Fri05182012

Last update09:41:18 PM

  | Advanced Search
Back Home Idea Kanal Idea Prosa

Prosa (8)

20 Mar 2012
by Adi Renaldi - 
Published in Prosa

”…the adage used by those who fear psychology, “to understand is to forgive,” is only applicable within certain societal limits and that outside these limits to understand is to condemn.” – Jacques Lacan.

Aileen Carol Pittman. Namanya sempat terkenal beberapa saat, sebelum akhirnya tertelan waktu begitu saja. Kisah hidupnya mengilhami berbagai bentuk karya seni dan hiburan: film, literatur, bahkan acara TV. Kisah Aileen Wuornos seperti gabungan antara Eros dan Thanatos sekaligus (bahasa Yunani yang berarti cinta dan kematian). Namun ironisnya, tak ada happy ending di dalamnya.

Aileen Carol Pittman dilahirkan di Rochester, Michigan pada tanggal 29 Februari 1956 dari pasangan Leo Pittman dan Diane Wuornos. Tampaknya kebahagiaan bukan milik keluarga ini. Ibunya menelantarkannya sejak umur 4 tahun. Tak berapa lama ia dan kakak laki-lakinya diasuh oleh kakek dan nenek dari pihak ibunya. Namanya pun berganti menjadi Aileen Carol Wuornos. Pada usia 11 tahun, Wuornos sudah terlibat kegiatan seksual dengan teman-teman sekolahnya hanya untuk narkotika, rokok, dan makanan. Konon, ia juga pernah berhubungan seksual dengan kakaknya sendiri. Sang kakek yang alkoholik juga kerap menyakitinya secara seksual (Wuornos juga mengklaim bahwa sang kakek pernah memperkosanya). Wuornos belum pernah sekalipun bertemu dengan sang ayah. Leo Pittman, yang diduga menderita skizofrenia, dipenjara karena memperkosa gadis berusia 7 tahun. Pada tahun 1969, ia gantung diri di penjara.

Pada usia 14 tahun, teman kakeknya memerkosanya hingga ia melahirkan bayi laki-laki yang kemudian diadopsi oleh seseorang. Pada usia yang sama, ia drop-out dari sekolah dan memulai “petualangannya” sebagai pekerja seks komersil di Daytona Beach, Florida. Pada titik ini, hidup Wuornos bagaikan mimpi yang tercerabut dari batang otak. Kekerasan dan penjara menjadi lekat dengan hidupnya. “Dia sudah hidup dengan hukuman mati sejak umur 12 tahun.” Kata salah satu teman masa kecilnya.

Entah karena nasib atau ada kekuatan lain. Puncaknya pada tanggal 1 Desember 1989, di sebuah hutan, Wuornos membunuh seorang pelanggannya bernama Richard Mallory. Mallory, seperti ayah Wuornos, adalah seorang pemerkosa kambuhan. Ia pernah melakukan serangkaian penyerangan seksual. Wuornos mengaku disiksa secara seksual oleh Mallory. Ia juga diancam akan dibunuh. Akhirnya Wuornos menembaknya beberapa kali hingga tewas. Tak lupa, ia juga mengambil uang dan beberapa barang milik Mallory.

Kekerasan memang bukan hal asing dalam kehidupan kita. Berita di layar kaca dan Halaman-halaman koran kerap dihiasi dengan laporan kasus kekerasan dan pembunuhan. Sepertinya hal tersebut sangat berjarak dengan kita, padahal kasus-kasus seperti itu dapat saja terjadi di lingkungan sekitar dan menimpa kita. 
Dalam satu dekade ini kita mengenal 4 pembunuh berantai sadis: Baekuni alias Babe, Rio si Martil Maut, Ryan si Jagal dari Jombang, dan terakhir Mujianto. Motif dan modus mereka memang berbeda-beda. Kecuali Ryan, yang mengajukan bukti bahwa dirinya psikopat setelah diperiksa oleh psikolog dan psikiater dari Kanada, ketiganya sehat secara kejiwaan.

Babe yang ditangkap pada 2010 lalu menjadi pelaku pembunuhan 7 anak jalanan (4 diantaranya dimutilasi). Ia datang dari keluarga miskin di Magelang. Anak ke-11 dari 12 bersaudara ini sering menghadapi kekerasan psikologis dari keluarga. Saat kelas 3 sekolah dasar, ia putus sekolah. Dan pada usia 12 tahun, ia merantau ke Jakarta sebagai gelandangan dan pengamen di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Dari jalanan yang keras ini Babe pernah disodomi secara paksa oleh seorang pria. Pada psikolog UI Sarlito Wirawan, Babe mengaku hal tersebut menimbulkan trauma yang mendalam. Ia pernah menikah dengan seorang wanita bernama Siera dan pindah ke Kuningan, Jawa Barat. Pada saat itulah, Babe mulai menyadari bahwa dirinya memiliki kelainan orientasi seksual. Ia mengaku tak pernah berhubungan suami istri dengan istrinya, bahkan hingga sang istri wafat.

Setelah sang istri wafat, ia pun kembali ke Jakarta dan mengontrak rumah. Karena menyukai anak-anak, ia pun mengasuh beberapa anak jalanan. Ia pertama kali menyodomi bocah pada tahun 2000. Dimana tiap korban yang disodominya selalu dibunuh. Jasad korban selalu dibuang ditempat ramai dan jasad yang dimutilasi umumnya disebar.

Masih menurut Sarlito Wirawan, Babe memiliki sifat kopulsi. Ia selalu melakukan perbuatan dengan pola teratur. Korban yang menolak disodomi dijerat dengan rafia, setelah korban tewas lalu disodomi.
Belum selesai dikejutkan oleh kasus Babe, publik kembali dihadapkan pada kasus pembunuhan yang dilakukan Verry Idham Henyansyah alias Ryan dan Mujianto. Keduanya berasal dari Jawa Timur. Ryan dari Jombang dan Mujianto dari Kediri. Ryan memiliki orientasi biseksual sementara Mujianto homoseksual. Modusnya beda tapi motifnya hampir sama.

Ryan yang dijuluki "Jagal dari Jombang" menghabisi 11 orang yang kebanyakan dikubur di halaman rumahnya. Ryan ditangkap di Jakarta pada tahun 2008 setelah jasad korbannya, Herry Santoso, ditemukan oleh kepolisian. “I can't explain how it happened. I was furious and jealous. I only realised he was dead after I saw cut-up pieces of his flesh on my lap... the blood, the bad smell. Suddenly I was gripped with extraordinary fear. All I wanted to do was to get rid of him." Ungkap Ryan seperti dikutip oleh Huffington Post.

Ryan ditengarai memiliki kelainan orientasi seksual sejak SMP. Temannya pun kebanyakan perempuan. Pria yang kini berusia 31 tahun ini membunuh Herry karena cemburu. Pasalnya Herry pernah berkencan dengan pacar lelaki Ryan. Setelah penemuan jasad pertama, polisi berturut-turut menemukan kesepuluh jasad korban si jagal termasuk di kampung halamannya sendiri. Selain karena cemburu, Ryan juga kerap menggasak harta benda korban. Ryan pun tinggal menunggu hukuman matinya.

