Esai (90)
Jika Nietzsche masih hidup sampai detik ini, kira-kira apa yang akan dia tulis tentang musik dewasa ini?
Nietzsche, bagi saya, adalah orang pertama dalam sejarah yang menulis kritik paling tajam terhadap musik, moral, dan filsafat. Secara teknis ia memang bukan orang pertama yang memakai musik untuk berfilsafat. Sebelumnya ada Arthur Schopenhauer yang juga menjadi “dewa” bagi Nietzsche. Tapi yang dilakukan Nietzsche adalah meradikalkan pemikiran-pemikiran Schopenhauer dalam hal filsafat dan musik. Dan itulah yang membuat karya-karyanya sangat menarik, mendalam, dan cemerlang.
Sebuah perkampungan di Jakarta. Foto Presiden Soeharto dan Wakil Presiden Habibie terpasang simetris di dinding pos ronda. Sophia Latjuba tersenyum dalam kalender, tertanda tahun 1997. Waktu sedang berganti. Tak lama lagi, negeri ini masuk pada transisi.
Kampung itu terdiri dari manusia-manusia yang ambivalen; para pemuda dan preman yang gemar berjudi, menenggak anggur, menonton dangdut, tetapi pada kesempatan lain berteriak-teriak takbir, membersihkan maksiat, serta memporak-porandakan panggung hiburan; Solihin, pemuda misterius penggemar setia Salimah; seorang muadzin sekaligus penjaga masjid yang berfantasi dengan foto Rhoma Irama; juga Salimah dan Haji Ahmad. Tokoh-tokoh ini kelak membikin tragedi dengan tangan mereka sendiri.
Sangat menarik ketika membaca artikel M. Fajri Siregar “Para Priyayi Baru” di Jakartabeat beberapa waktu lalu. Bukan saja secara teori atau data dan statistik telah disajikan, tapi kehadirannya memang nyata di sekitar kita. Indikator sederhana memang dapat dipakai. Mulai dari angka penjualan produk-produk high-end hingga yang berbau gaya hidup. Tapi lebih dari itu, ada banyak gejala ekonomi dan budaya yang melingkupi “not-so-new-phenomenon” ini.
Saya menyaksikan sendiri dikota saya, dibukanya gerai sepeda motor pabrikan Itali, Ducati dan Piaggio yang terlalu mahal bagi standar pendapatan masyarakat di sini. Dalam beberapa artikel di surat kabar, tersiar bahwa beberapa produk andalan sudah ludes di-indent oleh konsumen. Berapa harga satu sepeda motor Ducati Diavel atau Hypermotard? Sekitar Rp 200 jutaan lebih. Tentu dapat dengan mudah kita tahu siapa konsumen yang disasar. Tapi untuk menelusuri bangkitnya kelas menengah baru atau bahasa sederhananya OKB (nouveaux riches) tampaknya masih diperlukan beberapa penyelidikan selain dari angka penjualan.
Kabar itu datang secara tidak mengejutkan. Biasa saja. Sama seperti berita soal politikus yang berbohong atau presiden yang gemar mengeluh dan/sembari bersenandung. Kabar yang dimaksud adalah tiket untuk pawai Ogoh Ogoh, maksud saya, konser Lady Gaga yang ludes dalam sehari. Hal serupa berlaku untuk tiket konser Morrissey yang ludes bak korma di bulan puasa. Beberapa bulan sebelumnya, definisi atas kata ‘wajar’ juga diuji oleh seorang bocah bernama Justin Bieber yang membuat anak-anak Indonesia memaksa orang tua mereka untuk membeli selembar tiket senilai hingga Rp 1 Juta. Di negeri ini, uang memanglah pintu untuk menuju banyak hal.
Konser dengan tiket seharga ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah, tampaknya telah menjadi sebuah kelaziman di hari-hari ini. Seandainya tiket tersebut di jual di lapak terbuka layaknya jeruk dan mangga, kita tentu masih bisa menawarnya hingga pecahan lima puluh perak. Apa mau dikata, kuasa atas harga bukan di tangan konsumen. Lagipula, wong kita mampu beli kok, kenapa harus sok-sokan jadi orang susah? Seandainya Michael Rusli, (Presiden Direktur Big Daddy Production. Adrie Subono mah lewat) menantang saya untuk memborong tiket konsernya, saya akan jawab dengan lantang: “Wani piro!?”
Sementara itu, reformasi telah menjadi sejarah. Penguasaan negara atas SDA telah dihapus, Migas telah diliberalisasi, tanah rakyat telah diobral, batubara terus dikeruk, upah buruh tidak pernah layak sementara modal asing terus berdatangan tetapi tidak mengakar. Dengan kata lain, orang kaya telah bertambah. Jumlahnya bervariasi. Ada yang kaya raya (17 pengusaha Indonesia masuk daftar orang terkaya di dunia versi Forbes, 2012), ada yang cukup kaya, ada yang lebih dari cukup dan mayoritas yang begini-begini saja. Tapi yang menarik dari perkembangan pasca-reformasi adalah pertumbuhan dari mereka yang ‘lebih dari cukup’ dan ‘kaya’. Asian Development Bank dan World Bank punya indikatornya tapi ini bukan majalah Prisma. Secara jumlah mereka memang tidak signifikan, tetapi keberadaannya menentukan dinamika kehidupan kita sehari-hari. Singkat kata, telah terjadi peningkatan kelas menengah
Kini, seperti telah diulas secara cukup cermat oleh Kompas dan Tempo, adalah momen milik kelas menengah. Waktu sedang berpihak kepada mereka yang memiliki penghasilan di atas US$2 per hari. Menurut Tempo, inilah yang dinamakan dengan kelas konsumen baru, dalam arti lebih banyak, lebih menyebar dan lebih trengginas. Sementara, survey Kompas Desember 2011 menunjukkan bahwa tingkat kekritisan sebagian besar kelas menengah semakin rendah seiring dengan ruang lingkup problem di masyarakat. Artinya, semakin berat isunya, semakin acuhlah manusianya. Hal ini, merujuk kumpulan artikel LP3ES dan CIDES mengenai kelas menengah era Orde Baru, bukanlah fenomena yang baru, melainkan sifat yang melekat akibat kepentingan dan kesempatan yang inheren pada kelas menengah.
Kelas menengah Pasca-Soeharto telah begitu menjulang. Kenyang dikuliti karena apatisme politik dan pragmatisme konsumsi, kelas menengah masih menyimpan berlapis mitos yang belum dikupas hingga sekarang. Salah satunya adalah tabiat berbudaya dari kelas ‘bumper’ ini.
Masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki konsepsi yang khas dan lekang bernama ‘priyayi’. Priyayi, dalam arti sempit, adalah ‘kelas bangsawan’. Sehingga dalam analisis kelas tradisional ala Marx atau Weber, priyayi secara sosiologis bukanlah kelas menengah. Namun jika kelas kita fahami sebagai konsepsi yang arbitrer, maka penggunaan istilah priyayi lebih memudahkan kita dalam membayangkan ‘kelas’, sebagai sebuah kelompok yang dipersatukan oleh sebuah kesukaan dan kebiasaan, ketimbang oleh relasi mereka terhadap alat produksi atau kesempatan hidup. Kelas ini memiliki distingsi khusus dengan kelas lainnya, dilihat dari cara dan rupa mereka menghabiskan waktu senggang atau leisure activities. Kelas menengah yang kita kenal sekarang, boleh jadi dapat kita sebut sebagai Priyayi Baru, memodifikasi gagasan Umar Kayam dalam novelnya.
