Ketika orang-orang di luar sana sudah menggebu-gebukan pujian untuk film-film seperti Tinker Tailor Soldier Spy, remake The Girl with the Dragon Tattoo karya David Fincher, dokumenter Project Nim, drama Iran A Separation, dan masih banyak lagi, kita di Jakarta masih harus duduk manis menunggu.
Seringkali penungguan ini pun berakhir dengan kekecewaan, dengan kepala menunduk, tangan mengepal, dan amarah yang membuncah dalam diam.
Oleh karena itu, saya pun agak ragu artikel ini patut dijuduli top eleven films of 2011. Lebih layak disebut sebelas film tahun 2011 yang sudah saya tonton dan paling menggugah saya untuk komentar tapi tak pernah punya waktu, tapi sepertinya itu akan kepanjangan untuk jadi judul artikel.
Dan kenapa sebelas? Karena saya melihat artikel-artikel lalu di Jakartabeat dan menemukan artikel top nine films untuk 2009 dan top ten films untuk 2010. Dan inilah daftar film tersebut disebut berurut sesuai abjad awal judulnya.
The Adventures of Tintin: The Secret of the Unicorn
Sutradara Steven Spielberg
Setelah satu dekade lebih berkutat dengan film-film yang bertema gelap, banyak orang mengira bahwa jiwa petualang Spielberg yang penuh fantasi murni, yang berhasil menggubah Close Encounter of the Third Kind, E.T.: The Extra Terrestrial, Raiders of the Lost Ark, dan Jurassic Park itu, sudah sirna seluruhnya.
Tintin mematahkan seluruh anggapan itu. Tidak hanya “Spielberg sang petualang” itu masih ada, namun jiwanya masih tetap menggelora.
Digarap dengan imajinasi seliar anak kecil yang sedang seru berlari menerbangkan pesawat mainannya, Spielberg berhasil menggubah adaptasi Tintin menjadi tak sekedar salah satu film animasi terbaik tahun ini, namun juga salah satu film petualangan paling menghibur yang pernah ada.
Menonton film ini tak ubahnya kembali ke satu Minggu pagi di masa kecil saya: tidur tengkurap di atas kasur dengan masih mengenakan kaos dan celana tidur, terbius oleh komik-komik Eropa dengan ditemani sinar matahari yang menembus dari balik jendela.
Cerita-ceritanya memang familiar karena sudah saya baca ratusan kali, namun bukan berarti saya akan pernah bosan.
Dan, bagi saya, itu adalah salah satu bentuk pujian terbaik yang bisa saya sematkan untuk sebuah karya seni berbentuk apapun.
Attack the Block
Sutradara. Joe Cornish
Invasi alien mungkin adalah genre sains-fiksi paling usang di muka bumi. Namun, Attack the Block adalah bukti yang meyakinkan bahwa dengan naskah yang tajam dan karakter-karakter yang hidup, ide film sebasi apapun bisa jadi segar lagi.
Bayangkan jika alien menyerbu Jakarta dan sekelompok preman muda kawasan Tambora atau Tanah Abang, dengan segala permasalahan sosial di sekitar mereka, harus berjuang mati-matian mempertahankan nyawa dan wilayah mereka dari serangan makhluk asing tersebut.
Kurang lebih itulah premis dasar film ini. Tinggal ganti saja Jakarta dengan London, dan voila! Attack the Block.
Tidak seperti film-film invasi alien khas Hollywood yang menonjolkan serangan-serangan berskala besar, Attack the Block memilih untuk selalu fokus ke interaksi antar-karakter. Tensi dibangun tidak dengan sederetan ledakan tapi dengan suspense yang tersusun rapi dari awal sampai akhir.
Lawakan-lawakan gelap nan kering khas Inggris menjaga suasana tetap ringan sepanjang film, tapi siap-siap saja ketika sesuatu mengejutkan terjadi di layar dan jantung mendadak copot.
Drive
Sutradara. Nicholas Winding Refn
Bekerja sebagai seorang montir dan stuntman di siang hari dan ngobyek sebagai supir mobil yang membantu kriminal kabur dari TKP di malam hari, tokoh the Driver yang tak bernama (Ryan Gosling) di film ini tak ubahnya adalah seorang anti-hero sejati.