Beda Ryan beda Mujianto. Awalnya Mujianto yang tak lulus SD ini menyukai lawan jenis. Namun beberapa tahun lalu ia pernah disodomi secara paksa oleh lelaki tak dikenal di area persawahan. Ia pun menyimpan dendam. Tapi entah kenapa dendam itu malah membuatnya menyimpang. Saat menjadi pembantu di rumah majikannya, Joko, hal serupa terulang lagi. Mujianto kerap melayani nafsu seksual Joko layaknya istri.
Mujianto pun akhirnya memiliki hubungan istimewa dengan Joko. Seiring waktu, perhatian Joko kepadanya semakin berkurang karena mulai mendapat banyak teman baru. Ia pun bertindak. Racun tikus jenis Thimex dipilihnya karena efektif. Total korbannya mencapai 15 orang. Empat diantaranya tewas.

Ada satu benang merah yang membuat Ryan dan Mujianto cenderung sama. “Sesuatu” yang menggerakkan insting membunuh mereka adalah rasa cemburu yang teramat kuat. Bagi Antonius Rio Alex Bulo alias Rio Martil, kekerasan tampaknya tidak datang dari luar, tetapi dari dalam dirinya sendiri. Rio dilahirkan di Sleman, Yogyakarta 2 Mei 1978. Sejak kecil keluarganya kewalahan menghadapi kenakalan bocah ini. Pada usia 8 tahun ia diungsikan ke Jakarta untuk ikut kakaknya. Bukannya semakin reda, polah Rio malah menjadi-jadi. Ia akrab dengan preman Senen, bolos sekolah, dan mabuk-mabukan. Kekerasan dan kejahatan semakin menjadi bagian dirinya.

Setelah menikah, Rio memutuskan terjun sebagai pencuri mobil. Rio yang dikenal sebagai penjahat kambuhan sempat dipenjara beberapa tahun. Tapi ia tetap menggeluti pencurian mobil setelah keluar dari penjara, bahkan hingga luar Jakarta. Modusnya berganti, jika dulu hanya menggasak dan melarikan mobil, ia membekali dirinya dengan martil. Korban pertama adalah pengusaha rental mobil di Surabaya. Ia menghabisinya dengan martil dan melarikan sedan Mercedes Benz.

Percobaan pembunuhannya pernah gagal di Yogyakarta. Ia lantas beraksi di Semarang dengan modus yang sama. 2 orang tewas digetok martil kesayangannya dan mobil Isuzu Panther berhasil digondol. Aksinya berakhir di Purwokerto pada 12 Januari 2001 setelah menghabisi bos rental di Bandung dan melarikan sedan Timor. Rio Martil pun dijatuhi hukuman mati.

Di LP Nusakambangan, ia mengaku bertobat dan mulai mengaji. Tapi disana ia malah menghabisi narapidana kasus korupsi, Iwan Zulkarnaen hanya karena diejek. Rio dan Iwan berteman akrab karena sama-sama berdarah Sulawesi. Iwan pula yang mengajari Rio mengaji. Tapi “bakat” membunuh tampaknya tak pernah hilang dari dirinya. Ia membunuh Iwan dengan tangan kosong. Kepala Iwan dibenturkan pada tembok sel hingga tewas. Dan pada 8 Agustus 2008 ia akhirnya dihukum mati didepan regu tembak.

Motif Rio Martil memang murni ekonomi. Sebelum menikah ia hidup dari berjualan surat-surat kendaraan palsu. Setelah menikah ia beralih profesi sebagai pencuri mobil. Untuk mempermudah aksinya menggasak mobil, ia membunuh korbannya.

Sebelum membunuh korban pertamanya, Wuornos pernah menjalani hidup “normal”. Ia pernah menikah dengan Lewis Gratz Fell pada tahun 1976 dan bercerai pada 1977. Tapi dalam masa perkawinannya yang singkat kejahatan tetap menjadi bagian dari dirinya. Berbagai jenis kejahatan dilakukan mulai dari merampok dan memiliki senjata api. Keluar masuk penjara sudah biasa baginya.

Pada tahun 1985, ia menjalin hubungan dengan perempuan bernama Toni. Entah bagaimana orientasi Wuornos berubah pada saat itu. Mungkin karena trauma dan kegagalan perkawinan menyebabkannya menjadi biseksual. Kemudian ia pun bertemu dengan Tyria Moore, seorang lesbian yang taat ke gereja. Petualangannya dengan Tyria Moore inilah yang mengilhami film Monster yang disutradarai oleh Patty Jenkins dan dibintangi oleh Christina Ricci dan Charlize Theron (yang memerankan tokoh Wurnos dengan cerdas dan hebat). Hasilnya: Theron menggondol Academy Awards dan Golden Globe Awards untuk aktris terbaik.

Ketika bertemu Tyria Moore, hidup Wuornos berubah. Mereka mulai berkelana dan tinggal bersama sebagai pasangan kekasih. Wuornos amat mencintai Moore. Untuk menghidupi mereka berdua ia rela melakukan apa saja agar Moore senang. Termasuk membunuh dan merampas harta benda korbannya.

Setelah Richard Mallory, korban-korban lain berjatuhan. Total korbannya berjumlah 7 orang dalam rentang waktu 1989-1990. Saat ditangkap, Wuornos mengaku melakukannya karena membela diri. Ia mengaku bahwa ia diancam akan diperkosa dan dibunuh. Aileen Wuornos kemudian dijuluki “The Damsel of Death”. Setelah dipenjara selama 12 tahun di Broward Correctional Institute, ia akhirnya disuntik mati pada tanggal 9 Oktober 2002.

Pembunuhan bagaimanapun juga adalah anomali kehidupan. Para psikolog dan psikiater akhirnya berlomba untuk menjabarkan dan memetakan kondisi psikis pelaku untuk kemudian mengklasifikasikannya berdasarkan kondisi tersebut.

Para ahli menilai bahwa Aileen Wuornos mengidap borderline personality disorder atau ketakutan berlebihan akan pengabaian (fear of abandonment). Saat ketakutan itu meningkat, hal itu menjadi pemicu serangkaian pembunuhan yang disebut Wuornos sebagai “Killing Days”. Disfungsi keluarga serta masa kecil yang kacau juga turut berperan besar dalam pembentukan karakter dan kejiwaan Wuornos.

Wuornos mengaku tak menyesal telah melakukan pembunuhan tersebut. “Saya tak menyesal. Saya tak menyesal. Mereka mencoba membunuh saya. Saya membunuh mereka. Itu hal normal.” Kata Wuornos kepada Michele Gillen yang mewawancarainya. “Apakah anda sadar bahwa yang anda lakukan salah?” Tanya Gillen. “Tidak. Ini pesan untuk keluarga mereka: kalian berhutang padaku.” Jawabnya.
Ia juga mengatakan, tanpa nada heroik, bahwa masa lalu tak ada hubungannya dengan kejahatan yang dilakukannya. Meski Wuornos telah mengajukan beberapa bukti bahwa dirinya membunuh karena membela diri, pengajuannya tetap ditolak pengadilan. Selain karena motif ekonomi, Moore adalah alasan kenapa ia sampai membunuh.

