Album (59)
Oke, saodara-saodari sekalian dengan ini saya persembahkan album hiphop terbaik tahun 2012 sejauh ini. Meski terdengar seperti mendahului waktu, menurut saya agak sulit nampaknya ada album hiphop lain yang akan menandingi kegilaan album debut dari sebuah grup bernama Quakers ini, kecuali mungkin album Nas baru yang akan dirilis pertengahan tahun nanti bisa meresureksi Illmatic.
Meski sebuah grup baru, di belakangnya ada seorang veteran hiphop yang selama ini menjadi otak dibalik legenda asal Bristol, Portishead; Geoff Barrow. Ia menggandeng serta seorang beatmaker lain, Katalyst dan Stuart Matthews yang juga seorang studio engineer Portishead. Meski demikian, buang jauh-jauh bayangan bahwa album ini akan bersuara mengulang jazzy triphop, noir-hiphop, lounge-breakbeats atau hiphop galau era Dummy sampai Third. Album ini 100% bernuansa hiphop berdebu khas Stones Throw yang identik dengan mereka sejak label ini secara ekslusif merilis album-album J-Dilla dan Madlib.
Serigala. Seringai. Taring. Ketiga tema tersebut memang memiliki kaitan yang mendalam, jika tidak bisa dikatakan bersinonim. Maka tak salah jika Seringai memakai simbolisasi serigala (kan bisa saja seringai kucing, seringai harimau, dsb), baik dari militansi-nya (seperti dalam album Serigala Militia) maupun karakter hewan liar tersebut yang gigih dan mematikan.
Saya teringat novel termasyhur Jack London: White Fang. Novel ini berlatar awal abad 19, ketika fenomena gold rush di Klondike, Alaska - yang dingin, keji dan ganas - mengemuka. Tokoh utamanya adalah White Fang, serigala terkuat di seantero Alaska. Indukan White Fang, She-Wolf dan One-Eyed, menjadi momok yang meneror para pemburu emas. Dan White Fang, adalah penerus tahta mereka sebagai peneror alami.
Dua orang berjalan melintasi sungai yang sedang mengalirkan banjir lahar dingin. Seorang perempuan lokal dan seorang lelaki warga negara asing. Sang perempuan menenteng sebuah pengeras suara, sedangkan sang lelaki membawa Boombox. Suatu hal yang wajar bila kedua orang dengan dandanan nyentrik ini berjalan di sebuah pusat perbelanjaan yang menjamur di sekujur negeri. Namun mereka berjalan di lokasi-lokasi yang tak lazim bagi orang berdandan keren.
Setelah berjalan melintasi sungai banjir, mereka berpindah ke luasnya waduk penampungan lumpur Lapindo, bermain musik di tengah tumpukan sampah yang menggunung di tempat pembuangan akhir, lalu menantang derasnya arus kendaraan yang menghayati kemacetan di Jakarta. Jelas kedua orang ini tidak bermaksud jalan-jalan berwisata, mereka sedang berupaya menunjukkan bahwa ini adalah Indonesia, sebuah Negara besar yang (hampir) hancur karena kondisi sosial, ekonomi, dan ekologi yang runtuh dengan cepat.
Lelaki warga Negara asing itu adalah Filastine, seorang produser Bass Music asal Seattle, Amerika Serikat. Sedangkan sang perempuan adalah Nova Ruth, seorang penyanyi dan rapper asal Malang, Jawa Timur. Gambaran diatas merupakan cuplikan dari video klip “Colony Collapse.” Video klip yang memilih lokasi di berbagai daerah yang boleh dibilang sedang dalam kondisi semrawut di Indonesia.
“Colony Collapse” sendiri merupakan judul lagu yang diambil dari album EP Filastine dengan judul yang sama. Album Colony Collapse merupakan sebuah EP remix 5 track “Colony Collapse” namun dengan aransemen yang berbeda. Track pertama adalah inti dari EP ini, kolaborasi dari Filastine dan Nova Ruth yang mencampurkan formula Drum n Bass dan gending Jawa dengan meminjam pokok lagu Perahu Layar, Mengawinkan wobble-bass dan denting Bonang, saron, serta keriuhan Gangsa Bali di menit terakhir. Serta membuat orkestrasi kehancuran negeri ini makin mencekam dengan kegelisahan Nova Ruth saat nembang Jawa dan nge-rap. Sedangkan dalam 4 track setelahnya, Filastine mengizinkan musisi lain me-remix ulang Colony Collapse sesuai aransemen musik mereka. Jadilah EP ini menghadirkan lima interpretasi berbeda namun dengan satu perspektif yang sama: Sebuah koloni besar bernama Indonesia sedang menuju keruntuhan.
