Sebelumnya saya sempat berpikir bahwa menulis tentang musik, apapun itu, berarti selalu menulis tentang kebaruan. Kecuali jika dalam perayaan tertentu seperti 20 tahun album Loveless, atau 21 tahun album Nevermind. Namun saya segera menyadari bahwa musik goes beyond time and spaces. Jadi menurut saya tak ada istilah anakronis dalam musik. Lagipula di awal tahun seperti ini masih “terlalu pagi” untuk bicara musik bagus. Terkadang, berbicara tentang album lawas membantu kita menengok kebelakang dan berefleksi atas sesuatu
Salah satu album rock underrated yang lawas, tak banyak dibahas (bahkan oleh media sekaliber Rolling Stone dan Spin), namun sangat bernas adalah album Resurrection of Whiskey Foote milik The Hidden Hand yang dirilis pada 2007 lalu. Scott Weinrich – lebih dikenal sebagai Wino – adalah sosok yang mengotaki band ini. Wino bukan tipikal rock hit-maker macam Lemmy Kilminster. Namun ia memiliki karir panjang dan terhormat yang membuatnya cukup influential di kancah rock/metal (Dave Grohl mengajak Wino berkolaborasi di salah satu nomor milik Probot, "Emerald Law". Grohl juga mengaku menggemari Wino sejak dulu). Pendek kata, Ia tak pernah meleng dari garis yang telah ia tarik.
Robert Scott “Wino” Weinrich, seorang redneck gondrong asal Maryland, Amerika Serikat yang gemar membawa pisau lipat karatan di sakunya, tumbuh di dalam scene hardcore primitif di Washington D.C. Nama Wino berasal dari bahasa slang yang berarti homeless yang gemar mabuk. Dan memang, ia gemar mengkonsumsi meth kapanpun ia sempat.
Ia membentuk The Obsessed di akhir dekade 1970-an sebagai jawaban atas Sabbathian-style kala itu. Meski datang dari “golongan” berbeda, Ia menggemari band-band hardcore punk macam Faith, Void, serta Minor Threat dan sering bergaul di dalam scene itu. “The Obsessed sering bermain di gig hardcore,” katanya, “tapi kadang hanya sebagai bahan bercanda. Sering terjadi perselisihan tapi tak seorangpun berani macam-macam dengan saya.” The Obsessed sempat merilis EP ditahun 81 dan menyumbang satu lagu dalam kompilasi Metal Massacre 6 rilisan Metal Blade Records ditahun 1984 (Sebelum akhirnya reuni lagi dan menghasilkan album bagus macam Lunar Womb).
Saat kancah musik Amerika dikuasai The Big Four (Thrash/Speed metal takeover), The Obsessed bubar dan Wino pindah ke LA untuk menggantikan Scott Reager sebagai vokalis Saint Vitus – band proto doom metal asal Los Angeles kesayangan SST Records. Bersama Wino, Saint Vitus menghasilkan Thirsty and Miserable EP (daur ulang materi Black Flag) dan Born Too Late – dua karya yang memancangkan karir Saint Vitus dalam peta musik rock hingga hari ini.
Wino terkenal sebagai orang tak betahan dalam berkreasi. Tak berapa lama kemudian ia hengkang dari Saint Vitus (sebelum reuni lagi beberapa waktu lalu). Tercatat ia memiliki 6 band setelah Vitus: Spirit Caravan, Place of Skulls, The Obsessed, The Hidden Hand, Shrinebuilder, Premonition 13, serta beberapa proyek solo (salah satunya bersama Conny Ochs). Bila sukses komersil sering dijadikan parameter kesuksesan sebuah band/musisi, maaf, hal itu tak dapat jadi tolok ukur bagi Wino. Ia memang tak pernah merilis album yang meledak (kecuali dalam 2 album bersama Saint Vitus yang cukup membuatnya diakui), namun konsistensinya dalam kancah metal/hardrock membuatnya selalu disegani.
