Oleh Andibachtiar Yusuf, filmmaker Saat redaksi Jakartabeat.net meminta saya untuk menuliskan daftar ini, saya langsung berpikir keras. Karena, sebagai penonton setia bioskop dan saya sedang tinggal di Jakarta, maka tentu saja kebanyakan daftar yang saya lihat adalah film Hollywood, maka kemudian daftar ini pun tentu akan didominasi oleh film-film keluaran Hollywood yang memang paling sering saya tonton belakangan. Daftar ini dibuat tanpa urutan mana yang terbaik, tapi dibuat berdasarkan judul yang pertama muncul di benak saya saat menulis, tapi tentu mewakili selera saya di 2009. 1. The Curious Case of Benjamin Button (David Fincher)
Adaptasi luar biasa dari cerita pendek karya Scott Fitzgerald. Transformasi luar biasa dari kisah komedi satir tentang kehidupan menjadi sebuah perenungan tentang makna kehidupan itu sendiri. Dibuat dengan alur naratif, film ini adalah satu dari karya jarang yang menjadikan keadaan sebagai pemicu penggerak karakter. Karakter-karakter di dalam film ini dibentuk dan digerakkan oleh segala keadaan yang terjadi dalam cerita. Penulis cerita Eric Roth yang juga pernah menghasilkan gaya penulisan serupa di Forrest Gump (1994, Robert Zemeckis) kembali tampil gemilang lewat skenarionya ini.
Satu-satunya film yang bisa memberi jawaban lugas atas jawaban setiap wanita saat mereka bertanya “Apakah kamu akan tetap mencintaimu ketika aku menua dan semakin berkeriput,” seperti yang diutarakan Daisy pada Benjamin yang seketika dijawab “Apakah kamu akan juga terus mencintaiku saat aku mengompol dan menangis?” Eksekusi brilian David Fincher yang pernah menggugah lewat Fight Club (1999) benar-benar membuat saya terguncang, gambar-gambar indah yang di setiap shot-nya bagai puisi tentang apa itu kehidupan…..dan saat melangkah keluar bioskop bergumam “Andai saya semakin muda, apakah dunia sama seperti yang kini saya lihat?” 2. Pandorum (Cristian Alvart)
Walaupun bukan penggemar film horror, saya terguncang oleh karya sutradara asal Jerman ini. Setiap sequence adalah penjelasan dari plot yang ia bangun, setiap bagian cerita adalah bangunan baru bagi cerita kompleks yang berhasil ia tuturkan dengan sangat gemilang. Setiap pertanyaan yang timbul di benak penonton di jawab dengan sangat baik.
Imajinasi liar yang luar biasa tentang manusia 200 tahun dari sekarang. Bagaimana umat manusia harus menyelamatkan dirinya dari kemungkinan bencana terbesar yang disebabkan oleh umat manusia sendiri, kerusakan bumi dan kepadatan penduduk tanpa kontrol. Pandorum, film yang membuat saya berpikir ulang tentang apa yang selalu saya pikirkan setiap saat tentang masa depan. Karya yang membuat saya bergumam pada diri sendiri “Saat mereka sudah memvisualkan hari kiamat dan migrasi antar planet…kita masih berpikir tentang pesan moral dan sensor,” 3. District 9 (Nell Blomkamp)
Saya datang ke bioskop tanpa pretensi apapun kecuali menyadari bahwa film ini produksi Afrika Selatan dan Peter Jackson hanya bertindak sebagai Produser. Harapan saya pun terbatas, berhubung referensi sinema Afrika Selatan saya berkisar pada Gods Must Be Crazy (1980) dan sekuelnya (1989) atau Yankee Zulu (1993).
Maka jadilah District 9 sebagai salah satu film yang sangat menginspirasi. Film yang membuktikan bahwa sinema adalah karya seni termodern yang diciptakan manusia setelah sebelumnya mereka menemukan Sepakbola. Ilustrasi luar biasa tentang peristiwa diskriminasi yang melanda Afrika Selatan selama bertahun-tahun digambarkan dengan sangat cerdas dalam film ini. Dengan menggunakan simbol alien, Nell dengan cerdas mengisahkan kegelisahannya terhadap politik apartheid yang pernah membuat negerinya terisolir. Dengan kecerdasan dan gairahnya yang tinggi pada sinema, Nell memberi metode eksekusi yang belum pernah saya lihat sebelumnya.
Jika banyak film lain hanya mampu membuat kita merasa baru saja menyaksikan sebuah kisah, maka lewat D-9 si sutradara berusia 30 tahun ini seolah memberi kita sebuah kisah nyata. Cara eksekusinya yang sulit diprediksi membuat film ini jadi jauh lebih meyakinkan ketimbang Blair Witch Project (1999) atau Cloverfield (2007) yang ingin memberi kita wacara baru tentang pencapaian sinema. Ketika layar menampilkan credit title dan gambar akhir yang sangat dramatis, saya pun bergumam dengan mulut bergetar “Ini dia film aksi dengan sentuhan yang berbeda…apa lagi yang bisa mereka buat di masa depan?”
