Fri05182012

Last update09:41:18 PM

  | Advanced Search
Back Home Idea Kanal Idea Prosa Vinyl, Hipster dan Counterculture
06 Feb 2012

Vinyl, Hipster dan Counterculture

Written by Aldo Ersan Sirait  |  Read 2680 times
Rate this item
(6 votes)

 

Awal 2011 lalu, seorang penggiat (scenester) skena musik indie Jakarta yang begitu saya kagumi, melempar pertanyaan asal kepada saya, “Lu main plat juga ga?” Plat yang dimaksudkan tentu saja adalah piringan hitam, lebih sering disebut sebagai vinyl (istilah dalam bahasa Inggris) oleh anak zaman sekarang. Pertanyaan itu berbalas kalimat negatif tentunya karena saya bahkan tidak punya turntable (alat pemutar vinyl). “Baguslah, jangan deh, penyakit kalau mulai main”, sambungnya lagi. Saya mengangguk tapi hati kecil saya tergelitik untuk memulainya (mengisi pundi dana pembelian turntable) mengingat propaganda “vinyl is klling the Mp3 industry” yang tadinya saya maknai sebagai manifestasi ‘eclecticism’ kaum urban saja, seketika berubah menjadi harapan.

Betul adanya, belakangan vinyl bergeser perlahan dari rare collectible items menjadi benda berlabel ‘must have item’ di kalangan hipster (apa yang disebut dengan dan bahkan telah dikategorikan sebagai kata benda juga kata sifat oleh koran sebesar New York Times), bahkan saya menjumpai vinyl ‘The Who Sells Out’ karya klasik The Who dipajang di salah satu toko musik mainstream. Ini berarti bahwa, pangsa pasar rilisan fisik yang tidak dianggap konvensional itu kian menjamur.

Salah satu penyebab kebangkitan vinyl adalah penyakit yang menjangkiti suatu kaum yang berkitab Pitchfork dan berkiblat fashion pada Urban Outfitters, mengkonsumsi bir tidak enak Pabst Blue Ribbon (khusus di Amerika Serikat), rubrik do’s and dont’s majalah Vice, sepeda fixie berwarana neon, tote bag sederhana nan genit, serta tingkah polah yang tidak bisa segera dijelaskan. Pentingkah itu semua? Saya tidak yakin itu penting, namun yang pasti adalah mereka antusiasme tinggi akan karya seni indie, dan kecenderungan mereka untuk mebcari musik ‘paling hip’ itu penting untuk ditelaah. Kaum hipster juga sedang dalam romansa penentangan format digital mereka dengan analog, mulai dari film bisu, fotografi Polaroid hingga vinyl. Ini pertanyaan yang paling mengganggu buat saya.

Namun, saya butuh waktu karena saya mempercayai trend itu lahir untuk diresapi dan dipilah terlebih dahulu dan bukan untuk diposisikan sebagai urgensi terwahid untuk digeluti. Trend ini pasti muncul karena suatu prinsip dengan tujuan murni yang lepas dari keinginan pragmatis menjadi keren, dan jangan lupa juga kalau trend ini pasti membutuhkan dana besar dan bahkan usaha yang tekun dari para pemainnya. Trend vinyl adalah arus positif yang makin mengarus utama namun saat ini saya melihat potensi baginya untuk tergelincir. Permasalahannya sama seperti permasalahan klasik aparat penegak hukum, identitas tersebut kehilangan idealisme. Sebagian besar pelaku baru trend vinyl tersebut tidak mempertimbangkan kedua hal yang saya utarakan di atas.

Bom itu meledak satu tahunan kemudian, saat dimana saya belum berhasil menyukseskan rencana pribadi membeli turntable. Saya mendapat suatu kehormatan, tawaran untuk mencoba menulis mengenai hal terkait pertanyaan sang scenester yang diajukan oleh seorang penulis musik yang bisa dibilang salah seorang yang bertanggung jawab atas peningkatan trend vinyl di Indonesia. Blog yang didirikannya dengan salah seorang rekannya itulah yang pada akhirnya menjadi pemicu trend vinyl menjadi kian menjamur. Hal ini bukan berarti trend vinyl di Indonesia tersebut sepenuhnya muncul karena blog. Ada beragam alasan. Bila dianalogikan dengan pecahnya Perang Dunia II, pendirian blog itu setara dengan perebutan kota Danzig, sebuah pemicu sedangkan salah satu latar belakang terjadinya Perang Dunia II adalah keinginan Italia mengulang kejayaan masa Imperium Romawi. Sama halnya dengan latar belakang kembalinya vinyl di dunia, termasuk di Indonesia, juga karena keinginan untuk mengulang masa kejayaan industri musik dengan rilisan fisik mereka.

