Fri05182012

Last update09:41:18 PM

  | Advanced Search
Back Home Musik Kanal Musik Klasik

Klasik (8)

09 May 2012
by Donny Anggoro - 
Published in Klasik

Entah kenapa tatkala tubuh sedang didera sakit flu dan terpaksa tinggal di rumah beberapa hari, pikiran saya melayang kembali pada album klasik grup dedengkot musik electronica Kraftwerk, “Electric Café”. Selain begitu riuh dan ramai membangkitkan imajinasi alam khayali, album kesembilan dedengkot dan pionir electronica ini buat saya selain membangkitkan kenangan masa lalu membuat saya bergairah kembali sehingga mulai meninggalkan kasur dan duduk depan komputer lagi untuk menulis.

Album klasik ini sempat merajai tangga lagu-lagu dansa dekade 1980-an yang hampir semuanya dikuasai musik dengan komposisi mengandalkan bebunyian program elektronik. Herbie Hancock (ah, bahkan seorang musisi jazz- kesohor pun pernah terkena demam musik ini!), Paul Hardcastle, Art of Noise, Jean Michel Jarre, Harold Faltemeyer dan juga pionirnya-Kraftwerk mengguncang dunia lewat album yang tak biasa-mulai dari komposisi bebunyian yang riuh, klipnya yang bernuansa “video-art” sampai desain sampul albumnya sendiri yang artistik, elegan, juga rada surealis (terutama album Jean Michel Jarre dan Art of Noise).

26 Apr 2012
by Anwar Holid - 
Published in Klasik

Mendengar keroncong selalu mengingatkan saya pada seorang paman yang tinggal di Tasikmalaya dan Kuningan. Dia punya cukup banyak kaset keroncong, bahkan ketika VCD sudah umum, dia juga tetap suka membeli kaset-kaset keroncong.

Meski kami beda selera, toh dulu setiap kali bertandang ke rumahnya saya tetap suka membuka-buka sleeve kaset atau VCD keroncong. Apa menariknya keroncong? Penyanyi perempuannya pakai kebaya, musisinya sering kelihatan sudah paruh baya, terkesan tidak dinamis. Yang juga suka membuat saya kurang terkesan ialah karena barangkali lagu-lagu "asli" keroncong cenderung statis, sebagian keroncong yang saya dengar adalah cover version dari lagu-lagu pop cengeng dekade 1980-an. Sudah bisa dibayangkan, jika liriknya susah untuk di dengar dalam waktu lama dan dengan irama keroncong apalagi! Tapi sisi baiknya minimal saya sudah dengar seperti apa musik Gesang, Sundari Sukotjo, Waldjinah, Toto Salmon, termasuk virtuositas Idris Sardi.

25 Apr 2012
Published in Klasik

PENGANTAR:

Sepuluh tahun lalu album Homicide pertama, "Godzkilla Necronometry" dirilis dalam dua bentuk; sebagai album dan sebagai bagian split dengan Balcony, grup hardcore dari Bandung juga. Album ini cukup penting bukan karena sebagai album Homicide pertama, tapi karena merubah tak hanya wajah hiphop lokal namun juga wajah musik Indonesia.

Untuk sekedar merayakannya kecil-kecilan, pengelola Facebook Unofficial Homicide telah menyelenggarakan sebuah lomba menulis essay retrospektif tentang album tersebut dengan hadiah yang juga sederhana. Setelah tiga bulan panitia menerima enam naskah tulisan. Setelah melalui seleksi tulisan di bawah ini yang dinyatakan sebagai pemenang.

Sebagai ilustrasi, review album ini juga dilengkapi dengan audio playlist yang bisa sambil didengarkan di link ini.



Oleh: A. Hidayat*

Tepat 10 tahun lalu Homicide merekam album "Godzkilla Necronometry" (yang selanjutnya saya sebut "Godzkilla" saja) yang kini telah menjadi cult dan dianggap sebagai album hiphop pertama yang tak hanya mempermak tapi merubah wajah hip-hop tanah air. Tak hanya secara musik namun juga, terutama, secara lirik dan bobot isi yang bisa selevel dengan apa yang dihasilkan Pantai Timur Amerika Serikat. Album ini dibuat saat Homicide masih dalam formasi terbaiknya; Sarkasz dan Morgue Vanguard sebagai duet MC maut dan DJ-E seorang Dee Jay muda debutan yang pada masa itu menjuarai DJ Battle nasional yang lalu dibetot Homicide menggantikan DJ terdahulu mereka Kiki.

16 Apr 2012
by Fakhri Zakaria - 
Published in Klasik

Sungguh menyenangkan tiap kali melihat musisi idola tampil. Entah itu sekadar membaca beritanya di surat kabar atau bahkan menyaksikan langsung saat konser. Tapi ada yang lebih menggairahkan lagi. Bahkan mengalahkan dari kegembiraan kala mendapat setlist bertanda tangan saat konser. Klimaks itu bernama reuni.

Apalagi yang ditunggu-tunggu seorang fans musisi yang karier musiknya sudah almarhum kalau bukan reuni? Melihat musisi idola kembali tampil adalah harapan terbesar seorang fans.  Dan saya punya lima musisi idola, semuanya lokal, yang saya nanti-nanti untuk reuni.

27 Mar 2012
by Donny Anggoro - 
Published in Klasik

Pengalaman sempat terlibat sebagai panitia mengelola salah satu pertunjukan musik classic rock dan progresif untuk skala musik indie sebetulnya selain menggembirakan lantaran akhirnya punya banyak teman yang hobinya serupa, ternyata juga sejenak membuat saya gelisah.

Apa pasal? Betapa saya tak gelisah, lantaran peminat musik ini di berbagai komunitas baik yang tersebar di jejaring sosial mulai dari jamannya mailing list (milis) ataupun Facebook juga Twitter rata-rata hampir semuanya yang saya kenal berusia 30-40 tahun ke atas. Lontaran “missing link” yang kerap dikeluhkan budayawan di setiap tulisan untuk generasi sekarang nyatanya terbukti.

Hal demikian seolah-olah menyiratkan kepada saya bahwa musik rock yang pantas diapresiasi lengkap dengan pelbagai variannya pun ikon-ikon fantastis yang tersebar mulai dari rock n’roll era The Beatles, Chuck Berry, The Rolling Stones, Andy Tielman, dan Elvis Presley, hard rock, psychedelic, blues, heavy metal, thrash metal, sampai punk dan grunge dalam pengalaman saya sendiri ternyata kurang melebar pada usia yang lebih muda sehingga kami walau dari segi usia belum terlalu “tua-tua amat” tapi bicara soal selera musik menurut amatan anak-anak muda sekarang mungkin kami para penikmat classic rock dan progresif sudah masuk kategori “jadul”.

