Interview (15)
Dalam lawatan Efek Rumah Kaca ke pelatihan Indonesia Mengajar saya menyempatkan diri mengobrol dengan Cholil. Mengetahui saya akan mengajar di Lampung, kami kemudian mengobrol hangat mengenai apa yang mungkin terjadi di scene musik Lampung sampai scene ini punya stereotip yang kurang baik di mata masyarakat. Tak usah saya jelaskan alasannya anda pasti sudah dapat menduga penyebabnya. Di akhir pembicaraan saya ingat Cholil berpesan, “Cobalah cari tahu lebih dalam soal scene music di Lampung, gua yakin masih ada band bagus dan potensial yang belum diendus media.”
“Amanah” dari Cholil itu kemudian saya pegang kuat-kuat. Bersama rekan saya, Mayo Falmonti pembetot bass di Protocol Afro kami mulai mencari mutiara terpendam di daerah paling selatan Sumatera ini. Setelah mencari dan bertanya-tanya munculah sebuah nama yang mengingatkan saya pada cerita-cerita karangan Enid Blyton, sebuah band bernama Afternoon Talk. Menemukan Sofia (Vokal, Pianika), Harsa “Osa” Wahyu (Gitar, Bass, Ukulele), dan Achmad “Wawan” Ridwan (Perkusi, Keyboard) yang tergabung di Afternoon Talk saya rasa sedikit membenarkan pernyataan Cholil. Di tengah himpitan teriknya matahari Sumatera, teriakan kondektur angkutan kota yang memuakkan di kota ini mereka seperti mengajak mengobrol dengan suguhan teh hangat dan buku Antoine De Saint di pekarangan belakang rumah.
Band yang terbentuk tahun 2010 ini baru saja merilis self-titled EP melalui Hujan! Rekords yang berisikan lima lagu dengan nuansa indie-folk-pop. Mereka juga baru saja melakukan tur panjang ke Pulau Jawa dengan titel, “Love Letter to Java Tour”. Beberapa media telah membahas Afternoon Talk dengan balutan kata manis yang hanya jatuh pada romantisme khas rumput hijau segar di artwork tipikal band indiepop. Di sela-sela persiapan konser amal untuk donasi Pianika di SD terpencil, saya mengobrol dengan tiga Mahasiswa UNILA ini. Mereka banyak bicara tentang perkembangan musikalitas mereka, scene indiepop di Lampung dan kritiknya terhadap generasi yang mereka sebut industry-oriented dan berakhir menjadi band-band ala KFC. Saya juga melakukan wawancara melalui telepon dengan Ivan Makhsara, manager mereka yang berdomisili di Medan. Setali tiga uang pemuda asli Medan ini juga memiliki semangat tinggi mengangkat scene musik di Sumatera melalui pengelolaan Zine di Medan, sekaligus membuat proyek Indo Singles Club, sebuah jaringan webzine online radio di seluruh Indonesia.
Bagaimana awal mula terbentuknya Afternoon Talk?
Osa : Kalau bicara awal mulanya sebenernya cikal bakalnya mulai saat kita SMA. Waktu itu gua sama Wawan bikin band namanya Melodict For Mom yang bawain punk-punkan lah (Tertawa). Tapi dua personil kami kemudian pergi ke Bandung, Sofia juga udah mulai ngeband saat itu.
Sofia : Dulu aku punya band namanya The Syalala bawainnya model-model Yeah Yeah Yeahs gitu lah. Sebenernya band ini udah sampai Bandung, sempet nge-gig di Radio Oz Bandung juga. Tapi lama kelamaan enggak jelas juga bandnya (Tertawa). Dan aku pribadi sejak dulu emang pingin banget bikin band konsepnya akustikan santai. Karena seleraku bisa dibilang emang akustik.
Wawan : Saat Melodict For Mom sama The Syalala sudah mulai enggak jalan gua punya materi yang sekarang jadi lagu “Theres One Thing You Should Know”. Terus ya nyoba ngasih tau ke Osa dan ngajak Sofia karena dia yang kami rasa cocok dengan konsep lagu ini. Dari situ mulai jalanlah Afternoon Talk. Sekitar Desember 2010-an lah.
Beberapa media kerap mengemas pemberitaan Afternoon Talk dengan mengatakan menyanyikan pengalaman kurang menyenangkan dengan kemasan menyenangkan, apakah kalian memang mengkonsep seperti itu?
Sofia : Oh iya ya (Tertawa). Kalau sampai ngonsepin seperti itu sih enggak. Emang gua-nya aja yang desperate mungkin (Tertawa). Tapi kalau aku rasa emang ada hubungannya sama proses aku nulis lagu, kadang nulis terus sebulan diterusin lagi jadi mungkin moodnya beda (Tertawa).
Osa : Mungkin orang berpikirnya gitu, pemikiran musik kita mungkin masih sebatas itu. Tapi gua yakin sih ke depannya pasti ada perubahan ngikutin sesuai perkembangan kita. Gw pribadi pingin sih masukin unsur etnik, enggak sampai kaya KunoKini tapi ya adalah unsur etniknya. Kalau filosofisnya kata Bung Karno kan “Berkepribadian dalam Berkebudayaan”, jadi ya jangan lupakan budaya sendiri jugalah.
Selain menyanyi Sofia juga mengajar di TK, ada pengaruh pekerjaan ini terhadap karya Afternoon Talk yang musiknya terasa manis?
Sofia : Pengaruh langsung enggak tahu juga ya, tapi kalau secara enggak sadar ya mungkin juga. Sekarang misalnya kalau di TK itu sebelum masuk muterin satu album anak-anaknya Tasya. Aku meerasa Tasya itu gila banget, komposernya juga oke, musik yang dihadirkan juga kaya banget warnanya. Jadi sering kagum sendiri sama Tasya. Bahkan pingin banget bikin musik dengan warna yang kaya Tasya.
Bagaimana awal mula SEAINDIE sampai mereview Afternoon Talk dan tertarik dengan scene indiepop Sumatera?
Osa : Wah kalau itu si Ivan yang tahu (Tertawa). Tapi kayanya si Ivan ngepost di wall Facebook-nya SEAINDIE tentang kita dan mereka tertarik.
