Fri05182012

Last update09:41:18 PM

  | Advanced Search
Back Home Idea Kanal Idea Film

Film (52)

18 Apr 2012
Published in Film

“MIKEY…,” ujar wanita itu dengan suara lemah berlinang air mata. Ia goyah, tak kuasa lagi berdiri. Kakinya ditekuk, duduk di lantai dan kepalanya tunduk hampir mencium bumi—seperti posisi Muslim yang sedang sujud. Wanita itu bersedih, sebab ia tak bisa menemani suaminya di seberang benua yang terkapar karena divonis menderita kanker. Sang suami bukan hanya belahan jiwanya, tapi juga pilar pokok yang menyemangati perjuangannya berderma pada tanah airnya, Burma atau Myanmar.

Begitu salah satu adegan film The Lady garapan sutradara Luc Besson. Bercerita ihwal Suu Kyi. Ya…wanita yang berlinang air mata itu. Ia putri dari Jenderal Aung San, salah satu tokoh yang berjasa memerdekakan Myanmar. Jenderal Aung San tewas diberondong senapan kiriman rivalnya di angkatan bersenjata.

Wanita itu, Aung San Suu Kyi, diperankan dengan prima oleh Michelle Yeoh. Suu Kyi menikah dengan Mikey atau Michael Aris (diperankan David Thewlis), berkebangsaan Inggris, yang menyerah oleh keganasan penyakitnya.

15 Apr 2012
by Donny Anggoro - 
Published in Film

Semula saya menduga bombastisnya pemberitaan film The Raid di berbagai media massa adalah akal-akalan produser dan sutradaranya yang memang mampu menyediakan budget tinggi untuk promosinya sehingga saya pesimis dan belum punya minat menyaksikannya. Apalagi karena pekerjaan saya wartawan juga bergaul dengan teman-teman seprofesi yang sudah pasti paham akal-akalan beginian demi mendongkrak sebuah produk.

Mira Lesmana saja dulu dalam sebuah diskusi film sampai rela merogoh budget produksi sebesar Rp 3 Milliar untuk mempromosikan film Gie yang untungnya bagus dan sukses. Seorang sineas terkemuka Andy Bachtiar Yusuf (a.k.a Ucup) yang sempat didaulat ikutan mempromosikan film ini ketika premiere di bioskop Metropole di Metro TV pun juga masih belum membuat saya tertarik karena pendapatnya sebenarnya buat saya terasa (masih) sinis, “Kayak nonton film-film Barry Prima deh!” How come?

23 Mar 2012
Published in Film

 

 

Menulis ulasan tentang film Serbuan Maut a.k.a. The Raid: Redemption adalah seperti menggarami lautan, karena tidak ada superlatif dari media dalam dan luar negeri yang belum diberikan untuk film laga yang memang bagus ini. Film ini sudah membuat terpana audiens di festival-festival film penting dunia dari Toronto International Film Festival (mungkin asal mula hype itu) sampai South By Southwest yang baru saja usai. Keputusannya sudah jelas, mengutip majalah The Guardian, ini adalah film grindhouse yang seharusnya dibuat oleh Quentin Tarentino atau Robert Rodriquez (ingat Machete?) jika mereka tidak sibuk menjadi bagian arus utama Hollywood. Hampir tidak ada kritik film professional yang tidak bertekuk lutut di hadapan The Raid.  Situs aggregator kritik film Rotten Tomatoes memberi sertifikat “segar” dengan skor 91 persen.

 

Hype itu dengan berhasil terbawa pulang, dan kita boleh menduga bahwa hari ini—karena mustahil mengumpulkan data box office dari bioskop lokal—hampir semua bioskop di Indonesia yang memutar The Raid penuh oleh penonton yang ingin menyaksikan dan mengeluk-elukkan kepulangan Sersan Jaka (Joe Taslim) dan Rama (Iko Uwais). Dan semua orang yang menonton hari ini pasti akan pulang dengan senyuman dan hati yang besar bahwa sinema dan talenta lokal (terlepas dari perdebatan bodoh bahwa sutradara Gareth Huw Evans bukan orang pribumi) masih bisa menghasilkan karya yang begitu bermutu.

