Home Artikel Solilokui
solilokui
Merenungi Hidup dan Umur Print E-mail
Saturday, 20 February 2010 22:27
Oleh Ciptadi Sukono, karyawan perusahaan swasta di Jakarta
 
 

Selalu ada beda usia psikologis dan usia biologis. Itu kesimpulan saya beberapa waktu lalu. Riri, istri saya, misalnya, tetap merasa berada di usia awal dua puluhan, meskipun sekarang menuju penghujung tiga puluhan. Semula saya tak percaya. Tapi ada teman lain dengan pengakuan mirip. Selalu merasa di usia dua puluh sembilan, saat sekarang memasuki paruh usia tiga puluh. Sohib remaja saya lebih 'parah'. Selalu merasa dia anak di usia delapan belasan, dengan semua optimisme dan kenaifannya! Belakangan saya banyak bertanya pada diri saya sendiri. Kalau dipikir-pikir, saya selalu berada di ujung sebaliknya. Selalu merasa lima sampai sepuluh tahun lebih tua dari usia saya yang sesungguhnya.

Saya tidak tahu apakah ini punya dampak pada ritme dan cara kami merespon kehidupan. Yang pasti Riri, misalnya, lebih grounded dan cenderung take it easy dengan kesulitan keseharian. Saya sebaliknya, lebih penuh angan-angan, lebih mellow dan gelap, meski sesekali sama juga efektifnya dalam menyelesaikan masalah. Tapi setelah menimbang-nimbang, kalau secara alami mode psikologis saya memang cenderung lebih maju beberapa tahun kedepan, kenapa harus repot? Sekarang, saya berhenti memikirkan perihal usia psikologis dan biologis ini. Pokoknya, jalani saja!

Last Updated on Saturday, 20 February 2010 22:46
 
Laskar Politisi Bahagia Print E-mail
Sunday, 05 April 2009 11:34

Oleh Amir Mahmud, penulis lepas, tinggal di Cirebon

 

Pada mulanya sederhana saja. Seseorang yang ingin menuliskan kenangan untuk guru yang sangat dicintainya. Guru yang berjasa besar dalam menanamkan semangat bagi kehidupannya kelak. Tapi, ceritanya kemudian berubah ketika seorang temannya mengirimkan memoar tersebut ke sebuah penerbit. Bahkan memoar tadi beranak pinak sampai menjadi 4 buku. Dan, kita sekarang mengenalnya sebagai tetralogi “laskar pelangi”. Bahkan, ketika difilmkan, pun meledak.

Maka perjalanan hidup penulisnya pun bak kisah novel. Sampai akhirnya menjadi selebritas. Seseorang yang disebut di awal tadi adalah Andrea Hirata. Ya, semuanya berawal sederhana saja. Sampai menjadi luar biasa. Semuanya tidak lepas dari effort (usaha) seseorang dalam menjalankan hidupnya.

Last Updated on Sunday, 19 April 2009 00:42
 
Ngalor-Ngidul tentang Keinginan dan Kemewahan Print E-mail
Saturday, 21 February 2009 13:44
Oleh Ciptadi Sukono, alumni ITB, sekarang bekerja di Jakarta

 

Beberapa hal dalam hidup kita, ditakdirkan tak pernah bisa kita lupakan. Beberapa hal itu kadang-kadang sesuatu yang amat sepele. Misalnya canda tawa teman kecil, atau pidato kepala sekolah. Kadang-kadang juga kisah yang kita baca atau dengarkan. Seperti kisah berikut ini. Saya membacanya lebih dari 15 tahun yang lalu. Meski tak jelas lagi judul pustaka, dimana, dan kapannya, inti tuturan kisah tersebut masih segar di labu kepala saya.