Keruntuhan Indonesia?
Menyatakan Indonesia bakal runtuh mungkin terkesan bombastis dan rawan terkena kecaman orang Indonesia yang menyatakan diri nasionalis. Namun Colony Collapse seharusnya dapat membuat kita mau berpikir ulang bahwa sudah bukan waktunya lagi berdebat mengenai nasionalisme sekarang ini. Yang lebih penting sekarang kita harus sadar bahwa negeri ini carut-marut dalam berbagai aspek. Ekologi kita sudah kacau balau: Lumpur Lapindo sudah bertahun-tahun menyembur, menghancurkan tatanan kehidupan dan alam Porong Sidoarjo (tanpa ada yang bertanggung jawab), tumpukan sampah di berbagai TPA menandakan betapa manusia Indonesia teramat konsumtif dan mengkonsumsi berbagai hal, lalu membuang sampahnya tanpa mau memikirkan bagaimana sampah yang dibuangnya akan berakhir. Dan jangan lupakan betapa manusia di kota besar sudah menjadi begitu tenangnya menghayati kemacetan di jalanan, atau betapa sesaknya perumahan kumuh di pinggiran kali berbau anyir. Korupsi merajalela di berbagai struktur pemerintahan, jangan lupakan juga bagaimana supremasi hukum belum mampu ditegakkan dengan benar hingga bocah pencuri sandal jepit saja masuk penjara sedangkan seorang mantan bendahara partai berkuasa yang terjerat kasus korupsi dan penyuapan akhirnya hanya divonis hukuman 4 tahun. Banyak rakyat di berbagai provinsi menahan lapar dan makan nasi aking sementara eksekutifnya menghabiskan milayaran untuk rapat dan malah berencana membeli pesawat. Bukankah segala carut marut ini semacam pertanda dimulainya keruntuhan Indonesia?
Apakah dengan memperdebatkan nasionalisme mampu memperbaiki kondisi carut-marut ini? Tidak, mencari solusi adalah yang terbaik saat ini. Kalau mau bicara nasionalisme, Filastine jelas bukan warga negara Indonesia, namun warga Amerika Serikat yang memiliki kesadaran dan kerpihatinan akan kondisi Negara ini. Jadilah ia menulis “Colony Collapse” untuk menyadarkan banyak orang tentang kondisi terkini Indonesia. Biarlah yang berteriak nasionalisme semu adalah mereka para politisi yang saat kampanye berjanji membawa Indonesia menuju arah yang lebih baik. Kita sebagai warga yang merasakan langsung dampak runtuhnya negara ini harus memiliki kesadaran dan mencari solusi terbaik menyelamatkan diri.
Belum Terlambat Untuk Menyelamatkan Negeri
Sayangnya kita terbiasa pasrah menerima segala kondisi yang ada. Setiap datang bencana alam beberapa pihak sering beranggapan ini adalah keputusan tuhan yang harus kita terima dengan ikhlas. Kepasrahan seperti itu tentu tak dapat diterima, Tuhan tentu tak pernah menyuruh umatnya pasrah menunggu mati, Dia selalu memerintahkan manusia berusaha mengubah nasibnya. Maka berbagai bencana yang bertubi-tubi menimpa negeri ini harusnya dapat membuat kita berpikir bahwa bencana alam memang tak mampu dihindari, dan tak dapat disalahkan. Apabila bencana tejadi dan tidak ada upaya memperbaiki, berarti ada yang salah dengan negeri ini. Yang salah adalah manusianya yang kurang peduli. Dalam hal ini manusia yang dimaksud adalah pemerintah yang acuh tak acuh dan kurang tanggap, serta kita warga Negara yang diam saja enggan menggugat pemerintah yang acuh tak acuh ini.