 

Dan memang hanya ada sedikit hal yang bisa dikritik dari film oktan-tinggi super cepat ini. Untuk film laga, The Raid masih memungkinkan untuk memberi tempat kepada pengembangan karakter yang secara luar biasa telah diberikan oleh aktor veteran Ray Sahetapi dan bahkan oleh pendatang baru Joe Taslim. Kami mencatat ada dua performa luar biasa dalam menghidupkan karakter, pertama dalam semacam monolog Ray Sahetapy ketika sedang menghadapi bahaya besar di tangga rumah susun itu, serta ketika Sersan Jaka beradu argumen dengan Letnan Wahyu (Pierre Gruno) dalam suasana terjepit hidup mati. Dan meski adegan laga yang mengisi hampir 90 persen durasi film ini, tidak ada satu kesalahan yang bisa mengendorkan ketegangan. Menonton The Raid sampai selesai ibarat menyaksikan sebuah set-piece yang sangat panjang yang mungkin perlu waktu lebih lama menyiapkan, ketimbang mengeksekusinya.

 

Dan persiapan itulah yang membuat The Raid sebuah karya sinematik yang berhasil. The devil is in the detail, dan itulah yang kami pikir membuat film ini bisa sangat realis, meskipun dengan premis yang sangat eskapis. Kami banyak mendengar bahwa kebanyakan film lokal terlalu sering melupakan detail tersebut—dan ini dengan segera menjatuhkan kredibilitas film tersebut secara artistik— belum lagi jika kita berbicara tentang kualitas akting para aktor di dalamnya. Sama seperti kebanyakan film eskapis yang lain, banyak hal-hal menentang logika yang tidak masuk akal untuk film The Raid, namun dengan perhatian yang luar biasa terhadap detail, semua hal menjadi masuk akal dan mudah di percaya.

 

Banyak film lokal atau Hollywood yang mungkin tidak mau bersusah payah di menit-menit awal misalnya untuk menggambarkan secara dekat bagaimana membuka paksa pintu dengan bantuan peniti, The Raid membuat hal tersebut seperti sebuah karya seni. Atau perhatikan misalnya ketika salah satu protagonis yang terluka di tarik secara paksa ke dalam elevator, sebelum kamera bergerak mendekat kita sudah bisa melihat jejak darah dan keringat yang menghitam membasahi lantai di depan elevator secara sangat sublim.

 

Di bagian lain ketika film ini sedang berada di puncak adrenalin tertinggi ada sebuah trik yang melibatkan penggabungan lemari es dengan kaleng gas 12 kilogram yang dieksekusi dengan presisi tingkat tinggi yang menghasilkan set-piece yang menghasilkan gelengan kepala maksimal. Elemen lain yang secara luar biasa tergarap adalah penataan set. Ini adalah film tentang Jakarta, dan hampir tidak ada barang yang dipasang di film ini yang tidak mewakili Jakarta dan akan bisa dengan mudah di temukan di pojok-pojok tergelap Jakarta. Jalan lorong di antara kamar rumah susun di film ini beberapa kali misalnya menampilkan kursi ban yang luar biasa masuk akal untuk ada di rumah susun Bendungan Hilir misalnya. Atau dalam sebuah adegan perbincangan dua orang protagonis, di latar belakang kita bisa melihat tempat sendok dan garpu yang akan sangat mudah ditemukan di rumah-rumah masyarakat kelas pekerja manapun di Jakarta.

 

Dan jika ada sebuah tim pembuat film mau bekerja sekeras itu untuk melayani penonton, tidak ada alasan untuk tidak menghargai kerja keras tersebut. Hargai kerja keras mereka, tonton film ini segera!

 

 

 

 

 

 

11 Mar 2012
by Iman Mahditama - 
Published in Film

Di tengah gempuran dongeng-dongeng spionase sinematik yang penuh sesak oleh ledakan, kejar-kejaran mobil, agen rahasia suka main tembak yang setengah dewa dan lihai menaklukkan wanita, muncullah Tinker Tailor Soldier Spy yang berhasil meruntuhkan segala macam konvensi arus utama itu.

Film ini adalah antitesis yang sempurna dari segala yang ditawarkan oleh petualangan-petualangan fantastis a la James Bond dan Ethan Hunt. Menelaah kasus dilakukan tidak dengan membuntuti supervillain megalomaniak ke lokasi-lokasi eksotis, tetapi dengan memeras seluruh daya upaya otak secara metodis dan sistematis demi menemukan celah-celah untuk menggiring musuh jatuh ke dalam lubang. Dan satu-satunya cara adalah dengan teknik siluman dan ketenangan tingkat tinggi.

