Fri05182012

Last update09:41:18 PM

  | Advanced Search
Back Home Humaniora Kanal Humaniora Travelling

Traveling (9)

10 May 2012
by Nuran Wibisono - 
Published in Traveling

Januari 1970. Amerika Serikat sedang panas meradang. Ribuan tentara yang kebanyakan adalah anak muda dikirim ke Vietnam. Nyaris sebagian besar dari mereka tumpas. Tewas sia-sia untuk perang yang mereka bahkan tidak tahu untuk apa.

James Douglas Morrison, seorang penulis puisi asal Amerika, menuliskan kudos untuk para anak-anak muda dari tanah kelahirannya itu. Lebih mirip sebuah doa miris: American boy, american girl/ most beautiful people, in the world.

 

30 Apr 2012
by Nuran Wibisono - 
Published in Traveling

Kapal merapat. Marcopolo datang dari misinya mencari dunia baru, tanah yang sama sekali asing. Masyarakat di sepanjang pelabuhan Venezia mengelukan sang petualang besar sepanjang masa itu. Raja dan Ratu dengan senyum terkembang menyambutnya di kerajaan.

"Selamat datang Marcopolo. Selamat untukmu karena sudah menemukan dunia baru. Bagaimanakah kisah perjalananmu? Bagaimana cara kau menemukan tanah baru itu?" tanya sang raja antusias.

"Tentu dengan buku panduan, sang raja. Judulnya Menemukan Tanah Surga Dengan 500 Keping Emas Dalam 20 Hari" ujar Marcopolo sembari mengeluarkan buku tebal dari tasnya.

28 Mar 2012
by Fakhri Zakaria - 
Published in Traveling

 

Mungkin jika dibandingkan moda transportasi lain seperti kereta api atau pesawat terbang, bis tidak ada seksi-seksinya. Survei iseng-iseng saya menunjukkan bis adalah pilihan terakhir kawan-kawan saya tiap kali mudik setelah pesawat terbang dan kereta api. Coba lihat adegan-adegan perpisahan dua sejoli di film-film. Mana ada yang setting-nya di terminal bis. Belum juga memberi ciuman perpisahan macam Rangga dan Cinta di Ada Apa Dengan Cinta, sudah diklakson oleh Metromini yang kejar setoran atau apesnya dipalak preman penguasa terminal.

Namun bagi saya bis seperti sebuah kereta kencana yang dipajang di museum Kraton Yogyakarta. Ada ritual khusus untuk menungganginya. Datang ke terminal atau pool , lalu melihat-lihat calon tunggangan. Menunggu-nunggu waktu keberangkatan sembari memotret. Naik ke bis, duduk di bangku keramat belakang pengemudi. Menyaksikan kelihaian sopir membawa kotak besi meliuk-liuk diantara kerasnya sirkuit Pantura. Mendengarkan desir cess…cesss..khas rem angin mesin Mercedes-Benz. Menikmati hangatnya pisang rebus dan jahe dari pedagang asongan di SPBU daerah Gringsing, kemudian tiba di pagi buta di Yogyakarta seraya melihat sang tunggangan melaju menembus kabut menuju tujan terkahir sambil berkata dalam hati,”besok kita ngebis lagi…”

Wajar jika dalam sebulan kemarin perasaan saya berantakan. Bolehlah dibilang galau meski saya malas menggunakan kata itu mengingat  perkembangannya yang kini mencapai tahap mengkhawatirkan. Coba anda pikir. Bagaimana bisa bulan Februari yang konon katanya adalah bulan penuh cinta justru menjadi bulan penuh kecelakaan bis. Dan yang lebih gila lagi, hanya dalam jangka waktu sepekan ada empat kecelakaan beruntun dengan puncaknya kecelakaan bis Karunia Bhakti yang menghantam bus, mobil, sepeda motor dan warung di kawasan Puncak, Jawa Barat.

Jika kita berbicara ke skala yang lebih besar, kenyataanya malah lebih ironis. Anggaran untuk infrastruktur jalan raya yang mencapai Rp 28 triliun justru membuat jalan raya menjadi “mesin pembunuh massal”. Bandingkan dengan anggaran untuk kereta api yang “hanya” Rp 7 triliun.

Tak akan ada asap tanpa ada api. Peribahasa lama ini cocok untuk menjelaskan bagaimana benang kusut pelayanan transportasi publik, khususnya di dunia per-bis-an. Bis, seperti halnya bentuk layanan transportasi umum lain, dibangun atas tiga elemen terkait. Penumpang sebagai konsumen, perusahaan otobus selaku operator, serta Kementerian Perhubungan sebagai regulator. Kasus-kasus kecelakaan bis dalam sebulan kemarin adalah titik puncak dari silang sengkarut antar tiga sejoli tadi.

