Fri05182012

Last update09:41:18 PM

  | Advanced Search
Back Home Musik Kanal Musik Konser

Konser (34)

14 May 2012
by Harlan Boer - 
Published in Konser

Menyaksikan video-video konser Morrissey di Jakarta 10 Mei 2012 di YouTube, saya sungguh tidak sadar bahwa itu yang terjadi: penonton berteriak sangat histeris dan bernyanyi keras sekali, di lagu dan bait lirik apa pun. Suara musik dari panggung dan vokal Morrissey tenggelam, namun cahayanya ada. Ini pasti hukan sekedar akibat giat menghafal lirik dari set list yang mudah diperkirakan karena informasi dari Internet. Ini adalah eskpresi spiritual yang buas dari kerinduan dan hasrat yang meledak.

Begitu banyak di antara kita yang menghidupi Morrissey. Sangat banyak. Menyimpannya baik-baik, membagikannya pada kehidupan. Di luar sana, mereka mungkin tidak pernah tahu akan apa yang seungguhnya menimpa kita: sakit kita, kecintaan kita, karena hari-hari kita selalu dikuntit olehnya, oleh suaranya, karena kalimat gusarnya yang puitis itu begitu terang menyinari jalan dan hati, dari usia berapapun itu berawal.

02 May 2012
by Fakhri Zakaria - 
Published in Konser

 Bagi pecinta musik konser ibarat naik haji. Konser adalah pembuktian para musisi atas segala yang mereka lakukan selama di studio dan mereka promosikan di media. Sementara bagi penikmatnya, konser menjanjikan pengalaman audio visual, juga status sosial kalau dalam konteks sekarang, yang tidak akan ditemui dalam sekeping CD atau yah…file hasil download.

Jauh sebelum banjir konser melanda dalam setahun terakhir, Indonesia mempunyai rekam sejarah panjang dalam dunia konser dan showbiz. Mulai dari Festival Summer ’28 (Suasana Meriah Menjelang Kemerdekaan RI ke-28), konser Deep Purple di Stadion Utama Senayan tahun 1978 (yang sering disebut sebagai ledakan musik rock di Indonesia), konser Metallica di Stadion Lebak Bulus 1993 (konser berujung kerusuhan massal yang membuat Indonesia sempat di-black list di dunia showbiz) sampai ajang tahunan yang saat ini tengah hype seperti Java Jazz Festival atau Java Rockin’land.

19 Apr 2012
by Taufiq Rahman - 
Published in Konser

Sama seperti conundrum yang dulu pernah dihadapi oleh seorang kritikus musik lokal yang keliru memberi kategorisasi terhadap musik Zeke, ada banyak hal yang saya tidak mengerti tentang Zeke dengan musik dan liriknya yang terlalu quirky. Saya terbiasa dengan permainan kata yang tidak masuk akal dari Stephen Malkmus di band Pavement seperti “fruit-covered nail” atau “harness your hope to the man with the rope”, namun Zeke sering membuat saya tersesat. Sampai sekarang saya masih belum bisa tahu dengan sepenuhnya apa sesungguhnya konsep yang hendak dikomunikasikan oleh Zeke dengan “Pipis Di Celana”—dan itu hanya satu di antara banyak ketidaktahuan saya yang lain tentang solois ibu kota ini selain misalnya tentang kenapa Harlan Bin harus selalu memakai helm berkacamata itu. Bukan karena memang saya berkehendak untuk menjadi literal dengan selalu mencari makna dari sebuah ekspresi berbahasa, namun Zeke terlalu “jauh di luar sana.” Dan “Pipis Di Celana” menurut saya adalah pencapaian terbesar Zeke dalam menciptakan dunia yang memang tidak untuk dan tidak perlu dipahami.


Dan mungkin ini yang hendak dikomunikasikan oleh Zeke, bahwa makna terbesar adalah ketiadaan makna itu sendiri dan esensi dari komunikasi adalah tidak adanya komunikasi itu sendiri. Ini juga yang membuat saya berfikir bahwa memberi peran kepada Cholil dari Efek Rumah Kaca menjadi sebutir strawberi dalam pertunjukan merayakan dirilisnya album Fell In Love With The Wrong Planet akhir pekan lalu seperti merupakan metafora terbesar bagi permainan post-modern Zeke. Efek Rumah Kaca adalah kelanjutan dari tradisi besar rock and roll di mana kata-kata dan lirik masih memiliki kehendak menciptakan perubahan dalam tradisi Bob Dylan atau Iwan Fals. Dan dengan mereduksi Cholil menjadi stroberi, Zeke sesungguhnya sedang menjungkirbalikkan tradisi 50 tahun rock perlawanan. Atau mungkin juga Zeke dan Cholil sedang bermain-main saja, toh mereka memang teman dari label Jangan Marah Records.

Atau mungkin bermain-main dengan teater absurd, membawa alien, Obama, kebun binatang adalah bentuk perlawanan yang lain. Mungkin mereka hendak mengembalikan rock and roll sebagai sarana permainan atau playground bagi kemanusiaan. Sudah terlalu lama musik rock menjadi terlalu serius, berbicara tentang cinta, nasib umat manusia, chart, distribusi, major-indie label, Kurt Cobain, perlawanan, hipster, profit, rilisan fisik, serta hal-hal serius yang memalingkan kita dari musik itu sendiri.

Atau kalau kemudian rock and roll masih menjadi arena permainan, selama ini permainan itu harus selalu didefinisikan dan diberi batas oleh otoritas pengendali budaya. Dalam kasus The Changcuters, main-main itu adalah menjadi berisik di panggung dengan secara non-ironis memanipulasi idiom rock and roll Amerika Serikat dari dekade 1950-an dan 1960-an yang bahkan tidak sampai ke daratan Pulau Jawa. Beberapa band rock parodi yang sempat menjadi bagian dari mainstream juga hanya menjadi lucu dengan joke-joke yang didaur ulang dari Srimulat atau talk-show televisi yang tidak lucu. Akhir-akhir ini batasan main-main itu menjadi semakin sempit di mana kebebasan itu sebatas menjadi berpakaian dengan baju dan warna rambut yang sama, menari dengan gerak yang sama dan dengan keterbatasan berbahasa yang sama. (Kelelawar Malam mencoba menjadi berbeda dengan mengambil idiom film-film horor kelas dua lokal, dan ini yang membuat mereka berbeda)

Zeke Khaseli berada di planet yang sama sekali lain dan itu yang mungkin menjelaskan kenapa dia harus membawa semua kebun binatang, alien, Obama dan gadis Indian ke panggung. Salah satu alasan kenapa teater absurd disebut sebagai keberhasilan terbesar kesenian adalah kemampuannya untuk mewakili kepercayaan bahwa eksistensi kemanusiaan tidak memilki arti atau tujuan dan semua upaya untuk berkomunikasi pada akhirnya akan gagal. Semua pengikut Albert Camus tentu tidak keberatan dengan definisi tersebut. Namun jika teater absurd Camusian mendedahkan bahwa konstruksi argumen logis akan kalah oleh percakapan yang tidak logis dan irasional—yang kemudian berakhir kepada diam, Zeke memberikan konklusi yang sama sekali lain. Satu-satunya konklusi diam malam itu hanya diberikan oleh Ladya Cheryl—aktor kelas satu yang berjaya di Postcard from the Zoo dan film-film festival itu—yang mengingatkan saya kepada John Entwistle yang stoic itu, meski Kim Gordon dan Kim Deal juga sempat muncul di benak saya. Di luar Ladya Cheryl, kebun binatang Zeke dan kawan-kawan adalah konklusi yang sama sekali lain dari teater absurd. Malam itu terjadi dialog antara Zeke dan semua entitas di panggung serta yang di luar panggung—kadang agak tersendat namun, esensi bermain-main tetaplah menjadi motif malam itu.

Mungkin juga karena musik Zeke yang tidak pernah gagal menjadi atraksi itu sendiri. Komposisi-komposisi quirky yang menerjang dan memaksa kita mengumpulkan patahan-patahan teka-teki dan mencoba menyusunnya kembali menjadi bangunan utuh dengan keterbatasan kosa-kata dan perbendaharaan referensi musik kita masing-masing. Dari gitar Zeke saya mendengar Stephen Malkmus dan Jeff Mangum, kadang-kadang The Flaming Lips masuk dari sisi kanan panggung melalui keyboard dan piano, sedangkan theremin yang misterius itu kadang memberi petunjuk kepada The Beach Boys. Terus terang saya suka dengan apapun yang melawan arus utama. Dan jika kebun binatang absurd Zeke dimaksudkan untuk melawan dominasi makna dan interpretasi, saya mungkin pada akhirnya tahu bahwa dengan “Pipis di Celana” mungkin Zeke sedang mencoba melawan. Zeke perlu lebih sering masuk televisi.*

 


*) Foto oleh Jovy Aidil Akbar. Galeri selengkapnya lihat di link ini

05 Apr 2012
Published in Konser

Oleh Anto Arief, dari 70's Orgasm Club pernah aktif di band tribute untuk Shed Seven

Di antara gempuran konser-konser di Indonesia belakangan ini, ada gempita tersendiri ketika terdengar berita tentang reuni TheStone Roses serta Blur di Brit Award. Dan memunculkan harapan untuk bisa mendatangkan mereka ke Indonesia. Lalu ditambah oleh kehebohan terjual habisnya tiket Morrisey yang akan menyambangi Jakarta Mei ini. Jauh hari sebelumnya, 3HUNDRED production mengumumkan akan mendatangkan Shed Seven ke Bandung, Indonesia. Wow! Shed Seven adalah britpop layer ke dua dengan kesuksesan skala minor, bila saya boleh mengatakan. Terutama bila dibandingkan dengan nama besar yang disebutkan sebelumnya. Shed Seven bukanlah band dengan penuh kontroversi seperti Pulp dan Oasis. Shed Seven juga tidak bisa dibandingkan dengan Blur yang fenomenal itu.Shed Seven adalah band britpop yang tidak pernah terpikirkan untuk bisa datang ke Indonesia apalagi Bandung. Band ini yang bahkan namanya juga tidak disebutkan di dalam film dokumenter penting Britpop berjudul: “Live Forever”.

Namun, Shed Seven adalah nama penting bagi penikmat musik Britpop di Indonesia. Karena mereka mencetak hits yang tidak sedikit di tangga lagu di negara asalnya. Shed Seven juga nama yang sangat berpengaruh dalam perkembangan musik saya. Ketika akhir 1990-an, saya masih tinggal di Jakarta terdapat ledakan kecil yang terjadi setiap hari Minggu di Poster Café. Kaus pas badan, jaket training dan topi pancing adalah kostum wajib. Minggu sore menonton band-band membawakan lagu-lagu yang sangat baru bergenre britpop atau umum disebut indies (kalau tidak salah akibat sebuah acara bertajuk Indie’s Party: Britpop Invasion”). Bernyanyi bersama, berjoget keramas, hingga joget naik ke atas panggung serta pengalaman crowd surfing pertama, saya dapatkan di Poster Café itu.

Sayangnya keriaan itu harus saya tinggalkan, karena tahun yang sama saya diterima kuliah di FSRD Itenas di Bandung. Kota yang juga tengah dilanda demam Britpop. Untungnya dikampus tersebut saya berkenalan dengan Agung Pecung dan Aji Gergaji “Cherry Bombshell” serta Udi drummer ‘Pure Saturday’ yang saat itu juga kuliah di sana. Dari situ saya berkenalan dengan banyak gigs lokal Bandung yang juga dipenuhi oleh band-band spesialis Britpop seperti Koala (Blur), New Market (Suede) serta salah satunya adalah band Shelley. Band spesialis Shed Seven yang kemudian meminta saya untuk menjadi gitarisnya, menggantikan gitaris sebelumnya. Dengan bendera Shed Seven, kami membawakan repertoir utama seperti “On Stand By”, “Bully Boy”, “Speak Easy”, Chasing Rainbow, “She Left Me on Friday” dan masih banyak lagi.

