Fri05182012

Last update09:41:18 PM

  | Advanced Search
Back Home Musik Kanal Musik Konser Telegram Dari Laneway Festival
18 Feb 2012

Telegram Dari Laneway Festival

Written by Alvi Ifthikhar  |  Read 818 times
Rate this item
(1 Vote)
The Pains of Being Pure At Heart The Pains of Being Pure At Heart Aditya Ananda

Setelah absen di Laneway Festival tahun lalu karena alasan yang sangat mendadak, saya akhirnya bisa menunaikan ibadah umroh indie-rock kecil-kecilan ini (haji besar tentu adalah festival-festival di Amerika Serikat). Walau saya masih merasa kesal karena line-up tahun lalu jauh lebih menarik, toh nikmat tuhan ini harus sangat saya syukuri. Bersama seorang teman, saya pun berangkat ke Singapura pada tanggal 11 Februari, hari Sabtu. Sesampai di sana, dengan tekad mantap kami pun menginjakkan kaki di Fort Canning Park sekitar pukul 1.40. Acara akan berlangsung 20 menit kemudian.

Baru masuk booth pemeriksaan tiket sudah ada kejutan aneh bagi kami. Tepat saat saya menoleh kesamping, seorang kulit putih berkacamata bulat dan amat jangkung, berjalan tepat di samping saya dan memasuki gate utama. "Kok mukanya seperti pernah lihat ya?" dan sepersekian detik kemudian saya pun sadar "lha? Erlend Oye ngapain disini?". Oye merupakan wujud paling absurd di Laneway Festival Singapore kali ini. Sejauh yang saya ingat, dia hanya mondar-mandir keliling venue, masuk ke area panitia di bagian atas, turun ke venue lagi, dan begitu seterusnya. Entah sudah berapa kali saya berpapasan dengannya.  Ia hanya berjalan santai, bertingkah seperti bukan siapa-siapa, namun saya yakin dia lah orang paling terkenal di Fort Canning Park saat itu. Erlend seperti tidak peduli dengan apa yang ada dipanggung, dia hanya berputar-putar tidak jelas sambil menolak semua ajakan berfoto bersama dari crowd (Oh ya, sifat menolak foto bareng ini memang sudah cukup terkenal).

Begitu saya masuk ke dalam venue (Fort Canning Park ternyata adalah taman yang besar, dan Laneway Festival berlangsung di salah satu bagian taman ini), saya lumayan kaget. Lingkungan sekitar terlihat begitu bersahabat (abaikan parade fashion anak-anak gaul yang berseliweran, itu dunia mereka, saya tidak punya hak berkomentar). Venue Laneway Festival ternyata adalah sebuah lereng mini yang penuh dengan rerumputan. Venue bermula dari sebuah mansion bergaya kolonial (maaf saya tidak tahu ini gedung apa). Lapangan rumput venue ini adalah halaman belakang mansion tersebut, menjorok secara perlahan ke bawah. Lapangan rumput ini terbentang hingga ke tingkat ketinggian tanah terendahnya, dimana disitu sudah terdapat dua panggung ukuran sedang yang saling berdampingan. Sembari berteduh di bawah pohon rindang, saya berseru kepada teman saya " Wah, atmosfirnya sudah seperti Fuji Rock saja nih!", Saya merasa makin antusias, sepertinya untuk beberapa waktu mendatang, saya tidak perlu jauh-jauh lagi ke Amerika Serikat. Padang rumput, matahari, musik bagus, dan perempuan-perempuan bercelana sangat pendek plus tank-top. Mood-nya sudah pas.

Matahari menyengat punggung kami dengan terik. Tepat pada jam 2 siang, band indie-pop pendatang baru asal New York Cults membuka rentetan panjang Laneway Festival Singapore 2012. Saya banyak melihat remaja belia usia 17-19 tahun yang mulai memadati bibir panggung saat Cults membuka set-nya. Sepertinya mereka hadir hanya buat Cults. Para remaja itu (mayoritas perempuan) melompat dan sing-along hampir tanpa cela di beberapa hits single milik Cults seperti "Go Outside". Bagi saya pribadi, Cults adalah band Indie-pop dengan track-track catchy dan bersemangat. Namun hanya sebatas itulah musik mereka. Hook-hook mereka memang manis dan kuat, namun secara substansi, band ini tidak memilki tekanan yang cukup kuat untuk mendorong dirinya sendiri dan menambat di hati maupun kepala saya. Terlepas dari semua itu, Cults bisa memeriahkan Fort Canning Park. Mereka membuka Laneway kali ini dengan cukup baik.

