Home Musik Kata Sebagai Komposisi: Menyimak Syair Lagu-Lagu Pure Saturday
Kata Sebagai Komposisi: Menyimak Syair Lagu-Lagu Pure Saturday Print E-mail
(11 votes, average 4.82 out of 5)
User Rating: / 0
PoorBest 
Sunday, 17 January 2010 12:17

Oleh Kartawijaya, pembuat film dokumenter

 

Sebenarnya, sungguh berat membicarakan syair lagu dengan sudut pandang bahwa syair adalah unsur bunyi dalam sebuah komposisi musik, setara dengan unsur-unsur bunyi lainnya seperti petikan gitar atau hentakkan drum. Ini karena saya merasa tidak begitu paham bagaimana sebuah musik dibangun dengan menempatkan bunyi kata (=syair) sebagai bagian dari upaya untuk mengekspresikan sesuatu. Terus-terang, kebiasaan hidup saya terbentuk dengan melihat kata lebih sebagai lambang dari pengertian (semantis), dibanding kata sebagai bunyi (fonetis). Bahkan kadang tidak terfikir sama sekali bahwa huruf adalah lambang dari bunyi (fonemik). Keruwetan ini bisa terlihat ketika saya membaca syair dari lagu "Layu Sebelum Berkembang" yang dinyanyikan oleh Tetty Kadi dihadapkan dengan lagu "Aku Cinta Kau dan Dia" gubahan Ahmad Dhani bersama Bebi Romeo tanpa mendengarkan komposisi musiknya:

Hatiku hancur mengenang dikau/Berkeping-keping jadinya ("Layu Sebelum Berkembang", Tetty Kadi)

Hancur hatiku/Mengenang dikau /Menjadi keping-keping ("Aku Cinta Kau dan Dia", Ahmad Band)

Sebagai urutan kata-kata dan secara semantis, dua syair lagu tersebut bukan hanya artinya mirip, tetapi juga kata-katanya hampir sama persis. Yang membedakannya hanyalah teknik memotong frasa, atau yang diistilahkan enjabemen dalam puisi, yang kelihatannya berfungsi untuk memberi penegasan. Tentunya, karena estetikanya berbeda, pola enjabemen dalam syair lagu pastilah memiliki peran dan fungsi yang berbeda dibandingkan dengan penulisan puisi.

Kalau dalam penulisan puisi, teknik enjabemen digunakan untuk memperkaya makna bahkan membangun kontradiksi. Sedangkan dalam musik, teknik ini berhubungan erat dengan komposisi yang menempatkan setiap potongan frasa, bahkan kata, sebagai bagian dari aturan bar dalam lagu, selain memang tetap berperan untuk memperkaya potensi tafsiran makna.  

Dalam kasus dua lagu di atas, lagu "Layu Sebelum Berkembang" yang syairnya saya kutip tersebut berjumlah 16 ketukan, maka lagu "Aku Cinta Kau dan Dia" dengan kutipan yang sama berjumlah 12  ketukan. Enam belas ketukan pada lagu "Layu Sebelum Berkembang" itupun sudah memperpanjang kata dikau menjadi 4 ketukan. Secara fonetis bisa dituliskan menjadi: dikauuu.

Padahal, ketika saya mendengar lagu "Aku Cinta Kau dan Dia" yang dibawakan Ahmad Band, terasa tidak ada hubungannya dan tidak ingat bahwa pernah ada lagu berjudul "Layu Sebelum Berkembang". Terlintas juga tidak. Saya baru ngeh, ketika Ibu saya bilang,”kok lagu jaman sekarang liriknya nggak beda sama jaman saya dulu ya, musiknya saja yang saya gak bisa masuk.”


