Yang membuat berbeda dangdut koplo dengan dangdut biasa adalah komposisi musiknya yang lebih ngoplo (membuat orang ketagihan) ditambah dengan goyangan penyanyinya yang heboh. Meskipun dangdut sekarang berbeda dengan dangdut lama dalam perspektif produksi, namun dangdut tetap mampu bertahan di tengah skena musik Indonesia. Ini dibuktikan dengan banyaknya orkes melayu (OM), seperti OM Palapa, OM Rolista, OM Monata dan masih banyak lagi yang terdapat hampir di setiap kabupaten di daerah Pantura.
Dangdut koplo seharusnya menjadi transisi musik dangdut menjadi modern. Namun pada kenyataannya musik ini malah tertinggal dari sisi musikalitasnya. Dalam beberapa aksi goyangan panas dalam video dangdut koplo yang beredar di pasar atau di Internet, memberikan contoh akan perang sawer untuk membagi-bagikan uang dari penonton untuk penyanyi yang memperlihatkan semakin panas goyangan dangdut maka semakin banyak pula uang saweran yang keluar dari para penonton. Hal ini sebenarnya sangat disayangkan karena dangdut koplo mempunyai potensi yang besar dalam menjaga kelangsungan musik dangdut di Indonesia, yang sudah dibuktikan dengan makin booming-nya lagu-lagu lama yang telah diaransemen sedemikian rupa. Memang dangdut koplo tanpa goyangan seperti sayur tanpa garam, namun, bukan berarti dangdut koplo merupakan tontonan yang amoral belaka.
Dangdut Koplo sebagai Seni
Tuduhan terhadap dangdut koplo adalah bahwa musik ini hanya mengandalkan sensualitas goyanganya tanpa memperdulikan sisi musikalitasnya, seperti yang dituduhkan oleh Rhoma Irama terhadap Inul. Maka oleh karena itu penting untuk teori Todd Tington dalam tulisan-nya yang berjudul “Keberagaman Sistem Musik Dunia,” yang menyatakan bahwa “musik adalah sesuatu yang mengalir, ia merupakan elemen kebudayaan yang dinamis dan berubah serta mengadaptasi ekspresi dan emosi manusia.” Musik di dunia adalah sesuatu yang selau beradaptasi terhadap situasi tertentu. Ide/gagasan tentang musik, organisasi sosial musik, repertoar serta kebudayaan material musik dari suatu kebudayaan musik akan berbeda dengan sistem kebudayaan musik yang lain. Adalah kurang tepat jika mengatakan bahwa suatu kebudayaan musik atau suatu sistem musik lebih baik dan lebih unggul dari kebudayaan musik atau sistem musik yang lain. Mengapa? Sebab penilaian seperti itu hanya didasari dari penilaian sepihak yang dikenal sebagai etnosentrisme, suatu penilaian yang tidak punya tempat dalam konteks studi kebudayaan musik dunia. Keberagaman sistem musik dunia adalah ciri kebudayaan musik yang harus kita pelihara.
Bila kita melihat kembali permasalahan pro dan kontra dalam kasus dangdut koplo, dari cara pandang keberagaman musik dunia, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa kita tidak bisa mengkategorikan sebuah kebudayan musik itu bernilai tinggi atau rendah. Pada akhirnya tuduhan atau kritik yang mengatakan bahwa citra dangdut berada di level rendah, karena pertunjukan panggung dangdut koplo tidak sesuai dengan standar mereka, tidaklah benar sama sekali. Untuk memberi standar tinggi rendahnya musik dangdut, harus dinilai dan diperhatikan berbagai pendapat dari masyarakat pecinta musik dangdut itu sendiri.
Dangdut Koplo sebagai Cermin Ekspresi Masyarakat Pantura
Dangdut koplo pada awalnya adalah musik dari Jawa Timur, namun dalam perkembanganya musik ini tersebar luas di masyarakat Pantura. Hampir setiap waktu masyarakat Pantura tidak bisa meninggalkan musik yang satu ini. Peringatan-peringatan hari besar merupakan saat yang tidak boleh dilewatkan untuk mempertunjukan dangdut koplo atau orkes, seperti kebanyakan orang Pantura menyebutnya. Bahkan hampir setiap hajatan pribadi dimeriahkan oleh musik ini. Tidak heran jika sepanjang jalur Pantura muncul kafe-kafe, tempat karaoke yang menyediakan fasilitas hanya untuk menikmati dangdut koplo ini.