Saat ini adalah masa kelam penjualan album fisik, masa kejayaan compact disc (CD) yang menggantikan rekaman musik dalam bentuk vinyl dan kaset telah pudar. Penikmat musik di seluruh dunia tanpa rasa bersalah dapat mengunduh album dan/atau lagu yang diinginkannya sacara gratis di masa sekarang hanya dengan berbekal koneksi Internet yang bisa berbagi file atau peer-to-peer sharing yang sekarang agak semakin sulit dengan Stop Online Piracy Act (SOPA). Format non-fisik dari album musik memang lebih efisien untuk dinikmati, namun album fisik tetap tidak tergantikan bagi beberapa orang. Maka muncullah kembali vinyl dengan segala janji kualitas keluaran suara terbaik, rilisan fisik berformat terkeren, yang dengan mudah menjadi stempel cool bagi kaum urban paling hip, kaum hipster. Selaras dengan apa yang diutarakan dalam di sebuah tulisan di Epitonic bulan Januari 2011: “...there are more sales of vinyl records than in the previous ten to fifteen years. Couple this "cool factor" with the record store's ability to offer a product that subscription streaming services can't (music ownership) and what digital outlets lack (a physical product of superior audio quality that is impervious to computer crashes) and the independent record store has a viable product to help sustain its business. Only two years ago there were claims that albums were becoming obsolete. Now it appears as though albums may be revitalizing the music industry and saving the record store”.

Ini adalah kebangkitan kembali kedua bagi vinyl. Kali pertama kebangkitan penjualan vinyl itu terjadi pada akhir 1990-an yang sebagian besar digerakkan oleh maraknya ‘dance music’ dan dilatarbelakangi oleh maraknya impian muluk menjadi Disc Jockey di Ibiza. Saat ini kebangkitan kembali vinyl kebanyakan mucul dari antusiasme para penikmat musik indie rock. Chris Muratore dari Nielsen, sebuah firma riset menyatakan bahwa lebih dari setengah album vinyl dengan penjualan tertinggi di Amerika Serikat merupakan rilisan musisi indie seperti Fleet Foxes dan Bon Iver. Bahkan, album vinyl rilisan baru (tidak termasuk reissue) dengan penjualan tertinggi di tahun 2010 adalah album dari band Kanada Arcade Fire ‘The Suburbs’. Pada tahun 2011, King of The Limb yang diproduksi secara independen oleh Radiohead dan didistribusikan oleh XL, serta beberapa label independen lainnnya, merupakan album dengan penjualan tertinggi dalam bentuk vinyl. Kebanyakan dari vinyl lainnya selain rilisan band-band indie rock tersebut adalah reissue dari album-album klasik semacam Pet Sounds Beach Boys, In The Aeroplane Over The Sea milik Neutral Milk Hotel dan Abbey Road punya The Beatles. Format ini dalam banyak hal lebih memberi kepuasan. Banyak album dalam format vinyl yang menyertakan kode untuk mengunduh album itu pula melalui internet. Selain itu juga, bentuknya yang lebih besar dan berat dari CD memberikan kepuasaan tersendiri bagi penggilanya, dalam perspektif ekonomi terdapat nilai intrinsik yang lebih dalam untuk vinyl dibandingkan dengan format CD.

Pendapat saya kini telah bertemu dengan fakta yang meyakinkan bukan? Oleh karena itu, izinkanlah saya untuk mengutarakan penjabaran tentang dua hal (disebutkan dalam paragraf kedua) yang saya percayai namun seringkali tidak dicamkan oleh para pemadat baru vinyl. Kenapa saya sebut baru? Karena hipster adalah anak baru bagi vinyl. Generasi Baby Boomer di era 1970-an adalah pemulanya dan Generasi Ecstacy di penghujung era 1990-an yang gemar tripping adalah revivalist pertamanya. Belakangan di akhir era 2000-an hingga awal era 2010-an ini, rilisan fisik berbentuk vinyl musisi indie rock-lah yang paling tinggi penjualannya. Kaum hipster pemadat musik indie itulah alasannya.