Saya jadi teringat kata-kata Diyanto (seorang pelukis) pada sebuah malam yang beku di ujung Sekeloa-Bandung dengan dua cangkir gelas kopi yang tinggal dedak di awal tahun 1989. Katanya, ”Barangkali, menyusun kata-kata untuk puisi maupun syair dalam musik, bisa mirip prosesnya dengan mendampingkan warna atau mengkonfrontasi benda-benda dalam sebuah lukisan. Tidak penting maknanya apa, tetapi kesannya akan terus hidup bagi yang tertarik menyimaknya.”

Nah, sekarang tengok syair lagu "Kosong" dari Pure Saturday, yang mampu membangun kontradiksi dengan sangat kuat:

Bersama alam/Menempuh malam/Walau tak pernah ada kesempatan

Kesan kontradiktif itu bukan hanya timbul karena penggunaan frasa baris pertama dan kedua yang dinegasikan dengan frasa baris ketiga, tetapi secara musik juga ketika masuk bagian ini, pola aransemennya menggunakan dinamika yang lebih rendah dibanding pada kuplet pertama. Belum lagi kalau kita perhatikan, sengaja atau tidak, tiga baris tersebut menggunakan pola sajak akhir yang bunyinya satu rumpun, yaitu: alam, malam, kesempatan, tentunya berkesan memberi “garis bawah” bagi kekontradiktifan yang sedang “diwartakan”.

Pada bagian ini, kontradiksi tidak lagi bersifat subversi seperti yang terjadi dalam wacana kosong politik yang menjejali telinga kita dan membuat pendengaran makin tidak sensitif. Kontradiksi ternyata berarti juga sebuah upaya untuk saling menguatkan masing-masing pihak (dalam hal ini masing-masing baris) untuk menunjuk pada daya bayang yang lebih nyata. Kontradiksi menegaskan bahwa tetap harus ada yang ditempuh walaupun situasi serba terbatas. Bahwa malam harus kita jalani walaupun tiba-tiba siang sudah terbit dengan panas seperti kapak yang memecahkan batok kepala sekaligus mengisakan epos terusirnya kesempatan.

Begitulah! Dengan beberapa contoh tersebut maka terlihat bahwa penggunaan teknik pemotongan frasa bahkan kata dalam syair lagu, ternyata punya potensi untuk memberi makna yang ambigu juga bisa menimbulkan impresi yang mendalam bagi yang mendengarnya.

Pure Saturday dengan Syair Berbahasa Indonesia

Saya pertama kali mendengar nama Pure Saturday ketika sedang main game Championship Manager di sekitar tahun 1995 bersama Tony, yang belakangan saya tahu adalah manajer Pure Saturday pada jaman itu. Kedua kali mendengar nama Pure Saturday ketika saya diminta membantu keredaksian majalah musik MUSTT yang diterbitkan oleh Wawan Juanda (Republik Entertainment) masih di tahun 1995. Salah satu yang menjadi redaktur majalah itu adalah Yuki, vokalis Pas Band yang merupakan pioneer musik indie di Bandung. Tak urung, keputusan keredaksian yang penting dari majalah ini adalah mengangkat soal gerakan musik indie di Bandung.

Waktu itu, agak berat buat saya untuk mengembangkan investigasi tentang jenis-jenis musik indie yang dimainkan oleh band-band di Bandung. Apalagi di jaman itu jenis musik rock model Log Zelebor sedang menguasai pentas nasional dan seolah memberi kesan bahwa jenis musik seperti itu yang bisa dinikmati. Selain saya juga hanya sedikit paham tentang iklim musik di Bandung. Jenis musik yang saya mainkan waktu itu (sampai sekarang pun kalau iseng) adalah jenis yang nyaris tidak dimainkan oleh orang-orang muda di Bandung: keroncong.