Sekitar 40 menit kemudian, band pengusung 1990's indie rock sound (yang justrue berasal dari London) Yuck menghujamkan pop berdistorsi mereka. Penampilan mereka (secara dandanan dan musik) lumayan menarik. Para remaja belia tadi masih bersorak kegirangan, Yuck ternyata juga masuk dalam daftar mereka. Namun kali ini, tidak sedikit juga crowd yang berumur lebih dewasa bergabung sing-along dan ber head-bang kecil mengikuti quartet Indie Rock ini. Yuck adalah penjodohan manis rock Teenage Fanclub dan sensasi kebisingan Dinosaur Jr. dalam skala kecil, ya tidak terlalu buruk lah, saya sendiri lumayan puas dengan performa mereka walau tidak bisa ikut sing-along. Sang vokalis ternyata suka dengan apa yang ia lihat di lapangan rumput ini. "It's our first time here and it's definitely not going to be our last." ujarnya dengan mantap.

Untuk dua act sehabis Yuck dan dua act setelah Girls nanti sorenya, saya harus minta maaf kepada anda. Matahari semakin menyengat tanpa ampun dan dari dulu, kulit saya lumayan sensitif dengan sinar ultraviolet. Ditambah dahaga yang menyerang, saya dan teman saya setuju untuk berundur sebentar untuk berteduh. Saya hanya melihat Chairlift dan Austra dari kejauhan. Saya sempat mencoba mendengar apa yang mereka hasilkan di panggung, namun karena lelah, panas, dan  musik mereka ternyata memang tidak begitu menarik, saya pun mengabaikan apa yang terjadi di panggung semenjak Yuck turun sampai satu setengah jam kedepan.

Waktu menunjukkan pukul 4.35, mau energi terisi penuh ataupun tidak, saya tidak peduli. Saya harus bangkit dan menyaksikan Chirstopher Owens alias Girls, salah satu alasan terbesar saya menyambangi Laneway tahun ini. Matahari sudah mulai mengampuni kami, angin mulai berhembus. Malah hujan rintik-rintik sempat turun untuk beberapa saat. Di salah satu panggung, musik Austra masih menyala. Tetapi saya tidak mempedulikan mereka, stage sebelah terlihat lebih menarik. Tiba-tiba sudah banyak kuntum dan karangan bunga yang tersebar diseluruh stage. Saya dan teman saya sempat bersorak saat Owens keluar sekejap.

Waktu menunjukkan pukul 4.40. Girls menapaki panggung, dan anda harus mulai menyiapkan tisu jika anda tipe orang yang mudah menangis. Pada pagi harinya, dunia kaget dengan kematian Whitney Huoston. Hari ini berlangsung begitu cepat dan saya tidak ingat akan berita itu sama sekali, sampai Owens memetik gitarnya dan bersenandung ; "If I should stay, I would only be in your way. So I'll go, but I know I'll think of you every step of the way." Dan crowd pun meledak sambil ikut berteriak "and i....will always love you...". Yup, Christopher Owens, hanya dengan diiringi gitar meng-cover I Will Always Love You nya Whitney Houston dengan penuh penghayatan. Hati ini makin teriris rasanya ketika Owens terlihat seperti akan menangis saat potongan lirik ; " Bittersweet memories ..that is all I'm taking with me. ..So, goodbye. Please, don't cry. ..We both know I'm not what you, you need." mengalir dari bibirnya. Kami pun bersorak dengan haru saat ia menyelesaikan tribute termanis ini, selamat jalan Whitney Houston.

