Fri05182012

Last update09:41:18 PM

  | Advanced Search
Back Home Humaniora Kanal Humaniora Esai Kunci Sukses Dalam Berkarir
28 Jan 2012

Kunci Sukses Dalam Berkarir

Written by Taufiq Rahman  |  Read 3384 times
Rate this item
(9 votes)

“Bagian yang paling tidak saya mengerti, jika anda mencari self-help, mengapa membacanya dari buku, ditulis oleh orang lain lagi?! Itu bukan self-help, tapi help!” George Carlin

Sesungguhnya masih banyak hal yang lebih layak untuk dibicarakan tentang dan dari negeri ini. Masalah-masalah gawat dan pelik seperti korupsi, ketiadaan kepatuhan hukum serta kemiskinan, semua permasalahan yang membuat upaya menggunjingkan industri motivasional dan self-help tidak seharusnya menjadi penting. Namun saya pikir sudah saatnya kita membicarakan secara jujur dan terbuka bahwa ada yang salah kalau semua orang merasa perlu untuk membaca buku-buku motivasional untuk mencari panduan dan inspirasi dalam hidup, memasang kutipan-kutipan yang di akhiri dengan salam aneh di media sosial dan menyaksikan siaran-siaran televisi yang meneriakkan kata-kata indah tentang bagaimana menjalani hidup dan sukses mengumpulkan uang adalah kunci menuju kebahagiaan.

Ketika membaca kata-kata indah kutipan motivasional dari Mario Teguh, dan kawan-kawan (termasuk anda Paulo Coelho!) saya—dan semoga juga sebagian besar dari anda—pasti segera bisa merasakan ada yang salah. Saya termasuk orang yang percaya dengan free will atau kehendak bebas manusia, dan bagaimana kita menjalani hidup, menjadi sukses atau slacker, maju atau mundur, bahkan memilih beragama atau tidak, adalah keputusan mandiri kita sendiri tanpa perlu bantuan orang lain. Saya pengagum besar band asal Surabaya AKA dan percaya sepenuhnya dengan apa yang mereka katakan di awal dekade 1970-an, “Do What You Like” (Bahkan di tahun purba dan belum lama berselang kita melewati kebiadaban 1965 itu kita pernah menjadi individu yang berkehendak mandiri).

Meskipun saya tidak segera tidak mudah untuk tahu di mana suara sumbangnya saya merasa bahwa ada yang berlebihan dari bagaimana anak-anak muda dicekoki dengan novel-novel yang bercerita tentang rags-to-riches, wunderkind-conquer-the-world, anak-desa-pintar-dan-rajin-berhasil-sekolah-ke-luar-negeri-dan-menjadi-agen-perubahan, karena lebih dari sekedar memberi semangat, buku-buku tersebut layaknya candu yang membius dengan feel-good story yang tetap memberi harapan bahwa suatu saat, mengutip lagu Presiden SBY, “Ku Yakin Sampai Di sana”. Namun sama seperti lagu tersebut, semuanya akan terdengar sumbang, karena pada kenyataannya dunia di luar sana adalah rimba belantara di mana sukses menaklukkan dunia dengan gagah berani justru lebih sering menjadi pengecualian dan bukan keniscayaan. Saya tetap mau berfikir positif bahwa anak-anak SD di Serang yang setiap pagi bergelayut di jembatan Indiana Jones akan menjadi tumbuh menjadi CEO Microsoft, insinyur software, meskipun saya juga siap dengan kemungkinan bahwa ketika sampai di sekolah mereka akan bertemu guru galak dan birokrat malas yang akan menghancurkan harapan mereka.

Lantas apa yang salah dengan mendengaran kuliah dan pelatihan motivasional tentang membangkitkan rasa percaya diri sehingga anda bisa menjadi magnet bagi banyak teman (baca: klien). Atau juga kuliah bahwa “Your Career is Yours dan Your Career Is You.” Masalahnya anda akan lebih banyak mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak jelas apa manfaatnya, dan semakin banyak anda merogoh kantong semakin kaya pula para guru motivasional dan semakin maju pula industri mereka.