Elizabeth McMahon, seorang psikolog yang memeriksa Wuornos selama satu setengah tahun, mengatakan bahwa Wuornos adalah sosok paling primitif yang pernah ditemuinya. “Ada beberapa peraturan diluar sana yang dimengerti oleh orang banyak,” katanya, “tapi tidak oleh Wuornos”. Susah untuk membuat Wuornos mengerti dan menyesali perbuatannya. Ia berpendapat bahwa para korbannya memang layak dibunuh.
Lynda Hart dalam bukunya Fatal Women: Lesbian Sexuality and the Mark of Aggression mengutip Slavoj Zizek, bahwa pembunuh berantai adalah sosok yang kurang lebih memiliki peran sebagai kambinghitam atas kekerasan yang dikultuskan atau orang gila tanpa “dasar rasional” yang secara kompulsif mengulang-ulang aksi pembunuhan. Anggapan itu tentu masih umum. Karena definisi tersebut belum bisa menjelaskan motivasi pembunuhan yang umumnya berbeda-beda.

Sementara agen FBI Robert Ressler, seperti dikutip Lynda Hart berpendapat bahwa pembunuh berantai terobsesi oleh fantasi dan mereka memiliki apa yang kita sebut sebagai pengalaman yang selalu tak terpenuhi dan menjadi bagian dari fantasi. Hal itu yang mendorong mereka pada pembunuhan selanjutnya.

Darimana datangnya agresivitas berlebih tersebut selain karena trauma masa lalu atau lingkungan? Sejak zaman Sigmund Freud hingga tahun 60-an para psikolog telah lama mencoba mendedahkan teori tentang agresivitas dan kekerasan manusia. Kebanyakan menuju pada kesimpulan yang sama bahwa: perilaku agresif dan sadistis manusia berasal dari insting purba yang diprogram secara filogenetis dan akan selalu mencari pelepasan dan menunggu saat yang tepat untuk diekspresikan.

Kesannya seolah-olah terdapat tombol imajiner yang bisa ditekan kapan saja jika seseorang merasa ada waktu yang tepat untuk melepas agresinya. Seperti memencet tombol peluncur rudal balistik dan tiba-tiba, bum!

Erich Fromm, seorang psikolog-cum-filsuf termasyhur, dalam bukunya The Anatomy of Human Destructiveness membedakan dua jenis agresivitas. Agresi instingtif - atau benign aggression - untuk mempertahankan diri (termasuk menyerang) pada hewan demi pelestarian diri. Dan malignant aggression yang hanya terdapat pada manusia. Agresi ini bukan filogenetis dan tak punya tujuan, hanya pemenuhan nafsu seperti yang terjadi pada psikopat. Agresi dan sifat merusak pada manusia pun masih dibedakan menjadi dua: spontan dan yang sudah terikat dalam struktur karakter.

Paralel dengan itu, Fromm juga menjelaskan perilaku sadistik dalam bukunya The Fear of Freedom. Ada tiga kecenderungan sadistik yang saling berhubungan. Pertama adalah untuk membuat seseorang tergantung padanya dan memiliki kekuasaan atasnya. Kedua adalah untuk memperalat dan mengeksploitasi seseorang. Dan terakhir adalah untuk membuat seseorang menderita. Seperti Caligula dalam drama Albert Camus.

Pembunuh berantai/sadistik umumnya memiliki semua ciri-ciri diatas. Rata-rata mereka tak menyesali perbuatannya. Dorothy Lewis, seorang psikiater terkenal yang menjadi orang terakhir yang mengunjungi pembunuh berantai legendaris Ted Bundy, telah menghabiskan lebih dari 25 tahun untuk meneliti pembunuh berantai. Hasilnya adalah berbagai makalah dan buku penting yang mengungkap berbagai kondisi dibalik pembunuhan berantai. Ia menyimpulkan bahwa pembunuh berantai umumnya memiliki disfungsi psikologis, fisik, dan neurologis serta memiliki pola-pola yang dapat diprediksi: hampir semua pembunuh berantai yang ditelitinya adalah korban penyiksaan fisik dan seksual sejak kanak-kanak, dan hampir semua pernah menderita cedera otak atau kerusakan syaraf dan penyakit jiwa.

Jika dilihat dari konsep Freudian tentang Id, Ego, Superego. Ada salah satu dari ketiganya yang tampaknya tidak berjalan dengan semestinya dan menyebabkan agresivitas dan kekerasan. Kita tahu, menurut konsep Freud, tiap manusia memiliki ketiga sistem tersebut seiring pertumbuhan dan perkembangan karakter. Sistem tersebut harus selalu bekerja secara simultan dan berkesinambungan. Jika salah satunya terlalu mendominasi, maka yang terjadi adalah penyimpangan (deviance).

Id adalah lapisan psikis paling dasariah. Bayi pada dasarnya hanya memiliki Id saja. Id kadang tidak terkontrol oleh pihak Ego, dan ia tidak bersentuhan realitas. Disitulah terletak naluri-naluri bawaan dan keinginan-keinginan yang direpresi. Ego, kebalikan dari Id, bersentuhan dengan dunia luar seperti tampak dari pemikiran obyektif sesuai tuntutan sosial. Aktifitas Ego ini bersifat sadar, prasadar, maupun tak sadar. Didalam Ego juga berlaku mekanisme pertahanan (defense mechanism) yang dilakukan untuk menekan ketakutan atau kecemasan dan kadang Ego terpaksa mengambil tindakan yang ekstrem. Sedangkan Superego merupakan dasar hati nurani moral sebagai hasil internalisasi seperti norma atau larangan-larangan.

Dalam teori Freud ini, ada yang tidak beres dengan sistem diatas pada para pembunuh berantai. Secara kasar bisa kita simpulkan bahwa Id terlalu mendominasi, sementara Ego tidak menjalankan mekanisme pertahanan sebagaimana seharusnya. Dan Superego juga absen dari sistem tersebut.

Para pembunuh berantai selalu mendapat proses pemeriksaan psikologi untuk mengecek apakah mereka psikopat/sakit mental atau tidak. Ryan menyatakan dirinya psikopat dan sakit mental agar terhindar dari hukuman mati pada tahun 2011 lalu. Ryan sepertinya memang menunjukkan tanda-tanda seorang psikopat: Ia egosentris, narsis secara agresif, kerap berbohong dan tak menunjukkan penyesalan.

Pembunuhan oleh psikopat memang jarang terjadi di Indonesia. Namun bila terdakwa pembunuhan terbukti psikopat ia dapat terhindar dari hukuman mati. Menurut ilmu psikologi, psikopat digolongkan dalam personality disorder oleh ICD-10 (International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems) yang biasanya diperiksa menggunakan Hare's Psychopathy Checklist.

Psikopat/sadistik umumnya dapat dilihat dari pola-pola seperti tak memiliki penyesalan, impulsivitas, tak memiliki empati, narsisisme agresif, kontrol perilaku yang buruk, kebohongan patologis, karisma superfisial, dan perilaku sosial menyimpang.