Secara umum, syair-syair Pure Saturday yang berbahasa Indonesia berada dalam konstruksi kalimat yang tidak lugas. Mereka lebih banyak malah bermain-main dengan impresi yang serba terbuka. Contohnya:

Hai kawan masihkah kita ada di jalan yang sama /Setelah sekian lama/Seperti dulu kita bersama/Menempuh banyak cara dan rintangan (Lagu "Buka", Pure Saturday)

Saya percaya bahwa kata kunci dari syair tersebut adalah jalan di baris pertama. Kemudian kata-kata lainnya berfungsi sebagai alat yang membangun konstruksi secara bersama dan membuat kata jalan menjadi bangunan maksud yang utuh. Jalan tersebut bisa jadi ideologi, cara pandang terhadap hidup, atau memang semata-mata jalan di depan sebuah gudang tempat nongkrong. Yang pasti di jalan itu mereka selalu terbuka seperti juga judulnya: Buka. Memperdebatkan soal pemaknaan ini, terutama memang berlandaskan  pada pengalaman pendengarnya. Kalau pendengarnya sedang terobsesi pada jalan pedang versi Musashi dan menafsirkan lagu ini sebagai ungkapan untuk setia di jalan pedang yang selalu terbuka buat ronin-ronin berikutnya, menurut saya tidaklah salah.

Bahkan sekalipun pendengar menafsirkan hal yang jauh  bertentangan dengan maksud pembuatnya, maka bukan berarti syair ini gagal atau pendengar yang salah. Menurut saya, lebih tepatnya, kalau situasinya begitu, syair "Buka" ini malah menjadi kaya pemaknaan. Namun dugaan saya, ada jalan rahasia antara sebagian besar penikmat Pure Saturday dengan lagu ini, bahwa lagu ini seolah-olah menggiring pendengarnya tentang jalan yang ideal dalam musik.

Kelihatannya, lagu ini memang dibebani oleh konsep yang ketat sehingga kata-kata berpadu menjadi bangunan yang sudah jadi. Kesempatan pendengar untuk ikut bebas berimajinasi menambah struktur bangunan makna dan suasana nyaris tidak ada. Sedangkan secara teknis ‘mengucapkan’ syair dalam pola harmonisasi untuk lagu Buka ini cenderung berbeda dengan lagu-lagu yang lain. Kata-kata ringkas mengikuti pola aransemen yang didominasi peran drum di kuplet pertama yang disusul instrumen-instrumen lain yang ringkas juga, dengan struktur yang mirip di kuplet-kuplet berikutnya. Dengan pola musikalitas yang arahnya mudah tertebak karena dimainkan dengan agak baku, syair lagu "Buka" ini menjadi lebih mudah dinikmati. Berbeda misalnya kalau kita perhatikan lagu "Coklat"  yang syairnya saya tuliskan sendiri berdasarkan pendengaran:

Coklat menari/bagai babi/Kejar penghuni/Bijak berangkat /masuk lumpur/Jadi lagi

Aaa aaa aaa/Aaa aaa aaa

Hilang arah/silap tujuan/Tarik ucapan/Coklat dimakan /malah melawan/Pupus harapan

hu hu huuu huuu huuu huuu huuu huuu huuu huuu/huuu huuu huuu huuu huuu/Aaa aaa aaa aaa aaa...
 
Coklat berlari/(kejar penghuni)/Coklat dimakan/(jadi tawanan)/Aaa aaa aaa aaa aaa/Aaa aaa/aaa aaa aaa/Aaa aaa aaa aaa aaa aaa aaa aaa aaa/Aaa aaa aaa aaa
("Coklat", Pure Saturday)

Menurut saya, lagu "Coklat" ini adalah yang paling menunjukkan identitas Pure Saturday, terutama menyangkut pembuatan syair yang cenderung menggunakan kata dengan mempertimbangkan bunyi sebagai bagian dari ‘bunyi’ dalam musik. Lagu ini juga bisa jadi ‘pintu masuk’ bagi pendengar ‘umum’ yang ingin tahu pola musikalitas Pure Saturday.

