|
Tuesday, 27 July 2010 09:25 |
|
Oleh M. Taufiqurrahman, wartawan The Jakarta Post Terlalu banyak hal yang bisa membuat kita berputus asa di Jakarta. Presiden SBY yang seperti “missing in action” sejak kepergian Sri Mulyani Indrawati ke Washington, tidak ada satu orangpun yang membaca buku atau majalah “berat” di KRL. Namun cobaan yang paling berat adalah kenyataan bahwa kelompok musik masa lalu dari North Carolina FireHouse manggung di delapan kota Indonesia untuk kesekian kalinya (yang sedikit akan tertebus dengan kemungkinan datangnya Belle & Sebastian di Jakarta--saya sudah membeli dua tiket untuk pertunjukan ini). Namun di tengah semua perkara berat itu, untunglah saya masih memiliki obat penawar dari semua cobaan itu. Empat hal tersebut ada di empat lagu di bawah ini: |
|
Last Updated on Saturday, 31 July 2010 21:40 |
|
|
Monday, 12 July 2010 11:57 |
|
Oleh Herry "Ucok Homicide" Sutresna, kelompok hiphop Trigger Mortis
Sebenarnya agak sulit memulai ini. Meresensi sebuah maha karya luar biasa yang merubah hidup saya 20 tahun yang lalu tanpa harus terjebak pada nostalgia dan glorifikasi berlebihan hingga tulisan tentang album sakral ini menjadi tidak lagi empiris. Tapi apa mau dikata, ini diperlukan, untuk menjaga objektifitas dari resensi dan opini kanon-kanon estetika musik populer barat bilang tentang "Fear of a Black Planet". Jadi, jika memang harus ada alasan khusus mengapa selebrasi 20 tahun tidak penting seperti ini dibuat, bukan karena NME, Vibe, The Source, Rolling Stone menobatkannya sebagai salah satu album hiphop terbaik sepanjang masa, namun pula karena dampak yang sungguh luar biasa bagi saya secara personal. |
|
Last Updated on Monday, 12 July 2010 12:20 |
|
Tuesday, 18 May 2010 06:57 |
|
Pengantar Redaksi: Mungkin benar, menjadi seorang jurnalis rock adalah sebuah takdir! Wendi Putranto saat ini adalah editor majalah Rolling Stone Indonesia. Sebelumnya dia pernah bikin Brainwashed, sebuah fanzine underground di akhir era 90-an, yang lalu bubar di tengah jalan – dan bertransformasi di bidang gigs organizer. Konon dia sempat merasakan jadi vokalis band metal yang tidak populer sama sekali, sehingga terpaksa banting setir untuk menulis daripada menjadi rockstar yang gagal. Dia juga ikut mengawali era jurnalisme musik di ranah dunia maya lewat berbagai situs internet, sebelum ditarik menjadi wartawan tabloid Rock yang juga gugur di tengah perjalanan. Dalam perspektif yang lebih warna-warni, dia adalah manajer The Upstairs, grup band new wave yang dia angkat dari titik nol hingga melesat lumayan sukses meracuni publik musik domestik. Akhir tahun lalu, bukunya yang berjudul Rolling Stone Music Biz ; Manual Cerdas Menguasai Bisnis Musik mulai beredar di pasaran dan diikuti dengan rangkaian tur promo ke sejumlah daerah. ‘Bisnis Musik’ nyaris menjadi nama tengah dan spesialisasinya hingga dia sering diundang menjadi pembicara atau narasumber di berbagai forum. Sepertinya pemuda ini punya visi untuk membangun peradaban di tengah belantara industri musik yang konon tetap kejam serta menyebalkan seperti dulu, sekarang, dan mungkin untuk selamanya. Samack, kontributor Jakartabeat.net yang tinggal di kota Malang, mewawancarai Wendi Putranto di Jakarta via email.
|
|
Last Updated on Tuesday, 18 May 2010 08:05 |
|
|
Saturday, 08 May 2010 16:28 |
|
Oleh Samack, publisher Solidrock, Malang “Kenapa saya suka Seringai?!... Pertanyaan yang bagus sih sebenarnya…”
Kalimat di atas diungkapkan oleh seorang jurnalis musik dalam opening video dokumenter tentang band rock oktan tinggi asal Jakarta bernama Seringai. Memang pertanyaan simpel dan mendasar seperti itu seringkali susah untuk dicari jawabannya yang paling masuk akal. Tidak banyak argumen yang bisa diterima oleh semua kalangan. Generasi Menolak Tua, sebuah karya DVD yang dirilis oleh High Octane Production dan demajors, seperti hadir untuk mengungkap serta memecahkan misteri tersebut... |
|
Last Updated on Saturday, 08 May 2010 16:50 |
|
Thursday, 04 March 2010 14:21 |
|
Oleh Nuran Wibisono, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Jember Jawa Timur Kapan terakhir kali anda melihat ada sebuah band keren dengan anggota bersaudara? Saya masih menganggap The Black Crowes adalah generasi terakhir band keren dengan anggota bersaudara. Oasis? Mereka lebih banyak membual dan bertengkar ketimbang bermain musik dengan benar setelah album terbaik mereka (What’s The Story) Morning Glory. Jonas Brother? Ayolah, jangan membuat saya tertawa. Tapi pada tahun 2003, siapa sangka di tengah gemuruh musik aneh bertajuk pop punk, ada sebuah band ugal-ugalan muncul, dengan attitude rock n roll, dan suara gitar yang padat meraung. Vokalis dan gitaris mereka ternyata bersaudara. |
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
|
Page 5 of 17 |