Sebagai gitaris saya belajar banyak dari permainan gitar Paul Banks yang bertaburan gaya petikan arpegio, khas band-band Inggris dekade 1960-an. Pemaksaan untuk beralih dari pedal distortion (sebelumnya saya bermain Rage Against The Machine dan Nirvana) menjadi pedal overdrive pun dengan senang hati saya jalani demi mendapatkan tone Britpop. Juga perkenalan pertama saya dengan efek modulasi yang akrab dipakai Paul Banks di album Shed Seven. Ini periode penting dalam bermusik saya sebelum akhirnya saya bergabung dengan The Bride, band spesialis The Stone Roses (pada saat itu lebih banyak memainkan album “Second Coming”) dan Primal Scream. Dan ketika semua demam britpop bergeser ke musik elektronik, saya justru terjerumus ke dalam lembah psikadelia rock blues dan meninggalkan akar musik indies saya. Dan malam kemarin, salah satu tujuan mulia saya menonton Shed Seven adalah untuk kembali kepada roots saya, yaitu musik indies. Karena musik britpop dekade 1990-an memang selalu ada tempat di hati saya.

Beberapa minggu sebelum hari H hype konser Shed Seven ini sempat menjadi dingin, dengan perhatian orang-orang teralihkan oleh habisnya pre-order tiket Morrisey di Jakarta. Tapi saya tetap optimis untuk bersenang-senang dengan Shed Seven dan ingin menyaksikan aksi gitaris Paul Banks. Dan ternyata semua orang berpikiran sama. Malam itu Eldorado yang menjadi tempat penyelenggaraan konser sudah dipenuhi ‘anak-anak indies’ berwajah bapak-bapak. Antrian tiket ramai dan wajah-wajah lama bersejarah langsung menyergap. Di cuaca dingin yang gerimis, malam itu alam seolah merestui Bandung yang langsung terasa seperti di London, Inggris (padahal juga saya belum pernah ke London)

Di dalam venue suasana menyenangkan lagi. Wajah-wajah indies bersejarah plus banyaknya jumlah orang yang mengenakan topi pancing, jaket training, sneaker Adidas dan atribut Inggris lainnya segera membuat saya serasa kembali ke tahun-tahun dekade 1990-an akhir. Rasanya seperti naik mesin waktu. Harusnya hal ini bisa dicatat oleh Museum Rekor Indonesia, sebagai rekor banyaknya orang berdandan gaya britpop di satu area dalam jangka waktu 12 tahun terakhir. Beberapa teman-teman pelaku scene britpop nasional pun saya bisa temui. Semua teman-teman dari Jakarta, Bandung, hingga Jogja dan Surabaya semua berkumpul. Seperti konfrensi Britpop nasional rasanya. Salah satunya adalah Andri Lemez yang saya temui di akhir konser yang berkomentar singkat “Ear pleasure, Indies total!”

Konser Shed Seven dibuka oleh penampilah The Triangle yang digawangi oleh Riko Prayitno yang merupakan pendiri dan gitaris Mocca. Band ini membawa musik yang cukup segar dengan sound post-Britpopnya yang mengingatkan pada Coldplay dan Snow Patrol. Band dengan penggarapan detail lagu yang menarik juga memiliki vokalis/gitaris Cil dengan karakter vokal menarik. Setelah The Triangle bermain terdengar serta suara MC yang mengumumkan dengan pengucapan yang membuat saya mengangkat alis: "Please welcome SHED SEVEN." Penonton langsung bersorak, pria-pria dengan topi pancing dan jaket training langsung bersiap-siap.

Shed Seven langsung menggebrak dengan lagu pembuka “Dolphin” yang langsung disambut oleh semua jama’ah britpopers. Sosok vokalis Rick Witter  dan gitaris Paul Banks memang sangat mencolok. Rick sang vokalis muncul mengenakan kemeja ala hippie pas badan dengan celana jeans dan gestur goyangan tubuh yang sangat flamboyan. Sulit dijelakan betapa kerennya dia. Indies sekali. Sedangkan Paul Banks tampil sangat biasa saja.Hanya mengenakan t-shirt saja dan dengan perut yang sedikit buncit dan terlalu anteng. Namun dengan gitar semi hollow, lick-lick gitar khasnya dan potongan rambut dan jambang indies nya, penampilan beliau itu sudah cukup valid. Sah. Mentok sekali kadar indies-nya.Selanjutnya mereka memainkan berbagai hits seperti “Disco Down”, “Mark”, “Speak Easy”, “On Standby”, “She Left Me On Friday” serta “Bully Boy” yang membuat semuanya bergoyang dan “Ocean Pie” yang segera mengundang koor penonton yang membuat suasana mengharu biru.

Penonton sendiri sangat antusias menyambut lagu-lagu yang dimainkan. Beberapa kali terlihat penonton yang crowd surfing serta ada satu orang yang tidak berhenti mengacungkan syal/bendera bertuliskan "England". Sangat menyenangkan melihat interaksi yang terjadi malam itu. Rick yang sangat komunikatif dengan penonton beberapa kali mencoba berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia sambil membaca contekan yang ia pegang.  Terutama ketika Rick mengucapkan “selamat datang anak indies Indonesia”, penonton pun tentunya kelojotan menyambut ucapan Rick. Momen yang sangat kocak sekaligus berkesan. Rick juga juga sempat memberikan maracas yang ia pakai kepada penonton dan mendedikasikan sebuah lagu untuk seorang penonton

Vokalis Shed Seven ini juga membuktikan kalau vokalnya masih prima. Dengan karakter vokal khasnya yang lantang sangat cowok banget, ia bernyanyi dan bergoyang sambil sesekali memasukan microphone ke dalam saku belakang celananya ketika ia bergoyang dengan flamboyannya. Indies sekali. Sementara Paul Banks terlihat sangat kontras, anteng dan tidak banyak bertingkah. Tapi sekali lagi dengan lick-lick gitar keren dan jambang indiesnya itu? Sudah cukup. Indies total.

Konser ditutup dengan encore, “Out By My Side”, serta cover lagu The Smiths yang berjudul “Panic” dan tentu saja lagu “Chasing Rainbow”. Di sesi encore ini lagi-lagi Rick tahu benar cara menyenangkan penggemarnya. Dengan membawakan lagu The Smith “Panic” sebagai pengantar untuk menonton Morrisey yang ia tahu akan bermain di Indonesia sebentar lagi. Konser diakhiri oleh koor membahana, ketika Shed Seven membawakan “Chasing Rainbow” sebagai lagu penutup. Rick yang sempat berganti mengenakan kaos Shed Seven juga membiarkan penonton untuk ikut bernyanyi tiga bait refrrain lagu terakhir ini. Sebelum akhirnya mereka pamit dan meninggalkan panggung.

Malam yang sangat berkesan. Terasa sekali keakrabannya. Memang karena diselenggarakan oleh kawan-kawan 3HUNDRED production yang memang mengerti dan menyukai musiknya, di lokasi pun dijual merchandise official t-shirt tur yang diproduksi oleh The Howler Terror Club. Banyak teman-teman lama, wajah-wajah familiar, musik bagus, plus cuaca rintik-rintik yang dingin.Tidak berlebihan kalau saya nyatakan bahwa konser Shed Seven Maximum Hits ini adalah konfrensi britpop dalam skala nasional paling sahih. Sadis. (salam indies)


03 Apr 2012
by Harlan Boer - 
Published in Konser

Beberapa penonton di barisan terdekat panggung mulai melakukan koor. Menjalar, penonton lainnya mengikuti. Semakin membahana, seperti dengung sejuta lebah. Di panggung, Anthrax menyerah. Meskipun tak ada dalam daftar lagu yang akan dibawakan, gitaris Scott Ian mulai memainkan intro mega familiar ”Be All, End All” dari album yang begitu dicintai banyak penggemar, State of Euphoria. Pembatas kelas tiket penonton dibuka. Dari belakang, penonton berlarian. Barbar. Dahaga mereka meletup kencang, berbaur dengan penonton di kelas depan. Mosh pit semakin padat, semakin menyenangkan. Meledak!

Seharusnya Anthrax konser di Indonesia 20 tahun yang lalu, tak lama dari rilis album kompilasi B-side Attack of the Killer B’s yang edar pada 1991—rilisan puncak yang mengukuhkan posisi Anthrax sebagai band thrash metal besar yang bersenang-senang memanjakan selera mereka: “Bring The Noise” bersama Public Enemy, merekam ulang nomor-nomor S.O.D. (Gila! Untuk versi lokal era 2000-an, bayangkan Pure Saturday merekam ulang “Spy in the House of Love” dari The Jonis, apa jadinya?), “Startin’ Up a Posse” yang total brengsek, tafsir-tafsir mantap dari pilihan Kiss, Discharge, hingga The Ventures, “I’m The Man” yang diperbaharui dengan beat-sound-lirik-cerocos yang makin “pecah” (dan telinga mencari vocal-vokal The Beasty Boys di sana), hingga sepotong balada yang mengacak-ngacak rambut gondrong ber-hair spray bersama tokoh tambatan hati yang mati ditabrak truk (“Joy, give me some tissue”, kita semua hafal kalimat di akhir lagu itu).

Sebelum ada Nirvana “MTV Unplugged” dan Slayer dengan “Undisputed Attitude”, tidak ada album yang begitu menggembirakan kita dengan pilihan cover version mujarabnya.

Tapi, kenyataan berakata lain. Anthrax konser di Ancol, Jakarta pada punghujung Maret 2012. Maka lagu “Caught in The Mosh” menjadi nomor cantik perdana yang membuat lebih banyak penonton menggila. Pogo, head bang, slam dance-- istilah-istilah ekspresi tarian itu—telah melampaui realita dan kondisi sendi-sendi usia penggemar yang berada diangka 30 dan 40-an. Semua bersenang-senang dalam candu dan kerinduan. Diikuti oleh—oh, Tuhan—“Antisocial”, babak belur-lah tepi pantai!

Perilaku Anthrax yang gemar membongkar lagu-lagu lawas tak terlalu terkenal harus diakui sebagai salah satu kehebatan mereka (selain “Antisocial” dari Trust, yang juga fenomenal dan membuat penonton malam itu menggelora adalah “Got the Time” dari Joe Jackson), kadang mengingatkan saya pada yang terjadi pada Nirvana dengan “Love Buzz” (Shocking Blue) dan “Molly’s Lip” (The Vaselines)—lengkap dengan sikap fashion-nya. Sementara sejawat lainnya, Slayer, sering terasosiasi oleh saya seperti Sonic Youth-nya thrash metal.

Ah, saya melantur. Mungkin karena terlalu riang gembira. Lebih senang lagi karena beberapa hari sebelum konser Anthrax ini saya mendapatkan piringan hitam single 12 inchi I am the Law. Tentu, saya langsung memutar side B-nya (kita semua tahu itu lagu apa!). Benda ini sudah seperti mitos personal saya belum punya bulu kaki, dan akhirnya ada di tangan saya (berdampak sedikit beset pada kartu ATM, tak mengapa). Oh ya, apakah perlu membeli celana Hawaii baru?

Kembali ke Ancol. Tentunya, di panggung itu tidak sama dengan di memori kita. Sementara golongan lain seru memilih favoritnya antara Jordan Knight atau Joe McIntyre (untuk spelling-spelling sempurna ini saya membuka Wikipedia) di New Kids on the Block, para penggemar Anthrax ABG seperti saya sibuk memlih personil di hatinya. Dulu, saya paling suka Frank Bello, Scott Ian, dan Charlie Benante. Tapi, malam itu di Ancol, harus saya akui, pahlawan terbesar saya adalah Joey Belladona.

