Fri05182012

Last update09:41:18 PM

  | Advanced Search
Back Home Musik Kanal Musik Ulasan Insureksi Dalam Melodi
17 Feb 2012

Insureksi Dalam Melodi

Written by Arman Dhani  |  Read 1056 times
Rate this item
(1 Vote)

Pada awalnya adalah keheningan, saat saya berjalan beramai-ramai dalam sebuah demonstrasi di awal masa kuliah. Melakukan long march dari depan gedung fakultas menuju rektorat yang cukup jauh, demi satu tuntutan pencabutan uang gedung. Namun seketika keheningan itu dipecahkan oleh salah seorang mahasiswa senior yang menyanyikan lagu sederhana "Berderap dan Melaju". Saat itu saya tahu satu hal, musik dan aksi masa adalah sepasang kekasih yang saling mencintai dalam keramaian.

Irama nada "Berderap dan Melaju" yang repetitif dan easy listening langsung merayu pendengarnya untuk membeo dalam sebuah nyanyian massal. Lirik yang lugas, sederhana dan mudah diingat membuat saya kecanduan sekedar bergumam atau malah latah ikut bernyanyi. Siapapun anda, jika asyik dalam kerumunan aksi dan mendengar lagu ini. Saya jamin akan ikut dihipnotis untuk ikut bernyanyi atau sekedar mengepal tangan lalu bersiul mengikuti nadanya. Inilah kekuatan musikalitas dalam kerumunan, mampu menarik anda dalam sebuah hingar bingar gerakan sosial.

Dalam suatu masa, Njoto salah satu dedengkot Politbiro PKI pernah berkata "Musik adalah sendjata, sendjata yang menggembleng barisan sendiri, memperkuat front dengan sekutu maupun mengobrak-abrik lawan". Ia menyampaikannya di depan rombongan paduan suara Tak Seorang Berniat Pulang  yang baru saja selesai berlomba dalam ulang tahun KSSR tahun 1964.  Seolah berkata, Jika anda mengamini revolusi adalah hiruk pikuk jalanan, maka anda boleh ambil barisan. Jika tidak, diam atau bersiaplah disingkirkan. Setidaknya begitu saya menafsirkan kata-kata Njoto tersebut.

Njoto bukan asal bicara atau waton muni, karena yakinlah ia adalah seorang pemain biola jempolan. Salah satu Pemikir PKI paling jitu dan kata-kata itu merefleksikan jati dirinya sebagai musisi. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Gendjer-Gendjer menjadi begitu hip di kalangan keluarga PKI dan bagaimana "Internationale" mampu menggugah para sosialita Marxist di Moskwa saat itu. Musik adalah salah satu sarana revolusi, maka agitasi dimulai di udara!

Maka pada saat kelahiran adigium medium is the message akhir dekade 1960-an, McLuhan sebenarnya hanya memuntahkan kembali atas apa yang diamini Njoto. Musik adalah medium sekaligus pesannya. Maka tidak salah jika kemudian musik menjadi salah satu instrumen perjuangan sosial. Entah itu dilakukan dalam sebuah konser, jam sessions, atau bahkan pada aksi sebuah massa. Musik telah menemukan perannya sendiri dalam hiruk pikuk demonstrasi.

Dalam pergerakan sosial sendiri, dalam hal ini demonstrasi, musik adalah salah satu elemen penunjang yang mampu membentuk kesadaran kolektif. Seringkali malah dalam lirik yang didendangkan ia sendiri telah menyuarakan tuntutan dan ratapan dari masanya. Ia ikut serta menjadi orang tak nampak yang meramaikan sebuah aksi massa.

Saya sendiri setidaknya pernah ikut merasakan sublimasi semangat dalam lirik profetik lagu-lagu pergerakan sosial yang jamak dinyanyikan saat demonstrasi. Sebut saja "Darah Juang", "Totalitas" dan "Buruh Tani". Sebagai mahasiswa yang juga pernah mengikuti euforia agent of change ikut demonstrasi adalah sebuah keharusan dan demonstrasi tanpa ketiga lagu tersebut, rasanya seperti menonton konser Rage Againt The Machine tanpa kehadiran Zack De La Rocha. Terasa Hambar!

Dalam sebuah berita pagi, sekilas saya menonton berita tentang protes mahasiswa di Jambi. Tanpa sengaja ada sepotong fragmen berita yang memperlihatkan seorang mahasiswa dengan ikat kepala bertuliskan "keadilan", mengepalkan tangan kiri ke udara, menutup mata dan menyanyikan sepotong lirik "Darah Juang". Dan demi setiap tetes keringat perjuangan Munir dan Marsinah, getaran lirih semangat perlawanan dalam lirik "Darah Juang" itu masih mampu membuat saya meneteskan air mata.

