Fri05182012

Last update09:41:18 PM

  | Advanced Search
Back Home Musik Kanal Musik Ulasan

Ulasan (159)

17 May 2012
Published in Ulasan

Meskipun apa yang telah didedahkan oleh salah seorang kontributor kami tentang kematian kritik musik, sebagian dari kami tetap berkeyakinan bahwa hidup harus terus berjalan dan menulis tentang musik yang kami cintai tetap harus hidup. Alasannya sederhana, di luar musik yang ada di kompilasi rumah makan cepat saji, yang dijual oleh penjual barang kelontong dan minyak goreng atau toko musik yang enggan merubah nama meskipun era compact disc sudah selesai, terlalu banyak musik bagus yang terlalu sayang untuk tidak dikabarkan. Beberapa musik tersebut luar biasa bagus bahkan jikapun kita menutup mata terhadap proses sosial dan politik yang menjadi alasan bagi kelahiran mereka, kita masih bisa dibuat terpesona. Dan ya, kadang kita tidak bisa tidak hanya bisa menjadi formalis yang menguliti musik tersebut hanya dari segi teknis, seperti seberapa menyeruak refrain atau seberapa mengiris gitar solo dari komposisi itu. Dan jika ada juga yang masih bertanya mengapa kami menjadi hipokrit setelah mendekonstruksi Pilihan Editor, kami malah memberikan hal yang sama, jawabannya adalah kami bukan editor, kami hanya mencintai musik dan hanya ingin berbagi cerita saja!

12 Apr 2012
by Adi Renaldi - 
Published in Ulasan

Ketika Komunal mengatakan di atas panggung bahwa “kami tidak akan sebesar Koil, Puppen, Pure Saturday, tapi kami akan sebesar Slaaankkkk,” kita mungkin hanya mendengar sesumbar murahan, fenomenal, dan bombastis atau sekedar gimmick untuk menarik massa. Tapi jika kita dalami kalimat itu, terdapat sesuatu yang tak akan menjadi klise yang final. Sebuah kepercayaan diri, usaha, dan ikonoklasme terhadap hegemoni industri musik di Indonesia.

Komunal berada dalam laga dan lapangan yang sama tapi melawan dari sisi seberang. Mereka menampik usaha menjadi rockstar seperti yang didengung-dengungkan iklan “are you the next rockstar?” milik kompetisi band yang disponsori perusahaan rokok. Mereka juga tak mengatasnamakan diri mereka “budaya tanding” karena, jika boleh mengutip SGA, sekali tersentuh tangan industri akan mendapatkan peluang untuk menjadi sama komersial dan sama hegemonik, seperti wacana kelas dominan yang dilawannya.

09 Apr 2012
Published in Ulasan

 

Oleh Ardyan M. Erlangga

Saya sedikit terganggu dengan identifikasi malas terhadap Payung Teduh. Salah satu yang paling sering saya dengar, “wah, band yang mirip Sore itu ya?!”. Selain kesamaan bermain di ranah pop, dan kebetulan pula album baru Is Cum Suis ini mendapat sentuhan produksi Ramondo Gascaro, saya melihat ada perbedaan esensial perihal semangat yang diusung dua band ibu kota itu.

Sore punya ambisi besar agar tidak terkungkung pada tekstur lagu. Buktinya paling nampak pada album Centralismo.

Ada alur menukik dari segi musikalitas, ada ambisi tematik: dokumentasi sebuah kota yang terwadahi pada artwork album dan lirik. Belum lagi jika kita ingat Ports of Lima. Album kedua Sore itu jelas-jelas diniatkan menjadi musik pengiring sebuah film khayal.

 

08 Apr 2012
by Anwar Holid - 
Published in Ulasan

 

News of the World adalah album keenam Queen, dirilis tahun 1977 ketika genre punk mencapai puncak pengaruh sosialnya. Hampir semua album seminal punk terbaik lahir di masa ini. Roger Taylor---drummer Queen---pernah menyatakan di sebuah wawancara bahwa kebanyakan band punk awal dia pikir hanya sedikit sekali punya bakat main musik.

Ketika itu Queen mulai menjadi salah satu magnet utama musik rock, setelah mereka sukses gila-gilaan berkat mahakarya berjudul A Night at the Opera. News of the World adalah rilisan kedua pasca A Night at the Opera, yaitu setelah A Day at the Races. Queen mulai menjadi headliner konser, menggelar tur dunia, dan mampu menyedot penonton secara massif. Mereka bereksperimen dengan konser-konser skala stadion yang melibatkan puluhan bahkan ratusan ribu orang. Dari situasi semacam itulah istilah 'arena/stadium rock' muncul. Dalam konser rock seperti itu keempat anggota Queen mulai menganggap bahwa penonton jadi lebih penting daripada band, dan memikirkan bagaimana cara melibatkan fans agar bisa benar-benar terserap ke dalam konser. Queen berhasil melibatkan semua penonton ke dalam pertunjukan terutama lewat karisma Freddie Mercury yang secara komunikatif mampu mengomandoi semua orang untuk koor atau memprovokasi mereka bergerak seirama.

Album ini menghadirkan singles yang menjadi hit besar, yaitu "We Are The Champions" dan "We Will Rock You". Lagu pertama hingga kini senantiasa diputar dibanyak final kejuaraan olahraga, terutama sepakbola. Lagu seperti "We Are The Champions" bukan saja mampu menggerakkan penonton untuk terlibat bersama, melainkan juga menyentuh sisi emosional karena seolah-olah merekalah yang menjadi bintang pertunjukan. Sementara pola irama lagu We Will Rock You simpel dan bersemangat memang sangat kena untuk diteriakkan bersama-sama di dalam stadion. Di awal, lagu ini hanya mengandalkan irama gebrakan drum dan tepuk tangan yang bisa diikuti penonton dengan gampang sekali, baru diakhiri oleh kocokan gitar Brian May yang cepat dan rumit. Dua lagu ini merupakan tipikal lagu arena rock yang sempurna.

News of the World juga menandai Queen lebih berorientasi pada mainstream hard rock, sedikit meninggalkan kesan mengeksplorasi nada progresif di lima album sebelumnya. Mereka perlahan-lahan mengurangi aransemen kompleks maupun mengolah multi track berlapis-lapis a la Bohemian Rhapsody, malah memilih lebih memunculkan nada-nada keras. Hasilnya, banyak orang menyebut ini adalah album Queen paling keras. Contoh ekstremnya ialah "Sheer Heart Attack" yang sangat cepat dan rusuh, cenderung mirip speed metal.

Sisanya cuma ada dua balada, pertama sebuah lagu bernuansa Latin/Hawaiian yang santai dan terkesan main-main berjudul "Who Needs You"; kedua lagu jazzy sedih berpijak pada permainan piano Freddie Mercury, "My Melancholy Blues."

Ada beragam sambutan terhadap album ini , namun berkat "We Are The Champions" dan "We Will Rock You" yang abadi perlahan-lahan memantapkan posisi album ini menjadi jauh lebih positif dan penting, terutama untuk genre classic rock. Di sisi lain, kemampuan John Deacon dan Roger Taylor dalam menciptakan lagu mulai menonjol di album ini, mengimbangi dominasi Freddie Mercury dan Brian May dengan masing-masing menyumbang dua lagu. John Deacon menciptakan "Spread Your Wings," sebuah power ballad tentang optimisme menghadapi hari depan.

