Wed02222012

Last update10:21:38 AM GMT

Back Pengantar Redaksi

Pengantar Redaksi - Jakartabeat.Net

Music Review Is Dead, Long Live Twitview

Apakah anda masih membeli atau langganan majalah musik cetak? Jika jawabannya iya, apakah anda masih membaca record review mereka? Apakah anda sudah merasa mendapat hak anda sesuai dengan uang yang anda bayarkan? Jika album yang diulas bukan pesanan rekan, manajer atau label kawan mereka, dengan mengabaikan album yang lebih layak, berapa panjang review yang anda baca? Lima belas atau dua puluh kata? Dan jika jawabannya adalah 15 kata maka ini saat yang tepat buat anda untuk berhenti langganan majalah cetak dan membuka Twitter di smartphone anda.

Karena Jakartabeat telah meluncurkan sebuah layanan gratis ulasan musik dalam 140 karakter yang akan selalu terbit tanpa batasan waktu, deadline atau bahkan genre musik bernama @jakbeatreview. Semua kontributor Jakartabeat malu untuk menyebut diri mereka hipster namun ada sebuah karakter hipster yang mereka semua derita, keinginan untuk selalu mendengar musik baru untuk kemudian menuliskannya dalam bentuk review yang sebagian masih akan muncul di website kami.

And then We are Three…(Tiga Tahun Jakartabeat.Net)

Usia tiga tahun, bagi sebuah media, belum berarti apa-apa. Rasanya seperti baru kemarin saat saya dan Taufiq Rahman memutuskan memulai sebuah blog, namanya “Berburu Vinyl”, untuk menumpahkan rasa berdebar-debar setiap kali kami menemukan piringan hitam yang masuk daftar 500 Greatest Albums of All Time versi Rolling Stone Amerika. Di sela-sela kuliah kami di sebuah kampus di Amerika, kami memulai hobi baru (bagi saya baru, tetapi bagi Taufiq adalah sekedar melanjutkan kegilaan yang sudah dimulainya sejak sebelum berangkat ke Amerika) berburu piringan hitam sepanjang tahun 2007-2009.

Perasaan dan pengalaman yang unik dalam berburu piringan hitam RS 500 itu kami tuliskan segera setelah sampai di apartemen kami sepulang dari toko-toko musik independen yang bertebaran di Chicago dan beberapa tempat lain di Amerika. Taufiq, misalnya, pernah menuliskan kisahnya di sebuah toko vinyl besar di Minneapolis, di negara bagian Minnesota. Saya pernah menuliskan betapa senangnya hati menemukan vinyl  Sex Pistols di sebuah toko musik independen nan lusuh dan kumuh, di kota kecil Rockford di negara bagian Illinois.

Edisi Akhir Tahun 2011

Akhir tahun datang lagi beserta ritual-ritualnya. Di Jakartabeat ritual itu adalah keharusan untuk menyusun daftar tentang keluaran budaya apa yang layak dicatat selama setahun terakhir. Kami sudah melakukannya dua kali, dan untuk tahun ketiga ini, mencatat, membuat daftar serta menyusun arsip menjadi semakin penting justru karena dengan social media, Twitter, Facebook dan Tumblr kita semakin mudah dibuat menjadi lupa dengan banjir trivia, gambar dan potongan ingatan yang dengan begitu gampang membuat hal sepele nampak seperti penanda zaman dan sering membuat kita salah dalam membuat keputusan tentang mana yang baik dan buruk.

Daftar-daftar yang akan kami terbitkan selama seminggu ke depan juga adalah klaim kami tentang apa yang baik dan yang buruk selama tahun 2011 dan sebagaiman dengan klaim yang lain kami tidak berpretensi untuk menjadi universal. Namun paling tidak perlu larut untuk mendedahkan jika album Adele 21 adalah album terbaik tahun ini, Naked Traveler bukan buku terbaik tahun ini atau bahwa Stand-Up Comedy bukanlah capaian budaya paling penting selama 2011.

Sebagai wujud keinginan untuk sedikit berbeda daftar yang pertama kali muncul adalah daftar album terbaik Hiphop 2011 yang disusun oleh auteur Hiphop paling dihormati di Indonesia Herry Sutresna a.k.a Morgue Vanguard. Menurut kami tahun ini adalah ketika indie sedang mengalami paceklik dan Hiphop mengalami kemajuan pesat. Segera setelah Ucok akan muncul daftar-daftar yang akan mengejutkan anda. Enjoy!

