Fri05182012

Last update09:41:18 PM

  | Advanced Search
Back Home Idea Kanal Idea Film Woody Allen Millenial
31 Jan 2012

Woody Allen Millenial

Written by Alvi Ifthikhar  |  Read 1041 times
Rate this item
(0 votes)

Sebelumnya saya harus memberi disclaimer, saya jatuh cinta habis-habisan dan mungkin tulisan ini tidak memakai akal sehat. Midnight In Paris sudah terlampau jauh menyeret saya ke pusaran masa lalunya. Saya tidak bisa menulis ulasan ini tanpa membombardir anda dengan perasaan penuh haru dan indah ini. Sebuah perasaan menggebu-gebu yang hanya bisa saya dapatkan disini, di Paris, pada tengah malam.

Sebelum masuk ke Midnight In Paris, saya harus bercerita sedikit. Woody Allen bukan hal baru bagi saya meski  saya memang belum cukup lama menggeluti tradisi "mengapresiasi film". Sebagian besar fase awal dari tradisi ini saya habiskan dengan cinta tanpa banding kepada sang New Yorker sejati ini. Saya masih ingat jelas perasaan jatuh cinta yang amat dalam ketika saya menonton Annie Hall untuk pertama kali, film yang..yah..saya yakin banyak yang setuju dengan saya jika saya mengatakan Annie Hall adalah pencapaian terbaik Woody Allen. Annie Hall adalah cinta pertama dan masih menjadi film nomor wahid di daftar saya hingga sekarang.

Seperti yang kita ketahui, Woody Allen masih terus berkarya hingga sekarang. Dia merupakan sutradara paling konsisten, terhitung dari tahun 1965 hingga sekarang, Woody Allen membuat setidaknya satu film setiap tahun (kecuali tahun 1968,1974, dan 1981). Dan bagi saya pribadi, karya-karya terbaik Allen seperti Annie Hall, Manhattan, Stardust Memories, Sleeper, dan Zelig mempunyai satu kesamaan signifikan; ia menjadi aktor utama di semua film tersebut. Saya sempat berfikir bahwa sebenarnya saya lebih menyukai dia sebagai aktor ketimbang sebagai si sutradara film itu sendiri.

Tahun demi tahun berlalu dan memasuki millenium baru, style Allen pun mulai berubah. Racikan komedi satir yang merupakan senjata terbaiknya pelan-pelan memudar. Woody Allen pun sudah mulai tua, dan ia mulai memilih untuk sekedar menulis dan menyutradai filmnya sendiri dan menyerahkan tanggung jawab akting ke talenta-talenta lain. Pelan namun pasti style-nya berubah dengan signifikan, ia membuat apa yang pernah coba ia lakukan di tahun 1978 melalui Interiors, sebuah drama serius tanpa komedi sebagai bumbu utamanya, tidak seperti bagaimana ia biasa bekerja. Dan anda bisa melihat kekesalannya pada film curhat-nya di Stardust Memories, dimana ia menumpahkan rasa gusarnya karena dia selalu dianggap komedian dan ya  tidak perlu bikin film serius. "Hey!! I like your movies, especially the earlier funny ones". (Namun sampai sekarang Allen masih memungkiri kalau Stardust Memories itu merupakan sebuah otobiografi). Jujur sayapun memang memilih "his earlier funny ones" ketimbang film-filmnya yang sekarang, namun saya sangat mengagumi keputusan Woody Allen terhadap preferensi film-making nya di era sekarang. Ia memutuskan untuk tidak mempedulikan apa kata orang, dan terus mencoba membuat film-film serius semacam Cassandra's Dream, Match Point dan Vicky Christina Barcelona, dan You Will Meet A Tall, Dark Stranger. Dan tanpa mencoba memihak, saya bisa mengatakan film-film tersebut cukup solid, apalagi di sisi penulisan.

Dan sampailah saya di dunia magis satu malam bernama Midnight In Paris. Sebuah usaha melarikan diri satu malam ke masa lalu, sebuah kencan singkat dengan Ernest Hemmingway, Scott Fitzgerald, T.S Elliot, Salvador Dali, dan Pablo Picasso, sebuah diskusi menawan tentang masa, cinta, dan kehidupan. Menit-menit awal film ini sudah membuat saya hampir menangis. "Ya tuhan! Woody Allen versi 1970-an bangkit kembali!" merupakan kalimat perkenalan saya dengan Midnight In Paris. Hanya dalam durasi enam menit, saya kembali dibawa ke sisi Woody Allen yang sudah mulai lekang dimakan zaman. Semua jazz scoring itu, semua surat cinta kepada kota itu (walaupun biasanya ia tujukan hanya kepada New York), dan karakter utama yang selalu terkesan "out of place" itu kembali membawa saya ke wajah Allen yang amat saya kenal.