Meski jauh kalah bersinar bila dibandingkan dengan cover Nevermind the Bollocks, Here's the Sex Pistols yang sama-sama dirilis tahun itu, bahkan tampaknya tidak dianggap cukup ikonik, cover dan packaging News of the World menarik juga disinggung karena menampilkan situasi futuristik dan memperlihatkan ketertarikan Queen pada sains fiksi. Satu robot raksasa meneror penduduk bumi yang kocar-kacir berusaha menyelamatkan diri namun sudah berhasil merampas dan mencederai keempat anggota Queen. Kelak tema-tema sejenis ini muncul lagi di album Flash Gordon dan The Works.

Sekarang, album ini barangkali menjadi lebih mengesankan lagi karena judulnya jelas mengingatkan orang pada sebuah koran legendaris Inggris yang di era Internet akhirnya mati tragis dan dipenuhi skandal jurnalisme, yaitu News of the World.

 

02 Apr 2012
by Adi Renaldi - 
Published in Ulasan

 

Awal April ini BBM tak jadi naik alias ditunda. Banyak pihak merasa ini bukan solusi yang tepat. Fluktuasi harga minyak dunia tentu sulit diprediksi dan akhirnya akan tetap menjadi siklus; penimbunan marak, demonstrasi menyeruak; harga sembako naik merangkak; dan kantong masyarakat bawah pun semakin cekak. Pemerintah cuma memberi lip-service tentang subsidi, APBN, harga minyak per barel, krisis selat Hormuz, dan BLSM yang tak jelas juntrungannya. Hell, masih banyak yang tidak mengerti tentang itu semua. Kalau sudah begini ikat pinggang yang semakin kencang (untuk sementara) adalah milik kelas bawah dan kelas pekerja. Para kerah biru.

Indonesia masuk dalam 10 besar Negara dengan harga BBM termurah. Tapi tetap saja banyak yang merasa tercekik. Bagi pemilik kendaraan pribadi khususnya motor masih agak lumayan (meski tetap mencekik). Mereka masih mendapat “privilese” untuk menikmati BBM jenis premium (secara teori). Walaupun banyak yang berkata bahwa kualitasnya jauh dari bagus.

Pengendara motor memang harus senantiasa mencari akal. Apalagi bagi para biker kerah biru. Setidaknya, jika harga BBM benar-benar naik, untuk sementara waktu para pengendara motor kerah biru harus melakukan adaptasi dulu. Jika dulu biasa merokok Marlboro setiap hari, kini harus “prihatin” dulu dengan, misalnya, merokok kretek jenis “premium”. Jika waktu harga BBM premium masih Rp.4500,- mereka makan dengan rendang sekali makan, mungkin lauk telur dan tempe bisa jadi pilihan.

Kebutuhan yang lain masih bisa menyesuaikan, tapi sepertinya kebutuhan akan BBM untuk transportasi tak bisa diakali. Apalagi agar dapur tetap ngebul. Lagipula apa yang dapat membuat anda menghentikan semua sensasi di jalanan itu? Rasa kesemutan ketika akan menekan tuas kopling, desir angin dan debu yang menerpa wajah, dan adrenalin yang terpompa kencang? Tidak ada. Tidak dengan naiknya harga BBM sekalipun. Berikut ini beberapa soundtrack untuk menemani mengumpulkan debu jalanan. Lupakan sejenak tentang perang politik harga BBM. Jadi, sudahkah anda mendengar bunyi “klik” pada helm?

Motörhead – We Are the Road Crew (Ace of Spades)

Sebelum Lemmy Kilmister membentuk Motörhead, ia adalah bassist band proto-space rock Hawkwind. Namun karena terlalu banyak mengonsumsi methamphetamine, ia dipecat. “Mungkin meth terlalu proletar, terlalu kerah biru,” kata Lemmy. Hengkang dari Hawkwind ia lantas membuat band. Tadinya ia ingin menamakan bandnya Bastard, tapi manajernya tidak setuju. Kemudian nama Motörhead dipilih. Motörhead adalah istilah para biker untuk pecandu meth. Nama yang sangat representatif ternyata. Itu semua terjadi di tahun 1975.

Lagu "We Are the Road Crew" datang dari album Ace of Spades, yang mungkin merupakan album terbaik yang pernah dibuat Motörhead sepanjang karir. Lemmy yang terpengaruh Little Richard dalam karakter vokalnya memasukkan metafora meja judi, motor, dan hedonisme rock ‘n roll yang menjadi bagian dari sejarah, seperti dalam lirik Another girl, another face/Another truck, another race. Dan lagu ini, yang menunjukkan irama blues mentah, sangat potensial menjadi anthem kala weekend riding yang tak lekang dimakan waktu.

Seringai – Kilometer Terakhir (Serigala Militia)

Salah satu anthem jalanan dari debut album Serigala Militia. Tidak seperti kebanyakan klub/komunitas motor di Indonesia yang udik, Seringai menggabungkan attitude yang keren, antara bir, rock ‘n roll dan motor. Dan track ini menjadi pembuktian ditengah antrian SPBU, bau oli yang menyergap, serta panasnya amplifier. Kekuatan lagu ini (dan hampir semua lagu di dalam album) terletak pada refrain yang mampu menarik kerumunan massa untuk ber-sing along. Sangat crowd-oriented. Khas kawanan serigala yang melolong secara berbarengan dan bersahut-sahutan. Seringai tidak hanya menciptakan ruang, tapi membagi ruang itu dengan massa lewat lagu-lagunya.

Jalanan yang penuh macet, kepundan karbondioksida yang meletup-letup, debu dan asap yang menggelantang, sementara deadline cuma tinggal seujung jari, maka Melesat di jalan kilometer terakhir/Ya, ku hampir tiba, kilometer terakhir/Kubakar bensin, mesin ini meradang menjadi lirik yang paling masuk akal untuk dinyanyikan ditengah umpatan dan sumpah serapah yang keluar nyaris secara instingtif.

Black Rebel Motorcycle Club – Pista 13 (Take Them On, On Your Own)

Bukan saja karena namanya yang keren, tapi attitude band ini sesuai dengan nama yang dipilih. BRMC adalah nama geng motor di film The Wild One yang dibintangi Marlon Brando pada 1953 dan bercerita tentang geng motor yang meneror kota. Kurang rock ‘n roll gimana coba?

Trio BRMC dibentuk pada tahun 1998 di San Francisco. Debut album self titled-nya yang dirilis oleh label Vagrant langsung mencuri perhatian publik. Musik yang diracik cenderung meliuk dengan anggun, dengan seksi ritem yang agak agresif dan kunci-kunci blues yang dibengkokkan. Vokal bassist Robert Levon Been dan gitaris Peter Hayes juga tak kalah seksi, antara desahan malas dengan amarah khas remaja gurun.

Pista 13 (dari bahasa Italia yang berarti jalan/jalur) adalah track penutup album ini. Berisi power ballad dan blues yang gahar, nomor ini secara elegan menjadi semacam perpisahan sementara, sebelum BRMC merilis album Howl yang biasa saja dan kembali menggebrak dengan Baby 81. FTW.