Radio sebagai salah satu media penyebar musik yang cukup ampuh untuk di Jakarta sendiri (bahkan mungkin di daerah lain) sudah semakin jarang pada pertengahan tahun 2000-an, apalagi dengan ditutupnya radio M97 FM, satu-satunya radio scene Jakarta yang terang-terangan memproklamirkan diri sebagai radio classic rock. Seketika aktivitas mendengarkan musik di radio buat saya sudah tak menggairahkan lagi walau segmen pendengar radio ini cukup jelas seperti beberapa radio swasta lain misalnya Top FM (juga sekarang sudah tutup buku) yang mengkhususkan diri pada lagu-lagu klasik.

Konon salah satu alasan penyebab tutupnya radio dengan segmen pendengar tertentu macam Top FM dan M97FM walau masyarakat penggemarnya masih ada adalah sulitnya pemasukan iklan lantaran dari segi psikologis usia 30 tahun ke atas sudah sulit dicekoki produk barang merek-merek baru dibandingkan usia ABG, komentar salah seorang kawan yang sempat bekerja sebagai penyiar radio di salah satu grup radio Delta. (Hmm, apakah ini alasan yang dibuat pihak marketing yang selalu bertengkar dengan tim program/produksi? Bisa jadi…)

Pasca kematian M97FM, beberapa radio swasta di Jakarta sendiri perlahan mulai memasukkan musik classic rock dan progressive ke dalam jadwalnya, sebutlah Sonora, RPK, Kiss FM, atau Green Radio. Singkatnya tempat untuk classic rock tetap ada, tapi hanya sebagai selingan di salah satu acara pada hari-hari tertentu bukan menu utama lagi.

Tapi sayangnya meskipun masih ada rata-rata tak memuaskan karena lagu-lagu yang diputar adalah lagu-lagu standar itu-itu saja misalnya Bohemian Rhapsody (Queen), Smoke on The Water/Soldier of Fortune (Deep Purple), Wind of Change/Always Somewhere (Scorpions), Sweet Child O’ Mine (Guns N’Roses), Till’ Death Do Us Apart/When The Children Cry (White Lion), The Final Countdown (Europe), dan Stairway to Heaven (Led Zeppelin) sehingga membosankan saya. Buat saya ini tidak mengedukasi pendengar seolah “adagium” rock (n’ roll) is dead (meminjam salah satu judul lagu hits Lenny Kravitz) menjadi terbukti dengan hanya lagu-lagu tersebut yang tersering diputar!

Saya bukannya antipati dengan lagu-lagu rock “arus utama”, tapi, yang jelas bukankah sebenarnya sungguh teramat banyak lagu hits lain dari grup-grup tenar tersebut? Bukankah media radio itu sebenarnya akan lebih berguna jika berupaya mengenalkan lagu-lagu lainnya? Hal demikian menurut saya akibat minimnya pengetahuan yang disebabkan hanya lagu-lagu tersebut yang selalu dirilis ulang di pelbagai album kompilasi rock hingga kini.

Ketika mendengarkan lagu-lagu rock di radio maupun CD yang sudah tergolong “jadul” itu buat saya bukan semata membangkitkan memori tertentu saja tatkala era kaset dan CD masih berjaya dalam bisnis industri musik populer, melainkan banyak info yang bisa digali karena kehadiran media radio tersebut pada umumnya bisa memberi pengetahuan dan pelbagai sisi lain dalam scene musik rock yang pada masa keemasan beberapa musik-musik tersebut terlewatkan oleh saya. Selain kematian M97FM, pertunjukan-pertunjukan kecil di berbagai kafe yang mengkhususkan diri pada musik classic rock sehingga dapat diikuti jadwalnya sesuai waktu luang juga banyak yang tutup sehingga makin menyempitkan pendengarnya di generasi lebih muda.

Memang kondisi ini perlahan agak terobati dengan muncul inisiatif para penikmat sejatinya yang terus berupaya menyelenggarakan acara secara mandiri dengan misalnya menyelenggarakan pagelaran tribute scene indie, bahkan diantarnya sempat berhasil “membujuk” promotor musik lokal untuk berupaya mendatangkan beberapa grup-grup classic rock legendaris, misalnya pada tahun 2010 berhasil mendatangkan superstar ikonik heavy metal Iron Maiden, setelah sebelumnya ada Helloween, Megadeth dan sejumlah nama lain sampai terakhir kelak akan mendatangkan Dream Theater dan Yes.

Sejumlah pedagang CD,kaset sampai vinyl koleksi band dan penyanyi classic rock berbagai era pun merchandise eksklusif di berbagai distro pun bermunculan bahkan membentuk komunitas sendiri dengan basis fans yang cukup kuat. Nama-nama band lokal baru pun juga bermunculan, rata-rata berangkat dari kegelisahan yang sama: memantapkan jati diri sebagai penikmat musik rock sejati di tengah industri musik sekarang yang cenderung kurang bersahabat.

Teknologi internet dengan keberhasilan memunculkan kembali semangat individual dengan munculnya grup-grup di jejaring sosial banyak membantu dan seolah berhasil memberi kepercayaan kepada saya pribadi bahwa sejatinya memang rock tak pernah mati.

Tapi walau demikian saya pribadi masih resah lantaran musik rock di zaman kini seolah masih menjadi “mainan” kalangan tertentu yang sepertinya kurang berhasil menyebar virusnya ke kalangan yang lebih muda (usia 30 tahun ke bawah), walau sejatinya spirit musik rock adalah pemberontakan dan pendobrakan pada kemapanan dengan keberhasilan terakhirnya di era 1990-an tatkala melahirkan varian grunge dengan ikonik Nirvana, Pearl Jam Alice in Chains, dan Soundgarden yang buat saya adalah “penemuan terakhir” dalam sejarah musik rock. Buat saya grup-grup rock generasi baru macam Linkin Park, Limp Bizkit, Avenged Sevenfolds, My Chemical Romance, Evanescence, atau System of Down hanya berhasil meneruskan “blue print” musik rock yang sudah ada sebelumnya namun belum menawarkan semacam keindahan baru untuk saya sebagai penikmat musik.

Bahkan sepanjang pengamatan saya genre brass rock, salah satu varian yang cukup mumpuni  pada zamannya dan sempat dipopulerkan grup tenar Chicago sebelum ditangani David Foster menjadi lebih ngepop (bahkan punya pionir grup Chase yang beken pada tahun 1971), menurut pengamatan saya sendiri ternyata di zaman sekarang bisa dibilang sudah menjadi dinosaurus dengan tiadanya penerus (mungkin karena music ini cenderung sulit karena mengandalkan kepiawaian alat tiup).