Dangdut koplo juga menjadi sarana politik di banyak tempat. Jangan heran jika suasana kampanye pemilihan kepala daerah atau pemilu legislatif dan presiden di daerah Pantura sering diramaikan oleh panggung pertunjukan seni yang besar bagi pertunjukan dangdut koplo. Begitu dekatnya dangdut koplo dengan masyarakat setempat maka para politisi di daerah Pantura sering menggunakan dangdut koplo sebagai magnet dalam mengumpulkan masa dengan masing-masing tujuan politiknya.
Pemanfaatan media ini sangat efektif di daerah Pantura, karena dalam setiap pertunjukan dangdut koplo anggota masyarakat akan selalu memenuhi lapangan. Seperti yang dilakukan oleh Bupati Rembang pada bula Agustus 2010, untuk memperingati hari kemerdekaan, polisi harus menutup akses jalan menuju ke alun-alun karena telah menjadi lautan manusia. Dangdut koplo menjadi sarana ampuh para kepala daerah di Pantura untuk mendapatkan simpati dari masyarakatnya.
Dangdut koplo juga sangat efektif menjadi musik rohani alternatif. Ini adalah fenomena yang unik dalam perkembangan dangdut koplo. Salah satu institusi agama yang menggunakan dangdut koplo adalah KPPM GKJW Jemaat Wonosalam yang mencoba musik dangdut koplo untuk mengiringi lagu-lagu rohani di kebaktian. Dangdut bukan hal yang baru bagi anak muda Wonosalam, sebab sebagian pemudanya adalah pemain orkes Melayu/Campursari yang sering tampil di acara hajatan manten atau panggung hiburan.
Puncaknya pada tanggal 26 Desember 2008, ketika KPPM GKJW Jemaat Wonosalam memutuskan untuk mengiringi kebaktian “Natal Bersama Keluarga” dengan musik dangdut koplo. Meski banyak kendala, kebaktian itu akhirnya terlaksana juga dan tidak hanya diikuti oleh untuk kaum muda saja. Panitia juga mengundang warga jemaat, gereja-gereja se-kecamatan Wonosalam (GPdI, GAB, GPIS), GKJW Jemaat Mojokerto, GKJW Jemaat Wungurejo, dan GKJW Jemaat Bongsorejo.
Dihadiri sekitar 275 warga jemaat, acara dibuka dengan doa dan dilanjutkan dengan puji-pujian yang semuanya diiringi oleh dangdut koplo serta dimeriahkan juga oleh Paduan Suara Gloria (GKJW Jemaat Mojokerto), MBS band (KPPM GKJW Jemaat Mojokerto) dan KPPM GKJW Jemaat Wungurejo.
Di atas semuanya, bagi banyak orang musik dangdut adalah jenis hiburan rakyat yang buta status sosial. Lagu dangdut adalah lagu rakyat dengan iringan musik Melayu yang dapat mempererat keberagaman masyarakat. Meski begitu saat ini dangdut koplo merupakan transisi musik dangdut ke arah yang lebih modern. Namun modernitas itu juga dipahami dengan aksi erotis dari penyanyi grup musik dangdut atau Orkes Melayu diatas pentas. Hal ini dapat anda saksikan di beberapa “Video Dangdut Koplo Hot” yang dijual bebas di beberapa toko kaset atau kios pinggir jalan. Sangat tampak di video dangdut koplo tersebut penyanyi dengan busana minim dan seksi ditambah aksi goyangan yang tentunya mengalahkan kualitas suara mereka, mementaskan pertunjukan dangdut dengan disaksikan oleh anak-anak kecil dengan jarak pandang yang cukup dekat.