Secara sederhananya, rata-rata lagu Pure Saturday, ditinjau dari teknik bernyanyinya sering menggunakan pola dengan memanjangkan bunyi vokal di akhir frasa, misalnya frasa: Coklat menari, maka teknik bernyanyinya kalau dituliskan secara fonetis menjadi: Coklat menariiii. Kalau frasa itu diakhiri dengan konsonan, maka tetap vokal terakhir yang dipanjangkan, misalnya frasa: Bijak berangkat, menjadi Bijak berangkaaat. Pola musikalitas lagu "Coklat" ini muncul di banyak lagu-lagu lain yang diciptakan Pure Saturday, terutama menyangkut harmonisasi syair dengan komposisi musik yang saling berkejaran memenuhi bagian-bagian kosong dari ruang lagu. Bersih dan padat.


Pure Saturday dengan Syair Berbahasa Inggris

Secara umum, harus diakui bahwa Pure Saturday lebih bisa mengomunikasikan lagu dengan syair berbahasa Inggris. Barangkali ini juga berlaku pada band indie dengan garapan musik tak berada dalam jalur mainstream, mereka lebih fasih mengusung rangkaian kalimat berbahasa Inggris jika dibandingkan dengan menulis lagu berbahasa sendiri. Lirik-lirik yang mencuat menuturkan tentang area-area kelam, impian-impian yang sungsang dan menggasing seperti kemarau mencapai kulminasi.

Kadang juga impresinya lurus namun memutar. Seperti hukum termodinamika komidi putar, kata-kata dipilah-pilah bahkan tidak dengan logika berbahasa tertulis yang standar, namun koherensinya cukup apik menjelujur seperti tusuk piston dalam bordiran suatu kerja jahitan handmade.

Dalam menulis lagu-lagu berbahasa Inggris, saya pikir Pure Saturday kerap memainkan peran yang kuat sebagai “pengamat kesunyian” (the observer of solitude). Ini hanya sekadar istilah dari saya untuk mendeskripsikan betapa sebenarnya mereka sangat peka pada petal-petal hidup yang lahir, berkembang, dan menggelayut di sekeliling mereka, yang mungkin kita kadang abai meresponnya.

Betapa pekak kenyataan bisa ditera dalam lagu "Silence". Lagu yang bagi saya mempertanyakan sekaligus menggugat-mungkin kebodohan, kesalahan, ketulian, ataukah ketidakpedulian pada kesemrawutan hidup. Bayangkanlah bagaimana mereka lelah akan keadaan menjadi luapan senyap:

I just won't stay here and wait/I just want, I just want to die

Kenapa aku-lirik seolah-olah putus asa dan mengharap maut menyapa. Apakah saking tak ada harapannya untuk berubah, tak ada kesempatan untuk menata hidup yang lebih baik dalam diri maupun sekeliling mereka? Apakan jeritan sepi ini melintas begitu saja untuk menimbulkan tuntutan? Tentu tidak. Saya kira normal-normal saja jika mereka mendadak buntu dengan jalan yang mereka tempuh. Lagu ini diawali dengan prolog yang provokatif, semacam tangisan lirih. Saya kutip di sini:

Hear nothing but my heart beat/Knockin'... knockin'.../Everything seems so dark in my eyes/Fallin'... fallin'...
 
Nuranikah yang menjadi sesuatu yang tersimak di kedalaman jiwa mereka, terus memaksa mereka memerhatikannya, meskipun segala-sesuatanya terasa pekat hitam dan mungkin mata telanjang tak bisa menyaksikan kejadian atau peristiwa apa yang tengah berlangsung di hadapan? Lantas, apakah yang jatuh berderak: malaikat, tatanan moralitas, orang-orang kalah, untaian nasib, korban dan otoritas palsu yang mengatasanamakan diri sebagai penyelamat (negara)?