"Darah Juang" boleh jadi adalah anthem dalam setiap demonstrasi mahasiswa. Dia adalah representasi zetgeist yang mengingatkan para mahasiswa untuk senantiasa berjuang (itu pun kalau demonya beneran niat tulus dan bukan pesanan. Mereka dirampas haknya / tergusur dan lapar / bunda relakan darah juang kami / tuk membebaskan rakyat. John Sonny Tobing dan Andi Munajat adalah duo Mahasiswa UGM yang konon mengaransemen lagu ini. Seolah-olah ingin menyampaikan pada semua pseudo mahasiswa agar tak lupa turun ke jalan menjadi oposisi bagi rezim yang lalim.

Seakan merayakan liturgi dari kebudayaan massa, lagu-lagu demonstrasi di Indonesia juga memiliki pasar tersendiri. Meski tidak berorientasi pada keuntungan, peredaran lagu-lagu ini biasanya dimulai dari komunitas/organisasi kemahasiswaan yang kemudian merembet pada segenap komunitas/organisasi kemasyarakatan atau kesenian yang merasakan semangat perjuangan dalam lagu-lagu tersebut.

Apakah kemudian lagu tersebut kemudian berhenti menjadi bahan bakar semangat pergerakan? Saya kira tidak, setidaknya mahasiswa Indonesia khususnya meyakini bahwa semangat juang itu mengalir dalam lagu-lagu yang lain. Coba saja anda menyimak bait lirik dari lagu "Totalitas Perjuangan". Kepada para Mahasiswa / yang merindukan kejayaan / Kepada rakyat yang kebingungan / Di persimpangan jalan.  Seakan berkata bahwa peran mahasiswa adalah mutlak dan perlu dalam sebuah perjuangan. Dan lebih jauh lagi Ia berbunyi Kepada pewaris peradaban / Yang telah menggoreskan Sebuah / catatan kebanggaan / Di lembar sejarah manusia. Lirik lagunya masih optimistik memandang peran mahasiswa sebagai gembala perubahan.

Perkembangan lagu-lagu pergerakan yang ada dari jaman ke jaman juga mengalami perubahan baik secara konteks lirik dan isu yang diperjuangkan. Jika pada angkatan 1966 lagu-lagu perjuangan mahasiswa Indonesia masih berkutat pada perbaikan nasib rakyat, pembubaran PKI dan bobroknya sistem, maka pada era digital "Keong Racun" pada saat ini lirik-lirik lagu juga mengalami perubahan dramatis. Memang isu-isu kerakyatan masih menjadi tema sentral, tapi lirik-lirik yang digunakan tidak lagi menjadi gegap gempita dan patriotik. Beberapa malah menjadi sangat centil dan lucu.

Lirik lagu "Cinta Demonstran" misalnya, lagu ini menggambarkan sepasang kekasih yang sedang berpamitan. Mirip dialog seorang prajurit yang dilepas perang oleh kekasihnya. Sudah berulang kali abang katakan / Jangan bermain cinta dengan demonstran / Nanti ditangkap polisi / Sakit-sakit sekali. Lagu ini memang tidak banyak dikenal oleh kalangan aktivis mahasiswa, karena seringkali memang hanya digunakan sebagai lagu nongkrong. Namun liriknya yang seakan-akan memberikan peringatan tentang resiko hubungan pacaran dengan aktivis membuat lagu ini digunakan sebagai lagu pelepas lelah paska aksi.

Dalam suatu fragmen berita Tempo pada 21 Januari 28 tahun yang lalu tergambar situasi panas yang menyelimuti kampus ITB. Terik matahari membakar kampus ITB Bandung, di mana tak kurang dari 3.000 mahasiswa berkumpul di sana dari hari Senin siang sebelumnya. Selembar spanduk merah terpampang di mulut pintu kampus. Bunyinya seram, senada dengan pernyataan mereka: "Tidak mempercayai dan tidak menginginkan Suharto kembali sebagai Presiden Republik Indonesia." Sambil menyanyikan lagu perjuangan seperti "Halo-Halo Bandung", para mahasiswa seakan ingin meminjam semangat para pejuang untuk meneriakan ketidak adilan yang saat itu terasa menekan.

Hardeep Phull dalam bukunya Story Behind the Protest Song; A Reference Guide to The 50 Songs That Changed the 20th Century, mengungkapkan lagu-lagu yang dalam sejarah tercatat menjadi mesin pendorong perubahan sosial. Phull sebenarnya ingin menunjukkan tentang makna dan bagaimana lagu-lagu tersebut bisa mempengaruhi dunia. Lagu "We Shall Overcome" yang dipopulerkan oleh Joan Baez pada tahun 1963, sebenarnya telah memiliki sejarah lebih lama dari yang kita ketahui karena setidaknya sudah ada pada awal tahun 1900.