“Lek wani ngomong jujur, bumi wis kate ajur, wong gak kenek diatur, sego wes dadi bubur” (kalau berani ngomong jujur, bumi sudah hampir hancur, manusia tidak bisa diatur, nasi sudah jadi bubur). Sepenggal lirik yang diteriakkan Nova dalam “Colony Collapse.” Apakah memang nasi sudah menjadi bubur? Apakah manusia Indonesia sudah tidak bisa diatur? Sudah terlambatkah untuk menyelamatkan negeri ini? Sebenarnya belum terlambat, solusi yang harus kita lakukan adalah menyadarkan diri sendiri dan orang lain bahwa kondisi carut marut negeri dapat diperbaiki, kita sebagai warga harus menggugat pemerintah sebagai pihak yang di beri tugas untuk mengurus negeri ini. Kita harus sadar bahwa Tuhan tidak pernah menyuruh manusia pasrah menerima bencana, manusia harus berusaha memperbaiki kondisi.
Kita harus sadar bahwa beberapa bencana (seperti Lumpur Lapindo) ini adalah bencana yang ditimbulkan oleh perbuatan manusia dan bukan bencana alam. Bentuk nyata solusi ini adalah dengan terus menerus menggugat pemerintah dan pihak yang menyebabkan bencana dan tentu saja dalam pemilihan umum mendatang kita harus menghindari untuk memberi dukungan kepada mereka. Jangan memilih calon pemimpin yang jelas-jelas bertanggung jawab atas bencana Lumpur Lapindo namun tidak hanya enggan mengaku, namun malah menyatakan diri sebagai pembela tanah air dan mencalonkan diri menjadi pemimpin. Sambil mendengarkan “Colony Collapse” dari Filastine dan Nova Ruth muncul kesimpulan: bencana dan keterpurukan Indonesia saat ini mungkin hanyalah awal menuju puncak keterpurukan yang akan datang saat kita salah memilih pemimpin di Pemilu 2014 nanti.***
Ini bukan daftar. Mungkin sekedar catatan tentang artifak budaya yang kami kumpulkan dalam seminggu terakhir terutama untuk rilis musik fisik dalam bentuknya yang paling istimewa, piringan hitam—atau untuk salah satu rilis yang kami dapat, warna itu adalah hijau. Kecuali satu rilis lokal, semua adalah rilis lama asing, namun kini kami bisa mencernanya dalam cara pandang yang baru, disebabkan oleh begitu berbedanya kualitas sound yang menggema dari putaran 33 1/3 putaran per menit (rpm). Tuduh kami fetish atau konsumeris, namun ini adalah cara terbaik menikmati produk budaya bernama musik.
Kelelawar Malam, s/t, Grieve Records.
Bahkan jika album ini di rilis dalam format biasa non-piringan hitam, ini tetaplah istimewa karena tema parodi horor mistis yang dibawakannya. Dengan lirik bercerita tentang Susana, Sundel Bolong dan B-Movie Horor Indonesia dari dekade 1980-an, sulit untuk tidak mengembangkan senyum ketika membaca lirik komposisi-komposisi di album ini. Memegang sleeve album ini seperti membaca komik hukuman neraka yang memberi kita mimpi buruk di masa kecil. Dan justru dengan musik yang dipengaruhi The Misfits, kita mendapat soundtrack untuk fantasi horor yang jauh dari mendirikan bulu roma. Lebih istimewa lagi karena album ini dirilis dalam bentuk vinyl—empat warna apa lagi. Dan mungkin ini adalah rilis penuh album anak negeri yang di rilis dalam bentuk vinyl setelah pressing plant Remaco dan Aquarius tidak lagi mengepulkan asapnya 30 tahun yang lalu. Kami memesan album ini akhir pekan lalu dan kemarin LP Hijau—serta warna lain di tangan awak kami yang lain dengan nomer seri yang berbeda—itu mulai bergema di ruangan kami siang dan malam. Sebuah rilis yang perlu dirayakan. Segera dapatkan copy anda.
Wilco, Yankee Hotel Foxtrot, Nonesuch
Bukan karena Jakartabeat lahir di suburban kota Chicago jika album mahakarya Wilco tahun 2002 ini menjadi istimewa. Ini adalah lompatan luar biasa dari band country-rock yang biasa-biasa saja sebelum merilis album megah ini. Yang lebih penting lagi adalah aura mistis yang melingkupi album yang secara berhasil memprediksi peristiwa 9/11 dengan gambar gedung kembar Marina Bay Tower yang menjadi sampul—yang juga sering kami kunjungi dulu—atau dengan lirik tentang gedung yang berderak dan bendera Amerika Serikat yang menjadi abu. Album ini juga diselimuti oleh kabut melankoli yang tebal dengan melodi-melodi patah hati yang justru memberi efek hangat. YHF adalah memento paling penting dari Chicago. Kami dulu biasa mendengar album ini di tengah musim dingin kota Chicago yang brutal, dan foto sinar matahari, permukaan danau Michigan dan gambar-gambar gedung tinggi yang menjadi hidup di sleeve vinyl album ini membuka kenangan atas sebuah kota istimewa di daratan yang jauh. Home away from home.
