Fri05182012

Last update09:41:18 PM

  | Advanced Search
Back Home Idea Kanal Idea Buku Buku Penting Tahun 2011
24 Dec 2011

Buku Penting Tahun 2011 Featured

Written by Taufiq Rahman  |  Read 1736 times
Rate this item
(2 votes)

Menyusun daftar buku terbaik dari tahun 2011—atau tahun kapanpun—mungkin pekerjaan yang hampir mustahil, bahkan bagi mereka yang secara profesional bekerja sebagai kritikus literatur. Masalahnya jelas, terlalu banyak buku dan terlalu sedikit waktu. Atau mungkin juga karena terlalu banyak juga buku bagus yang tidak banyak di tulis oleh media arus utama dan beredar secara siluman dari tangan ke tangan dengan metode print on demand atau hanya dicetak dalam bentuk file PDF. Godaan menjadi pengikut arus utama ini sangat kuat.

Awal tahun ini saya membeli A Visit from the Goon Squad, setelah tahu kalau buku Jennifer Egan ini memenangkan Pulitzer dan menjadi nomer satu di daftar New York Times. Saya berhenti di halaman 10 karena prosa yang meliuk-liuk dan terlalu impresionistik. Demikian pula dengan buku Walter Isaacson tentang Steve Jobs yang menjadi salah satu buku paling laris tahun ini. Jika saja buku itu tidak banyak bercerita tentang banyak detail kehidupan Steve Jobs, saya tentu akan malas membacanya karena prosanya yang sangat biasa dan sangat jurnalistik itu.

Dan oleh karena itu, daftar buku yang saya tulis di bawah ini bukanlah buku yang paling baik, namun buku yang memiliki kontribusi penting untuk memperkaya pengalaman intelektual saya selama tahun 2011. Dan jika yang masuk hanya enam, itu karena memang tidak terlalu banyak juga buku yang saya baca tahun ini.

Daftar ini juga untuk menebus dosa saya yang selalu berjanji untuk menulis ulasan setelah menutup halaman terakhir buku-buku tersebut, namun tidak juga terlaksana karena terlalu banyak urusan yang kurang penting. Membuat daftar akhir tahun ini juga seperti curang ketika ujian, karena semua bisa lebih ringkas. So, here goes nothing.

6. Rimbaud in Java: The Lost Voyage, Jamie James, Editions Didier Millet, 2011

Di sebuah esai berjudul Rebel, Rebel di majalah New Yorker terbitan Agustus tahun ini, kritikus Daniel Mendelsohn menulis bahwa pemberontak literatur semacam Arthur Rimbaud hanya cocok untuk anak-anak muda yang sedang membara ingin melawan dunia, sama seperti halnya semua orang harus melewati tahap menuhankan Kurt Cobain atau Jim Morrission sebagai bagian dari perjalanan menjadi dewasa. “I suspect that the chances that Rimbaud will become the bible of your life are inversely proportional to the age at which you first discover him.” Pemberontakan literatur Rimbaud memang membuatnya mudah di terima jiwa-jiwa gelisah dan wanderlust semacam Patti Smith dan Jim Morrison, yang kemudian mengutipnya dalam lirik-lirik halusinogenis mereka.

Ketertarikan saya dengan Rimbaud lebih karena dia pernah mampir ke Jawa, di Salatiga tepatnya. Perjalananan ini dilakukan hanya beberapa saat sebelum Rimbaud meninggalkan dunia sastra yang telah membesarkan namanya. Tidak ada catatan apapun yang ditinggalkan oleh Rimbaud ketika ada di Tanah Jawa dan hampir mustahil untuk menyusun kembali apa yang terjadi ketika Rimbaud menggelandang tanpa tujuan di tanah tropis yang panas dan penuh harimau kalau itu. Adakah pengaruh kunjungan ke Jawa ini terhadap fakta bahwa kemudian dia berhenti dari seni. Apakah dia sempat menemukan perempuan atau laki-laki Jawa dan kemudian jatuh cinta?