Lalu saya teringat tentang Marthin Luther King Jr.. Seorang tokoh yang ikut andil dalam meruntuhkan kebijakan rasialis di Amerika Serikat melalui aksi "The Great March In Washington". Sebuah aksi yang dipicu rasa muak atas segala diskriminasi terhadap warga kulit hitam di Amerika. Mengingat momen dimana Marthin Luther King Jr bersama ratusan ribu orang saling bergandengan tangan menyanyikan "We Shall Overcome". Sebuah lagu yang menyiratkan semangat untuk tetap konsisten melawan ketidakadilan.

Beberapa band di Indonesia kemudian mengadopsi lirik-lirik yang secara cerdas melawan, mengkritik dan mengejek kondisi sosial kemasyarakatan kita yang kemudian membawa lagu protes itu jauh dari jalanan dan masuk ke budaya arus utama maupun indie. Band seperti efek rumah kaca, Melancholic Bitch, dan Grup Hip-Hop Homicide misalnya. Mereka telah meninggalkan kelas perjuangan jalanan, dan menjadikan panggung musik sebagai arena perang wacanan dan pemikiran. Meski begitu dalam banyak hal saya menilai musik-musik mereka memiliki kelemahan karena musik mereka hanya bisa dinikmati oleh golongan kelas menengah terdidik.

Lirik lagu  "Boombox Monger" dari Homicide misalnya, lebih menuntut pemahaman pendengarnya atas wacana Marxist secara utuh. Jika konsumen adalah raja / maka industri adalah Kasparov / dan setiap vanguard lapangan / tak lebih Lenin dari Ulyanov / mencari poros molotov. Karena sangat susahnya pemahaman atas lirik ini, pendengar dari Homicide bisa jadi adalah mereka para pegiat buku yang sudah tamat membaca pengantar filsafat dan kajian budaya--walaupun mungkin juga lirik itu dipakai untuk menciptakan rima yang ber"bunyi".

Melancholic Bitch dan Homicide dalam liriknya selalu menggunakan istilah yang multi tafsir yang saya ragu para pedagang pasar di pedalaman Indonesia bisa mengerti padu padan arti dari lirik lagu mereka. Saya sendiri kemudian mengartikan bahwa dalam genre lagu perjuangan, terdapat pembagian kelas tentang dimana ia akan berperang. Lagu-lagu semacam "We Shall Overcome" dan "Darah Juang" akan menempati pergerakan kelas bawah, karena liriknya lugas dan mudah dimengerti. Sedangkan "Tantang Tirani" Homicide dan "B.Y.O.B" dari System of Down adalah lagu perjuangan untuk golongan kelas menengah.

Dalam banyak hal saya mengagumi Iwan Fals karena mampu membuat lagu-lagu cerdas yang memiliki lirik musik dekat dengan kondisi realitas kerakyaatan. Seperti "Sore Tugu Pancoran", "Orang Pinggiran", "Sugali" dan "Ujung Aspal Pondok Gede" misalnya Iwan Fals secara cerdas menangkap fenomena sosial yang terlihat (namun jarang kita akui keberadaannya) menjadi lirik-lirik yang cerdas, menghibur, nakal dan juga menyindir dalam satu waktu.

Pada lagu "Sore Tugu Pancoran" misalnya Iwan Fals menangkap fenomena sederhana tentang para pedagang asongan di lampu merah yang sering kita lihat namun tidak kita sadari realitasnya. Si Budi kecil kuyup menggigil / Menahan dingin tanpa jas hujan / Di simpang jalan tugu pancoran / Tunggu pembeli jajakan koran. Secara sederhana ia merekonstruksi sebuah kondisi di pertigaan ibu kota, dimana anak kecil menjadi pelaku usaha sektor informal. Padahal seharusnya ia larut dalam permainan dan masa sekolah.

Dalam kesempatan lain ia bisa sangat satir menyindir penguasa melalui lagu "Bento". Namaku Bento rumah real estate / Mobilku banyak harta berlimpah / Orang memanggilku bos eksekutif / Tokoh papan atas atas s'galanya asyik. Lagu yang sampai saat ini menimbulkan polemik dan mitos tentang siapa sebenarnya Bento tersebut. Beberapa orang menyebut tokoh Bento adalah Soeharto ada pula yang berkata itu adalah Tommy Soeharto. Entahlah yang jelas lagu itu pernah membuat Iwan Fals diciduk tentara dan ditahan beberapa hari.

Namun apakah kemudian Iwan Fals adalah yang paling berhasil dalam merimakan protes sosial? Keputusannya ada di tangan anda.

Arman Dhani

Arman Dhani

Penulis lepas. Pernah mendapat beasiswa Pantau tahun 2009.

Komentar Tamu


Powered by Disqus