Ulasan album pertama di website ini di awal tahun 2011 adalah Let England Shake dari biduan asal Dorset, Inggris, Polly Jean Harvey. Album tersebut begitu bagus, sehingga kami sempat optimis bahwa tahun 2011 akan menjadi salah satu tahun baik di mana begitu banyak album-album musik baik dan bermutu terus dirilis sampai akhir tahun.
Anda boleh tidak setuju dengan kami, namun ternyata harapan kami tidak terwujud karena di luar album Civilian dari Wye Oak, Helplessness Blues milik Fleet Foxes dan The Rip Tide dari Beirut (yang sebenarnya juga sangat standar itu) tidak banyak rilis yang membuat kami cukup peduli dengan musik-musik baru selama tahun 2011. (Album Real Estate Days dan Belong dari Pains of Being Pure At Heart, mungkin banyak disebut sebagai album bagus, namun setelah mendengar puluhan kali di awal tahun ini, kami yakin kalau keduanya sebenarnya biasa-biasa saja, untuk tidak mengatakan buruk). Kami justru lebih peduli dengan rilis-rilis ulang remastered yang terus menerus menggempur pasar mulai dari Siamese Dream versi deluxe, Achtung Baby versi remastered, Nirvana versi ulang tahun ke 20 tahun. Rilis ulang remastered juga dikeluarkan oleh band yang lumayan non-mainstream The Throbbing Gristles dan This Mortal Coil. Ini mungkin menunjukkan kalau tahun ini termasuk tahun paceklik musik bagus sehingga album-album daur ulang semacam itu terus-menerus di tulis ulasannya oleh publikasi musik arus utama.
Pengamatan kami tentang paceklik musik 2011 ini seperti mendapat pembenaran ketika majalah musik Inggris New Musical Express (NME), Uncut dan Mojo, menobatkan Let England Shake sebagai album terbaik tahun 2011. Terbukti bahwa selama sebelas bulan berikutnya, lama setelah album tersebut di rilis di bulan Januari, tidak ada satupun album yang mampu menandingi superioritas artistik dan politis album tersebut. Anda mungkin dengan sinis mengatakan “wajar saja Let England Shake jadi nomer satu, karena NME, Mojo dan Uncut adalah penerbitan Inggris dan sedikit chauvinisme tentu ikut menentukan mengapa PJ Harvey yang menang. Jika Chauvinisme adalah masalahnya tentu saja majalah Rolling Stone Amerika Serikat tidak akan memasukkan album ini ke dalam daftar 50 album terbaik tahun 2011. Memang tidak di nomer satu, mengingat kebiasaan Rolling Stone untuk memasukkan album-album mainstream ekstrim semacam 21 dari Adele di nomer 1, Jay-Z dan Kanye West dengan Watch The Throne di nomer 2, dan bahkan Collapse Into Now R.E.M di nomer 16 (daftar selengkapnya di sini). Namun fakta kalau album ini bisa masuk adalah sebuah prestasi besar.
Atau kalau anda sedikit bisa tahan dengan sinisisme kritikus musik dari Chicago Greg Kot, mungkin anda akan setuju ketika dia mengatakan bahwa Let England Shake, sama seperti Mylo Xyloto dan Born This Way Lady Gaga adalah tiga dari sepuluh album paling membosankan tahun ini. Kami tentu saja tidak setuju dengan Greg Kot.
Let England Shake layak menjadi album nomer satu tahun ini, bukan hanya karena telah memenangkan Mercury Prize, namun karena keberhasilannya menjadi politis tanpa berkhotbah, di era di mana menjadi politis atau menjadi politically correct dengan mudah disergap oleh sinisisme dan tanda tanya. Di halaman website ini, pengulas kami menulis kalau keberhasilan Let England Shake adalah karena ketidakmauanya menjadi satu dimensi dalam memandang kompleksitas kemanusiaan, perang terutama. Dalam daftar lagu protes sosial yang disusun untuk acara radio Rock-n-Roll Exhibition, etnomusikolog Rebekah Moore memasukkan “Let England Shake” (single track-nya) sebagai salah satu lagu protes sosial penting karena kemampuannya untuk menjadi anti-patriotik demi membangunkan kesadaran palsu mereka yang berpegang erat kepada bendera di medan perang. Bahkan ketika Occupy Wall Street sudah gulung tikar, musik politis nampaknya tetap hidup, PJ Harvey adalah bukti itu.