Ada seorang teman lain yang berkata kalau Girls adalah penampil yang paling membosankan di Laneway ini. Mungkin ada benarnya bagi mereka. Sepertinya hanya segelintir orang-orang saja yang mencintai Christopher Owens dan gubahannya, beberapa orang, lalu saya dan teman saya. Kami berdua tidak peduli dengan semua itu. Kami berteriak sekuat tenaga mengikuti Owens menyanyikan reffrain "Honey Bunny" dan "Laura". Saya dan teman seperjuangan berteriak makin histeris saat "Love Like A River", lagu Girls yang paling saya sukai berkumandang diantara karangan bunga di depan kami. Apalagi saat solo gitar peleleh jantung itu menyerang, kami semakin tidak tahan. Christopher Owens berhasil memberikan, yah.. setidaknya kami berdua dan beberapa orang lain sebuah jenis orgasme soft-rock jauh setelah masa emas tipe rock seperti itu. Di lapangan rumput itu kami syah menjadi groupies Christopher Owens. Vokal cengengnya, raut muka emosionalnya, dan desiran gitar di puncak klimaks pop-rock modern miliknya membingkai salah satu sore terbaik saya dalam beberapa tahun terakhir ini.

Namun romantisme itu harus berakhir, Owens dan kawan-kawan meninggalkan panggung sekitar pukul setengah enam sore. Di sisi sebelah kanan, salah satu band indie-rock kekinian paling hip memulai lajunya, saatnya The Drums memecut crowd kembali ke lantai dansa post-punk era 1980-an. Teman saya memutuskan untuk menonton mereka. Saya? lagu mereka belum bisa membuat saya berdansa menggila dan saya pernah merasakan live mereka sebelumnya, dan konklusi saya masih sama. Apalagi kali ini Jonathan Pierce, sang vokalis sekaligus sang penari jalanan tidak terlihat prima seperti biasanya. Sepertinya rentetan tour Laneway Festival berhimpitan ini amat menguras staminanya. Ditambah rasa letih yang menyerang kembali setelah mengganas habis-habisan di set Girls tadi, saya memutuskan untuk duduk sejenak.

Dan sekali lagi saya harus minta maaf karena saya melewatkan Anna Calvi dan Twin Shadows. Saya sempat mendengar setengah-setengah bebunyian aneh nan menyesakkan dari gitar Anna Calvi. Eksperimentasi yang lumayan menarik, namun karena terlampau letih, saya dan teman saya memutuskan untuk mengisi perut yang sudah kosong sejak jam 2 siang tadi. Saat Twin Shadows naik panggung saya makin hilang fokus ketika punggung saya menyentuh rerumputan dingin selagi angin sore mengelus-ngelus wajah lelah saya. Singkat cerita, ditemani musik Twin Shadows saya tertidur selama hampir 3/4 durasi set nya, tertidur ditemani musik live? sweet! (padahal musik Twin Shadows sama sekali bukan musik untuk tidur, namun badan saya tak bisa berbuat banyak lagi.)

Sekitar jam 8 malam, saya dan teman saya kembali memasuki lapangan rumput. Malam membuat kami berusaha lebih keras menyelip di antara crowd dibandingkan siang tadi. Saya dan teman saya berniat "nge-tem"di bagian bibir depan panggung kiri, karena sekitar setengah jam lagi, The Pains Of Being Pure At Heart, yang selain Girls juga merupakan alasan yang amat besar atas kedatangan saya dan teman saya, akan naik panggung. Sesaat tatapan saya hanya menuju ke stage yang masih redup dan kosong. Namun beberapa menit kemudian, perhatian saya teralih sepenuhnya kepada stage sebelah kanan. Laura Marling bersama band-nya berdiri dengan romantis ditata cahaya ungu remang-remang. Saya mesti jujur, saya belum pernah mendengar lagu Marling sebelumnya. Dan saya pun terpukau sekaligus merasa bersalah mengapa tidak tahu siapa Laura Marling.  Ketika suara jentikan lembutnya saat menyentuh senar gitar melebur secara sempurna dengan vokal super teduhnya, seisi malam pun terdiam, secara refleks, saya memasang senyum paling tulus saya di hari ini.