Zeke – Lords of the Highway (Kings of the Highway EP)

Kalau ada istilah rock oktan tinggi, maka seharusnya itu milik Zeke – band asal Seattle, Washington yang didirikan pada 1993. Dari awal muncul, tema yang diambil tak jauh dari dunia kebut-kebutan atau balapan. Musik yang dibikin juga tak kalah ngebut, seperti tenaga yang dihasilkan dari dapur pacu mobil Hemi Cuda dengan karburator four barrel Holley 750. Bukankah itu inti dari oktan tinggi? Pembakaran sempurna (efisien dan tanpa basa-basi) dan tetap bertenaga.

Zeke sudah merilis setidaknya 6 album penuh, 4 EP dan split, dan ikut serta dalam puluhan kompilasi. Musik mereka dipakai untuk beberapa scoring film dan game. Namun intinya bukan itu. Intinya adalah bagaimana bersenang-senang, tanpa harus memikirkan eksperimentasi untuk album esok. Sederhana. Nihil. Dan sekali lagi: efisien.

Kita tahu, yang seperti ini jadinya ambivalen. Kita cepat bosan dengan racikan yang itu-itu saja, maka kita menuntut penyegaran. Tapi toh, Zeke (dan banyak band punk lain) masih bertahan dengan sintesa yang dulu dan tak menuntut untuk didengarkan oleh dunia.

EP ini dirilis Relapse Records pada 2007 lalu dalam bentuk digital dan berisi sebuah kover dari GG Allin. Dengan mudah kita dapat menemukan jejak-jejak pengaruh Turbonegro, Ramones, dan Motorhead dalam track ini. Cocok untuk adu balapan stock car di Daytona International Speedway atau sekadar nonton film aksi Steve McQueen.

Metallica – Fuel (ReLoad)

Dari kalimat gimme fuel/gimme fire/gimme that which I desire tampaknya kita mendapat salah satu lirik terkuat yang mampu mewakili jeritan hati rakyat kecil atas kenaikan harga BBM. Semua orang menginginkan bensin. Tanpa terganggu dan mengorbankan kocek sedemikian rupa. Selayaknya darah, BBM menghidupi urat nadi kehidupan, dan disanalah, untuk saat ini, kita bergantung. Maka kita pun teringat akan hit single dari tahun 1990-an ini, ketika anak-anak gondrong hitam-hitam belajar menjadi shredder yang tercepat. Ketika BBM tak jadi momok yang sering bikin dompet rontok.

Metallica memang sempat menjadi jenius (atau sampai sekarang masih?). Tapi James Hetfield, mungkin tak merasakan apa yang kita rasakan sekarang. Ia, yang penggemar mobil American Muscle dan sempat melelang Chevy Camaro 1967-nya demi amal, menulis lagu ini sekadar anthem untuk kebut-kebutan. Semacam persembahan untuk para nitro junkie. Ia tak melihat ke negeri ini. Atau mungkin dan bisa jadi, lirik dalam lagu ini bisa menyesuaikan dengan keadaan suatu negeri yang sarat polemik minyak, seperti di Indonesia?

Mungkin juga lewat lagu ini, kita dapat melihat ke negeri lain, dimana rencana kenaikan harga BBM tak disusul dengan demonstrasi. Dimana bisa Quench my thirst with gasoline tanpa harus mengorbankan kebutuhan lain.

 

29 Mar 2012
by Adi Renaldi - 
Published in Ulasan

Sering kita dengar pendapat seperti ini: band setelah album ketiga biasanya akan meredup. Percaya tidak percaya memang. Tapi melihat bukti-bukti diluar sana mungkin ada benarnya. Tapi juga tak selalu. Ada yang bubar tapi dikenang. Ada yang tetap hebat. Ada yang tetap biasa saja (baca: stabil). Tapi banyak pula yang lantas terpuruk, bikin sensasi, bubar, ganti proyek lain, dan kemudian reuni (lebih efektif untuk meraup jutaan dollar daripada bertahan dengan album-album buruk).

Berapa album yang dimiliki band medioker macam Godsmack, Puddle of Mudd, Nickelback? Lebih dari satu. Apakah mereka bersinar atau terpuruk? Tidak keduanya. Mereka tetap stabil tapi dengan satu catatan: tetap menyandang status medioker. Lalu berapa jumlah album yang dirilis Limp Bizkit? Lumayan banyak. Beberapa dulu sempat booming, meroket, tapi sayangnya keburu meledak dan hancur berantakan di Bumi sama seperti pesawat ulang-alik Challenger. Hal tersebut biasa terjadi dalam dunia seni.

April tahun ini band metal asal Oakland, California High on Fire merilis album ke-6 nya, De Vermis Mysteriis (Misteri Cacing) lewat label eOne Music. Setiap band, dikatakan, harus punya album kuncian. Sebuah game changer. Yang menentukan seberapa besar kreativitas mereka. Yang paling tidak, dapat memancangkan eksistensi mereka. Iann Robinson dari situs CraveOnline menulis bahwa album ini adalah game changer bagi trio High on Fire. Situs itu menghadiahi album ini dengan angka rating 10. Andai semudah itu, mister Robinson.

Yang cukup menggelikan, Robinson menulis bahwa sebuah band butuh game changer bila mereka tidak mau tergulung oleh horison waktu. Metallica punya Master of Puppets, Slayer punya Reign in Blood, Black Sabbath dengan Paranoid, atau Guns ‘n Roses dengan Appetite for Destruction. Daftarnya bisa berkilometer panjangnya bila diteruskan.

Game changer tak bisa dijadikan tolok ukur. Toh, banyak juga band yang tidak memiliki album bagus sepanjang karir tapi bertahan dalam waktu yang cukup lama bukan? Bagi saya yang terpenting bukan albumnya, tapi efek yang ditinggalkan album itu bagi generasi kedepannya. Dan album-album milik Slayer, Black Sabbath, dan Metallica tersebut diatas telah berhasil. Album-album itu lebih dari sekadar game changer. Dan bukan hanya sekedar kamus riff dan shredding yang gila-gilaan, tapi artefak budaya yang timeless dan irreplaceable.

Jika album De Vermis Mysteriis dianggap sebagai kuncian, jangan samakan dengan album-album legendaris tersebut. Puncak kreativitas musisi itu pasti ada, dan menjadi hal biasa dalam proses kreatif. Lagipula album game changer milik band-band metal diatas selalu lahir dari kecerdasan serta suasana sosial budaya yang memang sangat kondusif kala itu – sebuah era thrash/metal sebagai hasil evolusi rock n roll, punk, hardcore dan heavy metal. Kontribusi mereka bukan hanya album-album yang cult dan laris terjual, tapi juga sebuah kebudayaan. Dan itulah yang membedakan Slayer, Anthrax, dan Black Sabbath dari band-band lain.

Sekalipun band-band itu sempat merajai blantika musik internasional dengan album-album yang menggebrak, tetap saja ada jalan menurun yang mesti dilalui. Jika ada puncak tentu ada titik nadir. Masih ingat Slayer di era 90-an? Tak bisa dikatakan berhasil (meski penggemar fanatiknya tetap berjubel). Metallica apalagi, mereka sampai masuk rehab, hampir pecah, dan menjual konflik internal untuk beberapa ribu dollar. Game changer tak penting bagi saya, karena hal itu bagian dari proses dan sudah menjadi kewajiban serta bentuk pertanggungjawaban band terhadap publik.

