Home Film Film Nasional di Hari Lebaran
Film Nasional di Hari Lebaran Print E-mail
(0 votes, average 0 out of 5)
User Rating: / 0
PoorBest 
Monday, 28 September 2009 10:32

Oleh Bobby Batara, wartawan film

 

Momen lebaran sejak lama mendapat tempat istimewa di mata produser film lokal. Maklumlah, saat-saat macam ini semua orang mendadak punya duit. Kaum pekerja mendapatkan bonus dari majikannya, sedangkan kaum dhuafa memperoleh zakat yang menjadi jatahnya. Sejenak orang dibuat bingung, rezeki itu mau dihabiskan kemana? Mereka yang punya sanak saudara di kampung segera berangkat mudik. Sekarang bagaimana dengan yang tidak mudik? Kemana lagi kalau bukan ke mal. Seperti diketahui, di ibukota dimana ada mal di situ ada bioskop.

 

 

Dahulu, di era 1980-an film yang dibintangi oleh komedian Warkop selalu rilis mendekati hajat suci ini. Publik yang haus hiburan tentu saja menyambut dengan antusias. Seolah mengamini kredo tertawalah sebelum tertawa itu dilarang, film-film eks Warkop selalu menjadi tambang emas bagi produsernya. Kini, pasca kebangkitan film Indonesia seperti apa sih riwayatnya film yang rilis di hari raya? Ternyata banyak sekali kisah-kisah yang menarik untuk dikupas. 

 

Syahdan, di awal tahun 2000-an, secara kuantitas film Indonesia masih dalam hitungan jari. Namun pasar potensial penonton di lapangan sungguh terbuka lebar, kendati publik masih tampak malu-malu untuk mengakui jika mereka haus akan film Indonesia. Belakangan, produser Mira Lesmana rupanya cukup jeli sebagai pionir untuk menjajakan gambar hidup. Buktinya, dia bisa sukses meluncurkan dua film yang laris manis di pasaran, yakni Petualangan Sherina (sutradara Riri Riza, 2000) dan Ada Apa dengan Cinta? (Rudi Soedjarwo 2002).

 

Uniknya, dengan raihan masing-masing lebih dari satu juta penonton, Mira masih belum menganggap momen lebaran sebagai faktor yang patut diperhitungkan. Film Sherina laris lantaran kekosongan film anak-anak di era tersebut dan diedarkan di musim liburan sekolah, sedangkan  AAdC sukses lantaran belum hadirnya film untuk kalangan remaja dan rilisnya malah di bulan Februari. Sejauh itu, hingga beberapa tahun sesudahnya, belum ada produser yang cukup lihai untuk membaca hari libur lebaran sebagai momen yang tepat untuk melansir produknya.

 

Baru di tahun 2005 muncul produser yang menyadari bahwa ajang hari lebaran amat potensial untuk menjaring calon penonton. Adalah produser Ram Soraya yang meluncurkan film Apa Artinya Cinta (Sunil Soraya) untuk hari lebaran saat itu. Sebulan sebelumnya dia telah melakukan promosi besar-besaran dengan memasang iklan di badan bis PPD di  seantero ibukota. Tak pelak, publik dibuat penasaran untuk menyaksikan film yang dibintangi duet Shandy Aulia dan Samuel Rizal ini. Pasalnya, duet keduanya pula yang sedang memegang rekor raihan penonton di kisaran angka tiga juta lewat film Eiffel  I'm in Love. Perhitungan dinasti Soraya nyatanya benar. Film drama racikannya sukses dan menjadikan tradisi film lebaran selalu disambut meriah oleh penonton.

 

Demikianlah yang terjadi pada film lebaran tahun 2006. Kali ini giliran sebuah legenda horor bertajuk Kuntilanak keluaran rumah produksi MVP Pictures yang nongol. Film arahan Rizal Mantovani ini melenggang sorangan wae di bioskop. Lantaran tanpa pesaing, lebih dari sejuta pasang mata bisa menikmati keseramannya tanpa gangguan yang berarti. Tak ayal, produser Raam Punjabi kemudian rela mengongkosi hingga sekuelnya yang ketiga. Uniknya inilah tahun terakhir dimana film lebaran muncul hanya satu judul di pasaran. Pasalnya, setelah itu para produser, kali ini kelas kakap, mulai banyak yang melirik momen ini sebagai ajang untuk berniaga.