Jika sedikit saja panik, semuanya akan langsung terancam gagal total. Tidak akan ada waktu untuk kabur dari kejaran musuh dalam adegan kejar-mengejar yang mendobrak batas logika dan akal sehat. Di tangan sutradara Tomas Alfredson (yang menyuntikkan darah segar bagi genre vampir lewat Let the Right One In) dan duo suami-istri penulis naskah Peter Straughan dan Bridget O’Connor, film ini bahkan  membuat trilogi Jason Bourne, yang banyak dijuluki sebagai film action buat orang yang mau berfikir  itu, menjadi seperti mainan anak-anak.

Seperti novel mahakarya John le Carre yang menjadi basis adaptasinya, Tinker Tailor Soldier Spy mencoba melukiskan kehidupan spionase dengan bumbu realisme tingkat tinggi dan tanpa imbuhan fantasi eskapisme sedikit pun. Terlebih karena le Carre sendiri adalah bekas agen rahasia Inggris sebelum identitasnya dibongkar oleh seorang kolega intelijen yang ternyata adalah penyusup Soviet setengah abad yang lalu.

Alam Tinker Tailor Soldier Spy dihuni oleh manusia-manusia paruh baya yang terlalu letih akan dunia namun selamanya terperangkap dalam kehidupan yang penuh ilusi, rahasia, tipu muslihat, pengkhianatan, dan segala macam perang psikologis lainnya, termasuk di antara kawan sendiri. Semuanya tersembunyi di balik tirai kelabu yang begitu pekat yang memaksa mereka selalu waspada dan curiga, bahkan terhadap kolega terdekat sekalipun.

Dengan mengambil latar belakang tahun 1973, saat Perang Dingin sedang berada dipuncaknya, aura paranoia benar-benar berkuasa di film ini dari shot pertama hingga beberapa saat sebelum kredit akhir mulai tayang. Ia terasa seperti degup jantung yang berdetak ritmik, hampir tidak pernah berdebar (kecuali untuk beberapa adegan disana-sini) namun denyutnya terus terasa mendentum hingga ke kepala tanpa ada tanda-tanda mereda sampai penghujung film tiba.

Akibatnya, saya yang menonton pun jadi ikut terjebak dalam kewaspadaan tingkat tinggi, tersandera oleh plot yang bergerak kesana kemari tanpa ampun, serasa selalu selangkah lebih maju. Lengah sedikit saja, pasti langsung bingung dan semakin bingung lagi. Tapi justru sikapnya yang memaksa saya untuk terus melaju menyamai langkah tokoh-tokohnya dalam membongkar kasus inilah yang membuat film ini jadi luar biasa mengagumkan. Serasa menonton kisah kucing dan tikus a la Sherlock Holmes yang di-update ke masa Perang Dingin dan di-upgrade seratus kali lebih memusingkan.

“Trust no one, Jim,” ujar pimpinan dinas intelijen Inggris MI6, yang hanya dikenal dengan nama sandi Control (John Hurt, Alien, The Elephant Man, 1984) oleh seluruh anak buahnya, di adegan pembukaan film yang serba sendu dan dibayangi rasa cemas luar biasa.  “Especially the ones in the mainstream,” imbuhnya.

Control sedang memberikan pengarahan ringkas pada agen rahasia Jim Prideaux (Mark Strong), yang main di Sherlock Holmes, Kick-Ass) sebelum mengirimnya ke Budapest, Hungaria, dalam misi rahasia untuk mengungkap identitas penyusup yang diperkirakan sudah bertahun-tahun bercokol di organisasi tersebut, naik perlahan-lahan hingga mencapai eselon teratasnya.

Di dalam daftar tersangka di kepala Control adalah lima nama, yang kesemuanya adalah orang-orang kepercayaannya: Bill Haydon (Colin Firth, A Single Man, The King’s Speech), Percy Alleline (Toby Jones, Frost/Nixon, Captain America: The First Avenger), Roy Bland (Ciaran Hinds, There Will Be Blood, Munich), Toby Esterhase (David Dencik, The Girl with the Dragon Tattoo versi asli), dan George Smiley (Gary Oldman, The Dark Knight, Leon: the Professional).

Namun,seperti banyak kejadian lain di sepanjang film ini, tugas Prideaux di Budapest tidak berjalan sesuai rencana dan berujung pada pemecatan Control dan Smiley, yang juga tangan kanannya, setelah  misi itu dipandang sebagai bencana oleh pemerintah Inggris.