Memang beberapa grup baru muncul dengan spirit rock sejati yang cukup berhasil dan menjaring fans tersendiri seperti Seringai, The Changcuters, Gugun Blues Shelter, Kotak, sampai Grib’s di samping munculnya grup-grup indie yang terfokus antara pada idealisme band tribute semata atau menciptakan karya baru, juga hadirnya kembali grup-grup lama macam Roxx atau Edane di panggung maupun rekaman. Namun tanda-tanda tersebut buat saya masih menggelisahkan lantaran usia personilnya rata-rata antara 30 tahun ke atas.

Berawal dari Kekecewaan

Tapi pada November 2011, kegelisahan saya agak terobati dengan munculnya d’Kill Band dari Malang. Konon grup ini sempat pentas di Score! Citos membawakan repertoire Genesis dan Rush. Saya mengetahuinya dari beberapa video penampilan mereka yang sempat disebarkan beberapa kawan dalam grup-grup diskusi progresif dan classic rock (Proclaro) di Facebook. Agak menyesal saya tak sempat datang menyaksikan sendiri di Score! Citos karena kesibukan sebagai wartawan lantaran penampilan mereka membawakan lagu-lagu Genesis yang rumit (misalnya Behind The Lines, Duchess, Do Do) menurut penilaian saya cukup baik.

Yang membuat saya tertarik walau grup ini relatif baru terbentuk, yaitu usia para personilnya rata-rata masih duduk di bangku SMA. Nama d’Kill saja buat saya juga lucu, mengingatkan pada grup musik bikinan tokoh karakter boneka Si Unyil era 1980-an. Semula saya menduga usia personilnya ya, paling-paling 30 tahunan ke atas lagi seperti yang sudah ada. Ternyata dugaan saya salah apalagi setelah melihat sendiri videonya dan mendengar kesaksian beberapa kawan dari grup Facebook Proclaro yang sempat menonton mereka waktu tampil di Jakarta.

Setelah mendengar beberapa kesaksian dan menonton video penampilan d’Kill yang disebarkan di Facebook dan YouTube rata-rata positif (bahkan ada kawan yang mengusulkan untuk mengirimkan video penampilan mereka ini ke manajemen asli Genesis karena terpesona), saya kemudian tergerak untuk mewawancarai mereka. Buat saya cukup penting karena musik ini toh nyatanya bisa dimainkan oleh generasi yang lebih muda dan menjadi semacam bukti konkrit bahwa musik ini ada penerusnya. Selain itu munculnya d’Kill memberi bukti bahwa keresahan para budayawan dan  sejarawan yaitu “missing link” yang terjadi pada generasi muda sekarang dengan sejarah yang kerap kali terjadi di berbagai aspek kehidupan, nyatanya berhasil dipatahkan.

Tapi karena keterbatasan info dan juga rutinitas waktu kerja yang tak memungkinkan saya pergi ke Malang, kota asal mereka, akhirnya saya berinisiatif melakukan interview via email saja untuk Jakartabeat. Facebook menjadi tempat kami bertemu pertama kali sehingga proses wawancara dapat dimulai. Wawancara untuk mereka saya bagi menjadi dua sesi, pertama, wawancara dengan tim produksi/manajemen, sedangkan yang kedua wawancara dengan para personil bandnya sendiri. Berikut wawancara sesi pertama saya dengan Yudhi dan Hengky (manajemen dan produser d’Kill) :

Apa ide dasar membentuk grup band yang memainkan lagu-lagu classic rock yang untuk anak-anak muda di zaman sekarang sudah dianggap ‘musik jadul’?

Ide dasarnya bermula dari kekecewaan kami terhadap musik yang ditampilkan oleh band-band jaman sekarang, di mana kualitas lagu-lagunya menurut saya tak lebih baik jika dibandingkan dengan lagu-lagu classic rock era 70, 80, dan 90-an, bahkan malah mungkin kalah kualitasnya. Skill bermusik  seadanya saja sudah cukup untuk masuk pasar. Mungkin banyak dari mereka mempunyai skill tinggi tapi karena tuntutan selera pasar, akhirnya skill mereka sama sekali tidak ditonjolkan.

Hal ini sangat berbeda dengan jaman era 80-an, dimana kita bisa menikmati karya-karya besar dari musisi hebat seperti misalnya untuk dalam negeri ada Godbless, Makara, Fariz RM, Dodo Zakaria, Jocky Suryoprayogo, Keenan Nasution dan Eros Djarot dengan Badai Pasti Berlalu-nya, dan lain-lain. Apalagi jika kita menengok musik manca negara seperti Genesis, Yes, Rush, Asia, Saga, Deep Purple, Marillion, Pink Floyd dll. makin ngeri Mas…. hehehe. Dan untuk mengasah skill musik personil kami, sudah jelas butuh lagu berkualitas tinggi (dan sesuai selera kami tentunya) untuk terus mengasah skill mereka.

Kapan terbentuknya, siapa penggagas/pendirinya dan bagaimana awal terbentuknya band ini?

Terbentuknya tanggal 23 Juli 2007, waktu itu ada acara Dies Natalis Unibraw (Universitas Brawijaya, Malang), kebetulan ditawari untuk tampil di acara tersebut oleh salah satu panitia yang juga kakak kandung saya, dosen Unibraw, dan juga adalah ayah dari keyboardist D’Kill. Waktu tawaran itu datang,  band belum terbentuk, padahal harus main besok pagi. Dan waktu itu Alif (gitar) yang juga anak sulung saya, saya minta untuk mencari temannya yang mau diajak ngeband. Syarat utama mereka yang mau serius belajar bukan yang udah pintar main alat musik. Mending cari yang serius meski mereka cuma bisa 3 jurus C-G-F tapi mau dibina beneran. Awalnya mereka cuma memainkan 3 lagu milik Peterpan, The Titans, dan Nidji. Malam itu juga mereka latihan tanpa alat band lengkap hanya dengan gitar bolong dan kendang jimbe saja.

Apa suka duka membentuk band ini? Apakah kalian mengadakan audisi dulu (mencari pemain lewat iklan) atau mendidik sendiri para personil band yang masih ada hubungan kekerabatan/keluarga?

Saat membentuk band ini sukanya mereka memang termasuk anak-anak pilihan dalam hal komitmen sehingga mudah diatur, semua orang tua mereka mendukung abiss, pihak sekolah juga mendukung karena rata-rata mereka berasal dari SMP yang sama (waktu itu mereka masih kelas 2 dan 1 SMP). Kalau dukanya hampir gak ada, cuma yang cukup melelahkan awal berdirinya dulu waktu mereka mau garap lagu baru aku yang ngajarin semuanya mulai dari gitar, bas, sama kibord. Jadi mereka antri untuk diajarin terus sembari mereka melancarkan sendiri-sendiri.

