Fri05182012

Last update09:41:18 PM

  | Advanced Search
Back Home Idea Kanal Idea Film Sang Penari, Jurang antara Naskah Asli dan Film
24 Nov 2011

Sang Penari, Jurang antara Naskah Asli dan Film Featured

Written by Mohammad Samsul Arifin  |  Read 1751 times
Rate this item
(0 votes)

Novel kututup. Pengarang mati. Kulangkahkan kaki ke bioskop. Pondok Indah ketika senja belum menutup mata. Sengaja dipilih PIM, sekadar sebagai sampel. Adakah Sang Penari menarik minat kelas menengah dan kelas atas perkotaan untuk menontonnya?

Sang Penari tak lain adalah trilogi Ronggeng Dukuh Paruk di layar kaca. Film ini di sutradarai oleh Ifa Isfansyah dengan penulis skenario Salman Aristo serta Wong Aksan dan Titi Sjuman sebagai penata musik, Yadi Sugandi sebagai penata kamera dan Chitra Subiyakto sebagai penata kostum.

Adapun novelnya yang bernilai sastra tinggi adalah karya Ahmad Tohari, yang pertama kali menyita perhatian publik sejak tahun 1981. Jadi film dan novelnya berjarak sekitar 30 tahunan. Beda dengan (novel?) Laskar Pelangi yang lalu difilmkan oleh Mizan Production, ingatan publik atas novelnya masih “sehangat kopi” di pagi hari. Jadi kalau bicara harapan publik, mungkin film Laskar Pelangi lebih diinginkan menyerupai novelnya karena ia dibaca lebih dari 600 ribu orang, dari seluruh umur.

Novel menggunakan medium teks. Sedangkan film menggunakan medium audio visual. Dalam film gambar yang bicara. Meski begitu cerita tetap menentukan, karena gambar tak bisa sepenuh-penuhnya bicara sendiri. Dalam konteks semacam itu, si pembuat film harus menetapkan putusan: Menyalin secara utuh sebuah karya sastra atau mengadaptasinya secara bebas sesuai dengan keperluan serta ide cerita.

Adalah sebuah pekerjaan raksasa dan kerap kali akan bertemu batu sandungan besar bagi seorang sineas mengambil langkah pertama. Cara itu pun tak pasti sukses, karena ia akan berhadapan dengan penikmat novelnya yang sudah tentu punya pembacaan beragam atas novel tadi.

Teks adalah sesuatu yang “liar”. Bahkan si pengarang pun tak bisa mengerangkeng teks yang dia bikin menurut tafsir dan kepentingannya, saat teks itu terbit dan karya sastra di lempar ke pembaca (masyarakat luas). Pengarang mati. Adapun teks menerbitkan berjuta tafsir, dan bahkan imajinasi di benak pembaca. Buat sineas, mengambil langkah pertama, sungguh berisiko, berisiko tinggi.

Yang paling mungkin, ya mengambil cara kedua: Menafsir bebas sebuah karya sastra, tanpa meringkus dan menyingkirkan ruh cerita dari karya sastra tersebut. Tim produksi Ifa Isfansyah bermain aman, memilih cara kedua ini, meskipun punya risiko gagal pula. Demi mendapatkan ruh cerita novelnya, mereka rajin menyambangi Kang Tohari. Akhirnya inilah filmya.

Menafsir bebas, tetap mengharuskan pekerjaan memilah, memilih dan akhirnya menetapkan! Di bagian mana dari novel itu yang harus ada dan ditonjolkan di film. Di bagian-bagian awal tawar. Ada tiga bocah laki-laki, salah satunya Rasus, menyaksikan Srintil memperlihatkan bakatnya menari.

Srintil anak Santayib, pria pembuat tempe bongkrek yang menyebabkan malapetaka di Dukuh Paruk, kemasukan indang Ronggeng. Lalu Sakarya, kakek Srintil, mengetahui bakat menari Srintil dan melaporkannya pada Kartareja (Dukun Ronggeng). Kartareja tak percaya indang Ronggeng bersemayam pada diri Srintil. Si Dukun bahkan mencemooh.