Hampir di setiap kecelakaan faktor human error menjadi yang pertama kali ditunjuk. Tentu dalam hal ini adalah si sopir serta perusahaan otobusnya yang menjadi pesakitan. Saat masih menjalani ritual ngebis Bogor-Muntilan kala kuliah, saya sering mengobrol dengan kru bis malam yang saya tumpangi. Dari situ saya paham bahwa menjalankan bis dan segala tetek bengeknya tak semudah menginjak pedal gas.

Bis adalah moda transportasi dimana hukum rimba berlaku. Jalanan adalah hutannya. Tentu bukan tanpa sebab. Pemerintah selaku regulator tak bisa memberi kepastian hukum. Sementara lahan persaingan semakin keras untuk merebut pangsa pasar yang kian sempit setelah tergerus oleh kendaraan pribadi. Bis juga harus tertatih-tatih mengambil ceruk tersisa dari dua moda transportasi lain, yakni kereta api dan pesawat terbang berbiaya murah yang relatif unggul dalam kecepatan dan ketepatan waktu.

Contoh yang paling nyata adalah keberadaan pungutan liar (pungli) yang pelakunya mulai dari preman lokal sampai penegak hukum sendiri (dalam kasus ini polisi lalu lintas serta petugas Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya). Data Organda tahun 2009 lalu menunjukkan terkumpul Rp 18 miliar uang panas hasil pungli. Titik-titik rawan pungli tersebut diantaranya pungli masuk terminal, fee untuk petugas timer dan pungutan saat uji KIR.

Sopir bis malam yang jadi langganan saya tadi bercerita dalam satu kali perjalanan membawa penumpang (ngelen) selain ada biaya solar, karcis tol, dan uang makan kru, juga ada pos-pos anggaran untuk raja-raja kecil di jalanan tadi. Istilahnya ¬ngemel.  Saat kondisi jalanan macet dan penumpang sudah ketar-ketir soal waktu, mau tidak mau praktik haram tadi dilakukan. Biasanya minta dibukakan jalan saat ada kemacetan. Atas nama kepuasan penumpang serba salah memang.

Di sisi lain, ada regulasi batas maksimal tarif atas dari Kementerian Perhubungan sehingga perusahaan otobis tidak bisa sembarangan menaikkan tarif. Padahal selain pungli-pungli tadi, perusahaan otobis masih harus putar otak mensiasati ongkos bahan bakar, biaya suku cadang, juga gaji kru. Jalan pintasnya?. Ikut cara-cara Sumanto. Kanibal.

Mahalnya suku cadang disiasati dengan memaksakan bis yang sebetulnya sudah harus masuk kandang. Efisiensi pegawai dilakukan dengan memaksa sopir memacu bisnya melewati batas waktu maksimal. Saya pernah punya pengalaman lumayan menegangkan saat musim mudik Lebaran tahun 2003. Bis yang hendak saya tumpangi dari Bogor ke Muntilan rupanya telat berjam-jam masuk Bogor akibat kemacetan di jalur pantura. Hanya berselang satu jam, bis langsung putar balik dengan sopir yang kondisinya sudah kepayahan. Meski bis langganan yang saya tumpangi selalu menggunakan dua sopir, namun tetap saja saya was-was campur kasihan.

Selain itu kesejahteraan kru juga menjadi alasan mengapa sopir kerap jadi kambing hitam. Sebelum saya dituduh subyektif, ada beberapa sistem yang dipakai dalam penggajian kru.  Umumnya adalah sistem premi dan sistem setoran. Sistem premi umumnya digunakan oleh bis malam antar kota antar provinsi. Untuk satu kali perjalanan, kru sudah diberi uang saku, uang makan, biaya solar dan tol juga “jatah preman”. Kru tidak dibebani setoran. Biasanya bis-bis yang menggunakan sistem ini cenderung menghindari kebut-kebutan dijalan. Selain sudah ada jaminan dapur ngebul, biaya solar juga bisa dihemat sehingga bisa jadi tambahan untuk kru.

