Fri05182012

Last update09:41:18 PM

  | Advanced Search
Back Home Musik Kanal Musik Ulasan Ikonografi Hantu Kelelawar Malam
09 Feb 2012

Ikonografi Hantu Kelelawar Malam

Written by Adi Renaldi  |  Read 912 times
Rate this item
(2 votes)
Ikonografi Hantu Kelelawar Malam infobandung.in

Mengapa George A. Romero lebih memilih untuk bikin film horor? Kenapa ia tidak membuat film drama “normal” saja daripada film zombie murahan? Jawabannya mungkin tak banyak kita tahu. Tapi jika pertanyaan itu diganti dengan “Mengapa Kelelawar Malam memilih tema horor untuk musiknya?” mungkin kita bisa lebih mengerti dan paham.

Kelelawar Malam, band horor punk asal Jakarta, adalah sebuah metafora bagi kengerian. Band ini kerap mengumbar aroma horor dan mistisisme baik dalam musik, lirik, maupun performa langsung. Terlepas dari namanya yang cukup absurd (tanpa kata “malam”, kelelawar sudah jelas hewan nokturnal), Kelelawar Malam cukup memperkaya blantika musik di Indonesia.

Sekarang gank horor ini diperkuat oleh Sayiba Von Mencekam sebagai vokalis dan gitaris, Deta Beringas pada bass dan vokal, sementara Fahri Al Maut dan Apin Kiamat masing-masing pada lead gitar dan drum.

Akhir bulan Januari lalu band ini merilis album self-titled dalam format vinyl – sesuatu yang mulai dilirik lagi oleh pelaku dan pecinta musik lokal. Album dalam versi vinyl ini cukup menarik. Selain dalam versi berwarna-warni mirip permen, album ini sebenarnya sudah dirilis terlebih dahulu dalam format CD pada tahun 2010 lalu. Bedanya, jika di CD terdapat 13 lagu, maka di versi vinyl-nya hanya memuat 10 lagu.

Dari segi artwork, album ini sudah sah membawa ritus perayaan horor. Deta Beringas ditunjuk sebagai penanggung jawab untuk membentuk identitas band lewat artwork yang seram. Dia pulalah sang pengonsep properti dan tata panggung agar image band ini semakin sah dan mendekati tema yang diusung. Di album ini ia menggunakan teknik cukil kayu untuk membuat artwork-nya – salah satu teknik klasik dan eksklusif.

Tema Horor dan Ikonografi Hantu Indonesia

Tema horor bukan barang baru lagi di khasanah musik Indonesia maupun Internasional. Di Indonesia ada juga band bernama Ejakula La Vampira yang juga mengusung tema senada. Sementara di New Jersey, Amerika Serikat, The Misfits sudah mulai membawakan tema berdasarkan film horor/sci-fi murahan dan pembunuhan perempuan sejak akhir dekade 1970-an. The Misfits, ketika dimotori oleh Glenn Danzig – seorang sarjana seni dan fotografi dari New York Institute of Photography – mencapai puncaknya dengan merilis album-album seram nan komikal macam, Static Age, Horror Business, dsb. Di samping gaya rambut “devilock” yang menjadi signature style hingga kini, The Misfits adalah band dengan penampilan komikal terawet setelah Kiss.

Dan memang, Kelelawar Malam mengaku kental terpengaruh oleh The Misfits – tanpa gaya rambut “devilock” dan otot bisep/trisep kelewat menonjol tentunya. Disamping itu, kita dengan mudah dapat menemukan jejak-jejak para pendahulu lainnya macam Samhain, Danzig, 45 Grave, The Cramps, Nekromantix hingga TSOL. Secara teknis musik, Kelelawar Malam tergolong ortodoks: Hardcore/punk klasik digabung dengan sedikit heavy metal dan dipenetrasikan kedalam estetika lo-fi yang tajam. Dengan lirik berbahasa Indonesia, bau kembang kamboja dan kemenyan, Kelelawar Malam tak pelak, layak menyandang gelar “horor punk dari khasanah budaya lokal”.