Lantas apa mungkin album High on Fire ini bakal membuatnya semelegenda band-band metal kugiran diatas? Bagi saya tidak. Era itu takkan terulang. Scene metal akan tetap sama meski banyak album baru bermunculan. Saya tidak sependapat dengan Robinson. Game changer High on Fire sudah dibuat bertahun-tahun yang lalu dan telah meninggalkan kesan cukup dalam bagi scene metal. Dan ibarat grafik yang naik turun, saat ini mereka tengah terjun.

Jika boleh bertanya, apa yang anda harapkan dari sebuah album milik musisi/band dalam era hibrid seperti ini? Bagi penggemar fanatik sebuah band/musisi pertanyaan itu tak bakal dilontarkan. Berani taruhan, bagi sebagian orang mungkin karena suka dengan lagu yang memiliki melodi atau hook yang catchy plus personel yang cantik/ganteng ala manekin.

Kadang lagu itu terdengar sangat catchy hingga anda mabuk kepayang dan terus menerus memutarnya. Tapi percayalah, dalam tempo 4 bulan anda akan lupa sebagian atau bahkan setiap bait lirik atau nadanya begitu saja (Krisna J. Sadrach apakah anda sadar?).

Pendeknya, saat ini sulit sekali menilai album itu begitu hebat atau quintessential karena kebanyakan musisi hanya mementingkan melodi dan refrain yang catchy tanpa memikirkan makna. Era ini adalah era pengulangan dari materi yang sudah ditemukan. Kita hanya tinggal mengolah dan mendaur ulangnya lagi. Tak akan ada lagi Reign In Blood yang bengis, Paranoid yang bikin parno, atau Spreading the Disease yang nakal di era seperti ini.

Bicara High on Fire tak bisa lepas dari Sleep - band stoner doom yang dikultuskan (saya tak membual) – yang bubar di tahun 1995. Haram hukumnya jika bicara stoner doom tapi tak menyebut nama Sleep. Sleep menjadi salah satu kiblat, bahkan bagi banyak band yang berlagak “stoner-stoner-an”. Band ini bubar setelah merilis 3 album yang semuanya influensial (Vol.1, Holy Mountain, dan Jerusalem/Dopesmoker).

Kemudian Matt Pike (gitar/vokal) membentuk High on Fire pada tahun 1998, sedangkan dua personel lain – Al Cisneros dan Chris Hakius – membentuk Om. Sleep jadi legenda dan reuni dari 2009 lalu, Om sedang meniti karir dan telah menghasilkan 3 album dan 1 album live, sedangkan High on Fire belum puas dengan 5 album.

Jangan salah sangka. Saya sangat menyukai High on Fire, khususnya 4 album di awal karir mereka. 3 album diantaranya (Surrounded by Thieves, Blessed Black Wings, dan Death is This Communion) masuk daftar album favorit sepanjang masa versi saya. Hingga saat ini saya masih ternganga jika mendengarkan komposisi mereka. Sangat cerdas!

Menginjak album kelima pada 2010 lalu - Snakes for the Divine, yang diproduseri Greg Fidelman - saya agak kecewa. Saya tak peduli jika album ini berada pada nomor 62 Billboard 200 Chart atau jika New York Times dan Chicago Tribune memuji album ini “wonderful” dan “an exhilarating rush” (jangan biarkan media mendikte selera anda). Komposisi mereka tipikal. Produksinya kelewat bersih, serta “asal ngebut”. Temanya juga agak lain dari biasanya (ada judul lagu Bastard Samurai disitu, seperti membayangkan Musashi Miyamoto membantai pasukan Tenno Haika sambil mengganja).

Apa masalahnya? Boring tentu. Mereka tidak tahu harus kemana lagi, seolah-olah semua energi kreatif mereka habis tersedot oleh ketiga album terdahulu. Dan kata-kata paling ampuh pun keluar, “kami mencoba kembali ke akar.” Oh, ayolah masbro! Harus seberapa sering kita mendengar kata-kata “aman” itu. Itu sama saja seperti berkata, “maaf kami tak tahu arah jalan jadi kami memutuskan kembali.” Sebuah band metal tidak hanya menonjol dari seberapa ngebut, berat, atau kegarangan riff-nya, tapi juga dari seberapa kreatif mereka dalam mengolah komposisi.

Album Surrounded by Thieves yang rilis tahun 2002 masih kental nuansa stoner doom yang primitif dengan ketukan drum tribal dan kunci gitar yang repetitif. Hal ini wajar karena bayangan Sleep masih menghantui Matt Pike sehingga nuansa Sleep-esque masih kental. Nomor Hung, Drawn, Quartered; Speedwolf; dan Eyes and Teeth adalah serangan mematikan.

Tahun 2004, Blessed Black Wings dirilis dengan Steve Albini sebagai produser. Mereka mempercepat tempo. Lebih berat dan kejam. Sound-nya kasar dan crispy. Semua departemen saling mengisi dengan rapatnya. Nomor seperti Devilution, Face of Oblivion, Brothers in the Wind, Cometh Down Hessian, plus cover song garang dari Judas Priest Rapid Fire, sangat, sangat direkomendasikan.

Puncak dari ledakan klimaksnya adalah Death is This Communion di tahun 2007. Dengan komposisi lick-lick gitar ala Timur Tengah dengan sound yang “gemuk” nan bersih berkat tangan dingin Jack Endino. Bisa disimak dari nomor Fury Whip dan Rumors of War. Tak ada yang dapat menyamai trio ini kala itu. Ini adalah masterpiece yang cukup influensial. Hasilnya di tahun 2007 Matt Pike pun masuk dalam daftar The New Guitar Gods versi majalah Rolling Stone.

Bagi seorang gitaris, gitar itu bukan hanya sekedar instrumen tapi perpanjangan tubuh, jiwa, dan pikiran. Dan Matt Pike adalah salah satu contoh musisi yang menjiwai perpanjangan tubuhnya. Ia mengeksplornya. Menyalurkan tenaganya. Dan menghidupinya.

Saya sempat berpikir bahwa High on Fire lebih baik bubar saja setelah album Death is This Communion. Mereka akan dikenang dan saya tidak perlu capek-capek menulis artikel ini.

H.P. Lovecraft dan De Vermis Mysteriis

“Power is not revealed by striking hard or often, but by striking true.” Kata-kata sastrawan Perancis termasyhur Honoré de Balzac itu adalah prinsip dan filosofi yang selalu dipegang High on Fire sampai kapanpun. Mereka tidak berpura-pura menjadi “keras” atau mencoba menyeleweng ke arah tren-tren masa kini. Dan itu yang membuat saya salut, seburuk apapun album mereka.

Situs label rekaman Century Media (yang mendistribusikan album ini untuk wilayah Eropa) menulis dengan sedikit nada humor bahwa High on Fire adalah “savage bull in the china shop of modern metal”. Apakah sang “banteng ketaton” mau berbelanja obat-obatan Cina? Belum jelas apa maksudnya. Tapi kali ini memang ada tema dari Cina daratan. Mungkin karena saat ini Cina sedang menjelma menjadi salah satu kekuatan dunia. Yang jelas ini adalah sesuatu yang baru dan jarang diangkat. Ketika banyak band mengadopsi tema-tema pagan, mitos-mitos Yunani atau Latin, mereka berani mengangkat tema yang kurang populer. Tapi sayangnya tema yang baru dan beda saja belum cukup untuk sebuah album.

