Oleh Bobby Batara, wartawan film
Seorang rekan menghitung setidaknya ada 83 judul film Indonesia yang muncul di tanah air sepanjang tahun 2009. Selain yang didistribusikan di jaringan arus utama (kelompok 21) ada pula yang hanya diputar di jaringan Blitz Megaplex serta bioskop alternatif macam Kineforum (sebut saja judul Babi Buta yang Ingin Terbang dan Kado Hari Jadi). Jumlah ini malah menurun ketimbang tahun lalu yang mencapai hingga 90-an judul.
Secara kuantitas memang lebih sedikit, namun secara kualitas lebih mengesankan untuk dicatat. Mengesankan di sini bukan lantaran banyak film dibuat dengan biaya raksasa (setiap judulnya bahkan mencapai lebih dari Rp 10 milyar). Bukan itu, melainkan begitu banyak nama sineas baru yang memunculkan karya dengan tema yang lebih beraneka. Cara bertutur mereka lebih jujur, kalau tak mau dibilang lugas. Bahasanya saja lebih eksplisit (sampai-sampai menyinggung kelompok tertentu), apalagi bahasa gambarnya. Film Pintu Terlarang mungkin menyuguhkan gambar yang elok dan menyenangkan. Tetapi tengok saja film Babi Buta Yang Ingin Terbang dari Edwin, sungguh menohok dengan pengulangan gambar yang bikin bosan dan tentu saja menyebalkan. Belum lagi film Keramatnya Monty Tiwa, suguhan gambar serba goyahnya benar-benar bikin mual dan mengundang protes jurnalis generasi lawas.
Demikianlah, tahun 2009 memang tahun yang menarik untuk perfilman tanah air. Berikut ini disajikan sejumlah film nasional yang menarik lantaran alasan-alasan yang disodorkan di atas:
3 Doa 3 Cinta
Masih bagian dari gelombang film drama religi yang menghempas tanah air beberapa tahun belakangan. Suguhan cerita dari Nurman Hakim ini lebih dari sekadar kosmetik yang hanya menghiasi permukaan kulit. Sang sineas justru malah mencoba masuk jauh lebih dalam. Mengapa seseorang bisa terjebak dalam jaringan teroris misalnya, jelas lebih aktual, realistis dan eksotis. Namun mengapa harus menghadirkan bintang macam Dian Sastrowardoyo? Ah, tentu saja ini hanya kompromi terhadap pasar. Itu perlu kok.
Babi Buta Yang Ingin Terbang
Nonton film tidak selalu identik dengan menikmati kenyamanan. Sutradara Edwin datang dengan sebuah antitesis dari apa yang berlaku selama ini. Kian marah penonton, maka kian sukses misi itu. Tembang hits era 80-an milik Stevie Wonder diputarnya berulang-ulang, adegan seks kaum homoseksual itu disorotnya berlama-lama, percakapan yang membosankan itu disodorkan lagi, lagi dan lagi. Kira-kira macam itulah pengalaman pribadinya yang ingin disodorkan kepada penonton. Sekaligus itu pula pesan moral film ini.
Bukan Cinta Biasa
Film religi masih bertahan, namun formatnya telah berevolusi. Dia tak melulu datang dengan ceramah menggurui, yang cerewet dengan petuah-petuah. Cukup melalui teladan sederhana saja ditambah dengan bumbu komedi, cukup sudah. Tanpa terasa dakwah itu mulai merasuk di dalam dada. Mediumnya berupa kisah tentang seorang rocker yang mencoba kembali ke jalan yang benar justru oleh anak hasil ulahnya di masa lalu. Sang ayah harus membuktikan bahwa yang dia punya bukan cinta biasa. Maka dia harus bertobat. Garuda Di Dadaku
Film anak yang direkomendasikan untuk anak. Bayu adalah bocah usia belasan yang berambisi masuk timnas sepakbola. Mimpi itu rupanya terkendala oleh trauma masa lalu dari kakeknya. Nyatanya masalah Bayu diselesaikan dengan cara yang sepele saja di mata orang dewasa. Justru memang demikian seharusnya, film untuk anak dibuat dengan kacamata anak-anak. Kalau harus dengan pola pikir orang dewasa, nanti bingung mereka: ini tontonan untuk saya atau untuk orangtua saya?