Sama kalo abis latihan karena biasanya sampai sore aku harus nganter mereka pulang satu-satu. Kalau waktunya latihan hujan gak jarang pula aku yang harus menjemput mereka satu per satu. Kebetulan latihannya di rumahku. Tapi semua kujalani dengan senang karena mereka serius belajar. Makanya sekarang semua kalau ke aku atau rumahku kayak ke bapak dan rumahnya sendiri.

Sering juga para orang tua kalau anaknya ada masalah dengan sekolah atau dengan yang lain selalu minta tolong aku untuk nasehatin. Karena nurut para orang tua anak anak itu takut dan mesti manut sama Oom Ngeh (nama panggilan saya Hengky atau “Ngeh”).

Tentang cara cari pemain nggak pernah lewat audisi. Ya, teman-temannya siapa yang mau dan harus komitmen, itu aja. Masalah skill bisa dipelajari lebih lanjut asal serius. Mengenai hubungan kekerabatan memang sebagian semua orang tuanya aku udah kenal duluan dan kebetulan anaknya berteman juga di SD dan SMP. Yang ada hubungan keluarga cuman Alif (gitar) itu anakku, sama Tata (keyboard) adalah keponakanku.

Apa kesulitan membina grup band ini?

Kesulitan yang berarti nggak ada, ya cuma dengan anak-anak ABG yang lagi senang main di luar sama ada yang mulai pacaran itu kadang mengganggu jadwal latihan juga. Tapi porsinya kecil aja

Nama d’Kill mengingatkan saya pada band musik dari film boneka Si Unyil era 1980-an, apa betul terinspirasi dari situ?

Nama d’Kill memang nama asal comot waktu itu, dan mungkin sedikit terinspirasi dari film Unyil juga. Ceritanya waktu mereka tampil pertama kali di Unibraw, band siap tampil tapi belum punya nama dan tidak terpikir harus ada namanya. Waktu ditanya sama MC nama bandnya anak-anak pada bingung, terus salah satunya lari turun nemui aku tanya nama bandnya apa? Aku juga bingung nggak kebayang kalo MCnya maksa harus ada namanya dan aku ngomong aja terserah kamu lah mo dikasih nama dekil atau apa aja, terserah. Mungkin ide itu muncul karena waktu itu anak-anak masih keliatan kecil dan culun banget. Akhirnya nama “dekil” itu yang disampaikan ke MC dan ternyata sampai sekarang kita sudah merasa nyaman dengan nama itu cuma penulisannya saja diubah menjadi d’Kill.

Mengapa memilih classic rock yang menurut awam sulit dimainkan (Genesis, Rush)?

Dalam konteks mengasah skill, kita tidak akan pernah mencapai level skill yang tinggi kalau hanya memainkan musik/lagu sederhana. Ada sedikit tambahan kira kira setelah 6 bulan d’Kill terbentuk setiap selesai latihan aku sering cerita ke mereka bahwa dulu di Malang ada tempat yang namanya GOR Pulosari itu sering diadakan konser musik band-band papan atas semacam Godbless, Elpamas, SAS dll. Yang aku tekankan kepada mereka bahwa apresiasi remaja Arema saat itu termasuk saya terhadap musik tersebut sangat tinggi. Jadi penonton di Malang sangat kritis dalam hal musik sampai terkenal dengan sebutan kota Malang sebagai salah satu barometer musik di Indonesia. Begitu mereka mulai tertarik aku mulai mengenalkan lagu-lagu  Godbless yang sangat terkenal seperti Semut Hitam, Rumah kita, Kehidupan dst, yang ternyata seiring dengan perkembangan mereka juga mulai mengagumi musisi era 1980-an.

Saat itu mulailah aku ajarin lagu-lagu Godbless dan sekarang sudah ada 20 lagu yang sudah dikuasai mulai yang sederhana sampai yang paling rumit dengan tingkat kemiripan mirip aslinya mungkin sekitar 99,9 %. Sampai-sampai pernah Mas Ian Antono dan Mas Iyek (Ahmad Albar) waktu mereka main di Malang minta diiringi d’Kill dengan alasan d’Kill sudah sangat familiar dengan lagunya Godbless. Setelah belajar lagu Godbless mereka kukenalin dengan Deep Purple, Asia, Saga, Yes, Rush, Genesis dan mereka makin jatuh cinta sama musik Art Rock atau Progresif Rock.

Salah satu ciri khas d’Kill dalam memilih lagu antara lain harus dari supergrup, lagunya sangat terkenal dan memiliki tingkat kesulitan tinggi.  (Note: d’Kill pernah jadi juara sebuah turnamen band dan dapat hadiah berkunjung ke Jakarta salah satunya ke rumah Mas Ian Antono. Dalam kesempatan itulah Mas Ian Antono mulai tau kualitas d’Kill dalam memainkan musik Godbless). Setelah menguasai lagu-lagu Godbless, baru saya perkenalkan Genesis, Rush, Saga, dan Yes ke mereka.

Dari sekolah mana saja yang direkrut dalam d’Kill? Masih satu sekolah SMA atau beda-beda sekolah?

Waktu berdiri, mereka dari SMPN 1 Malang. Sekarang mereka beda-beda sekolah (SMA). Bisa dilihat di akun fb nya d’Kill (http://www.facebook.com/profile.php?id=100002991990010)

Bagaimana mengatur jadwal latihan, manggung dan waktu belajar? Bukankah agak sulit karena masih di bangku SMA tak bisa manggung malam-malam (biasanya pertunjukan musik apalagi rock lebih banyak di malam hari) misalnya karena pagi-pagi harus sekolah?

Kalau untuk latihan hari Jumat dan Minggu. Karena hari lainnya mereka waktu pulangnya tidak sama. Ada yang jam 2 ada yang jam 16.30 belum lagi masih ada yang ikut les mata pelajaran. Kalau masalah manggung tidak masalah asal nggak di luar kota. Kita sering juga main di acara “Rock Legend” mainnya mulai jam 23.30 (biasanya antara 2 – 3 jam). Ya, disiasati, misalnya sore jam 7 anak-anak tidur dulu, terus jam 11 ketemu di TKP (tempat konser-pen).

Sudah manggung di mana saja? Kota mana yang paling apresiatif tanggapannya?

Manggung paling sering di Malang (pernah jadi band pembuka Cockpit, Edane, Godbless). Luar kota di Surabaya, Madiun, Jember, Jakarta dan Bandung. Respon paling luar biasa adalah ketika tampil Jakarta (Score! Citos, 2 November 2011) dan Madiun. Waktu di Score! Jakarta d’Kill main tunggal selama 3 jam non stop (26 lagu), di mana waktu itu kita udah selesai semua sedangkan lagu di rundown acara udah abis, tapi penonton masih teriak-teriak minta tambah lagu. Akhirnya kita tambah beberapa lagu yang sebenarnya tidak kami rencanakan untuk ditampilkan di Jakarta karena keterbatasan waktu. Lagu-lagu tambahan tersebut antara lain Spirit of The Radio (Rush), Burn (Deep Purple), Highway Star (Deep Purple), Jump (Van Halen), Enter Sandman (Metallica).