Umar Kayam telah menggambarkan kepolosan, atau kenaifan, kelas priyayi tatkala ia memperlihatkan kebanggaan mereka dalam berbicara menggunakan bahasa Belanda, selayaknya kelas menengah kini berbicara dalam bahasa Inggris dan membiasakan anak-anak mereka melakukan hal yang sama. Para Priyayi, dinarasikan oleh Umar Kayam, adalah mereka yang berusaha untuk mencapai sebuah status sosial yang lebih tinggi, melalui perjuangan keras untuk hidup berdasarkan standar yang didefinisikan orang lain, yakni kaum kolonial Belanda. Siapapun yang mampu menyamai standar hidup tersebut, layaklah diberi status sebagai priyayi. Walau, dibanding dengan perjuangan mereka untuk ‘naik kelas’, sesungguhnya perjuangan yang lebih berat adalah konflik untuk melepas atau menanggalkan identitas mereka sebagai ‘wong ndeso’ yang selalu dirujuk, hingga tidak pernah lepas dari jati diri atau ‘ke-akuan’ mereka.
Layaknya priyayi pada umumnya, Priyayi Baru ini memiliki kebiasaan yang lekat dengan aktivitas berbudaya. Tatkala priyayi dalam kisah Umar Kayam belajar mengenal pacaran dalam bioskop dan mengunyah santapan Belanda, Priyayi Baru mengenal ekspresi budaya melalui orgy konsumsi, dengan melahap semua komoditi budaya yang dihamparkan di hadapan mereka, mulai dari televisi berlangganan, city car, sepeda Fixie, fine dining, kamera DSLR, hingga –sekali lagi- konser Lady Gaga. Segala simbol yang mampu menggambarkan cita rasa tinggi dan dominan ditelan sementah-mentahnya, tanpa harus memahami esensi atau substansi dari produk tersebut.
Memang, kelebihan dari kelas ini adalah fleksibilitasnya dalam menyelami ekspresi budaya. Bukan sekeder berkaraoke dan menikmati film Hollywood, tetapi juga soal kreasi identitas. Ini adalah upaya peneguhan modal kultural dan kebutuhan untuk memastikan posisi, dan memberikan rasa aman, di dalam keruwetan struktur sosial, ungkap Pierre Bourdieu.
Barangkali, identitas Priyayi Baru itu kini terartikulasi dalam selera dan cita rasa. Identitas itu ditegaskan melalui kehadiran kita pada ruang dan waktu tertentu, yakni pentas budaya seperti konser dan festival musik, yang dapat juga kita artikan sebagai bagian dari ikhtiar “menjadi orang” seperti yang telah dialami generasi pendahulu kita. Di balik itu, ada sebuah ketakutan untuk ‘tidak menjadi’ sehingga mengkonsumsi menjadi bagian dari upaya untuk membentuk identitas kepriyayian tersebut. Itu sebabnya mengapa Java Jazz Festival selalu ramai bak pasar malam.
Romo B. Herry Priyono pernah menyebutnya sebagai ‘cultural dopes’, di mana pada kenyataannya, kita semua berpotensi untuk menjadi sesosok cultural dope. Cap yang panas dan pantas untuk sebuah kelas yang tak sadar akan dampak dari keberadaannya. Toh, kesadaran kelas para Priyayi Baru cukup tinggi untuk tidak memerdulikan cap tersebut. Karena nyatanya, saat ini memang tidak ada yang bisa menghentikan laju para Priyayi Baru. Kenaikan BBM dan fatwa MUI sekalipun.
“Bagian yang paling tidak saya mengerti, jika anda mencari self-help, mengapa membacanya dari buku, ditulis oleh orang lain lagi?! Itu bukan self-help, tapi help!” George Carlin
Sesungguhnya masih banyak hal yang lebih layak untuk dibicarakan tentang dan dari negeri ini. Masalah-masalah gawat dan pelik seperti korupsi, ketiadaan kepatuhan hukum serta kemiskinan, semua permasalahan yang membuat upaya menggunjingkan industri motivasional dan self-help tidak seharusnya menjadi penting. Namun saya pikir sudah saatnya kita membicarakan secara jujur dan terbuka bahwa ada yang salah kalau semua orang merasa perlu untuk membaca buku-buku motivasional untuk mencari panduan dan inspirasi dalam hidup, memasang kutipan-kutipan yang di akhiri dengan salam aneh di media sosial dan menyaksikan siaran-siaran televisi yang meneriakkan kata-kata indah tentang bagaimana menjalani hidup dan sukses mengumpulkan uang adalah kunci menuju kebahagiaan.
Ketika membaca kata-kata indah kutipan motivasional dari Mario Teguh, dan kawan-kawan (termasuk anda Paulo Coelho!) saya—dan semoga juga sebagian besar dari anda—pasti segera bisa merasakan ada yang salah. Saya termasuk orang yang percaya dengan free will atau kehendak bebas manusia, dan bagaimana kita menjalani hidup, menjadi sukses atau slacker, maju atau mundur, bahkan memilih beragama atau tidak, adalah keputusan mandiri kita sendiri tanpa perlu bantuan orang lain. Saya pengagum besar band asal Surabaya AKA dan percaya sepenuhnya dengan apa yang mereka katakan di awal dekade 1970-an, “Do What You Like” (Bahkan di tahun purba dan belum lama berselang kita melewati kebiadaban 1965 itu kita pernah menjadi individu yang berkehendak mandiri).
Meskipun saya tidak segera tidak mudah untuk tahu di mana suara sumbangnya saya merasa bahwa ada yang berlebihan dari bagaimana anak-anak muda dicekoki dengan novel-novel yang bercerita tentang rags-to-riches, wunderkind-conquer-the-world, anak-desa-pintar-dan-rajin-berhasil-sekolah-ke-luar-negeri-dan-menjadi-agen-perubahan, karena lebih dari sekedar memberi semangat, buku-buku tersebut layaknya candu yang membius dengan feel-good story yang tetap memberi harapan bahwa suatu saat, mengutip lagu Presiden SBY, “Ku Yakin Sampai Di sana”. Namun sama seperti lagu tersebut, semuanya akan terdengar sumbang, karena pada kenyataannya dunia di luar sana adalah rimba belantara di mana sukses menaklukkan dunia dengan gagah berani justru lebih sering menjadi pengecualian dan bukan keniscayaan. Saya tetap mau berfikir positif bahwa anak-anak SD di Serang yang setiap pagi bergelayut di jembatan Indiana Jones akan menjadi tumbuh menjadi CEO Microsoft, insinyur software, meskipun saya juga siap dengan kemungkinan bahwa ketika sampai di sekolah mereka akan bertemu guru galak dan birokrat malas yang akan menghancurkan harapan mereka.
Lantas apa yang salah dengan mendengaran kuliah dan pelatihan motivasional tentang membangkitkan rasa percaya diri sehingga anda bisa menjadi magnet bagi banyak teman (baca: klien). Atau juga kuliah bahwa “Your Career is Yours dan Your Career Is You.” Masalahnya anda akan lebih banyak mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak jelas apa manfaatnya, dan semakin banyak anda merogoh kantong semakin kaya pula para guru motivasional dan semakin maju pula industri mereka.
Untuk melihat betapa raksasanya industri self-help dan motivasional ini kita perlu menengok ke tempat pertama di mana kebohongan tersebut diputar menjadi bisnis yang legal dan sahih, Amerika Serikat. Dalam buku Self-Help Inc.: Makeover Culture in American Life, penulis Micki McGee menemukan bahwa Amerika Serikat menghabiskan US$9.6 milliar di tahun 2006 hanya untuk infomercial, seminar dan pelatihan motivasional dalam rangka upaya perbaikan diri atau self-improvement. Di toko buku on-line terbesar di dunia, Amazon.com terdapat lebih dari 4.500 buku self-help dengan angka penjualan $700 juta di tahun 2006. Buku Dale Carnegie yang legendaris dan menjadi cetak biru buku-buku motivasional How to Win Friends and Influence People—yang saya yakin ada di rak buku Mario Teguh—telah terjual 15 juta kopi sejak diterbitkan pertama kali di tahun 1937. Buku self-help awal lain yang cukup legendaris Think and Grow Rich, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1937, sudah terjual 20 juta kopi ketika sang pengarang Napoleon Hill meninggal di tahun 1970.