Laura Marling merupakan performer paling mengejutkan bagi saya. Dia benar-benar mengambil kontrol arah pandangan saya. Saya tidak bisa berpaling balik ke panggung kosong didepan saya. Selama 30 menit  kedepan, saya hanya bisa terpaku menatap  "aura of elegance" sang Laura Marling. Ia seperti reinkarnasi Stevie Nicks dan Fleetwood Mac di era emas (ambil contoh Rumors), namun dengan sentuhan folk yang lebih modern dan sangat spiritual. Komposisi irama vokal, petikan gitar, dan harmonisasi kedua hal tersebut dengan seluruh isi bandnya mengukuhkan Laura Marling sebagai salah satu maestro Blues Folk tiada banding di era modern ini. Dan menemukan ketentraman Laura Marling dengan mata telanjang diantara hiruk pikuk lampu dan keramaian ini adalah salah satu momen self-musical discovery terfavorit saya. Layaknya seorang ibu, musik Laura Marling menjadi tempat berteduh paling nyaman di saat malam hari tiba.

The Pains Of Being Pure At Heart menyapa penonton dengan hujaman distorsi disela coming-of-age pop super manis mereka pada pukul 8.40. Inilah titik puncak Laneway Festival bagi saya. Sempat ada gangguan teknis di awal set, dimana untuk beberapa menit mereka harus menghentikan pertunjukan. Setelah permintaan maaf si manis Peggy Wang, sang keyboardis yang diikuti sorak-sorai crowd,  band indie-pop asal New York ini pun kembali melanjutkan penampilan mereka. Dan saya pun terpana. Reverb, delay, dan distorsi nan manis itu mengubah Fort Canning Park menjadi sebuah aula gedung sekolah, dimana malam perpisahan SMA saya berlangsung untuk yang kedua kalinya. Dentingan synth Peggy Wang dan sound kasar gitar Kip Berman serta vokal post-pubernya sebagai esensi utama, berhasil membuat saya lupa akan sekitar. Saya melonjak dan sing-along layaknya anak SMA. Saya hanya bisa mendengar apa yang didepan saya dan suara teriakan saya sendiri, tampaknya crowd beberapa meter disekitar saya tidak seantusias si bocah SMA ini. Saya juga mulai curiga kalau mereka tidak terlalu banyak tahu lagu band ini atau malah mereka baru pertama kali ini mendengar nama The Pains Of Being Pure At Heart (saya rasa anda setuju dengan saya kalau nama ini lumayan mengena). Walaupun begitu, toh pada ujungnya crowd selalu menyambut dengan antusias nan meriah pada setiap transisi lagu. Saya bisa saja merasa kesal dengan mereka tapi sikap apresiatif mereka mesti dihargai. Apresiasi dengan tingkat seperti itupun berdampak positif kepada performa band ini. Terbukti pada raut wajah Kip Berman yang terlihat senang. Ia juga mulai bergerak semakin liar. Menari kecil dan melompat diatas panggung bersama fender Jaguar seiring berjalannya setlist mereka.

Ada satu hal menarik yang saya pelajari dari pengalaman nonton langsung ini. Ternyata kualitas musik sebuah band tidak hanya terbatas pada musik rekaman belaka. Ambil contoh kasus album kedua The Pains Of Being Pure At Heart Belong yang dirilis awal tahun lalu. Walaupun saya menyukai evolusi dan perkembangan departemen sound dan progresi musik mereka, saya tidak sampai jatuh cinta pada album ini, hanya sekedar suka, bukan sebuah album yang tahan saya dengar berkali-kali dalam jangka waktu pendek layaknya album s/t mereka sebelumnya. Namun pada malam hari ini, nomer-nomer seperti "Belong", "Heavens Gonna Happen Now" dan "Heart In Your Heartbreak" terasa lebih bergigi dan tampil menggigit. Ternyata ada hukum yang lebih kuasa diatas set hi-fi dan piringan hitam. Saat menonton live, teman anda bukan cuma gelombang suara dan telinga anda sendiri, anda ditemani oleh mood dan euforia, belum lagi idola yang kali ini bisa anda nikmati secara audio visual. Otomatis permainan live Pains ini menjadi obat kekecewaan temporal saya atas Belong. Ditambah lagi saya menikmati sound yang keluar dari amplifier Pains. Biasanya di versi rekaman mereka, saya sering merasa kalau sound synth dan keyboard Peggy Wang cendrung tenggelam dimakan oleh distorsi dua gitar lain. Namun pada malam ini, dentingan-dentingan manis dan romantik itu terdengar lebih signifikan. menari-nari dan membalut lembut distorsi dan vokal Kip Berman, membuat malam dansa ini makin semanis madu dan ber-energi.

