“Bosan! Di rumah lagi sendirian, papa sibuk, mama arisan...”
Saya mencuplik lirik itu dari sebuah lagu rap klasik Indonesia produksi 1994, bertajuk “Bosan”, termuat dalam kompilasi “Pesta Rap Volume I”, produksi label besar terkemuka, Musica Studio. Dalam parameter kualitas lirik rap manapun, apa yang ditulis oleh Blake, rapper lagu ini, terasa wagu di sana-sini. Flow liriknya, salah satu kualitas seni rapping yang berkisar soal kelancaran seorang rapper menyampaikan lirik, amat payah. Bagaimana fokus lirik Blake bicara soal minggat akibat bosan berada di rumah, mendadak berubah pada observasi mendalam seorang pelacur yang “wajahnya cantik, dan terlihat lugu, tapi mengapa bibirnya penuh dengan gincu” tanpa melalui mediasi terlebih dulu. Istilah gaulnya “maksa”.
Bayangkan flow semacam konsep mise-en-scene di dunia penyutradaraan. Tak lancarnya perpindahan adegan akan membuat penonton bertanya soal jalan cerita, paling jauh, kebecusan sang sineas bakal ikut digugat. Meski secara kronologis non-linier sekalipun, flow yang cerdas bakal membuat pendengar tetap nyaman, seperti halnya penonton Nolan atau Tarantino tak akan terlalu berkerut dahi begitu berhadapan dengan alur maju mundur khas mereka. Karena lirik merupakan episentrum musik rap, bisa dibayangkan betapa pentingnya keahlian seorang rapper menata lirik selaiknya sutradara menata perpindahan adegan agar lancar serta enak dinikmati.
Ditilik dari wordplay alias permainan diksinya dalam lagu “Bosan” tadi, saya dapati lebih dari lima kali frasa “di rumah sendirian” ia gunakan hanya untuk mengejar kesamaan bunyi “-an”. Sungguh kering ide. Repetisi macam itu tak ayal alih-alih menghasilkan kepuasan pendengar, malah sedikit memancing tawa. Temuan-temuan tadi saya dapatkan usai bernostalgia saat tak sengaja menemukan data digital album-album “Pesta Rap” volume I-III produksi Musica Studio di sebuah warung internet.
Ingatan saya segera melayang ke koleksi album yang sama dalam format kaset di rak rumah. Dahulu saya hafal luar kepala lirik-lirik banyak lagu rap Indonesia, seperti “Ti Di Dit”-nya Sweet Martabak, atau “Anak Gedongan” dari Sound Da Clan. Harus saya diakui, saya tumbuh menjadi remaja dengan mendengarkan rupa-rupa album hip hop tanah air. Rampung dengan nostalgia sesaat, pikiran saya yang mulai berjarak memunculkan pertanyaan. Apakah semua temuan wagu tersebut dampak logis dari tradisi rapping masa itu yang baru berkembang di Indonesia? Usai saya pikir-pikir lagi, rasanya tidak.
Setidaknya jika ditilik lagi, tradisi rap Indonesia tidak tiba-tiba lahir dari aksi impor budaya itu di permulaan dekade 1990-an. Satu alasan awalnya, kita punya pantun, yang formula ABAB-nya dihafalkan setiap murid SD negeri ini. Soal sensibilitas terhadap rima, kita tak jauh beda dengan manusia dari kebudayaan lainnya. Masyarakat Afrika-Amerika sebagai si empunya tradisi rapping memiliki akar tradisi dari pembacaan puisi spontan saat Distrik Harlem menjadi ibukota kebudayaan Amerika medio 1920-an. Itu pun jika tidak mempertimbangkan budaya perpuisian Afrika yang jauh lebih purba.
Faktanya jelas, pada mulanya adalah ryhming speech, tindak tutur dengan kesadaran penuh akan rima. Kebudayaan manusia yang entah dapat dirujuk pertama kali secara tepat ataut tidak, mewujud pada sebuah upaya yang dipaparkan oleh Elizabeth McMahan sebagai “pengulangan produksi bunyi tertentu dari sebuah ucapan secara efektif, sehingga menghasilkan skema bernama rima,”. Sepertinya hampir semua kebudayaan di penjuru bumi pastilah mengenal atau setidaknya mengembangkan sensitivitas tersendiri mengenai persamaan bunyi di tiap akhir ucapan.
Jika akhirnya hanya etnis Afrika-Amerika yang mematenkan sebuah produk budaya posmodern paling kondang di muka bumi, yaitu rap, tanda dari apakah itu? Bagi saya, tak lain dan tak bukan, sebuah sensibilitas tanpa akhir, pancaran dari kesediaan terus menerus untuk bergulat dengan kata, yang telah dilakoni oleh masyarakat Afrika-Amerika. Semangat kepengerajinan terhadap bahasa yang unik dan otentik.