Ivan : Iya gua ngepost di wallnya SEAINDIE terus berlanjut ke email-emailan. Tadinya gua mau ngangkat Afternoon Talk aja tapi gua mulai cerita kalau di Sumatera juga banyak band indiepop bagus dan yang selama ini diekspos dan masuk kompilasi mereka hanya band indiepop dari Jawa. Mereka kemudian tertarik buat bikin review tentang Sumatera Indie Pop yaudah karena gw juga tinggal di Sumatera akhirnya gua bantu mereka buat bikin itu. Kompilasi yang sempat mereka buat kan juga kalau dilihat enggak ada satupun band yang berasal dari Sumatera. Padahal banyak potensi disini yang bagus-bagus.
Belum lama ini kalian melakukan Tur “Love Letter to Java Tour”, apa yang melatarbelakangi tur ini?
Osa : Si Ivan awalnya yang nawarin ke kita dan saat itu kita bahkan belum pernah ketemu Ivan karena dia domisili di Medan. Tapi kami lihat orangnya kayanya rapi kerjanya, eh enggak tahunya waktu ketemu di Heyfolks Jakarta serampangan orangnya (Tertawa).
Ivan : Sebenernya karena gw mau jalan-jalan (Tertawa). Band yang bener kan alurnya rekaman, manggung dan tur, siklusnya gitulah. Nah gua ngerasa kesadaran kaya gitu di Band Sumatera belum ada. Gua lihat yang mungkin bisa dijadiin contoh yang asyik kaya Bottlesmoker, mereka rilis netlabel terus tur. Kaya Afternoon Talk ini acuannya bisa ke situ mungkin menurut gua penting juga untuk ngenalin Afternoon Talk ke Jawa. Kalau enggak ada yang mulai siapa yang mau mulai.
Dalam tur itu kalian ke enam kota yang scene musiknya bisa dibilang maju, apa yang kalian dapat dari tur ini?
Sofia : Yang paling kerasa semangat band-bandnya emang keren-keren. Ada dua yang paling kerasa sih waktu di Bandung sama Surabaya. Waktu di Surabaya ngeliat Silampukau terus Soenarsoepratman bener-bener keren, apalagi mereka nyanyi Genjer-Genjer (Tertawa). Jadinya ngerasa perlu banyak belajar, scene Lampung masih jauh ketinggalan.
Osa : Disana kultur musiknya udah maju, terus terang udah ketinggalan disini, jadinya mau memperbaiki scene Lampung dulu lah. Dari sana yang bener-bener kepikiran jadinya pingin buat Zine di Lampung. Komunitas disini enggak ada. Selera masyarakat disini juga kurang beragam. Kalo mau naikin selera musik masyarakat ya diracunin dulu, makanya buat zine dulu (Tertawa). Karena di Lampung ini belum ada kesadaran dari musisinya juga kalo bukan media sendiri siapa lagi yang mau peduli sama musik disini.
Ivan : Di kereta ke Jogja waktu tur, gw bilang juga ke Afternoon Talk, lo tuh jangan nyia-nyiain perjalanan ini. Karena ini bisa jadi pelajaran bagus banget saat balik ke Lampung. Kaya Osa sama Sofia lagi rencana buat Zine, itu bagus banget, mereka jadi kebuka matanya.
Atau tur ini memang untuk semacam melawan dominasi scene musik yang berpusat di Jawa atau semacam pembuktian kalau Sumatera juga bisa?
Ivan : Bukan ngelawan juga sih ya. Tapi emang medianya kan pusatnya di Jawa. Nah tapi biasanya itu cuma jadi alasan band Sumatera-nya teriak-teriak protes itu. Harus ada kesadaran juga di band-band Sumatera termasuk Lampung buat promosi ke Jakarta, Bandung atau Jogja biar scene mereka juga kenal kita. Kalau enggak kaya gitu ya enggak bakalan maju juga akhirnya.
Kalau untuk scene di Lampung sendiri apakah sudah muncul kesadaran mengenai pentingnya promosi?
Sofia : Yang aku rasa sih kurang kesadaran akan pentingnya internet dalam promosi. Kurang concern yang segala macem di internet itu penting banget. Mungkin yang baru pertama kali ke netlabel dengan masukin ke Hujan! Rekords juga baru kita mungkin (Tertawa).
Secara umum bagaimana perkembangan scene musik (so called) indie di Lampung?
Osa : Pada dasarnya scene indie di Lampung ini bisa dibilang masih kurang solid. Kalau di Bandung misalnya apapun alirannya semua akan saling support. Sementara di Lampung ini masih jalan sendiri-sendiri. Yang Punk ya Punk, yang Ska ya Ska, Reggae ya Reggae. Enggak ada media atau zine juga yang mayungin itu semua. Zine emang pernah ada tapi ya mati gitu aja.
Sofia : Dan juga generasi yang lebih dulu dari kita lebih industry-minded sih bisa dibilang. Tapi enggak bisa salahin mereka juga. Mereka cari duitnya dari musik aja emang. Padahal kalau dipikir kemampuan mereka mumpuni dari sekedar main musik yang di industri besar.
Industry minded seperti apa maksudnya?
Osa : Ya ambil contoh aja deh misalnya The Potters setahuku dulu mainnya Britpop atau Radiohead gitu (Tertawa). Guru musik juga lho mereka. Kalau Kangen Band mereka murni dari golongan bawah dan emang mainnya seperti itu. Generasi diatas kita itu mereka bermusik dan bermusik aja. Istilahnya dapat duitnya dari musik aja. Konsep kaya “Gua kalo mau dapet duit ya kerja” dan punya main job di luar musiknya enggak ada. Jadinya ketika mereka jatuh ya jatuh. Sampe ngontrak ke Jakarta demi dapetin itu, ironis jadinya.
Sofia : Atau Beage misalnya, itu band-band KFC gitu, pasti enggak pernah denger ya? (Tertawa) Dulu itu dia mainnya blues dan bagus, tapi ya akhirnya menyerahkan diri gitu aja ke industri. Kita sendiri tidak pernah berpikir buat jadiin musik sebagai sumber penghasilan utama kita.
Osa : Ya masalahnya itu tadi sih, karena enggak punya pekerjaan lain selain musik jadinya mereka yang di musik dan yang udah desperate akhirnya menyerahkan diri sama dunia yang kaya gitu. Ya pasti mau enggak mau jadinya ya band seperti itu.
Tapi pemikiran industry minded itu masih ada atau mulai bergeser?
Osa : Sayangnya yang sukses lewat jalur indie memang belum ada. Enggak ada role model-nya. Akhirnya role model kesuksesan itu ya sukses di jalur industri.