Namun ketika dia merasakan sejumput kemapanan dan kenyamanan dan berusaha dengan segala cara untuk berubah, dis inilah Drive berubah dari kisah drama biasa menjadi sesuatu yang lebih. Drive berbicara tentang kesepian, kesetiaan, dan bagaimana seseorang tidak akan pernah bisa lari dari jiwanya dan jatidirinya, sebesar apapun usahanya untuk berubah.
The Driver adalah makhluk malam yang hidup di dunia yang kelam dan penuh kekerasan, dan dia tidak akan pernah bisa lari dari sana.
Midnight in Paris
Sutradara Woody Allen
Dengan bumbu realisme magis yang kental a la The Purple Rose of Cairo (1986, juga oleh Woody Allen), Midnight in Paris adalah return to form yang cemerlang bagi Woody Allen dan salah satu film termanis tahun ini.
Saya sama sekali tidak pernah menyaksikan trailer atau membaca sinopsis film ini sebelum saya akhirnya memutuskan untuk menontonnya, satu malam beberapa minggu yang lalu.
Akibatnya, saya mulai menonton Midnight in Paris mengiranya tak lebih dari sekedar film romantis kontemporer dengan sentuhan psikoanalisa khas Allen. Betapa salahnya anggapan saya.
Saya benar-benar takjub dan terbius dengan segala yang ditawarkan film ini.
Dibuka dengan adegan montage sepanjang tiga menit yang mengarungi daerah-daerah di seluruh penjuru Paris dengan iringan musik Si Tu Vois Ma Mere karya Sidney Bechet yang benar-benar membuat hati ini terbuai, Midnight in Paris memukau dalam kesederhanaannya.
Allen memotret Paris seakan inilah satu-satunya kota di seluruh dunia di mana keajaiban masih bisa terjadi. Dan dia berhasil membuat saya percaya.
Mission: Impossible - Ghost Protocol
Sutradara Brad Bird
Setelah dua sekuel yang tanpa semarak sama sekali, agen rahasia Ethan Hunt (Tom Cruise) akhirnya kembali dengan menghentak tahun ini.
Dengan kisah yang menjelajah dunia, adegan-adegan aksi yang membuat mulut menganga, dan peralatan-peralatan spionase yang tak ubahnya seperti trik-trik sulap, Ghost Protocol menjadi film Mission: Impossible pertama yang layak disejajarkan dengan petualangan-petualangan terbaik James Bond dan Jason Bourne.
Berbeda dengan film-film aksi Tom Cruise pada umumnya, Ghost Protocol punya plot yang seribu kali lebih menarik, gaya visual yang sangat cair dan dinamis, dan adegan-adegan aksi yang jauh lebih imajinatif.
Dan, untuk ini semua, saya harus terima kasih kepada Brad Bird, sutradara pemenang Oscar dan alumni Pixar yang sebelumnya sudah membesut The Incredibles dan Ratatouille di bawah naungan raksasa animasi itu.
Di tangan Bird, Ghost Protocol mengingatkan saya pada film-film James Bond era Sean Connery. Bird berhasil menyuntikkan dosis kemustahilan yang tepat ke seluruh adegan aksi film ini yang membuat mereka masih terasa menakjubkan tanpa jadi norak, meskipun memang aneh dan tidak masuk akal. Lagipula, the mission is supposed to be impossible.
Sang Penari
Sutradara Ifa Isfansyah
Dilihat dari sudut pandang mana pun, mengadaptasi novel sekelas Ronggeng Dukuh Paruk bukanlah perkara gampang. Usaha dan keinginan itu saja sudah patut dipuji. Namun, rupanya, Sang Penari pun berhasil menjadi adaptasi yang sama sekali tidak dapat diremehkan.
Yang paling harus dipuji mungkin adalah keberanian dan keteguhan hati Ifa dan timnya untuk tidak berkompromi dalam penceritaan. Contoh sederhananya saja: hampir seluruh dialog di film ini adalah dalam bahasa Banyumasan, membuatnya harus diberi subtitle Bahasa Indonesia untuk konsumsi bioskop.