Menuliskan sejarah rap dan budaya sub-kultur hip-hop tanah air, sepatutnya mencuplik pula sejarahnya yang berakar di New York. Namun agaknya, kisah bagaimana Distrik Bronx kota New York pertengahan dekade 1970-an menghasilkan liturgi Boombox, mixtape, pesta rahasia malam hari, dipandu seorang Disc Jockey, seorang Master of Ceremony, plus dihiasi atraksi seniman street art, lebih pantas dituliskan dalam wahana dan kesempatan yang berbeda agar makin komprehensif.
Yang perlu kita ingat, usia sub-kultur Hip-Hop saat ini sudah mencapai kurang lebih 40 tahun. Untuk kasus Indonesia sendiri, perjalannnya setidaknya berlangsung sejak 25 tahun silam. Gelombang hip-hop datang lebih dahulu di negara ini melalui atraksi tari kejang (pengindonesiaan istilah breakdance yang menggelikan), tren sampingan diskotik Jakarta kala itu. Baru kemudian radio-radio so-called modern ibukota seperti Prambors dan Sonora memutar lagu-lagu Vanilla Ice, MC Hammer, dan lain sebagainya akhir 1980-an.
Pertumbuhan pendengar musik “baru” tersebut segera memunculkan tak hanya fans tapi juga epigon. Fenomena yang wajar dan manusiawi. Lomba-lomba tari kejang menjamur, rapping tak ketinggalan. Jakarta, Bandung, dan Surabaya tercatat menjadi kota-kota Indonesia dimana sub-kultur ini bertumbuh pertama kali.
Epigon paling serius adalah sekumpulan anak orang kaya, mahasiswa elit yang tinggal di perumahan Pondok Indah. Dipimpin oleh seseorang bernama Yudis Dwi Korana, muncul Guest Band. Kelompok musik yang menampilkan repertoire Rhythm and Blues dengan sedikit artikulasi rap. Apapun itu, mereka musisi Indonesia yang terdokumentasikan pertama kali membawakan musik “kulit hitam Amerika Modern” selain yang telah populer lebih dulu seperti jazz, blues, dan soul. Karena memang sudah takdirnya, tahun 1989 Guest bersua dengan seorang pemuda asal Bandung bernama Iwa Kusuma. Ia juga menggilai musik rap, bahkan sepertinya melebihi Yudis cum suis.
Kedua unsur tadi, Guest dan Iwa (yang kemudian mengganti nama menjadi Iwa-K) mendirikan imperium genre rap di industri musik tanah air. Yudis lebih jauh berhasil meyakinkan Musica Studio untuk membiayai proyek gilanya mencari bakat-bakat baru rap tanah air di berbagai kota Indonesia melalui lomba dan menampungnya dalam album kompilasi “Pesta Rap” sebagai hadiah. Berkembanglah bayi rap tadi, dari merangkak lalu berjalan tegak di bumi Indonesia.
Ribuan pendengar baru tercipta berkat kolaborasi Guest dan Iwa. Bisa jadi Blake yang saya ulas di muka termasuk salah satunya (saya juga sepatutnya masuk hitungan). Itulah versi sejarah resmi perkembangan musik rap Indonesia dari berbagai sumber yang dapat saya temukan. Padahal dalam hemat saya, “Kompor Meleduk” gubahan seniman besar Benyamin S. sudah memiliki secuil nafas rapping. Tanpa perlu mendeklarasikan diri, Almarhum Farid Harja dalam tembang “Ini Rindu” tahun 1990 kentara sekali menjiplak olah vokal MC Hammer.
Dengan modal awal yang terbukti tidak nol besar, wajar saja musik rap cukup cepat meledak di permulaan kehadirannya dalam budaya massa Indonesia saat itu. Selanjutnya, unsur imitasi yang naif menggejala hampir di banyak karya yang saya berhasil temui dalam pengamatan yang lebih mendalam. Penggemar musik rap awal di Indonesia adalah mereka yang memiliki akses terhadap media, minimal radio khusus yang memutar lagu-lagu barat. Dapat dipastikan, semua musisi rap tanah air minimal berasal dari kelas menengah baru Indonesia yang ramai bertumbuh masa itu.