   

 

Begini, kira-kira…

 

Dulu, duluuu sekali, pada sebuah perjamuan malam, seorang pangeran muda terlibat dalam perdebatan hangat dengan seorang ulama pengelana. Setelah tuhan, cinta dan perang, lalu keadilan, juga sedikit tentang perempuan dan estetika, perbincangan hangat itu berujung pada tema yang paling sederhana, yakni perihal apa yang paling diingini manusia..

Last Updated on Saturday, 18 April 2009 15:45
 
Facebook: the Jompo vs. the ABG dan Blackhole Dunia Maya Print E-mail
Thursday, 19 February 2009 21:04

Oleh Tika Sukarna, mahasiswa City University of New York

 

Ikutan gosip-gosip miring FB (http://blog.facebook.com/) saya jadi kepikiran bahwa masalah sebenarnya adalah bahwa generasi Jompo vs. ABG itu sudah beda jauh deh cara mikirnya. Generasi ABG saat ini memang dari jaman di perut sudah hidup di dunia internet. Mereka tidak masalah untuk posting segala macam di internet untuk di lihat-lihat orang, termasuk no.hp, alamat rumah dan apa yang ada di laci baju pendalaman mereka, disebarluaskan, jadi milik rame-rame. Ya itu memang dunia mereka.  Kenapa mesti takut? Apa masalahnya sih?

Ya orang-orang seperti saya ini sudah termasuk jompo sepertinya. Karena saya masih takut-takut kalau posting/uploading, takut nanti foto saya di cropping campur bodynya Pamela Anderson, bikin bete! Anak ABG sih pikir itu biasa aja kali, kenapa mesti dibikin bete? Lah, saya bilang, itu kan foto saya!? (Anak ABG kali bete juga, atau ilfil atau apa deh istilahnya sekarang, kalau foto mereka di cropping jadi keliatan jompo atau mulutnya jadi keliatan senyum manis, bukan manyun bentuk cium, tapi ya mereka pikir memang hidup itu seperti itu).

 

Last Updated on Sunday, 19 April 2009 05:25
 
Ode Buat Pemilu Print E-mail
Friday, 06 February 2009 00:01

Andibachtiar Yusuf, film maker

 

Gajinya cuma 50 juta kok, tapi kalo rapat bisa dapet tambahan lumayan lha, belum lagi kalo keluar kota,” ujar seorang teman tentang berapa pendapatan bulanan yang akan ia dapat jika mampu memenangkan kursi di daerahnya. Saat itu juga pandangan saya tentang berapa rupiah angka sebenarnya yang dibutuhkan untuk bisa hidup perbulan jadi goyah. Berita-berita tentang antrian panjang berjubel yang bisa menyebabkan kematian demi uang 100 ribu perak yang dijatah perbulan jadi serasa dongeng media massa saja. Cerita teman saya tentang seorang siswa SMA yang dipukuli sampai mati hanya karena kurang 2000 rupiah saat harus membayar pelacur yang baru saja ia “pakai” serasa menjadi selevel dengan kisah-kisah Hans Cristian Andersen. Angka 50 juta rupiah disebut ‘cuma’ padahal bagi banyak orang, 50 juta rupiah hanyalah impian di tengah hari bolong.

Pekerjaan macam apa sih sebenarnya yang akan dijalani oleh teman saya sehingga ia akan menerima gaji sebesar itu dengan nilai subyektif ‘cuma’? Secara teori tentu saja sangat berat, ia akan mewakili sebuah komunitas di wilayahnya di sebuah propinsi di kursi parlemen. Tugasnya sangat berat karena para individu di komunitas apapun selalu memiliki nilai subyektif yang berbeda, menjadi semakin berat karena ia akan menjadi wakil bagi orang Indonesia yang praktis belum tentu memiliki kesadaran obyektif setinggi banyak bangsa di negara-negara maju.

Last Updated on Saturday, 18 April 2009 15:51
 
More Articles...
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Page 1 of 2
Banner
Banner
Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
Banner

Who's Online

We have 10 guests online

Follow Us On

Facebook Group: 50072354705 Twitter: jakartabeat