Setahun berlalu, dan isu penyusup itu pun mencuat kembali ketika seorang wakil menteri mendapat informasi dari agen lapangan Ricki Tarr (Tom Hardy, Inception, The Dark Knight Rises yang akan segera main) tentang adanya anggota pihak musuh yang siap membelot dan bersedia membongkar identitas sang penyusup.
Smiley, yang masih menyimpan sedikit kekesalan karena pemecatannya, pun dimohon bertugas kembali oleh sang wakil menteri demi mengungkap kebenaran isu tersebut dan menemukan sang penyusup. Dan permainan pun dimulai.

Menyaksikan Gary Oldman menjadi Smiley di film ini selayaknya menyaksikan masterclass dalam bermain peran. Setelah dipuja di kalangan penggemar film lewat peran-peran eksentriknya di Bram Stoker’s Dracula, Sid and Nancy, dan The Fifth Element, lalu menancapkan namanya di genre summer blockbuster lewat serial Harry Potter dan Batman garapan Christopher Nolan, akhirnya Oldman memperoleh peran utama yang benar-benar menguras seluruh kemampuan berperannya.

Jauh berbeda dari sebagian besar perannya selama ini, Oldman memerankan Smiley dengan dingin dan penuh pengekangan. Smiley adalah karakter yang hemat bicara, penuh perhitungan, dan diberkahi dengan otak yang seolah terus berpikir tanpa henti. Dalam diamnya, ia tetap berhasil menguasai seluruh adegan dimana ia muncul. Ia tidak berbicara sama sekali selama 18 menit awal film, dan kalimat pertamanya pun singkat sekali: “I’m retired.” Satu balasan sederhana terhadap permohonan yang ia tahu betul takkan mungkin ia tolak.
Tinker Tailor Soldier Spy memang penuh dengan permainan akting yang jauh lebih bergantung pada permainan ekspresi wajah dan gerak tubuh ketimbang dialog. Walaupun tetap saja seluruh dialog di film ini digarap dengan sangat apik, dan ketika yang mengucapkan mereka adalah aktor-aktor watak legendaris Inggris sekelas Hurt, Oldman, dan Firth, hasilnya bagaikan musik yang mengalun merdu.

Namun, tak dapat dipungkiri, di dunia penuh ilusi spionase a la Tinker Tailor Soldier Spy, satu kernyitan dahi, satu tatapan mata, dan satu tarikan urat syaraf wajah seringkali menyimpan jutaan makna yang akan menghabiskan ribuan kata jika disampaikan lewat dialog. Meminjam kalimat yang diutarakan detektif William Somerset yang diperankan Morgan Freeman dalam film Se7en, segala sesuatu yang ada dalam Tinker Tailor Soldier Spy ditampilkan secara methodical, exacting, and, worst of all, patient.

Hasilnya memang terkadang seperti menyaksikan sumbu yang terbakar sedemikian lambatnya dan susahnya sehingga membuat pikiran ini frustrasi, terutama di saat nonton pertama kali. Saya sudah nonton film ini dua kali tapi tetap saja merasa masih ada satu-dua benang cerita yang belum saya pahami seluruhnya.
Bagi mereka yang rela bersabar dan mengerahkan kekuatan otak sedikit agak lebih di tengah gelapnya ruang bioskop, Tinker Tailor Soldier Spy akan menjadi satu santapan yang luar biasa menakjubkan dengan akhir yang paling kuat dan memuaskan emosi sepanjang tahun 2011. Benar-benar makanan otak, mata dan telinga yang sempurna.

04 Mar 2012
by Iman Mahditama - 
Published in Film

Harus diakui, terlepas dari sangat sedikitnya kejutan segar di antara deretan pemenang Oscar tahun ini dan bahwa sebagian besar jokes yang dilontarkan Billy Crystal serasa sama tuanya dengan Billy Crystal, acara pertunjukan Academy Awards tahun ini masih lebih baik dari tahun lalu. Setidaknya tidak ada guyonan garing tentang Twitter (walaupun ada satu selentingan garing tentang iPad), tidak ada James Franco berekspresi cuek dan kebosanan sepanjang acara dan... yah, tidak ada James Franco dalam gaun wanita norak.