Ada alasan yang jelas kenapa kedua buku suci tersebut terbit di tahun 1937, saat di mana Amerika Serikat ada di puncak krisis ekonomi yang berujung pada Great Depression di mana jutaan orang kehilangan pekerjaan dan jatuh miskin dan harus mengharap belas kasihan negara bagi kelanjutan kehidupannya. Ini juga tesis yang dibangun oleh McGee—serta peneliti yang hendak mendekonstruksi industri self-help—bahwa bisnis motivasional bertahan dan menjadi laku ketika terjadi krisis ekonomi terjadi serta menimbulkan kecemasan dan existential dread dalam diri anggota kelas pekerja.
Salah satu buku laris self-help dan motivasional berjudul Do What You Love, The Money Will Follow karya Marsha Sinetar terjual lebih dari satu juta kopi saat diterbitkan di tahun 1995, tahun ketika Amerika Serikat belum lepas dari resesi yang menghantam Amerika Serikat dari tahun 1990 sampai tahun 1993. Dalam Self-Help Inc. McGee memberi contoh tentang betapa bodohnya bisnis self-help ini. McGee berhasil melakukan rekam jejak terhadap salah satu buku paling laris dalam ranah self-help yang bisa dianggap sebagai kitab suci bagi para pencari kerja berjudul What Color is Your Parachute? A Practical Manual for Job Hunters and Career Changers karya Richard Nelson Bolles yang pertama kali terbit di tahun 1970. Ketika buku ini pertama kali terbit dalam bentuk stensilan, kondisi ekonomi Amerika Serikat masih sangat baik ditandai dengan angka pengangguran yang masih berkisar di angka tiga sampai enam persen. Kondisi ekonomi berubah, dan berubah juga wajah dan peruntungan buku Parachute. Seiring dengan angka pengangguran yang makin meninggi (mencapai 10 persen di tahun 1983), bertambah banyak pula jumlah halaman buku ini. Terbit menjadi buku pertama setebal 201 halaman di tahun 1972, jumlah halaman membengkak menjadi 525 halaman di tahun 1997. Sebuah topik “mencari kerja baru ketika masih memiliki pekerjaan tetap” yang sebelumnya hanya dibahas sekilas di edisi tahun 1981 menjadi sebuah apendiks panjang di edisi tahun 1987. Gambar latar bagi parasut di sampul buku juga berubah seiring kondisi ekonomi Amerika Serikat. Dan puncaknya di tahun 2002, ketika Amerika berada di akhir resesi karena meletusnya dotcom bubble, gambar latar adalah hitam kelam.
Kondisi ini sebangun dengan apa yang terjadi di Indonesia. Riuh-rendah bisnis motivasi dan self-help di mulai dari industri Multi-Level Marketing yang masuk ke Indonesia di awal dekade 1990-an dan menjadi sangat laku di masa ketika dan sesudah krisis ekonomi menghantam Indonesia. Mengutip praktisi industri perbukuan Bambang Prim di tulisan “5 Efek Paling Berpengaruh Bagi Pasar Buku Indonesia,” bisnis motivasi dan pengembangan jati-diri “tidak terlepas dari kehadiran MLM di Indonesia yang tepat masuk menjelang krisis moneter. Alhasil buku-buku, seperti Rich Dad Poor Dad, Cashflow Quadrant, Skill with People, Berpikir dan Berjiwa Besar, Financial Revolution langsung mencetak hit sebagai bacaan wajib para network marketer. Sampai kini pun MLM masih menjadi penyumbang angka penjualan buku yang signifikan bagi penerbit ketika buku yang diterbitkan betul-betul pas dengan ‘alam’ mereka. Fenomena terakhir adalah buku The Secret, Quantum Ikhlas, dan Law of Attraction yang terus mencetak hit karena sangat populer di kalangan MLM untuk memotivasi diri dan mengoptimalkan potensi.”
Dan jika anda percaya bahwa lebih dari 50 persen rak toko buku Gramedia (yang menguasai 40-45 persen ceruk pasar buku nasional) berisi buku-buku motivasional termasuk novel-novel best-seller inspiratif itu, anda mungkin bisa membayangkan berapa banyak uang yang berputar di bisnis inspirasi dan motivasi ini (Masih menurut Bambang Prim, omset jaringan toko buku Gramedia di tahun 2007 adalah sekitar Rp 7 trilliun). Dan cukup bisa dimengerti kalau bisnis motivasional ini tetap laku saat ini. Kita mungkin tumbuh lumayan secara ekonomi, namun terdapat krisis maha besar yang menggantung di atas kehidupan kita ketika agama, hukum, kekuasaan dan semua hal baik dibajak dan di korupsi untuk tujuan pribadi. Tidak heran kita perlu motivasi untuk menghadapi abu-abunya hidup dan hukum.
Kupon lotere itu bernama buku self-help
Lantas apa yang salah dengan menjual cerita fantasi yang menenangkan hati dan terlebih lagi memberi semangat dan motivasi hidup. J.K. Rowling berhasil menjadi milyuner dengan menjual kebohongan dongeng sihir Harry Potter. Ada beda yang jelas. Harry Potter, adalah J.K. Rowling murni menjual eskapisme dan candu, sedangkan guru self-help dan buku-buku motivasional itu berpretensi untuk menjanjikan perubahan dalam hidup. Namun yang menjadi masalah adalah dalam suatu waktu hanya ada satu seri Harry Potter atau seri vampir Twilight Stephanie Meyer, sedangkan untuk buku motivasional dan self-help ada ratusan yang mengisi rak-rak toko buku terdekat dari rumah anda? Jawabannya mudah, karena tidak ada satupun dari buku tersebut yang berhasil memberi jawaban bagi pertanyaan kehidupan. Kalau ada satu saja buku yang berhasil memberi jawaban, tentu buku itu akan menjadi yang paling laku dan mematikan yang lain. Hidup terlalu kompleks untuk dijawab oleh sebuah buku dan kitab yang bahkan tidak punya kata “suci” dibelakangnya. Dalam buku yang juga mendekonstruksi industri motivasi dan self-help, Redirect: The Surprising New Science of Psychological Change, Timothy D. Wilson memberi ibarat bahwa membaca buku self-help seperti membeli lotere: untuk investasi yang bernilai kecil, kita hanya akan mendapatkan harapan; mimpi bahwa semua permasalahan kita akan segera terselesaikan tanpa ada ekspektasi nyata bahwa masalah itu memang akan terselesaikan.
Wilson juga menegaskan bahwa banyak guru self-help yang hanya menawarkan mantra dan “penyembuh” yang di desain untuk membuat orang mendapat perasaan nyaman tanpa benar-benar menyembuhkan penyakit yang membuat mereka sakit. Mantra tanpa efek penyembuh dan hanya sedatif ini bisa anda temukan dalam rangkaian kata-kata mutiara Mario Teguh yang bertebaran di Twitter dan Facebook seperti: “kehidupanmu ini adalah tangga naik yg dibentuk oleh urutan penyelesaian,” “Semoga setiap pria dihadiahi wanita yang memuliakannya,” atau Aku hidup dalam rencana Tuhan. Aku tidak remeh.”