Untuk melihat betapa raksasanya industri self-help dan motivasional ini kita perlu menengok ke tempat pertama di mana kebohongan tersebut diputar menjadi bisnis yang legal dan sahih, Amerika Serikat. Dalam buku Self-Help Inc.: Makeover Culture in American Life, penulis Micki McGee menemukan bahwa Amerika Serikat menghabiskan US$9.6 milliar di tahun 2006 hanya untuk infomercial, seminar dan pelatihan motivasional dalam rangka upaya perbaikan diri atau self-improvement. Di toko buku on-line terbesar di dunia, Amazon.com terdapat lebih dari 4.500 buku self-help dengan angka penjualan $700 juta di tahun 2006. Buku Dale Carnegie yang legendaris dan menjadi cetak biru buku-buku motivasional How to Win Friends and Influence People—yang saya yakin ada di rak buku Mario Teguh—telah terjual 15 juta kopi sejak diterbitkan pertama kali di tahun 1937. Buku self-help  awal lain yang cukup legendaris Think and Grow Rich, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1937, sudah terjual 20 juta kopi ketika sang pengarang Napoleon Hill meninggal di tahun 1970.

Ada alasan yang jelas kenapa kedua buku suci tersebut terbit di tahun 1937, saat di mana Amerika Serikat ada di puncak krisis ekonomi yang berujung pada Great Depression di mana jutaan orang kehilangan pekerjaan dan jatuh miskin dan harus mengharap belas kasihan negara bagi kelanjutan kehidupannya. Ini juga tesis yang dibangun oleh McGee—serta peneliti yang hendak mendekonstruksi industri self-help—bahwa bisnis motivasional bertahan dan menjadi laku ketika terjadi krisis ekonomi terjadi serta menimbulkan kecemasan dan existential dread dalam diri anggota kelas pekerja.

Salah satu buku laris self-help dan motivasional berjudul Do What You Love, The Money Will Follow karya Marsha Sinetar terjual lebih dari satu juta kopi saat diterbitkan di tahun 1995, tahun ketika Amerika Serikat belum lepas dari resesi yang menghantam Amerika Serikat dari tahun 1990 sampai tahun 1993. Dalam Self-Help Inc. McGee memberi contoh tentang betapa bodohnya bisnis self-help ini. McGee berhasil melakukan rekam jejak terhadap salah satu buku paling laris dalam ranah self-help yang bisa dianggap sebagai kitab suci bagi para pencari kerja berjudul What Color is Your Parachute? A Practical Manual for Job Hunters and Career Changers karya Richard Nelson Bolles yang pertama kali terbit di tahun 1970. Ketika buku ini pertama kali terbit dalam bentuk stensilan, kondisi ekonomi Amerika Serikat masih sangat baik ditandai dengan angka pengangguran yang masih berkisar di angka tiga sampai enam persen. Kondisi ekonomi berubah, dan berubah juga wajah dan peruntungan buku Parachute. Seiring dengan angka pengangguran yang makin meninggi (mencapai 10 persen di tahun 1983), bertambah banyak pula jumlah halaman buku ini. Terbit menjadi buku pertama setebal 201 halaman di tahun 1972, jumlah halaman membengkak menjadi 525 halaman di tahun 1997. Sebuah topik “mencari kerja baru ketika masih memiliki pekerjaan tetap” yang sebelumnya hanya dibahas sekilas di edisi tahun 1981 menjadi sebuah apendiks panjang di edisi tahun 1987. Gambar latar bagi parasut di sampul buku juga berubah seiring kondisi ekonomi Amerika Serikat. Dan puncaknya di tahun 2002, ketika Amerika berada di akhir resesi karena meletusnya dotcom bubble, gambar latar adalah hitam kelam.

Kondisi ini sebangun dengan apa yang terjadi di Indonesia. Riuh-rendah bisnis motivasi dan self-help di mulai dari industri Multi-Level Marketing yang masuk ke Indonesia di awal dekade 1990-an dan menjadi sangat laku di masa ketika dan sesudah krisis ekonomi menghantam Indonesia. Mengutip praktisi industri perbukuan Bambang Prim di tulisan “5 Efek Paling Berpengaruh Bagi Pasar Buku Indonesia,” bisnis motivasi dan pengembangan jati-diri “tidak terlepas dari kehadiran MLM di Indonesia yang tepat masuk menjelang krisis moneter. Alhasil buku-buku, seperti Rich Dad Poor Dad, Cashflow Quadrant, Skill with People, Berpikir dan Berjiwa Besar, Financial Revolution langsung mencetak hit sebagai bacaan wajib para network marketer. Sampai kini pun MLM masih menjadi penyumbang angka penjualan buku yang signifikan bagi penerbit ketika buku yang diterbitkan betul-betul pas dengan ‘alam’ mereka. Fenomena terakhir adalah buku The Secret, Quantum Ikhlas, dan Law of Attraction yang terus mencetak hit karena sangat populer di kalangan MLM untuk memotivasi diri dan mengoptimalkan potensi.”