Setelah acara tahun lalu menjadi bulan-bulanan media hanya karena pasangan pemandu acara yang gagal total, dan rencana menggunakan komedian legendaris Eddie Murphy tahun ini pun berantakan saat dia memilih untuk mengundurkan diri setelah produser Brett Ratner dipecat gara-gara cercaan anti-gay, Oscar pun memutuskan untuk mengeluarkan jaring pengaman dan kembali ke salah satu host terbaiknya di masa lalu: Billy Crystal, yang memandu Oscar untuk kesembilan kalinya tahun ini.

Namun, lebih dari Billy Crystal , nostalgia masa lalu memang benar-benar berkuasa di perhelatan akbar Academy Awards tahun ini. The Artist dan Hugo, dua film yang merajai malam Oscar dengan menyabet masing-masing lima penghargaan, termasuk Film dan Sutradara Terbaik untuk The Artist, adalah dua penghormatan elok terhadap sejarah awal sinema berlatar dua tempat awal mula perkembangan film (Los Angeles dan Paris, secara berturutan) hampir seratus tahun yang lalu.

31 Jan 2012
by Alvi Ifthikhar - 
Published in Film

Sebelumnya saya harus memberi disclaimer, saya jatuh cinta habis-habisan dan mungkin tulisan ini tidak memakai akal sehat. Midnight In Paris sudah terlampau jauh menyeret saya ke pusaran masa lalunya. Saya tidak bisa menulis ulasan ini tanpa membombardir anda dengan perasaan penuh haru dan indah ini. Sebuah perasaan menggebu-gebu yang hanya bisa saya dapatkan disini, di Paris, pada tengah malam.

Sebelum masuk ke Midnight In Paris, saya harus bercerita sedikit. Woody Allen bukan hal baru bagi saya meski  saya memang belum cukup lama menggeluti tradisi "mengapresiasi film". Sebagian besar fase awal dari tradisi ini saya habiskan dengan cinta tanpa banding kepada sang New Yorker sejati ini. Saya masih ingat jelas perasaan jatuh cinta yang amat dalam ketika saya menonton Annie Hall untuk pertama kali, film yang..yah..saya yakin banyak yang setuju dengan saya jika saya mengatakan Annie Hall adalah pencapaian terbaik Woody Allen. Annie Hall adalah cinta pertama dan masih menjadi film nomor wahid di daftar saya hingga sekarang.

Seperti yang kita ketahui, Woody Allen masih terus berkarya hingga sekarang. Dia merupakan sutradara paling konsisten, terhitung dari tahun 1965 hingga sekarang, Woody Allen membuat setidaknya satu film setiap tahun (kecuali tahun 1968,1974, dan 1981). Dan bagi saya pribadi, karya-karya terbaik Allen seperti Annie Hall, Manhattan, Stardust Memories, Sleeper, dan Zelig mempunyai satu kesamaan signifikan; ia menjadi aktor utama di semua film tersebut. Saya sempat berfikir bahwa sebenarnya saya lebih menyukai dia sebagai aktor ketimbang sebagai si sutradara film itu sendiri.

Tahun demi tahun berlalu dan memasuki millenium baru, style Allen pun mulai berubah. Racikan komedi satir yang merupakan senjata terbaiknya pelan-pelan memudar. Woody Allen pun sudah mulai tua, dan ia mulai memilih untuk sekedar menulis dan menyutradai filmnya sendiri dan menyerahkan tanggung jawab akting ke talenta-talenta lain. Pelan namun pasti style-nya berubah dengan signifikan, ia membuat apa yang pernah coba ia lakukan di tahun 1978 melalui Interiors, sebuah drama serius tanpa komedi sebagai bumbu utamanya, tidak seperti bagaimana ia biasa bekerja. Dan anda bisa melihat kekesalannya pada film curhat-nya di Stardust Memories, dimana ia menumpahkan rasa gusarnya karena dia selalu dianggap komedian dan ya  tidak perlu bikin film serius. "Hey!! I like your movies, especially the earlier funny ones". (Namun sampai sekarang Allen masih memungkiri kalau Stardust Memories itu merupakan sebuah otobiografi). Jujur sayapun memang memilih "his earlier funny ones" ketimbang film-filmnya yang sekarang, namun saya sangat mengagumi keputusan Woody Allen terhadap preferensi film-making nya di era sekarang. Ia memutuskan untuk tidak mempedulikan apa kata orang, dan terus mencoba membuat film-film serius semacam Cassandra's Dream, Match Point dan Vicky Christina Barcelona, dan You Will Meet A Tall, Dark Stranger. Dan tanpa mencoba memihak, saya bisa mengatakan film-film tersebut cukup solid, apalagi di sisi penulisan.