Sakarya kukuh hati. Di depan halaman rumahnya, ia mengundang penduduk Dukuh Paruk untuk menonton tari Ronggeng cucunya, Srintil. Sakum, si buta penabuh gendang dan kawan-kawannya bergabung. Tapi, itu dia, sang Dukun tidak datang untuk melantik lahirnya Ronggeng baru: Srintil.

Alih-alih menggambarkan bagaimana Kartareja takjub pada kemampuan menari Srintil, penonton langsung dihadapkan pada ritual di makam Ki Secamenggala, moyang penduduk Dukuh Paruk. Padahal ketakjuban Kartareja adalah syarat awal untuk melegitimasi bahwa seorang ronggeng telah lahir.

Di novel, Kartareja justru terbengong-bengong menyaksikan Srintil saat masih 11 tahun sudah piawai menari. Adalah Sakarya yang mengajak Kartareja menyaksikan sendiri keahlian Srintil menari. Itu pun dengan mengintip, tanpa dilihat sang bocah yang tengah asyik menari diiringi calung mulut oleh Rasus dan kedua kawannya. Di situlah Kartareja langsung percaya bahwa ronggeng baru sudah lahir. Dan Srintil kemasukan indang ronggeng, sumber harga diri dan kebahagiaan penduduk di sana.

Dalam versi filmnya, Srintil sudah 16 tahunan saat kemasukan indang ronggeng. Tapi, kita tak menyaksikan pesona ronggeng itu saat pertama kali mempertontonkannya pada Rasus dan kedua kawannya serta diintip dari jauh oleh Sakarya dan Kartereja. Ada memang Srintil bersama Rasus dan kawan-kawan dari jauh, tapi adegan itu tawar, teramat tawar.

Film lalu menonjolkan(?) bagian bukak klambu sebagai syarat untuk Srintil didaulat secara sah sebagai Ronggeng. Ritual ini tak lain adalah penyerahan diri seorang perempuan pada pria yang sanggup “membelinya” dengan harga tertinggi. Sang dukun, Kartareja dibantu istrinya yang menghelat ritual itu.

Srintil yang menjadi objek harus melakoninya, tanpa bisa menawar. Di film, agaknya tak ada pergulatan batin Srintil sama sekali menjelang ritual ini. Ia menyerah begitu saja. Saking cemasnya, ia pun menyerahkan “keperempuanannya” pada Rasus. Setelah itu, ia berturut-turut diserahkan pada pria petualang, macam Sulam dan Dower. Dua pria yang mampu menyediakan syarat berupa sekeping ringgit emas dan kerbau yang nilainya lebih dari sekeping ringgit emas. Oh la la.. alih-alih menyertakan pergulatan batin Srintil, film mengumbar adegan Srintil “menyerahkan” keperempuanannya kepada tiga pria.

Di bagian lain, masih ada pula adegan Srintil diserahkan kepada seorang pria tua. Yang konyol, si istri malah mendatangi rumah Kartareja lalu memasuki kamar Srintil, di mana sang suami masih tidur. Sang istri tak berontak sama sekali dengan apa yang telah diperbuat suaminya. Sebaliknya, ia berharap bahwa apa yang dilakukan sang suami dengan Srintil bisa memudahkannya untuk memiliki  keturunan.

Hmmm…ini dia sebuah dunia di mana perempuan selalu jadi korban, korban, dan korban. Sebagai korban, perempuan tak punya daya, apalagi melawan. Perempuan di hadapan tembok sistem patriarki yang kokoh. Jika film ini adalah tafsir bebas terhadap novel Kang Tohari, apa yang diperbuatnya untuk sedikit berikhtiar menjebol sistem patriarki itu?

Di film, Srintil akhirnya memang digambarkan menolak “melayani” pria petualang dan bahkan sempat berhenti meronggeng. Tapi lagi-lagi tanpa pergulatan. Tak ada sesuatu yang baru yang bisa ditawarkan untuk sebuah diskusi, apalagi merobohkan sistem patriarki.