Sofia : Sudah enggak separah dulu sih sebenarnya karena pengaruh internet dulu kan belum booming juga. Akhirnya referensinya ke radio misalnya. Radio-radio juga dengerinnya lagu-lagu yang mainstream. Informasi enggak secepat sekarang. Anak-anak mudanya kaya yang SMA gitu sekarang referensinya juga udah lumayan lah, belum lama ini kaya Sarasvati udah mulai dikenal, ya lumayanlah.
Osa : Tapi ya masih ada juga band-band yang namanya aja enggak jelas kaya Stiker Band lah atau Laptop Band (Tertawa). Ada harapan sih tapi kalau lihat dari referensi sekarang, karena dulu emang bisa dibilang salah satu penyebabnya minim referensi. Sekarang udah pada sadar pentingnya referensi bermusik.
Di luar Lampung tidak bisa dipungkiri juga stereotip ketika mendengar musik Lampung pasti langsung terlintas Kangen Band, gimana kalian menanggapi itu?
Osa : Terus terang gua muak dengan kaya gitu. Tiap dari Lampung yang ditanya pasti Kangen Band. Jadinya stigma yang kebentuk itu padahal kalau mau lihat lebih dalam yang bagus-bagus juga banyak.
Sofia : Tapi kalau becanda-becandaannya sih kaya ada untungnya juga stigma kaya gitu. Jadi tiap orang yang denger Afternoon Talk pasti penasaran dan nanya ini beneran di Lampung. Jadi dari situ mau nyari tahu band kami (Tertawa).
Osa : Sebelnya itu kenapa Kangen Band harus di Lampung, yang lebih hancur di daerah lain masih banyak lho (Tertawa). Karena efek si Kangen Band ini besar juga, banyak juga band indie bagus yang malu ngaku kalau mereka dari Lampung. Akhirnya yang berani ngaku dari Lampung ya yang musiknya gitu-gitu.
Beberapa rekan saya berpikir jika Afternoon Talk berasal dari kota yang scene musiknya sudah kuat, ambil contoh dari Bandung misalnya, mungkin respon positif media tak sebanyak ini, Afternoon Talk naik karena dari Lampung, ada sanggahan soal itu?
Osa : (Tertawa) Gua pernah mikir kaya gitu. Kalau mikirnya kaya gitu ya pindah ke Lampung aja semuanya (Tertawa). Tapi kadang mikir juga kalau ada selintingan gitu berarti scene Lampung sebegitunya parah dianggep negatif sama orang ya?
Ivan : Mungkin kaya pemikiran eksotisme orang barat liat timur ya. Tapi kalau menurutku itu malah kaya poin yang unik dari sebuah band. Karena band itu bukan hanya musiknya aja tapi juga mitos-mitos di dalamnya. Enggak ada yang salah dengan itu. Kadang juga orang Jakarta sama Bandung kalo liat band Jogja juga masih dianggap eksotis. Yang penting sekarang sih saling berbagi aja kalau menurutku. Band-band di Jawa ngasih input buat yang di luar Jawa misalnya. Input lho ya bukan nasihat orangtua (Tertawa). Ngasih influence. Dan kaya Afternoon Talk sendiri pasti juga punya warna yang enggak dipunyai band lain, ya saling berbagi jadinya.
Vokalis The Pains of Being Pure At Heart Kip Berman dengan jujur mengatakan kalau dia bernyanyi seperti wussy (atau bisa diterjemahkan sebagai banci). Namun buat yang malam itu menonton pertunjukan live mereka di Balai Sarbini, pasti akan tahu betapa kerasnya permainan gitar pemimpin band indie asal New York ini. Satu-satunya roadie band ini, yang sangat rajin itu, bahkan sempat mengganti senar gitar yang putus. Kip juga sangat professional dalam menjalankan perannya meski dengan status indie yang disandangnya. Sehari itu dia mungkin sudah menerima puluhan pertanyaan—yang mungkin sama –namun mampu dengan konsisten memberikan jawaban yang witty dengan selera humor yang tinggi. Malamnya sehabis pertunjukan Kip mengejutkan penonton dengan diam-diam muncul dari balik panggung dan menyapa fans yang belum selesai terkesiap dengan musik mereka yang nyaris sempurna. Ini adalah hasil wawancara siang hari sebelum TPOBPAH bermain dan maaf jika kami tidak menanyakan komentar dia soal cuaca Jakarta atau soal makanan Jakarta--tidak perlu kami tanyakan juga karena kami sudah melihat Kip makan di sebuah gerai donat di dekat venue pertunjukan. Untuk pertanyaan tentang mengapa musik di album Belong menjadi berbeda serta mengapa cover art album itu mirip sampul album Manic Street Preachers Journal of Plague Lovers anda mungkin bisa menemukannya di penerbitan lain, bulan depan.
Anda berasal dari New York tapi mengapa musik anda terdengar seperti dari Inggris Utara?
Lucu memang. Di dekade 1970-an, New York adalah Kota di mana orang banyak datang dari tempat lain. Ide tentang New York sound datang dari The Ramones, Television, Richard Hell, mereka yang secara geografis hidup di New York yang mewakili agresivitas kota New York. Namun kini hampir semua band indie rock di sana tidak tumbuh di New York. Ini adalah tempat yang menjadi tempat tujuan anak-anak muda usia 20-an, seperti London dan Berlin. Saya tumbuh besar di kota suburban Amerika di luar Philadelphia. Ke mana saya pergi ketika dewasa dan ingin bermusik? New York tentu saja. Pada saat saya SMA kami semua berpikir Kurt Cobain adalah tuhan, namun dalam semua wawancara dia selalu bilang dia bukan tuhan dan indie band dari Skotlandia Teenage Fans Club, The Vaselines adalah tuhan. Kurt Cobain suka dengan musik banci (wussy). Dan Nirvana punya sisi pop manis dari mereka dan jika bukan karena mereka pasti Nirvana akan menjadi band agresif bodoh seperti 99 persen band dari era itu yang kini telah kita lupakan. Saya tumbuh di kota suburban yang membosankan dan mendengarkan Nirvana yang kemudian merekomendasikan dan menyanyikan ulang The Vaselines. mungkin tanpa rekomendasi itu saya tidak akan tahu mereka di usia semuda itu. Dan mulai saat itu saya tahu tentang band semacam Orange Juice dan kemudian Belle and Sebastian. Namun sejak kecil saya juga mendengarkan band indie Amerika semacam Pavement, Yo La Tengo, Guided By Voices atau Sonic Youth serta band indie 1990-an yang lain. Kami juga di bawah Slumberland, label Amerika yang banyak mengeluarkan band-band menarik. Jadi tidak benar kalau saya anti-Amerika.