Dan jika anda percaya bahwa lebih dari 50 persen rak toko buku Gramedia (yang menguasai 40-45 persen ceruk pasar buku nasional) berisi buku-buku motivasional termasuk novel-novel best-seller inspiratif itu, anda mungkin bisa membayangkan berapa banyak uang yang berputar di bisnis inspirasi dan motivasi ini (Masih menurut Bambang Prim, omset jaringan toko buku Gramedia di tahun 2007 adalah sekitar Rp 7 trilliun). Dan cukup bisa dimengerti kalau bisnis motivasional ini tetap laku saat ini. Kita mungkin tumbuh lumayan secara ekonomi, namun terdapat krisis maha besar yang menggantung di atas kehidupan kita ketika agama, hukum, kekuasaan dan semua hal baik dibajak dan di korupsi untuk tujuan pribadi. Tidak heran kita perlu motivasi untuk menghadapi abu-abunya hidup dan hukum.

Kupon lotere itu bernama buku self-help

Lantas apa yang salah dengan menjual cerita fantasi yang menenangkan hati dan terlebih lagi memberi semangat dan motivasi hidup. J.K. Rowling berhasil menjadi milyuner dengan menjual kebohongan dongeng sihir Harry Potter. Ada beda yang jelas. Harry Potter, adalah J.K. Rowling murni menjual eskapisme dan candu, sedangkan guru self-help dan buku-buku motivasional itu berpretensi untuk menjanjikan perubahan dalam hidup. Namun yang menjadi masalah adalah dalam suatu waktu hanya ada satu seri Harry Potter atau seri vampir Twilight Stephanie Meyer, sedangkan untuk buku motivasional dan self-help ada ratusan yang mengisi rak-rak toko buku terdekat dari rumah anda? Jawabannya mudah, karena tidak ada satupun dari buku tersebut yang berhasil memberi jawaban bagi pertanyaan kehidupan. Kalau ada satu saja buku yang berhasil memberi jawaban, tentu buku itu akan menjadi yang paling laku dan mematikan yang lain. Hidup terlalu kompleks untuk dijawab oleh sebuah buku dan kitab yang bahkan tidak punya kata “suci” dibelakangnya. Dalam buku yang juga mendekonstruksi industri motivasi dan self-help, Redirect: The Surprising New Science of Psychological Change, Timothy D. Wilson memberi ibarat bahwa membaca buku self-help seperti membeli lotere: untuk investasi yang bernilai kecil, kita hanya akan mendapatkan harapan; mimpi bahwa semua permasalahan kita akan segera terselesaikan tanpa ada ekspektasi nyata bahwa masalah itu memang akan terselesaikan.

Wilson juga menegaskan bahwa banyak guru self-help yang hanya menawarkan mantra dan “penyembuh” yang di desain untuk membuat orang mendapat perasaan nyaman tanpa benar-benar menyembuhkan penyakit yang membuat mereka sakit. Mantra tanpa efek penyembuh dan hanya sedatif ini bisa anda temukan dalam rangkaian kata-kata mutiara Mario Teguh yang bertebaran di Twitter dan Facebook seperti: “kehidupanmu ini adalah tangga naik yg dibentuk oleh urutan penyelesaian,” “Semoga setiap pria dihadiahi wanita yang memuliakannya,” atau Aku hidup dalam rencana Tuhan. Aku tidak remeh.”

Yang terakhir ini sengaja saya pilih untuk menunjukkan kecenderungan bisnis motivasional dan self-help—yang murni sekuler serta setia diabdikan untuk kepentingan kapitalisme, yang akan kita bahas lebih lanjut dibawah—untuk membungkus dirinya dalam aura spiritualisme, atau paling tidak berpretensi menjadi universal sebagaimana layaknya agama. Ini tidak mengejutkan karena di tempat lahirnya, bisnis motivasional sudah lama memakai jargon-jargon agama. Masih mengutip dari McGee: “The use of religious messages to sanction business behaviors and buoy those defeated by market values is long-established practices in self-improvement manuals. Indeed, the history of American success literature is filled with ministers providing moral justification and spiritual boosterism.”