4. Inglorious Basterds (Quentin Tarantino)
Sebelum ini saya menolak menyebut mantan penjaga rental video ini sebagai seorang maestro, nyatanya saya salah! Lewat re-make briliannya, Quentin menunjukkan kapasitasnya sebagai salah satu Sutradara yang layak disebut Maestro, calon legenda di suatu hari nanti. Setelah terkesan dengan Reservoir Dogs (1992) dan Pulp Fiction (1994) saya seperti kehilangan selera pada dwilogi Kill Bill yang sama sekali bukanlah pencapaian luar biasa.
Basterds mengubah itu semua. Dialog-dialog ala Quentin jarang diterapkan banyak Sutradara lain di generasi apapun. Dialog di kafe dalam Reservoir Dogs terasa seperti sebuah kewajaran dan kedahsyatan. Dialog duo John Travolta dan Samuel L Jackson di dalam mobil atau Tim Roth di kafe sebelum merampok dalam Pulp Fiction sangatlah cerdas. Bahkan pada Kill Bill (2003-2004) yang tidak sebaik karyanya yang lain, Quentin masih memberi ocehan-ocehan segar yang sangat alami, cerdas dan khas sentuhannya.
Pada Inglorious Basterds, kawan baik Robert Rodriguez ini seolah menyempurnakan semuanya. Dialog cerdas dipadukan dengan gerak kamera yang mampu membuat para penonton bertanya “Mau dibawa kemana kita kali in?” Ketegangan yang dibangun lewat dialog antar karakter pada setiap sequence menjadikan film ini menjadi sangat luar biasa. Setiap kata adalah cerita dan setiap shot yang dibuat selalu punya makna. Ketika para bintang disana bermain sangat cemerlang, maka ketika scene terakhir terpajang, saya nyaris lupa bahwa “Sejarahnya gak kayak gitu kok,” 5. Hurt Locker (Kathryn Bigelow)
Karya-karya mantan istri James Cameron ini sungguh patut dicintai. Point Break (1991) adalah perkenalan pertama saya dengan dirinya, lalu saya jatuh cinta pada semua yang kemudian yang ia kerjakan. Kathryn mendefini ulang pemahaman tentang kekerasan, dalam filmnya ia selalu menunjukkan bahwa kekerasan adalah sesuatu yang nyata, tapi kekerasan tidak harus bersifat fisik. Inilah yang ia tunjukkan secara cemerlang di film yang dibintangi oleh Jeremy Renner ini.
Tanpa nyaris tidak melepaskan satupun peluru di sepanjang film, Kathryn mampu membuat penonton terus dicekam ketakutan dan kengerian pada suasana perang. Ancaman demi ancaman serta kekerasan yang ditunjukkan tidak ia berikan dengan umbaran peluru. Ia memilih pendekatan psikis yang bagi saya justru lebih mencekam ketimbang jika kita harus terus melihat aksi tembak menembak.
Dengan caranya, Kathryn memberi pencerahan tentang apa itu film perempuan sebenarnya. Ia memilih keperempuanannya hilang dalam karyanya yang saya percaya sangat laki-laki. Pada film yang hanya tayang sesaat di Jakarta ini, sutradara wanita ini membangun plot dan cara bertuturnya dengan cara yang sangat “kejam”. Inilah film perempuan sesungguhnya. Sutradara kita yang menyebut dirinya membuat film perempuan harus mendefinisi ulang pemikirannya tentang apa itu film perempuan,”
6. Terminator Salvation (McG)
Anda mungkin tidak setuju pada pilihan saya kali ini, well…itu hak Anda. Tapi jika Anda menyetujui bahwa film yang baik adalah film yang mampu membangkitkan sesuatu yang bisa jadi personal pada penontonnya (walau subyektif), maka film itu layak ia pilih sebagai film favoritnya. Itulah argumen saya pada film yang dua kali saya tonton di bioskop ini.
Sepanjang film saya terus diberi kenangan 24 tahun lalu saat baru saja dikhitan dan masih mengenakan sarung menyaksikan Terminator (1984) milik James Cameron, film yang sangat menginspirasi saya untuk terus membuat film-film seru di masa kini. Sesuai tuntutan jaman, film ini memberi plot yang tentu saja berbeda dengan tiga prekuel pendahulunya. Dengan aksi yang sangat tidak jor-joran namun efektif, Terminator Salvation dengan duo Sam Worthington dan Christian Bale adalah salah satu pencapaian film aksi masa kini.