Apa cara yang ditempuh ketika mengenalkan band-band classic rock pada mereka?

Memang sulit untuk mengenalkan musik progresif ke anak SMA, awalnya ya pendekatan persuasif ke mereka, kami bilang kalo belajar sesuatu jangan tanggung-tanggung, belajarlah sampai level paling sulit menurut mereka, dan jika kalian bisa menguasai lagu-lagu progresif rock seperti lagu-lagunya Genesis misalnya, skill mereka akan cepat meningkat dan setelah itu jika akan menbawakan lagu-lagu sederhana akan jadi makanan ringan buat mereka. Dan cara lain awalnya disisipkan beberapa lagu yang tidak terlalu sukar tapi manis semacam Follow You Follow Me, Turn it on Again-nya Genesis, atau Semut Hitam dan Rumah Kita-nya Godbless. Akhirnya mereka lama-lama menyukai dan menikmati lagu progresif rock. Memang segmen kita adalah penikmat musik usia 35 ke atas yang benar-benar pernah merasakan dahsyatnya musik era 80-an.

Mengapa manajemen band memilih anak-anak muda yang masih bersekolah tingkat SMA bukan tingkat mahasiswa sebagai personil? Bukankah repertoar macam Genesis atau Rush agak sulit buat anak-anak muda setingkat SMA di zaman sekarang yang musiknya lebih sederhana?

Mungkin karena kebetulan saja anakku waktu itu masih SMP, dan anak kecil lebih mudah diatur kayaknya. Tapi karena sudah terbiasa dicekoki lagu sulit, lama-lama mereka terbiasa juga.

Setelah manggung di beberapa tempat apa reaksi dari anak-anak muda seumuran mereka?

Mereka rata-rata kagum, meskipun sebenarnya tidak tau persis lagunya. Apalagi setelah nama d’Kill mulai sering terpampang di sejumlah media lokal Malang, spanduk, baliho dan komentar-komentar di FB dari orang Jakarta, Surabaya, Bandung dan kota besar lainnya.

Apa rencana ke depan dengan d’Kill? Ingin membuat album dengan lagu-lagu sendiri atau konsisten menjadi band panggung saja?

Ke depannya  pasti kepingin bikin album sendiri dan warna musiknya tidak jauh dari musik yang sekarang dimainkan d’Kill. Kami juga pengen bikin lagu sendiri yang berkualitas... jadi tidak selamanya bawain lagu orang terus, meskipun kami sangat mengidolakan Genesis, Rush, Marillion dsb.  Lagu-lagu kami nanti pasti juga akan bernuansa progressive rock atau art rock... cuma mungkin kadar art rocknya tak sebanyak Genesis dan akan kami masukkan unsur / nuansa sweet rock nya di tiap lagu, yang kira-kira bisa menjual dan masuk ke penikmat musik jaman sekarang. Cuma untuk sementara ini mungkin mereka biar jadi band panggung dulu sambil mengasah jam terbang dan menyelesaikan sekolah.

 

 

d’Kill : “Ini Musik Cerdas, Bro!”

 

Meski masih belia, mereka terus mengasah dan memantapkan diri di dunia musik, bahkan diantaranya ada yang sudah berikhtiar “music never die” dan “music not war”. Pergantian personil pun mereka alami pula. Berikut wawancara dengan para personil d’Kill formasi kedua. Mereka adalah Ibnu Widanta (Tata, kibor), Buyung Laga Pradiawan (Laga, vokal & drum), Ibnu Rizqi Alifianto, (Alif, gitar), Brilliantara Raga Rosandy (Raga, drum) dan Muh. Ananta Zulvi Septiansyah (Ian, bass).

Bagaimana ceritanya bisa bergabung dengan d’Kill?

Tata: Awalnya diajak sama Oom saya (Oom Hengky) yang anaknya sekarang main gitar juga suka memainkan musik, akhirnya saya ngeband sama d’Kill.

Laga: Berawal dari pertemanan dengan si Tata.

Alif: Waktu itu saya nge-band dengan Tata, iseng-iseng aja awalnya, eh ternyata asyik juga… akhirnya kita terusin.

Raga: Saya ditawarin masuk d’Kill sama Papanya Tata, untuk menggantikan Arya yang keluar. Awalnya bingung mau terima apa enggak. Soalnya d’Kill aliran musiknya susah. Tapi demi banggain Papaku, ya ikut ajalah. Eh, lama kelamaan enjoy juga disini. Hehe.

Ian: Berawal dari ajakan si gitaris, Alif.

Sulitkah memainkan musik classic rock dibandingkan memainkan musik yang sedang populer sekarang?

Tata: Ya, pastinya lebih sulit daripada memainkan musik yang populer sekarang.

Laga: Pada awalnya, aku secara pribadi agak kesulitan. Lama kelamaan, semakin berjalannya waktu dan bertambahnya skill menjadi lebih mudah.

Alif: Jauh lebih susah main classic rock.

Raga: Jelas susah. Tapi lama-lama enak juga.

Ian: Sulitnya sama, kerumitannya yang berbeda.

Butuh waktu berapa lama untuk mempelajari lagu-lagu yang terbilang rumit (misalnya YXZ, Behind The Lines, Tom Sawyer)?

Tata: Tergantung mood pada saat mempelajari lagu tersebut.

Laga: Kadang-kadang cepat. Cuma, pas kalo lagunya agak sulit agak lama.

Alif: Ya, kadang cepat, kadang juga lama. Soalnya semua punya kesulitan sendiri sendiri.

Raga: Tergantung niat sih.

Ian: Kalau sedang seger-segernya pikiran, paling bisa 3 hari. Tapi normalnya mungkin sekitar 1 -2 minggu.

Siapa yang mengenalkan pertama kali pada musik-musik classic rock?

Tata: Dari Oom Hengky, melalui cd, mp3 dan video.

Laga: Yang pasti dari Oom Ngeh sekaligus manajer d’Kill.

Alif: Yang pasti dari bapak saya. Awalnya dari mp3.

Raga: Yang pasti ya dari d’Kill, terutama manajernya lewat cd, mp3, You Tube.

Ian: Oom Ngeh, lewat MP3 dan video You Tube.

Apakah selain mempelajari lagu juga ada keinginan mempelajari aksi panggungnya (band classic rock)?

Tata: Iya, agar bisa lebih mirip dengan aslinya. Walaupun tidak harus persis-persis amat.

Laga: Itu pasti, di samping kita menambah skill aksi panggung, ada tambahan untuk menghidupkan suasana seperti band aslinya.