Alasan terkuat saya menonton Anthrax malam itu adalah bergabungnya kembali Joey ke tubuh Anthrax. Sulit membayangkan menonton Anthrax tanpa Joey, dan lagu-lagu klasik yang hebat di era-nya itu. Suara Joey memang sudah berkurang tenaganya (tenang, tak banyak), namun sosok, gestur, dan bahkan wajahnya masih serupa dengan yang kita kenali lebih dari 20 tahun lalu. Joey melabrak udara-udara di sekujur panggung, dari dekat drum set hingga ujung monitor gitaris baru yang sampai sekarang saya belum hafal juga siapa namanya. Pada lagu “Indians”, Joey bahkan mengenakan topi dengan lidah bawah yang diangkat bertuliskan—kita selalu ingat itu!- INJUN. Topi ini didapatnya dari salah seorang penggemar di Jakarta. Kata sang pemberi topi, Joey cerita ke dia bahwa dulu Joey membuat sendiri tulisan itu di topinya itu. Hah? Berarti sama dengan kita yang menuliskan INJUN di topi sekolah dengan menggunakan Tipe-x? Keren Joey!

Sosok dan gaya panggung Frank Bello sudah berubah (anjrot, dulu dia keren banget!), tapi yang lebih jelas adalah permainan solonya yang sohor itu pada “Got the Time” (rasa-rasanya dulu lebih menampar). Tak apa, “Got The Time” toh sudah berdetak cepat dan menghempaskan tubuh-tubuh penonton.

Lagu “I’m the Man” dibuat medley dengan “I am the Law”. Itu memang tak janggal. Tapi, itu juga berarti tak ada pemandangan Charlie Benante beraksi slebor dengan mikrofon dan topi yang dikenakan seenaknya. Untunglah pada beberapa kesempatan kita masih bisa melihat Scott Ian dengan tarian khasnya. Masih ganas!

Pun yang jadi pahlawan adalah sound system yang sempurna!

Bisa dibilang semua lagu klasik Anthrax (dibawakan cukup merata dari aneka rilisan Anthrax bersama Joey Belladona, dari “Metal Thrashing Mad”, “Medusa”, hingga “Efilnikufesin (N.F.L.)” ada di sana!))—tentu saja termasuk “Among the Living” yang saya nyanyikan menggebu-gebu—terbukti berhasil merobek waktu. Anthrax memang datang sangat terlambat, tapi pintu gerbang setia terbuka. Circle pit itu, yang berdiameter sungguh lebar dan berisi tarian brutal, menjadi bukti yang sah.

Usai konser, beberapa penonton bersorak lepas, “Mabrur!”

 

 

 

 

13 Mar 2012
by Idhar Resmadi - 
Published in Konser

Untuk anda yang mengikuti perkembangan skena musik New York, tentu tak bakal ada matinya – silakan anda cari kompilasi Yes New York rilisan Vice Records. Pernyataan saya seperti itu saya buktikan ketika sudah dari jauh-jauh hari New York memang sebuah letupan energi kreativitas tanpa henti. Kita harus ingat bahwa terminologi sebuah sub-kultur selalu beririsan dengan kota New York, bahkan dari berbagai genre music. Beberapa pergerakan skena musik itu misalkan, New York Hardcore, East Coast Hip-Hop, No Wave, hingga musik punk seperti Television, New York Dolls, dan The Ramones hingga keajaiban eksperimental The Velvet Underground dan Sonic Youth pun lahir dari  kota yang tak pernah tidur ini. Menginjak awal abad 21, jangan lupakan pula para revivalist terbaik dari generasinya seperti The Strokes, Yeah Yeah Yeahs, Interpol, dan Vampire Weekend juga hadir dari kota hip ini. Rasanya bisa menghabiskan berlembar halaman kalau saya membahas satu per satu band yang tumbuh besar di New York.

Membahas perkembangan suatu skena musik atau grup musik dari perspektif kota yang membesarkannya memang sangat menarik. Para arsitek kota senantiasa mengatakan kota yang baik memang kota yang tak hanya bisa menginspirasi, tapi juga merangsang kreativitas warganya  agar kondusif dan nyaman untuk berkarya dengan semangat kebebasan berekspresi. Prinsipnya, sebuah kota kreatif  haruslah  berlandaskan semangat keterbukaan. Tentu saja, New York memiliki segala syarat itu. Atas alasan itu pula New York selalu menjadi magnet, terutama bagi yang ingin menekuni karir bermusik, seperti yang terjadi pada seorang anak muda bernama Kip Berman yang tumbuh besar di suburban Philadelphia dan memutuskan diri hijrah ke New York dan mulai membuat sebuah band indie-pop, The Pains of Being Pure At Heart.

The Pains of Being Pure At Heart adalah sebuah band indie-pop asal New York yang cepat melesat dan bahkan meraih pujian para kritikus lewat debut album perdana mereka yang dirilis pada 2009. Album itu terlampau sederhana dan tidak terlalu menunjukan teknik musikal yang rumit, namun dengan cover art hitam putih dan suara musik derau berlapis dan kasar membuat para media menyandingkan mereka sebagai revivalist dari My Bloody Valentine dan Jesus and Mary Chain. Kalau Anda memang penikmat dan menyimak musik indie pop dari The Pains of Being Pure At Heart, akan sangat terdengar anomali untuk ukuran sebuah band asal New York. Bahkan Anda akan terpental kembali kepada band-band Inggris circa 1990-an era Creation Records.

Pada pertengahan 2011, The Pains of Being Pure At Heart merilis album kedua yang lebih pop dan harmonis dibanding album sebelumnya yang kasar dan berisik. Peran produser Flood yang juga pernah menjadi produser The Smashing Pumpkins ini tentu memberi pengaruh yang sangat besar terhadap kualitas musik kuintet New Yorkers ini. Setelah sempat tampil di Hongkong dan Laneway Festival di Singapura akhirnya mereka tampil di Indonesia.

Awal Maret lalu, Jum’at 2 Maret 2012, Kip bersama kawan-kawannya yaitu Alex Naidus (Bass), Peggy Wang (Keyboards dan vocal), Kurt Feldman (drum), dan seorang sahabat karib mereka yang sekaligus kekasih Peggy Wang, Conor Henwick (The Drums) yang membantu mereka sebagai additional gitar, akhirnya hadir menyambangi Indonesia dalam rangka menggelar konser tunggal perdananya di Balai Sarbini, Jakarta. Konser ini digelar oleh Chambers, sebuah unit kreatifitas di bidang fashion asal Makassar, dalam rangka peluncuran website resmi mereka.

Konser Minim Aksi

Pertemuan perdana saya dibuka oleh keramahtamahan Kip Berman menyambut para jurnalis yang hendak mewawancarainya. Dan Kip termasuk orang yang artikulatif. Apapun pertanyaanya, ia sangat senang untuk menjawabnya panjang lebar. Sebagai seorang musisi indie yang tumbuh di New York, Kip dengan bercanda bahwa dirinya tidak merasa sebagai seorang hipster, toh, di New York dia bukanlah sosok hip yang jalan dengan para model. “Maybe I should change my name Kip, with ‘Hip’,” canda Kip.

Atas alasan itu pula yang membuat Kip  dan kawan-kawan The Pains of Being Pure At Heart jauh dari sosok klise ‘rockstar’ atau ‘selebritas’. Saya melihat sendiri sosok Kurt atau Peggy Wang yang tampak tidak canggung untuk bercakap dengan fans saat sesi check sound. Atau sang bassis Alex yang tidak risih untuk menyeberang jalan sendirian menuju hotel. Bahkan Kip asyik jalan-jalan dan memilih donat di sebuah gerai franchise donat di Plasa Semanggi sesudah sesi interview. Pemandangan sangat mustahil jika itu adalah Katy Perry atau Coldplay.

The Pains of Being Pure At Heart tampil menjelang tengah malam. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan masih belum ada tanda-tanda bahwa konser bakal dipenuhi penonton. Hanya sedikit penonton yang hadir malam itu, mungkin sekitar seratus atau dua ratus penonton. Saya berasumsi, untuk segmen penonton The Pains ini mungkin banyak yang lebih memilih menonton festival Java Jazz yang jauh lebih ‘Hip” dan “bergengsi”. Atau mungkin, nama The Pains of Being Pure At Heart masih terlampau kecil di negara ini.

Saat tampil di Laneway Festival pada pertengahan Februari lalu, The Pains of Being Pure At Heart tampil agak mengecewakan. Beberapa kali suara Kip Berman fals dan beberapa kali gangguan pada gitar. Saya sempat khawatir hal itu bakal terjadi lagi ketika mendengar sound yang begitu buruk saat band pembuka Polyester Embassy dan White Shoes and Couples Company tampil di panggung. Bahkan terjadi jeda sekitar empat puluh menit hanya untuk kembali mengurusi tetek bengek tata suara ini.

Dugaan saya ternyata salah. Begitu lagu pembuka “This Love Is Fucking Right!” dikumandangkan, kualitas sound dan musik The Pains of Being Pure At Heart nyaris mendekati sempurna. Tak ada cacat seperti yang sempat saya prediksi di awal. Pujian tampaknya patut diberikan kepada sound engineer mereka yang tak henti dan tak kenal lelah kesana-kemari agar konser berjalan lancar dan memuaskan banyak orang.

Saya lihat di panggung The Pains of Being Pure At Heart tidak membawa roadie yang senantiasa membantu kelancaran konser. Kecuali peran sang sound engineer tadi yang bahkan berfungsi sebagai roadie. Ia berlari kesana kemari, meninjau setiap sudut panggung, memeriksa sound agar berjalan baik, bahkan mempersiapkan gitar untuk Kip pun dilakukannya sendiri sebelum kembali bekerja di ruang Front of House (FOH). Mungkin untuk band sekecil mereka, tidak terlampau memerlukan unit kru yang terlampau besar.

Memang tidak terlampau mengalami ejakulasi maksimal dalam konser ini. Karena tak banyak yang lantang untuk sing along dan musik-musik mereka yang tidak pernah mencapai hit. Saya hanya melihat beberapa orang yang membawa piringan hitam The Pains of Being Pure At Heart yang tentu saja menikmati dan mengagumi musik mereka.

Penampilan The Pains of Being Pure At Heart memang minim aksi. Juga bukan ukuran sebuah band yang terlampau banyak omong. Toh, seperti kata Kip sendiri, mereka adalah anak manis penggemar cupcakes yang menyukai musik untuk musik itu sendiri. Beberapa lagu yang dibawakan dari debut album dan sophomore terlihat berimbang seperti lagu “Belong” yang menjadi lagu paling manis dengan harmonisasi dan petikan melodi gitar; “Stay Alive” sebuah lagu yang derau dan kasar mengingatkan kita akan nada indah nan gelap dari My Bloody Valentine. Sayangnya, saya merasa lagu-lagu yang dibawakan pada album pertama dibuat tidak terlalu kasar atau berisik seperti pada versi albumnya, namun dalam versi livenya justru dibawakan dengan sangat clean, harmonis, dan pop.

Pada beberapa lagu, mereka juga menyelipkan lagu dari mini album The Pains of Being Pure At Heart (2007) dan Higher Than the Stars (2009) mereka yaitu lagu “Say No To Love”, “Falling Over”, dan “The Pains of Being Pure At Heart” yang sekaligus menjadi lagu penutup mereka malam itu.

Panggilan encore berkumandang. Kip et.al. kembali di panggung dan langsung menghajar lewat empat lagu. Di lagu encore pertama, Kip hanya hadir sendiri menenteng gitar. Bagi yang mengamati musik The Pains of Being Pure At Heart, tentu saja itu adalah kode untuk lagu “Contender” yang dalam versi albumnya hanya diisi oleh derau gitar saja. Selebihnya, lagu “My Terrible Friend” yang dipenuhi nada riang dari keyboard Peggy Wang sangat menggoda untuk berjingkrak. Lagu “Everything With You” dan “Strange” menjadi penutup malam itu.