 

Bagaimana 2011 Menghakimi Let England Shake

Ulasan album pertama di website ini di awal tahun 2011 adalah Let England Shake dari biduan asal Dorset, Inggris, Polly Jean Harvey. Album tersebut begitu bagus, sehingga kami sempat optimis bahwa tahun 2011 akan menjadi salah satu tahun baik di mana begitu banyak album-album musik baik dan bermutu terus dirilis sampai akhir tahun.

Anda boleh tidak setuju dengan kami, namun ternyata harapan kami tidak terwujud karena di luar album Civilian dari Wye Oak, Helplessness Blues milik Fleet Foxes dan The Rip Tide dari Beirut (yang sebenarnya juga sangat standar itu) tidak banyak rilis yang membuat kami cukup peduli dengan musik-musik baru selama tahun 2011. (Album Real Estate Days dan Belong dari Pains of Being Pure At Heart, mungkin banyak disebut sebagai album bagus, namun setelah mendengar puluhan kali di awal tahun ini, kami yakin kalau keduanya sebenarnya biasa-biasa saja, untuk tidak mengatakan buruk). Kami justru lebih peduli dengan rilis-rilis ulang remastered yang terus menerus menggempur pasar mulai dari Siamese Dream versi deluxe, Achtung Baby versi remastered, Nirvana versi ulang tahun ke 20 tahun. Rilis ulang remastered juga dikeluarkan oleh band yang lumayan non-mainstream The Throbbing Gristles dan This Mortal Coil. Ini mungkin menunjukkan kalau tahun ini termasuk tahun paceklik musik bagus sehingga album-album daur ulang semacam itu terus-menerus di tulis ulasannya oleh publikasi musik arus utama.

Pengumuman Pemenang Jakartabeat Music Writing Contest I

Ketika kami sudah hampir putus asa dengan kondisi mutakhir jurnalisme musik di Indonesia, teman-teman peserta lomba menulis Jakartabeat.net membuktikan bahwa kami salah. Kami menerima begitu banyak naskah yang kami asumsikan datang dari seluruh penjuru negeri ini — dewan juri tidak tahu secara pasti karena naskah yang dikirim oleh panitia Jakartabeat Music Writing Contest untuk dinilai hanya memiliki nomor urut belaka, tanpa nama.

Saat membaca naskah-naskah tersebut—tanpa tahu dari siapa dan dari mana—kami sempat lupa bahwa penulis adalah para mahasiswa yang masih berjuang dengan buku, diktat dan tugas kuliah. Beberapa tulisan begitu mencekat, buah pikiran, analisa dan wawancara yang dirangkai menjadi naskah-naskah bermutu layaknya tulisan yang siap dimuat di media musik terkemuka dan/atau jurnal-jurnal etnomusikologi—dengan sedikit tambahan biaya riset tentu saja.

Begitu banyak tema yang dibahas, mulai dari komunitas pecinta jazz, komunitas penyuka post-rock, jatuh bangun dangdut koplo di Pantura, geliat acapella nasyid sampai betapa kuatnya cara pandang patriarkis dalam musik Indonesia selama 30 tahun terakhir, serta beberapa tema yang tidak pernah kami pikirkan sebelumnya, membuat kami justru banyak belajar lagi tentang kondisi nyata di ground zero musik lokal.

Sebagian besar naskah tersebut ditulis dengan gairah dan kecintaan yang begitu dalam terhadap musik Indonesia — maupun musik asing — yang membuat kami percaya bahwa di tengah gempuran musik senada dari industri mainstream para peserta Jakartabeat Music Writing Contest I tetap memilih untuk menjadi berbeda. Bahkan ketika teman-teman peserta menulis tentang musik mainstream kami bisa merasakan ada semacam perlawanan terhadap kemapanan tersebut — dan kami suka semangat itu. Gairah dari mereka yang ikut mengirimkan naskah tidak hanya membuat kami optimis akan masa depan musik Indonesia, namun juga terhadap jurnalisme musik dan kritik musik di Indonesia.