Buku Jamie James, mantan kritikus seni rupa Majalan New Yorker yang kini tinggal di Kerobokan, Bali ini ini tidak memberikan jawaban. Paling jauh Jamie hanya merekonstruksi seperti apa Jawa pada saat Rimbaud datang. Seperti apa Pelabuhan Sunda Kelapa ketika Rimbaud turun dari kapal yang membawanya dari Belanda sebelum pindah ke sebuah tangsi tentara di Jatinegara. Atau seperti apa Semarang dan Salatiga ketika Rimbaud turun dari kereta api dan segera akan memulai tugas ketentaraannya. Lebih dari memberi jawaban, buku ini banyak menawarkan pertanyaan, sesuatu yang semakin mengukuhkan Rimbaud sebagai ikon yang semakin jauh menghindar dari ikonoklasme.

5. 33 Revolutions Per Minute: A History of Protest Songs, From Billie Holiday to Green Day, Dorian Lynskey, Ecco, 2011

Tahun ini ada dua hal (tiga kalau saya menghitung gerakan solidaritas punk Aceh di seluruh dunia) yang membuat saya masih optimis akan keterkaitan musik dan politik. Pertama adalah album politik PJ Harvey Let England Shake yang membuktikan kalau musik protes juga bisa sangat bagus secara artistik. Yang kedua adalah buku 33 Revolutions Per Minute, yang juga adalah temuan terbaik saya tahun ini. Di permukaan buku ini nampak seperti pembahasan tentang lagu-lagu protes sosial nan legendaris mulai dari Strange Fruit Billie Holiday, Of Walking Abortion Manic Street Preachers, Killing In the Name Rage Against the Machine sampai yang terakhir American Idiot dari Green Day.

Namun membaca semua daftar tersebut, kita malah di ajak untuk secara serius berkontemplasi tentang suasana sosial politik yang menjadi latar lahirnya lagu-lagu protes sosial legendaris. Dan bukan hanya memusatkan perhatian kepada satu lagu utama, Lynskey membahas seniman, band, lagu, album yang sama yang lahir dari era yang sama. Walaupun agak pedantis, ini adalah buku paling baik yang pernah saya baca tentang musik protes sosial. Buku ini adalah versi The Rest Is Noise tahun 2011.

4. Everyone Loves You When You’re Dead, Neil Strauss, HarperCollins, 2011

Neil Strauss ini adalah contoh baik dari suatu kondisi di mana menjadi jurnalis atau penulis musik merupakan pekerjaan yang tidak hanya layak, namun juga dihormati. Dan jika pekerjaan ini dilakukan dengan independensi dan ketekunan, tidak mustahil hasil kerja tersebut bisa menjadi buku yang dirilis oleh penerbit berkelas dan bisa menjadi nomer satu di New York Times best-seller list. Buku ini sesungguhnya bukan hasil kerja penulisan yang sangat keras, karena sebagian besar hanyalah transkrip wawancara Neil Strauss dengan raksasa-raksasa rock ‘n roll, sampai figur paling tidak penting dari industri musik mulai dari Jimmy Page, Jack White, Julian Casablancas, Kraftwerk sampai kritikus musik Rolling Stone yang tragis Paul Nelson. Namun, lebih dari sekedar wawancara yang penuh dengan quote-quote bagus, lebih sering wawancara itu penuh jeda yang kaku, diam, dan kalimat-kalimat aneh yang tidak nyambung. Dan di antara semua itu bisa ditemukan juga percakapan yang bisa membuat kita tahu bahwa Julian Casablancas bisa juga menjadi orang paling brengsek di seluruh dunia.

3. Fate, Time and Language: An Essay on Free Will, David Foster Wallace, Columbia University Press, Desember 2010

Terus terang saya belum selesai membaca buku ini dan ada sedikit unsur riya dalam memasukkan buku ini ke dalam daftar akhir tahun. Membaca David Foster Wallace tidak hanya akan memberi pencitraan bahwa anda keren dan hipster (walaupun hipster angkatan lama) namun juga bisa menunjukkan betapa dalam anda berfikir.

