Usia tiga tahun, bagi sebuah media, belum berarti apa-apa. Rasanya seperti baru kemarin saat saya dan Taufiq Rahman memutuskan memulai sebuah blog, namanya “Berburu Vinyl”, untuk menumpahkan rasa berdebar-debar setiap kali kami menemukan piringan hitam yang masuk daftar 500 Greatest Albums of All Time versi Rolling Stone Amerika. Di sela-sela kuliah kami di sebuah kampus di Amerika, kami memulai hobi baru (bagi saya baru, tetapi bagi Taufiq adalah sekedar melanjutkan kegilaan yang sudah dimulainya sejak sebelum berangkat ke Amerika) berburu piringan hitam sepanjang tahun 2007-2009.
Perasaan dan pengalaman yang unik dalam berburu piringan hitam RS 500 itu kami tuliskan segera setelah sampai di apartemen kami sepulang dari toko-toko musik independen yang bertebaran di Chicago dan beberapa tempat lain di Amerika. Taufiq, misalnya, pernah menuliskan kisahnya di sebuah toko vinyl besar di Minneapolis, di negara bagian Minnesota. Saya pernah menuliskan betapa senangnya hati menemukan vinyl Sex Pistols di sebuah toko musik independen nan lusuh dan kumuh, di kota kecil Rockford di negara bagian Illinois.
Menyambangi toko-toko musik independen ini sejatinya menumbuhkan pemahaman pada saya pada sebuah ‘gerakan’ perlawanan terhadap toko-toko retail musik raksasa dan mainstream, semacam Walmart, Borders atau Barnes & Noble, adalah mungkin.
Toko-toko musik independen menjadi outlet bagi band-band indie. Yang lebih penting, ia juga membentuk sebuah kultur yang melihat bahwa ‘industri’ musik bisa dipahami dari kacamata yang lain. Bukan dalam kaca mata mainstream yang melibatkan penikmat musik yang pasif dan modal yang besar, akan tetapi dari kacamata yang memungkinkan kita untuk melihat bahwa musik melibatkan keterlibatan emosional yang aktif dari para pencintanya.
Pengalaman menikmati musik, setidaknya bagi saya, menjadi sebuah pengalaman yang adventurous. Seperti sedang berpetualang, masuk dari satu toko musik independen ke toko yang lainnya. Lantas membongkar buku di perpustakaan, mencari tahu satu episode, kisah, dan makna dari munculnya sebuah album yang menandai sebuah zaman.
Di blog Berburu Vinyl itulah saya memulai Jakartabeat.net. Jakartabeat.net kemudian menjadi sebuah periode lanjutan atas keisengan kami yang pelan-pelan berubah menjadi agak serius. Sepanjang 3 tahun ini, spirit yang kami pegang masih sama, yakni spirit non-mainstream.
***
Dalam masa tiga tahun yang pendek ini, Jakartabeat.net sedikit banyak telah melakukan beberapa hal yang semoga bisa berumur panjang. Beberapa cita-cita sudah dipancangkan dan pelan-pelan dilaksanakan. Sejak awal kami ingin membangun sebuah ruang publik online yang memungkinkan sebuah hal ditulis dalam beragam perspektif, dari perspektif yang paling sederhana hingga perspektif yang paling sialan dan paling ngehe sekalipun.
Tahun lalu kami menerbitkan Like This, sebuah buku kumpulan tulisan terbaik yang pernah dimuat di Jakartabeat.net selama 2009-2010. Buku itu tidak dicetak banyak, sekarang sudah ludes tandas. Semoga menjadi teman yang menyenangkan buat Anda yang sempat membelinya. Kami bersenang hati karena buku itu mendapat review yang positif di berbagai media.
Saat merayakan ulangtahun kedua tahun lalu, Jakartabeat.net menyelenggarakan Jakartabeat Music Writing Contest I, sebuah lomba menulis tentang musik untuk mahasiswa se-Indonesia. Tahun ini tidak kami selenggarakan, namun tahun depan akan kami langsungkan kembali. Sejatinya, menyelenggarakan lomba menulis musik seperti yang kami lakukan kemarin menuntut energi yang besar.
Tahun 2011 juga mencatat bahwa untuk pertama kalinya Jakartabeat.net menyelenggarakan sebuah festival musik santai di pinggir danau kampus UI, di seputar kompleks gedung perpustakaan Universitas Indonesia. Saya terinspirasi oleh Pitchfork Music Festival yang diselenggarakan di sebuah taman di kota Chicago, yang saya hadiri saat tengah berjibaku menyelesaikan disertasi di sana.
Bersama rekan-rekan mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di UI, kegiatan itu kami selenggarakan, diberi nama By the Lake Music Festival, yang semoga menjadi ritual tahunan Jakartabeat.net. Ajakan dari berbagai komunitas di daerah untuk menyelenggarakan festival serupa bersama kali sangat banyak kami terima. Dan saya bisa mengabarkan bahwa Jakartabeat.net dengan senang hati tengah mempertimbangkannya.