Miles Davis, Kind of Blue, Columbia
Kami pikir semua orang yang memiliki album raksasa Miles Davis ini hanya tinggal menunggu waktu untuk memilkinya dalam bentuk piringan hitam—lebih baik jika dengan berat 180 gram. Album ini sudah rutin kami dengarkan dalam bentuk CD, namun kami tidak pernah memperkirakan kalau range output sound itu bisa menjadi berbeda dalam bentuk piringan hitam. Keluaran itu benar-benar hidup dan menyergap kami. Dalam vinyl yang masih baru bahkan kesunyian di jeda-jeda tiupan trumpet Miles Davis dan sax John Coltrane bisa terdengar begitu mencekam dan organis. Dan jika dalam bentuk CD, dengan musik jazz khas tanpa vokal, album ini bisa terancam menjadi musik elevator, dalam bentuk piringan hitam kita mau tidak mau di paksa untuk memberi perhatian khusyuk, bukan karena ritual menurunkan jarum tapi mengagumi dan jatuh terhipnotis oleh para raksasa Jazz bermain di ruang pribadi kita.
Pavement, Brighten the Corner, Matador
Sama seperti Kind of Blue, semua orang yang pernah jatuh cinta dengan Pavement hanya tinggal menunggu untuk memiliki semua album band asal Stockton ini dalam bentuk piringan hitam. Musik Pavement adalah perayaan hidup main-main dalam bentuknya yang paling agung. Dan di antara semua album Pavement Brighten the Corner adalah hasil bermain-main dan goofing off yang paling sempurna dan justru dengan kualitas sound yang paling baik, bening, bersih dan "Stereo". Gitar solo Stephen Malkmus di "Fin" misalnya mungkin adalah gitar solo yang harus didengarkan dari piringan hitam, meliuk-liuk, bermain-main, colek sana sini sebelum menuju puncak yang tidak terduga. Banyak yang mengatakan ini adalah album paling pop dan mainstream dari Pavement, namun kami mengatakan kalau ini album terbaik Pavement.
Sampul album sama pentingnya dengan musik yang terkandung di dalamnya. Dan jika anda memilih menghargai musik melalui piringan hitam, anda akan tahu bahwa kegiatan mengapropriasi artifak seni suara mencapai puncaknya pada jukstaposisi antara bunyi dan visual. Daftar di bawah ini adalah tentang sampul-sampul album yang tidak hanya bagus dan bermutu pada dirinya sendiri—ketika dipisahkan dari musik yang berusaha diwakilinya—namun juga merupakan hasil kerja visual yang bisa memberi nilai lebih terhadap musik yang ada dibalik sampul tersebut. Ambil musik dengan sampul ini dalam versi vinyl dan timang-timang sampai akhir tahun depan. Dan jika kami tidak mengeluarkan daftar album indie-rock asing terbaik untuk tahun 2011, anggap saja ini adalah daftar itu.
Sudah menjadi tradisi yang mendarah daging tampaknya, bahwa siapa saja yang menyukai musik akan terdorong untuk merangkum dan melihat kembali album-album musik apa saja yang telah mewarnai tahun yang dilalui.
Di sini saya tidak akan memberi label album-album ini sebagai yang “terbaik”, karena di luar sana banyak sekali album-album keren yang dirilis sepanjang tahun ini dan belum sempat digali. Saya hanya melabeli daftar ini sebagai “album yang tetap layak dengar hingga beberapa tahun ke depan”. Sebenarnya masih banyak album yang ingin saya masukkan di sini, tapi saya takut daftar ini akan menjadi terlalu panjang. Album milik Primordial Redemption at the Puritan’s Hand, Trap Them Darker Handcraft, Black Tusk Set the Dial, hingga YOB Atma sebenarnya masuk dalam daftar ini.
Tahun 2011 nampaknya akan berakhir sebagai tahun yang menarik untuk hiphop. Pertama sekali karena fenomena banyaknya album keren dari pelosok dunia yang mulai terekspos. Trem dari Australia, Torae dari Kanada, Opgezwolle dari Belanda, La Rumeur dan Kalash L'Afro dari Perancis diantaranya, meski agak sulit untuk menyamakan kualitas progresifitas dan keotentikan album secara keseluruhan dengan album-album dari Mekah-nya genre ini di Amrik sana.