Pergulatan hidup seorang ronggeng di novel Kang Tohari, sebetulnya amat menawan. Adalah Rasus yang menyadarkan Srintil bahwa tak semua pria berhidung belang dan suka bertualang. Srintil tertambat pada Rasus. Namun, Rasus adalah sebatang nurani dan ide anyar di pelataran Dukuh Paruk yang ogah bersentuhan dengan hedonisme dunia ronggeng. Karena Rasus tak mendapati Srintil keluar dari dunia ronggeng, akhirnya memilih pergi dari dukuhnya. Semula di Dawuan, lalu ke markas batalion dan berseragam tentara. Setelah ditinggal pergi secara menyakitkan oleh Rasus, di dalam diri Srintil lalu terbit keinginan untuk keluar dari praktik persundalan yang melekat pada kesenian ronggeng di dukuhnya.

Bukan itu saja, ia pun malas meronggeng lagi. Di dalam dirinya juga tumbuh, jiwa perempuan normal: Ingin hidup seperti perempuan umum, menjadi istri dan memiliki anak. Akhirnya, karena si penambat hati pergi, Srintil melihat dunia masa depannya lewat sesosok bayi bernama Goder, anak tetangga Tampi. Di filmnya, Ifa Isfansyah sempat menggambarkan Srintil yang mengambil Goder dari gendongan Tampi, namun itu berakhir muram karena Goder lalu “dirampas” lagi oleh banyak perempuan Dukuh Paruk yang saat itu berkumpul di rumah Kartareja. Adegan yang kelewat memaksa, karena ia lepas dari keutuhan. Lagi-lagi tawar!

Jangan pula bicara soal pergulatan hidup Rasus yang bergelombang. Tak ada sedikit pun menonjol di film. Sosoknya terlalu gemulai, mungkin diringkus oleh logat Banyumasan yang bisa dibilang udik dari tatapan metropolitan.

Rasus adalah pria kuat, pekerja keras dan keras hati pula. Srintil semula merupakan wujud pencariannya atas sosok emaknya yang hilang—entah mati karena malapetaka tempe bongkrek atau dibawa lari mantri kesehatan, lalu dikawininya dan pergi dari Dukuh Paruk. Ayahnya mati makan tempe bongkrek.

Rasus yatim piatu yang sejak kecil tinggal bersama neneknya di gubuk reot dan tak pernah menatap wajah orangtuanya. Lewat Srintil ia menatap wajah emaknya, tapi karena Srintil tetap menjadi ronggeng, Rasus pergi. Dia pergi dari dunia dukuh yang baginya sudah tak memberikan apa-apa, lagipula Srintil juga “dirampas” atas nama kelestarian kesenian ronggeng. Atas nama masa lalu yang menyambung penduduk Dukuh dengan asal-usulnya.

Apabila harus dicari yang lumayan dari film ini, tak lain adalah imbas yang harus ditanggung seniman ronggeng dan penduduk Dukuh Paruk akibat kedekatannya tanpa sengaja dengan tokoh Bakar yang berhaluan komunis. Ini dunia gelap tahun 1965 yang berpusat di Jakarta, tapi dirasakan oleh semesta manusia, tak terkecuali buat warga dukuh yang buta huruf. Seniman ronggeng, tak terkecuali Srintil, diciduk tentara. Dimasukkan pada ruang-ruang tahanan yang pengap. Aksi massa (semacam balas dendam) pada Dukuh Paruk dan eksekusi terhadap Bakar dan kawan-kawan.

Duh…scene Pasar Dawuan yang tak bernyawa, sepi-senyap dan gelap selepas geger 1965 itu! Ini gambar menyayat hati, menenggelamkan kita pada hitam pekatnya geger 1965. Kopral Dua Rasus, berada di pihak yang menang, tentara. Adapun Srintil, yang buta huruf dan polos “dimanfaatkan” Bakar untuk kepentingan propaganda partainya. Akhirnya Dukuh Paruk dimasukkan sebagai wilayah “merah”, dan Srintil, Ronggeng itu, tak bisa tidak harus menanggungnya: Ikut pula merasakan ruang tahanan yang apek dan laknat.