Di tahun 2009, mereka merilis EP menggemparkan melalui netlabel Yesnowave: Desmodus Rotundus, yang sekaligus menjadi bukti pembaptisan mereka oleh genre horor punk. EP ini memuat 6 lagu termasuk lagu andalan mereka, Bangkit dari Kubur dan Suzannakenstein – sebuah risalah tentang seorang pria yang ditinggal mati pacarnya. Merasa tak terima dengan kenyataan, ia memutuskan menghidupkan sang kekasih dengan cara ala Frankenstein seperti termaktub dalam karya Mary Shelley.

Absurd? Tentu saja. Jangan terlalu mengharapkan lirik “duniawi” atau protes disini. Sayiba Von Mencekam, seperti dikutip tempo online dalam laporannya, mengaku sangat terinspirasi oleh film horror baik nasional maupun internasional khususnya dalam pembuatan lirik dan pembentukan identitas. Tak jarang, mereka juga membawa sosok pocong dan kuntilanak (tentu bukan yang asli) ke atas panggung agar para penonton dapat meresapi sekaligus menghayati musik mereka.

Indonesia sejak dulu memang lekat dengan tema mistis dan horror. Bila kita simak sejarah perfilman di Indonesia, film horor sudah muncul sejak zaman Belanda. Roda perfilman terus bergulir dan bangkit kembalinya genre horor di Indonesia ditandai oleh kesuksesan film “Jelangkung” di tahun 2001. Horor menjadi genre terpopuler di Indonesia hingga saat ini. Tentu saja hal ini dikarenakan sejarah mistisisme dan supranatural yang panjang bahkan jauh sebelum zaman Panembahan Senopati.

Kita bisa saja buang muka dan acuh tak acuh terhadap tema horor – baik musik maupun film – atau menganggapnya sampah dan tak masuk akal. Tapi bila dikaji lebih lanjut, genre ini mewakili mentalitas dan wajah sosial masyarakat kita. Film genre ini mengkonstruksi konstelasi ikonografi hantu lokal dan membantu pembentukan persepsi masyarakat. Mistisisme adalah hal yang sangat dekat dengan kita dan mendapat tempat dalam masyarakat. Film, mencoba memvisualisasikan apa yang menjadi kepercayaan dan mitos masyarakat. Dan Kelelawar Malam, yang mengaku mengambil inspirasi dari film, mencoba merespon gejala itu lewat musik dan liriknya.

Sebelumnya, tema-tema horor dalam film berada diseputar masyarakat pedesaan dengan ikonografi dedhemit yang khas seperti siluman, kuntilanak, sundel bolong, dan rekan-rekan seprofesi lain. Film Lisa, Beranak Dalam Kubur, serta Nyi Blorong, menjadi ciri legenda masyarakat desa. Namun pasca Orde Baru, film horor beranjak menuju sekitar masyarakat urban dengan tokoh sentral remaja-remaja kaya dan hip yang tadinya menolak keras mistisisme dan takhyul. Hantu dengan mudah dapat ditemui di tengah-tengah budaya urban dengan apartemen dan rumah-rumah mewah sebagai locusnya.

Kelelawar Malam, dengan domisili di Jakarta yang urban dan metropolis, mencoba menghadirkan kembali legenda urban sekaligus tradisional kedalam musik punk yang juga diracik berdasarkan tema serupa oleh para pendahulunya. Alasan mereka mengupas tema ini mungkin karena jengah dengan lirik dan tema yang sudah tersedia di pasar musik nasional (saya belum berhasil menghubungi Sayiba Von Mencekam untuk wawancara. E-mail saya tak berbalas). Kita sebagai penikmat, juga tak perlu melulu terjebak dalam lirik sosial-politik atau cinta. Maka sudah saatnya kita keluar dari pandangan semacam itu. Lagu bertema cinta kadang membuat kita muak dan tak selamanya lagu protes sosial memiliki muatan yang lebih layak. Simak saja lirik Bangkit dari Kubur ini:

bangkit dari kubur.