Alif: Kalau aku pribadi ada sih keinginan kayak gitu.

Raga: Iya. Biar ada gregetnya kalau bawain lagu band aslinya.

Ian: Keinginan itu selalu ada.

Sekiranya ada kesempatan ber-jam session atau kolaborasi dengan band classic rock ingin bermain dengan siapa? Band asing atau band lokal?

Tata: Band asing Genesis, kalau band lokal ya Godbless, atau Cockpit.

Laga: Untuk band lokal Godbless, Cockpit, Elpamas. Kalau luar negeri Genesis, Toto, Mr. Big, dan Dream Theater.

Alif: Kami pernah main bareng sama Oom Ian (Ian Antono) dan Oom Iyek (Ahmad Albar). Pernah juga jadi band pembuka Cockpit dan Edane.

Raga: Band lokal Godbless. Band asing ya, Genesis.

Ian: Band lokal Godbless, band asing Rush, Guns n’ Roses dan Genesis.

Selain memainkan lagu-lagu classic rock asing apa ada keinginan memainkan lagu-lagu classic rock Indonesia?

Tata: Ya pasti ada. Karena band classic rock lokal pun gak kalah bagus juga dengan yang luar negeri.

Laga: Awal kami ngeband bawain lagu-lagu dari Godbless, jadi kami juga pernah garap.

Alif: Ada.

Raga: Jelas. Godbless nggak kalah juga sama yang lain. Malah lebih ‘laki’. Hahahahaha…

Ian: Ada.

Sebenarnya band dan penyanyi favorit kamu siapa?

Tata: Classic rock asing Van Halen,Europe, lokalnya Godbless. Band sekarang asing Bon Jovi, lokal D’Masiv, Gigi, Ungu. Kalau pemusik saya suka John Petrucci (Dream Theater), kalau penyanyi vokalisnya Guns n’ Roses.

Laga: Buat yang asing aku suka Phill Cholins, Avenged Sevenfold, Trivium, Dream Theater, Mr. Big. Kalau yang Indo Power Metal dan Godbless.

Alif: Classic rock Godbless sama Genesis. Kalau band sekarang Avenged Sevenfold sama Dewa, juga Phil Collins dan Ian Antono.

Raga: Classic rock asing Genesis, lokalnya: Godbless. Kalau  band sekarang asing Blink182, The Devil Wears Prada, kalau lokalnya Peterpan, juga Phil Collins dan Axl Rose.

Ian: Classic rock Metallica, Guns n’ Roses, Aerosmith, Queen. Band sekarang Avenged Sevenfold, Muse, Red Hot Chili Peppers, Dream Theater. Juga  Geedy Lee (Rush), dan Phil Collins.

Sudah berapa lama mempelajari musik?

Tata: Sudah sekitar 6 tahunan.

Laga: Aku belajar musik sejak TK . Kelas 3 SD aku mulai mengenal musik sampai sekarang.

Alif: Saya belajar gitar sudah 5 tahunan.

Raga: Belajar main musik, tepatnya drum sudah mulai kelas 1 SD.

Ian: Dari SMP kelas 2 sampai sekarang.

Mengapa memilih musik rock? Bukankah kalau tanggapan awam musik rock tergolong lebih sulit dibandingkan pop atau dangdut karena selain mengandalkan skill juga butuh banyak energi (stamina)?

Tata: Ya, justru itu yang saya suka, kalau musik pop  jaman sekarang tantangannya kurang. Sedangkan rock lebih memiliki skill yang lebih tinggi di bandingkan  pop.

Laga: Music rock adalah jiwa para anak muda yang sedang membara. Jadi semangat kita untuk berkarya lebih membara.

Alif: Karena menurut saya musik rock lebih memacu adrenalin.

Raga: Karena saya pikir musik rock lebih ‘laki’.

Ian: Ya, karena skill dan energiknya itu.

Kalian nggak canggung dibilang memainkan musik classic rock yang dianggap jadul? Seandainya ada yang meledek kalian hanya mampu memainkan musik jadul, kuno, dan gak modern, apa tanggapan kalian?

Tata: Nggak ya, saya malah senang bisa memainkan lagu lama yang susah tapi enak didengar.

Laga: 1 kalimat buat orang yang bilang jadul, “Kita memilih musik cerdas”.

Alif: Ya saya cuma bisa jawab “kita memainkan musik cerdas bro“ hehehehe ...

Raga: Ya, bilang aja “emang bisa main musik kayak kita ?”

Ian: Kami menganggap musik tak kenal waktu, toh yang jadul itu adalah inspirasi musisi masa kini, kenapa harus canggung?

Apa motivasi kalian bermusik?

Tata: Saya bermotivasi akan berkarier dan menjadikan musik sebagai jalan hidup saya.

Laga: Motivasi untuk bermain musik adalah, “music never die”.

Alif: Berkarya. Itu saja.

Raga: Make music not war.

Ian: Musik bagiku menjadi tujuan hidup dan cita-cita, karena bidang yang menonjol, melekat dan yang kusenangi ya musik.

Apakah kalian punya pola hanya memainkan satu band tertentu saja seperti zaman dulu ketika era classic rock sedang berjaya, misalnya Cockpit khusus memainkan Genesis, Punk Modern Band khusus Rush, atau Rudal memainkan Judas Priest?

Tata: Nggak, saya berniat bisa membuat karya bagus yang bisa diterima masyarakat.

Laga: Saat ini kami menekuni Genesis.

Alif: Kami campuran. Mulai dari Saga, Yes, Rush, Marillion, dan Genesis. Kalau kami khususnya ada di jalur progressive rock / art rock kayak contoh band barusan.

Raga: Semuanya oke.

Ian: Inginnya banyak band.

Kalau ditawari rekaman bikin album apakah mau tetap memainkan classic rock atau memainkan musik lainnya?

Tata: Akan saya gabungkan, ya. Jadi lagu yang mudah diterima masyarakat dan juga memiliki skill yang nggak kalah tinggi juga. Sehingga mencakup semua kalangan.

Laga: Kita akan kombinasikan antara “selera pasar/musik sekarang” dengan musik progresive/classic rock.

Alif:  Ya, kalau bisa kita bikin karya sendiri. Tapi tetap kami mengusung musik cerdas.

Raga: Kalau bisa ya, classic rock, tentunya  yang bisa diterima masyarakat juga.