Generasi Biru
Sebuah eksperimen unik dari Garin Nugroho. Aneka tembang milik Slank dikompilasi menjadi sebuah rangkaian narasi utuh tanpa dialog, hanya berupa gerakan tari kontemporer. Ekspresi itu diperkaya lagi dengan suguhan animasi dan dokumenter. Apa boleh buat, konsep band Slank yang populis itu kini disulap menjadi elitis dan hanya bisa dimengerti oleh segelintir orang. Ya, lagi-lagi hanya Garin (sendiri) yang punya privilese macam ini di negeri kita.
Identitas
Aria Kusumadewa, salah satu eksponen sinema gerilya, mau berkompromi dengan sinema arus utama? Ini baru berita. Kendati begitu, Aria bukan tanpa amunisi kosong saat berkarya. Dia menyodorkan sebuah karya komedi satir yang unik. Berangkat dari kejadian sehari-hari lewat sosok seorang petugas pengurus mayat di rumah sakit, kemudian dirangkaikannya aneka kekeliruan itu. Hasilnya menarik. Bukan lagi komedi dengan langgam yang generik. Merantau
Tradisi atlet beladiri menjadi aktor marak lagi. Dulu pernah sejumlah atlet macam Advent Bangun, Lamting, Joseph Hungan pindah arena dan berlaga di depan kamera. Kini semangat itu menitis dalam diri pesilat Ikko Uwais. Di tangan Gareth Evans, Ikko menjadikan Merantau sebagai salah satu film nasional yang banyak dibicarakan dengan genre eksyennya. Apalagi kalau bukan lantaran silat harimaunya yang memikat? Perkara cerita harap dikesampingkan, namun sebagai sebuah tontonan, film ini cukup mengasyikkan.
Pintu Terlarang
Ada yang keberatan dengan film Joko Anwar? Tak mengapa. Terserah jurinya saja jika menilai film ini tidak masuk standar festivalnya. Joko datang menyuguhkan kisah thriller psikologis yang membingungkan. Mereka yang menonton dipersilakan untuk mendapatkan kesimpulan yang berbeda-beda. Ini baru perkara cerita. Lain lagi dengan perkara gambar, kali ini Joko memberikan gambar yang berbeda saat dia membuat Kala nan kelam. Di sini jauh lebih cerah dan menyenangkan.
Romeo Juliet
Sineas Andibachtiar Yusuf fasih benar amatannya terhadap dua hal, yakni sepakbola dan kekerasan. Tema sepakbola itu difokuskan lewat asmara dua anak muda dari kubu yang berbeda. Ya, macam cintanya Romeo dan Juliet, tentu saja itu terlarang. Bisa ditebak, kekerasan menyusul kemudian lewat perseteruan antar suporter sepakbola. Dengan bahasa yang lugas dan perkelahian jalanan, Yusuf menyuguhkan tontonan yang alangkah hardcorenya. Keras tanpa batas.
Keramat
Eksperimen Monty Tiwa membuat tak nyaman generasi senior saat menyaksikan film ini. Keramat memang film dengan pendekatan baru gaya anak muda. Gambar-gambar goyang ala film dokumenter itu dipadukan dengan khazanah horor lokal. Hasilnya dahsyat. Jauh lebih menyeramkan ketimbang produk sejenis yang muncul dari belahan barat sana, Paranormal Activity misalnya. Rupanya Monty sukses melakukan inovasi terhadap pola produksi film horor. Jadi, bukan lagi sekadar main aman dengan mengulangi pola-pola yang bikin produser nyaman. |