kau buat malam menjadi smakin mencengkam

kau takuti mereka dgn wajahmu mengerikan

kau sendiri menyelusuri gelap malam

kau sendiri menghadapi kesunyian

kau sudah tiada

mengapa kau ada

Kelelawar Malam, lewat lirik horor absurd, sedikit banyak menelanjangi kemunafikan kita. Horor di tangan Kelelawar Malam menolak segala konvensi yang ditabukan (darah muncrat dan pembunuhan contohnya). Lewat liriknya, mereka membuka selubung dengan gamblang bahwa keyakinan dan nilai-nilai yang berbau mistik dan supranatural yang selama ini disangkutpautkan dengan kemusyrikan (dari segi agama) dan tradisionalitas, justru menjadi sesuatu yang melekat kuat dalam konteks kemasyarakatan yang mengaku melek Blackberry. Pendek kata, kita menjalani kehidupan modern yang paralel dengan tradisionalitas.

Contohnya, ya itu tadi, budaya luar lewat teknologi tinggi (Frankenstein) diblender dengan budaya lokal (Suzanna) membentuk tema horor. Tema tersembunyi adalah bermain Tuhan, dengan risiko dan harga yang harus dibayar kelewat tinggi: nyawa. Jika para dukun dan orang pintar memilih semedi dan kegiatan supranatural untuk mencapai tingkat spiritualitas tertentu, maka tokoh dalam lirik Suzannakenstein memilih teknologi untuk membangkitkan orang mati.

Kita mengaku menjunjung tinggi rasionalitas dan budaya metropolis-modern yang menolak mistisisme, namun di hati kita, masih banyak yang percaya bahwa malam Jumat Kliwon adalah malam bertabur hantu. Bahkan para politisi dan cendekiawanpun masih banyak yang percaya dengan takhyul dan akar animisme-dinamisme.

Tentu saja, tema horor tak hanya berkutat pada hantu-hantu seksi menor a la Julia Perez atau kasus ditendangnya seorang gadis “penyamar suster ngesot” oleh satpam (yang terakhir ini menjadi bukti kuatnya pengaruh wacana dari film horor). Dalam tema horor terdapat sebuah wacana yang selama ini ditindas. Padahal, tema ini selalu terikat dengan situasi dan konteks masyarakat Indonesia (Veronika Kusumaryati, Hantu-Hantu dalam Film Horor Indonesia, 2011).

John Fiske menulis bahwa tema horror – entah dalam film maupun tema lain – cenderung memproduksi tiga hal: kesenangan, memberi makna bagi kebudayaan horor, dan yang paling utama adalah memberi identitas sosial bagi masyarakat. Ketiga hal itu menjadi bagian integral dalam konsumsi tema horor. Tapi jika tema horor dibawa keluar dari locus-nya sebagai konsumsi, ia dapat menemui beberapa problem. Salah satunya adalah pandangan miring dan cap negatif dari masyarakat sekitar.

Sultan Hamengku Buwono X pernah berkata bahwa bangsa yang besar tak bisa dibangun diatas mitos yang pesimis. Tentu saja. Tapi bagaimana bila hal itu menjadi sesuatu yang tak terbantahkan? Sesuatu yang terlanjur melekat kuat hingga mengakar dalam jantung kehidupan masyarakat. Kita mungkin hanya akan insyaf mengakui. Jika itu memang tradisi dan budaya bangsa ini, baiklah, tak mengapa. Tapi siapa yang mau dan mampu membawa itu semua kedalam sebuah budaya tanding konsumsi hipster, selain Suzannakenstein?


 

Adi Renaldi

Adi Renaldi

Baru saja menyandang gelar Sarjana Sastra. Penulis lepas yang teradiksi kopi, mie, dan Katy Perry. Mengagumi Ian MacKaye, Truman Capote, Walter Lippmann, dan Joseph Pulitzer. Ia memiliki impian untuk mendokumentasikan scene indie Yogyakarta dalam bentuk buku. Saat ini bekerja serabutan sambil bermimpi meliput konser Mastodon dan mewawancarai mereka.

Komentar Tamu


Powered by Disqus