Namun entah bagaimana rumput tetangga memang jauh lebih hijau dan itu menjelaskan kenapa kami terdengar seperti band dari Glasgow seperti band-band Creation Records, House of Love, The Pastels. Saya tidak benci Amerika dan band Amerika, namun kadang saya memang harus menyanyi seperti banci karena saya tidak bisa berteriak-teriak selayaknya rata-rata band dari Amerika.
Bagaimana pendapat anda soal file-sharing karena musik-musik TPOBPAH tidak di rilis di Indonesia dan fans anda kebanyakan mendapat musik itu secara gratis?
Intinya adalah semakin sedikit yang anda rilis semakin besar band anda ha ha ha.. Internet telah merubah cara manusia menikmati musik. Kebanyakan band yang saya suka tidak terkenal di awal 1990-an, bukan karena mereka buruk lho. Satu-satunya cara adalah anda mail-order rilis mereka dan saya pikir melakukan mail order untuk rilis band indie Skotlandia dari Jakarta di awal 1990-an bukanlah sesuatu yang masuk akal. Namun kini semua telah bebas dan terbuka dengan file sharing atau streaming. Salah satu pengalaman pertama kami di tahun 2007, bahkan sebelum tur di Amerika, ada promotor di Swedia yang ingin kami main di kota Malmo, Stockholm dan Gotheburg. Waktu itu kami hanya punya EP yang pastinya tidak dijual di Swedia namun semua orang yang datang ke pertunjukan bisa bernyanyi bersama kami. Ini tidak mungkin terjadi 10 tahun lalu. Ini yang membuat saya setuju dengan ide bahwa semua orang harus punya akses ke musik. Ini mungkin akan merugikan label namun label kami di Amerika tidak jahat, bahkan hanya ada satu orang yang menjalankannya. Fans sebaiknya mendukung artis dan label dengan membeli vinyl dan CD, namun sebagian besar bisa terbuka karena untuk merilis musik kami di sini tentu akan rumit prosedurnya. Dan kejutannya adalah kami bisa main di Jakarta bahkan di tempat di mana Indonesian Idol dipentaskan walalupun kami mungkin tidak bisa menyanyi sebaik peserta Indonesia Idol ha ha ha
Apakah anda seorang hipster?
Wah ini pasti karena nama saya Kip yang berima dengan dengan hip. Saya ingin tahu terlebih dahulu apakah baik atau buruk menjadi hipster? Terus terang saya tidak pernah sukses dalam pergaulan dan ini kebanyakan terjadi dengan orang yang bermain musik indie dan juga kebanyakan orang. Tidak banyak juga orang yang begitu punya banyak teman serta selalu punya tujuan hidup yang pasti dan juga selalu keren. Saya pikir pengalaman hidup adalah menentukan jalan kita sendiri sesuai dengan apa yang kita percayai. Dan bagi saya selama ini hal itu adalah musik. Di umur 15 tahun anda mungkin hanya akan bergaul dengan mereka yang mendengarkan pop punk atau hardcore. Dari luar mungkin agak susah menentukan mana band New York yang keren dan yang bukan. Anda pasti berfikir kalau dari New York pasti keren, kami tidak keren karena kami tidak dikerubuti oleh banyak foto model, saya bisa jalan kaki tanpa orang meminta berfoto dengan kami, dan itu mungkin menjelaskan kalau kami bukan hipster.
Apakah anda mengikuti politik?
Tidak. Ini agak aneh ya. Kami terlalu lama ada di jalan sampai kami berfikir kalau apa yang terjadi di Amerika Serikat seperti berita dari negara asing. Apakah benar orang orang ini mendukung kandidat tersebut? Apakah benar dia mengatakan kalimat itu karena saya tidak dengar kutipan aslinya. Kami kadang mengikuti lewat internet namun tetap saja sulit. Ketika ada flu babi di Amerika kami merasa surreal karena berfikir apakah semua orang akan menjadi zombie ketika kami pulang. Apakah akan ada zombie apokalips dan tentu saja tidak, karena keponakan saya terserang gejala penyakit itu dan cuma butuh libur dari sekolah.
Jadi sangat sulit untuk mengikuti politik selain karena kebanyakan masalah politik hanya bikin sedih saja dan mungkin ini terdengar eskapis, namun kami hanya ingin memusatkan perhatian kepada musik saja. Membuat sesuatu yang baik dan tidak mencoba menggantungkan harapan akan kebaikan kepada tokoh politik karena meskipun politisi punya tujuan mulia pada akhirnya itu semua harus dikompromikan. Ini memang “pains of being pure at heart,” anda mencoba melakukan hal baik, tapi anda akan mendapat perlawanan, seperti ketika anda mau membagi jus jeruk gratis anda akan mendapat perlawanan dari pabrik jus jeruk dan Coca Cola akan mencoba membagikan Coca Cola dan bukan jus jeruk. Kami tidak mengikuti politik karena toh hasilnya akan jelas di bulan November.
Namun aneh juga karena kami di New York malah seperti ada di periferi karena tidak ada satu orang kandidat-pun yang mencoba meraih suara dari kami. Tidak ada kandidat yang ingin suara dari seniman macam kami.
Soal tawaran menggunakan musik TPOBPAH untuk iklan yang kemudian anda tolak, itu untuk iklan apa? Dan Bagaimana ceritanya?
Ini memang sangat bodoh. Seharusnya saya tidak pernah melakukannya. Semua orang yang saya kenal mengutuk keputusan itu. Ibu saya bilang “kamu sok bijaksana karena orang lain tentu akan lebih menghargainya.” Kakek saya bilang “ini seharusnya kesempatan luas untuk memperkenalkan musikmu,” orang dari label ini bilang “kamu seharusnya terima saja” sepertinya semua orang mengirim e-mail ke saya dengan judul “Kamu adalah idiot yang sok bijak” dan mereka benar.
