Band to Watch (3)
Masa keemasan Log Zelebour dekade 1990-an memang sudah lewat. Eksistensi rock metal tanah air juga tidak seriuh dulu lagi ketika band asuhan Log masih gila-gilanya bermain dari panggung-ke panggung. Tapi keliru memang jika kita menduga rock metal telah mati.
Perkenalkan Wolfgangs, band yang dihuni 4 personil penganut rock metal ini. Mereka kini telah menyelesaikan album perdana dan pembuatan klip lagu jagoan bertajuk 'Fake'. Untuk memberikan daya tarik lain, grup musik rock metal yang merupakan reinkarnasi dari kelompok musik era 1990-an 'Barong' satu ini, melibatkan seorang model profesional dan bintang film Adriana, sebagai model klipnya. Album ini kabarnya tengah menunggu rilis.
Tembang 'Fake' yang bisa diartikan 'Palsu' itu, menurut Edos Manggala, belum apa-apa sudah menimbulkan pro dan kontra. "Pasalnya dalam melodrama klip lagu tersebut, digambarkan seorang perempuan yang awalnya baik-baik, tapi tiba-tiba berubah berkarakter jahat," jelas pemimpin dari grup band rock metal tersebut.
Sang sutradara klip, Ronny, jelas-jelas ingin memberikan kesan dan punya makna filosofis cukup mendalam pada tembang 'Fake'. "Dominasi warna putih benar-benar bikin terasa menyatu terhadap karakter lagu dan musiknya. Mudah-mudahan saja bisa menimbulkan luck (hoki - Red) karena pada 2012 ini, warna putih akan menjadi favorit masyarakat di tahun yang bershiokan Naga Air," ucap Edos.
Kelompok musik cadas Wolfgangs yang bisa disebut sebagai 'Pasukan Srigala Buas' ini, diawaki Edos Manggala (drummer), Voulgaris (vokalis), Arya Setiadi (bassist) dan Wawan (gitaris), ingin membuat lompatan setelah sebelumnya pernah bikin mini album berjudul #1 pada bulan Maret tahun 2011. Di awal 2012 ini bersama album perdana Fake yang juga menjagokan tembang 'Fake', penggemar setia musik keras akan dimanjakan dengan musik berkarakter cadas namun dengan lagu-lagu penuh optimisme menghadapi berbagai persoalan kehidupan apa saja.
Lagu 'Fake' bukanlah satu-satunya lagu yang layak di simak. Materi lagu lain di album 'Wolfgangs' Band ini seperti 'Air Mata' , 'Wolfgangs', 'Terabaikan', 'Round to Round', 'Lose My Grip', 'Fight This World Lone', 'Blind' dan 'Kosong', tak boleh dikesampingkan begitu saja untuk memanjakan genderang telinga sebagai penggila musik cadas.
Harapan ideal dari Wolfgangs Band soal kemunculan sekarang, seperti ditegaskan R. Fatah (co-produser) dan Apuyapais (manajer roadshow) bisa jadi semacam pendobrak bangkitnya kembali musik rock metal di Tanah Air. We wish them luck!
Sudah terlalu lama musik disalaharti- dan disalahtempatkan. Musik hanya difungsikan sebagai hiburan, sebagai teman mengisi waktu sendiri, menemani makan dan berkendara atau dalam kasus ring back tone, yang akan segera punah itu, musik yang memang rata rata dalam formatnya yang paling menyedihkan, ditempatkan sebagai sarana pembuang waktu sebelum telfon kita diangkat, atau tidak.
Jauh sebelum musik diturunkan derajatnya seperti sekarang, musik punya fungsi yang gawat. Wagner menggunakannya sebagai sarana meninggikan derajat Ras Arya dan menggelorakan semangat cinta negara-bangsa Jerman yang Teutonis murni.
"You can say that music is heavy because the way it sounds. But for me it comes from, more like the experience of the people making, and that's what makes it heavy.”
– Billy Anderson
Setelah menjadi buah bibir penikmat musik Yogyakarta, akhirnya SURI tampil juga di sebuah regular gig bertempat di Slackers Distro di ring road utara, bertajuk Rotten Agenda bersama Wound, Wicked Suffer, Skandal, A.L.I.C.E, dan Blatant, pertengahan bulan September lalu. Berita mainnya SURI di acara itu juga baru santer terdengar beberapa minggu menjelang hari H. Tadinya SURI tak berencana untuk bermain di acara tersebut, namun karena gig Rotten Agenda tersebut hanya berselang satu hari sebelum Rock in Solo, maka mereka memutuskan menyambangi kota gudeg untuk menunjukkan tajinya.
Musik