Selain itu, hampir tidak ada celah kebahagiaan dalam kisah cinta yang ditawarkan film ini dan kekelaman politik era 1965 juga digambarkan dengan gamblang tanpa polesan pemanis sedikit pun, membuatnya menjadi film yang berat dan memang tidak ditujukan sebagai hiburan.
Tapi justru aspek-aspek inilah yang berhasil membuat Sang Penari menjulang tinggi sendirian di tengah film-film lokal lain, yang jumlahnya semakin menggembirakan dari tahun ke tahun.
Terlepas dari beberapa kelemahannya, Sang Penari adalah tontonan yang membius. Endingnya saja, yang menawarkan sudut pandang baru terhadap konvensi klasik “the girl and the boy walks off into the sunset”, masih menghantui saya.
Rise of the Planet of the Apes
Sutradara Rupert Wyatt
Setelah remake Planet of the Apes besutan Tim Burton tahun 2001 gagal total di hampir semua aspek, memang tidak aneh kalau sejak awal proyek Rise ini diumumkan, jutaan fans pun langsung menghujatnya sebagai tak lebih dari upaya lain untuk mengeruk untung.
Namun, pada akhirnya, tuduhan itu sama sekali tidak terbukti.
Seluruh monyet dan kera di film ini diciptakan dengan teknologi motion capture (a la Gollum di trilogi The Lord of the Rings dan bangsa Na’vi di Avatar) yang sedemikian nyatanya sampai-sampai saya lupa bahwa mereka semua sebenarnya hanya aktor yang berperan lewat polesan komputer.
Gaya penyutradaraan Rupert Wyatt, yang membuat cerita mengalir sedemikian lancarnya dan berhasil membuat saya menginginkan monyet-monyet ini menang, juga harus dipuji.
Lebih dari itu semua, harta karun terbesar yang dimiliki film ini adalah permainan akting yang menakjubkan dari maestro motion capture Andy Serkis, yang sebelumnya sudah memukau jutaan penggemar film lewat perannya sebagai Gollum dan juga sebagai King Kong di remake tahun 2005.
Serkis memerankan pimpinan kaum kera Caesar seumpama versi gelap Musa atau Gandhi: penuh dengan amarah terpendam akibat penindasan yang sudah berjalan ribuan tahun lamanya. Sejalan dengan Caesar yang merencanakan pemberontakan besar-besaran untuk menumbangkan dominasi manusia, penonton pun ikut merasakan emosinya yang menggelegak dan siap untuk meledak setiap saat.
Kampanye agar Serkis memperoleh nominasi Oscar untuk aktingnya di film ini sangatlah masuk akal. Kalaupun tidak tahun ini, suatu saat nanti Oscar akan sadar bahwa inilah masa depan akting.
Rango
Sutradara Gore Verbinski
Konon, ihwal awal produksi film ini adalah ketika sutradara Gore Verbinski memutuskan untuk membuat "sesuatu yang sederhana" setelah kelelahan menyutradarai tiga film Pirates of the Caribbean. Namun, hasilnya ternyata sesuatu yang sama sekali tidak sederhana. Dengan plot yang kompleks, karakter-karakter yang penuh warna, naskah yang menggigit, dan tata seni yang surgawi, Rango adalah film animasi terbaik tahun ini.
Rango sama sekali bukan film anak-anak yang bisa dinikmati orang dewasa, seperti halnya serial Toy Story atau Shrek. Rango memang ditujukan untuk orang dewasa, terutama bagi para pecinta film dengan pengetahuan trivial yang luas tentang sejarah film-film pop. Anak-anak akan kesulitan mengerti Rango sebenarnya bercerita tentang apa.
Plot dasarnya sendiri disadur dari plot film noir klasik karya Roman Polanski, Chinatown, dengan satu koloni hewan di tengah padang pasir antah berantah yang kebingungan saat sumber air mereka mendadak kering. Lengkap dengan bumbu intrik politik, kisah misteri “kemana air itu pergi?”, dan serbuan referensi cerdas terhadap film-film western klasik, Rango adalah suguhan yang benar-benar sedap dan memuaskan.