Meski begitu, buat anda yang sudah pernah membaca karya fiksi David Foster Wallace, sangat sulit untuk tidak jatuh cinta dengan prosa-prosa detail observasional yang jernih dan tajam yang penuh ironi serta ketajaman berfikir. Dan keputusan David untuk bunuh diri membuat karya-karya itu semakin melegenda. Buku ini sesungguhnya adalah skripsi David Foster Wallace di Amherst College, sebuah naskah sulit tentang fatalisme dan kehendak bebas yang dimulai dengan pembicaraan karya filusuf Amerika Serikat Richard Taylor. Di tengah rumus-rumus matematika  yang coba dia pakai untuk membuktikan kebenaran filosofi, saya mencoba mencari jawaban tentang kenapa akhirnya David Foster Wallace memutuskan untuk bunuh diri.

2. Retromania: Pop Culture’s Addiction To Its Own Past, Simon Reynolds, Faber and Faber Inc., 2011

Hampir semua peradaban besar di seluruh dunia terobsesi dengan masa lalunya, Zaman Renaissance adalah saat di mana Eropa melihat kebelakang dan mencari identitas melalui seni klasik Romawi dan Yunani atau bahkan Gothic. Namun hanya di masa kita saja pemujaan bisa dilakukan kepada masa lalu yang baru saja berlalu, dan itulah tesis utama buku Simon Reynolds—yang kita kenal sebagai penulis tome penting post-punk Rip It Up and Start Again. Sepuluh tahun terakhir kita sudah merayakan beberapa nostalgia terutama dari era 1980-an dan 1990-an. Kami bahkan ikut bersalah dengan merayakan retro itu dengan edisi khusus Grunge misalnya. Di televisi kini muncul lagi Beavis and Butthead serta relik-relik lain dari masa yang baru saja berlalu.

Menurut Simon musik era sekarang juga menunjukkan pemujaan yang berlebihan terhadap masa lalu yang baru saja berlalu. Simon Reynolds menjawabnya dengan memberi tesis bahwa kemajuan Internet dan teknologi informasi-lah yang menciptakan fetisisme kepada masa lalu yang tidak lebih lama dari 20 tahun. Buku ini penuh dengan penjelasan yang kadang agak filosofis terhadap adiksi kita terhadap kebaruan yang justru bersumber dari masa lalu. Salah satu penjelasan paling mencekat adalah ketika Simon Reynolds menggunakan paradigma Freudian tentang kebiasaan mengoleksi artifak dari masa lalu yang dekat—dalam hal ini piringan hitam—sebagai keinginan untuk menolak kematian. Saya tidak bisa berhenti membaca setelah paragraf tersebut.

1. Arguably: Essays by Christopher Hicthens, Christopher Hitchens, Twelve, 2011

“Kemarahan adalah hal yang membuat saya bangun di pagi hari,” demikian Christopher Hitchens menjelaskan salah satu motto hidupnya. Ini membuat saya berfikir bahwa kegetiran itulah—beserta sigaret dan alkohol—yang berkontribusi untuk memperpendek hidupnya yang penuh warna itu. Hitchens meninggal karena kanker akhir bulan Desember ini. Namun kemarahan itu jugalah yang telah membuat Hitchens menjadi ikonoklas paling radikal di era kita.

Hampir tidak ada institusi dan individu penting yang tidak menjadi sasaran dekonstruksi dan demistifikasinya mulai dari Agama, Tuhan, Bunda Theresa, Henry Kissinger, Hillary Clinton sampai bahkan Harry Potter. Arguably adalah kumpulan essai Hitchens yang berserak di penerbitan besar dunia mulai dari Vanity Fair, Slate, New York Times, The Wall Street Journal, sampai The Nation di mana Hitch menulis banyak hal mulai dari mengapa wanita tidak akan pernah lucu sampai sumbangan pemikiran Thomas Jefferson untuk Amerika modern. Buat anda yang mengenal Hitchens setelah dia meninggal, buku ini adalah perkenalan yang baik.

 

 

 

 

Taufiq Rahman

Taufiq Rahman

Salah satu founder Jakartabeat.Net yang juga redaktur politik harian berbahasa Inggris The Jakarta Post, telah menyelesaikan pendidikan pasca sarjana di Departemen Politik, Northern Illinois University. Selain penulis politik, Taufiq adalah penulis rutin kolom musik di harian The Jakarta Post.

Komentar Tamu


Powered by Disqus