Dan sampailah saya di dunia magis satu malam bernama Midnight In Paris. Sebuah usaha melarikan diri satu malam ke masa lalu, sebuah kencan singkat dengan Ernest Hemmingway, Scott Fitzgerald, T.S Elliot, Salvador Dali, dan Pablo Picasso, sebuah diskusi menawan tentang masa, cinta, dan kehidupan. Menit-menit awal film ini sudah membuat saya hampir menangis. "Ya tuhan! Woody Allen versi 1970-an bangkit kembali!" merupakan kalimat perkenalan saya dengan Midnight In Paris. Hanya dalam durasi enam menit, saya kembali dibawa ke sisi Woody Allen yang sudah mulai lekang dimakan zaman. Semua jazz scoring itu, semua surat cinta kepada kota itu (walaupun biasanya ia tujukan hanya kepada New York), dan karakter utama yang selalu terkesan "out of place" itu kembali membawa saya ke wajah Allen yang amat saya kenal.

Alasan pertama dan terbesar saya untuk jatuh cinta kepada film ini adalah sebuah alasan egois. Woody Allen membuat film ini, dengan gaya dan mood klasiknya untuk generasi saya, generasi millenial yang tumbuh di dekade 2000-an keatas. Ironisnya, film ini bercerita tentang fenomena zaman yang juga saya jangkit dalam tingkat angkut ; obsesi terhadap apapun dari masa lalu. Mau itu musik, film, ataupun budaya, umat manusia sudah mulai menyadari kalau manusia pada nyatanya suka melarikan diri ke masa lalu. Sebuah lost utopia, sebuah bentuk perlawanan dan gejolak ketidakpuasan atas membosankannya masa kini. Midnight In Paris mencoba menjawab fenomena ini dengan merayakan masa lalu namun juga sekaligus mencemooh orang-orang yang sangat terikat dengan memorabilia, orang-orang seperti saya ini.

Midnight In Paris bercerita tentang Gil Pender. Seorang penulis amerika yang selama ini menjadi Hollwyood darling karena materi-materinya yang bagus. Ia memutuskan untuk mencoba menjadi penulis yang "serius", ia mencoba membuat sebuah novel. Sampailah dia di Paris bersama tunangannya Inez. Pernahkah anda membayangkan diri anda duduk dan ngobrol bersama idola masa lalu seperti Hemmigway, Fitzgerald, dan Dali? Memimpikannya saja saya tidak berani. Namun itulah yang persis terjadi kepada Gil Pender. Entah dengan cara magis apa, ia kembali ke masa lalu. Tempat yang sama, Paris, namun pada malam hari, dan tahun 1920-an, sebuah masa yang selalu Gil anggap sebagai lost utopia-nya.

Kalau anda tertarik dengan teknikalitas sci-fi "bagaimana cara dia kembali ke masa lalu?" dan mencoba mencari jawabannnya, hal tersebut tidak akan terjawab hingga fim ini habis. Namun siapa yang peduli? Anda masih bisa memikirkan hal teknikal seperti itu ketika waktu anda yang terbatas hanya semalam bisa dipakai untuk bertukar pikiran dengan Hemingway, bersenang-senang dengan The Fitzgeralds, melihat Matisse dan Picasso bekerja, dan berbincang omong kosong dengan Dali? Midnight In Paris adalah sebuah surat cinta yang dikirim melalui pos ekspres yang ditujukan kepada masa lalu, menuju masa lalu. Sebuah wisata melarikan diri yang berdurasi satu setengah jam khusus buat para pecandu pikat masa lalu, sebuah antidote sementara bagi orang-orang yang merasa hidup di tempo yang salah. Sci-fi dan teori mekanika modern terasa terlalu "penat" bagi orang-orang seperti kami.