Yang terakhir ini sengaja saya pilih untuk menunjukkan kecenderungan bisnis motivasional dan self-help—yang murni sekuler serta setia diabdikan untuk kepentingan kapitalisme, yang akan kita bahas lebih lanjut dibawah—untuk membungkus dirinya dalam aura spiritualisme, atau paling tidak berpretensi menjadi universal sebagaimana layaknya agama. Ini tidak mengejutkan karena di tempat lahirnya, bisnis motivasional sudah lama memakai jargon-jargon agama. Masih mengutip dari McGee: “The use of religious messages to sanction business behaviors and buoy those defeated by market values is long-established practices in self-improvement manuals. Indeed, the history of American success literature is filled with ministers providing moral justification and spiritual boosterism.”
Tidak semua orang adalah pemenang dalam kehidupan, dan dalam suasana ekonomi yang susah pasti lebih banyak orang kalah dan perlu spiritual boosterism. Contoh penyemangat spiritual ada dalam buku berjudul The Road Less Travelled karya Scott M. Peck yang berhasil bertahan di daftar New York Times best seller list selama 694 pekan sampai tahun 1997 dan telah terjual lebih dari 7 juta kopi. Buku ini mulai masuk ke daftar New York Times tersebut di tahun 1983 saat di mana Amerika Serikat mengalami tingkat pengangguran tertinggi sejak Perang Dunia II. Dalam buku ini, Peck menciptakan konsep grace atau berkah yang diambil dari tradisi Kristen di mana meskipun hidup ini sulit, namun kerja keras, kejujuran dan disiplin diri akan bisa menghasilkan perkecambahan spiritual dan kesehatan mental. Dosa abadi bagi Peck adalah kemalasan. Dengan kata lain kerja keras tidak perlu harus menghasilkan balasan uang—yang memang susah didapat di masa resesi. Dalam buku tersebut kalimat yang paling terkenal adalah: “Essentially I have been saying that grace is earned. We do not come to grace; grace comes to us. Try as we might to obtain grace, it may elude us. We may seek it not, yet it will find us.”
Bandingkan ini dengan “Aku hidup dalam rencana Tuhan. Aku tidak remeh,” atau pesan dari guru ESQ terkemuka Ary Ginanjar Agustian dengan tausiahnya sebagai berikut: “Aku tahu rizqiku tak mungkin diambil orang lain, karenanya hatiku tenang. Aku tahu, amal-amalku tak mungkin dilakukan orang lain, maka aku sibukkan diriku bekerja dan beramal. Aku tahu, Allah selalu melihatku.” Jika Marx sempat mengatakan kalau agama adalah candu bagi orang miskin, mantra-mantra self-help, dengan janji eskapisme dan perbaikan diri, justru mungkin candu palsu dengan kualitas rendah. Dan yang paling penting anda tidak perlu membayar ketika beribadah di masjid dan gereja bukan?
Namun asumsi terbesar—dan yang paling salah—dari literatur self-help adalah menganggap bahwa semua manusia adalah homo economicus, bahwa kita bersedia mencampur adukkan nilai personal dan nilai komersial—atau nilai-nilai mencari uang. Pada akhirnya ketika anda mendapat training ESQ gratis dari perusahaan, dengan nilai-nilai dan semangat dan kemampuan baru—skill untuk mengatur anak buah, kemampuan berbicara di depan klien—pada akhirnya ditujukan untuk profit maximazation dari perusahaan anda bukan? Dalam suasana yang kapitalistik dimana mencari sumber daya yang masih tersisa dan mengolahnya menjadi keuntungan adalah motif utama, mengeksploitasi sumber daya alam yang paling dekat, diri anda sendiri, tentu adalah tujuan utama bukan?
Dan dengan memusatkan perhatian kepada masalah di tingkat individu seperti How To Win Friends dan tuhan mencintai Anda, literature self-help dan motivasional kehilangan kemampuan untuk melihat gambar besar bahwa pengangguran, gaji yang rendah, kemampuan komunikasi yang terbatas sangat mungkin dihasilkan oleh masalah struktural dan sistemik di luar diri setiap individu. Dan jika para trainer self-help dan guru-guru motivasional itu tetap bersikeras bahwa masalahnya ada pada diri anda, mungkin mereka semua yang butuh pertolongan dan bukan anda.
Oleh Silvester Valentin
Dalam kajian ilmu sosial, sebuah lagu merupakan sebuah representasi. Ia selalu mewakili sesuatu, entah itu ungkapan emosi, kenyataan sosial aktual, keprihatinan terhadap kondisi tertentu, perwujudan solidaritas menanggapi bencana dahsyat, ataupun selera sebagian besar masyarakat. Apapun itu, lagu tak pernah tercipta dari ruang kosong. Ia merupakan rangkaian pilihan, ekspresi, serta kesadaran yang dimiliki oleh para pencipta maupun penyanyinya. Maka, tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa dengan mendengarkan sederetan lagu dari masa yang berbeda, akan dapat ditangkap adanya dinamika atau perubahan pada aspek-aspek tertentu dari kehidupan.
Berdasarkan asumsi tersebut di atas, saya bermaksud menyoroti tentang potret perempuan Indonesia dengan mencermati sejumlah lirik lagu yang disenandungkan oleh para penyanyi perempuan dari masa ke masa. Terlepas dari kenyataan bahwa lagu-lagu dimaksud mungkin saja diciptakan oleh laki-laki menurut perspektif laki-laki, kesediaan penyanyi perempuan untuk membawakannya dan fakta bahwa sebagian besar penggemarnya adalah kaum perempuan setidaknya cukup menegaskan keterkaitannya dengan realitas aktual perempuan pada masanya.
Logikanya, nyaris mustahil seorang penyanyi perempuan bersedia menyanyikan lagu yang dirasanya terlalu berjarak dari kondisi nyata. Hampir sama mustahilnya bagi perempuan untuk menyukai lagu yang dianggapnya sama sekali tak bersesuaian dengan apa yang dialami atau dirasakan olehnya maupun kaumnya. Itulah sebabnya, upaya mencari wajah perempuan Indonesia dalam senandung (baca : lagu) perempuan diyakini akan mampu menggambarkan perubahan serta pergeseran karakteristik umum, persepsi, maupun orientasi perempuan.
Berawal dari awal dekade 1980-an, tipikal perempuan tampaknya belum jauh dari ungkapan serta ratapan ketidakberdayaan. Simak saja dalam lirik lagu ”Gelas-Gelas Kaca” yang didendangkan oleh Nia Daniati, Gelas-gelas kaca/Tunjukkan padaku siapa diriku ini/Ayah aku tak punya ibupun tak punya/Siapapun aku tak punya/Hanya air mata/Yang s’lalu bercerita kepadaku. Demikian tidak berdayanya perempuan hingga bahkan disebut-sebut tak memiliki tubuhnya sendiri. Betapa tidak, dalam arus utama budaya patriarkhi, otoritas atas tubuh menjadi hak istimewa laki-laki sehingga terjadi kontrol terhadap tubuh perempuan, seksualitas, serta perannya, baik pada lingkup domestik (keluarga, rumah tangga) maupun publik (masyarakat).
Walaupun tidak terang-terangan mengadopsi prinsip patriarkhi yang menganggap bahwa perempuan belum menikah adalah milik ayahnya, perempuan yang telah menikah dimiliki suaminya, dan perempuan yang sudah menjanda adalah milik anak laki-lakinya atau saudara lelaki suaminya, toh perempuan tetap belum diberi hak atas tubuhnya.
Saat masih gadis, selain mesti membiarkan hidupnya sebagian besar ditentukan oleh ayahnya, ia harus pula menerima kenyataan bahwa keperawanannya telah diseret ke dalam ranah publik. Keperawanan hampir selalu dijadikan patokan bagi masyarakat untuk menilai perempuan. Keperawanan, secara kurang proporsional, diidentikkan dengan kejujuran, kesucian, serta keutuhan moral seorang perempuan. Maka, kebanyakan lelaki menginginkan (calon) istri yang masih perawan.