 

Hal ini terbukti di tahun 2007. Setidaknya ada tiga judul film horor yang mengepung satu judul film komedi. Macam akun Friendster milik abg yang sampai berseri-seri, judul-judul macam Kuntilanak 2 (Rizal Mantovani), Pocong 3 (Monty Tiwa) dan Jelangkung 3 (Angga Dwimas Sasongko) berusaha merangsek film Get Married (Hanung Bramantyo ). Namun ikhtiar itu kandas. Ujungnya, film komedi tersebut malah sukses membuat produsernya tertawa lantaran meraih box office. Pun dengan sang sutradara, yang ikut tergelak puas pula dengan drama yang bercerita tentang kesenjangan kelas sosial ini. Sukses ini seolah menjadi pembuka jalan bagi Hanung untuk membuat film laris berikutnya Ayat-ayat Cinta yang rilis beberapa bulan kemudian.  

 

Lain lagi dengan peristiwa lebaran tahun 2008. Boleh jadi ini momen pertarungan paling dahsyat yang pernah ada. Lima judul film nasional bertarung di jaringan distribusi kelompok 21. Masing-masing ada Barbie (Monty Tiwa), Chika (Rocky Soraya), Cinlok (Guntur Suhardjanto), Laskar Pelangi (Riri Riza) dan Suami-suami Takut Istri (Sofyan de Sourza). Sementara itu, di jaringan distribusi sebelah, yakni Blitz Megaplex, hadir film yang tak kalah menariknya, Kantata Takwa (Eros Djarot, Gotot Prakosa). Film ini nyaris saja menjadi fosil setelah didiamkan pembuatnya selama nyaris dua dekade.

 

Pemenangnya sudah bisa ditebak, yakni Laskar Pelangi. Produser Mira Lesmana kembali  membuktikan keampuhan tangan Midasnya bersama sang kolega, sutradara Riri Riza. 4,5 juta penonton membuat senyum puas tersungging di wajahnya dan tentu saja di wajah pemilik bioskop. Novel laris rekaan Andrea Hirata ini sukses diadaptasinya seraya diiringi dengan kiat-kiat promosi yang baik.

 

Agaknya situasi film lebaran tahun 2009 tak kalah menariknya. Get Married 2 (Hanung Bramantyo) mencoba mengulang sukses pendahulunya. Bertarung melawan Ketika Cinta Bertasbih 2 (Chaerul Umam), Hanung mencoba menghadirkan kelucuan yang pernah hadir dua tahun sebelumnya. Di belakangnya, menyusul ada film animasi untuk anak-anak Meraih Mimpi (Phil Mohamad Mitchell), serta langgam komedi yang mengandalkan kebintangan Tora Sudiro, yakni Preman in Love (Rako Prijanto). Seperti diketahui, film yang mengandalkan Tora biasanya selalu laris di pasaran.

 

Pertanyaannya sekarang, film yang mana bakal berjaya di musim lebaran tahun 2009? Jawabannya sungguh menarik untuk diikuti. Mengingat tradisi lebaran yang membuat publik menjadi sangat konsumtif, bisa dipastikan bakal hadir film dengan penonton lebih dari sejuta pasang mata. Kalau sudah begini saya agak malas untuk berandai-andai siapa yang menjadi nomor satu.  Namun, ada baiknya juga untuk menyimak sebuah pesan singkat dari seorang rekan senior yang muncul di ponsel saya dan terkirim tangal 17 September silam. Bunyinya: “Prediks pntn flm Lebaran: GM2 1 jt, KCB2 1 jt, PiL 300 rb, MM 200 rb. (nama yang bersangkutan).”

 

Tentu saja prediksi di atas bukan harga mati. Angka-angka tersebut bisa saja salah. Tinggal tunggu saja hasilnya kelak 1-2 pekan setelah lebaran lewat sehingga bisa diketahui produser mana yang tersenyum puas.       


Bobby Batara
About the author:
Bobby Batara, kelahiran Jakarta yang menimba ilmu komunikasi di ranah Sunda. Akhirnya kini terdampar dalam rimba film Indonesia. Tak soal mau film busuk atau film festival, semuanya dicerna saja. Tentu saja tidak hanya sekadar saksi mata. Menjadi aktor, publisis atau produser film pendek pernah juga dicobanya.
Read More >>


Comments (0)Add Comment

Write comment
smaller | bigger

security code
Write the displayed characters


busy
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 22:15
 
Banner
Banner
Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
Banner

Who's Online

We have 9 guests online

Follow Us On

Facebook Group: 50072354705 Twitter: jakartabeat