Romeo Vitelli, seorang psikolog yang menulis tentang kasus Ryan untuk Huffington Post, menulis bahwa psikopati terkadang tidak dianggap sebagai kerusakan mental utama (major mental illness) oleh para ahli. Namun para terdakwa di Inggris dan Wales yang didiagnosa sebagai psikopat umumnya dipindahkan ke rumah sakit jiwa dengan penjagaan maksimum. Sementara hukum di Amerika Serikat juga memperbolehkan psikopat pelaku penyerangan seksual dipindahkan ke rumah sakit jiwa.

Akan tetapi penggunaan alasan psikopat untuk penangguhan hukuman mati masih menjadi kontroversi. Sementara itu di Indonesia penggunaan alasan psikopati untuk pembelaan dan peninjauan kembali di pengadilan belum pernah diajukan sebelum kasus Ryan mencuat.

Malcolm Gladwell dalam salah satu artikelnya di majalah New Yorker (yang juga masuk dalam What the Dog Saw) pernah menulis bahwa “perbedaan antara kejahatan yang benar-benar kejahatan dan kejahatan karena penyakit sama dengan perbedaan antara dosa dan gejala”. Memang. Tapi masalahnya kita tak bisa begitu saja menilai dan menghakimi secara apriori. Kita akan tahu apakah itu dosa atau gejala hanya pada saat-saat terakhir si pelaku menjalani hukuman. Dan terlepas dari dosa atau gejala, pembunuhan tetap saja sebuah kejahatan.

Pembunuh berantai – psikopat atau bukan - memang bukan hanya Jack the Ripper yang seperti mitos atau tokoh fiktif Hannibal Lecter yang super cerdas dan membunuh demi kesenangan belaka. Ada banyak kesan dalam cerita hidup Mujianto, Ryan, dan Wuornos di satu titik. Cinta, kesetiaan, dan pengorbanan meski hal tersebut dimengerti, dilakukan dan diakhiri dengan salah.

Apa yang dapat kita bayangkan dari latar belakang tiap pembunuh berantai tersebut? Keadaan macam apa sehingga orang-orang itu tega membunuh lagi dan lagi? Mungkin itu pertanyaan yang sering kita lontarkan sembari manggut-manggut membaca koran pagi dan menikmati secangkir kopi. Tapi jelas jawabannya dapat berbeda-beda. Pengaruh sosial, keluarga, lingkungan, hingga sejarah kejiwaan menjadi faktor penting. Kasus korupsi, di lain pihak, tak memerlukan latar belakang terdakwanya. Mau datang dari keluarga priyayi atau miskin, pernah disiksa atau bahagia, sama saja jika ia terseret konco-konconya.

Wuornos, Babe, dan Mujianto adalah korban trauma masa lalu. Namun itu pun bukan faktor utama yang menggerakkan mereka untuk membunuh secara berantai. Bagi Babe, trauma yang dialami menjadi bahan bakar untuk fantasi dan keinginan yang menuntut untuk dipenuhi. Membunuh, menjadi instrumen untuk  pemenuhan fantasi tersebut.

Pada dasarnya motivasi dan latar belakang tiap pembunuh berantai juga berbeda-beda. Dan teori-teori psikologi yang kering kadang terlalu men-generalisir dan menggolongkannya pada kategori-kategori. Bagi Ryan dan Rio Martil masa lalu tak memiliki pengaruh terlalu signifikan. Namun dari kasus Ryan dan Rio Martil, yang relatif datang dari keluarga “utuh”, kita tidak bisa begitu saja mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah korban disfungsi keluarga dan lingkungan (orang yang bergaul dengan preman belum tentu akan membunuh secara sadis dan seorang homoseks belum tentu membunuh karena cemburu). Tapi jelas kedua hal tersebut sedikit banyak berpengaruh.

Kasus pembunuhan berantai memang subtil dan menuntut banyak perhatian. Kita tak bisa langsung menyimpulkan bahwa si pembunuh itu psikopat atau tidak. Bisa jadi kejahatan tersebut lebih banyak sebagai gejala. Jadi tak masalah jika itu adalah dosa atau gejala. Yang jadi masalah adalah bisakah kita mencegah seseorang untuk tidak membunuh? Bagaimana jika sistem insting purba itu menuntut pelepasan secara ekstrem? Pemerintah sangat gencar memerangi korupsi tapi mencegah pembunuhan tampaknya mustahil.
Pertanyaan itu sepele, tapi layak juga kita renungkan bersama mengenai pentingnya perkembangan karakter seseorang. Korupsi, di lain pihak, memang dapat diperangi. Dengan perbaikan sistem dan birokrasi serta pengawasan ketat, niscaya korupsi dapat ditekan.

Erich Fromm dalam buku babonnya The Anatomy of Human Destructiveness, menganalisis Heinrich Himmler – Reichsführer SS yang berjuluk “the Bloodhound of Europe – yang terkenal karena membantai 15 hingga 20 juta orang Rusia, Polandia, dan Yahudi. Fromm, seperti kita, mulai dari bentuk pertanyaan sederhana: faktor apa yang menyebabkan Himmler menjadi sadistik tak kenal ampun?

Fromm memang belum menemukan jawaban pasti. Tapi ia menjelaskan bahwa Himmler datang dari keluarga menengah yang otoriter. Ia adalah “anak mama” yang tak pernah bisa jauh dari ibunya. Tapi Fromm juga bertanya, “bukankah banyak model keluarga seperti ini dan anaknya tidak menjadi sadis?” Benar bahwa satu atau dua faktor tak bisa dijadikan penyebab. Selain karena kondisi sosial politik saat itu, keluarga dan lingkungan, ada kemungkinan faktor turunan juga.

Sejak kecil si “bloodhound of Europe” sudah menunjukkan keanehan, bahkan teman SD-nya yang mengatakan bahwa Himmler adalah murid lemah dan aneh sempat heran dan tak percaya jika ia menjadi mesin pembantai massal terkeji setelah Hitler. Bagi Fromm, tak ada jalan untuk kita agar bisa mengenal “potensi membunuh” sejak awal. Salah satu tujuan studi karakterologis hanyalah untuk mengingatkan bahwa para sadistik tampak seperti orang kebanyakan.

Terdengar retoris dan kurang menenangkan – tapi lebih sering kita lupakan - bahwa keluarga dan lingkungan adalah awal mula perkembangan karakter seseorang. Tapi memang, disanalah paling tidak, “pencegahan” dapat dimulai. Peran orang tua sebagai pembimbing dan pengawas memang mutlak berlaku dan tak dapat ditawar lagi. Perlindungan dan pembinaan anak jalanan juga harus dimaksimalkan, tak hanya oleh pemerintah maupun LSM, tapi juga semua lapisan masyarakat yang tak ingin Himmler-Himmler lain muncul dalam bentuk dan modus yang lebih mutakhir.