Ian: Dikombinasikan, tetap classic rock namun berbumbu modern.*

 

 

 

 

 

 

 

 

04 Feb 2012
by Adi Renaldi - 
Published in Klasik

Sebelumnya saya sempat berpikir bahwa menulis tentang musik, apapun itu, berarti selalu menulis tentang kebaruan. Kecuali jika dalam perayaan tertentu seperti 20 tahun album Loveless, atau 21 tahun album Nevermind. Namun saya segera menyadari bahwa musik goes beyond time and spaces. Jadi menurut saya tak ada istilah anakronis dalam musik. Lagipula di awal tahun seperti ini masih “terlalu pagi” untuk bicara musik bagus. Terkadang, berbicara tentang album lawas membantu kita menengok kebelakang dan berefleksi atas sesuatu

Salah satu album rock underrated yang lawas, tak banyak dibahas (bahkan oleh media sekaliber Rolling Stone dan Spin), namun sangat bernas adalah album Resurrection of Whiskey Foote milik The Hidden Hand yang dirilis pada 2007 lalu. Scott Weinrich – lebih dikenal sebagai Wino – adalah sosok yang mengotaki band ini. Wino bukan tipikal rock hit-maker macam Lemmy Kilminster. Namun ia memiliki karir panjang dan terhormat yang membuatnya cukup influential di kancah rock/metal (Dave Grohl mengajak Wino berkolaborasi di salah satu nomor milik Probot, "Emerald Law". Grohl juga mengaku menggemari Wino sejak dulu). Pendek kata, Ia tak pernah meleng dari garis yang telah ia tarik.

Robert Scott “Wino” Weinrich, seorang redneck gondrong asal Maryland, Amerika Serikat yang gemar membawa pisau lipat karatan di sakunya, tumbuh di dalam scene hardcore primitif di Washington D.C. Nama Wino berasal dari bahasa slang yang berarti homeless yang gemar mabuk. Dan memang, ia gemar mengkonsumsi meth kapanpun ia sempat.

Ia membentuk The Obsessed di akhir dekade 1970-an sebagai jawaban atas Sabbathian-style kala itu. Meski datang dari “golongan” berbeda, Ia menggemari band-band hardcore punk macam Faith, Void, serta Minor Threat dan sering bergaul di dalam scene itu. “The Obsessed sering bermain di gig hardcore,” katanya, “tapi kadang hanya sebagai bahan bercanda. Sering terjadi perselisihan tapi tak seorangpun berani macam-macam dengan saya.” The Obsessed sempat merilis EP ditahun 81 dan menyumbang satu lagu dalam kompilasi Metal Massacre 6 rilisan Metal Blade Records ditahun 1984 (Sebelum akhirnya reuni lagi dan menghasilkan album bagus macam Lunar Womb).

Saat kancah musik Amerika dikuasai The Big Four (Thrash/Speed metal takeover), The Obsessed bubar dan Wino pindah ke LA untuk menggantikan Scott Reager sebagai vokalis Saint Vitus – band proto doom metal asal Los Angeles kesayangan SST Records. Bersama Wino, Saint Vitus menghasilkan Thirsty and Miserable EP (daur ulang materi Black Flag) dan Born Too Late – dua karya yang memancangkan karir Saint Vitus dalam peta musik rock hingga hari ini.

Wino terkenal sebagai orang tak betahan dalam berkreasi. Tak berapa lama kemudian ia hengkang dari Saint Vitus (sebelum reuni lagi beberapa waktu lalu). Tercatat ia memiliki 6 band setelah Vitus: Spirit Caravan, Place of Skulls, The Obsessed, The Hidden Hand, Shrinebuilder, Premonition 13, serta beberapa proyek solo (salah satunya bersama Conny Ochs). Bila sukses komersil sering dijadikan parameter kesuksesan sebuah band/musisi, maaf, hal itu tak dapat jadi tolok ukur bagi Wino. Ia memang tak pernah merilis album yang meledak (kecuali dalam 2 album bersama Saint Vitus yang cukup membuatnya diakui), namun konsistensinya dalam kancah metal/hardrock membuatnya selalu disegani.

Wino, menurut saya, adalah inkarnasi sempurna dari seorang frontman dan gitaris. Ia layaknya seorang paman yang momong keponakannya yang masih kecil, duduk didepan perapian sambil memainkan dan mengajarinya bermain gitar dan bernyanyi lagu-lagu bluesy folk tentang tanah Mississippi. Dalam film dokumenter Such Hawks Such Hounds (2008) arahan sutradara Jessica Hundley dan John Srebalus, Wino tampil seperti sosok bijak dengan seorang istri dan putri, yang gemar berkebun di halaman rumahnya yang sederhana. Namun dibalik itu, terdapat kharisma dan kekuatan virtuoso yang bakal membuat John Mayer mempertanyakan skill gitarnya sendiri. Saya heran kenapa gitaris seperti Wino tak pernah masuk dalam daftar 100 dewa gitar milik Rolling Stone. Tapi tak mengapa, daftar itu sudah baheula dan kita dapat membuat daftar sendiri.

Wino dan Tembok Berlin

Titik kulminasi karir Wino adalah bersama The Hidden Hand – sebuah band blues rock/psikedelik yang disegani hingga skena doom metal. Album Resurrection of Whiskey Foote adalah album ketiga sekaligus album perpisahan dari mereka (sebelumnya mereka merilis Divine Propaganda dan Mother Teacher Destroyer). Album ini dirilis oleh Exile on Mainstream dari Jerman, Doomentia Records dari Czech Republic dan Southern Lord dari AS dimana versi vinyl-nya mendapat sentuhan lux dengan versi die-hard yang ciamik dan reguler.

The Hidden Hand dalam album Resurrection of Whiskey Foote tak banyak bereksperimen selain memakai elemen blues, rock, psikedelik, dan sedikit metal. Bersama Bruce Falkinberg (Bass) dan Evan Tanner (Drum), The Hidden Hand tak memerlukan sebuah one-hit wonder untuk menjadi besar. Lagu-lagu mereka cenderung meliuk-liuk, agak susah dicerna dan tak jarang bikin orang mengernyitkan dahi. Namun didalam album itu tersimpan energi spiritualitas besar dan refleksi seorang seniman (jika kita boleh menganggap Wino seorang seniman) atas hidupnya dan segala sesuatu disekitarnya.

Resurrection of Whiskey Foote memuat 10 nomor yang mengelaborasikan kekuatan blues, hardrock, dan southern rock yang ortodoks. Nomor “Lightning Hill” menunjukkan performa terbaik dari permainan gitar Wino yang mendominasi tiap jengkal lagu. Sementara track “The Lesson” memiliki kekuatan untuk menarik kita ber-sing along lewat verse-nya yang canggih. Album ini cenderung gelap, tapi jauh dari tendensi bunuh diri.

Salah satu bagian terpenting dan paling saya sukai (tentu dari semua album musik) adalah bagian liner notes yang ditulis oleh Andreas Kohl. Kohl dulunya adalah orang Jerman Timur (Republik Demokratik Jerman) yang menjalankan label Exile on Mainstream, tempat bernaung The Hidden Hand bersama seluruh album mereka.

