Home Artikel Esai
Kolom
Kelompok Lippo Main (di) Film Print E-mail
Saturday, 31 January 2009 08:21

Oleh Bobby Batara, wartawan film

 

Tanpa terasa, tahun 2009 sudah memasuki bulan kedua. Hal ini ditandai pula dengan fenomena menarik yang muncul dari ranah film nasional. Perkara menarik ini mengemuka lantaran aroma yang muncul di sini cenderung berada di luar pernik-pernik sinematografi. Aduh, memangnya ada perkara apa sih?



Hadirnya film Sepuluh arahan Henry Riady jelas sebuah isu menarik. Rumah produksinya terhitung anyar, yakni First Media Productions. Nama ini awalnya bergerak di sektor televisi kabel berbayar. Institusi ini merupakan sebuah unit usaha di bawah naungan kelompok Lippo milik dinasti Riady. Tentu saja ini merupakan sebuah pertanda merapatnya dinasti konglomerat ini ke dalam industri perfilman nasional. Wow.

Awalnya, konglomerasi Lippo bergerak di bidang bisnis keuangan. Nama Bank Lippo sempat beken sebelum belakangan dimerger dengan Bank Niaga. Kemudian bisnis mereka merambah ke sektor retail dan juga properti yang cukup harum di sini, Beberapa kantong pemukiman elit macam Lippo Karawaci dan Lippo Sentul menandai kuatnya cengkeraman kuku kelompok ini.

Dekade belakangan, grup Lippo mulai mencoba merambah ke sektor media massa. Televisi kabel misalnya, Lippo muncul dengan bendera Kabelvision. Belakangan nama tersebut berganti menjadi First. Beberapa media cetak lain macam harian Investor Daily atau Jakarta Globe juga menjadi mainan mereka.


Nah, bagaimana dengan Henry Riady? Sutradara ini masih belia, yakni baru 19 tahun. ”Henry adalah sutradara film cerita komersial termuda di tanah air,” ucap seorang rekan wartawan senior. Dia anak keempat dari James Riady (Li Bai), cucu dari Mochtar Riady (Li Mo Tie atau Li Wenzheng) dan tercatat sebagai mahasiswa semester 4 jurusan sinematografi di Biola University, Los Angeles.

Last Updated on Saturday, 18 April 2009 08:22
 
Lawakan PSSI yang Tidak Lucu Print E-mail
Friday, 30 January 2009 19:42

Oleh Andibachtiar Yusuf, film maker & football reverend

 

“Indonesia akan mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022!!!” adalah berita yang menghiasi banyak media utama di tanah air beberapa hari terakhir. Selang dua hari setelah berita itu muncull, kawan saya Michal yang rajin mengupdate sebuah website sepakbola berbahasa Polandia mencoba mengonfirmasi berita ini pada saya. Salah satu poin pertanyaan dia bahkan lebih bombastis lagi, bahwa kita akan bersatu dengan Jepang untuk menjadi tuan rumah bersama. Info yang ia sendiri tidak percaya tapi ia dapatkan dari sebuah surat kabar di negerinya, Polandia.

Saya dan Michal belum pernah bertemu, tapi kami beberapa kali menulis bersama tentang sepakbola. Saya memberi dia info tentang seperti apa negeri kita dan aura sepakbolanya yang dahsyat itu. Saya juga menjelaskan sepanjang 23 halaman artikel tentang perjalanan panjang para supporter sepakbola di negeri kita ini. Mulai para Bonek yang dengan “gagah berani” menuju Jakarta hanya dengan bekal 15 ribu rupiah alias lebih sedikit dari 1 euro, sampai puluhan atau kadang ratusan kapal yang berlayar di laut Arafuru demi satu nama terkenal di sana Persiter dari Ternate.