29 Feb 2012
by Taufiq Rahman - 
Published in Prosa

Ada alasan lain mengapa saya suka dengan band asal New York The National, selain disebabkan oleh musik derau kegelisahan dan vokal bariton agung Matt Berninger. Alasan itu adalah karena Matt suka naik subway kota New York, moda trasportasi yang merupakan ekuivalen dari Kereta Api Listrik (KRL) Jabodetabek. Dalam wawancara dengan majalah Spin di tahun 2010, Matt Berninger bercerita bahwa untuk mencapai Radio City Music Hall di dekat Times Square, tempat di mana The National akan menggelar pertunjukan terbesar dalam karir mereka, Matt naik subway dari rumahnya (mungkin di distrik hip Williamsburg) menuju venue yang legendaris itu.

Matt Berninger tidak sendiri dalam menggantungkan hidupnya kepada moda transportasi ini. Dalam sebuah wawancara dengan David Letterman, salah satu anchor paling mahal di MSNBC, Bryan Williams mengatakan bahwa dia--seperti banyak warga New York lain--naik KRL menuju studio  rekaman. Naik Subway di kota New York adalah sesuatu yang sangat quintessential Amerika seperti seperti Apple Pie dan Apple merepresentasikan Amerika Serikat. Dan dengan begitu naik KRL di kota New York—atau di kota besar manapun di dunia—bukan hanya sangat biasa namun juga trendi dan elegan.

Dan bagi anda yang pernah naik KRL di kota New York anda bisa segera tahu bahwa ini adalah moda transportasi yang memang hip dan trendi. Di sebuah pagi yang sibuk beberapa tahun yang lalu, dalam perjalanan Subway ke Brooklyn saya harus berdesak-desakan dengan komuter dengan segala macam warna-warni baju musim dingin yang menyegarkan mata. Salah satu dari mereka, seorang perempuan muda pirang berkacamata dengan coat musim dingin hitam yang elegan, berdiri dengan satu tangan memegang buku Sex, Drugs and Cocoa Puffs: A Low Culture Manifesto karya salah seorang penulis favorit saya Chuck Klosterman. “Hmm.. saya sudah baca buku itu dua tahun lalu sebelum dia,” pikir saya dengan sombong kala itu. Beberapa deret di sebelah perempuan muda itu saya lihat seorang setengah baya sedang membaca koran lokal legendaris Village Voice.

Kalau di belahan lain dunia Subway atau KRL adalah trendi, lantas apakah KRL di Jakarta juga bisa menjadi sarana angkut yang hip? Apalagi dengan banyak cerita soal berdesak-desakan, penumpang naik ke atap, pelecehan seksual dan legenda kota klise tentang kambing yang dinaikkan di kamar kecil KRD. Saya tidak peduli apakah KRL di Jakarta sudah hip atau punya potensi menjadi hip. Yang saya pedulikan adalah hidup saya terlalu pendek untuk dihabiskan untuk mengarungi kemacetan di Jakarta yang kian hari kian buruk.
Pertimbangan saya untuk bergantung kepada KRL sangat instrumentalis. KRL bisa membawa saya ke Jakarta dalam waktu yang ultra cepat—kurang lebih 25 menit dengan KRL AC Serpong-Tanah Abang—jauh lebih cepat dibandingkan dengan berkendara yang rata-rata minimal satu jam dalam kondisi tidak macet, atau bisa berubah menjadi dua jam ketika lalu-lintas dalam kondisi paling terkutuk. Dan tidak hal yang lebih membuat saya bahagia di atas kereta selain  melihat rekan-rekan komuter yang harus menderita setiap hari, berhenti total di belakang kemudi di turunan Tanah Kusir, sedangkan di sebelah mereka di atas rel, KRL membawa saya dengan nyaman dengan kecepatan 50 kilometer per jam.

Namun lebih dari itu semua itu, naik KRL adalah saat yang jarang di Jakarta di mana anda bisa menjadi manusia seutuhnya. Dengan duduk, berdiri, diam, menggunakan semua panca indera anda bisa merasakan denyut kehidupan dari muka-muka lelah yang anda jumpai setiap malam di KRL terakhir jam 11 malam. Naik KRL juga membuat anda memiliki waktu untuk diam, melamun, berfikir setelah seharian berjuang dengan urusan-urusan tidak penting seperti mencari nafkah atau menghadapi manusia-manusia yang anda temui di rimba belantara ruangan kantor dan jalanan Jakarta. Di dalam KRL, sebaiknya dengan mematikan semua telepon, smartphone, atau tablet komputer adalah saat terbaik untuk bermeditasi tentang tempat anda di alam semesta—sesuatu yang tidak akan anda bisa lakukan di tengah-tengah lalu-lintas mobil Jakarta yang penuh amarah dan keangkuhan. Di dalam KRL, semua duduk—atau berdiri—dalam derajat yang sama, tidak peduli apa yang anda naiki menuju stasiun keberangkatan. Jabatan, kekayaan, mobil mewah, sepeda atau sepeda motor, semua harus ditanggalkan di pintu masuk stasiun. Ini tidak hanya membuat KRL moda transportasi yang egaliter--jika bukan komunistis--namun juga relijius nan spiritual.

Dengan segala keterbasannya, KRL Jabodetabek juga masih memungkinkan anda yang tetap ingin menjadi pintar dan hipster seperti para New Yorker itu. Tidak ada yang peduli dengan apa yang anda baca dan dengarkan di dalam mobil pribadi--dengan catatan anda memiliki sopir--namun dengan KRL anda dengan mudah bisa menemukan tempat untuk  memamerkan betapa sophisticated-nya pilihan musik dan buku anda. Ketika semua rekan satu gerbong anda sibuk dengan BB mereka, anda bisa dengan mudah memberi rasa kasihan terhadap mereka sambil mengeluarkan buku bacaan atau majalah anda. Tidak banyak orang yang memberi pandangan curiga ketika saya menarik buku David Foster Wallace—atau seperti semalam ketika saya menenteng buku Continuum 33 1/3 tentang Marquee Moon--dari tas dan mulai membacanya dengan berdiri, namun lebih banyak pasang mata memelototi saya ketika saya menenteng copy vinyl LP Is This It yang ikonik itu. Pendek kata KRL dengan mudah bisa memberi tempat kepada naluri eksibisionis dan intellectual snobbery anda. Dan ingatlah ketika rekan anda di dalam mobil terjebak kemacetan yang membunuh jiwa, di atas KRL anda telah menjadi lebih pintar dari puluhan halaman buku atau majalah dan menemukan keheningan dalam riuh-rendah kosmis. Perjuangan saya masih panjang untuk membuat KRL Jabodetabek menjadi trendi.

06 Feb 2012
Published in Prosa

 

Awal 2011 lalu, seorang penggiat (scenester) skena musik indie Jakarta yang begitu saya kagumi, melempar pertanyaan asal kepada saya, “Lu main plat juga ga?” Plat yang dimaksudkan tentu saja adalah piringan hitam, lebih sering disebut sebagai vinyl (istilah dalam bahasa Inggris) oleh anak zaman sekarang. Pertanyaan itu berbalas kalimat negatif tentunya karena saya bahkan tidak punya turntable (alat pemutar vinyl). “Baguslah, jangan deh, penyakit kalau mulai main”, sambungnya lagi. Saya mengangguk tapi hati kecil saya tergelitik untuk memulainya (mengisi pundi dana pembelian turntable) mengingat propaganda “vinyl is klling the Mp3 industry” yang tadinya saya maknai sebagai manifestasi ‘eclecticism’ kaum urban saja, seketika berubah menjadi harapan.