Daftarnya bisa kita perpanjang dan boleh jadi malah makin menyesakkan batin kita. Tafsiran ini mengindikasikan betapa Pure Saturday menjadi muak dalam sikap diamnya, hingga meninggalkan dunia bisa jadi solusi dari semua kondisi boborok ini. Rangkaian sampiran kalimatnya bahkan membikin kita ngeri, sebagaimana tersirat dalam lirik berikut ini dengan pola imaji yang cukup utuh:

We will never be free at all

Kita tak pernah bisa sepenuhnya merasakan kebebasan, acapkali dikepung dengan persoalan-persoalan yang membebani dan menguras tenaga maupun pikiran. Sebab, jika pun kita menenggelamkan diri untuk hanya sibuk memenuhi kehendak personal, bayang-bayang hitam itu akan singgah dan membuat kita gusar menatapinya lekat-lekat entah di wujud waktu yang seperti apa.

Pada lagu "Enough", lagi-lagi kematian menjadi topik dominan dalam benang merah syairnya seperti tampak pada kalimat-kalimat berikut ini:

Problems come and go so fast/ No chance to us to think about

Inilah kuncinya. Persoalan-persoalan hidup datang berubi-tubi tanpa kita mampu menghalanginya, bahkan tak ada jeda sedikitpun bagi kita untuk lari dari tanggungjawab, maksud saya sekadar rehat, menghirup oksigen yang benar-benar bersih, dan memulihkan kinerja otak agar menjadi segar kembali, mengumpulkan remah-remah tekad agar bertenaga kembali untuk bisa berubah, untuk menjadi beda dibanding dengan yang selama ini berlangsung.

Lebih tragis lagi ketika masuk tema yang lebih besar menyangkut manusia dan kemanusiaan. Salah satu persoalan yang akan terus ada sepanjang masa dan menjadi bencana kemanusian yang terbesar adalah perang. Perang menyuguhkan drama tentang wujud dari kesewenang-wenangan dan yang pasti kematian di antara dua belah pihak yang berseteru. Jalan perang terkadang menjadi satu-satunya cara, bahkan ketika celah damai masih terasa keberadaannya. Tengoklah kalimat berikut:

Another nuclear fight/flying and trying to kill everymore/will you see the truth

Kebenaran seperti gelambir perut yang disembunyikan dibalik baju dan mungkin memalukan untuk ditampilkan ke wilayah publik. Ironi memuncaki posisi kita sebagai manusia yang semestinya menemukan dan mengandalkan fitrahnya. Simak lagi liriknya:

It's enough, it's enough/The war will break this world to pieces/Do you realise?

Verba "enough" meneguhkan sikap Pure Saturday tentang perang. Teriaknya: cukup sudah. Perang merusak kehormatan kita sebagai manusia, memunculkan kobaran dendam bagi pihak-pihak yang terlibat, yang dalam satu generasi berikutnya bisa meledak lagi, begitu terus-menerus tak ada ujungnya. Rangkain baris emosional dengan kombinasi kerengkahan ini ditutup dengan tiga baris yang jitu, yang dikumandangkan dengan berjarak oleh Pure Saturday.

Don't you wish a miracle/It won't come to you anymore/If you don't change your point of view

Manusia yang mengubah, bukan keadaan yang mengubah sendiri situasi-situasi berat yang terpampang dihadapan mata.

Pada akhirnya, memang lebih baik syair Pure Saturday yang berbicara langsung pada pendengarnya. Karena yang saya lakukan bisa jadi malah mereduksi apa yang dicita-citakan dalam proses kreatif mereka.

    


Kartawijaya
About the author:

Kartawijaya, salah satu pendiri Orkes Keroncong Rindu Order sekaligus memainkan instrumen cello betot. Selain itu, ia membuat film-film advokasi untuk kasus-kasus tanah bagi petani dan kasus-kasus perburuhan. Sekarang sedang menyiapkan pembuatan film dokumenter tentang cello pizzato.

Read More >>


Comments (0)Add Comment

Write comment
smaller | bigger

security code
Write the displayed characters


busy
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 11:47
 
Banner
Banner
Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
Banner

Who's Online

We have 9 guests online

Follow Us On

Facebook Group: 50072354705 Twitter: jakartabeat