Inilah sebuah film tentang perang masa depan yang sangat lengkap memberikan aksi, di darat, udara dan laut. Terminator yang dulu diisi oleh Arnold Schwarzenegger adalah film yang siang itu di depan video betamax membuat saya terus bergumam “Film kayak gini yang musti gue buat,” maka sore itu di Studio EX XXI saya terus bergumam “Gue musti bikin sekuel keenamnya, Terminator Resurrection!”
7. Balibo (Robert Connolly)
Inilah film yang paling dibicarakan selama dua minggu belakangan ini di Tanah Air. Kisah terbunuhnya lima wartawan Australia yang diduga keras dibunuh oleh pasukan Indonesia saat menginvasi Timor Leste 34 tahun lalu ini dianggap telah melecehkan TNI dan kedaulatan bangsa. Sebagai sebuah karya yang diangkat dari kisah nyata, Balibo telah bertutur dengan cara yang cukup baik. Dengan budget yang sepertinya tidak besar, Rob dengan cerdas mampu memotret saat-saat menjelang jatuhnya Dili ke tangan pemerintah Republik Indonesia.
Dengan plot yang bergerak maju mundur, film ini memberi ruang yang sangat luas untuk bisa menikmati kemampuan visual para pembuatnya. Pembedaan grading warna pada rekonstruksi dengan saat pencarian kelima wartawan tersebut membuat kisah di film ini sebenarnya menjadi mudah dicerna. Balibo adalah sebuah kisah fiksi yang didasarkan pada kisah nyata. Jika kemudian ada beberapa bagian yang didramatisir, hal tersebut sah-sah saja. Karena memang bila tanpa dramatisasi, film bisa terjebak membosankan. Lalu jika pemerintah tidak suka, bikin saja film jawabannya…saya mau kok ngerjainnya. 8. Quarantine (John Erick Dowdle) dan Rec (Jaume Balaguero-Paco Plaza)
Sulit untuk tidak menyatukan kedua film ini bersamaan. Banyak orang bilang bahwa versi aslinya Rec lebih baik dari versi adaptasi Hollywood nya Quarantine. Tapi sebagai orang yang lebih dulu menyaksikan versi re-make nya, sah untuk “terpaksa” menjadikan keduanya satu bagian yang tak terpisahkan. Saya menganggap kisah korban rabies ala Hollywood seolah ingin menyempurnakan pencapaian teknis yang tidak tercapai oleh duet Jaume Balaguero dan Paco Plaza di Spanyol. Dengan gerak kamera handheld dengan harapan efek dokumenter film ini mampu mencapai titik keseraman yang sangat menakutkan. Teknik yang sebenarnya dipopulerkan oleh Blair Witch Project (1999) seolah semakin disempurnakan oleh banyak filmmaker. Film ini adalah pencapaian sekaligus penyempurnaan dari yang pernah dicapai oleh David Myrick dan Eduardo Sanchez 10 tahun silam.
Kengerian dibuat tanpa jarak pada dua film ini, rasa takut dibuat seolah sangat dekat dengan penonton. Dan semua dilakukan tanpa musik, tanpa efek berlebihan, hanya teknik dan cara eksekusi adegan.
9. Public Enemy (Michael Mann)
Johny Depp adalah John Dillinger! Itulah yang muncul dalam benak ini sepanjang film berdurasi nyaris tiga jam. Kisah kehebatan John Dillinger yang sebenarnya tidak lebih dahsyat dari Jacques Mesrine di Perancis atau Kusni Kasdut di Indonesia. Karakter perampok dengan caranya yang brutal dan penuh nyali tampil seperti benar-benar terjadi dalam plot yang dibangun dengan apik pada film ini.
Michael Mann adalah sutradara yang selalu menghasilkan kisah para lelaki lengkap dengan dunianya yang sangat keras. Saya mengagumi hampir semua karyanya seperti Last of The Mohicans (1992), Heat (1995) atau Collateral (2004) yang kesemuanya tak hanya menampilkan kekerasan dalam keindahan, tapi juga pendekatan teknis yang mampu membuat kita merasa bahwa kekerasan dalam layar itu nyata. Dengan kamera teknologi High Definition (HD), Michael tampak leluasa menggunakan perangkat dengan ukuran kecil untuk beberapa gambar yang ia rasa bisa menyulitkan. Dengan sengaja ia pun “merusak” beberapa bagian gambarnya agar terlihat lebih nyata. Malah di beberapa bagian, adegan demi adegan yang dibuat menghasilkan efek yang membuat penonton merasa sedang menonton liputan televisi Crime Buster. Teknik yang sebenarnya sangat sederhana, namun dilakukan dengan cermat dan bijak
|