Lain hal dengan sistem setoran yang jadi rujukan bis-bis kelas ekonomi (bumel). Kru hanya dibekali bis dengan bahan bakar penuh. Sisanya silahkan kru yang cari sendiri, yang penting saat bis kembali lagi ke garasi sudah ada setoran yang jumlahnya ditentukan olah juragan serta tangki solar kembali ke posisi semual. Sopir lalu menjadi beringas. Apalagi jika rutenya termasuk rute gemuk seperti Jogja-Surabaya atau Jakarta-Cirebon-Kuningan. Jangankan dengan perusahaan otobus lain, dengan sesamanya saja bisa saling cakar-cakaran berebut penumpang. Tak heran kalau dua ruas ini dari zaman baheula sudah punya sebutan mengerikan sebagai jalur neraka. Pembahasan akan semakin panjang jika berbicara infrastruktur jalan raya yang meski tiap tahun diperbaiki tiap tahun juga pasti ada kerusakan.

Padahal persoalan bis, juga transportasi massal lain bukan sebuah persoalan yang remeh temeh. Ada hak asasi manusia yang wajib dijamin oleh negara yakni kebebasan bergerak dan berdiam di dalam batas-batas setiap negara (freedom of movement), sesuai dengan apa yang tercantum di Universal Declaration of Human Rights. Ketidakmampuan pemerintah memenuhi kebutuhan akan transportasi massal yang layak akhirnya membuat masyarakat memikirkan kebutuhan transportasinya sendiri dengan kendaraan pribadi  ketimbang terus menunggu pemerintah yang lebih suka tuding sana-sini. Yang tidak mampu beli kendaraan pribadi ya silahkan gigit jari sembari menunggu mereka yang tiap hari naik sedan mewah dengan pengawalan polisi punya sebuah solusi.

 

 

 

07 Nov 2011
Published in Traveling

Jam 5 sore, Rabu minggu terakhir bulan September. Saya sedang membaca-baca di kamar saat tiba-tiba terdengar deruman mesin di halaman parkir depan apartemen. Ketika membuka pintu, terlihat di tempat parkir dua pengendara motor gede, satu laki-laki satu perempuan. Yang laki-laki berewokan, berjaket kulit dan memakai bandana, layaknya anggota geng motor gede. Yang perempuan berambut pirang, berkemeja kotak-kotak dengan celana jeans belel. Masing-masing menunggang Harley Davidson. Yang lelaki menoleh ke arah saya.

"Dickson Street di mana ya?" tanyanya kepada saya dengan suara parau tapi dengan bahasa Inggris yang masih sangat mudah dikenali (semua dialog di dalam tulisan ini terjadi dalam bahasa Inggris).

Saya kerahkan seluruh keterampilan penunjuk jalan saya, dengan isyarat tangan yg mantap: "Jalan depan ini lurus ke sana, kalau sudah mentok belok kiri, pertigaan pertama belok kanan. Nah, itu sudah Dickson Street.”

Baru setelah itu saya ingat bahwa mulai hari itu Fayetteville, Arkansas, akan berubah total selama beberapa hari. Inilah hari-hari yang di satu sisi dinanti-nanti oleh banyak orang, sekaligus dianggap menyebalkan oleh sebagian orang yang lain.

21 Apr 2011
by Ciptadi Sukono - 
Published in Traveling

Janji  bertahun-tahun yang tak kunjung sampai itu adalah bertamu ke negeri ribuan stupa, Myanmar. Setelah berkali-kali tertunda, baru beberapa waktu lalu ia akhirnya terbayar.  Sebuah perjalanan singkat selama enam hari. Separuh dari panjang waktu yang semula saya maui.

14 Mar 2009
by Ahmad Fuadi - 
Published in Traveling

Ada orang yang menyebut tempat ini Jurassic Parknya Indonesia”, jelas guide kami ketika memimpin trekking di savana Pulau Komodo. Apa yang ada di pikiran Anda begitu mendengar Pulau Komodo?

27 Feb 2009
by Ahmad Fuadi - 
Published in Traveling

Dengan kecepatan penuh, speedboat yang kami tumpangi membelah Sungai Segah menuju laut di timur Kalimantan. Pemandangan berganti-ganti dari perkampungan penduduk, gerombolan nipah, SPBU terapung, dermaga batu bara sampai hutan lebat.

07 Feb 2009
by Ciptadi Sukono - 
Published in Traveling

Saya menghabiskan jam-jam terakhir di Shanghai, Oktober lalu, dengan nongkrong sesorean di Jalan Moganshan 50, tempat sebuah pabrik tua di pinggiran ceruk Suchou, disulap menjadi sentra desain, bengkel kerja, dan kumpulan galeri seni.

16 Jan 2009
by Ciptadi Sukono - 
Published in Traveling

Hari Senin minggu lalu, pertama kali masuk kantor di awal tahun, seorang teman bertanya: “Udah bikin resolusi buat 2009?”