Pertama, trend membeli musik dalam bentuk vinyl bisa dibilang sebagai suatu bentuk pelaksanaan prinsip counter-culture, sebuah subklutur, suatu ide budaya yang biasanya muncul dari kaum muda. Budaya penentang keseragaman yang ingin melepaskan diri dari apa yang dipaksakan oleh orang tua, apa yang kolot dan konservatif, apa yang seragam dan juga mengekang. Dominasi yang terjadi timbul dari kemajuan teknologi, musik diproduksi dan didistrubusikan dalam format non-fisik. Kebanyakan konsumen musik arus utama tidak lagi membeli rilisan fisik berupa CD atau kaset malahan mereka mengunduh musik via file sharing dari internet yang bahkan saat ini banyak sekali beredar secara ilegal. Dominasi ini kemudian dilawan oleh para pelaku subkultur yang mengapresiasi musik dengan membeli musik dan mengumpulkan album musik dalam bentuk vinyl. Terlebih lagi rilisian fisik dalam bentuk vinyl adalah rilisan fisk dengan kualitas suara terbaik, dengan keluaran suara yang begitu kaya, jauh berbeda dengan bentuk non-fisik yang mengalami degradasi kualitas ketika dalam proses pengkonversianya. Bisa dibilang, trend kembalinya vinyl bukan muncul karena kemauan industri musik itu sendiri namun digerakkan oleh sebagaian kecil konsumen yang memahami dan mengerti hakikat counter-culture, ketika terjadi peningkatan konsumsi akan vinyl maka sesuai dengan prinsip dasar ekonomi produsen akan menyiapkan permintaan akan vinyl tersebut bukan? Namun kemudian ada masalah di sini, karena vinyl kemudian tidak dengan begitu saja mendefiniskan hipster.

Less a subculture, the hipster is a consumer group – using their capital to purchase empty authenticity and rebellion. But the moment a trend, band, sound, style or feeling gains too much exposure, it is suddenly looked upon with disdain. Hipsters cannot afford to maintain any cultural loyalties or affiliations for fear they will lose relevance.” Begitulah sepenggalan deksripsi hipster sebagaimana yang dituliskan oleh Douglas Haddow dalam artikel di majalah anti-konsumerisme tanpa iklan, Adbusters, yang mengklaim diri sendiri sebagai ‘a global network of culture jammers and creatives’.

Hipster dimaknai bukan sebagai subkultur seutuhnya, hipster membeli atribut-atribut counter-culture tersebut, termasuk vinyl, tanpa meresapi jati diri yang mendasari eksistensi counter culture itu. Subkultur termutakhir (hipster) kehilangan jati diri counter-culturenya bukan timbul begitu saja, sama seperti bangsa Indonesia (birokrat khususnya) sulit lepas dari budaya korupsi. Keduanya melalui proses bertahap yang timbul karena adanya penyimpangan oleh generasi pendahulunya yang lama kelamaan menjadi terinternalisasi dalam generasi selanjutnya. Penyimpangan generasi terdahulu yang dimaksudakan dalam ranah hipster itu berupa kemunafikan. Kedengarannya sepele bukan? Tapi percayalah kemunafikan yang terkejewantahkan dalam lagu-lagu kritik sosial (dalam hal ini akan dikerucutkan saja menjadi di dunia musik karena kaitannya dengan hipster musik) itu dapat menggerakan ribuan muda-mudi turun ke jalan untuk menentang perang, menggulingkan rezim komunis di suatu negara, mengangkat derajat kaum pekerja, menyebabkan marijuana dan LSD menjadi budaya populer, dan bukankah romantisme pemberontakan apapun selalu terdengar begitu menggetarkan? Ya, sampai kita menyadari pemberontakan itu tetaplah diperlakukan sebagai komoditas penghasil profit. Entahlah apakah benar kapitalisme sebegitu lihainya mempermainkan produk budaya subkultur untuk kemudian dikemas menjadi ‘barang dagangan’ ataukah memang, dengan berat hati saya mempertanyakannya, Bob Dylan dan generasi yang menobatkannya sebagai juru bicara Generasi Bunga pantas untuk ditunding sebagai kaum hipokrit primitif yang mengorbankan generasi kita terlunta-lunta dalam ketidakjelasan eksistensi counter-culture yang begitu utopis? Hingga akhirnya, counter-culture itu dimaknai hanya sebatas sebagai atribut-atribut yang menopang pencarian jati diri muda-mudi atau lebih parahnya lagi serendah untuk menjadi cool saja. Mengutip Steve Redmon, juru bicara Britain’s Annual Record Store Day yang menyatakan bahwa entah kenapa tapi vinyl jauh lebih keren dibandingkan dengan unduhan. Perlu dipertanyakan apakah trend vinyl yang kian menggeliat di kalangan muda-mudi terlahir karena vinyl adalah karena persepsi masyarakat di era ini mengkategorikan piringan hitam sebagai item yang ‘cool’ saja. Lantas apa arti dari makna vinyl sebagai penyelamat industri musik, bentuk perlawanan terhadap unduhan musik ilegal dan apresiasi akan karya musik? Perlu loyalitas untuk mempertahankan trend vinyl yang positif ini. Manifestasi prinsip counter-culture berupa pembelian musik dalam bentuk vinyl ini tidak layak untuk ditinggalkan begitu saja ketika nanti mendapat ekspos dari media dan publik arus utama, beda halnya dengan trend celana di kalangan hipster Jakarta yang dimulai dengan dry jeans produk Swedia atau Eropa Barat kemudian tergeser oleh jeans produk Jepang dan kini tergeser kembali oleh Chino, industri musik tidak akan teganggu dengan perilaku tidak loyal dan konsumtif kaum hipster itu yang kemungkinan tidak didasari akan pengetahun tentang kaitan trend celana dengan filosofi Kelas Pekerja maupun kaitannya dengan Perang Iraq.

