| Konser Koin Untuk Keadilan: Solidaritas Untuk Prita Lewat Dunia Maya |
|
|
| Tuesday, 05 January 2010 00:06 |
|
Oleh Idhar Resmadi, penulis freelance, mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran
Bukan hanya meluangkan waktu di tengah padatnya kesibukan kerja, Iyo juga melepas status “suami siaga” (Iyo dan istri tengah menantikan kelahiran anak mereka) hanya untuk rapat kesana-kemari. Ia berkeliling mencari band dan venue yang rela tak dibayar, hingga mengkoordinir acara dari awal hingga akhir. Sungguh suatu kebetulan yang manis bahwa konser amal ini diselenggarakan bertepatan dengan Hari Kesetiakawanan Nasional. “Untuk menunjukkan solidaritas, kita tidak perlu kenal dengan Prita,” tutur Ketua Panitia Konser Koin Untuk Keadilan di Bandung ini. “Pelaksanaan Konser Koin Untuk Keadilan Prita di Bandung, mungkin hanya satu pijakan untuk mengasah kembali rasa solidaritas kita dan rasa prihatin terhadap arogansi orang-orang yang punya kuasa,” lanjutnya.Iyo dan penyelenggara konser amal ini berjasa mengingatkan bahwa meskipun gugatan terhadap Prita telah dibatalkan pihak RS Omni Internasional, acara seperti ini penting untuk tetap diadakan agar menjadi simbol kesetiakawanan dan kepedulian sosial. Panitia penyelenggara yang dipimpin Iyo berhasil mengumpulkan tujuh band indie asal Bandung , diantaranya adalah Bottlesmoker, The Milo, Goodboy Badminton, Alone At Last, The S.I.G.I.T., Godless Symptoms, dan Mortified untuk meramaikan acara. Harga tiket masuk ditetapkan seharga Rp 20.000 yang seluruh hasil penjualannya disumbangkan melalui Posko Prita di Jalan Langsat Jakarta. “Selama hal itu demi rasa kemanusiaan, kami senang terlibat dalam konser solidaritas Prita,” tutur Yas Budaya, vokalis Alone At Last. Vokalis yang yang juga lulusan Sarjana Hukum ini percaya bahwa penggalangan koin lewat musik bisa menjadi suatu medium kritik dan pesan. “Saya melihat koin itu sebagai simbol perlawanan. Rakyat sebagai manusia tahu mana yang salah dan mana yang benar,” tegasnya.
*** Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Konser Koin Untuk Keadilan menjadi niscaya karena teknologi informasi. Mulai dari pembentukan panitia, komunikasi dengan band, hingga promosi acara, media microblogging Twitter menjadi andalan efektif, termasuk untuk menggalang massa. Ratusan penonton yang hadir memadati Score Ciwalk Bandung dan Hard Rock Café Jakarta siang itu, datang bermodalkan informasi Twitter. Saya dan juga termasuk ratusan penonton konser di Bandung dan Jakarta adalah saksi munculnya kekuatan baru dalam menggalang massa. Munculnya, people power dunia maya atau e-People Power di Indonesia. Iyo yang semula skeptis pada Twitter, bahkan akhirnya mengamini kekuatan jejaring maya yang sungguh signifikan. “Gelo pisan euy Twitter teh nya,” ujarnya. (“Gila banget kekuatan Twitter tuh yah” ) *** Konser Koin Untuk Keadilan Prita memang bukan konser pertama yang memanfaatkan jejaring maya sebagai katalis untuk mengumpulkan massa. Beberapa band lokal sempat memanfaatkan dunia maya untuk mencari massa., misalnya melalui situs MySpace. Fenomena situs social networking selama lima tahun belakangan ini memang menyediakan jejaring baru untuk mengorganisasi diri dengan lebih efektif. Internet World Stats mencatat bahwa sampai dengan Juni 2009, pengguna internet di Indonesia berjumlah sekitar tiga puluh juta orang. Angka ini menempatkan Indonesia pada urutan kelima Asia Top 10 Internet Countries 2009, setelah China, Jepang, India, dan Korea Selatan. Angka ini pada saat yang sama menyiratkan mencuatnya kelas baru dalam masyarakat Indonesia, kelas pengguna internet. Sebuah kelas yang lebih kritis, oportunis, egaliter, percaya pada kecepatan transfer informasi, dan melek teknologi informasi. Sejatinya, Konser Keadilan Untuk Keadilan ini