Ketika kami sudah hampir putus asa dengan kondisi mutakhir jurnalisme musik di Indonesia, teman-teman peserta lomba menulis Jakartabeat.net membuktikan bahwa kami salah. Kami menerima begitu banyak naskah yang kami asumsikan datang dari seluruh penjuru negeri ini — dewan juri tidak tahu secara pasti karena naskah yang dikirim oleh panitia Jakartabeat Music Writing Contest untuk dinilai hanya memiliki nomor urut belaka, tanpa nama.
Saat membaca naskah-naskah tersebut—tanpa tahu dari siapa dan dari mana—kami sempat lupa bahwa penulis adalah para mahasiswa yang masih berjuang dengan buku, diktat dan tugas kuliah. Beberapa tulisan begitu mencekat, buah pikiran, analisa dan wawancara yang dirangkai menjadi naskah-naskah bermutu layaknya tulisan yang siap dimuat di media musik terkemuka dan/atau jurnal-jurnal etnomusikologi—dengan sedikit tambahan biaya riset tentu saja.
Begitu banyak tema yang dibahas, mulai dari komunitas pecinta jazz, komunitas penyuka post-rock, jatuh bangun dangdut koplo di Pantura, geliat acapella nasyid sampai betapa kuatnya cara pandang patriarkis dalam musik Indonesia selama 30 tahun terakhir, serta beberapa tema yang tidak pernah kami pikirkan sebelumnya, membuat kami justru banyak belajar lagi tentang kondisi nyata di ground zero musik lokal.
Sebagian besar naskah tersebut ditulis dengan gairah dan kecintaan yang begitu dalam terhadap musik Indonesia — maupun musik asing — yang membuat kami percaya bahwa di tengah gempuran musik senada dari industri mainstream para peserta Jakartabeat Music Writing Contest I tetap memilih untuk menjadi berbeda. Bahkan ketika teman-teman peserta menulis tentang musik mainstream kami bisa merasakan ada semacam perlawanan terhadap kemapanan tersebut — dan kami suka semangat itu. Gairah dari mereka yang ikut mengirimkan naskah tidak hanya membuat kami optimis akan masa depan musik Indonesia, namun juga terhadap jurnalisme musik dan kritik musik di Indonesia.
Tentu saja kami harus memutuskan bahwa hanya akan ada tiga naskah yang layak menjadi terbaik. Dan setelah lebih dari satu setengah bulan penjurian — yang melibatkan beberapa pertemuan penuh asap rokok, jus jeruk, donat serta percakapan online di media jaringan sosial dan belasan e-mail—kami memutuskan bahwa tiga naskah inilah yang terbaik.
Juara 1: “Ada Apa Dengan Cen*t Cenut?" Oleh Lhuri Dwianti Rahmartani, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Banyak dari kita — itupun yang pernah mendengar apa itu bahasa atau musik alay, SM*SH, Kangen Band, ST12 bahkan Sherina Munaf — yang dengan mudah merendahkannya sebagai hal yang sepele dan tidak penting untuk dibahas, tidak hanya karena alay tidak keren, namun juga karena ini adalah fenomena masyarakat menangah ke bawah yang sering luput dari pandangan kita yang lebih sering terpukau dengan apa yang hip dan cool. Analisa musik alay ini tidak hanya mampu menangkap zeitgeist dengan sangat klinikal, bagi kami ini adalah analisa alay pertama yang sahih yang disampaikan dengan bahasa yang segar dan menghibur. Tulisan ini tidak hanya memenuhi kriteria akan kebaruan tema, namun juga mampu menjawab keinginan kami akan kebaruan cara bertutur.
Juara I memperoleh penghargaan Rp 3 juta.
Juara 2: “Surat Terbuka kepada Musisi, Label Rekaman, dan Pelaku Industri Musik Lainnya” oleh Syafiatudina, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada
Tulisan ini berkesan buat kami bukan hanya karena riset yang mendalam terhadap perilaku konsumen musik di pedalaman Jawa, namun lebih penting lagi tulisan ini menyadarkan akan kepongahan kami untuk selalu hanya mengikuti apa yang hip dan cool. Di pedalaman pulau Jawa, fans musik dengan sumber daya terbatas, harus berjuang keras bahkan untuk mendapatkan apa yang sering kita cibir sebagai mainstream, bahkan alay. Tulisan ini juga menjawab pertanyaan kami—dengan jawaban yang meski masih tentatif—akan masa depan musik Indonesia.
Juara II memperoleh penghargaan Rp 2 juta.
Juara 3: “The Flowers—Kisah tentang Sang Bunga” oleh Budi Purnomo, mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah Jakarta
Jika kedua naskah sebelumnya lebih bersifat analitik, tulisan pilihan ketiga kami adalah representasi paling baik dari good ol’ rock journalism, lengkap dengan referensi drugs dan swagger dari musisi rock yang menjadi subyek wawancara. Sangat tepat jika yang ditulis adalah band semacam The Flowers, sebuah band yang masih hidup dalam glorifikasi rock and roll dari era The Rolling Stones. Tulisan inilah yang membuat kami tetap yakin bahwa jurnalisme rock yang kuat akan tetap bisa bertahan di Indonesia.
Juara 3 memperoleh penghargaan Rp 1 juta.
Tiga tulisan tersebut akan segera kami muat dan para pembaca Jakartabeat.net akan bisa setuju dengan kami — atau sebaliknya. Setuju atau tidak, ketiga tulisan di atas -- serta sebagian besar tulisan lain yang telah kami periksa-- telah menjalankan apa yang ditulis oleh Alex Ross di buku Listen To This, yaitu mendemistifikasi seni sampai taraf tertentu, menguliti omong kosongnya, meski tetap menghargai kompleksitas manusia yang telah memberinya hidup (demystify the art to some extent, dispel the hocus pocus, while still respecting the boundless human complexity that gives it life). Selamat kepada ketiga pemenang yang akan bergabung menjadi kontributor Jakartabeat.net. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh peserta pengirim naskah Jakartabeat Music Writing Contest I. Penghargaan kepada pemenang dimungkinkan karena kerjasama dengan Yayasan Interseksi (http://www.interseksi.org/). Untuk itu kami juga mengucapkan terimakasih.
Kita akan lanjutkan lagi tahun depan, di Jakartabeat Music Writing Contest II!
***
Dewan Juri: Anwar Holid, Harlan Boer, Roby Muhamad, Taufiq Rahman