Kejutan malam itu ternyata hadir bukan pada aksi di panggung. Justru tak lama setelah manggung selesai, dengan sangat tiba-tiba Kip hadir di samping saya yang duduk di sebelah kanan panggung. Sontak saja, kehadiran Kip itu mengundang penonton untuk menyalami, meminta foto bareng, atau sekedar memberikan tanda tangan. Kip dengan senang hati dan ramah menyapa para penonton yang tidak ingin melewatkan kejadian langka tersebut.

Melihat sikap Kip yang begitu bersahabat itu memberikan cerminan, bahwa tugas seorang musisi adalah tampil dengan totalitas di panggung tanpa peduli berapa orang yang bakal hadir dan menyaksikan aksi mereka. Saya jadi ingat para New Yorkers lainnya seperti The Strokes dan Velvet Underground juga pada awal karirnya hanya ditonton segelintir orang. Namun meski begitu mereka tetap tampil maksimal, dan bukan ogah-ogahan.

Dan untuk kecintaan terhadap musik dan profesionalisme itu sendiri, The Pains of Being Pure At Heart tetap memainkan aksi panggung yang maksimal dan tetap meladeni para penonton yang ingin foto dan tanda tangan meski hanya segelintir yang menonton mereka. Rasanya pelajaran penting dari sebuah band dengan persaingan ketat di kota New York adalah: “Tak penting jika band Kamu ditonton segelintir orang, tetaplah professional. Band begitu banyak, persaingan ketat!”




18 Feb 2012
by Alvi Ifthikhar - 
Published in Konser

Setelah absen di Laneway Festival tahun lalu karena alasan yang sangat mendadak, saya akhirnya bisa menunaikan ibadah umroh indie-rock kecil-kecilan ini (haji besar tentu adalah festival-festival di Amerika Serikat). Walau saya masih merasa kesal karena line-up tahun lalu jauh lebih menarik, toh nikmat tuhan ini harus sangat saya syukuri. Bersama seorang teman, saya pun berangkat ke Singapura pada tanggal 11 Februari, hari Sabtu. Sesampai di sana, dengan tekad mantap kami pun menginjakkan kaki di Fort Canning Park sekitar pukul 1.40. Acara akan berlangsung 20 menit kemudian.

Baru masuk booth pemeriksaan tiket sudah ada kejutan aneh bagi kami. Tepat saat saya menoleh kesamping, seorang kulit putih berkacamata bulat dan amat jangkung, berjalan tepat di samping saya dan memasuki gate utama. "Kok mukanya seperti pernah lihat ya?" dan sepersekian detik kemudian saya pun sadar "lha? Erlend Oye ngapain disini?". Oye merupakan wujud paling absurd di Laneway Festival Singapore kali ini. Sejauh yang saya ingat, dia hanya mondar-mandir keliling venue, masuk ke area panitia di bagian atas, turun ke venue lagi, dan begitu seterusnya. Entah sudah berapa kali saya berpapasan dengannya.  Ia hanya berjalan santai, bertingkah seperti bukan siapa-siapa, namun saya yakin dia lah orang paling terkenal di Fort Canning Park saat itu. Erlend seperti tidak peduli dengan apa yang ada dipanggung, dia hanya berputar-putar tidak jelas sambil menolak semua ajakan berfoto bersama dari crowd (Oh ya, sifat menolak foto bareng ini memang sudah cukup terkenal).

Begitu saya masuk ke dalam venue (Fort Canning Park ternyata adalah taman yang besar, dan Laneway Festival berlangsung di salah satu bagian taman ini), saya lumayan kaget. Lingkungan sekitar terlihat begitu bersahabat (abaikan parade fashion anak-anak gaul yang berseliweran, itu dunia mereka, saya tidak punya hak berkomentar). Venue Laneway Festival ternyata adalah sebuah lereng mini yang penuh dengan rerumputan. Venue bermula dari sebuah mansion bergaya kolonial (maaf saya tidak tahu ini gedung apa). Lapangan rumput venue ini adalah halaman belakang mansion tersebut, menjorok secara perlahan ke bawah. Lapangan rumput ini terbentang hingga ke tingkat ketinggian tanah terendahnya, dimana disitu sudah terdapat dua panggung ukuran sedang yang saling berdampingan. Sembari berteduh di bawah pohon rindang, saya berseru kepada teman saya " Wah, atmosfirnya sudah seperti Fuji Rock saja nih!", Saya merasa makin antusias, sepertinya untuk beberapa waktu mendatang, saya tidak perlu jauh-jauh lagi ke Amerika Serikat. Padang rumput, matahari, musik bagus, dan perempuan-perempuan bercelana sangat pendek plus tank-top. Mood-nya sudah pas.

Matahari menyengat punggung kami dengan terik. Tepat pada jam 2 siang, band indie-pop pendatang baru asal New York Cults membuka rentetan panjang Laneway Festival Singapore 2012. Saya banyak melihat remaja belia usia 17-19 tahun yang mulai memadati bibir panggung saat Cults membuka set-nya. Sepertinya mereka hadir hanya buat Cults. Para remaja itu (mayoritas perempuan) melompat dan sing-along hampir tanpa cela di beberapa hits single milik Cults seperti "Go Outside". Bagi saya pribadi, Cults adalah band Indie-pop dengan track-track catchy dan bersemangat. Namun hanya sebatas itulah musik mereka. Hook-hook mereka memang manis dan kuat, namun secara substansi, band ini tidak memilki tekanan yang cukup kuat untuk mendorong dirinya sendiri dan menambat di hati maupun kepala saya. Terlepas dari semua itu, Cults bisa memeriahkan Fort Canning Park. Mereka membuka Laneway kali ini dengan cukup baik.

Sekitar 40 menit kemudian, band pengusung 1990's indie rock sound (yang justrue berasal dari London) Yuck menghujamkan pop berdistorsi mereka. Penampilan mereka (secara dandanan dan musik) lumayan menarik. Para remaja belia tadi masih bersorak kegirangan, Yuck ternyata juga masuk dalam daftar mereka. Namun kali ini, tidak sedikit juga crowd yang berumur lebih dewasa bergabung sing-along dan ber head-bang kecil mengikuti quartet Indie Rock ini. Yuck adalah penjodohan manis rock Teenage Fanclub dan sensasi kebisingan Dinosaur Jr. dalam skala kecil, ya tidak terlalu buruk lah, saya sendiri lumayan puas dengan performa mereka walau tidak bisa ikut sing-along. Sang vokalis ternyata suka dengan apa yang ia lihat di lapangan rumput ini. "It's our first time here and it's definitely not going to be our last." ujarnya dengan mantap.

Untuk dua act sehabis Yuck dan dua act setelah Girls nanti sorenya, saya harus minta maaf kepada anda. Matahari semakin menyengat tanpa ampun dan dari dulu, kulit saya lumayan sensitif dengan sinar ultraviolet. Ditambah dahaga yang menyerang, saya dan teman saya setuju untuk berundur sebentar untuk berteduh. Saya hanya melihat Chairlift dan Austra dari kejauhan. Saya sempat mencoba mendengar apa yang mereka hasilkan di panggung, namun karena lelah, panas, dan  musik mereka ternyata memang tidak begitu menarik, saya pun mengabaikan apa yang terjadi di panggung semenjak Yuck turun sampai satu setengah jam kedepan.

Waktu menunjukkan pukul 4.35, mau energi terisi penuh ataupun tidak, saya tidak peduli. Saya harus bangkit dan menyaksikan Chirstopher Owens alias Girls, salah satu alasan terbesar saya menyambangi Laneway tahun ini. Matahari sudah mulai mengampuni kami, angin mulai berhembus. Malah hujan rintik-rintik sempat turun untuk beberapa saat. Di salah satu panggung, musik Austra masih menyala. Tetapi saya tidak mempedulikan mereka, stage sebelah terlihat lebih menarik. Tiba-tiba sudah banyak kuntum dan karangan bunga yang tersebar diseluruh stage. Saya dan teman saya sempat bersorak saat Owens keluar sekejap.

Waktu menunjukkan pukul 4.40. Girls menapaki panggung, dan anda harus mulai menyiapkan tisu jika anda tipe orang yang mudah menangis. Pada pagi harinya, dunia kaget dengan kematian Whitney Huoston. Hari ini berlangsung begitu cepat dan saya tidak ingat akan berita itu sama sekali, sampai Owens memetik gitarnya dan bersenandung ; "If I should stay, I would only be in your way. So I'll go, but I know I'll think of you every step of the way." Dan crowd pun meledak sambil ikut berteriak "and i....will always love you...". Yup, Christopher Owens, hanya dengan diiringi gitar meng-cover I Will Always Love You nya Whitney Houston dengan penuh penghayatan. Hati ini makin teriris rasanya ketika Owens terlihat seperti akan menangis saat potongan lirik ; " Bittersweet memories ..that is all I'm taking with me. ..So, goodbye. Please, don't cry. ..We both know I'm not what you, you need." mengalir dari bibirnya. Kami pun bersorak dengan haru saat ia menyelesaikan tribute termanis ini, selamat jalan Whitney Houston.

Ada seorang teman lain yang berkata kalau Girls adalah penampil yang paling membosankan di Laneway ini. Mungkin ada benarnya bagi mereka. Sepertinya hanya segelintir orang-orang saja yang mencintai Christopher Owens dan gubahannya, beberapa orang, lalu saya dan teman saya. Kami berdua tidak peduli dengan semua itu. Kami berteriak sekuat tenaga mengikuti Owens menyanyikan reffrain "Honey Bunny" dan "Laura". Saya dan teman seperjuangan berteriak makin histeris saat "Love Like A River", lagu Girls yang paling saya sukai berkumandang diantara karangan bunga di depan kami. Apalagi saat solo gitar peleleh jantung itu menyerang, kami semakin tidak tahan. Christopher Owens berhasil memberikan, yah.. setidaknya kami berdua dan beberapa orang lain sebuah jenis orgasme soft-rock jauh setelah masa emas tipe rock seperti itu. Di lapangan rumput itu kami syah menjadi groupies Christopher Owens. Vokal cengengnya, raut muka emosionalnya, dan desiran gitar di puncak klimaks pop-rock modern miliknya membingkai salah satu sore terbaik saya dalam beberapa tahun terakhir ini.

Namun romantisme itu harus berakhir, Owens dan kawan-kawan meninggalkan panggung sekitar pukul setengah enam sore. Di sisi sebelah kanan, salah satu band indie-rock kekinian paling hip memulai lajunya, saatnya The Drums memecut crowd kembali ke lantai dansa post-punk era 1980-an. Teman saya memutuskan untuk menonton mereka. Saya? lagu mereka belum bisa membuat saya berdansa menggila dan saya pernah merasakan live mereka sebelumnya, dan konklusi saya masih sama. Apalagi kali ini Jonathan Pierce, sang vokalis sekaligus sang penari jalanan tidak terlihat prima seperti biasanya. Sepertinya rentetan tour Laneway Festival berhimpitan ini amat menguras staminanya. Ditambah rasa letih yang menyerang kembali setelah mengganas habis-habisan di set Girls tadi, saya memutuskan untuk duduk sejenak.

Dan sekali lagi saya harus minta maaf karena saya melewatkan Anna Calvi dan Twin Shadows. Saya sempat mendengar setengah-setengah bebunyian aneh nan menyesakkan dari gitar Anna Calvi. Eksperimentasi yang lumayan menarik, namun karena terlampau letih, saya dan teman saya memutuskan untuk mengisi perut yang sudah kosong sejak jam 2 siang tadi. Saat Twin Shadows naik panggung saya makin hilang fokus ketika punggung saya menyentuh rerumputan dingin selagi angin sore mengelus-ngelus wajah lelah saya. Singkat cerita, ditemani musik Twin Shadows saya tertidur selama hampir 3/4 durasi set nya, tertidur ditemani musik live? sweet! (padahal musik Twin Shadows sama sekali bukan musik untuk tidur, namun badan saya tak bisa berbuat banyak lagi.)