Sifat kelas sosial itu yang pada dasarnya elitis tidak menghalangi mereka menyerap aspek-aspek rap yang dalam negara asalnya, malah lebih diakrabi oleh kelas sosial menengah ke bawah. Selain mengimitasi sound-sound khas rap, mereka mengubah gaya penulisan lirik rap a la Amerika (realis dan sadar politik jika merujuk mahzab New York atau deskripsi gaya hidup materialis dan gangster di mahzab Los Angeles) menjadi kontekstual nan kompatibel dengan kondisi negara kita.
Contoh yang coba mereka tiru rupanya detil sekali saat berkisah soal kehidupan jalanan, sehingga musisi rap Indonesia awal menyadari satu fakta. Mereka bukan gangster, mereka berpendidikan dan hidup nyaman, jauh dari hiruk pikuk jalanan sebenarnya. Oleh karena itu deskripsi “Cewek Matre” dari Black Skin, gambaran efek buruk “Taruhan” yang paranoid dari Sub Base D (proyek awal Mizta D), atau kegelisahan eksistensial yang dialami oleh Da Ricuh dalam lirik lagu “Boring” memberi saya semacam sketsa mengenai apa yang mereka lakukan.
Anak-anak muda itu bagaikan ilmuwan dadakan yang penuh antusiasme ketika diberi sebuah pisau analisis baru dalam memandang dunia. Rap membuat anak muda borjuis tadi peka lingkungan. Mencicipi rap, sekaligus bagi mereka seperti mencicipi sedikit rasa “jalanan”. Nuansa kota tetap mereka tangkap, seperti kasus Blake ketika menggambarkan transaksi pelacuran pinggir jalan, tapi tidak terlalu dominan. Ia hanya menggema di sana-sini.
Lebih tepatnya, suasana kota Indonesia tampil atmosferik dalam tradisi musik rap awal. Kesadaran sosial itu memuncak barangkali saat sekelompok anak muda Bandung yang melek wacana dan gemar hip-hop sekaligus, mendirikan sebuah kelompok hip-hop puritan bernama sangar "Homicide".
Namun, tetap ada saja mereka yang tidak mengikuti arus. Dengan santai mereka mereguk kenikmatan eksplorasi rap tanpa pretensi. Tidak sekedar meniru, mereka sudah lebih jauh mencoba menghayati musik ini. Konteks penghayatan ini tidak pada lirik, tapi lebih pada bentuk. Hasilnya adalah lagu tolol macam “Nyamuk” produksi Boyz Got No Brain dan “Ee'”-nya Ucog.
Lirik-lirik beberapa contoh yang saya nukil di atas mungkin saja nonsens, tapi flow mereka jumawa dan canggih. Beberapa saat mengingatkan saya pada flow khas tradisi G-Funk Pantai Barat Amerika seperti Snoop Dogg di album Doggystyle. Rapper dengan fokus eksplorasi tipe-tipe inilah yang hemat saya akan memiliki anak cucu musisi rap ekletik macam Marzuki a.k.a Kill The DJ dan geng-nya di Yogya Hip-Hop Foundation. Kesamaan semangat yang saya maksud adalah membumikan stilistika dan kosakata rap pada tradisi personal serta tidak gentar bereksplorasi.
Karena itulah, saya memunculkan hipotesis lain untuk menjelaskan sebab wagunya lirik bikinan Blake dan lainnya, terutama mereka yang masuk dalam tiga jilid kompilasi “Pesta Rap”. Mulanya musik rap menyentuh kesadaran masyarakat perkotaan Indonesia dalam aspek eksplorasinya pada bentuk. Sifat dinamis namun monoton sekaligus, sangat pas dengan kondisi perkotaan Indonesia awal 1990-an yang tengah memacu diri untuk tinggal landas menjadi salah satu superpower Asia. Proses dialektika dari masa-masa awal menghasilkan kemudian dua arus besar musisi rap Indonesia, mereka yang kuat menggarap lirik dan mereka yang mengutamakan petualangan dalam sound.
Rapper yang kemudian terdokumentasikan aksinya di album Pesta Rap tiga jilid tadi, merupakan generasi X Indonesia yang sadar, bahwa rap hanya medium dan perlu dikontekstualisasikan lagi agar meresonansi kesadaran yang hendak mereka refleksikan. Entah itu soal gaya hidup urban, kondisi kota, kebusukan suasana hidup Orde Baru, hingga gangguan nyamuk malam hari. Karena memang nyatanya, mereka jauh dari pantas untuk disebut gangster yang hidup di jalanan, maka kehidupan “jalanan” pun bertransformasi jadi artifisial penuh modifikasi dalam masa awal perkembangan rap Indonesia.
Oleh : Ardyan M. Erlangga, Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Negeri Yogyakarta yang juga kontributor di Bicarafilm.com serta blog pribadi jijikbanget.wordpress.com
Humaniora