Fri05182012

Last update09:41:18 PM

  | Advanced Search
Back Home Musik Kanal Musik Album Empat Vinyl Penting Bulan Februari
08 Feb 2012

Empat Vinyl Penting Bulan Februari

Written by Administrator JB  |  Read 881 times
Rate this item
(1 Vote)

Ini bukan daftar. Mungkin sekedar catatan tentang artifak budaya yang kami kumpulkan dalam seminggu terakhir terutama untuk rilis musik fisik dalam bentuknya yang paling istimewa, piringan hitam—atau untuk salah satu rilis yang kami dapat, warna itu adalah hijau. Kecuali satu rilis lokal, semua adalah rilis lama asing, namun kini kami bisa mencernanya dalam cara pandang yang baru, disebabkan oleh begitu berbedanya kualitas sound yang menggema dari putaran 33 1/3 putaran per menit (rpm). Tuduh kami fetish atau konsumeris, namun ini adalah cara terbaik menikmati produk budaya bernama musik.

Kelelawar Malam, s/t, Grieve Records.

Bahkan jika album ini di rilis dalam format biasa non-piringan hitam, ini tetaplah istimewa karena tema parodi horor mistis yang dibawakannya. Dengan lirik bercerita tentang Susana, Sundel Bolong dan B-Movie Horor Indonesia dari dekade 1980-an, sulit untuk tidak mengembangkan senyum ketika membaca lirik komposisi-komposisi di album ini. Memegang sleeve album ini seperti membaca komik hukuman neraka yang memberi kita mimpi buruk di masa kecil. Dan justru dengan musik yang dipengaruhi The Misfits, kita mendapat soundtrack untuk fantasi horor yang jauh dari mendirikan bulu roma. Lebih istimewa lagi karena album ini dirilis dalam bentuk vinyl—empat warna apa lagi. Dan mungkin ini adalah rilis penuh album anak negeri yang di rilis dalam bentuk vinyl setelah pressing plant Remaco dan Aquarius tidak lagi mengepulkan asapnya 30 tahun yang lalu. Kami memesan album ini akhir pekan lalu dan kemarin LP Hijau—serta warna lain di tangan awak kami yang lain dengan nomer seri yang berbeda—itu mulai bergema di ruangan kami siang dan malam. Sebuah rilis yang perlu dirayakan. Segera dapatkan copy anda.

Wilco, Yankee Hotel Foxtrot, Nonesuch

Bukan karena Jakartabeat lahir di suburban kota Chicago jika album mahakarya Wilco tahun 2002 ini menjadi istimewa. Ini adalah lompatan luar biasa dari band country-rock yang biasa-biasa saja sebelum merilis album megah ini. Yang lebih penting lagi adalah aura mistis yang melingkupi album yang secara berhasil memprediksi peristiwa 9/11 dengan gambar gedung kembar Marina Bay Tower yang menjadi sampul—yang juga sering kami kunjungi dulu—atau dengan lirik tentang gedung yang berderak dan bendera Amerika Serikat yang menjadi abu. Album ini juga diselimuti oleh kabut melankoli yang tebal dengan melodi-melodi patah hati yang justru memberi efek hangat. YHF adalah memento paling penting dari Chicago. Kami dulu biasa mendengar album ini di tengah musim dingin kota Chicago yang brutal, dan foto sinar matahari, permukaan danau Michigan dan gambar-gambar gedung tinggi yang menjadi hidup di sleeve vinyl album ini membuka kenangan atas sebuah kota istimewa di daratan yang jauh. Home away from home.

Miles Davis, Kind of Blue, Columbia

Kami pikir semua orang yang memiliki album raksasa Miles Davis ini hanya tinggal menunggu waktu untuk memilkinya dalam bentuk piringan hitam—lebih baik jika dengan berat 180 gram. Album ini sudah rutin kami dengarkan dalam bentuk CD, namun kami tidak pernah memperkirakan kalau range output sound itu bisa menjadi berbeda dalam bentuk piringan hitam. Keluaran itu benar-benar hidup dan menyergap kami. Dalam vinyl yang masih baru bahkan kesunyian di jeda-jeda tiupan trumpet Miles Davis dan sax John Coltrane bisa terdengar begitu mencekam dan organis. Dan jika dalam bentuk CD, dengan musik jazz khas tanpa vokal, album ini bisa terancam menjadi musik elevator, dalam bentuk piringan hitam kita mau tidak mau di paksa untuk memberi perhatian khusyuk, bukan karena ritual menurunkan jarum tapi mengagumi dan jatuh terhipnotis oleh para raksasa Jazz bermain di ruang pribadi kita.

Pavement, Brighten the Corner, Matador

Sama seperti Kind of Blue, semua orang yang pernah jatuh cinta dengan Pavement hanya tinggal menunggu untuk memiliki semua album band asal Stockton ini dalam bentuk piringan hitam. Musik Pavement adalah perayaan hidup main-main dalam bentuknya yang paling agung. Dan di antara semua album Pavement Brighten the Corner adalah hasil bermain-main dan goofing off yang paling sempurna dan justru dengan kualitas sound yang paling baik, bening, bersih dan "Stereo". Gitar solo Stephen Malkmus di "Fin" misalnya mungkin adalah gitar solo yang harus didengarkan dari piringan hitam, meliuk-liuk, bermain-main, colek sana sini sebelum menuju puncak yang tidak terduga. Banyak yang mengatakan ini adalah album paling pop dan mainstream dari Pavement, namun kami mengatakan kalau ini album terbaik Pavement.

 

 

 

Administrator JB

Administrator JB

Jakartabeat.net adalah media online yang memuat ulasan musik, buku, film dan esai politik serta humaniora di Indonesia. Ditulis oleh sejumlah kontributor, Jakartabeat.net hendak menjadi media alternatif yang menangkap apa yang tidak bisa ditangkap media mainstream dengan harapan bisa menyumbang 'the wisdom of the crowd' pada dunia wacana dan tulis menulis di Indonesia.

Komentar Tamu


Powered by Disqus