Sekitar jam 8 malam, saya dan teman saya kembali memasuki lapangan rumput. Malam membuat kami berusaha lebih keras menyelip di antara crowd dibandingkan siang tadi. Saya dan teman saya berniat "nge-tem"di bagian bibir depan panggung kiri, karena sekitar setengah jam lagi, The Pains Of Being Pure At Heart, yang selain Girls juga merupakan alasan yang amat besar atas kedatangan saya dan teman saya, akan naik panggung. Sesaat tatapan saya hanya menuju ke stage yang masih redup dan kosong. Namun beberapa menit kemudian, perhatian saya teralih sepenuhnya kepada stage sebelah kanan. Laura Marling bersama band-nya berdiri dengan romantis ditata cahaya ungu remang-remang. Saya mesti jujur, saya belum pernah mendengar lagu Marling sebelumnya. Dan saya pun terpukau sekaligus merasa bersalah mengapa tidak tahu siapa Laura Marling.  Ketika suara jentikan lembutnya saat menyentuh senar gitar melebur secara sempurna dengan vokal super teduhnya, seisi malam pun terdiam, secara refleks, saya memasang senyum paling tulus saya di hari ini.

Laura Marling merupakan performer paling mengejutkan bagi saya. Dia benar-benar mengambil kontrol arah pandangan saya. Saya tidak bisa berpaling balik ke panggung kosong didepan saya. Selama 30 menit  kedepan, saya hanya bisa terpaku menatap  "aura of elegance" sang Laura Marling. Ia seperti reinkarnasi Stevie Nicks dan Fleetwood Mac di era emas (ambil contoh Rumors), namun dengan sentuhan folk yang lebih modern dan sangat spiritual. Komposisi irama vokal, petikan gitar, dan harmonisasi kedua hal tersebut dengan seluruh isi bandnya mengukuhkan Laura Marling sebagai salah satu maestro Blues Folk tiada banding di era modern ini. Dan menemukan ketentraman Laura Marling dengan mata telanjang diantara hiruk pikuk lampu dan keramaian ini adalah salah satu momen self-musical discovery terfavorit saya. Layaknya seorang ibu, musik Laura Marling menjadi tempat berteduh paling nyaman di saat malam hari tiba.

The Pains Of Being Pure At Heart menyapa penonton dengan hujaman distorsi disela coming-of-age pop super manis mereka pada pukul 8.40. Inilah titik puncak Laneway Festival bagi saya. Sempat ada gangguan teknis di awal set, dimana untuk beberapa menit mereka harus menghentikan pertunjukan. Setelah permintaan maaf si manis Peggy Wang, sang keyboardis yang diikuti sorak-sorai crowd,  band indie-pop asal New York ini pun kembali melanjutkan penampilan mereka. Dan saya pun terpana. Reverb, delay, dan distorsi nan manis itu mengubah Fort Canning Park menjadi sebuah aula gedung sekolah, dimana malam perpisahan SMA saya berlangsung untuk yang kedua kalinya. Dentingan synth Peggy Wang dan sound kasar gitar Kip Berman serta vokal post-pubernya sebagai esensi utama, berhasil membuat saya lupa akan sekitar. Saya melonjak dan sing-along layaknya anak SMA. Saya hanya bisa mendengar apa yang didepan saya dan suara teriakan saya sendiri, tampaknya crowd beberapa meter disekitar saya tidak seantusias si bocah SMA ini. Saya juga mulai curiga kalau mereka tidak terlalu banyak tahu lagu band ini atau malah mereka baru pertama kali ini mendengar nama The Pains Of Being Pure At Heart (saya rasa anda setuju dengan saya kalau nama ini lumayan mengena). Walaupun begitu, toh pada ujungnya crowd selalu menyambut dengan antusias nan meriah pada setiap transisi lagu. Saya bisa saja merasa kesal dengan mereka tapi sikap apresiatif mereka mesti dihargai. Apresiasi dengan tingkat seperti itupun berdampak positif kepada performa band ini. Terbukti pada raut wajah Kip Berman yang terlihat senang. Ia juga mulai bergerak semakin liar. Menari kecil dan melompat diatas panggung bersama fender Jaguar seiring berjalannya setlist mereka.

Ada satu hal menarik yang saya pelajari dari pengalaman nonton langsung ini. Ternyata kualitas musik sebuah band tidak hanya terbatas pada musik rekaman belaka. Ambil contoh kasus album kedua The Pains Of Being Pure At Heart Belong yang dirilis awal tahun lalu. Walaupun saya menyukai evolusi dan perkembangan departemen sound dan progresi musik mereka, saya tidak sampai jatuh cinta pada album ini, hanya sekedar suka, bukan sebuah album yang tahan saya dengar berkali-kali dalam jangka waktu pendek layaknya album s/t mereka sebelumnya. Namun pada malam hari ini, nomer-nomer seperti "Belong", "Heavens Gonna Happen Now" dan "Heart In Your Heartbreak" terasa lebih bergigi dan tampil menggigit. Ternyata ada hukum yang lebih kuasa diatas set hi-fi dan piringan hitam. Saat menonton live, teman anda bukan cuma gelombang suara dan telinga anda sendiri, anda ditemani oleh mood dan euforia, belum lagi idola yang kali ini bisa anda nikmati secara audio visual. Otomatis permainan live Pains ini menjadi obat kekecewaan temporal saya atas Belong. Ditambah lagi saya menikmati sound yang keluar dari amplifier Pains. Biasanya di versi rekaman mereka, saya sering merasa kalau sound synth dan keyboard Peggy Wang cendrung tenggelam dimakan oleh distorsi dua gitar lain. Namun pada malam ini, dentingan-dentingan manis dan romantik itu terdengar lebih signifikan. menari-nari dan membalut lembut distorsi dan vokal Kip Berman, membuat malam dansa ini makin semanis madu dan ber-energi.

Pukul 9.30 The Pains Of Being Pure At Heart pun harus mengakhiri sumbangan gula-gula mereka dan mengucapkan selamat malam pada malam manis ini. Namun malam masih panjang bagi para crowd. Chazwick Bundick a.k.a Toro Y Moi dengan seketika mengubah pesta post-puber tadi menjadi lantai dansa penuh sihir dingin. Bundick yang dikenal sebagai salah satu pentolan Chillwave di album pertamanya sudah berhasil membawa musiknya jauh dari pengkotakan satu genre saja. Di album keduanya Underneath The Pine yang juga dirilis diawal tahun lalu, Toro Y Moi telah bermutasi menjadi sebuah band yang memainkan angin dingin Electro Funk dengan tingkat ketampanan Progressive Jazz super keren.

Toro Y Moi sontak membuat crowd menggoyangkan kepala dan badan mereka dengan sound membahana. Kalau biasanya rekaman-rekaman Toro Y Moi menghasilkan mood yang smooth dan dingin, versi live ini memiliki kesan megah. Dikuadratkan dengan kedua mood tadi, Toro y Moi terdengar begitu epik dan keren. Seperti yang sudah saya duga, Toro Y Moi lebih sering membawa track-track post mutasi nya, yang memang menurut saya jauh lebih menarik dan menggigit dibandingkan rilisan-rilisan sebelumnya. Track seperti " Go With You", "New Beat" dan "Still Sounds" berhasil menyegarkan kembali Laneway Festival yang sudah berlangsung dari jam 2 siang tadi. Dan sekaligus sebagai penanda bahwa malam masih bisa menjadi lebih indah lagi.

Ditengah-tengah show Toro Y Moi ini, saya dan beberapa teman saya mengalami kepanikan kecil, kami memutuskan untuk turun dari lantai dansa ini sejenak untuk mengisi dahaga. Namun kami mendapati crowd yang sudah membludak dan saling berhimpitan, dan kami berada di tengah-tengah dan bingung bagaimana caranya keluar dari situ. Crowd yang dari tadi siang lebih memilih duduk sudah mulai turun lapangan, alasan terbesar hal ini tentu saja Leslie Feist yang sedang sound check di panggung yang satunya. Sepertinya persenan terbesar crowd yang datang ke Laneway Festival kali ini adalah fans dari Feist.

Dengan berhimpitan, tanpa sengaja menginjak kaki beberapa orang, dan tekad bertahan hidup, kami berhasil keluar dari kerumunan. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dan bersumpah tidak akan mau masuk lagi ke garis depan lapangan untuk malam ini, tenaga kami sudah terkuras hebat dari perang kecil tadi. Akhirnya  saya hanya bisa menonton tiga penampil terakhir dari kejauhan

Kurang lebih pukul 10.30, Leslie Feist menyapa lapangan rumput yang sudah sangat padat karena kehadiran dirinya. Feist merupakan penampil yang paling banyak memiliki "pernak-pernik" di panggungnya. Dari berbagai macam instrumen hingga penari latar sekaligus backing vokal. Sang indie-diva ini tampil dengan menawan. Ia meninggalkan popularitas pop-nya yang dia raih dari dua album sebelumnya. Hampir semua materi yang ia bawakan berasal dari album terbarunya Metals yang lebih konseptual dan sepertinya lebih ia nikmati. Dengan cerdik Feist menggabungkan berbagai ketukan dan bebunyian unik dari setiap instrumen di panggungnya, serta memadukannya dengan irama vokal yang tidak kalah berbeda.

Berkat keputusan Feist memainkan materi-materi barunya itu, saya sudah bisa menerka apa efeknya bagi crowd. Sebagian besar crowd sepertinya ingin Feist lebih menghabiskan waktu di album-album terdahulunya. Mereka cuma bisa bersorak dan bertepuk tangan tanpa mendapatkan sing-along yang mereka inginkan. Walau Feist sempat melayani mereka dengan salah satu single paling populernya "Mushaboom." Namun terlepas dari semua itu, crowd terlihat sangat antusias (lagi-lagi, hal yang perlu di apresasi). Hingga Feist sendiri beberapa kali memberikan pujian "Wow..you're an awesome crowd!". Saya juga baca beberapa hari setelahnya ( saya tidak mendengar langsung) kalau Feist sempat memuji crowd dengan berkata " You're raising the bar..you're shaming Australia!!"

Setelah Feist, pukul 11.15 The Horrors naik panggung. Mirip dengan Feist, album terakhir The Horrors Skying bisa dibilang berbeda dengan album-album sebelumnya, tapi untuk kasus The Horrors, mereka benar-benar berbeda. Mungkin dari album sebelumnya Primary Colors masih ada sedikit sisa sari yang terbawa di Skying, tapi kalau dibandingkan dengan album lebih awalnya Strange House, album yang membuat mereka begitu terkenal dengan musik post-punk plus dandanan horror, Skying benar-benar bukan The Horrors yang dulu lagi, tidak ada setetes pun jejak chord-chord mencekam yang sebenarnya sangat unik itu. Saya sering ber-lelucon soal The Horrors, "kenapa tidak mengganti nama sekalian aja sih?".

Dan di Laneway kali ini saya sudah memprediksikan kalau set mereka bakal memainkan full materi Skying dan mungkin beberapa track Primary Colors yang masih agak mirip. Saya bahkan berani bertaruh dengan teman saya kalau sampai mereka membawa lagu seperti "Count In Five", "She's The New Thing", dan "Dead At The Chapel" saya bakal berjoget dan berteriak seperti orang gila sambil masuk ke area depan panggung. Dan tentu saja, dugaan saya seratus persen benar.