Namun yang ingin saya katakan adalah ketika kami bekerja keras untuk sebuah album, kami tidak ingin lagu itu menjadi populer karena dikenal lewat iklan tanpa orang tahu band yang memainkannya. The Flaming Lips mungkin punya lagu untuk iklan HP, namun mereka sudah cukup dikenal. Namun mungkin saat itu saya cuma terlalu banyak berfikir dan mungkin kini kami lebih banyak punya uang dan lagu kami lebih terkenal lewat televisi. Kami seharusnya tidak terlalu keras menolak iklan, karena jika Bob Dylan bisa melakukannya, Iggy Pop juga melakukannya maka tentu TPOBPAH juga seharusnya melakukannya karena kami pasti tidak lebih baik dari mereka. Mungkin kami memang terlalu “being pure at heart” dan yang kami dapat adalah “pain”.
Risky Summerbee & The Honeythief baru saja menciptakan rekor di Jakartabeat.net. Belum pernah ada sebuah single yang diunduh secara gratis dari kami bisa diserbu pembaca dengan begitu cepatnya. Hanya dalam sehari “Days Elapsed” sudah mendapat lebih dari 120 hits dan kini mungkin sudah mendekati angka 500 download, dan untuk itu kami mohon maaf kepada mereka jika ledakan unduh gratis itu mengganggu rencana mereka untuk melepas single tersebut dalam bentuk fisik. Kami sudah memberi ulasan kecil yang mungkin bisa menjelaskan kenapa single itu mungkin bisa menjadi salah satu musik terbaik dalam tiga bulan terakhir. Dan yang membuat single itu bisa begitu cepat ditangkap massa tentu saja bukan karena kecenderungan masyarakat kita yang memang suka freebies, namun lebih menunjukkan betapa bagus mutu karya RSTH. Beberapa hari lalu Risky Sasono setuju untuk menerima pertanyaan e-mail dari kami--yang sebagian tidak nyambung--dan menjawabnya dalam tempo yang singkat.
Soal single "Days Elapsed" dan itu membuat kami ingin bertanya walaupun agak klise, bagaimana ceritanya Frau yang mengisi suara kedua?
Jawaban yang mengharuskan kita mundur tiga atau empat tahun sepertinya he he he. Terlepas dari Jogja adalah kota kecil dimana orang yang gaul (kalau tidak mau disebut seniman) mau tidak mau selalu terhubung dengan orang gaul lainnya, entah lewat event musik, seni rupa, teater atau kongkow kongkow biasa. Di situlah mungkin interaksi menjadi agak menjadi hal biasa. Sebagai anak gaul Lani juga melibatkan interaksi itu, dia membuka launching album 'The Place I Wanna Go' di Jogja National Museum April 2009, dia juga melibatkan pembicaraan dengan kita sebelum produksi 'Starlit Carousel', dia pernah ikut songwriting forum di Teater Garasi suatu waktu dan sebaliknya saya mengusulkan nama Lani di proses Teater Garasi untuk menggarap musiknya pada saat monolog Verry Handayani 'Sum Cerita dari Rantau' untuk proses dan pementasan di desa-desa di Jogjakarta, (pentas di Indramayu, Wonosobo, Jombang dan kota-kota penyalur tenaga kerja wanita (TKW), proses musik digantikan Erwin Zubiyan karena Lani tidak bisa ikut). Secara personal juga tahu dan kenal keluarga masing masing. Ketika RSTH pentas di Teater Garasi (yang menjadi awal acara rutin Live At Teater Garasi) kami mengundang beberapa teman termasuk Tika Jahja (Tika & the Dissidents), Andrea Adhi seorang pianis, dan Lani (khusus untuk lagu “Days Elapsed”), dan itu menjadi awal wacana “Days Elapsed”. Selanjutnya “Days Elapsed” pernah kami mainkan bareng Lani tiga sampai empat kali di Jogja. Dia hafal dan menghayati, nge-soul kalo dalam bahasa kami. Begitu saatnya direkampun sepertinya sudah natural bahwa Lani-lah yang akan mengisi peran perempuan di lagu itu. Bahkan ketika suatu saat Frau diundang untuk hadir di acara TV lokal Kosmo yang saya bawakan bersama Naomi Srikandi, dalam latihan untuk itu dia hafal liriknya sementara saya lupa bagian yang harus saya nyanyikan. Lepas dari itu, kami juga merasa bahwa "Days Elapsed" menyiratkan untuk duet Laki-perempuan ketika liriknya jadi. Sebelum pentas di Teater Garasi Desember 2009 itu, lirik belum begitu tersusun rapi, fiksi atas lirik juga belum terlihat, belum ada pandangan untuk duet. Ketika sudah tersusun maka ide untuk duet muncul, atau sebaliknya saya lupa.
Sampai pada taraf ini sesungguhnya di mana sesungguhnya tempat Risky Summerbee and The Honeythief di scene musik lokal?
Tempat apa nih? Banyak parameter yang bisa digunakan. Tapi yang jelas, kami bukan band dengan massa yang besar. Bukan Sheila on 7 dan bukan Shaggy Dog. Banyak orang Jogja yang tidak tahu atau belum pernah dengar RSTH. (RSTH adalah singkatan yang diberikan oleh Slamet Gundono). Kami juga bukan band yang dilirik oleh pelajar massa untuk diundang di pensi mereka. Dari awal kami sadar itu, juga karena kami dekat dengan teman teman seni pertunjukan, maka kami selalu membuat acara sendiri, menggarap show sendiri, dan dipentaskan dengan menjual tiket. Tahun 2007 kami menjual tiket seharga Rp.10,000 untuk pentas RSTH 'She Flies Tomorrow' (dimana Yoko Ishiguro - performance artist dari Tokyo dan Ifa Isfansyah terlibat), kemudian 'The Rise and Fall of a Scoundrel Queen' - komposisi 60 menit bersama string quartet, kemudian 'Memoirs of Gandari' bersama Slamet Gundono. Pada launching 'The Place I Wanna Go' kami meniketkannya Rp.10,000 pre-sale dan Rp.20,000 on the night. Pentas di teater Garasi kami tiketkan kalo tidak salah 20 ribu dan 25 ribu. Angka angka ini masih dinilai kontroversial di Jogja untuk sebuah pentas tunggal, no one has ever done that in the indie music scene, biasanya selalu dengan modus mementaskan beberapa band. Rata rata untuk pementasan yang kami buat sendiri ada 200-300 orang yang datang. Modal kultural yang kami tempuh sepertinya tidak sebanding dengan reward yang ditawarkan pensi atau organizer lainnya. Maka kami bikin sendiri dengan parameter kami sendiri. Modus yang kami terapkan ini mungkin yang menjadikan RSTH selama ini jadi tampak eksklusif. Sungguh ini pertanyaan yang sulit, tapi mungkin tempat RSTH adalah dimana kami nyaman, Kalau tidak ada yang bisa menyediakan tempat nyaman, ya kami bikin kenyamanan sendiri, tempat dimana kami bisa membangkitkan energi semestinya dan semoga energi yang kami tawarkan dapat sampai ke penonton juga. Kalo aku melihat itu, we're in a world of our own he he he.. terserah orang menanggapinya. Kalo suka ya pasti mereka ikut.