Betul adanya, belakangan vinyl bergeser perlahan dari rare collectible items menjadi benda berlabel ‘must have item’ di kalangan hipster (apa yang disebut dengan dan bahkan telah dikategorikan sebagai kata benda juga kata sifat oleh koran sebesar New York Times), bahkan saya menjumpai vinyl ‘The Who Sells Out’ karya klasik The Who dipajang di salah satu toko musik mainstream. Ini berarti bahwa, pangsa pasar rilisan fisik yang tidak dianggap konvensional itu kian menjamur.

Salah satu penyebab kebangkitan vinyl adalah penyakit yang menjangkiti suatu kaum yang berkitab Pitchfork dan berkiblat fashion pada Urban Outfitters, mengkonsumsi bir tidak enak Pabst Blue Ribbon (khusus di Amerika Serikat), rubrik do’s and dont’s majalah Vice, sepeda fixie berwarana neon, tote bag sederhana nan genit, serta tingkah polah yang tidak bisa segera dijelaskan. Pentingkah itu semua? Saya tidak yakin itu penting, namun yang pasti adalah mereka antusiasme tinggi akan karya seni indie, dan kecenderungan mereka untuk mebcari musik ‘paling hip’ itu penting untuk ditelaah. Kaum hipster juga sedang dalam romansa penentangan format digital mereka dengan analog, mulai dari film bisu, fotografi Polaroid hingga vinyl. Ini pertanyaan yang paling mengganggu buat saya.

Namun, saya butuh waktu karena saya mempercayai trend itu lahir untuk diresapi dan dipilah terlebih dahulu dan bukan untuk diposisikan sebagai urgensi terwahid untuk digeluti. Trend ini pasti muncul karena suatu prinsip dengan tujuan murni yang lepas dari keinginan pragmatis menjadi keren, dan jangan lupa juga kalau trend ini pasti membutuhkan dana besar dan bahkan usaha yang tekun dari para pemainnya. Trend vinyl adalah arus positif yang makin mengarus utama namun saat ini saya melihat potensi baginya untuk tergelincir. Permasalahannya sama seperti permasalahan klasik aparat penegak hukum, identitas tersebut kehilangan idealisme. Sebagian besar pelaku baru trend vinyl tersebut tidak mempertimbangkan kedua hal yang saya utarakan di atas.

Bom itu meledak satu tahunan kemudian, saat dimana saya belum berhasil menyukseskan rencana pribadi membeli turntable. Saya mendapat suatu kehormatan, tawaran untuk mencoba menulis mengenai hal terkait pertanyaan sang scenester yang diajukan oleh seorang penulis musik yang bisa dibilang salah seorang yang bertanggung jawab atas peningkatan trend vinyl di Indonesia. Blog yang didirikannya dengan salah seorang rekannya itulah yang pada akhirnya menjadi pemicu trend vinyl menjadi kian menjamur. Hal ini bukan berarti trend vinyl di Indonesia tersebut sepenuhnya muncul karena blog. Ada beragam alasan. Bila dianalogikan dengan pecahnya Perang Dunia II, pendirian blog itu setara dengan perebutan kota Danzig, sebuah pemicu sedangkan salah satu latar belakang terjadinya Perang Dunia II adalah keinginan Italia mengulang kejayaan masa Imperium Romawi. Sama halnya dengan latar belakang kembalinya vinyl di dunia, termasuk di Indonesia, juga karena keinginan untuk mengulang masa kejayaan industri musik dengan rilisan fisik mereka.

Saat ini adalah masa kelam penjualan album fisik, masa kejayaan compact disc (CD) yang menggantikan rekaman musik dalam bentuk vinyl dan kaset telah pudar. Penikmat musik di seluruh dunia tanpa rasa bersalah dapat mengunduh album dan/atau lagu yang diinginkannya sacara gratis di masa sekarang hanya dengan berbekal koneksi Internet yang bisa berbagi file atau peer-to-peer sharing yang sekarang agak semakin sulit dengan Stop Online Piracy Act (SOPA). Format non-fisik dari album musik memang lebih efisien untuk dinikmati, namun album fisik tetap tidak tergantikan bagi beberapa orang. Maka muncullah kembali vinyl dengan segala janji kualitas keluaran suara terbaik, rilisan fisik berformat terkeren, yang dengan mudah menjadi stempel cool bagi kaum urban paling hip, kaum hipster. Selaras dengan apa yang diutarakan dalam di sebuah tulisan di Epitonic bulan Januari 2011: “...there are more sales of vinyl records than in the previous ten to fifteen years. Couple this "cool factor" with the record store's ability to offer a product that subscription streaming services can't (music ownership) and what digital outlets lack (a physical product of superior audio quality that is impervious to computer crashes) and the independent record store has a viable product to help sustain its business. Only two years ago there were claims that albums were becoming obsolete. Now it appears as though albums may be revitalizing the music industry and saving the record store”.

Ini adalah kebangkitan kembali kedua bagi vinyl. Kali pertama kebangkitan penjualan vinyl itu terjadi pada akhir 1990-an yang sebagian besar digerakkan oleh maraknya ‘dance music’ dan dilatarbelakangi oleh maraknya impian muluk menjadi Disc Jockey di Ibiza. Saat ini kebangkitan kembali vinyl kebanyakan mucul dari antusiasme para penikmat musik indie rock. Chris Muratore dari Nielsen, sebuah firma riset menyatakan bahwa lebih dari setengah album vinyl dengan penjualan tertinggi di Amerika Serikat merupakan rilisan musisi indie seperti Fleet Foxes dan Bon Iver. Bahkan, album vinyl rilisan baru (tidak termasuk reissue) dengan penjualan tertinggi di tahun 2010 adalah album dari band Kanada Arcade Fire ‘The Suburbs’. Pada tahun 2011, King of The Limb yang diproduksi secara independen oleh Radiohead dan didistribusikan oleh XL, serta beberapa label independen lainnnya, merupakan album dengan penjualan tertinggi dalam bentuk vinyl. Kebanyakan dari vinyl lainnya selain rilisan band-band indie rock tersebut adalah reissue dari album-album klasik semacam Pet Sounds Beach Boys, In The Aeroplane Over The Sea milik Neutral Milk Hotel dan Abbey Road punya The Beatles. Format ini dalam banyak hal lebih memberi kepuasan. Banyak album dalam format vinyl yang menyertakan kode untuk mengunduh album itu pula melalui internet. Selain itu juga, bentuknya yang lebih besar dan berat dari CD memberikan kepuasaan tersendiri bagi penggilanya, dalam perspektif ekonomi terdapat nilai intrinsik yang lebih dalam untuk vinyl dibandingkan dengan format CD.