Alasan pertama dan terbesar saya untuk jatuh cinta kepada film ini adalah sebuah alasan egois. Woody Allen membuat film ini, dengan gaya dan mood klasiknya untuk generasi saya, generasi millenial yang tumbuh di dekade 2000-an keatas. Ironisnya, film ini bercerita tentang fenomena zaman yang juga saya jangkit dalam tingkat angkut ; obsesi terhadap apapun dari masa lalu. Mau itu musik, film, ataupun budaya, umat manusia sudah mulai menyadari kalau manusia pada nyatanya suka melarikan diri ke masa lalu. Sebuah lost utopia, sebuah bentuk perlawanan dan gejolak ketidakpuasan atas membosankannya masa kini. Midnight In Paris mencoba menjawab fenomena ini dengan merayakan masa lalu namun juga sekaligus mencemooh orang-orang yang sangat terikat dengan memorabilia, orang-orang seperti saya ini.

Midnight In Paris bercerita tentang Gil Pender. Seorang penulis amerika yang selama ini menjadi Hollwyood darling karena materi-materinya yang bagus. Ia memutuskan untuk mencoba menjadi penulis yang "serius", ia mencoba membuat sebuah novel. Sampailah dia di Paris bersama tunangannya Inez. Pernahkah anda membayangkan diri anda duduk dan ngobrol bersama idola masa lalu seperti Hemmigway, Fitzgerald, dan Dali? Memimpikannya saja saya tidak berani. Namun itulah yang persis terjadi kepada Gil Pender. Entah dengan cara magis apa, ia kembali ke masa lalu. Tempat yang sama, Paris, namun pada malam hari, dan tahun 1920-an, sebuah masa yang selalu Gil anggap sebagai lost utopia-nya.

Kalau anda tertarik dengan teknikalitas sci-fi "bagaimana cara dia kembali ke masa lalu?" dan mencoba mencari jawabannnya, hal tersebut tidak akan terjawab hingga fim ini habis. Namun siapa yang peduli? Anda masih bisa memikirkan hal teknikal seperti itu ketika waktu anda yang terbatas hanya semalam bisa dipakai untuk bertukar pikiran dengan Hemingway, bersenang-senang dengan The Fitzgeralds, melihat Matisse dan Picasso bekerja, dan berbincang omong kosong dengan Dali? Midnight In Paris adalah sebuah surat cinta yang dikirim melalui pos ekspres yang ditujukan kepada masa lalu, menuju masa lalu. Sebuah wisata melarikan diri yang berdurasi satu setengah jam khusus buat para pecandu pikat masa lalu, sebuah antidote sementara bagi orang-orang yang merasa hidup di tempo yang salah. Sci-fi dan teori mekanika modern terasa terlalu "penat" bagi orang-orang seperti kami.

Seiring film ini bergulir ke tengah, saya makin mabuk dengan candu masa lalu tersebut, ah..saya rela membayar dgn apapun (sejauh yang saya mampu tentunya) untuk mengalami apa yang dialami Pender. Apalagi ada Marion Cottilard plus Carla Bruni di sini, saya semakin mabuk kepayang. Namun ada satu hal menarik yang saya rasakan seiring perjalanan ini. Pada awalnya saya merasakan kembali kehadiran versi 1970-an version of Woody Allen di film ini, namun seiring waktu berjalan, saya mulai merasa, bahwa sesuatu hal yang baru, ini bukan Woody Allen yang menyerah dengan film seriusnya dan mencoba kembali pada teknik emasnya. Allen berhasil menciptakan mesin waktu yang membuat kita lupa akan dunia sekitar. Sesungguhnya saya mulai merasa kehilangan wujud Woody Allen di pertengahan film. Ini belum pernah terjadi di film-film Allen favorit saya sebelumnya. Saya mulai menyadari satu hal. Di film-film Allen favorit saya seperti Annie Hall dan Stardust Memories, saya merasakan perasaan cinta yang sama, saya cenderung lebih mencintai sosok Woody Allen sebagai aktor, penulis, dan sutradara ketimbang filmnya sendiri, singkat kata, I love the man more than his films. Namun di Midnight In Paris, Allen berhasil membuat saya lupa akan eksistensi auteur-nya untuk sesaat. Singkat kata, ini film Allen pertama yang membuat saya lebih mencintai filmnya ketimbang sosok sang Woody Allen sebagai penulis/sutradara film ini sendiri.