Tidak semua orang adalah pemenang dalam kehidupan, dan dalam suasana ekonomi yang susah pasti lebih banyak orang kalah dan perlu spiritual boosterism. Contoh penyemangat spiritual ada dalam buku berjudul The Road Less Travelled karya Scott M. Peck yang berhasil bertahan di daftar New York Times best seller list selama 694 pekan sampai tahun 1997 dan telah terjual lebih dari 7 juta kopi. Buku ini mulai masuk ke daftar New York Times tersebut di tahun 1983 saat di mana Amerika Serikat mengalami tingkat pengangguran tertinggi sejak Perang Dunia II. Dalam buku ini, Peck menciptakan konsep grace atau berkah yang diambil dari tradisi Kristen di mana meskipun hidup ini sulit, namun kerja keras, kejujuran dan disiplin diri akan bisa menghasilkan perkecambahan spiritual dan kesehatan mental. Dosa abadi bagi Peck adalah kemalasan. Dengan kata lain kerja keras tidak perlu harus menghasilkan balasan uang—yang memang susah didapat di masa resesi. Dalam buku tersebut kalimat yang paling terkenal adalah: “Essentially I have been saying that grace is earned. We do not come to grace; grace comes to us. Try as we might to obtain grace, it may elude us. We may seek it not, yet it will find us.”

Bandingkan ini dengan “Aku hidup dalam rencana Tuhan. Aku tidak remeh,” atau pesan dari guru ESQ terkemuka Ary Ginanjar Agustian dengan tausiahnya sebagai berikut: “Aku tahu rizqiku tak mungkin diambil orang lain, karenanya hatiku tenang. Aku tahu, amal-amalku tak mungkin dilakukan orang lain, maka aku sibukkan diriku bekerja dan beramal. Aku tahu, Allah selalu melihatku.” Jika Marx sempat mengatakan kalau agama adalah candu bagi orang miskin, mantra-mantra self-help, dengan janji eskapisme dan perbaikan diri, justru mungkin candu palsu dengan kualitas rendah. Dan yang paling penting anda tidak perlu membayar ketika beribadah di masjid dan gereja bukan?

Namun asumsi terbesar—dan yang paling salah—dari literatur self-help adalah menganggap bahwa semua manusia adalah homo economicus, bahwa kita bersedia mencampur adukkan nilai personal dan nilai komersial—atau nilai-nilai mencari uang. Pada akhirnya ketika anda mendapat training ESQ gratis dari perusahaan, dengan nilai-nilai dan semangat dan kemampuan baru—skill untuk mengatur anak buah, kemampuan berbicara di depan klien—pada akhirnya ditujukan untuk profit maximazation dari perusahaan anda bukan? Dalam suasana yang kapitalistik dimana mencari sumber daya yang masih tersisa dan mengolahnya menjadi keuntungan adalah motif utama, mengeksploitasi sumber daya alam yang paling dekat, diri anda sendiri, tentu adalah tujuan utama bukan?

Dan dengan memusatkan perhatian kepada masalah di tingkat individu seperti How To Win Friends dan tuhan mencintai Anda, literature self-help dan motivasional kehilangan kemampuan untuk melihat gambar besar bahwa pengangguran, gaji yang rendah, kemampuan komunikasi yang terbatas sangat mungkin dihasilkan oleh masalah struktural dan sistemik di luar diri setiap individu. Dan jika para trainer self-help dan guru-guru motivasional itu tetap bersikeras bahwa masalahnya ada pada diri anda, mungkin mereka semua yang butuh pertolongan dan bukan anda.





Taufiq Rahman

Taufiq Rahman

Salah satu founder Jakartabeat.Net yang juga redaktur politik harian berbahasa Inggris The Jakarta Post, telah menyelesaikan pendidikan pasca sarjana di Departemen Politik, Northern Illinois University. Selain penulis politik, Taufiq adalah penulis rutin kolom musik di harian The Jakarta Post.

Komentar Tamu


Powered by Disqus