Seiring film ini bergulir ke tengah, saya makin mabuk dengan candu masa lalu tersebut, ah..saya rela membayar dgn apapun (sejauh yang saya mampu tentunya) untuk mengalami apa yang dialami Pender. Apalagi ada Marion Cottilard plus Carla Bruni di sini, saya semakin mabuk kepayang. Namun ada satu hal menarik yang saya rasakan seiring perjalanan ini. Pada awalnya saya merasakan kembali kehadiran versi 1970-an version of Woody Allen di film ini, namun seiring waktu berjalan, saya mulai merasa, bahwa sesuatu hal yang baru, ini bukan Woody Allen yang menyerah dengan film seriusnya dan mencoba kembali pada teknik emasnya. Allen berhasil menciptakan mesin waktu yang membuat kita lupa akan dunia sekitar. Sesungguhnya saya mulai merasa kehilangan wujud Woody Allen di pertengahan film. Ini belum pernah terjadi di film-film Allen favorit saya sebelumnya. Saya mulai menyadari satu hal. Di film-film Allen favorit saya seperti Annie Hall dan Stardust Memories, saya merasakan perasaan cinta yang sama, saya cenderung lebih mencintai sosok Woody Allen sebagai aktor, penulis, dan sutradara ketimbang filmnya sendiri, singkat kata, I love the man more than his films. Namun di Midnight In Paris, Allen berhasil membuat saya lupa akan eksistensi auteur-nya untuk sesaat. Singkat kata, ini film Allen pertama yang membuat saya lebih mencintai filmnya ketimbang sosok sang Woody Allen sebagai penulis/sutradara film ini sendiri.

Jadi bagaimana fenomena sosial ini bisa terjadi? Ambil saja contoh Gil Pender. Betapa kuatnya pikat Paris 90 tahun yang lalu bagi dirinya, manusia belum bisa menciptakan mesin waktu bagi Gil Pender untuk hidup di zaman itu, dimana kita tahu ia sudah merasa dimiliki 1920-an jauh sebelum ia bertemu dengan fenomena ajaib ini. Lalu bagaimana seorang individu bisa begitu terobsesi dengan masa yang jauh dibelakang masanya? Saat di mana orang tuanyapun mungkin belum lahir atau masih kanak-kanak?  Sebagian besar orang dan yang pastinya saya, terhubung dengan masa lalu melalui benang panjang. Benang panjang itu bisa jadi karya seni, literatur, ataupun kultur gaya hidup. Manusia bisa merasakan gegap gempitanya suatu jaman dari artefak-artefak yang ditinggalkan pujangga pada zaman itu, sebuah delusi agung yang berhasil ditanamkan sang idola kepada si pemuja, layaknya Hemmingway kepada Gil Pender.

Tapi pertanyaannya masih sama, segala jenis karya seni dan media hanya bisa jadi penghubung, adakah alasan bawah sadar yang lebih nyata dibalik fenomena ini? Disinilah saya merasakan kembali kehadiran sang Woody Allen yang agung dengan segala amunisi satir-nya di Midnight In Paris. Setelah sidik jari nya amat jelas dapat dilihat mata telanjang di menit-menit awal film ini, lalu di pertengahan babak ia sempat tenggelam lebih karena kepiawaiannya meramu sebuah utopia hingga membuat kita lupa ini hanyalah sebuah film, dan kini si komedian satir nomer wahid ini kembali muncul kepermukaan, mencoba menjawab pertanyaan besar tadi dengan elegan, to the point, jenaka, dan yang pasti arguably true. "That's what the present is…It's a little unsatisfying because life's a little unsatisfying". Mengapa kita selalu kembali ke masa lalu? karena masa kini adalah dunia nyata. Dan dunia nyata adalah kehidupan tidak memuaskan nan pedih yang harus kita hadapi setiap harinya. Depressing dan neurotis? terkesan familiar? tentu saja, karena ini milik Woody Allen. Dan hanya Woody Allen yang sanggup membawa topik se-kaliber ini ke sebuah film dan menjawabnya dengan penuh derita dan humor secara bersamaan.

Dan sebuah alasan egois dan sentimental jugalah yang membuat saya berani mengatakan ini akan menjadi film Woody Allen terfavorit saya. Mengapa? Semata karena film ini lahir di masa saya! Bukan dari tahun 1970-an. Saya tidak pernah menjadikan masa kini sebagai musuh, namun memang belum pernah ada artefak masa kini yang bisa saya jadikan kitab suci dan saya pegang tegug. Bayangkan perasaan anda kita memiliki hal tersebut. Saya bisa berbicara dan meracau tentang Annie Hall selama satu jam atau lebih tanpa henti jika anda mau. Namun itu hanya menjadi sebuah sad flirt karena saya sudah kalah start amat jauh. Waktu adalah musuh saya, saya berpacu di balapan yang sudah lama usai.