Source Code
Sutradara Duncan Jones
Setelah sukses dengan film sains-fiksi mengagumkan Moon dua tahun yang lalu, sutradara muda Duncan Jones kembali mendobrak tahun ini lewat Source Code, yang membuktikan bahwa ia punya talenta nyata dan bukan sekedar one-hit wonder.
Jarang sekali belakangan ini ada film sains-fiksi murni yang benar-benar cerdas dan lebih mengedepankan permainan putar otak ketimbang adegan-adegan laga penuh ledakan. Bagi saya, Source Code adalah sebuah tarikan napas lega karena keengganannya untuk menyederhanakan naskah demi meraih popularitas di box office.
Namun, keberhasilan Duncan Jones dan penulis naskah Ben Ripley tidak hanya terletak pada wawasan mereka yang mendalam tentang elemen-elemen sains-fiksi seperti alternate timeline dan konsep brain in a vat, tapi juga pada kelihaian mereka dalam menggali aspek-aspek humanis dari cerita ini yang, pada akhirnya, membuat tarikan emosional Source Code menjadi jauh lebih nendang.
The Tree of Life
Sutradara: Terrence Mallick
The Tree of Life adalah film keenam dalam 42 tahun karir sutradara reklusif Terrence Mallick, dan merupakan karyanya yang paling megah sekaligus paling sulit dicerna.
Film ini bercerita tentang kehidupan dalam skala yang akbar dan kosmik. Ia dimulai dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian, dan mencoba, dengan segenap ambisi, untuk menceritakan segala hal yang terjadi di antara kedua ujung kehidupan itu.
Kehidupan satu keluarga di satu kota kecil di Amerika Serikat tahun 1950-an dibungkus dengan adegan-adegan puitis yang menggambarkan sejarah alam semesta dan sejarah bumi. Ada big bang, kelahiran bumi, dan, ya, sekumpulan dinosaurus.
Film ini berhasil membuat saya merasa kecil di hadapan alam dan Tuhan, dan sepertinya belum ada film yang bisa membuat saya merasa seperti itu sebelumnya.
Dengan gayanya yang lumayan (atau ‘sangat’?) eksperimental dan keengganannya untuk tunduk patuh pada konvensi narasi yang linear, film ini memang tidak ditujukan untuk semua orang. Namun, bagi saya, film ini adalah salah satu pengalaman sinematik paling memuaskan –secara emosional dan visual– sepanjang tahun ini.
Melancholia
Sutradara Lars von Trier
Sebelumnya saya harus mengakui bahwa saya belum pernah menonton karya-karya von Trier sebelum Melancholia. Jadi, ketika film geeks seluruh dunia sibuk berdebat tentang Breaking the Waves, Dancer in the Dark, Dogville, dan Antichrist, saya justru buta sama sekali terhadap sutradara avant-garde asal Denmark ini.
Tapi semua itu berubah dengan Melancholia, yang membuat saya takjub bukan kepalang, dengan mata ini terus terpaku ke layar selama dua jam lebih.
Jika The Tree of Life memotret alam semesta dengan penuh keagungan dan keindahan abadi, Melancholia justru sebaliknya: alam semesta adalah tempat yang gelap, jahat, dan penuh marabahaya yang dapat menabrak bumi setiap saat, menghancurkan satu-satunya tempat kehidupan di seluruh alam semesta.
Seperti kata Justine (Kirsten Dunst) di pertengahan film ini, “Life is only on Earth. And not for long.”
Segala hal yang penuh kemuraman itu digambarkan dengan keanggunan dahsyat yang menunjukkan bahwa von Trier memang salah satu cinematic storyteller terbaik saat ini.
Dari adegan montage pembukanya yang dreamlike, akting brilian dari duet Charlotte Gainsbourg dan Kirsten Dunst, sampai adegan penutupnya yang meledak dalam diam itu, Melancholia benar-benar film yang bikin mabuk kepayang.
Agak aneh memang bahwa film yang sedemikian nihilistik bisa membuat saya sedemikian antusias. Tapi itulah keajaiban Melancholia dan kejeniusan seorang Lars von Trier.
Idea