|
Sunday, 06 December 2009 20:29 |
|
Oleh Philips Vermonte, pendiri Jakartabeat.net dan peneliti CSIS Musik, sebagaimana buku, menyimpan misteri yang mengasyikan. Keduanya bak sebuah magnet yang kerap menarik-narik untuk didengar atau dibaca berulang-ulang. Semestinya memang musik diperlakukan sebagai sebuah karya literer yang bisa dimaknai. Ia bukan industri yang menyodorkan universalitas dan monotonisme (kecenderungan yang sebaliknya disodorkan majalah, koran, radio atau televisi kontemporer). Yang laku, belum tentu yang paling baik. Yang laku bukan pula yang paling menyehatkan jiwa. Analogi yang baik bisa disampaikan di sini: McDonald adalah penjual hamburger terbanyak di dunia. Tapi kita tahu persis hamburger McDonald bukan yang paling enak, malah bisa dimasukkan ke dalam kategori junk food yang buruk bagi kesehatan raga dan mungkin juga jiwa.
|
|
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 04:51 |
|
|
Saturday, 14 November 2009 16:51 |
|
Oleh Anwar Holid, editor buku dan penulis lepas Pada edisi Oktober 2008, majalah UNCUT menerbitkan cover story berjudul "Pink Floyd 30 Greatest Songs" yang antara lain dipilih sendiri oleh Dave Gilmour, Nick Mason, dan puluhan insan musik lain, terutama kalangan dekat mereka, seperti manajer, desainer cover, produser, sound engineer, konduktor, musisi junior yang amat terpengaruh oleh mereka, fotografer sezaman mereka, dan lain-lain. Secara menyesakkan Roger Waters terpaksa diabaikan sebagai pemilih, karena dia secara hukum dilarang menggunakan nama Pink Floyd; sementara Richard Wright dan Syd Barrett sudah meninggal.
|
|
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 04:51 |
|
Tuesday, 27 October 2009 06:39 |
|
Oleh Nuran Wibisono, mahasiswa jurusan Sastra Inggris Universitas Jember, Jawa Timur  Pria tambun itu berdiri di atas panggung yang tingginya hanya seukuran kira-kira setengah meter dari tanah. Dengan rambut yang berantakan, keringat, dan kacamata hitam menutupi matanya, dia tampak seperti seorang vokalis rock bersuara gahar. Dia menenteng gitar akustik, lalu meraih microphone. Para penonton sudah riuh, gegap gempita menanggapi sang vokalis tambun itu. Lalu pria itu mulai bernyanyi. “Antruefunk, Antruefunk, datanglah padaku…”. Entah karena kuping saya yang rusak atau memang suara sang vokalis yang fals, saya mendengar suara yang sama sekali tidak merdu dan sudah pasti tidak gahar sama sekali. Rupanya telinga saya masih normal, karena beberapa detik kemudian dia memaki. |
|
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 04:52 |
|
|
Thursday, 08 October 2009 01:09 |
|
Oleh M. Taufiqurrahman, wartawan The Jakarta Post
Disclaimer: saya bukanlah penggemar the Beatles. Jutaan orang sudah memuja kelompok musik dari Liverpool ini. Jutaan kopi dari semua album kelompok ini ada di hampir semua rumah tangga pecinta musik di Barat dan di Timur. Ribuan buku, disertasi, tesis dan artikel sudah pernah ditulis tentang musik kelompok ini. Dan saya tidak keberatan dengan semua itu. |
|
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 04:52 |
|
Friday, 21 August 2009 04:35 |
|
Oleh Anwar Holid, editor buku dan penulis lepas
Atas kebaikan Budi Warsito, saya akhirnya bisa mendapatkan The Cosmos Rocks, album Queen bareng vokalis Paul Rodgers. Beberapa bulan sebelumnya, dia juga meminjami saya majalah Mojo dengan edisi utama membahas Queen setelah Freddie Mercury meninggal, sekalian membahas meluncurnya The Cosmos Rocks. . Nama Queen + Paul Rodgers merupakan pilihan aman namun mungkin penuh beban. Apalagi "Queen" sekarang hanya terdiri dari Brian May (gitar) dan Roger Taylor (drum), sebab John Deacon (bass) telah memilih pensiun. Rasanya aneh grup tanpa Freddie Mercury dan John Deacon masih nekat bernama Queen. Mungkin lebih tepat kalau namanya "Half Queen" atau sekalian "Queer." Di studio, saat menggarap The Cosmos Rocks, May dan Taylor juga yang gonta-ganti mengisi seksi bass. Sementara Danny Miranda bertanggung jawab saat tur. |
|
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 04:52 |
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
|
Page 9 of 17 |