Ironisnya, tak sedikit pria yang kerap gonta-ganti pasangan kencan serta tidak melewatkan hubungan intim sebagai salah satu bagian dari aktivitas mereka, ternyata juga mengedepankan syarat keperawanan bagi calon isterinya. Tuntutan terhadap keperawanan ini jelas sangat memojokkan perempuan. Seolah hanya perempuan yang dituntut menjaga kesuciannya. Padahal, jika perempuan dituntut harus perawan hingga saatnya menikah, maka hal yang sama juga semestinya diberlakukan pada laki-laki. Itu karena moralitas dan penghormatan terhadap tubuh sendiri adalah kewajiban seimbang bagi kedua jenis kelamin.
Keperawanan sebenarnya lebih merupakan persoalan kultural. Hanya saja ada ketimpangan atau ketidakadilan gender di situ, dimana perempuan cenderung dipojokkan dan dituntut untuk menjaga keperawanannya, sementara laki-laki tidak pernah dipermasalahkan. Keperawanan kemudian menjadi sebuah mitos yang sangat sakral, sehingga seolah-olah jika perempuan tidak perawan, maka habislah seluruh harapan hidupnya.
Tidak mengherankan bila kemudian banyak perempuan merasakan tuntutan keperawanan sebagai kewajiban. Jika demikian, berarti ada yang mewajibkan dan diwajibkan. Yang mewajibkan tentu saja adalah masyarakat (laki-laki) yang merasa berhak atas tubuh perempuan. Sedangkan perempuan terpaksa pasrah menjalani kewajibannya, sehingga justru terasing dari tubuhnya sendiri.
Ketika perempuan menikah, tubuhnya berpindah tangan. Dari sang ayah kepada lelaki yang telah membelinya dengan membayar sejumlah mahar (mas kawin). Praktek pemberian mahar inilah yang seringkali membuat sebagian lelaki merasa memiliki hak penuh atas istrinya, selayaknya seorang pembeli atas barang yang dibelinya.
Sebagai pemilik, seorang suami merasa berhak melakukan apapun kepada istrinya, termasuk memaksa sang istri melayani hasrat seksualnya setiap saat tanpa memperhatikan kondisi fisik maupun mental yang bersangkutan. Tak jarang, istri bahkan tidak memiliki hak untuk memutuskan hal-hal penting berkaitan fungsi reproduksinya, misalnya memilih kapan ia ingin hamil, menentukan jarak kelahiran yang dirasa nyaman ataupun jumlah anak yang dilahirkan. Dalam keluarga yang kental dengan budaya patriarkhi, semuanya ditentukan oleh suami. Sedangkan istri, yang seharusnya memiliki kontrol atas tubuhnya, lebih sering diabaikan pendapatnya.
Bukan hanya itu, seorang istri rentan pula mengalami tindak kekerasan oleh suami. Lirik lagu ”Hati Yang Luka” milik Betharia Sonata sekitar awal tahun 1980-an dan sempat mengundang kemarahan Menteri Penerangan RI, H. Harmoko (kala itu) hingga melarang penyiaran lagu-lagu cengeng oleh TVRI karena dianggap tidak sesuai dengan semangat bangsa yang sedang membangun, sedikit banyaknya menggambarkan betapa kekerasan (baca : KDRT) terhadap perempuan semakin kerap terjadi dan mengemuka sebagai salah satu isu gender yang cukup penting. Ironisnya, kekerasan justru ditanggapi oleh perempuan dengan sikap mengalah. Berulang kali aku mencoba/s’lalu untuk mengalah/demi keutuhan kita berdua/Walau kadang sakit/Lihatlah tanda merah di pipi/bekas gambar tanganmu/sering kau lakukan/bila kau marah menutupi salahmu.
Mengutip pendapat Farha Cicik, seorang aktivis perempuan, ada beberapa penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan maupun kekerasan dalam rumah tangga. Pertama, fakta bahwa laki-laki dan perempuan tidak diposisikan setara dalam masyarakat. Perempuan sering diperlakukan sebagai obyek, sebagaimana rintihan Betharia Sonata juga dalam lagu ”Hati Yang Luka”, Samakah aku/bagai burung di sana/yang dijual orang/hingga sesukamu/kau lakukan itu kau sakiti aku.
Kedua, masyarakat masih mendidik anak laki-laki dengan menanamkan anggapan bahwa mereka harus kuat, berani, serta tanpa ampun. Ketiga, kebudayaan patriarkhi mendorong perempuan (istri) bergantung kepada suami, khususnya secara ekonomi. Keempat, masyarakat belum menganggap KDRT sebagai masalah sosial kemasyarakatan, melainkan hanya persoalan pribadi dalam relasi suami dan istri. Kelima, pemahaman keliru terhadap ajaran agama sehingga timbul anggapan bahwa laki-laki boleh menguasai perempuan.
Realitas tersebut turut dipengaruhi adanya mitos bahwa laki-laki baru menjadi lelaki sejati jika berhasil menunjukkan kekuasaannya (termasuk dalam bentuk kekerasan) atas perempuan. Sementara itu, perempuan dianggap terhormat bila mampu melanggengkan kelembutan, kemanjaan, kepasrahan, sekaligus pengakuan atas kekuasaan laki-laki terhadapnya. Perempuan selalu saja dituntut (dan rela) berkorban, meski acapkali menyakitkan dan sia-sia belaka. Hal mana diungkapkan Dian Piesesha lewat lagu ”Tak Ingin Sendiri” (1984), Aku masih seperti yang dulu/Menunggumu sampai akhir hidupku/Kesetiaanku tak luntur/Hatipun rela berkorban/Demi keutuhan kau dan aku.
Bahkan ketika ternyata laki-laki menunjukkan ketidaksetiaan pun, perempuan kembali hanya mampu menunjukkan ketidakberdayaannya, seperti didendangkan oleh Betharia Sonata dalam lagunya berjudul ”Hati Seorang Wanita”. Kau bercumbu di depan mataku/Kau rayu dia dalam dekapmu/Tak tertahan sakitnya hatiku/Gelap kurasakan dunia/Apa daya diri ini/Memanglah nasib seorang wanita/Hanyalah tangis dan air mata/Tumpuan duka. Sesuatu yang sangat keliru sesungguhnya.
Setelah perempuan menjanda karena ditinggal mati suaminya pun, ia tetap belum memiliki hak atas tubuhnya. Bila mempunyai anak laki-laki, maka anak yang kemudian akan mengambil alih peran untuk menentukan apa yang terbaik bagi ibunya, termasuk turut menentukan mengenai boleh atau tidaknya sang ibu menikah kembali.
Jika tak mempunyai anak laki-laki, maka perempuan mungkin saja akan dinikahi oleh saudara laki-laki almarhum suaminya, dengan tujuan agar harta kekayaan keluarga tidak jatuh ke tangan pihak lain. Atau, dalam keadaan tertentu, perempuan berpulang ke keluarga orientasinya, dimana kehidupannya lantas kembali bergantung pada keinginan ayahnya.
Pada berbagai aspek lain kehidupannya, perempuan mengalami pula sejumlah pembatasan yang menghambatnya. Jangankan meningkatkan peranan, untuk mengaktualisasikan diri pun perempuan belum benar-benar bebas. Padahal, perempuan sejak dahulu sejatinya menyimpan keinginan dan potensi teramat besar untuk mengembangkan kedayaan bila memiliki kebebasan. Inilah ungkapan hati Betharia Sonata melalui lagu ”Hidup Terkekang”. Apakah Ku Tak Boleh Mengenal Dunia Ini/Haruskah Daku Hidup Menyendiri/Sendiri Dan Menyepi/Hidup Bagaikan Seekor Burung/Dalam Sangkar Yang Terkekang/Biar Sangkarku Terbuat Dari Emas/Lebih Baik Ku Hidup Di Hutan Luas.