Namun sekarang saya punya Midnight In Paris, sebuah persembahan Woody Allen untuk generasi saya, sebuah persembahan yang layak saya pertahankan dan klaim sebagai persembahan terbaik masa kini bagi saya pribadi. Midnight In Paris milik saya, dan tidak seperti biasanya, kali ini saya berkompetisi di masa yang tepat, dan saya masih punya banyak waktu untuk memenangkan debat ataupun lomba pidato soal Midnight In Paris dan Woody Allen. Atau sekedar rebutan sama orang-orang yang lebih tua yang mengklaim film ini punya generasi mereka. Terima kasih Woody Allen, anda telah melakukannya lagi, saya sudah jatuh cinta lagi. Kini saya sudah bisa merelakan anda meninggalkan dunia ini kapan saja anda mau.

30 Dec 2011
by Iman Mahditama - 
Published in Film

Albert Einstein suatu kali pernah berujar: “If, at first, an idea is not absurd, then there is no hope for it.” Dan apa lagi yang bisa lebih absurd daripada usaha untuk menyimpulkan setahun perkembangan dunia film ke dalam artikel sebelas poin?

Artikel-artikel seperti ini hampir selalu dimulai dengan kalimat pembukaan yang intinya tak jauh-jauh dari “membuat artikel top ten adalah satu pekerjaan yang mustahil.” Meski begitu, selalu saja ada mereka yang mengaku dirinya geek, enthusiast, atau sekedar big fan berlomba-lomba membuat artikel top ten.

Termasuk saya, yang akan dengan jujur menyatakan bahwa membuat artikel top ten (atau, dalam kasus ini, top eleven) films of the year adalah satu pekerjaan yang mustahil.

“Terlalu banyak film dan terlalu sedikit waktu” mungkin memang terdengar sedikit klise, tapi itu memang terjadi. Selain itu, terlalu banyak film bagus yang tidak dirilis di bioskop-bioskop Jakarta tepat waktu, atau malah tidak sama sekali.

24 Nov 2011
Published in Film

Novel kututup. Pengarang mati. Kulangkahkan kaki ke bioskop. Pondok Indah ketika senja belum menutup mata. Sengaja dipilih PIM, sekadar sebagai sampel. Adakah Sang Penari menarik minat kelas menengah dan kelas atas perkotaan untuk menontonnya?

Sang Penari tak lain adalah trilogi Ronggeng Dukuh Paruk di layar kaca. Film ini di sutradarai oleh Ifa Isfansyah dengan penulis skenario Salman Aristo serta Wong Aksan dan Titi Sjuman sebagai penata musik, Yadi Sugandi sebagai penata kamera dan Chitra Subiyakto sebagai penata kostum.

Adapun novelnya yang bernilai sastra tinggi adalah karya Ahmad Tohari, yang pertama kali menyita perhatian publik sejak tahun 1981. Jadi film dan novelnya berjarak sekitar 30 tahunan. Beda dengan (novel?) Laskar Pelangi yang lalu difilmkan oleh Mizan Production, ingatan publik atas novelnya masih “sehangat kopi” di pagi hari. Jadi kalau bicara harapan publik, mungkin film Laskar Pelangi lebih diinginkan menyerupai novelnya karena ia dibaca lebih dari 600 ribu orang, dari seluruh umur.

Novel menggunakan medium teks. Sedangkan film menggunakan medium audio visual. Dalam film gambar yang bicara. Meski begitu cerita tetap menentukan, karena gambar tak bisa sepenuh-penuhnya bicara sendiri. Dalam konteks semacam itu, si pembuat film harus menetapkan putusan: Menyalin secara utuh sebuah karya sastra atau mengadaptasinya secara bebas sesuai dengan keperluan serta ide cerita.

02 Nov 2011
by Berto Tukan - 
Published in Film

"Be Kind RewindOur past belongs to us, we can change it if we want."

Menyaksikan Be Kind Rewind kita melihat proses penciptaan bersama atas sejarah milik bersama. Mengambil setting wilayah kecil di New Jersey, Passaic, Be Kind Rewind adalah film sarat makna yang dibalut aksi-aksi humor yang cerdas. Sebuah karya Gondry yang berbeda jika dibandingkan dengan Eternal Sunshine of the Spotless Mind atawa The Science of Sleep yang mengedepankan efek-efek pemanja mata.

02 Sep 2011
Published in Film

Oleh Makbul Mubarak, redaktur CinemaPoetica.com

 

Where were you when I laid the foundation of the earth? When the morning stars sang together, and all the sons of God shouted for joy? (Ayub 38: 4 dan 7).

Page 1 of 6