Jadi bagaimana fenomena sosial ini bisa terjadi? Ambil saja contoh Gil Pender. Betapa kuatnya pikat Paris 90 tahun yang lalu bagi dirinya, manusia belum bisa menciptakan mesin waktu bagi Gil Pender untuk hidup di zaman itu, dimana kita tahu ia sudah merasa dimiliki 1920-an jauh sebelum ia bertemu dengan fenomena ajaib ini. Lalu bagaimana seorang individu bisa begitu terobsesi dengan masa yang jauh dibelakang masanya? Saat di mana orang tuanyapun mungkin belum lahir atau masih kanak-kanak?  Sebagian besar orang dan yang pastinya saya, terhubung dengan masa lalu melalui benang panjang. Benang panjang itu bisa jadi karya seni, literatur, ataupun kultur gaya hidup. Manusia bisa merasakan gegap gempitanya suatu jaman dari artefak-artefak yang ditinggalkan pujangga pada zaman itu, sebuah delusi agung yang berhasil ditanamkan sang idola kepada si pemuja, layaknya Hemmingway kepada Gil Pender.

Tapi pertanyaannya masih sama, segala jenis karya seni dan media hanya bisa jadi penghubung, adakah alasan bawah sadar yang lebih nyata dibalik fenomena ini? Disinilah saya merasakan kembali kehadiran sang Woody Allen yang agung dengan segala amunisi satir-nya di Midnight In Paris. Setelah sidik jari nya amat jelas dapat dilihat mata telanjang di menit-menit awal film ini, lalu di pertengahan babak ia sempat tenggelam lebih karena kepiawaiannya meramu sebuah utopia hingga membuat kita lupa ini hanyalah sebuah film, dan kini si komedian satir nomer wahid ini kembali muncul kepermukaan, mencoba menjawab pertanyaan besar tadi dengan elegan, to the point, jenaka, dan yang pasti arguably true. "That's what the present is…It's a little unsatisfying because life's a little unsatisfying". Mengapa kita selalu kembali ke masa lalu? karena masa kini adalah dunia nyata. Dan dunia nyata adalah kehidupan tidak memuaskan nan pedih yang harus kita hadapi setiap harinya. Depressing dan neurotis? terkesan familiar? tentu saja, karena ini milik Woody Allen. Dan hanya Woody Allen yang sanggup membawa topik se-kaliber ini ke sebuah film dan menjawabnya dengan penuh derita dan humor secara bersamaan.

Dan sebuah alasan egois dan sentimental jugalah yang membuat saya berani mengatakan ini akan menjadi film Woody Allen terfavorit saya. Mengapa? Semata karena film ini lahir di masa saya! Bukan dari tahun 1970-an. Saya tidak pernah menjadikan masa kini sebagai musuh, namun memang belum pernah ada artefak masa kini yang bisa saya jadikan kitab suci dan saya pegang tegug. Bayangkan perasaan anda kita memiliki hal tersebut. Saya bisa berbicara dan meracau tentang Annie Hall selama satu jam atau lebih tanpa henti jika anda mau. Namun itu hanya menjadi sebuah sad flirt karena saya sudah kalah start amat jauh. Waktu adalah musuh saya, saya berpacu di balapan yang sudah lama usai.

Namun sekarang saya punya Midnight In Paris, sebuah persembahan Woody Allen untuk generasi saya, sebuah persembahan yang layak saya pertahankan dan klaim sebagai persembahan terbaik masa kini bagi saya pribadi. Midnight In Paris milik saya, dan tidak seperti biasanya, kali ini saya berkompetisi di masa yang tepat, dan saya masih punya banyak waktu untuk memenangkan debat ataupun lomba pidato soal Midnight In Paris dan Woody Allen. Atau sekedar rebutan sama orang-orang yang lebih tua yang mengklaim film ini punya generasi mereka. Terima kasih Woody Allen, anda telah melakukannya lagi, saya sudah jatuh cinta lagi. Kini saya sudah bisa merelakan anda meninggalkan dunia ini kapan saja anda mau.

Alvi Ifthikhar

Alvi Ifthikhar

Belajar Animasi dan Film di Multimedia University, Malaysia

Komentar Tamu


Powered by Disqus