Siapakah yang sebenarnya memiliki tubuh perempuan ? Perempuan itu sendiri, laki-laki, ataukah masyarakat ? Idealnya, perempuan harus menjadi pemilik tubuhnya sendiri. Namun, dalam lagu ”Aku Siapa Yang Punya” (1980) milik Nia Daniati, perempuan bahkan dilanda kebingungan tentang pemilik tubuhnya hingga merasa perlu bertanya pada lelaki. Tanyakan Hatimu/Aku Siapa Yang Punya/Apa Kau Tak Tahu Aku Siapa Yang Punya/Bukankah Cemara Bernyanyi Untukmu.
Untunglah di tengah segala ketidakberdayaannya, perempuan tetap memiliki solidaritas bagi kaumnya. Semangat kepedulian yang digelorakan Iis Sugianto melalui sepenggal lirik lagu ”Jangan Sakiti Hatinya”, dari era yang sama, Masihkah Kau Ingat Sayang/Gadis Yang Pernah Kau Sayang/Jangan/Jangan Kau Sakiti Hatinya/Jangan Lagi Sayang/Jangan/Jangan Kau Hancurkan Cintanya/Jangan Lagi Sayang, jelas merupakan modal berharga untuk menggulirkan perubahan.
Beberapa tahun kemudian, perubahan dimaksud mulai terjadi. Perempuan perlahan beranjak dari potret memprihatinkan yang digambarkan lirik lagu penyanyi perempuan era 1980-an. Meski belum sepenuhnya berhasil meraih posisi (kesetaraan) yang diinginkannya dalam masyarakat, tapi telah banyak perubahan yang terjadi, terutama pada karakteristik perempuan sendiri. Perempuan sekarang bukan lagi perempuan yang lemah, tidak berdaya, dan gemar meratap. Perempuan sekarang lebih realistis memandang dirinya sebagai makhluk yang, sama seperti laki-laki, memiliki kelemahan serta kekuatan. Diva musik pop Indonesia, Krisdayanti, mengungkapkan ini dalam lagunya berjudul “Aku Wanita Biasa” (2009), Aku ini wanita biasa/Bisa sakit luka karena cinta/Kadang ku kuat setegar karang/Kadang ku rapuh lemah liar merana.
Perempuan pun semakin menyadari dan mempercayai kemampuan serta kesanggupannya. Karena ku sanggup walau ku tak mau/Berdiri sendiri tanpamu/Ku mau kau tak usah ragu/Tinggalkan aku. Demikian potongan lirik lagu “Kar’na Ku Sanggup” (2010) yang dinyanyikan Agnes Monica. Dan jika mengutip pendapat Simone de Beauvoir dalam buku The Natural Superiority of Women, memang sejatinya perempuan secara biologis alamiah lebih perkasa dibanding laki-laki, lebih tahan terhadap sakit dan kesakitan, juga lebih sedikit mengalami penyakit jiwa. Maka, tak perlu meragukan kemampuan ataupun kesanggupan perempuan.
Berbekal kesadaran dimaksud, tidaklah sulit bagi perempuan untuk lebih jauh memberdayakan dirinya. Pemberdayaan, terutama di bidang ekonomi, harus terus dilakukan hingga perempuan mampu menyingkirkan stigma negatif sebagai beban dan mulai membangun potensi demi menunjang kemajuan diri dan masyarakatnya. Penguatan peran perempuan sebagai pelaku ekonomi yang berdaya, selain meningkatkan rasa percaya diri, juga diharapkan memperkuat posisi tawar terhadap laki-laki.
Terkait relasi sosial dan seksual dengan laki-laki, perempuan telah memahami kenyataan bahwa dirinya masih kerap dianggap sebagai obyek belaka oleh laki-laki. Simak saja lirik lagu “Keong Racun” yang belum terlalu lama ini menyita banyak perhatian dari berbagai kalangan menyusul unggahan video lip-sync Shinta dan Jojo yang menghebohkan dunia maya. Dasar kau keong racun/Baru kenal eh ngajak tidur/Ngomong nggak sopan santun/Kau anggap aku ayam kampung/Kau rayu diriku/Kau goda diriku/Kau colek diriku/Eh ku takut sekali/tanpa basa basi kau ngajak happy happy. Namun, perempuan sekarang bukanlah makhluk lemah yang bisa diperlakukan sesukanya. Sorry sorry sorry jack/Jangan remehkan aku/Sorry sorry sorry bang/Ku bukan cewek murahan. Itu tanggapan terhadap para lelaki hidung belang yang menganggap semua perempuan akan pasrah dijadikan obyek olehnya.
Sayangnya, dalam berbagai aspek kehidupan, perempuan masih dikepung obyektivikasi dari berbagai penjuru. Perempuan ditangkap dalam kamera, bagian-bagian tubuhnya dijadikan komoditas untuk pemuas syahwat para lelaki hidung belang, bahkan ‘ditelanjangi’ oleh keadaan. Tubuh perempuan dipajang papan reklame di kota-kota, menjadi bahan dasar ekonomi libido. Semua itu disusun dan dirancang sedemikian rupa dalam dunia yang bukan miliknya, melainkan milik lelaki. Oleh sebab itu, perempuan mesti secepatnya mengembangkan kekuatan tawar demi menghadapi kekuasaan dalam bentuk apa pun sehingga mampu mencegah tubuhnya dijadikan obyek (komoditas). Ini bisa dilakukan dengan mengenyam pendidikan setinggi mungkin dan meningkatkan kiprah di sektor publik.
Untuk kehidupan percintaan, nasib perempuan tak semuram dulu. Perempuan kian berani bersikap, bahkan mendahului mengungkapkan isi hatinya kepada lawan jenis. Suatu hal yang sebelumnya mungkin sulit ditemui. Mengapa demikian ? Tak lain karena lazimnya laki-laki yang harus lebih dahulu berinisiatif melakukan pendekatan untuk menjalin hubungan atau menyatakan perasaan. Sementara perempuan sepantasnya hanya pasif atau menunggu. Namun, dikotomi kaku tersebut mulai ditinggalkan. Dalam lagu berjudul “Pilihlah Aku”, Krisdayanti menunjukkan betapa perempuan sekarang semakin terbuka dan tidak ragu menunjukkan perasaannya. Setiap kali ku melihatmu/Berganti pacar yang tak tentu/Kali ini kucoba/Tuk beranikan diri/Mencoba ungkapkan/Perasaan yang ada di hati/Pilihlah aku jadi pacarmu.
Ketika mengalami kekecewaan atau kepedihan dalam hubungan, perempuan pun tidak lagi selalu memposisikan diri sebagai pihak yang selalu harus mengalah, berkorban untuk mempertahankan keutuhan hubungan, atau menanti hingga kekasihnya sadar dan mengubah sikap. Perempuan kini enggan membuang-buang waktu menjalani hubungan yang tak membahagiakan. Seringnya ku berpikir sampai penat/Tak jua kutemukan jalan keluarnya/Jika memang bukan ini sudah tamatkanlah/Karena ku tak mau waktuku terbuang. Begitu keberanian yang lantang disuarakan Krisdayanti dalam lagu “Yang Ku Mau.”