Serums of Liao, nomor pertama, bercerita tentang serum yang dibuat dari lotus hitam oleh tabib Cina kuno. Mungkin saja serum tradisional ini digunakan secara turun temurun dan rahasia. Track ke-9 berjudul Romulus and Remus, yang dari judulnya segera ketahuan. Lagu ini mengangkat cerita legenda rakyat Roma tentang dua anak yang diasuh oleh serigala dan kemudian membangun kota.

Judul yang lain juga tetap gahar khas metal. Ada Bloody Knuckles yang memiliki groove klasik khas High on Fire; ada juga track Fertile Green – single pertama yang dirilis via Pitchfork pada Februari lalu – yang berisi metafora tentang bong dan “hijaunya” kebiasaan menggganja, dan dibuka dengan heart-pounding drum yang bikin semangat; Serta Warhorn yang menjadi nomor pamungkas dan meneruskan tradisi stoner klasik sebagai lagu perang.

Sama seperti album-album High on Fire terdahulu, album De Vermis Mysteriis juga terpengaruh cerita-cerita ajaib dan sci-fi karya H.P. Lovecraft. Karya-karya Lovecraft - khususnya At the Mountains of Madness yang bercerita tentang William Dyer, seorang geolog yang berekspedisi ke Antartika dan menghadapi hal-hal aneh - menjadi referensi bagi banyak musisi.

Album De Vermis Mysteriis ditakik dari fiksi horor garapan Robert Bloch berjudul The Shambler from the Stars yang terbit di tahun 1935. Awalnya Bloch yang ternyata penggemar berat Lovecraft meminta pendapatnya atas karya ini. Frase itu tadinya hanya sebuah mantra berbahasa Inggris yang dibaca oleh salah satu tokoh dalam cerita pendek itu. Lovecraft yang ternyata menyukai karya Bloch kemudian mengusulkan frase dalam bahasa latin: De Vermis Mysteriis. Beberapa tahun kemudian Lovecraft juga memasukkan frase itu lagi dalam salah satu fiksinya.

Konsep De Vermis Mysteriis – yang menurut Bloch adalah rahasia tergelap yang pernah dipelajari manusia - diambil dari kisah tentang Ludwig Prinn, seorang ahli kimia yang dibakar dalam rangkaian perburuan tukang sihir di Brussels pada akhir abad ke-15. Disamping itu Bloch mengaku terinspirasi dari karya Lovecraft berjudul The Call of Cthulhu yang terbit pada tahun 1928 – sebuah fiksi fantasi tentang monster laut aneh bernama Cthulhu yang menghancurkan kota fiktif bernama R’lyeh di Pasifik Selatan. Sebuah hubungan resiprokal nampaknya telah terjadi: Lovecraft mempengaruhi Bloch dan Matt Pike terpengaruh keduanya.

Matt Pike tampaknya seseorang yang haus akan referensi literatur, dan itu lebih dari cukup sebagai bahan bakar untuk membuat sebuah album tematik. Perkawinan antara literatur dan musik memang bukan hal baru. Tapi selalu mengasyikkan jika kita dapat menemukan interpretasi musisi atas bentuk karya seni lain yang ada dibelakang lagu maupun album.

Selain itu Matt Pike mengaku mendapat ide tentang Kristus dan Konsepsi Immaculata. Ia menjabarkan idenya itu sebagai kembaran Kristus yang meninggal saat dilahirkan untuk memberikan hidupnya pada sang Kristus. “Kemudian keduanya menjadi penjelajah waktu.” Katanya dalam suatu wawancara. Agak aneh memang, tapi begitulah.

Satu yang layak menjadi catatan, High on Fire kerap berganti-ganti produser di setiap albumnya. Pergantian ini sedikit banyak mempengaruhi pendekatan album baru ini. Kali ini Kurt Ballou dari GodCity Studios di Salem, Massachusetts ditunjuk untuk memproduseri album ini. Beberapa tahun belakangan ini Ballou memang naik daun. Gitaris Converge ini telah menangani banyak band-band “bengal” dengan brilian, dari Doomriders hingga Kvelertak.

Ballou bukan Midas. Tapi sentuhannya memang terasa. Sound yang dihasilkan cukup tajam, terpoles, dan “penuh”. Sedangkan dari segi komposisi dan musikalitas, dari kesepuluh track dalam album ini tak ada yang istimewa sebetulnya. Kreativitasnya mandeg. Jalan ditempat. Tak ada kejutan yang diberikan. Dari raungan gitar Matt Pike yang cepat dan berat, kemudian ditimpali sengatan megaton bass Jeff Matz dan drum Des Kensel, semuanya masih khas dan sama.

Di album barunya ini High on Fire ingin melepaskan diri dari bayangan Sleep, dan itu berhasil. Memang sudah sekian lama mereka selalu dikaitkan dengan Sleep, dan itu terkesan tidak adil apalagi bagi personel yang lain. Meski begitu dengan album ini reputasi High on Fire paling tidak tetap terjaga. Sehingga adagium “death to false stoner” masih layak mereka teriakkan.

Selebihnya ini hanyalah album biasa. Sebuah album yang dirilis hanya sebagai survival tool di belantara musik. Tak ada sesuatu yang baru. Pekerjaan rumah mereka lumayan berat jika tetap ingin berada diatas angin. Hal ini memang biasa terjadi, so, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Keberhasilan hanya bisa dilihat secara post-factum, jadi kenapa harus buru-buru menilai sebuah album sebagai game changer?

21 Mar 2012
by Taufiq Rahman - 
Published in Ulasan

Bahwa The Shins pada akhirnya kembali merilis album dengan materi baru sesungguhnya memang layak dirayakan. Buat saya The Shins telah meninggalkan warisan yang mendalam tentang matahari musim panas yang mulai merendah dan dimulainya musim dingin Amerika Serikat era akhir George W. Bush yang kelak akan merubah hidup banyak orang. Ada alasan yang kuat mengapa vinyl LP Chutes Too Narrow dan Oh, Inverted World adalah dua dari yang pertama saya miliki. Tapi sudahlah, impresi awal itu kini mulai menguning dan semakin menjauh.

Saya tidak pernah memiliki ilusi bahwa setelah Wincing The Night Away hanya kami dan para underdog-lah yang berhak memiliki dan merayakan The Shins, seperti Natalie Portman menyerahkan headphone besar itu ke Zach Braff untuk lagu “New Slang” di film Garden State. Kini hampir satu dekade kemudian, semua orang telah merayakan The Shins. Dan perayaan besar-besaran itulah yang belakangan kita bisa saksikan.

Saya tidak tahu apakah kita sekarang begitu parahnya mengalami paceklik talenta yang bagus, sehingga band yang lima tahun lalu masih sayup-sayup terdengar dan hampir memasuki radar kini di sambut seperti juru selamat yang hendak membebaskan umat manusia dari empat penunggang kuda apokalips itu (Lady Gaga, Justin Bieber, Coldplay dan Bon Iver). Pitchfork—yang semakin lama semakin kuat pengaruhnya terhadap arus dan semakin diragukan kredibilitasnya sejak memberi rating bagus terhadap Mylo Xyloto—segera memberi fatwa bahwa album baru The Shins Port of Morrow adalah ‘best new music,’ dan memberi stempel sertifikasi album bagus dengan skor 8.4. Kritik Laurie Fitzmaurice menutup ulasannya dengan mengatakan  “comeback stories don't get much better than that,” dengan hanya sedikit menjelaskan mengapa Port of Morrow bisa begitu bagus.  