Tentang scene Yogya? Kira-kira kenapa dua tiga tahun terakhir lebih bergairah? Apa yang membuat Yogya misalnya berbeda dari Jakarta?
Kami pikir itu efek saling memantul. Saling energizing. Dimana ranahnya kecil maka interaksi itu berlangsung lebih intens dibanding Jakarta, walau aku juga melihat ada letupan letupan bergairah juga di Jakarta. Bisa jadi itu, bisa jadi pertanyaan ini adalah sudut pandang dari orang orang Jakarta, yang merasa ada sesuatu di Jogja? Bahasa Jawanya : 'Wang Sinawang'. Tapi memang aku juga merasa ada kerja kerja intensif di kurun waktu itu seperti yang dilakukan Frau, Jogja Hip Hop Foundation, Senyawa, juga ada Melancholic Bitch dan Armada Racun... Saya tidak percaya koinsidens tapi juga tidak bisa menjelaskan, karena RSTH juga mulai beredar di kisaran waktu 2008-2009 dan kalo memang itu adalah sesuatu yang bermakna di ranah musik Indonesia, maka kami senang menjadi bagian dari itu.
Terus terang kami sudah tidak tahu lagi bagaimana sebenarnya scene musik di Indonesia, indie-mainstream, high art-low art, dangdut koplo-pop art, tapi ada juga Zoo atau Frau, apa yang terjadi?
Saya juga tidak tahu, tapi saya pikir dikotomi ini sudah runtuh di semua bentuk kesenian, walau saya tahu pasti di seni rupa dan seni pertunjukan masih ada entitas yang menyikapi high art-low art dengan tegas! Untungnya di musik pelaku pelaku musik independen lebih terbebaskan dari belenggu pemikiran itu. Musik seperti juga disiplin seni lain adalah cerapan bagaimana kita melihat dunia di sekitar kita, jadi parameternya adalah apa yang digagas dan bagaimana output gagasan itu, dan itu bisa berbentuk apa saja. Kami sempat merekam lagu "Unfollow" berirama keroncong, lagu "BBM" yang notabene dangdut, sementara "Days Elapsed" bentuknya sangat harmonis dibanding "The Seagull" yang atonal.
Saya pikir untuk beberapa hal kita tidak bisa lagi menggunakan parameter lama seperti genre untuk menjelaskan fenomena, karena untuk kasus Zoo, Senyawa, dan Frau itu lebih dari sekadar genre. Menurutku seharusnya ada cara pembahasaan yang lain, yang mungkin sama adalah fenomena banyak seniman rupa yang juga bermusik, tidak ada yang salah dengan itu, sebagaimana kami tidak bermusik dan melakukan hal-hal lain di luar musik, tapi sejauh mana gagasan dan output itu dapat diterima publik. Tetap harus ada parameter keberhasilan yang tidak berdasar pada penjelasan konvensional.
Kalau secara socio-geografis memang Jogja adalah melting pot antara barat dan timur, adiluhung dan modern, pergulatan itupun kental dan natural. Itu juga kontributif terhadap runtuhnya dikotomi di musik. Dalam "The Rise and Fall of a Scoundrel Queen" (2007) dan "Memoirs of Gandari" (2008) kami jelas memaparkan benturan/integrasi itu, Frau dalam suatu penampilannya pernah nembang Jawa, Senyawa dengan basis hardcore/metal menjelajahi sastra tutur suku-suku di Indonesia.
Kira-kira demografi penyuka RSTH itu seperti apa ya?
Belum ada penelitian tentang ini tapi yang kami tahu adalah berdasarkan usia (berdasarkan pandangan mata) di mana yang terlihat sepertinya mereka usia 18-40 tahun, Dengan rasio kira kira 60% laki laki dan 40% perempuan. Sebetulnya usia atau jenis kelamin tidak peting, yang mungkin berguna bagi kami adalah berapa sebenarnya income mereka he he he...
Apa yang membuat proses kreatif RSTH begitu lama?
Di luar bahwa proses butuh waktu, sepertinya kami juga tidak mengkonsentrasikan waktu khusus buat menggarap satu album. Album "The Place I Wanna Go" juga sebetulnya kumpulan apa yang kami pernah pentaskan, kami latih, kami rekam dari tahun 2007. Album ke depan juga kurang lebih sama, materi dari 2009 sampai 2012. Lebih ke mengalir sampai kita menemukan kejelasan atau pencerahan bahwa inilah jadinya. Yang menjadikannya lebih lama dari waktu yang ditentukan, dan ini kerap kali terjadi, adalah keterlibatan beberapa personil dalam proses kreatif yang diinisiasi orang lain, seperti Erwin Zubiyan yang terlbat pembuatan lagu dan pementasan musikal Krontjong Mendoet. Saya sendiri terlibat dalam drama Goyang Penasaran. Hal ini sering terjadi dalam proses kreatif kami di Jogja. Sebenarnya terpikir ke depan untuk menggarap album dengan metode kumpul dan terkonsentrasi di suatu tempat selama satu bulan dari proses pencarian sampai rekaman. Kalau kasus album yang akan datang, itu lama karena banyak pihak yang kontributif terhadap album ini, seperti seniman rupa 'Wedhar Riyadi' yang memerlukan waktu untuk mempelajari teknik yang akan ia pakai untuk ilustrasi di album. Saya sendiri juga membongkar pasang teks yang paralel dengan lagu. Ada beberapa tulisan yang sudah tidak lagi relevan, atau pertimbangan sosok penulisnya yang ini itu. Bahkan tadi malam terpikir untuk merekam satu lagi lagu sisipan. .he he he.. We're in no rush.
RSTH lebih hidup dan lebih nyala dalam permainan live apa yang membuat merekam dalam studio menjadi penting? Dan seberapa penting?