Pukul 9.30 The Pains Of Being Pure At Heart pun harus mengakhiri sumbangan gula-gula mereka dan mengucapkan selamat malam pada malam manis ini. Namun malam masih panjang bagi para crowd. Chazwick Bundick a.k.a Toro Y Moi dengan seketika mengubah pesta post-puber tadi menjadi lantai dansa penuh sihir dingin. Bundick yang dikenal sebagai salah satu pentolan Chillwave di album pertamanya sudah berhasil membawa musiknya jauh dari pengkotakan satu genre saja. Di album keduanya Underneath The Pine yang juga dirilis diawal tahun lalu, Toro Y Moi telah bermutasi menjadi sebuah band yang memainkan angin dingin Electro Funk dengan tingkat ketampanan Progressive Jazz super keren.

Toro Y Moi sontak membuat crowd menggoyangkan kepala dan badan mereka dengan sound membahana. Kalau biasanya rekaman-rekaman Toro Y Moi menghasilkan mood yang smooth dan dingin, versi live ini memiliki kesan megah. Dikuadratkan dengan kedua mood tadi, Toro y Moi terdengar begitu epik dan keren. Seperti yang sudah saya duga, Toro Y Moi lebih sering membawa track-track post mutasi nya, yang memang menurut saya jauh lebih menarik dan menggigit dibandingkan rilisan-rilisan sebelumnya. Track seperti " Go With You", "New Beat" dan "Still Sounds" berhasil menyegarkan kembali Laneway Festival yang sudah berlangsung dari jam 2 siang tadi. Dan sekaligus sebagai penanda bahwa malam masih bisa menjadi lebih indah lagi.

Ditengah-tengah show Toro Y Moi ini, saya dan beberapa teman saya mengalami kepanikan kecil, kami memutuskan untuk turun dari lantai dansa ini sejenak untuk mengisi dahaga. Namun kami mendapati crowd yang sudah membludak dan saling berhimpitan, dan kami berada di tengah-tengah dan bingung bagaimana caranya keluar dari situ. Crowd yang dari tadi siang lebih memilih duduk sudah mulai turun lapangan, alasan terbesar hal ini tentu saja Leslie Feist yang sedang sound check di panggung yang satunya. Sepertinya persenan terbesar crowd yang datang ke Laneway Festival kali ini adalah fans dari Feist.

Dengan berhimpitan, tanpa sengaja menginjak kaki beberapa orang, dan tekad bertahan hidup, kami berhasil keluar dari kerumunan. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dan bersumpah tidak akan mau masuk lagi ke garis depan lapangan untuk malam ini, tenaga kami sudah terkuras hebat dari perang kecil tadi. Akhirnya  saya hanya bisa menonton tiga penampil terakhir dari kejauhan

Kurang lebih pukul 10.30, Leslie Feist menyapa lapangan rumput yang sudah sangat padat karena kehadiran dirinya. Feist merupakan penampil yang paling banyak memiliki "pernak-pernik" di panggungnya. Dari berbagai macam instrumen hingga penari latar sekaligus backing vokal. Sang indie-diva ini tampil dengan menawan. Ia meninggalkan popularitas pop-nya yang dia raih dari dua album sebelumnya. Hampir semua materi yang ia bawakan berasal dari album terbarunya Metals yang lebih konseptual dan sepertinya lebih ia nikmati. Dengan cerdik Feist menggabungkan berbagai ketukan dan bebunyian unik dari setiap instrumen di panggungnya, serta memadukannya dengan irama vokal yang tidak kalah berbeda.