Sasha Frere Jones dari The New Yorker menulis di edisi terbaru majalah ini bahwa Port of Morrow merupakan kelanjutan dari album-album klasik dari dekade 1970-an. Ini yang ditulis oleh Frere-Jones: “Port of Morrow” brings Mercer closer to the lineage he’s been gradually writing himself into: the lush psychedelia of XTC, on an album like “Skylarking,” or even seventies pop acts like Joe Walsh and Supertramp.”

Ben Sisario dari The New York Times sampai harus datang ke rumah James Mercer di Portland untuk menulis sebuah kisah manis berjudul "The Second Act of an Indie Success Story" di mana Port of Morrow adalah bukti terakhir dari sukses  itu. Meskipun datang dari dua kubu yang berlawanan, baik Pitchfork maupun the New York Times ingin membangun sebuah narasi yang didefinisikan dengan kata ‘sukses”. Bagi Pitchfork, The Shins atau lebih tepatnya James Mercer adalah sebuah bukti bahwa kesuksesan di arus utama masih bisa dicapai dengan kredo artistik indie dan lo-fi yang masih terjaga. The New York Times sebaliknya menulis The Shins dengan narasi standar indie-ke-arus-utama, di mana musisi lo-fi dengan bahan baku rekaman kabur kemudian berusaha menjadi pemain pro dengan membuat musik yang semakin berwarna—dan dengan menyewa produser Greg Kurstin untuk Port of Morrow, The Shins sedang melancarkan coup untuk menjadi semakin penting di arus utama.

Namun semua pembahasan tentang narasi besar kesukesan The Shins—Fitzmaurice misalnya menghabiskan seperempat dari ulasannya untuk membahas apa saja yang perubahan yang terjadi di dunia selama The Shins libur dari dunia musik—mengaburkan kita dari kenyataan bahwa Port of Morrow adalah album yang biasa-biasa saja, untuk tidak mengatakan jelek. Saya kira semua yang sudah mendengarkan album ini secara gratis dari theshins.com berhak mengatakan bahwa Port of Morrow adalah album dengan satu lagu bagus “Simple Song--salah satu power pop paling baik The Shins dengan surf gitar yang majestic--sedangkan sembilan yang lain adalah filler berbiaya mahal penuh dengan tipuan studio, dan jika bukan karena vokal Mercer yang khas maka album itu bisa dengan mudah dilupakan mungkin sebagai album “hilang’ dari proyek solo Mercer di Broken Bells atau Owl City.

Lantas jika The Shins memang sudah berakhir di Port of Morrow apakah ini adalah alasan untuk kehilangan harapan kepada rock independen? Tidak bagi mereka yang baru saja menemukan album terbaru Andrew Bird, Break It Yourself, sebuah album yang begitu istimewa—meski dengan rating Pitchfork yang biasa saja. Sama seperti semua album Beirut, rating untuk Andrew Bird tidak pernah beranjak dari angka 7—sehingga saya tidak tahu dari mana mesti memulai berbicara tentangnya.

Cukup dikatakan jika selama seminggu terakhir sejak pertama kali mendengarkan album ini, saya seperti kembali membuka halaman-halaman buku Eric Wilson berjudul Against Happiness: In Praise of Melancholy yang sempat saya ulas di halaman website ini mungkin dua tahun yang lalu. Saya kembali teringat dengan deskripsi melankolia dari Eric Wilson ketika melihat bayangan pohon di bawah temaram cahaya bulan awal malam, melihat daun-daun kering beterbangan di terpa angin musim gugur atau wajah perempuan tua penuh keriput yang kita jumpai di jalanan yang lengang—kondisi di mana kita terkejut dan terpana oleh banalitas kehidupan dalam bentuknya yang sama sekali berbeda.

Di album Break It Yourself ini ratapan violin pedih, dentingan gitar tertahan dalam atmosfer monokromatik, vokal tenor dan siulan Andrew Bird adalah distilasi paling sempurna dari melankolia. Juga jika anda adalah tipe orang yang masih percaya dengan kekuatan kata-kata, puisi di album ini bisa membuat anda menangis untuk keindahan hidup dalam bentuknya yang paling sederhana. Coba perhatikan lirik ini dan coba untuk tidak percaya dengan kecelakaan kosmis bernama hidup. //What if we hadn't been born at the same time//What if you were 75 and I were 9?//Would I still visit you?//Bring you cookies in an old folks' home//Would you be there alone?//. Lirik tersebut dari komposisi “Sifters”—salah satu komposisi yang paling baik di album Break It Yourself.

Di saat yang lain, ketika  tidak berdendang tentang lubang di dasar laut ("Hole in the Ocean Floor"), proyektor yang malas ("Lazy Projector") atau daratan yang berbahaya ("Fatal Shore"), Andrew Bird berkisah tentang gunung, lautan, angin hampir di semua lagu. Ada juga saat di mana Andrew Bird berkisah tentang bagian sejarah dunia yang hampir terlupakan dan tidak banyak dibicarakan lagi di lagu “Lusitania” tentang kapal Inggris yang ditenggelamkan oleh Jerman di awal Perang Dunia I. Namun bahkan ketika berkisah tentang perang laut ini Andrew Bird masih juga berkisah tentang hujan, laut dan begitu banyak air.

Dan sebagai seseorang yang sempat tinggal agak lama di pedalaman Midwest Amerika Serikat saya kemudian mencoba menebak fakta bahwa Andrew Bird berasal dari Chicago memberi sumbangan besar kepada dosis melankolia berlebih yang ditumpahkan ke dalam Break It Yourself. Bagaimana jika musim dingin yang panjang, matahari rendah musim dingin, pohon telanjang menjulang di atas tumpukan salju bercampur garam, barisan lahan gandum dan jagung maha luas, udara dingin kencang dari Danau Michigan yang menyelusup di antara celah gedung tinggi dan agung di kota ini, memberi landasan bagi konstruksi bangunan album ini.

Saya tidak ingin terdengar menjadi reduksionis a la Ibnu Khaldun dengan menjelaskan aktivitas kesenian dan tempramen manusia sebagai hasil dari kondisi lingkungannya, namun musik melankolia Break It Yourself sangat mungkin dihasilkan oleh seseorang yang dekat dengan alam Midwest yang indah sekaligus tidak kenal ampun itu--sama seperti komposisi "Here Comes The Summer" dari The Fiery Furnances--yang secara sempurna menangkap warna musim panas dari sudut pandang orang yang tinggal terlalu lama di musim dingin--hanya bisa diciptakan oleh Eleanor Friedberger yang besar di Oak Park, sebuah kota kecil berjarak sekitar 15 kilometer dari Chicago.