Meski begitu menurut saya, The Horrors adalah the weakest link di Laneway Festival ini. Bukannya musik mereka yang baru sebegitu jeleknya, namun sepertinya tidak ada yang mengharapkan musik sejenis itu keluar dari The Horrors. Sepertinya penontonpun sudah mahfum akan hal ini dan tidak berharap The Horrors membawakan materi Strange House. Namun crowd cukup menghargai band yang sudah datang jauh dari Inggris ini melalui tepuk tangan dan sorak-sorai. Space rock dengan sedikit hawa Brit sound dari era 1990-an menggema di dinding-dinding Fort Canning Park, namun tidak memilki gema yang cukup kuat untuk bisa melekat di telinga sebagian besar para pendengarnya. Keputusan menaruh mereka sebagai penampil kedua terakhir malah menurunkan mood yang sudah terbangun dengan cukup baik berkat Feist.

Kemudian sampai-lah kami pada jam 12.00 tepat tengah malam. M83 memasuki medan permainan. Mereka mengemban tugas berat untuk membawa kami semua ke puncak tertinggi malam dan menutup seluruh rangkaian tur Laneway Festival 2012 dari Brisbane hingga Singapura dengan klimaks yang indah.  Sebagian besar crowdpun sepertinya sudah sangat menunggu M83. Tengah malam pun dibuka dengan track "Intro" album mereka yang dirilis tahun lalu. Serentak bunyi keyboard yang membahana dengan hebat pecah dilangit malam Fort Canning Park. Crowd pun menggila, mereka menghasilkan teriakan yang sejauh ini paling megah dibandingkan apapun dari semua yang dibuat sejak siang hingga malam. Bebunyian lain dari panggung M83 pun perlahan menjerit bersusulan, diiringi dengan permainan lighting spektakuler yang menampar-nampar wajah kami. M83 melaksanakan tugas pertamanya, mengucapkan salam dengan sangat megah dan memenuhi ekspektasi setiap kepala di padang rumput Fort Canning Park ini. Sound yang mereka hasilkan serta permainan lighting brilian tadi melambungkan mood crowd jauh keatas angkasa malam.

Saya harus jujur, saya tidak terlalu suka musik mereka. Bumbu techno yang makin kentara di rilisan akhir mereka tidak terlalu cocok dengan kuping saya. Namun layaknya kasus The Pains Of Being Pure At Heart sebelumnya, menikmati musik secara live memanglah cara terbaik memanjakan indra pendengaran. Kali ini saya harus mengesampingkan ego dan mengalah pada M83, lampu panggung, dan malam. Mereka terdengar begitu spektakuler. Mereka adalah pilihan paling tepat untuk mengakhiri hari ini dengan ledakan gelombang suara.

Kerumunan Fort Canning Park pun menghasilkan sorakan paling memekakkan telinga saat nomor "Midnight City", single paling baik dari album terbaru mereka Hurry Up We're Dreaming berkumandang di langit Laneway Festival. M83 telah mengubah festival ini menjadi klub malam raksasa. Inilah momen terbaik di Laneway Festival 2012. Beberapa crowd yang tadinya masih duduk sekarang telah berdiri. Fort Canning Park larut sepenuhnya dalam euforia audio visual ini. Dan entah sudah berapa kali Anthony Gonzalez, sang M83 sendiri berterima kasih kepada crowd. Ia bahkan sampai bertutur "It's our first time here and we're so excited to play in front of such a huge crowd. We are having an out of body experience right now because of you". Dan sepertinya ia tidak berbohong. Ia ikut melompat dan berjalan kesana kemari diatas panggung, menggembala crowd yang sudah semakin liar dengan musiknya. Di akhir setnya, Gonzalez berteriak "you're the best... the best... the best" sembari beberapa kali membungkukkan badan-nya, berterima kasih kepada crowd. Ia pun melambaikan tangannya dan tersenyum riang, diikuti dengan suara synth yang perlahan padam. Malam indah ini berakhir dengan teriakan dan tepuk tangan yang membahana di seluruh venue. M83 menjalankan tugas mereka dengan brilian, bahkan bermain diatas ekspektasi siapapun disini. Sebuah klimaks yang bisa dibawa pulang dan tak akan habis diceritakan ulang.

Setelah M83 meninggalkan panggung, salah seorang dari event organizer festival ini naik panggung. dia terlihat sangat puas "We have toured Australia before coming here and the bands are thrilled to have played in Singapore. I think we might even go that far to say that Singapore is our favorite" kira-kira begitulah yang ia sampaikan, disambut dengan teriakan meriah seisi Fort Canning Park. Para organizer pun berjanji akan hadir lagi tahun depan dengan membawa performer-performer yang lebih gila lagi, baik dalam kualitas dan jumlah. Melihat apresiasi yang seperti ini, bisa jadi untuk tahun depan, Singapura akan menjadi sorotan terdahsyat tur Laneway Festival, dan tentu saja itu hal terbaik bagi kita mengingat budget yang tidak terlalu besar yang harus kita keluarkan dibandingkan ketika harus ke Australia.

Laneway Festival Singapore 2012 akan menjadi event tak terlupakan bagi pecinta musik indie di Asia Tenggara khususnya dari Indonesia. Setelah sekian lama hanya bisa bermimpi menghabiskan jutaan rupiah demi menyebrang benua hanya untuk menyaksikan festival musik berkualitas, akhirnya kita bisa mencicipi apa itu festival musik (lebih spesifik, festival musik dengan seleksi sangat indie, agar tidak menyinggung pihak tertentu) yang dipenuhi dengan penampil menawan dan crowd yang juga tidak kalah menawannya. Mungkin untuk sekarang. Laneway Festival hanyalah skala kecil dari Coachella, Lollapalooza, Fuji Rock, atau Summer Sonic. Namun aspirasi, semangat, dan atmosfir yang tercipta di Laneway tidak kalah hebat. Keramaian, lapangan rumput, penikmat yang sangat apresiatif, dan band-band yang bermain dengan tulus dan riang, Saya hanya bisa merasa iba dan minta maaf jika kemarin anda tidak disana (kalau memang tidak ada performer yang menarik bagi anda, itu urusan lain). Sampai jumpa tahun depan! Vive Le Indie Rock

15 Feb 2012
by Aris Setyawan - 
Published in Konser

Apa yang ada di pikiran anda ketika mendengar kata noise? Biasanya pikiran anda lantas akan menjabarkan noise sebagai sesuatu yang berisik dan terasa mengganggu. Noise adalah frekuensi-frekuensi bunyi yang dianggap terlalu tinggi sehingga tidak nyaman untuk didengarkan telinga manusia biasa. Itulah kenapa seringnya noise dianggap duri dalam daging oleh mereka yang berkecimpung di dunia musik. Noise sedapatnya dihindari, direduksi, bahkan kalau memungkinkan dihilangkan dari musik yang mereka komposisikan karena noise yang berlebihan akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pendengar musik.

Dalam rangka menghilangkan noise inilah kemudian muncul standar metode rekaman musik seperti yang ada sekarang, dengan menggunakan teknologi noise reduction seperti studio rekaman yang terisolir dari sumber bunyi lain dari luar. Atau penggunaan piranti lunak penghilang noise ketika terjadi proses mixing sebuah musik. Tidak dapat dipungkiri lagi kita sepertinya sepakat bahwa musik yang bagus adalah musik yang bebas noise, dan oleh karenanya noise harus dihilangkan dari musik.

Namun agaknya ada sedikit orang yang tidak setuju dengan pernyataan bahwa musik yang bagus adalah musik yang bebas noise. Mereka meyakini bahwa noise yang sebelumnya dianggap sebagai frekuensi mengganggu dan liar sebenarnya dapat juga dikatakan sebagai musik. Segelintir orang itu diantaranya adalah delapan orang musisi yang pada 10 Februari 2012 lalu menghadirkan keriuhan noise di lahan parkir sebuah distro di kawasan Demangan, Yogyakarta.

Dalam acara bertajuk Jogja Noise Bombing yang diadakan oleh areaxyz.com dan RKLB, delapan orang musisi ini berupaya menawarkan perspektif baru dalam memahami musik, sesuatu yang mereka percaya dan menjadi kredo mereka dalam aktivisme di ranah musik noise. Adalah Sodadosa, DJ MO)))DARA, Bangkai Angsa, Arpappel, To Die, Jurumeya, Mbak Mona, dan Control-Z yang pada malam itu menyajikan kebisingan komposisi noise, yang kemudian dimaknai sebagai bentuk musik oleh beberapa penikmat. Penonton malam itu memang tidak banyak, jumlah yang hadir dapat dihitung jari. Sementara itu di luar puluhan orang yang berkerumun mengelilingi panggung kecil, mereka yang berada di seberang jalan, atau berkendara di jalan depan distro dan memutuskan berhenti sejenak karena awalnya tertarik dengan keriuhan yang ada, praktis langsung menutup telinga dan segera beranjak pergi karena merasa terganggu oleh kebisingan desibel yang menyerang. Ekspresi mereka yang sekadar lewat atau berada di kawasan Demangan tapi tidak bermaksud menghadiri konser malam itu hampir sama, mengernyit jengah. Barangkali berpikir bagaimana mungkin kebisingan bunyi seperti itu dapat dikatakan sebagai sebuah musik? Hal yang memunculkan pertanyaan juga bagi kita semua, apakah noise dengan kebisingan bunyinya yang kadang tidak bernada itu dapat dikatakan sebagai musik?

Dekonstruksi Bunyi

Dekonstruksi adalah sebuah teori yang dikembangkan oleh filsuf asal Perancis Jacques Derrida. Pada awalnya, Derrida yang juga merupakan ahli lingustik menggunakan dekonstruksi untuk membedah makna dalam bahasa. Derrida beranggapan bahasa harusnya dapat dibedah, direkonstruksi ulang sesuai dengan keinginan orang yang menggunakan bahasa tersebut. Maka Derrida merumuskan sebuah teori yang difungsikannya untuk membedah bahasa tersebut. Lahirlah dekonstruksi, teori perombak yang akhirnya menjadikan Derrida sebagai perumusnya dihormati banyak pemikir setelahnya.

Pada perkembangannya, Derrida sama dengan beberapa ilmuwan sosial seperti Jean Claude Levi Strauss yang dicap sebagai post-strukturalis menyadari bahwa sesungguhnya bahasa adalah bagian dari fenomena sosial secara luas, maka teori-teori yang mereka temukan dalam upaya memahami bahasa ternyata dapat juga digunakan untuk membedah fenomena sosial budaya. Jika Levi Strauss lantas menggunakan Strukturalisme rekaannya untuk membedah berbagai fenomena sosial seperti permasalahan kekeluargaan, incest, hingga berbagai mitologi yang berkembang di masyarakat dunia. Maka Derrida juga mengimplementasikan teori Dekonstruksinya untuk membedah berbagai fenomena sosial.

Secara sederhana, dekonstruksi dapatlah dipahami sebagai sebuah cara baca yang sangat intoleran terhadap pembekuan dan pembakuan teks. Oleh karena itu, pembacaan dekonstruktif selalu mengejutkan, bahkan sering kali menjadi subversif. Mengapa? Ia membongkar-menembus kedalam teks, untuk menampilkan watak arbitrer dan ambigu-nya yang (senantiasa) terkubur oleh “kepentingan” penulis-pengucap teks itu.

Noise oleh karenanya adalah dekonstruktor yang mencoba meruntuhkan kemandegan dalam musik konvensional. Para pelakon musik noise meyakini bahwa eksperimentasi mereka adalah semacam pembangkangan terhadap kemapanan musik yang sejak sekian lama kita yakini dan dengarkan. Dengan konsep dekonstruksi inilah barangkali kita dapat mentahbiskan noise sebagai bentuk musik, karena dekonstruksi menolak terikat pada makna dan pakem yang ada sebelumnya, Dekonstruksi membedah lantas menawarkan makna baru. Sebelumnya musik boleh saja dikatakan sebagai nada-nada merdu, namun noise tiba-tiba muncul sebagai dekonstruktor yang menolak konsep itu, lalu menawarkan makna baru bahwa noise atau suara-suara bising adalah musik, sama seperti musik pada umumnya.