Kedua, hipster memiliki kesamaan satuan pengukur nilai, yaitu ‘cool’. Selera tentu saja merupakan hal yang relatif tapi dengan segala kemajuan teknologi dan komunikasi di tengah globalisasi selera kaum hipster akan sesuatu yang cool itu dapat mencapai sebuah konsensus.Tentu saja dengan bantuan media massa. Atribut-atribut yang telah mendapatkan label ‘cool’ dengan konsensus secara tidak langsung tersebut yang kemudian dikonsumsi dengan tujuan menjadi berbeda namun malah berakibat timbulnya keseragaman. Saat ini, vinyl merupakan item dengan label ‘cool’ tersebut. Namun yang perlu ditinjau adalah fakta bahwa trend ini pasti membutuhkan dana lumayan besar bahkan usaha yang tekun dari para pemainnya. Betapa menyedihkannya apabila vinyl ditempatkan sebagai atribut fashion belaka, membeli dengan harga Rp.200.000 ke atas untuk sebuah album tanpa pernah mengapresiasi karya musik di dalam album musik itu. Kecenderungan bersifat konsumtif ini berbanding lurus dengan antusiasme counter-culture yang kosong dari para cool-hunters.

“They’re those fun, little, arrogant people who let the ideal of “anti-consumerism,” combined with a hatred for all things normal, dictate their every action. Whether it’s spending more time and money at thrift shops for threads (anti-consumerist threads, mind you), or combing the record store for the most unknown/least coherent band they can find, there’s one thing that hipsters constantly want you to know: that they are better than you. That, and also, those frames that you’re wearing are so mainstream”, begitulah lukisan Steve Crowder, seorang komedian merangkap jurnalis, mengenai hipster. Dominasi budaya kapitalisme terhadap perkembangan subkultur masih begitu besar begitu pula dalam hal ini, dalam berbudayapun dibutuhkan uang dan usaha yang besar. Pengimplementasiannya dalam hal-hal yang lebih kecil pun membutuhkan dana dan usaha yang cukup besar. Sebagai contoh, dalam urusan membeli vinyl masih belum banyak toko lokal yang menyediakan dalam hitungan koleksi memadai. Bahkan, banyak yang harus membeli melalui on-line store dari luar negeri. Selain itu, industri musik di Indonesia sendiri sudah tidak lagi memproduksi album vinyl secara reguler semenjak Remaco dan kawan-kawan menutup pabrik di awal dekade 1980-an. Hal-hal ini dapat menuju pada sebuah elitisasi trend vinyl padahal elitisasi adalah hal yang bertolak belakang dengan latar belakang lahirnya trend.

Alangkah lebih baiknya, bila tidak ada penudingan satu sama lain. Hipster atau non-Hipster bukan soal. Toh, beberapa media yang mengkritisinya dengan perspektif yang terlampau negatif seperti Adbuster, juga perlu mempertanyakan eksistensi non-profit dan propaganda politis mereka yang kian goyah. Hal penting yang harus dicamkan adalah bagaimana trend vinyl ini dapat terus dipertahankan dalam rangka menyelamatkan kepunahan tradisi rilisan fisik musik, beberapa caranya tentu saja seperti yang sudah dibicarakan di atas demi satu situasi yang sederhana, tiadanya elitisasi akan trend vinyl. Mengenai apakah hipster masih merupakan hal yang relevan untuk diperbincangkan, jawabannya tentu iya karena ini adalah fenomena budaya populer dari Barat yang kian merambah dan berkecambah termasuk di Indonesia, pula tidak lupa andilnya dalam membawa kembali vinyl ke arus utama. Trend vinyl ini adalah suatu kebangkitan kembali. Suatu pengulangan namun kali ini dengan tujuan yang lebih mulia dibandingkan dengan kebangkitan kembali pertamanya.Titik cerah bagi industri musik khususnya bagi keberadaan toko rekaman musik fisik.

 

Aldo Ersan Sirait

Aldo Ersan Sirait

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan tekun membaca karya Aldous Huxley dan William Blake.

Komentar Tamu


Powered by Disqus