Desember tahun lalu Andrew Bird mengadakan sebuah pameran di Chicago’s Museum of Contemporary Art dengan judul “sonic arboretum” sebuah pameran instalasi kolaborasi Andrew Bird dengan arsitek Ian Schneller. Andrew Bird menciptakan musik untuk pameran ini, yang digarap spontan selama pameran berlangsung. Musik pameran itu terinspirasi oleh suasana yang tumbuh selama waktu yang dia habiskan di sebuah lahan pertanian di pedalaman Illinois “I am crafting loops that "fit with the landscape, with a field of soybeans in the wind, the way the wind will blow through and make this pattern. What we can do with these hornlets is create that movement of wind." Perhatikan bagaimana dia begitu terpesona oleh angin.

Atau jika sedang tidak berkontemplasi tentang angin dan hujan, Andrew Bird memilih berbicara tentang tema-tema yang sangat kelam seperti pengalaman dekat dengan maut di “Near Death Experience” atau rasa berputus asa di "Desperation Breeds": //We keep breeding desperation//In this era of thieves//Who keep stealing respiration//From the tenderest of trees. Dan bahkan ketika sedang berkontemplasi tentang tema yang begitu berat, Andrew Bird masih menyisakan ruangan untuk pohon dan alam. Dan jukstaposisi inilah  yang oleh Bird sendiri definiskan sebagai melankoli, sebuah kondisis yang kemudian menjadi dasar bagi sebagian besar karya seni. “"I think that dark on dark is kind of boring, but the juxtaposition is what we call melancholy. That's the basis of most music, really. I've always liked that contrast," Andrew Bird menceritakan proses kreatifnya untuk NPR.

Tanpa tautan melankoli tersebut, semua karya Andrew Bird di Break It Yourself mungkin hanya akan terdengar seperti komposisi country rock tradisional yang sangat Americana, terutama dengan sayatan violin yang meratap—Andrew Bird adalah pemain violin yang dibesarkan dalam tradisi musik klasik. Bahkan komposisi“Danse Caribe” terdengar seperti Grateful Dead dalam bentuknya yang paling liris.

Dan hanya dengan melihat Break It Yourself sebagai hasil kontemplasi kosmis dan kepaduan kepada alam maka akan datang keindahan itu. Ini adalah jenis album yang jika anda mendengarnya sambil memandang gumpalan awan putih di langit yang biru, anda bisa langsung menitikkan air mata. Saya sudah, bagaimana dengan anda?



14 Mar 2012
by Fakhri Zakaria - 
Published in Ulasan

Bila tidak meleset, pemerintah akan menaikkan harga BBM pada 1 April mendatang. Keputusan yang tidak populis dan sudah dipastikan akan menimbulkan perdebatan berlarut-larut. Lepas dari segala argumen yang diberikan oleh pemerintah, yang jelas setiap kenaikan BBM beban rakyat akan makin bertambah. Biaya hidup pasti naik, sementara para pekerja seperti saya pendapatannya seperti acuh pada laju inflasi yang makin meninggi . Alhasil segala macam pos-pos pengeluaran yang sudah dirancang mesti dirombak total. Pos yang paling apes adalah anggaran untuk senang-senang. Mesti rela disunat. Maklum, saya bukan hipster kaya raya yang bisa asal tunjuk barang. Protes kenaikan gaji?. Yang ada dapat surat cinta bernama SP3.

Beruntunglah ada musik yang sudah teruji dan terbukti sebagai sarana eskapis nan ampuh. Dalam bayang-bayang kecemasan ongkos bus kota yang naik juga sepiring nasi di warteg yang bakal semakin pelit porsinya, saya haturkan Lima Lagu Menyambut Kenaikan BBM.

Killing An Arab (The Cure)

Isu minyak bumi selalu menjadi argumen naiknya tensi politik dan keamanan di Timur Tengah. Sebagai lumbung minyak dunia, sedikit saja ada bara akan menimbulkan gejolak harga. Blokade selat Hormuz oleh Iran beberapa waktu lalu membuat tensi politik di Timur Tengah meninggi. AS dan sekutu-sekutunya dikabarkan akan segera menyerang negeri para mullah tersebut. Harga minyak kembali melonjak. Inilah yang jadi argumen pemerintah menaikkan harga BBM.

"Killing An Arab" yang merupakan single pertama dari The Cure rilisan 1978 merupakan gambaran segala keruwetan di negara-negara Maghribi tersebut. Dimata saya, liriknya menggambarkan perang batin tentara-tentara sekutu saat harus menghabisi nyawa mereka yang sebetulnya tidak tahu apa-apa. Semuanya demi setetes emas hitam.

Standing on the beach
With a gun in my hand
Staring at the sea
Staring at the sand
Staring down the barrel
At the arab on the ground
I can see his open mouth
But I hear no sound


I'm alive
I'm dead
I'm the stranger
Killing an Arab


Robert Smith mengambilnya dari momen-momen penting novel The Stranger karya Albert Camus. Liriknya bertutur tentang Meursault, sosok jujur dan terbuka berdarahcampuran Prancis-Algeria , yang menembak orang Arab di pantai sebagai puncak kewalahannya terhadap situasi sekelilingnya. Lagu ini kemudian memicu kontroversi karena sering dianggap mensponsori kekearasan Barat terhadap Orang Arab. Semakin kentara saat Perang Teluk serta peristiwa 9/11. Smith bahkan pernah meminta radio-radio agar menghentikan pemutaran lagu ini.

Honorable mention: "Prahara Timur Tengah" (God Bless) dan "A Lady And The Morocco’s Teenage Army" (Teenage Death Star)

Makan Gak Makan Asal Kumpul (Slank)

Hadir saat Indonesia dalam tahun-tahun vivere per closo kisaran 1997-1999. Lagu ini sendiri diambil dari album A Mild Live Konser Piss 30 Kota yang merupakan rekaman konser Slank selama tahun 1998. Judul dan liriknya mengajak untuk kembali menengok kehidupan komunal masyarakat Indonesia yang terbukti menjadi modal ampuh untuk bertahan saat bertahun-tahun dijajah bangsa lain. Terlebih dalam kondisi penuh tekanan, manusia akan menampilkan wajah buasnya sebagai serigala yang tidak ragu untuk adu cakar dengan sesamanya.

Bulan kebulan semakin gawat
Asal gak laper sampai lewat
Kalau gak mikir cepat-cepat
Bangsa Indonesia bisa kiamat

Selama kita gak panik dan mikir santai
selama kita tetap...cinta damai
Makan gak makan asal kumpul 2X
Makan gak makan, makan gak makan
Asal kumpul
Makan gak makan, makan gak makan
Asal kau ada di sampingku


Train Song (Bangkutaman)

Setiap momen kenaikan BBM, para cerdik pandai juga pembuat-pembuat kebijakan selalu meneriakkan isu penghematan BBM, salah satunya perbaikan sarana transportasi umum. Namun segala iruh rendah itu paling hanya bertahan paling lama satu bulan. Setelahnya mereka sibuk merutuki kemacetan dari dalam sedan mewahnya.

Sebagai pengguna kereta, dalam hal ini KRL Commuter Jabodetabek, saya mendapat banyak keuntungan dengan berkereta menuju tempat kerja. Selain murah dan lokasi stasiun terjangkau dari tempat kerja, waktu tempuh juga lebih cepat dan terjadwal. Tentunya bila tidak ada gangguan yang hampir setiap minggu ada. Dan jika anda sudah membaca tulisan ciamik dari Taufiq Rahman (http://www.jakartabeat.net/idea/kanal-idea/prosa/item/1408-naik-krl-dan-menjadi-manusia-hipster.html), pengguna kereta bisa berbangga hati sejajar dengan hipster-hipster di New York sana.