Bukan hanya itu, perempuan juga sudah memiliki keberanian untuk mengakhiri hubungan bila diperhadapkan pada keretakan yang dirasanya sulit diperbaiki. Krisdayanti menyampaikannya dengan gamblang melalui lagu “I’m Sorry Goodbye”. Semakin hari/Semakin terungkap/Yang sesungguhnya/Ku makin kecewa/Ternyata kau penuh dusta/Maafkan ku harus pergi/Ku tak suka dengan ini. Bila lelaki tidak mampu menjaga kesetiaan, perempuan takkan ragu menyuarakan gugatannya atau mengambil tindakan tegas. Kembali suara merdu Krisdayanti menyuarakan lirik lagu “Cobalah Untuk Setia”. Apalah maumu kasih/Kau pilih diriku/Di dalam hidupmu/Nyatanya ku lihat kini/Tak bisa kau coba untuk setia/Sudah cukuplah sudah/Ku memberikan waktu. Keberanian semacam ini jelas patut dihargai sebab menunjukkan bahwa perempuan makin berdaya membuat pilihan-pilihan dalam hidupnya.
Menyikapi derasnya arus kebebasan yang menghanyutkan banyak manusia dalam pergaulan bebas, penyimpangan, dan berbagai polah yang tak patut, sebagian perempuan ternyata masih menjunjung tinggi etika. Ini bisa disimak dalam lirik lagu “Nananana (Berakit-Rakit)” milik Oppie Andaresta. Ketuk dulu pintu rumahku lepaskan dulu sepatumu/Beri salam pada ibuku baru kau bisa ketemu aku/Sebutkan dulu namamu ceritakan tentang story mu/Kerahkan segala usahamu baru kau bisa jalan denganku/Hei jangan kayak makhluk planet datang dan pergi tanpa basa basi semua ada aturannya/Mesti ada aturannya/Sekarang jaman internet tapi etika nggak jadi macet. Sungguh menggembirakan mengetahui ternyata globalisasi serta modernisasi tidak mengubah semua hal tanpa terkecuali. Perubahan yang sempat disangka akan menimbulkan situasi anomi, dimana semua nilai dan norma lenyap seketika hingga banyak penyimpangan terjadi akibat hilangnya pegangan, ternyata masih menyisakan secercah kesadaran untuk mempertahankan etika juga moralitas yang pernah sangat diagungkan.
Meskipun bagi sebagian perempuan, keperawanan telah menjadi sesuatu yang bernilai transaksi ekonomis, digugat, dan diletakkan dalam sebuah kerangka hubungan transaksional yang cair. Namun, untuk sebagian lainnya, keperawanan tetap dianggap penting dipertahankan hingga saatnya menikah. Lirik lagu “Aku Perawan” yang menjadi original soundtrack The Virgin (pertengahan dekade 2000-an) mungkin dapat menjadi penegasan sikap dimaksud. Apa aku membosankan/Karena tak sealiran/Apa aku tak tau aturan/Karena tak ikut-ikutan/Biar aja orang bilang aku ketinggalan/Kesucian bagiku penting untuk di pertahankan/Dan aku yakin Tuhan pun berikan aku tempat yang/Terindah. Keteguhan untuk mempertahankan keperawanan tadi bahkan tak bergeming walau mereka diposisikan pada posisi inferior-konservatif dan tradisional.
Mengenai masalah keperawanan, sebenarnya lebih tepat dipandang sebagai sebuah pilihan. Hak untuk perawan atau tidak adalah hak perempuan itu sendiri, yang mengerti keadaan tubuhnya dan jiwanya apabila memilih tetap perawan atau tidak. Dengan perkataan lain, yang terpenting adalah pilihan bebas perempuan itu sendiri. Perempuan mempunyai hak serta otonomi terhadap dirinya dan tahu apa yang lebih baik baginya. Perempuan bukanlah korban, melainkan kaum yang menjaga integritas dirinya sebagai manusia.
Pertahanan untuk tetap perawan pada diri perempuan sebaiknya lebih dikarenakan perempuan sadar konsekuensi yang terjadi ketika hilang keperawanan. Kemungkinan kehamilan luar nikah atau mengidap penyakit kelamin setelah hubungan seksual, kepatuhan pada norma agama, atau mencegah timbulnya gangguan psikologis disebabkan belum siapnya atas keadaan tidak perawan. Bukan sekedar mengikuti kemauan pihak lain.
Beralih ke isu lain terkait perempuan. Dalam berbagai masyarakat, terutama di kota-kota besar, kini telah berkembang gaya hidup alternatif yang berbeda dibanding pola kehidupan perkawinan dan hidup berkeluarga yang semula berlaku. Salah satunya adalah kecenderungan untuk menunda usia perkawinan atau hidup membujang (single person household). Tampaknya memang apa yang digambarkan oleh David Cooper dalam bukunya berjudul The Death of the Family (Streib, 1973) bahwa keluarga akan segera usang dan harus digantikan, semakin mendekati kenyataan. Kebanyakan individu yang telah sukses meniti karir serta meraih kemapanan, terutama perempuan, lebih memilih untuk menunda usia perkawinan, atau bahkan hidup membujang. Semua digambarkan secara jujur oleh Oppie Andaresta melalui lagu “Single Happy” (2009). Aku baik baik saja/Menikmati hidup yang aku punya/Hidupku sangat sempurna/I'm single and very happy/Mengejar mimpi mimpi indah/Bebas lakukan yang aku suka/Berteman dengan siapa saja/I'm single and very happy.
Mengapa ini terjadi ? Jawabannya tak terlepas dari kenyataan, di era modernisasi dan globalisasi, perlahan keluarga mulai kehilangan fungsinya. Bila suatu lembaga tidak memiliki fungsi signifikan, nyaris dapat dipastikan bahwa eksistensinya akan segera berakhir.
Di antara sekian banyak fungsi keluarga, yang terpenting adalah fungsi reproduksi dan afeksi. Untuk kedua fungsi itu pun kelihatannya keberadaan keluarga tidak lagi tak tergantikan. Di beberapa negara maju, telah didirikan bank sperma. Perempuan yang ingin memiliki anak, tapi memilih tetap hidup melajang, dapat leluasa memilih profil pendonor sesuai keinginannya dan kemudian menjalani proses pembuahan dengan bantuan teknologi kedokteran modern.
Bagaimana halnya dengan fungsi afeksi? Fungsi afeksi bukanlah monopoli keluarga. Perempuan yang hidup melajang masih bisa memperoleh perhatian, kepedulian, dan kasih sayang dari anggota keluarga orientasi (keluarga dimana ia dilahirkan), sahabat, maupun anggota komunitasnya. Dengan demikian, semakin sedikit alasan bagi perempuan untuk menjalani ikatan perkawinan.
Maraknya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga semakin memperumit masalah. Perempuan yang telah mapan dan berdaya secara ekonomi tentunya tak ingin posisinya dilemahkan serta dipinggirkan oleh laki-laki sebagaimana lazimnya terjadi pada keluarga yang bercorak patriarkhi dimana laki-laki dikondisikan harus superordinat (sebagai atasan, yang berkuasa) sementara perempuan mesti rela diposisikan subordinat (sebagai bawahan, yang dikuasai).
Tak hanya sibuk dengan diri dan kehidupannya, para perempuan modern juga semakin peduli terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi di sekitarnya. Mendadak lagu Oppie Andaresta yang diberi judul ”Robinhood” menjadi sangat sesuai untuk mendeskripsikan situasi aktual bangsa. Hidup memang ‘gak banyak pilihan/Apalagi keadaan ‘gak karuan/Makin hari makin banyak membingungkan/Butuh pahlawan biarpun pahlawan kesiangan/Cara yang wajar udah gak mempan/Yang di atas tetap asyik sendirian/Butuh pahlawan biarpun preman/Yang penting yang di bawah bisa ketolongan. Di tengah ketidakpedulian sebagian pemimpin bangsa terhadap nasib rakyatnya, yang didamba adalah pemimpin sejati yang mengabdi bukan menuntut pengabdian, melayani bukan dilayani, mendengarkan bukan selalu mengeluh dan ingin didengarkan. Di tengah hiruk-pikuk kesibukan para wakil rakyat yang bersiap studi banding ke luar negeri, menanti pembangunan gedung mewah bernilai ratusan kali gubuk sederhana milik rakyat yang memilih mereka, atau memperdebatkan dana aspirasi, rakyat justru semakin kebingungan dengan keadaan negeri yang tak kunjung membaik. Jangankan untuk hidup berkecukupan, jutaan rakyat berpenghasilan di bawah US$2 per hari harus menanggung derita akibat busung lapar dan kekurangan gizi. Kasus-kasus yang terungkap di media massa diyakini hanyalah puncak dari gunung es (tip of the iceberg) carut-marut kondisi masyarakat.