Wino, menurut saya, adalah inkarnasi sempurna dari seorang frontman dan gitaris. Ia layaknya seorang paman yang momong keponakannya yang masih kecil, duduk didepan perapian sambil memainkan dan mengajarinya bermain gitar dan bernyanyi lagu-lagu bluesy folk tentang tanah Mississippi. Dalam film dokumenter Such Hawks Such Hounds (2008) arahan sutradara Jessica Hundley dan John Srebalus, Wino tampil seperti sosok bijak dengan seorang istri dan putri, yang gemar berkebun di halaman rumahnya yang sederhana. Namun dibalik itu, terdapat kharisma dan kekuatan virtuoso yang bakal membuat John Mayer mempertanyakan skill gitarnya sendiri. Saya heran kenapa gitaris seperti Wino tak pernah masuk dalam daftar 100 dewa gitar milik Rolling Stone. Tapi tak mengapa, daftar itu sudah baheula dan kita dapat membuat daftar sendiri.
Wino dan Tembok Berlin
Titik kulminasi karir Wino adalah bersama The Hidden Hand – sebuah band blues rock/psikedelik yang disegani hingga skena doom metal. Album Resurrection of Whiskey Foote adalah album ketiga sekaligus album perpisahan dari mereka (sebelumnya mereka merilis Divine Propaganda dan Mother Teacher Destroyer). Album ini dirilis oleh Exile on Mainstream dari Jerman, Doomentia Records dari Czech Republic dan Southern Lord dari AS dimana versi vinyl-nya mendapat sentuhan lux dengan versi die-hard yang ciamik dan reguler.
The Hidden Hand dalam album Resurrection of Whiskey Foote tak banyak bereksperimen selain memakai elemen blues, rock, psikedelik, dan sedikit metal. Bersama Bruce Falkinberg (Bass) dan Evan Tanner (Drum), The Hidden Hand tak memerlukan sebuah one-hit wonder untuk menjadi besar. Lagu-lagu mereka cenderung meliuk-liuk, agak susah dicerna dan tak jarang bikin orang mengernyitkan dahi. Namun didalam album itu tersimpan energi spiritualitas besar dan refleksi seorang seniman (jika kita boleh menganggap Wino seorang seniman) atas hidupnya dan segala sesuatu disekitarnya.
Resurrection of Whiskey Foote memuat 10 nomor yang mengelaborasikan kekuatan blues, hardrock, dan southern rock yang ortodoks. Nomor “Lightning Hill” menunjukkan performa terbaik dari permainan gitar Wino yang mendominasi tiap jengkal lagu. Sementara track “The Lesson” memiliki kekuatan untuk menarik kita ber-sing along lewat verse-nya yang canggih. Album ini cenderung gelap, tapi jauh dari tendensi bunuh diri.
Salah satu bagian terpenting dan paling saya sukai (tentu dari semua album musik) adalah bagian liner notes yang ditulis oleh Andreas Kohl. Kohl dulunya adalah orang Jerman Timur (Republik Demokratik Jerman) yang menjalankan label Exile on Mainstream, tempat bernaung The Hidden Hand bersama seluruh album mereka.
Jerman kala itu memang terpisah oleh tembok Berlin yang didirikan pada 13 Agustus 1961 oleh pemerintahan Jerman Timur yang komunis dibawah pimpinan Walter Ulbricht. Tembok itu dibangun guna melindungi rakyatnya dari elemen fasis Jerman Barat (Republik Federal Jerman, sekutu NATO) yang dituding sebagai antek Amerika. Jerman Timur kala itu memang menjadi sekutu Pakta Warsawa, jadi dapat dibayangkan “dinginnya” perang hegemoni yang terjadi.
Tembok Berlin adalah simbol Perang Dingin yang menyebabkan ratusan orang tewas karena berusaha melarikan diri ke Jerman Barat. Dan seperti layaknya Korea Utara dan Selatan, baik Jerman Timur maupun Barat bersitegang dan saling mencegah segala bentuk hubungan budaya, sosial, ekonomi, maupun politik. Imbasnya, orang-orang Jerman Timur tak dapat memiliki akses memadai akan produk-produk budaya kala itu.
Andreas Kohl, seperti tertulis dalam liner notes itu, sangat menggemari Saint Vitus. Suatu hari ia membaca sebuah majalah musik asal Inggris yang sudah ia lupa namanya. Disitu terdapat sebuah ulasan tentang Saint Vitus yang dideskripsikan sebagai “band yang memainkan musik lebih pelan dari detak jantung manusia”. Ia sontak terkejut dan penasaran karena sebelumnya ia hanya mendengarkan band-band punk macam Hüsker Dü, Black Flag, MC5, hingga Fugazi dalam kaset bajakan. Ia mencoba menggali lebih dalam dengan bertanya pada teman-temannya, tapi yang ia dapatkan hanyalah “a big question mark materialized in bittersweet smile”. “Do you start liking metal after all?” tanya temannya. “God beware. No I didn’t.” Balasnya sedikit sengit. Ia hanya penasaran dan ingin menyaksikan band itu. Tapi negara tempat ia tumbuh dewasa tak mengizinkannya bersentuhan dengan kebudayaan macam itu.