Hiphop tahun ini nampaknya harus berterimakasih pada trend kolaborasi dan pembentukan ‘supergrup’ yang sedikit menyelamatkan kejumudan genre ini yang berjangkit di satu dekade terakhir. Memang kolaborasi dan supergrup yang lahir tak selalu menghasilkan album yang bagus, namun paling tidak, ada kesempatan untuk mencoba, membuat progresifitas terutama pada kasus kolaborasi antara para veteran dan generasi MC/DJ baru.
Namun entah apa hubungannya, tapi rasanya ada yang cukup aneh, di tengah maraknya keriaan kolaborasi silang, grup-grup lama tak lagi membuat album (bagus) dan sedikit saja yang grup baru yang menghasilkan album yang bisa dicatat sebagai debutan keren. Mungkin saking sibuknya para anggota grup berkolaborasi, mereka agak mengistirahatkan aktivitas grup mereka. Entahlah.
Sejak suku purba menjiplak telapak tangannya di dinding-dinding gua hingga seniman avatar merangkai kode flash di dinding facebooknya, hasrat mimesis manusia dalam konteks wacana seni kontemporer masih esensial diperbincangkan.
Di satu sisi, hasrat mimesis seorang seniman dianggap sebagai proses tiruan realitas yang kemudian direproduksi, dikreasi, dan dihadirkan kembali lewat karyanya. Kita pun bisa dengan mudah memperbincangkan karya seni tersebut cukup dengan menafsir tanda-tanda semiotis yang sekiranya merujuk pada realitas asali yang 'dianggap' sama.
Sedangkan di sisi lain, hasrat mimesis tak hanya meniru dan menghadirkan kembali arkhe sebagai tiruan dari realitas, tapi secara bersamaan menyingkirkan arkhe lewat kehadiran identitas lain yang berbeda dengan identitas arkhe itu sendiri. Proses kehadiran–ketakhadiran ini kemudian saling tarik menarik seiring terbentuknya identitas yang serupa bayang-bayang, bukan hanya karena ketakorisinalan dan paradoksnya, juga sebagai proses yang berlangsung terus menerus melalui re-kreasi yang terjadi berulang kali, baik dalam diri sang seniman, maupun audiens yang menikmatinya.
1991 bukan hanya milik Nirvana dengan Nevermind yang memang monumental itu. Awal bulan November ini, 20 tahun yang lalu Creation Records merilis dua album yang nantinya akan menjadi salah satu dari jejeran album terbaik dari roster Creation Records sendiri, ataupun indie music scene secara keseluruhan.
Entah apa yang ada di kepala Alan McGee, pendiri Creation Records ketika ia melempar dua album sekaligus ke pasaran pada hari yang sama. Dua album yang boleh dikatakan bersaing dengan sengit bersama Nevermind di tinta dan mesin ketik para kritikus dengan satu judul tema; Best Album of 1991. Namun jangan coba menghitung pentingnya kedua album ini dari angka penjualan serta kemudian membandingkannya dengan Nevermind. Mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan Nevermind jika anda melihat dari segi angka penjualan.
Terus terang ketika Jakartabeat.net memasukkan album Loveless dari My Bloody Valentine ke dalam daftar album “alternatif” terbaik dekade 1990-an, kami tidak, atau belum, sadar kalau album penting tersebut akan segera merayakan ulang tahunnya yang kedua puluh awal minggu lalu. Sama seperti ketika pertama kali di rilis, di mana tidak banyak orang yang peduli, kini ketika album ini mencapai usia matang hanya sedikit orang yang masih memberinya perhatian.
Hanya webzine Stereogum sajalah yang tidak mengalami amnesia dengan menulis sebuah ulasan singkat mengenai mengapa album ini begitu penting. Dengan sedikit bercanda Stereogum menulis. “My Bloody Valentine were a band, it’s true, and Bilinda Butcher’s vocal contributions to Loveless are instrumental. (Do with that pun what you will.)”
Ada permainan kata-kata yang cerdas disitu, bahwa vokal Bilinda Bucther sangat instrumental untuk album Loveless. Namun permainan kata-kata itu juga menyiratkan bahwa vokal Bilinda Bucther juga merupakan instrument yang tidak bsa dipisahkan dari komposisi di Loveless.
Musik