Menurutku ini berbeda secara fungsi, live gig adalah peristiwa. Dalam pengertian itu, maka live gig memang harus 'jadi'. Sementara, album atau rekaman studio sifatnya pure leisure atau re-calling. Kami masih berpikir bahwa output musisi adalah hal yang direkam. Tapi memang tidak harus studio session, di album Preamble kami mengeluarkan dua lagu yang kami rekam live, di Jakarta dan di Jogja. Kami sempat terpikir juga kalo dari beberapa komplimen kita memang kuat di live performance, maka rekaman studio tidak lagi mutlak. Tapi ini seperti penyikapan dalam menentukan sebuah naskah akan menjadi teater atau film? Ada beberapa pertimbangan dan konsekuensi dari putusan.
Terbentuk pada tahun 2003 di Yogyakarta, Oh,Nina! adalah Arief “Auf” Nugroho dan Marselius Krishna, dua teman sejawat saat kuliah. Sebelum menjadi duo pengusung electronic music, Oh,Nina! adalah Auf (vokal, guitar burner), Khrisna (simply harmonic maker), Yoza (beat maker, sampling), serta Dhanas (low beat) dengan kiblat musik The Radio Dept., The Postal Service, The Cure, The Cardigans, Figurine, Belle and Sebastian, Mew, Telephone Tel Aviv, hingga Pure Saturday.
Album perdana mereka Enjoy the Euphoria of Anti Cliché World dirilis tahun 2006 dengan hits single "Love Song For Nina". Namun segera setelah itu Yosa dan Dhanas memutuskan pamit mundur. Format band berubah menjadi duo pengusung musik elektronik setelah sebelumnya berada di bawah naungan britpop. Formasi ini kemudian menelurkan dua EPShinny Day Has Come, Highway) serta sebuah album penuh Eppi Space Creature: ZAAPP...!!!. Album ini mendapat apresiasi positif dari media musik di tanah air, sedangkan EP Highway dirilis oleh label asal Jerman, Edition 59.
Setelah hibernasi tiga tahun lebih, Oh,Nina! hadir kembali dengan single "Tosca". Sebuah komposisi yang menjadi penyambung menuju album terbaru yang akan menghadirkan warna musik yang berbeda dengan album-album sebelumnya. Proses mixing-nya dilakukan di sebuah studio musik di Sheffield, Inggris. Kepada Jakartabeat, Auf menuturkan konsep jembatan Golden Gate, titik jenuh perjalanan musikal Oh,Nina!, sampai pentingnya membentuk karakter untuk keberlangsungan regenerasi sebuah scene musik.
Tiga tahun adalah waktu yang cukup lama bagi sebuah band tanpa karya baru. Mengapa bisa sampai sedemikian lama?
Kita merubah cara membikin lagu. Pendewasaan musik. Dulu serba spontan, bikin lagu, aransemen, jamming, selesai. Sekarang kita lebih meng-explore musik. Kita datang dengan nol materi, kalo dulu kan datang dengan materi yang sudah ada bayangan. Sekarang kita ada workshop. Kita brainstorming, cerita, ngobrol dulu. Itu yang bikin lama. Kita juga dibantu sama Teguh Hari, bassis Melancholic Bitch. Kita perlu satu orang yang bisa mengawal kita mulai dari proses workshop sampai bikin aransemen. Kita di-push sampai ngelewati batas yang dulu.. Dulu kan mung tulattulit tok (cuma tulalulit saja, -pen). Kita gak ngira ternyata bakal kayak gini hasilnya. Mungkin lebih ambyar (hancur, -pen) (tertawa)
Dalam siaran pers "Tosca" disebut akan terdengar lebih gagah dan indah bila berdiri sendiri. Apakah ini karena faktor produksi yang sebagian dilakukan hingga ke Inggris?
"Tosca" sebenarnya masuk ke album baru tapi setelah ditata karakternya beda. Aransemennya rumit tapi simpel. Akhirnya setelah kita lihat kita lepas jadi single baru. Tosca adalah jembatan. Ibarat jembatan Golden Gate kan tiap sisi kota yang tersambungkan punya karakter berbeda dan jembatan Golden Gate juga berdiri sendiri. Gagah dan bagus. Tosca harus seperti itu. Sebuah jembatan yang bagus. Kalo mixing di Inggris kebetulan kita kirim kesana, ada teman disana, kita suka dan cocok dengan hasil mixing-nya.
Sebelum Tosca kalian merilis EP Highway yang justru dirilis oleh label luar negeri. Apakah sound-sound Oh,Nina! lebih cocok untuk telinga para bule atau justru saat itu tidak ada label dalam negeri yang tertarik?
Kita tidak ada rencana untuk rilis disini. Kita tidak mau ribet cari label. Kita udah sampai satu titik untuk hal-hal yang seperti itu sudah tidak penting lagi. Dulu pas awal-awal band masih semangat, masih pengen bikin lagu terus cari label kesana-kesini. Lalu titiknya mulai dari Highway. Ya istilahnya ya udah bikin aja lah . Tidak mikir rilis dimana, bentuknya apa, mau dijual atau gratis. Sekarang yang penting kita punya kemampuan untuk berkarya. Itu yang lebih penting buat kami sekarang.
Apa ini yang tadi disebut sebagai pendewasaan musik?
Kami menghargai proses seni. Kenapa "Tosca" dirilis di social media karena kami ingin ada respon langsung dari pendengar. Itu yang ingin kami bangun. Kalau sekedar dirilis di label A terus dikasih judul best electro pop atau best album oleh majalah ini atau portal berita ini, itu sudah bukan sesuatu yang berarti bagi kami. Sekarang yang penting ya kami berkarya. (Catatan: album Eppi Space Creature: ZAAPP...!!! yang dirilis tahun 2008 oleh Blossom Records menjadikan Oh,Nina! sebagai The Best Electropop Band from DIY, calm, cool, and shady dari majalah Rolling Stone Indonesia)
Sebagai band yang tumbuh di scene musik Yogyakarta, bagaimana Oh,Nina! memandang perkembangan di scene musik ini?
Kemarin setelah tahun 2008 kita muter-muter kesana-kesini, cari label, manggung, saya membedakan antara scene dengan band. Mungkin band saya menjadi salah satu penanda scene Yogya, tapi scene itu perlu karakter sendiri. Makanya saya juga sempet bikin majalah biar scene Yogya punya karakter dan bisa melakukan regenerasi dengan karakter itu. Sekarang scene Jogja menggeliat lagi lewat band-band seperti Brilliant At Breakfast dan Answer Sheet. Tapi masa scene menggeliat harus menunggu bandnya menggeliat juga? Kalo dipaksakan bersama ya susah karena langkah musik masing-masing band berbeda. Ada yang baru mulai, ada yang tarafnya sudah sampai meng-explore. Nah, di Jogja ini estafetnya ada terus. Misalnya band A baru mulai, band B sudah mulai menggeliat, lalu A naik, yang B rehat sebentar. Di saat bersamaan band-band lama yang vakum muncul lagi. Itu yang jadi hal yang memperkaya scene Jogja.