Hingga suatu hari, di bulan November 1989, Pemerintah Jerman Timur mengizinkan warganya pergi “menyeberang tembok”. Tembok itu akhirnya runtuh sebagai hasil dari kerusuhan sipil sekaligus perubahan politik radikal di kawasan Blok Timur, yang berhubungan dengan liberalisasi sistem otoritas di Blok Timur dan juga mulai berkurangnya pengaruh Uni Soviet di negara-negara seperti Polandia dan Hungaria.
Pada tanggal 10 November 1989, bersama ribuan orang Jerman Timur, Andreas Kohl bersorak sorai di jalanan Jerman Barat. Ia langsung berfoto bersama motor Harley-Davidson layaknya orang dari udik. Setelah sibuk bersuka cita, ia kemudian mengantri sumbangan uang sebesar 100 Deutschemark dari pemerintah Jerman Barat sebagai ucapan selamat datang. Dengan uang itu, ia beranjak menuju department store diseberang jalan sana dan kebingungan: Ia tahu, uang sumbangan seperti itu harus dibelanjakan dengan cermat dan bijaksana karena tak ada uang sumbangan kedua. Dan tentu saja, seperti yang telah diduga, barang pertama yang ia beli dengan uang sumbangan itu adalah sarung tangan motor murahan dan LP Saint Vitus!
Persentuhannya dengan album LP itu juga awal cintanya pada band itu. Dan akhirnya dunia mulai menampakkan wujudnya bagi Andreas Kohl. Benda itu menjadi simbol kebebasan dan pintu gerbang menuju cakrawala luas yang menunggu untuk diarungi. Hubungan yang aneh ini melampaui panasnya suhu tembok yang memisahkan hegemoni blok barat dan timur.
Pada tahun-tahun berikutnya Andreas Kohl terjun dalam bisnis musik (entah apa) dan menjadi fan setia Saint Vitus dan The Obsessed. “My fandom went ballistic again when I received the note that Wino had a new band called Spirit Caravan.” Tulisnya. Dan Ketika Wino bersama Spirit Caravan tampil di di Berlin, tepatnya di Knaack Club, Kohl menjadi liaison officer dengan gugupnya. Saat itulah mereka kopi darat untuk pertama kalinya.
Tak berapa lama Ia mulai berkorespondensi dengan Wino dan menyempatkan diri untuk mengunjungi kediamannya di Brookeville, Maryland. Beberapa tahun kemudian ia mendapat kepercayaan untuk merilis album-album milik The Hidden Hand dan mengorganisir tur Eropa mereka. Andreas Kohl memang memiliki ikatan batin yang kuat dengan Wino. Hubungan antara Kohl dan Wino menjadi hubungan komersil – atau non-komersil - yang terbilang awet hingga saat ini.
Di tahun 2012 ini, Exile on Mainstream kembali merilis album kolaborasi Wino dan Conny Ochs bertajuk Heavy Kingdom – yang memasukkan cover song dari Townes Van Zandt. Conny Ochs sendiri adalah singer/songwriter yang sama-sama underrated. Namun, bukan karena senasib dalam hal underrated itu yang membuat mereka memutuskan berkolaborasi. Conny Ochs, menurut Wino, adalah songwriter yang powerful dan jujur. Keduanya pernah berkolaborasi di proyek solo milik Wino dalam album akustik Adrift pada 2010 lalu.
Membaca liner notes itu membuat saya jadi berpikir dan merenung. Banyak orang diluar sana – kini dan dulu - yang tak bisa mengakses musik-musik bagus karena kondisi geopolitik negaranya (seperti di Kuba selama embargo). Entah kita sadari atau tidak. Musik dengan semua gimmick dan artefaknya, dapat menjadi simbol kebebasan dan budaya. Ia melampaui semua aspek historis, sosial, politik, dan batas-batas negara. Hanya saja kita sering menganggapnya secara dangkal. Musik adalah bukti bahwa kita menghidupi hidup yang fana ini. Ia juga tanda bahwa pikiran kita belum beku.
Musik