Tapi, ini dia yang luput diberi ruang di dalam film ini. Yakni permainya lingkungan Dukuh Paruk yang diceritakan dengan amat detail oleh Kang Tohari di novelnya. Kang Tohari melakukannya bak elang terbang dan melihat Dukuh Paruh yang bertabur puluhan jenis burung, hingga jangkrik dari atas. Resapi bagaimana Kang Tohari melukiskan suasana di sekitar Dukuh Paruk saat Rasus pergi tanpa izin pada Srintil.

“…Cecet pertama burung sikitan sudah terdengar. Disusul kemudian oleh kokok ayam jantan. Bunyi kresek daun pisang kering yang menerima kedatangan codot yang hendak menyembunyikan diri. Samar-samar karena matanya mulai terpejam, Srintil masih sempat melihat seekor bangkong melompat-lompat, kemudian menerobos celah dinding di dekat umpak tiang. Kodok longan itu akan bersembunyi sepanjang hari di kolong balai-balai, tepat di bawah kepala Srintil. Gangsir dan orong-orong menghentikan suaranya, membuat Dukuh Paruk menyambut kedatangan hari baru dalam suasana yang begitu lengang. Demikian lengang sehingga suara tetes embun jelas terdengar ketika jatuh ke atas daun iles-iles yang tumbuh semarak di belakang rumah” (Lintang Kemukus Dini Hari hal. 157).

Keintiman Kang Tohari bergelut dengan alam itu, sungguh membuat siapa pun--terlebih saya--terpanggil menengok kembali kebersahajaan kampung.

Film ini tak berani memberikan judul Ronggeng, tapi memilih Sang Penari. Tapi adakah kita melihat “Sang Penari” telah berlenggak-lenggok yang setandas-tandasnya? Apa boleh buat penonton tak menyaksikan. Srintil yang diperankan Prisia Nasution tak menunjukkan kebolehannya menari secara tuntas.

Durasi Srintil menari juga terlalu sebentar. Di momen ini, di momen itu, di hajatan ini, di perhelatan itu, jangan harap kita menyaksikan tarian dahsyat ala Antonio Banderas dan Catherine Zeta-Jones dalam film The Legend of Zorro. Di situ Zorro dan wanita yang lalu dikawininya, Elena, menari tuntas, tuntas sekali. Sorak-sorai tak hanya riuh di dalam filmnya, tapi juga di gedung bioskop atau ruang keluarga yang menyaksikan film tadi di layar kaca.

Tari Ronggeng yang eksotis tidak dieksplorasi dengan sangat baik oleh sutradara agar menyadarkan penonton dan publik bahwa khazanah kesenian di negeri kita sedemikian kaya. Kekayaan itu, lepas dari hadirnya unsur erotik di dalam, adalah modal untuk bangsa untuk membangun kesenian.

Jadi, jika untuk satu hal itu penonton tak mendapatkannya, jangan pula berharap ada pesan atau nilai-nilai yang ditawarkan di film itu. Mungkin benar kata kawan menontonku, film ini tak lebih dari mozaik, tidak ada keutuhan di dalamnya. Dan diatas segalanya belum berhasil untuk dibilang sebagai film bagus.

Film selesai, namun saya tidak cepat-cepat beranjak dari kursi. Saya perhatikan sekeliling dan sadar jika penonton di bioskop mentereng tersebut hanya kurang dari 40 orang. Tak percaya, saya tengok filmindonesia.or.id, yang rutin melaporkan jumlah penonton film nasional yang beredar di bioskop. Sang Penari  tak ada, bahkan di sepuluh besar. Nomor wahid tetaplah “Surat Kecil untuk Tuhan”. Ini bukan satu-satunya ukuran tapi tetap saja sebuah parameter yang sahih.

Mohammad Samsul Arifin

Mohammad Samsul Arifin

Mohammad Samsul Arifin menyelesaikan pendidikan di Universitas Padjadjaran. Saat ini bekerja sebagai Koordinator Riset ANTV. Mengawali karier jurnalistik di media lokal di Kelapa Gading. Selepasnya sempat bekerja di moslemworld, acehkita dan rakyat merdeka online.

Komentar Tamu


Powered by Disqus