Pendapat saya kini telah bertemu dengan fakta yang meyakinkan bukan? Oleh karena itu, izinkanlah saya untuk mengutarakan penjabaran tentang dua hal (disebutkan dalam paragraf kedua) yang saya percayai namun seringkali tidak dicamkan oleh para pemadat baru vinyl. Kenapa saya sebut baru? Karena hipster adalah anak baru bagi vinyl. Generasi Baby Boomer di era 1970-an adalah pemulanya dan Generasi Ecstacy di penghujung era 1990-an yang gemar tripping adalah revivalist pertamanya. Belakangan di akhir era 2000-an hingga awal era 2010-an ini, rilisan fisik berbentuk vinyl musisi indie rock-lah yang paling tinggi penjualannya. Kaum hipster pemadat musik indie itulah alasannya.

Pertama, trend membeli musik dalam bentuk vinyl bisa dibilang sebagai suatu bentuk pelaksanaan prinsip counter-culture, sebuah subklutur, suatu ide budaya yang biasanya muncul dari kaum muda. Budaya penentang keseragaman yang ingin melepaskan diri dari apa yang dipaksakan oleh orang tua, apa yang kolot dan konservatif, apa yang seragam dan juga mengekang. Dominasi yang terjadi timbul dari kemajuan teknologi, musik diproduksi dan didistrubusikan dalam format non-fisik. Kebanyakan konsumen musik arus utama tidak lagi membeli rilisan fisik berupa CD atau kaset malahan mereka mengunduh musik via file sharing dari internet yang bahkan saat ini banyak sekali beredar secara ilegal. Dominasi ini kemudian dilawan oleh para pelaku subkultur yang mengapresiasi musik dengan membeli musik dan mengumpulkan album musik dalam bentuk vinyl. Terlebih lagi rilisian fisik dalam bentuk vinyl adalah rilisan fisk dengan kualitas suara terbaik, dengan keluaran suara yang begitu kaya, jauh berbeda dengan bentuk non-fisik yang mengalami degradasi kualitas ketika dalam proses pengkonversianya. Bisa dibilang, trend kembalinya vinyl bukan muncul karena kemauan industri musik itu sendiri namun digerakkan oleh sebagaian kecil konsumen yang memahami dan mengerti hakikat counter-culture, ketika terjadi peningkatan konsumsi akan vinyl maka sesuai dengan prinsip dasar ekonomi produsen akan menyiapkan permintaan akan vinyl tersebut bukan? Namun kemudian ada masalah di sini, karena vinyl kemudian tidak dengan begitu saja mendefiniskan hipster.

Less a subculture, the hipster is a consumer group – using their capital to purchase empty authenticity and rebellion. But the moment a trend, band, sound, style or feeling gains too much exposure, it is suddenly looked upon with disdain. Hipsters cannot afford to maintain any cultural loyalties or affiliations for fear they will lose relevance.” Begitulah sepenggalan deksripsi hipster sebagaimana yang dituliskan oleh Douglas Haddow dalam artikel di majalah anti-konsumerisme tanpa iklan, Adbusters, yang mengklaim diri sendiri sebagai ‘a global network of culture jammers and creatives’.

Hipster dimaknai bukan sebagai subkultur seutuhnya, hipster membeli atribut-atribut counter-culture tersebut, termasuk vinyl, tanpa meresapi jati diri yang mendasari eksistensi counter culture itu. Subkultur termutakhir (hipster) kehilangan jati diri counter-culturenya bukan timbul begitu saja, sama seperti bangsa Indonesia (birokrat khususnya) sulit lepas dari budaya korupsi. Keduanya melalui proses bertahap yang timbul karena adanya penyimpangan oleh generasi pendahulunya yang lama kelamaan menjadi terinternalisasi dalam generasi selanjutnya. Penyimpangan generasi terdahulu yang dimaksudakan dalam ranah hipster itu berupa kemunafikan. Kedengarannya sepele bukan? Tapi percayalah kemunafikan yang terkejewantahkan dalam lagu-lagu kritik sosial (dalam hal ini akan dikerucutkan saja menjadi di dunia musik karena kaitannya dengan hipster musik) itu dapat menggerakan ribuan muda-mudi turun ke jalan untuk menentang perang, menggulingkan rezim komunis di suatu negara, mengangkat derajat kaum pekerja, menyebabkan marijuana dan LSD menjadi budaya populer, dan bukankah romantisme pemberontakan apapun selalu terdengar begitu menggetarkan? Ya, sampai kita menyadari pemberontakan itu tetaplah diperlakukan sebagai komoditas penghasil profit. Entahlah apakah benar kapitalisme sebegitu lihainya mempermainkan produk budaya subkultur untuk kemudian dikemas menjadi ‘barang dagangan’ ataukah memang, dengan berat hati saya mempertanyakannya, Bob Dylan dan generasi yang menobatkannya sebagai juru bicara Generasi Bunga pantas untuk ditunding sebagai kaum hipokrit primitif yang mengorbankan generasi kita terlunta-lunta dalam ketidakjelasan eksistensi counter-culture yang begitu utopis? Hingga akhirnya, counter-culture itu dimaknai hanya sebatas sebagai atribut-atribut yang menopang pencarian jati diri muda-mudi atau lebih parahnya lagi serendah untuk menjadi cool saja. Mengutip Steve Redmon, juru bicara Britain’s Annual Record Store Day yang menyatakan bahwa entah kenapa tapi vinyl jauh lebih keren dibandingkan dengan unduhan. Perlu dipertanyakan apakah trend vinyl yang kian menggeliat di kalangan muda-mudi terlahir karena vinyl adalah karena persepsi masyarakat di era ini mengkategorikan piringan hitam sebagai item yang ‘cool’ saja. Lantas apa arti dari makna vinyl sebagai penyelamat industri musik, bentuk perlawanan terhadap unduhan musik ilegal dan apresiasi akan karya musik? Perlu loyalitas untuk mempertahankan trend vinyl yang positif ini. Manifestasi prinsip counter-culture berupa pembelian musik dalam bentuk vinyl ini tidak layak untuk ditinggalkan begitu saja ketika nanti mendapat ekspos dari media dan publik arus utama, beda halnya dengan trend celana di kalangan hipster Jakarta yang dimulai dengan dry jeans produk Swedia atau Eropa Barat kemudian tergeser oleh jeans produk Jepang dan kini tergeser kembali oleh Chino, industri musik tidak akan teganggu dengan perilaku tidak loyal dan konsumtif kaum hipster itu yang kemungkinan tidak didasari akan pengetahun tentang kaitan trend celana dengan filosofi Kelas Pekerja maupun kaitannya dengan Perang Iraq.