Berkat keputusan Feist memainkan materi-materi barunya itu, saya sudah bisa menerka apa efeknya bagi crowd. Sebagian besar crowd sepertinya ingin Feist lebih menghabiskan waktu di album-album terdahulunya. Mereka cuma bisa bersorak dan bertepuk tangan tanpa mendapatkan sing-along yang mereka inginkan. Walau Feist sempat melayani mereka dengan salah satu single paling populernya "Mushaboom." Namun terlepas dari semua itu, crowd terlihat sangat antusias (lagi-lagi, hal yang perlu di apresasi). Hingga Feist sendiri beberapa kali memberikan pujian "Wow..you're an awesome crowd!". Saya juga baca beberapa hari setelahnya ( saya tidak mendengar langsung) kalau Feist sempat memuji crowd dengan berkata " You're raising the bar..you're shaming Australia!!"

Setelah Feist, pukul 11.15 The Horrors naik panggung. Mirip dengan Feist, album terakhir The Horrors Skying bisa dibilang berbeda dengan album-album sebelumnya, tapi untuk kasus The Horrors, mereka benar-benar berbeda. Mungkin dari album sebelumnya Primary Colors masih ada sedikit sisa sari yang terbawa di Skying, tapi kalau dibandingkan dengan album lebih awalnya Strange House, album yang membuat mereka begitu terkenal dengan musik post-punk plus dandanan horror, Skying benar-benar bukan The Horrors yang dulu lagi, tidak ada setetes pun jejak chord-chord mencekam yang sebenarnya sangat unik itu. Saya sering ber-lelucon soal The Horrors, "kenapa tidak mengganti nama sekalian aja sih?".

Dan di Laneway kali ini saya sudah memprediksikan kalau set mereka bakal memainkan full materi Skying dan mungkin beberapa track Primary Colors yang masih agak mirip. Saya bahkan berani bertaruh dengan teman saya kalau sampai mereka membawa lagu seperti "Count In Five", "She's The New Thing", dan "Dead At The Chapel" saya bakal berjoget dan berteriak seperti orang gila sambil masuk ke area depan panggung. Dan tentu saja, dugaan saya seratus persen benar.

Meski begitu menurut saya, The Horrors adalah the weakest link di Laneway Festival ini. Bukannya musik mereka yang baru sebegitu jeleknya, namun sepertinya tidak ada yang mengharapkan musik sejenis itu keluar dari The Horrors. Sepertinya penontonpun sudah mahfum akan hal ini dan tidak berharap The Horrors membawakan materi Strange House. Namun crowd cukup menghargai band yang sudah datang jauh dari Inggris ini melalui tepuk tangan dan sorak-sorai. Space rock dengan sedikit hawa Brit sound dari era 1990-an menggema di dinding-dinding Fort Canning Park, namun tidak memilki gema yang cukup kuat untuk bisa melekat di telinga sebagian besar para pendengarnya. Keputusan menaruh mereka sebagai penampil kedua terakhir malah menurunkan mood yang sudah terbangun dengan cukup baik berkat Feist.

Kemudian sampai-lah kami pada jam 12.00 tepat tengah malam. M83 memasuki medan permainan. Mereka mengemban tugas berat untuk membawa kami semua ke puncak tertinggi malam dan menutup seluruh rangkaian tur Laneway Festival 2012 dari Brisbane hingga Singapura dengan klimaks yang indah.  Sebagian besar crowdpun sepertinya sudah sangat menunggu M83. Tengah malam pun dibuka dengan track "Intro" album mereka yang dirilis tahun lalu. Serentak bunyi keyboard yang membahana dengan hebat pecah dilangit malam Fort Canning Park. Crowd pun menggila, mereka menghasilkan teriakan yang sejauh ini paling megah dibandingkan apapun dari semua yang dibuat sejak siang hingga malam. Bebunyian lain dari panggung M83 pun perlahan menjerit bersusulan, diiringi dengan permainan lighting spektakuler yang menampar-nampar wajah kami. M83 melaksanakan tugas pertamanya, mengucapkan salam dengan sangat megah dan memenuhi ekspektasi setiap kepala di padang rumput Fort Canning Park ini. Sound yang mereka hasilkan serta permainan lighting brilian tadi melambungkan mood crowd jauh keatas angkasa malam.