bukanlah sekedar konser pengumpulan dana koin semata. Lebih dari itu, ia bisa dibaca sebagai salah satu tonggak munculnya sebuah kekuatan masyarakat sipil baru. Ia adalah sebuah gerakan sosial (social movement) masyarakat Indonesia melalui media budaya popular, dengan musik sebagai repertoire-nya. Apa yang digagas para penyelenggara Konser Keadilan Untuk Prita ini menawarkan sebuah elemen baru demokrasi dengan memanfaatkan kekuatan jejaring dunia maya. Dunia maya juga kini menjadi contoh betapa gaduhnya “demokrasi”, kegaduhan yang juga menjadi fenomena baru di Indonesia belakangan ini. Sebelumnya telah muncul gerakan “Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra dan Bibit” yang fenomenal (terakhir saya tengok, anggota halaman facebook yang dibuat oleh Usman Yasin ini telah mencapai kurang lebih 1,4 juta anggota). Bila saya tidak salah mencatat, ada sekitar seratus grup “Dukungan bagi Prita Mulyasari” di Facebook. Juga bisa disebut contoh gerakan-gerakan lain, mulai dari dukungan untuk Luna Maya (yang berseteru dengan pekerja infotainment) hingga soal yang amat politis seperti penuntasan kasus Bank Century. Agaknya benar bahwa kita telah memasuki era, meminjam filsuf Jean Baudrillard, hiperrealitas . Sebelum Konser Koin Untuk Keadilan Prita ini dilaksanakan, band grunge Navicula sempat merilis secara gratis via internet lagu mereka yang berjudul “Mafia Medis”. Band asal Bali ini dengan tajam menyindir tradisi praktek dunia medis di Indonesia, berkaitan dengan apa yang menimpa Prita. Beberapa bulan sebelumnya, komunitas Cicak (Cintai Indonesia Cintai KPK) juga merilis sebuah tribute untuk KPK melalui lagu “KPK Di Dadaku” yang dibawakan oleh Fariz RM, Once, Netral, Efek Rumah Kaca, dan Kadri dan Jimmo dari Kadri Jimmo The Prinzes of Rhythm (KJP). Lagu yang menjadi ekspresi kritik ini juga tersebar luas melalui internet. Ekspresi kritik kita kini menemukan saluran baru dalam bentuk Facebook, Twitter, milis, dan blog mp3. Yang menarik, budaya popular, dengan menggandeng musisi, seniman, atau aktris yang bersuara sama menyamakan opini, menjadi repertoire yang semakin sering digunakan. Inilah pengimbang kekuasaan baru dalam bentuk ekspresi politik non-konvensional. Apa yang kita saksikan melalui Konser Koin Untuk Keadilan Prita dan gerakan dunia maya lain mengingatkan kita pada Juergen Habermas yang dalam bukunya Structural Transformation of the Public Sphere bertutur tentang pentingnya ruang publik (public sphere). Ruang publik adalah medium sosial untuk menyampaikan kritik kepada penguasa atau negara lewat praktik-praktik diskursus. Konser Koin untuk Prita dan gerakan berbasis internet yang kita lihat belakangan seolah menjadi kelanjutan dari paparan Habermas mengenai ruang publik di Inggris abad 18. Ruang publik ketika itu ditemukan di tempat-tempat seperti klub, warung kopi, majalah berkala, atau lembaga lain tempat individu berkumpul. Di sanalah diskusi bebas antar individu mengenai beragam masalah terjadi. Ketika itu, ruang publik yang mayoritas melibatkan penulis, penyair, politikus, diplomat, pengacara, teolog, ilmuwan, aktor, dan lain sebagainya. Dalam era kita hidup kita sekarang, yang oleh Thomas Friedman disebut sebagai era dunia datar, ruang publik juga mewujud dalam bentuk akun Facebook atau Twitter. Golongan pengguna internet agaknya menjadi kekuatan baru yang membentuk opini publik, menyetir wacana, dan menggalang massa. Dalam konteks inilah Konser Koin Prita menjadi ikon menarik. Twitter dan Facebook (atau jejaring maya lainnya) bagaikan sentrum individu-individu mengeluarkan opini dan menjadi kekuatan media yang menakutkan bagi penguasa arogan.
|
Baca Artikel Lainnya
Set as favorite
Hits: 530 Comments (0)
![]() Write comment
|
| Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 04:48 |