(Catatan: Auf adalah salah satu pendiri DAB Magazine, sebuah zine yang awalnya diproyeksikan untuk mengulas scene indiepop di Yogayakarta namun kemudian berkembang menjadi sebuah dokumentasi bagi pergerakan scene musik independen di Yogyakarta. DAB sejak tahun 2008 telah terbit sebanyak 26 edisi, dan sejak Januari 2011 namanya berubah menjadi EAR Magazine)
Kembali ke Tosca, apa influence dalam penggarapan single ini?
Influence masih sama, yang banyak membentuk kami mulai The Postal Service, Massive Attack sampai Bjork. Bruno Mars juga mungkin (tertawa). Juga band-band Jogja seperti Risky Summerbee and The Honeythief dan Melancholic Bitch. Semuanya jadi kesatuan. Beda saat dulu masih awal-awal. Kami berusaha mengikuti apa yang kami denger saat itu, dengar Gorillaz terus berusaha ikut Gorillaz. Waktu workshop kami ingin bikin Tosca jadi lagu yang simple, catchy tapi rumit dan orang tidak sadar ini rumit
Dengan jeda waktu sampai tiga tahun rupanya anda cukup sabar ya untuk tidak merilis karya-karya baru lagi?
Sebetulnya ya sudah tidak sabar ingin rilis (tertawa). Saya juga sibuk bergerak di scene. Itu menyita waktu lumayan banyak. Saya sempat dekat dengan Cranial Incissored. Otomatis tiap hari saya dengar lagu-lagunya dan saya tidak ingin itu terbawa saat kami bikin lagu. Pas rilis "Tosca," kami sebetulnya ingin cari tanggal rilis, tapi kok tiba-tiba pas ngobrol kami ingin rilis sekarang ya sudah akhirnya rilis saat itu. Sampai-sampai waktu kami menaruh lirik di page Facebook kami salah kirim lirik yang masih acak-acakan nulis.
Kami ingin taruh "Tosca" di social media supaya bisa interaksi langsung. Itu nyenengin. Mungkin tidak fenomenal responnya, tapi ternyata masih ada yang respon kami. Ini yang bikin kami senang. Ada yang mengapresiasi.
Untuk kepastian rencana rilis album baru sendiri?
Tahun ini. Ini tinggal menyiapkan artwork. Materi sudah selesai semua. Kami sudah ketemu orang yang cocok bikin artworknya. Biar tidak sekedar asal rilis. Sebetulnya ya sudah muncup-muncup pengen lek ndang ditokke (sudah buru-buru ingin segera dirilis, -pen) (tertawa). Dan sampai sekarang kami belum kasih materi ke label manapun. Pengen gratis ya gratis, pengen rilis vinyl ya vinyl, CD ya CD, kaset ya kaset. Mungkin bisa dibilang cuek tapi ya sudah proses kami sudah sampai di titik itu. Kalo kami dipaksa seperti dulu tidak bisa. Kemarin sudah ketemu tempat bikin vinyl yang bagus. Beastie Boys juga bikin disitu.
Selama proses penulisan artikel tentang Common People beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan Arkham Kurniadi yang mendirikan Paperplane Recordings. Saat proses wawancara, ia menawari saya untuk memawancarai Johan Angergård yang terkenal karena mengotaki Club 8, The Legends, Acid House Kings, Poprace, dan baru-baru ini, Pallers.
Pallers telah merilis album penuh berjudul The Sea of Memories – sebuah album yang penuh layer dan sentuhan trip-hop yang tumpang tindih dan kaya detil soundscape nan epik. Dan kebetulan, Paperplane Recordings akan merilis album itu tahun depan.
Johan sendiri menyebut musik Pallers sebagai “dance music for the lazy” dan memang, semenjak berada di Club 8, Johan Angergård telah memukau pendengar dengan sentuhan dan aransemen yang gloomy, agak malas, dan tidak cocok didengarkan ketika hujan di pagi hari (atau malah sebaliknya?).

Oleh Kodrat Setiawan, wartawan Tempo Interaktif
“Saatnya mengembalikan metal dengan menonton band-band thrash metal//Kita nonton Metallica//Kita nonton Megadeth//Kita nonton Slayer//Kita nonton Anthrax”
Saya termasuk orang yang sering sebal dengan komentar “Wah sekali lagi kita kecolongan, lagi-lagi bule—yang menulis tentang dangdut, yang merilis musik Indonesia lama" —ketika ada rekan kita dari negara maju yang dengan profesional melakukan upaya penyelamatan dan katalogisasi musik Indonesia lama maupun musik mutakhir (orang seperti Philip Yampolsky atau Andrew Weintraub). Pertanyaan mereka kemudian sangat khas, “Anda (dengan bahasa mereka para “bule”) dituduh mencari keuntungan dari musik Indonesia lama, apakah ini benar?”
Belakangan saya sering mengutuki nasib. Kenyataan bahwa saya tidak mahir bermusik sekan-akan terus menjadi mimpi buruk. Apalagi kalau saya datang menonton konser musik. Rasa ingin berada di balik instrumen musik sembari menyapa penonton dari atas panggung semakin menjadi-jadi. Belum lagi kalau melihat kawan-kawan saya sedang mengulik nada-nada.
Scene musik indie selalu menarik untuk ditulis dan dijadikan buku. Lebih menarik lagi bila musik indie dihadirkan sekaligus bersama buku tentang scene musik indie. Dan itulah yang dilakukan oleh Ron Trembath, seorang blogger, yang bekerja keras mewujudkan keduanya melalui proyek Children of Mercy Book and Compilation yang baru dirilis beberapa hari lalu.
Entah karena tidak bahagia atau terlalu bahagia (atau karena tinggal di negara yang tidak bahagia), setahun yang lalu saya agak terobsesi dengan konsep kebahagiaan. Saya rajin mencari dan membaca buku dengan kata “bahagia” atau “kebahagiaan” sebagai judul. (Saya juga sempat bertanya kepada guru Yoga terkenal yang kini ditahan polisi).
Idea