Bangkutaman merangkum segala cerita di kereta dalam Train Song, lagu yang ada di album monumental Ode Buat Kota. Inspirasinya adalah pengalaman sang gitaris,J. Irwin yang juga pengguna KRL Commuter Jabodetabek. Liriknya adalah pengamatan-pengamatan Irwin dalam KRL yang membawanya pulang dari tempat kerja di Sudirman, Jakarta Pusat menuju Serpong. Ada pekerja-pekerja lelah, pasangan-pasangan yang ingin segera jumpa, juga potret-potret lain manusia yang hanya bisa jumpai kalau anda naik kereta.

Electric train is part of my soul
Electric train brings me to my love
Electric train makes my body numb
Electric train always keep me up
In the middle of the night


Jakarta Motor City (Sir Dandy)

Ketidakbecusan pemerintah menyediakan transportasi publik membuat masyarakat secara swadaya memenuhi kebutuhan transportasinya dengan kendaraan pribadi. Mengingat kemacetan Jakarta yang semakin jahanam, pilihan kendaraan yang ringkas, bisa bermanuver disela-sela kemacetan serta sanggup menjelajahi jalan tikus menjadikan sepeda motor sebagai primadona. Terlebih kini makin mudah untuk membawa kendaraan roda dua tersebut dari dealer ke rumah.

Hasilnya, ada 9 juta sepeda motor memenuhi jalanan ibu kota. Sepeda motor lalu menjelma menjadi raja-raja kecil di jalanan Jakarta, berbagi tempat bersama mobil mewah pejabat, mobil dinas polisi, juga mobil-mobil mewah milik kroni pejabat dan teman polisi. Sebagai yang paling bontot ukurannya, sepeda motor bisa naik ke trotoar hingga jembatan penyebrangan.

Sir Dandy dengan jeli memotret pemdangan yang mungkin hanya ada di Jakarta. Lirik dari frontman   Teenage Death Star, band berbahaya bagi kawan dan lawan, ini membuat pendengarnya akan berucap, “Anjiss , bener juga ..”. Ah lebih baik anda simak sendiri lah.

Jakarta Motor City
Semua ngebut tak terkendali
Spion mobil disikat trotoar dikangkangi
Tak takut mati apalagi takut polisi


Galang Rambu Anarki (Iwan Fals)

Inilah lagu yang mewakili jutaan mulut rakyat Indonesia. Entah kenapa setiap mendengar berita kenaikan harga BBM, lagu ini langsung menjadi soundtrack yang berputar di telinga saya. Terdapat  adi album Opini, rilisan Musica Studios tahun 1982, lagu ini sebetulnya diciptakan untuk Galang Rambu Anarki, anak pertama Iwan Fals. Namun memang otak seniman, Iwan membungkusnya dengan isu kenaikan BBM sehingga lagu ini secara langsung menjadi suara masyarakat yang hidupnya makin sulit setelah harga BBM naik. Maaf, lebih tepatnya disesuaikan.

Pun meski liriknya adalah kegusaran Iwan sebagai kepala keluarga yang khawatir tak mampu membeli susu, tetap ada optimisme yang terpancar lewat nukilan lirik, “Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku doa kami dinadimu…”. Salah satu lagu Iwan Fals yang menggambarkan hubungan bapak dengan anak lelakinya dengan cara yang sangat laki-laki, selain Nak yang juga kepunyaan penyanyi bernama asli Virgiawan Listianto itu. Sayang, Galang akhirnya harus mati muda sebelum sempat menjalankan pesan bapaknya itu.

Galang Rambu Anarki anakku
Lahir awal Januari
Menjelang pemilu
,Galang Rambu Anarki dengarlah
Terompet tahun baru
Menyambutmu
Galang Rambu Anarki ingatlah
Tangisan pertamamu
Ditandai BBM membumbung tinggi
Maafkan kedua orang tuamu kalau
(Tak mampu beli susu)
BBM naik tinggi (susu tak terbeli)
Orang pintar tarik subsidi
Mungkin bayi kurang gizi
Galang Rambu Anarki anakku
Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras janganlah ragu
Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku
Doa kami di nadimu
Galang Rambu Anarki dengarlah
Terompet tahun baru
Menyambutmu
Galang Rambu Anarki ingatlah
Tangisan pertamamu
Ditandai BBM melambung tinggi
Maafkan kedua orang tuamu kalau
(Tak mampu beli susu)
BBM naik tinggi (susu tak terbeli)
Orang pintar tarik subsidi
Anak kami kurang gizi
Galang Rambu Anarki anakku
Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras janganlah ragu
Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku
Doa kami di nadimu
Cepatlah besar matahariku
Menangis yang keras janganlah ragu
Hantamlah sombongnya dunia buah hatiku
Doa kami di nadimu




08 Mar 2012
by Ervin Kumbang - 
Published in Ulasan

“Keep it dope with religion, and sex, and tv. And you think you’re so clever and classless and free. But you still fuckin’ peasant,  as far as I can see" (John Lennon)

Mari kita mulai omong kosong ini dengan membedakan Keith Richard dan Sys NS. Keith Richards, sebagaimana kita tahu keadaan dirinya, masih bisa kita lihat masa tuanya di dalam sekuel Pirates of Carribbean. Ia menjadi satu-satunya orang yang dihormati Johny Depp yang berperan sebagai orang tengil dan selalu ingin dipanggil “Kapten Jack Sparrow”.

Mengapa film itu menyewa Keith Richards sebagai tokoh ayah Jack Sparrow? Tidakkah di Hollywood banyak aktor kawakan yang tentu sulit menolak bermain bersama Depp? Jawabannya: Keith Richards adalah seorang gitaris. Di dalam Pirates of Carribbean: On Stranger Tides, Keith bahkan tampil di adegan sedang bermain gitar.

07 Mar 2012
by Ardi Wilda - 
Published in Ulasan

Semua siswa kelas 5 menyoraki Ariq saat ia mengatakan ingin menjadi seorang penyanyi. Menanggapi cemoohan temannya ia hanya menundukkan kepala dan mukanya memerah. Cita-cita Ariq memang terkesan tidak biasa dibandingkan teman-temannya yang bercita-cita “standar” khas anak kecil. Saat saya temui selesai pelajaran ia mengatakan, “Aku seneng e nyanyi e pak, tur ra tau diajari nyanyi (Aku senengnya nyanyi Pak, tapi justru tidak pernah diajari nyanyi),” keluhnya.

Ariq adalah siswa kelas 5 SDN 01 Margajaya Tulang Bawang Barat, Lampung. Desa Margajaya tempat  sekolah Ariq merupakan sebuah daerah hasil proyek transmigrasi Orde Baru pada tahun 1982. Karena itu jangan heran jika Ariq mengutarakan keluhannya pada saya menggunakan Bahasa Jawa sebab desa ini didominasi oleh Masyarakat transmigran Jawa. Saya sendiri berkesempatan mengajar di sekolah tempat Ariq belajar lewat Program Indonesia Mengajar.

Page 1 of 16