Kedua, hipster memiliki kesamaan satuan pengukur nilai, yaitu ‘cool’. Selera tentu saja merupakan hal yang relatif tapi dengan segala kemajuan teknologi dan komunikasi di tengah globalisasi selera kaum hipster akan sesuatu yang cool itu dapat mencapai sebuah konsensus.Tentu saja dengan bantuan media massa. Atribut-atribut yang telah mendapatkan label ‘cool’ dengan konsensus secara tidak langsung tersebut yang kemudian dikonsumsi dengan tujuan menjadi berbeda namun malah berakibat timbulnya keseragaman. Saat ini, vinyl merupakan item dengan label ‘cool’ tersebut. Namun yang perlu ditinjau adalah fakta bahwa trend ini pasti membutuhkan dana lumayan besar bahkan usaha yang tekun dari para pemainnya. Betapa menyedihkannya apabila vinyl ditempatkan sebagai atribut fashion belaka, membeli dengan harga Rp.200.000 ke atas untuk sebuah album tanpa pernah mengapresiasi karya musik di dalam album musik itu. Kecenderungan bersifat konsumtif ini berbanding lurus dengan antusiasme counter-culture yang kosong dari para cool-hunters.

“They’re those fun, little, arrogant people who let the ideal of “anti-consumerism,” combined with a hatred for all things normal, dictate their every action. Whether it’s spending more time and money at thrift shops for threads (anti-consumerist threads, mind you), or combing the record store for the most unknown/least coherent band they can find, there’s one thing that hipsters constantly want you to know: that they are better than you. That, and also, those frames that you’re wearing are so mainstream”, begitulah lukisan Steve Crowder, seorang komedian merangkap jurnalis, mengenai hipster. Dominasi budaya kapitalisme terhadap perkembangan subkultur masih begitu besar begitu pula dalam hal ini, dalam berbudayapun dibutuhkan uang dan usaha yang besar. Pengimplementasiannya dalam hal-hal yang lebih kecil pun membutuhkan dana dan usaha yang cukup besar. Sebagai contoh, dalam urusan membeli vinyl masih belum banyak toko lokal yang menyediakan dalam hitungan koleksi memadai. Bahkan, banyak yang harus membeli melalui on-line store dari luar negeri. Selain itu, industri musik di Indonesia sendiri sudah tidak lagi memproduksi album vinyl secara reguler semenjak Remaco dan kawan-kawan menutup pabrik di awal dekade 1980-an. Hal-hal ini dapat menuju pada sebuah elitisasi trend vinyl padahal elitisasi adalah hal yang bertolak belakang dengan latar belakang lahirnya trend.

Alangkah lebih baiknya, bila tidak ada penudingan satu sama lain. Hipster atau non-Hipster bukan soal. Toh, beberapa media yang mengkritisinya dengan perspektif yang terlampau negatif seperti Adbuster, juga perlu mempertanyakan eksistensi non-profit dan propaganda politis mereka yang kian goyah. Hal penting yang harus dicamkan adalah bagaimana trend vinyl ini dapat terus dipertahankan dalam rangka menyelamatkan kepunahan tradisi rilisan fisik musik, beberapa caranya tentu saja seperti yang sudah dibicarakan di atas demi satu situasi yang sederhana, tiadanya elitisasi akan trend vinyl. Mengenai apakah hipster masih merupakan hal yang relevan untuk diperbincangkan, jawabannya tentu iya karena ini adalah fenomena budaya populer dari Barat yang kian merambah dan berkecambah termasuk di Indonesia, pula tidak lupa andilnya dalam membawa kembali vinyl ke arus utama. Trend vinyl ini adalah suatu kebangkitan kembali. Suatu pengulangan namun kali ini dengan tujuan yang lebih mulia dibandingkan dengan kebangkitan kembali pertamanya.Titik cerah bagi industri musik khususnya bagi keberadaan toko rekaman musik fisik.

 

17 Nov 2011
by Donny Anggoro - 
Published in Prosa

Nukilan Catatan Harian Charles R. Cross, ditemukan 2 Agustus 2014 dalam file laptop pribadinya .

24 Juni 2014

DUAPULUH tahun sejak kematian vokalis, gitaris  sekaligus motor grup rock asal Seattle, Nirvana, Kurt Cobain pada 8 April 1994, aku lalu mendapatkan kabar bahwa kematian Kurt Cobain bukan karena bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri di sebuah rumah yang beralamat 171 Lake Washington Boulevard.

Aku semula tak percaya. Tapi sulit dipercaya kalau berita itu kuterima dari Dave Grohl, teman main band Kurt sendiri yang tak lain adalah penggebuk dram Nirvana yang kemudian sukses membentuk band sendiri, Foo Fighters. Menurut Grohl ia menerima kabar ini dari surat elektronik yang diterimanya dari Gary Gersh mantan manajer A&R (Artist & Repertoire) di perusahaan rekaman Geffen yang sekarang di label ternama Capitol Records. Aku ingat Gary Gersh adalah orang pertama dari Geffen yang melihat dan kemudian membawa band Nirvana ke Geffen untuk rekaman ketika mereka tampil di Klab Pyramid, New York.

15 May 2011
by Berto Tukan - 
Published in Prosa

“Eh, nanti sore jadi kan di TIM?”

Begitu bunyi sms-nya. Dengan malas, kulemparkan handphone ke kasur di belakang kursi yang menghadap komputer. Coursor kuarahkan ke Add Folder. Sealbum St. Vincent Merry Me bertengger. All My Stars Aligned mulai dimainkan. Sekali lagi kuarahkan ke Add Folder dan Super Furry Animals, Rings Around The World ikut memenuhi playlist.

Aku kembali pada tugas kuliah yang menunggu dua bulan untuk digarap. Bangsat!

Light makes possible, then, this enveloping of the exterior by the inward, which is the very structure of the cogito and of sense. Apa maksud Levinas dalam kutipan dari Existence and Existents, hlm. 41 ini? Jelaskan dan beri catatan kritis paling sedikit empat halaman paling banyak tujuh halaman.

24 Feb 2011
Published in Prosa

Cerpen oleh Linda Christanty

 

ZAKARIA termenung di kamarnya, yang tak pantas disebut kamar. Ruang ini markas kawanan perabot, tempat kakaknya menyimpan perkakas dapur dan peralatan makan untuk kenduri, hari raya atau menjamu tamu keluarga dari lain kota.

20 Feb 2011
by Berto Tukan - 
Published in Prosa

Sepeda motor itu melaju cepat. Sang penumpang asik menikmati terpaan angin di sekujur tubuhnya. Sang pengemudi asik menikmati jalanan yang menata hidup dalam perumpamaan.

Ini dia keberuntungan atau mungkin saatnya sudah tiba. Akhirnya, dapat kerja juga. Setelah enam bulan pasca diwisudakan, baru kali inilah aku benar-benar menjadi manusia. Orang tua senang, adik-adik senang, pacar senang, aku bahagia. Memang susah jadi anak pertama. Terlalu banyak tuntutan, terlalu banyak keinginan di kepala, benturannya membahana dengan keras dan aku akhirnya menyerah.

14 Jan 2011
by Pry S - 
Published in Prosa

Kami hidup di sepanjang sungai Kalimalang. Sebuah tempat di mana setiap hati saling bertaut dan rekaan surga telah berhenti sampai di sini. Kami hidup di sepanjang sungai Kalimalang karena kaki menuntun langkah mereka untuk tak usah kemana-mana lagi.