Sebuah fondasi lain adalah acara rutin yang kami beri nama The Vinyl Countdown. Ini adalah acara memutar piringan hitam bersama, dilanjutkan dengan diskusi. Jakartabeat.net sangat bergembira dan berterima kasih kepada galeri Ruang Rupa di Tebet yang telah menyediakan tempat, dan juga network, untuk penyelenggaraan acara ini. The Vinyl Countdown memutar dan mendiskusikan vinyl Those Shocking Shaking Days yang merupakan album kompilasi dari band-band terkemuka (dan sebagian tidak terkenal) di Indonesia era 1970-an. Diskusi berlangsung meriah dan menyenangkan.
The Vinyl Countdown 2 baru berlangsung tidak sampai dua minggu lalu. Bertopik Punk, Logika Kekuasaan dan Perlawanan, diskusi berlangsung hingga sore. Galeri Ruang Rupa disesaki oleh para peserta diskusi yang antusias mengikuti perdebatan yang berlangsung hangat dan bersahabat.
Buat saya, pengalaman di Ruang Rupa saat berdiskusi soal punk adalah pengalaman baru dan menyenangkan, mengingat inilah acara Jakartabeat.net yang saya hadiri pertama kali karena saya baru pulang setelah merampungkan studi di Amerika di akhir bulan September 2011 lalu.
Acara di Ruang Rupa itu adalah kali pertama saya bertemu langsung dengan sebagian pembaca Jakartabeat.net. Di sana jugalah kali pertama saya bertemu dengan beberapa kontributor Jakartabeat.net. Saya bersahabat, kalau boleh saya klaim begitu, dengan Ucok Homicide sepenuhnya melalui internet, sejak perkenalan dua tahun lalu ketika untuk pertama kalinya saya minta dia untuk menyumbang tulisan ke Jakartabeat.net hingga berdiskusi dan ngobrol banyak hal. Semua via email atau internet.
Di Ruang Rupa minggu lalu saya tersadar ketika seorang peserta diskusi ‘memperbaiki’ istilah yang saya gunakan untuk memahami persoalan yang dihadapi oleh komunitas punk di Aceh beberapa waktu lalu. Saya mengilustrasikan persoalan tersebut dengan menggunakan dikotomi yang dikenal dalam ilmu politik yang saya geluti sebagai high politics versus low politics/everyday politics. Peserta diskusi itu dengan baik dan tepat memberi istilah yang lebih pas yaitu narasi besar versus narasi kecil.
Sesungguhnya, itulah esensi dari Jakartabeat.net: yaitu bahwa kami ingin menciptakan medan-medan narasi kecil, demi menjadi alternatif dari media-media mainstream yang menciptakan narasi-narasi besar yang seringkali kering dan kehilangan makna.
Jakartabeat.net berusaha menciptakan ruang-ruang dan medan-medan narasi kecil. Diskusi soal band-band independen yang dikepung oleh Katy Perry dan Lady Gaga, atau oleh Gigi dan Nidji. Diskusi soal kelompok minoritas yang dikepung oleh rasa waswas atas kemungkinan kesewenang-wenangan kelompok mayoritas. Diskusi off-air kami selenggarakan bukan di café-café mahal, tetapi di ruang-ruang komunitas di Jakarta, Depok, Bandung, Jogja, dan Malang.
***
Seorang teman yang mendalami ilmu komunikasi memberi tahu saya bahwa di kampusnya, sebuah media hanya bisa dijadikan topik skripsi bila media yang bersangkutan telah berusia lima tahun. Tentu masuk akal karena waktu lima tahun mungkin telah cukup untuk menilai kontribusi sebuah media.
Akan tetapi, bagi Jakartabeat.net yang baru berusia tiga tahun, cukup menjadi hiburan ketika seorang pemilik toko piringan hitam di bilangan Kemang Jakarta Selatan menyampaikan ‘teori’nya bahwa sedikit banyak blog Berburu Vinyl yang menjadi cikal bakal Jakartabeat.net dulu itu adalah salah satu faktor yang menyebabkan ‘demam’ piringan hitam kembali menghangat, setidaknya di Jakarta.
Juga amat menyenangkan mendengar beberapa orang yang menyampaikan langsung kepada saya baik secara lisan maupun tulisan via email bahwa kehadiran Jakartabeat.net menjadi inspirasi untuk membuat website/blog serupa.
Di Ruang Rupa minggu lalu saya juga dihampiri seorang anak muda setelah diskusi usai. Ia menyampaikan bahwa ia telah membuat sebuah website yang mendapat inspirasi dari Jakartabeat.net. Jauh sebelum itu, saya merasa seperti tersambar petir ketika seseorang di sebuah kota nun jauh dari Jakarta bilang pada saya bahwa ia memutuskan membuat zine online sendiri setelah gagal menjadi pemenang dalam Jakartabeat Music Writing Contest tahun lalu. Attitude begini sangat menggairahkan. persis seperti saat saya memutuskan membuat Jakartabeat.net: mari menuliskan pendapat kita sendiri, tak hendak pasrah pada suapan media-media mainstream.
Jakarta, 20 Januari 2012
Philips Vermonte
Founder Jakartabeat.net