Pada akhirnya dangdut koplo dekat sekali dengan wanita-wanita yang seksi dengan goyang yang cukup erotis. Semakin panas goyangan dangdut maka semakin banyak pula uang saweran yang keluar dari para penonton. Untuk saat ini dangdut koplo dipentaskan oleh beberapa orkes Melayu yang sudah dikenal oleh masyarakat karena musik yang mereka mainkan begitu bagus seperti Sera, Palapa, Monata, GSF, Ken Arok, Sanjaya, Arsita, Rollysta, dan band sejenisnya. Bahkan tak jarang artis dangdut yang mewakili band-band semacam itu menjadi fenomena tersendiri di masyarakat Indonesia seperti Inul Daratista, Uut Permatasari, Dewi Persik serta juga Trio Macan. Dan sering kita lihat bahwa video-video awal para superstar dangdut koplo ini hanya berlatar belakang acara pernikahan, khitanan, dan Tujuh Belas Agustus-an.
Dangdut Koplo dari Perspektif Etnometodologi
Munculnya dangdut koplo di masyarakat, tentu tidak lepas dari faktor sosialnya. Perlu kiranya kita kaji dangdut koplo dengan pendekatan etnometodologi. Secara garis besar etnometodologi adalah analisis terhadap metode-metode yang digunakan manusia untuk merealisasikan kegiatan sehari-harinya. Pendekatan ini tepat karena dangdut koplo yang muncul dalam masyarakat merupakan bagian dari cerminan sehari-hari masyarakat, khususnya di wilayah Pantura.
Dalam konteks historis-geografis Pantura, yang membentang dari Banten sampai Surabaya, merupakan pelabuhan-pelabuhan besar yang digunakan untuk perdagangan, perikanan maupun pelayaran antar pulau. Jadi tidak heran jika sampai sekarang Pantai Utara Jawa lebih ramai dari Pantai Selatan. Selain itu Pantai Utara, sejak zaman penjajahan Belanda telah memiliki jalan raya yang disebut jalur pantura, yang sampai sekarang masih ramai karena merupakan satu-satunya akses yang dapat dilalui dengan mudah antara ujung Jawa Barat dengan ujung Jawa Timur.
Di lihat dari konteks historis-geografis tersebut maka tidak heran jika dangdut koplo muncul di tengah-tengah masyarakat Pantura. Hiruk-pikuk masyarakat Pantura dalam aktivitas pekerjaanya membuat masyarakat di sana membutuhkan hiburan yang fresh untuk menggugah semangat kerjanya kembali, karena sebagian besar dari mereka adalah pekerja keras. Faktor-aktor tersebutlah yang mendorong seniman Pantura untuk selalu berinovasi untuk menciptakkan hiburan yang menarik yang dapat dijangkau oleh masyarakat.
Dangdut awal muncul di awal dekade 1960-an, dan hampir empat puluh tahun kemudian di tahun 2003 dangdut koplo muncul kepermukaan bersamaan dengan munculnya Inul sebagai penyanyi dangdut koplo yang fenomenal. Dangdut koplo muncul dengan goyangannya yang sensual, penyanyi cantik dan ritme musiknya keras membuat jenis musik ini dengan mudah merambah kafe-kafe dan klub malam, dimana para pengunjung yang hadir tidak sedikit dari kalangan kelas menengah ke atas.
Hampir satu dekade sejak Inul muncul kita masih bisa merasakan pengaruh dangdut koplo dengan hits terbesar tahun lalu “Cinta Satu Malam” yang didendangkan Melinda menjadi salah satu lagu dangdut paling laris tahun 2010 mengisi layar televisi dan telepon seluler anda. Fenomena Ayu Ting Ting adalah keluaran terakhir dari tradisi dangdut koplo dan jika anda sekarang melihat Ayu Ting Ting ada di arus utama industri hiburan Indonesia, itu tidak hanya menunjukkan bahwa dangdut koplo telah naik kelas dari genesis kelas pekerja yang hiruk pikuk penuh keringat di Pantura Jawa, namun juga telah lulus menjadi produk budaya masa yang mewakili zamannya.
Musik