Tentu saja kami harus memutuskan bahwa hanya akan ada tiga naskah yang layak menjadi terbaik. Dan setelah lebih dari satu setengah bulan penjurian — yang melibatkan beberapa pertemuan penuh asap rokok, jus jeruk, donat serta percakapan online di media jaringan sosial dan belasan e-mail—kami memutuskan bahwa tiga naskah inilah yang terbaik.

Juara 1: “Ada Apa Dengan Cen*t Cenut?" Oleh Lhuri Dwianti Rahmartani, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Banyak dari kita — itupun yang pernah mendengar apa itu bahasa atau musik alay, SM*SH, Kangen Band, ST12 bahkan Sherina Munaf — yang dengan mudah merendahkannya sebagai hal yang sepele dan tidak penting untuk dibahas, tidak hanya karena  alay tidak keren, namun juga karena ini adalah fenomena masyarakat menangah ke bawah yang sering luput dari pandangan kita yang lebih sering terpukau dengan apa yang hip dan cool. Analisa musik alay ini tidak hanya mampu menangkap zeitgeist dengan sangat klinikal, bagi kami ini adalah analisa alay pertama yang sahih yang disampaikan dengan bahasa yang segar dan menghibur. Tulisan ini tidak hanya memenuhi kriteria akan kebaruan tema, namun juga mampu menjawab keinginan kami akan kebaruan cara bertutur.

Juara I memperoleh penghargaan Rp 3 juta.

Juara 2: “Surat Terbuka kepada Musisi, Label Rekaman, dan Pelaku Industri Musik Lainnya” oleh Syafiatudina, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada

Tulisan ini berkesan buat kami bukan hanya karena riset yang mendalam terhadap perilaku konsumen musik di pedalaman Jawa, namun lebih penting lagi tulisan ini menyadarkan akan kepongahan kami untuk selalu hanya mengikuti apa yang hip dan cool. Di pedalaman pulau Jawa, fans musik dengan sumber daya terbatas, harus berjuang keras bahkan untuk mendapatkan apa yang sering kita cibir sebagai mainstream, bahkan alay. Tulisan ini juga menjawab pertanyaan kami—dengan jawaban yang meski masih tentatif—akan masa depan musik Indonesia.

Juara II memperoleh penghargaan Rp 2 juta.

Juara 3: “The Flowers—Kisah tentang Sang Bunga” oleh Budi Purnomo, mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah Jakarta

Jika kedua naskah sebelumnya lebih bersifat analitik, tulisan pilihan ketiga kami adalah representasi paling baik dari good ol’ rock journalism, lengkap dengan referensi drugs dan swagger dari musisi rock yang menjadi subyek wawancara. Sangat tepat jika yang ditulis adalah band semacam The Flowers, sebuah band yang masih hidup dalam glorifikasi rock and roll dari era The Rolling Stones. Tulisan inilah yang membuat kami tetap yakin bahwa jurnalisme rock yang kuat akan tetap bisa bertahan di Indonesia.

Juara 3 memperoleh penghargaan Rp 1 juta.

Tiga tulisan tersebut akan segera kami muat dan para pembaca Jakartabeat.net akan bisa setuju dengan kami — atau sebaliknya. Setuju atau tidak, ketiga tulisan di atas -- serta sebagian besar tulisan lain yang telah kami periksa-- telah menjalankan apa yang ditulis oleh Alex Ross di buku Listen To This, yaitu mendemistifikasi seni sampai taraf tertentu, menguliti omong kosongnya, meski tetap menghargai kompleksitas manusia yang telah memberinya hidup (demystify the art to some extent, dispel the hocus pocus, while still respecting the boundless human complexity that gives it life). Selamat kepada ketiga pemenang yang akan bergabung menjadi kontributor Jakartabeat.net. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh peserta pengirim naskah Jakartabeat Music Writing Contest I. Penghargaan kepada pemenang dimungkinkan karena kerjasama dengan Yayasan Interseksi (http://www.interseksi.org/). Untuk itu kami juga mengucapkan terimakasih.

 

Kita akan lanjutkan lagi tahun depan, di Jakartabeat Music Writing Contest II!

 

***

Dewan Juri: Anwar Holid, Harlan Boer, Roby Muhamad, Taufiq Rahman

 

Two Years of Jakartabeat.net: the Oral History

Jakartabeat.net is a web magazine discussing and dissecting music, film, books and human interests which occasionally joins the political discussion that takes place in Jakarta, the capital city of Indonesia.