Saya harus jujur, saya tidak terlalu suka musik mereka. Bumbu techno yang makin kentara di rilisan akhir mereka tidak terlalu cocok dengan kuping saya. Namun layaknya kasus The Pains Of Being Pure At Heart sebelumnya, menikmati musik secara live memanglah cara terbaik memanjakan indra pendengaran. Kali ini saya harus mengesampingkan ego dan mengalah pada M83, lampu panggung, dan malam. Mereka terdengar begitu spektakuler. Mereka adalah pilihan paling tepat untuk mengakhiri hari ini dengan ledakan gelombang suara.

Kerumunan Fort Canning Park pun menghasilkan sorakan paling memekakkan telinga saat nomor "Midnight City", single paling baik dari album terbaru mereka Hurry Up We're Dreaming berkumandang di langit Laneway Festival. M83 telah mengubah festival ini menjadi klub malam raksasa. Inilah momen terbaik di Laneway Festival 2012. Beberapa crowd yang tadinya masih duduk sekarang telah berdiri. Fort Canning Park larut sepenuhnya dalam euforia audio visual ini. Dan entah sudah berapa kali Anthony Gonzalez, sang M83 sendiri berterima kasih kepada crowd. Ia bahkan sampai bertutur "It's our first time here and we're so excited to play in front of such a huge crowd. We are having an out of body experience right now because of you". Dan sepertinya ia tidak berbohong. Ia ikut melompat dan berjalan kesana kemari diatas panggung, menggembala crowd yang sudah semakin liar dengan musiknya. Di akhir setnya, Gonzalez berteriak "you're the best... the best... the best" sembari beberapa kali membungkukkan badan-nya, berterima kasih kepada crowd. Ia pun melambaikan tangannya dan tersenyum riang, diikuti dengan suara synth yang perlahan padam. Malam indah ini berakhir dengan teriakan dan tepuk tangan yang membahana di seluruh venue. M83 menjalankan tugas mereka dengan brilian, bahkan bermain diatas ekspektasi siapapun disini. Sebuah klimaks yang bisa dibawa pulang dan tak akan habis diceritakan ulang.

Setelah M83 meninggalkan panggung, salah seorang dari event organizer festival ini naik panggung. dia terlihat sangat puas "We have toured Australia before coming here and the bands are thrilled to have played in Singapore. I think we might even go that far to say that Singapore is our favorite" kira-kira begitulah yang ia sampaikan, disambut dengan teriakan meriah seisi Fort Canning Park. Para organizer pun berjanji akan hadir lagi tahun depan dengan membawa performer-performer yang lebih gila lagi, baik dalam kualitas dan jumlah. Melihat apresiasi yang seperti ini, bisa jadi untuk tahun depan, Singapura akan menjadi sorotan terdahsyat tur Laneway Festival, dan tentu saja itu hal terbaik bagi kita mengingat budget yang tidak terlalu besar yang harus kita keluarkan dibandingkan ketika harus ke Australia.

Laneway Festival Singapore 2012 akan menjadi event tak terlupakan bagi pecinta musik indie di Asia Tenggara khususnya dari Indonesia. Setelah sekian lama hanya bisa bermimpi menghabiskan jutaan rupiah demi menyebrang benua hanya untuk menyaksikan festival musik berkualitas, akhirnya kita bisa mencicipi apa itu festival musik (lebih spesifik, festival musik dengan seleksi sangat indie, agar tidak menyinggung pihak tertentu) yang dipenuhi dengan penampil menawan dan crowd yang juga tidak kalah menawannya. Mungkin untuk sekarang. Laneway Festival hanyalah skala kecil dari Coachella, Lollapalooza, Fuji Rock, atau Summer Sonic. Namun aspirasi, semangat, dan atmosfir yang tercipta di Laneway tidak kalah hebat. Keramaian, lapangan rumput, penikmat yang sangat apresiatif, dan band-band yang bermain dengan tulus dan riang, Saya hanya bisa merasa iba dan minta maaf jika kemarin anda tidak disana (kalau memang tidak ada performer yang menarik bagi anda, itu urusan lain). Sampai jumpa tahun depan! Vive Le Indie Rock

Alvi Ifthikhar

Alvi Ifthikhar

Belajar Animasi dan Film di Multimedia University, Malaysia

Komentar Tamu


Powered by Disqus