Sementara rakyat menanggung derita yang nyata senyata-nyatanya, pemerintah malah terhanyut dalam politik pencitraan yang melenakan. Semua hal dilakukan semata-mata untuk membangun citra positif. Sementara esensi dan keberpihakan sejati pada rakyat lebih sering diabaikan. Politik pencitraan ini dengan cerdas digambarkan melalui ”Lili vs Lala” oleh Oppie Andaresta. Lili habiskan waktu setiap hari/untuk membentuk tubuhnya/Lala habiskan waktu yang dia punya/Untuk memperkaya jiwanya/Lili letih karna s`lalu jaga wibawa/terperangkap labelitas/Lala membuka luas-luas hatinya/Menyapa semua manusia. Andai saja semua pemimpin kita dengan ketulusan bersedia meneladani Lala dan bukannya bersikap seperti Lili, niscaya krisis multidimensional yang masih melanda akan segera dapat dienyahkan. Namun, harapan tadi tampaknya masih jauh panggang dari api. Dan kembali, rakyat yang harus bersabar, entah sampai kapan.
Demikianlah sekian banyak wajah perempuan yang bisa dicermati dari masa ke masa. Perubahan dan kemajuan mulai tampak membawa perempuan ke arah yang diinginkannya. Bukan mustahil bila suatu saat perempuan akan mampu membimbing bangsa ini menuju cita-cita luhur para pendiri bangsa yang nyaris terlupakan di tengah distorsi pertarungan politik serta cabikan kepentingan yang terdengar meraung memekakkan. Ketika itu, mungkin akan tercipta lirik, Aku perempuan/Aku bukan milik siapa-siapa/Aku anak bangsa yang sama seperti yang lain/Aku tahu jati diri dan apa yang baik untukku/Aku ingin jadi yang terbaik/Untukku dan untuk negeriku/Itu janjiku pada diri dan negeriku, diiringi harmoni nada yang menyejukkan seluruh penghuni negeri tanpa dibatasi sekat genre, suku, agama, ras, atau golongan. Semoga saja.
*) Silvester Valentin adalah Mahasiswa S-1 Jurusan Teknik Informatika STMIK MIKROSKIL. Kini tinggal di Medan. Naskah ini adalah entri di final lomba Jakartabeat Music Writing Contest I.
DARI halaman penginapan ini saya memandang pulau di seberang sana, Halmahera. Laut yang memisahkannya dengan Pulau Ternate berwarna abu-abu, luas, begitu tenang, dan saking tenangnya, seperti hamparan satu daratan tersendiri. Alfred Russel Wallace, seorang ahli taksonomi asal Inggris, dulu menyebut Halmahera, Gilolo, dalam bukunya The Malay Archipelago. Pulau besar yang nyaris tak dikenal waktu itu. Ternate, Tidore dan Bacan merupakan gugus pulau yang mengitari Halmahera di bagian baratnya. Tapi hampir dua setengah abad kemudian, Halmahera, punya banyak kisah yang membuatnya tidak dilupakan lagi.
Udara pagi bertambah dingin, karena gerimis. Bulan Juni bulan yang basah. Hujan turun hampir sepanjang hari di Ternate, ibukota Maluku Utara. Luas kota ini 547 kilometer persegi atau hampir sebanding dengan Isle of Man yang luasnya 572 kilometer persegi dan jadi bagian Britania Raya di Laut Irlandia, atau sedikit lebih kecil dibanding Singapura, dengan luas wilayah 697 kilometer persegi dan tercatat sebagai negara kepulauan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia. Jumlah penduduk Ternate mencapai 187.671 jiwa pada 2010 dan turun jadi 180.671 jiwa pada 2011. Penyebabnya? Pemekaran provinsi dan perpindahan warganya yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil.
Membaca esai Walter Benjamin “Theses on the Philosophy of History (1940),” saya langsung disergap oleh pertanyaan: ke manakah kesetiaan filosof Yahudi Jerman ini pada akhirnya dilekatkan: ke materialisme historis atau teologi; dan siapakah tokoh sentral baginya, malaikat sejarah atau sang Messiah.
Esai yang ditulis menjelang Benjamin bunuh diri karena gagal melarikan diri dari cengkraman Nazi itu memang dengan jelas menunjukkan pertautan Benjamin pada materialisme historis, meski yang ia maksudkan dengan terma itu sangat berbeda dari apa yang selama ini dipahami oleh kaum Marxis lain.
Sementara kaum Marxis pada umumnya mendefinisikan materialisme historis dalam kerangka revolusi sosialis untuk menciptakan masa depan yang lebih baik, Benjamin memaknainya sebagai upaya menyelamatkan dan mengingat masa lalu dan menyusun kembali fragmen-fragmen sejarah yang ditenggelamkan dan dibungkam agar menjadi utuh kembali. Para penganut doktrin materialisme historis, yang notabene merupakan anak kandung Pencerahan, memeluk teguh the idea of progress.
Sondang Hutagalung menyiram dirinya dengan bensin dan membakar diri di depan Istana hari itu, seakan hendak membisikkan bahwa perlawanan itu masih ada. Ia masih ada, bergejolak dari bawah sana, dan meminta untuk didengar.
Yang mengejutkan pada mulanya, membuat kita terhenyak, lalu diam-diam meremukkan hati dan perasaan kita adalah caranya memilih bahasa perlawanan itu. Dia memilih jalan mati dengan membiarkan api melalap tubuhnya sampai hangus, sebelum berhari-hari kemudian, dalam sekarat yang keperihan dan erangannya tak terukurkan, dia melepas satu-satunya miliknya dalam hidup: nyawa. Suatu kematian yang dipilihnya dengan sadar, dengan risiko tersiksa penderitaan ragawi yang tak tertahankan, namun barangkali dengan sedikit harap dan bahagia, bahwa ia berkorban untuk hal yang tak sia-sia. Bahwa ia berkorban untuk mengirim isyarat: perlawanan itu masih ada.
Saya terdiam, sungguh terdiam. Kehabisan kata, tak mampu berkata-kata lagi begitu mendengar Sondang Hutagalung, demonstran yang membakar diri di depan Istana, akhirnya berpulang di RSCM, Sabtu pekan lalu, sekitar pukul 17.50 WIB. Apa artinya nyawa buat mahasiswa tingkat akhir Fakultas Hukum Universitas Bung Karno itu? Apa artinya hidup? Apa pula arti sikap dan tindakan keberpihakan? Apa artinya setia kepada sikap hidup dan pandangan dunia?
Selaksa tanya berkecamuk dalam pikiran saya. Tapi akhirnya senyap, tak menemukan jawab. Absurd!
Mahasiswa—siapa pun tahu—adalah fase yang penuh gejolak. Di dalamnya hidup mitos. Agen perubahan, calon intelektual, calon pemimpin bangsa misalnya—meskipun dalam satu nafas yang sama berkecambah pula calon bedebah yang di kemudian hari ikut merampok uang rakyat. Ada yang menerima mitos itu sebagai beban, tapi ada pula yang menerimanya sebagai tantangan zaman—sebuah panggilan dunia yang datang karena dicari atau tiba begitu saja.
Humaniora