper. Ada sebuah keintiman yang terjadi antara saya dengan personil-personil Angels & Airwaves. Keintiman itu tidak pernah melalui kontak fisik yang banal. Justru pertautan kami terjadi melalui irama dari lagu-lagu yang mereka ciptakan dari hasil perjalanan hidup, imajinasi, fantasi, dan pertentangan.

Last Updated on Saturday, 23 January 2010 12:37
 
Musik Mazzy Star dan Tema Bunuh Diri Print E-mail
Monday, 19 January 2009 22:18

Oleh dr. Nova Riyanti Yusuf, caleg Partai Demokrat                                                    

           

Menulis tentang musik atau membedah musik bukanlah sesuatu yang mudah. Coba tengok tokoh Elizabeth Wurtzel yang diperankan Christina Ricci dalam film Prozac Nation. Pada awalnya begitu mudah baginya untuk menuliskan sebuah artikel bedah musik Lou Reed sehingga ia memenangkan sebuah penghargaan dari majalah The Rolling Stone. Selanjutnya, setiap upaya dia membuat sebuah analisis musik diiringi oleh tingkah laku trance-like sebagai jalur menyelami setiap lagu yang ingin ia kupas dalam bentuk tulisan. Sebagai mahasiswi jurnalistik yang mendapatkan beasiswa di Harvard University, ia menjadi kelam dalam perasaannya sehingga ia pun menjelma seperti makhluk menjijikan yang menggeliat dalam tong sampah gelap tak bercahaya. Terbukti bahwa prestasi akademik dan kehebatan universitas yang ia masuki, tidak menjadi jaminan kebahagiaan baginya.

Hidupnya adalah kematiannya dalam hidup. Dan dalam kematian jiwanya, ia pun dikawal oleh lagu-lagu Lou Reed, Bruce Springsteen, dan The Pretenders.

   

 

 

Memang film Prozac Nation tidak melukiskan hubungan linier antara kesedihan sebagai dampak dari sebuah lagu terhadap penikmatnya. Namun boleh juga diasumsikan bahwa seorang komentator —sama halnya dengan penikmat— musik dapat terlarut dalam kesedihan-kesedihan yang terkandung dalam lirik dan irama-irama lirih. Jika tidak karena lagu tersebut mengakomodir perasaan sedih pendengarnya, maka kesedihan itu justru terinduksi oleh kesedihan dalam lagu.

Last Updated on Saturday, 23 January 2010 12:36
 


Banner
Banner
Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
Banner

Who's Online

We have 11 guests online

Follow Us On

Facebook Group: 50072354705 Twitter: jakartabeat