|
Thursday, 02 April 2009 21:04 |
|
Oleh Teguh Santosa, wartawan, mahasiswa University of Hawaii-Manoa
Pengantar redaksi: tulisan ini didasarkan atas hasil visum atas para pahlawan revolusi. Penulis sempat mengunjungi dr. Lim Joey Thay, salah satu anggota tim dokter yang melakukan visum itu di tahun 1965 yang masih hidup. Tulisan ini adalah tulisan 1 dari 2 tulisan. Di atas kursi roda, mengenakan kaos oblong putih dan sarung biru bergaris-garis, Lim Joe Thay duduk terdiam. Bibirnya mengatup, sering kedua telapak tangannya ditangkupkan di depan dada dan sekali-sekali diletakkan di atas paha. Rambutnya telah memutih sempurna. Dia tak banyak bicara. Kalau pun bersuara, kata-katanya terdengar sayup dan samar.
Sekali waktu laki-laki yang kini berusia 83 tahun itu bergumam. Mumbling. Saya mencoba menangkap isi ceritanya. Tidak jelas. Terpotong-potong, patah-patah. Kalau disambungkan seperti cerita tentang sepasukan tentara yang bergerak di sebuah tempat, entah di mana. Tapi cerita itu tak tuntas. Dia menutup sendiri ceritanya, mengalihkan pandangan mata ke sembarang arah, sebelum kembali menenggelamkan diri dalam diam. Di saat yang lain, dia kembali menanyakan nama saya. Dan kalau sudah begini, saya memegang tangannya, menyebutkan nama saya sambil menatap matanya. Setelah itu senyumnya sedikit mengembang. Dikenal dengan nama dr. Arif Budianto, tak banyak yang menyadari Lim Joey Thay adalah tokoh penting. Sangat penting, bahkan. Dia adalah satu dari segelintir orang yang berada di titik paling menentukan dalam sejarah negara ini setelah Proklamasi 1945.
Pagi hari 4 Oktober 1965 pasukan yang dipimpin Pangkostrad Mayjen Soeharto menemukan tujuh mayat perwira Angkatan Darat yang diculik dan dibunuh Gerakan 30 September tiga hari sebelumnya. Ketujuh perwira naas itu adalah Menteri Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani, Deputi II Menpangad Mayjen R. Soeprapto, Deputi III Menpangad Mayjen MT. Harjono, Deputi IV Menpangad Brigjen DI. Panjaitan, Oditur Jenderal/Inspektur Kehakiman AD Brigjen Soetojo Siswomihardjo, Asisten I Menpangad Mayjen S. Parman, dan Lettu P. Tendean (Ajudan Menko Hankam/KASAB Jenderal AH Nasution). |
|
Last Updated on Sunday, 19 April 2009 00:00 |
|
Thursday, 02 April 2009 20:59 |
|
Oleh Teguh Santosa, wartawan, mahasiswa di University of Hawaii-Manoa
Pengantar redaksi: tulisan ini didasarkan atas hasil visum atas para pahlawan revolusi. Penulis sempat mengunjungi dr. Lim Joey Thay, salah satu anggota tim dokter yang melakukan visum itu di tahun 1965 yang masih hidup. Tulisan ini dibagi dalam dua bagian. Tulisan ini adalah bagian 2 dari 2 tulisan. Begitulah. Sejarah, kata sementara orang, adalah catatan para pemenang. Dus arti sebaliknya adalah: orang yang kalah tak punya hak untuk ikut menuliskan sejarah. Di bawah rezim otoriter, pemerintah pusat adalah satu-satunya pihak yang punya hak untuk menentukan mana yang dapat disebut sebagai fakta sejarah dan mana yang tidak. Dengan menggunakan stabilitas politik sebagai dalih pembangunan nasional, pemerintahan Orde Baru mempabrikasi versi mereka tentang konstruksi sejarah nasional, termasuk dalam hal ini, sejarah mengenai peristiwa G30S yang menjadi pondasi rezim berusia tiga dasawarsa itu. Bagi pemerintahan Soeharto, cerita dan sejarah mengenai peristiwa itu datar dan sederhana: ia diotaki oleh PKI dan klik kiri yang berada di dalam tubuh Angkatan Darat, serta G30S dinyatakan sebagai gerakan yang berusaha untuk menggantikan Pancasila yang pro-Tuhan dengan komunisme yang anti-Tuhan. |
|
Last Updated on Sunday, 19 April 2009 00:01 |
|
Wednesday, 28 January 2009 22:46 |
|
Oleh Kartawijaya, salah satu pendiri Orkes Keroncong Rindu Order, pembuat film dokumenter Bagaimanakah sebuah nama dilahirkan? Tentunya banyak cara dan versi, dari yang lucu, yang serius, hingga yang berdarah-darah melalui peperangan yang panjang. Ada seorang teman ketika menunggu kelahiran anaknya berjibaku mencari nama yang bisa sesuai dengan harapan orang tuanya di kemudian hari kelak, dari mulai berburu buku-buku tentang hikayat nama hingga kemudian melakukan perjalanan dengan menemui berbagai orang yang dituakan, maka dapatlah namanya. Teman ini terinspirasi pada pembicaraan suatu sore dengan Herry Dim (seorang seni rupawan Bandung) di sebuah gedung dengan latar belakang padang ilalang, “Bagamanapun, nama adalah doa”, kata Herry Dim sambil mengusap kaca matanya yang buram dengan ujung kaos merk swang. Ada juga seorang elit salah satu desa di Kabupaten Pasuruan melakukan tirakat tiga hari tiga malam tidak makan dan tidur karena mendapat tugas memberi nama sebuah taman desa yang baru dibangun untuk kepentingan lomba desa, maka dapatlah nama itu di hari keempat lewat mimpinya. Lebih dahsyat lagi kalau kita berkeliling di wilayah-wilayah transmigrasi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, atau Papua, banyak nama-nama desa lahir dari harapan penduduknya, misalnya Sumber Mulia, Suka Hurip, Mulia Bahagia, dan lain-lain. Atau yang lebih lucu adalah wilayah transmigrasi pelajar yang dilakukan pada jaman kolonial Belanda di Wilayah Kabupaten Tanggamus-Lampung, di sana nama-nama Kabupaten di pulau Jawa menjadi nama-nama Desa, ada desa Ngawi, ada desa Cimahi, ada desa Sukoharjo, dan lain-lain. Lalu, bagaimana nama Batavia pertama kali dipakai? |
|
Last Updated on Sunday, 19 April 2009 00:00 |
|
|