Jerman kala itu memang terpisah oleh tembok Berlin yang didirikan pada 13 Agustus 1961 oleh pemerintahan Jerman Timur yang komunis dibawah pimpinan Walter Ulbricht. Tembok itu dibangun guna melindungi rakyatnya dari elemen fasis Jerman Barat (Republik Federal Jerman, sekutu NATO) yang dituding sebagai antek Amerika. Jerman Timur kala itu memang menjadi sekutu Pakta Warsawa, jadi dapat dibayangkan “dinginnya” perang hegemoni yang terjadi.

Tembok Berlin adalah simbol Perang Dingin yang menyebabkan ratusan orang tewas karena berusaha melarikan diri ke Jerman Barat. Dan seperti layaknya Korea Utara dan Selatan, baik Jerman Timur maupun Barat bersitegang dan saling mencegah segala bentuk hubungan budaya, sosial, ekonomi, maupun politik. Imbasnya, orang-orang Jerman Timur tak dapat memiliki akses memadai akan produk-produk budaya kala itu.

Andreas Kohl, seperti tertulis dalam liner notes itu, sangat menggemari Saint Vitus. Suatu hari ia membaca sebuah majalah musik asal Inggris yang sudah ia lupa namanya. Disitu terdapat sebuah ulasan tentang Saint Vitus yang dideskripsikan sebagai “band yang memainkan musik lebih pelan dari detak jantung manusia”. Ia sontak terkejut dan penasaran karena sebelumnya ia hanya mendengarkan band-band punk macam Hüsker Dü, Black Flag, MC5, hingga Fugazi dalam kaset bajakan. Ia mencoba menggali lebih dalam dengan bertanya pada teman-temannya, tapi yang ia dapatkan hanyalah “a big question mark materialized in bittersweet smile”. “Do you start liking metal after all?” tanya temannya. “God beware. No I didn’t.” Balasnya sedikit sengit. Ia hanya penasaran dan ingin menyaksikan band itu. Tapi negara tempat ia tumbuh dewasa tak mengizinkannya bersentuhan dengan kebudayaan macam itu.

Hingga suatu hari, di bulan November 1989, Pemerintah Jerman Timur mengizinkan warganya pergi “menyeberang tembok”. Tembok itu akhirnya runtuh sebagai hasil dari kerusuhan sipil sekaligus perubahan politik radikal di kawasan Blok Timur, yang berhubungan dengan liberalisasi sistem otoritas di Blok Timur dan juga mulai berkurangnya pengaruh Uni Soviet di negara-negara seperti Polandia dan Hungaria.

Pada tanggal 10 November 1989, bersama ribuan orang Jerman Timur, Andreas Kohl bersorak sorai di jalanan Jerman Barat. Ia langsung berfoto bersama motor Harley-Davidson layaknya orang dari udik. Setelah sibuk bersuka cita, ia kemudian mengantri sumbangan uang sebesar 100 Deutschemark dari pemerintah Jerman Barat sebagai ucapan selamat datang. Dengan uang itu, ia beranjak menuju department store diseberang jalan sana dan kebingungan: Ia tahu, uang sumbangan seperti itu harus dibelanjakan dengan cermat dan bijaksana karena tak ada uang sumbangan kedua. Dan tentu saja, seperti yang telah diduga, barang pertama yang ia beli dengan uang sumbangan itu adalah sarung tangan motor murahan dan LP Saint Vitus!

Persentuhannya dengan album LP itu juga awal cintanya pada band itu. Dan akhirnya dunia mulai menampakkan wujudnya bagi Andreas Kohl. Benda itu menjadi simbol kebebasan dan pintu gerbang menuju cakrawala luas yang menunggu untuk diarungi. Hubungan yang aneh ini melampaui panasnya suhu tembok yang memisahkan hegemoni blok barat dan timur.

Pada tahun-tahun berikutnya Andreas Kohl terjun dalam bisnis musik (entah apa) dan menjadi fan setia Saint Vitus dan The Obsessed. “My fandom went ballistic again when I received the note that Wino had a new band called Spirit Caravan.” Tulisnya. Dan Ketika Wino bersama Spirit Caravan tampil di di Berlin, tepatnya di Knaack Club, Kohl menjadi liaison officer dengan gugupnya. Saat itulah mereka kopi darat untuk pertama kalinya.

Tak berapa lama Ia mulai berkorespondensi dengan Wino dan menyempatkan diri untuk mengunjungi kediamannya di Brookeville, Maryland. Beberapa tahun kemudian ia mendapat kepercayaan untuk merilis album-album milik The Hidden Hand dan mengorganisir tur Eropa mereka. Andreas Kohl memang memiliki ikatan batin yang kuat dengan Wino. Hubungan antara Kohl dan Wino menjadi hubungan komersil – atau non-komersil - yang terbilang awet hingga saat ini.

Di tahun 2012 ini, Exile on Mainstream kembali merilis album kolaborasi Wino dan Conny Ochs bertajuk Heavy Kingdom – yang memasukkan cover song dari Townes Van Zandt. Conny Ochs sendiri adalah singer/songwriter yang sama-sama underrated. Namun, bukan karena senasib dalam hal underrated itu yang membuat mereka memutuskan berkolaborasi. Conny Ochs, menurut Wino, adalah songwriter yang powerful dan jujur. Keduanya pernah berkolaborasi di proyek solo milik Wino dalam album akustik Adrift pada 2010 lalu.

Membaca liner notes itu membuat saya jadi berpikir dan merenung. Banyak orang diluar sana – kini dan dulu - yang tak bisa mengakses musik-musik bagus karena kondisi geopolitik negaranya (seperti di Kuba selama embargo). Entah kita sadari atau tidak. Musik dengan semua gimmick dan artefaknya, dapat menjadi simbol kebebasan dan budaya. Ia melampaui semua aspek historis, sosial, politik, dan batas-batas negara. Hanya saja kita sering menganggapnya secara dangkal. Musik adalah bukti bahwa kita menghidupi hidup yang fana ini. Ia juga tanda bahwa pikiran kita belum beku.

 

01 Feb 2011
by Wahyu Nugroho - 
Published in Klasik

Di sebuah sore yang hangat di salah satu kios di Jalan Surabaya. David Tarigan, sang pemerhati musik/'ensiklopedia musik berjalan, menunjukkan saya sesuatu. “Lo harus dengerin ini, lo pasti suka,” katanya sambil menunjuk pada satu piringan hitam. Judulnya tertera di situ “The Rhythm Kings”. Hmm... another UK/US' 70’s?

12 Jan 2011
by Taufiq Rahman - 
Published in Klasik

 

Pengantar redaksi: Don Van Vliet a.k.a Captain Beefheart, musisi avant garde legendaris, berpulang pertengahan Desember 2010 lalu.