Dekonstruksi bunyi ini bukannya tanpa resiko. Makna baru yang ditawarkan dekonstruksi memang rawan mendapat kecaman karena sering dianggap tidak lazim. Seperti banyak orang di kawasan Demangan malam itu yang mengernyitkan dahi mendengarkan kebisingan yang bagi mereka hanya bunyi mengganggu, bukan musik. Para pemusik noise pasti sudah siap menanggung resiko tersebut, bagi mereka musik bukan hanya perkara mencari nada yang merdu dan pas, atau menimbulkan harmoni. Bagi pemusik noise yang lebih penting adalah eksplorasi atau pencarian kebisingan yang paling bising, mencoba mencari bunyi yang paling membuat telinga berdenging. Itulah makna musik bagi mereka.

Mendobrak Tradisi

Secara umum, ada standar tertentu yang menyatakan sebuah bunyi boleh dikatakan sebagai musik. Bunyi tersebut harus memiliki unsur nada/melodi, ritme, harmoni, dinamika, tempo, warna nada/timbre, dan bentuk. Karena itulah bunyi kentut atau alarm jam weker tidak dapat dikatakan sebagai musik karena bunyi tersebut tidak memiliki salah satu atau keseluruhan tujuh unsur diatas. Itulah mengapa musik-musik konvensional yang selama ini kita dengarkan terstruktur dan bernada indah, sebab musik itu harus patuh pada pakem tujuh unsur musik.

Sementara itu teruntuk musik noise, seperti yang dihadirkan malam itu di Jogja Noise Bombing, musik yang ditawarkan memang nyaris tidak bernada dan berstruktur. Beberapa malah mirip suara berisik distorsi saat radio statis tidak mendapatkan sinyal, kemresek, berisik. Kalaupun ada nada hadir bukanlah sebagai pokok utama musik, ia justru sebagai pelengkap untuk memunculkan atmosfer tertentu sesuai konsep sang musisi. Noise adalah bentuk pendobrakan tradisi, mendobrak tradisi musik konvensional. Mereka mengacuhkan sama sekali standarisasi a la tujuh unsur pembentuk musik. Noise menghilangkan dikotomi merdu-fals yang selama ini menimbulkan keyakinan musik yang bagus adalah merdu sedangkan fals adalah buruk. Karena noise memang tidak terikat dengan unsur melodis itu, noise lebih menekankan kepada eksplorasi berbagai bunyi bising, lalu menggabungkannya dalam sebuah kesatuan. Kadang noise yang timbul dari berbagai instrumen digiring menuju ritme tertentu yang membius. Kadang sang musisi menyelipkan sedikit nada sebagai pemuncul atmosfer.

Seperti Control Z yang malam itu membombardir pendengaran penonton dengan bunyi-bunyi bising, hasil pekerjaan Pandu Hidayat sang komposer yang mengotak-atik piranti-piranti musiknya dan sebuah Macbook. Namun dalam keriuhan noisenya Pandu menyelipkan nada melalui tiupan Saxophone dari seorang gadis manis bernama Annamira Sophia. Jangan diharap nada yang muncul dari saxophone tersebut akan merdu seperti dalam jazz atau musik klasik. Sebab output bunyi dari saxophone itu pun harus melalui proses pemberian efek terlebih dahulu sehingga bunyi yang muncul dari speaker bukanlah saxophone yang merdu, melainkan nada-nada menyeramkan seperti suara jeritan anak kecil. Kombinasi dari noise yang dibuat Pandu serta tiupan saxophone Sophia, ditambah visualisasi berbagai video dan gambar sadomasokis membuat penampilan Control Z malam itu sebagai presentasi estetis dari noise, musik yang mendekonstruksi bunyi dan mendobrak tradisi musik konvensional.

Pada akhirnya untuk mereka yang cukup “mengerti” Jogja Noise Bombing di Jum’at malam itu berhasil menimbulkan ekstase kebisingan. Dan terlalu naif memang jika kita berharap kelak akan hadir penonton yang lebih banyak dalam konser-konser musik noise, atau noise yang sebelumnya adalah musik tersegmentasi tiba-tiba mampu menjadi trend musik yang melaju menjajah ranah mainstream persis Grunge atau Punk yang awalnya juga adalah musik underdog. Karena kebisingan bunyi yang ditawarkan noise memang tak dapat ditolerir telinga kebanyakan awam hingga noise akan tersegmentasi pada pendengar tertentu. Tapi paling tidak Jogja Noise Bombing dan musik noise patut diapresiasi sebagai upaya dekonstruksi bunyi dan mendobrak tradisi musik. Agar kita paham bahwa selain musik konvensional yang kita dengar selama ini, di luar sana terdapat musik lain yang tidak kalah menarik dan menawarkan perspektif serta pemahaman baru.

02 Feb 2012
by Fakhri Zakaria - 
Published in Konser

 

Ratusan panggung sudah dicicipi mereka. Mulai dari Jakarta sampai Singapura. Tapi ada satu panggung yang tak pernah bisa dilupa. Panggung tersebut adalah Yogyakarta.

Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah tantangan untuk anda. Silahkan anda kumpulkan sepuluh orang rekan yang pernah kuliah di Yogyakarta. Lalu tanyakan pada mereka apakah mereka rindu dengan Yogya. Saya berani bertaruh sebagian besar akan sepakat dengan saya kalau Yogya memang candu.

Wahyu “Acum” Nugroho, J. Irwin Ardy, serta Dedyk Eryanto Nugroho adalah tiga orang yang juga mengalami adiksi terhadap Jogja. Mereka adalah potret dari anak-anak muda di negeri ini yang percaya Yogya adalah tempat yang tepat untuk membentuk masa muda mereka. Mereka datang dari Jakarta dan/atau wilayah suburbannya. Acum tumbuh besar di Depok, Dedyk menghabiskan masa remaja di Timur Jakarta tepatnya di Rawamangun, sedangkan Irwin datang dari Bekasi.

Acum mengaku jatuh cinta dengan Yogya saat berdarmawisata ketika duduk di bangku SMP. “Saya ke Yogya pertama kali tahun 1993, waktu darmawisata dan saya lihat semua orang bersepeda dan tertawa. It was so peaceful,” ujar Acum saat saya wawancara dalam suatu kesempatan. Sedangkan Dedyk ingin “membersihkan” reputasinya di Yogya. Maklum di Jakarta dia tercatat sebagai siswa SMAN 1 Jakarta. Publik lebih mengenalnya dengan sebutan SMA Boedoet, merujuk pada nama jalan yang menjadi alamat SMA yang jadi salah satu sumbu tawuran pelajar di Ibu Kota.

Dan Yogya kemudian menyediakan rumah dengan halaman bermain yang luas bagi mereka bertiga. Rumah itu bernama Bangkutaman, dibangun tahun 1999 dari pondasi bernama kesenangan dan gairah. Bersama Bangkutaman mereka merasakan euphoria saat-saat menjadi rembol (kere nggerombol). Rela dibayar gorengan untuk panggung pertama di kampus Universitas Sanata Dharma, kucing-kucingan dengan kondektur untuk tumpangan gratisan di kereta kelas ekonomi demi efisiensi biaya tur, juga agenda malam keakraban di pojok jalan Pajeksan, berbagi “air kedamaian” dengan para punker dan metalhead.

Dan sampai akhirnya waktu membuat mereka bertemu dengan realita di Ibu Kota. Muncul kegamangan apakah tetap di Yogya atau kembali ke Jakarta. “Banyak band di Yogya yang terbentuk saat personilnya kuliah di Yogya, tapi begitu lulus langsung bubar karena personilnya pulang,” terang Acum. Meski harus melalui proses panjang, Acum, Irwin dan Dedyk akhirnya punya kesamaan pikiran. “Terima kasih untuk Yogya yang mendidik kita. Terima kasih Jakarta yang membuat kita belajar arti hidup,” ujar Acum.

Saat mereka merilis album monumental Ode Buat Kota menjelang penghujung tahun 2010 lalu, pertanyaan pertama kali yang muncul di kepala saya adalah,” Kapan mereka main di Yogya?,”. Mereka harus pulang. Membagi cerita jibaku di Ibu Kota. Namun saya harus menunggu jawabannya satu tahun lebih sampai akhirnya sosok bernama Satria Ramadhan mengantarkan mereka untuk pulang. Satria Ramadhan dikenal sebagai die hard fans Bangkutaman.

Bersama Felix Dass, keduanya adalah sosok dibalik berkumpulnya kembali Acum, Irwin, dan Dedyk yang nyaris bubar jalan akibat konflik internal. Lewat bendera SRM, wadah yang juga menaungi Ballads Of The Cliché, Sore, L’Alphalpha, serta Leonardo, Satria mempersembahkan gelaran bertajuk Interconnection #1 pada 21 januari lalu sebagai momen pelepas rindu bagi Bangkutaman. “Momen yang pas untuk mereka kembali ya menciptakan gig yang seru buat para fansnya,” jelasnya.

Interconnection adalah rangkaian tur perdana dari musisi-musisi SRM. Dari Jakarta mereka menggunakan bus menuju Yogya, lalu keesokan harinya langsung ditanggap di Solo. Karena faktor kesehatan, Acum, Irwin dan Dedyk menggunakan pesawat terbang menuju Yogya. “Pasti jauh lebih nyaman ketimbang dulu saat harus naik kereta ekonomi ya?,” tanya saya. “Naik pesawat ibarat bonus dari kerja keras kita selama ini,. Kalo capek sih masih sama, tapi sekarang kami makin tua dan kompromis” kata Acum. “Sekarang umur nambah, sudah gak sanggup seperti dulu,” sambung Irwin. “Intinya kami tetap kerja keras. Dulu kami harus menyisihkan SPP sampai naik kereta ekonomi tiap tur. Sekarang kami butuh kru untuk menata panggung. Untuk itu kami akhirnya kembali dituntut untuk kerja keras,” terang Irwin panjang lebar. Saya bersyukur atas jawaban itu.

Untuk showcase di Jogja, SRM bekerjasama dengan Grass Root Management. Disana ada Adi “Gufi” Adriandi, sosok yang bertanggungjawab dibalik ramainya gig-gig berkualitas di Yogya. “Pokoknya malam ini temanya nostalgia. Songlist aku yang nyusun,” kata Gufi. Menurutnya dari dulu ada tawaran untuk membuat gig bagi Bangkutaman. “Tapi waktu itu masih ada konsentrasi ke urusan lain. Biaya produksi juga. Bikin pentas untuk lima band, dua band atau satu band kan sama. Waktu yang pas ya sekarang,” terang Gufi yang juga menjadi manager bagi pianis cum solois penuh talenta, Frau. Atas nama nostalgia pula, Gufi memaksa Dedyk untuk memakai kembali topi pancing ala Alan “Reni” Wren, drummer The Stone Roses. “Iya nih dipaksa-paksa, dicariin pinjeman,” kata Dedyk.

Venue yang dipilih juga sengaja ingin memutar rekaman lama Bangkutaman tentang Yogya, Purna Budaya. Purna Budaya adalah gedung kesenian di kompleks kampus Universitas Gadjah Mada. Setelah direnovasi namanya menjadi Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri untuk mengenang mantan rektor UGM Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri yang meninggal dunia pada kecelakaan pesawat udara di bandara Adi Sutjipto tahun 2007.

Purna Budaya terletak di dekat Boulevard UGM. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu public space yang makin menghilang di Yogya. Belakangan pihak kampus memberlakukan kebijakan portalisasi demi kemanan dan ketertiban lingkungan kampus yang membuat Boulevard tak lebih dari sekedar jalan kampus biasa. Di lokasi ini pertengahan tahun 1999, Acum sering menghabiskan waktu bermain skateboard dan nongkrong dengan kostum kebanggaanya. Kaos The Stone Roses. Disitulah dirinya bertemu Irwin setelah dikenalkan sahabatnya, Titok, yang ternyata teman sekampus Irwin.

Di UGM pula Dedyk didapuk berada dibalik drumset setelah Denny Prayugo, drummer Bangkutaman sebelumnya, mundur. Dedyk adalah orang yang paling aktif berjoget hingga moshing sementara penonton yang lain terdiam saat mereka pentas di pelataran Gelanggang Mahasiswa UGM. Dia juga termasuk salah seorang penggagas Common People, suatu kolektif yang berisikan orang-orang penikmat British Invasion. Saat Poster Café, kafe legendaris di Jakarta yang menelurkan nama-nama seperti Rumahsakit, tutup, beberapa “aktivis”nya menyebar. Dedyk adalah salah satu saksi hidupnya. Dia membawa semangat Poster ke Yogyakarta saat melanjutkan studi. Memang cukup aneh karena tiga orang ini sama sekali bukanlah alumni dari Kampus Biru. Acum adalah sarjana Biologi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Irwin lulusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma. Sementara Dedyk jebolan dari Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Tapi keberadaan Boulevard UGM sebagai ruang publik membuat perbedaan tadi lebur.

“Venue ini mengingatkan kita waktu merintis jadi musisi,” kata Irwin. “Yo jaman-jaman pacaran, puter-puter nggo vespa, jaman ijih mendem bareng-bareng (jaman masih pacaran, keliling kota pakai vespa, jaman masih suka mabuk bareng),” sambungnya.

Acum merasakan betul kepingan-kepingan masa lalu itu saat ia berjalan kaki dari Purna Budaya menuju studio radio Swaragama untuk wawancara. “Saya tadi lewat Gelanggang. Ada perasaan ingin menunjukkan ke penonton waktu nanti manggung. Ini rumah kita,” ujarnya. Bagi Acum, venue kali ini menyadarkan pentingnya ruang fisik yang mempunyai rekam sejarah. “Komunitas sekarang makin banyak tapi tidak punya site bersejarah untuk kumpul. Ini penting untuk menjadikan erat satu sama lain”.

Pertanyaan mengapa mereka begitu lama pulang ke Yogya masih saja terus mengusik saya. Pernah suatu ketika saya punya prasangka buruk. Mungkin mereka sudah dapat ketenaran di Jakarta, lalu sibuk dengan segala konsekuensi jadi idola baru, dan lalu lalu lainnya.

“Kenapa kalian bisa begitu lama untuk manggung di Yogya setelah rilis Ode Buat Kota,” pertanyaan yang langsung saya lontarkan saat menemui Irwin disela-sela sesi sound check. Acum dan Dedyk menyusul kemudian. Irwin menjawab setelah sebelumnya menyesap segelas kopi panas yang dibelinya dari angkringan dekat Purna budaya. Pria ini memang penggemar kopi kelas wahid. Lagu Coffe People terinspirasi dari pekerja-pekerja nocturnal yang baru “hidup” jika kopi sudah terhidang. Nama akun Twitternya pun mengambil judul lagu yang kental pengaruh Velvet Underground tersebut.

Main ning Yogya ki kudu tenanan (manggung di Yogya itu harus disiapkan dengan matang)”, jelas Irwin. Diakui Irwin, mereka panik saat mendapat kepastian manggung di Yogya. Karakter penonton yang berbeda membuat mereka harus menyiapkan gimmick khusus. “Penonton di Yogya itu yang mengerti Bangkutaman dari album pertama. Pasti mintanya lagu-lagu lawas,” jelasnya. “Teman-teman kita itu hidup di jaman album Love Among The Ruins dan Garage of The Soul,” tambah Dedyk.

Penantian yang amat panjang tentu saja dirasakan oleh para Rekan, sebutan bagi penggemar Bangkutaman. Di laman Facebook mereka selalu terselip pertanyaan kapan main di Yogya. “Sesabar apa kalian setiap mendengar pertanyaan itu?,” tanya saya. “Yah rasanya kayak kita nembak cewek tapi masih ngegantung,” jawab Acum sambil tertawa. “Kalo lihat dari sisi lain kenapa lama, kita ingin main dengan optimal. Nostalgia dapat, promo dapat. Menjaga supaya Yogya tetap spesial,” sambung Irwin.

Gelaran Interconnection malam itu kemudian menjadi tempat dimana kerinduan terlampiaskan. Felix Dass menyempatkan hadir, juga ada sosok-sosok lain yang tak saya kenal namun saya yakin mereka adalah penggemar Bangkutaman sejak jaman kiwari. Terbukti dari diteriakannya judul-judul lagu lawas seperti “Kabut” atau “Satelit”.

Baru saja panggung diset oleh kru penonton dengan teratur beringsut maju ke panggung setinggi tak lebih dari satu meter. Tak ada sekat sama sekali hingga saya bisa mengintip songlist malam itu. Benar. Dari sepuluh lagu, separuhnya lagu-lagu lama. Set seperti ini susah untuk ditemukan di gig Bangkutaman di kota lain. Semuanya untuk Yogya.

Pembukanya She Burns The Disco dari album B-sides Garage Of The Soul (EP) rilisan 2005, lalu dijeda Alusi yang terhitung anyar. Tanpa dikomando penonton melakukan crowd surfing, seakan mengulang ke masa-masa awal terbentuknya Bangkutaman saat showcase mereka rajin disambangi rekan-rekan punker yang meramaikan suasana lewat tari pogo, aksi moshing dan headbanging hingga crowd surfing. Saat jalan Pulang dimainkan, saya merasakan kerinduan antara Acum, Irwin, dan Dedyk dengan Yogya dan semua orang, yang besar oleh dan membesarkan Bangkutaman. Terlebih saat nomor akustik Solomon Song meluncur.

Saat Ode Buat Kota, yang sepertinya jadi penutup, Acum melepas bass-nya. Dia kemudian mengambil mikrofon dan menjadi instruktur dadakan untuk karaoke massal di Purna Budaya malam itu. Acum berjalan ke kanan dan kiri panggung. Meminta penonton bernyanyi lebih keras yang pastinya dibalas dengan suara terkeras. Dia lalu berjalan ke tengah kerumunan penonton, bersama-sama menyanyikan refrain khas na…na..na..na..na..na..na..na yang lahir dari Metromini 640 jurusan Pasar Minggu-Tanah Abang ini.

Dua encore menjadi bukti sahih bahwa malam itu adalah malam Bangkutaman. Kabut yang punya nilai historis karena dibuatkan videoklipnya oleh sosok yang dihormati Bangkutaman, Andri Lemes, vokalis band legendaris Rumah Sakit. Penutupnya adalah Satelit dari album Roby Garden rilisan tahun 2005. Lagu nan pekat arima psikadelik ini menjadi klimaks. “Di Jakarta kami jadi band nasional, tapi di Jogja kami betul-betul merasakan jadi band kesayangan,” ujar Irwin.

Masih dalam momen pulang kampung, Bangkutaman juga mengabarkan akan merilis ulang debut album penuh Love Among The Ruins yang dirilis sembilan tahun lalu. “Idenya dari Felix. Kita ingin penggemar sekarang tau kita berangkat dari apa,” terang Irwin. Lewat album re-issue tersebut mereka ingin menunjukkan bukan sekedar band kemarin sore. “Re-issue hal lumrah. Ini akan jadi jembatan untuk yang baru tau Bangkutaman dari album Ode Buat Kota,”. “Tapi bukankah album Ode Buat Kota adalah momen kedewasaan kalian dimana sebelumnya selalu dianggap sebagai The Stone Roses-esque ?” tanya saya. “Justru ditengah kedewasaan kita lewat album re-issue ini kita bisa tahu saat dulu masih kecil,” jawab Acum. “Secacat-cacatnya dan sejelek-jeleknya lagu tetep bakal dimasukin. Menandakan betapa tua dan berubahnya kita,” tambah Irwin.

Saya tiba-tiba teringat kata Romo Mangun, yang saya baca dari brosur produk kaos khas Yogya. Yogyakarta adalah ibu yang membesarkan anak-anaknya sampai mereka siap menghadapi tantangan dunia dan kelak membesarkan nama kota itu. Dan malam itu sang anak pulang untuk ibunya. Pulang untuk Yogya.

 

 

01 Feb 2012
Published in Konser

Ohlala, C’est Magnifique!

White Shoes & The Couples Company main di Perancis!

(Siaran Pers) Cannes, January 30, 2012 –

Benar! White Shoes & The Couples Company – sensasi indie pop sensation dari Jakarta, yang dipengaruhi oleh film-film Indonesian lama and legenda-legenda jazz lokal – akhirnya akan bisa dilihat dan didengarkan di Eropa! Mereka diundang oleh Music Services Asia untuk tampil di MIDEM 2012 Conference & Music Festival, acara tahunan yang diadakan di Cannes, Perancis. Grup enam orang ini, terbentuk di tahun 2002, sudah sering bermain di luar negeri. Sejak masuk label Minty Fresh Records (USA) untuk didistribusikan di Amerika Utara, Jepang dan Australia; White Shoes & The Couples Company telah keluar dari Asia dua kali di tahun 2008, untuk main di South By South West di Austin, Texas, termasuk gig di San Francisco, dan di CMJ Festival di New York, termasuk beberapa gig di Washington DC, Los Angeles, and San Francisco. Album baru mereka "Album Vakansi" juga telah dirilis di Jepang oleh desinee records pada Agustus 2011. Kali ini, selain main di festival di Cannes, tur ‘Tour de Europe’ akan menyertakan juga gig di Paris, dan Amsterdam.

Sementara itu, WSATCC juga sedang menyiapkan pameran fotografi dari album terakhir mereka ‘Album Vakansi’, yang akan diadakan di dia-lo-gue art space (Jakarta) pada tanggal 18 Februari, 2012. Pameran ini telah diselenggarakan juga selama tur promo mereka di kota-kota semacam Yogyakarta dan Surabaya. Karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini adalah foto-foto White Shoes & The Couples Company yang diambil oleh teman-teman anggota band; termasuk foto band resmi yang digunakan untuk publikasi dan promo, foto yang belum pernah diterbitkan maupun foto-foto snap-shot/documentari. Foto-foto yang diambil oleh anggota band selama tur, di panggung dan lucu-lucuan juga akan dipamerkan. Hanya dengan kedekatan dengan skena seni lokallah yang memungkinkan aktivitas tersebut bisa berjalan.

‘Album Vakansi’, juga akan dirilis oleh Minty Fresh Records dalam bentuk piringan hitam dan akan segera beredar di Indonesia.

*Saksikan White Shoes & The Couples Company’s di MIDEM 2012, pada 30 Januari, 2012, di Black Pearl di Cannes, Perancis.

http://www.midemfestival.com/white-shoes-and-the-couples-company/

http://musicservices.asia/612/msa-announces-the-music-services-asia-showcase-line-up-for-midem-2012/

www.whiteshoesandthecouplescompany.org

Jadwal Tur Eropa 2012

30 Jan/ MSA Night di MIDEM 2012 di Black Pearl

10 pm 22 rue Jean Macé, 06400 Cannes, France

1 Feb/ MSA night untuk MIDEM 2012 After Party at Bar Le Gambetta, Paris

9 pm 104 rue de Bagnolet, 75020 Paris, France

5 Feb / Toko MC , Amsterdam, The Netherlands

5 pm Polonceaukade 5, Amsterdam

 

WSATCC European Tour didukung oleh:

Music Services Asia

google.com

Departemen Pariwisata & Ekonomi Kreatif Republik Indonesia

Kedutaan Besar Republik Indonesia Paris

Toko MC

Majalah Cobra

demajors

ruangrupa

Kedai Tjikini

 

 

 

 

Page 1 of 4