Michal dengan penuh antusias mencoba mengonfirmasi berita ini dari saya dan seperti Obe kawan saya yang sangat antusias, Michal berkata dalam emailnya “I hope I can live 13 years older to see with my own eyes the greatest football passion story that you told me,” Saya bangga pada keinginannya, seperti saya senang pada kalimatnya pada saat kam ipertama kali berkenalan “Your film showed me that football is not about those stupid merchandise or business like what we have here in Europe,”

Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 23:19
 
Menjadi Indonesia Print E-mail
Tuesday, 27 January 2009 05:23

Oleh Andibachtiar Yusuf, film maker & football reverend

 

“Adalah sebuah kehormatan untuk bisa bermain di Piala Dunia, namun saya lahir di Argentina dan hanya akan bermain untuk negeri ini,” ujar Daniel Bilos, striker Boca Juniors selepas membaca surat permintaan resmi yang ditulis sendiri oleh Presiden Kroasia, Stjepan Mesic. Bilos warga Argentina, namun darah Kroasia yang mengalir deras dari pihak kakeknya, memberi ia kemungkinan untuk turun di pertandingan internasional mewakili Kroasia, tanah leluhurnya.

 

Surat itu sendiri konon diantarkan langsung oleh Menteri Luar Negeri Kroasia yang ditemani oleh Duta Besar Kroasia untuk Argentina. Bilos adalah penyerang yang mematikan, bagi Kroasia ia adalah aset berharga sementara bagi Argentina ia hanyalah pemain semenjana yang sulit bersaing di level tertinggi. Mengapa pemain bertinggi 192 cm ini menjadi begitu penting bagi Kroasia? “Sepakbola memperkenalkan negeri ini pada dunia, kami berhutang budi sangat besar pada sepakbola,” ujar Dejan Simeunovic, wartawan asal negeri berpenduduk 4,5 juta jiwa tersebut.

 

Benarkah demikian? Mari kita tarik sedikit ingatan kita ke belakang. Yugoslavia adalah sebuah negeri persekutuan yang menyatukan beberapa negara di kawasan Balkan. Persekutuan yang menyatukan Serbia, Montenegro, Bosnia, Kroasia, Macedonia dan Slovenia ini berdiri selepas Perang Dunia I. Saat itu blok timur sedang beridiri kokoh dan Yugoslavia adalah salah satu pilarnya.

Last Updated on Saturday, 31 January 2009 07:17
 
Beruntunglah Sepakbola Indonesia Print E-mail
Sunday, 25 January 2009 03:25

Oleh Andibachtiar Yusuf, Filmmaker & Football Reverend

 

Pasukan pemerintah El Salvador memasuki perbatasan Honduras karena sepakbola. Seorang suami menembak mati istrinya karena sepakbola di Bucharest. Seorang pria memuncratkan isi kepalanya dengan sebuah peluru karena sepakbola di Buenos Aires. Ribuan supporter Liverpool membantai tifosi Juventus atas nama sepakbola di Brussels. Di jalan raya Istambul, pendukung Galatasaray memukuli dan menikam mati dua pendukung Leeds United karena sepakbola.  Di alun-alun kota Roma, seorang wanita memamerkan buah dada dan kemaluannya karena sepakbola. Sementara itu di Jakarta, seorang pria menceraikan istrinya juga karena sepakbola.

 

Kaget? Jangan dulu karena misteri sepakbola juga merambah jauh sampai ke Indonesia. Jangan dulu bangga jika sudah merasa menjadi penggila sepakbola. Berkoleksi segala pernik sepakbola, menonton seluruh pertandingan yang disiarkan TV swasta, rajin datang ke acara nonton bareng di kafe-kafe. Apalagi kalau cuma rutin  main sepakbola baik di lapangan killer maupun senayan, itu bukan jaminan bahwa Anda adalah seorang maniak sepakbola.

 

Anda boleh saja merasa sudah gila pada sepakbola ketika seluruh nama pemain di liga terkemuka Eropa dan Amerika Latin terhafal di luar kepala. Wallpaper dan screensaver di komputer laptop bergambarkan bintang-bintang dunia, atau mungkin Anda selalu membawa sepatu bola kemana-mana.

 

Tapi, pernahkah Anda kabur dari meeting, mengundurkan diri dari kantor atau memutuskan pacar Anda karena sepakbola. Kalau komentar Anda adalah “Hanya gara-gara sepakbola kok bisa jadi kayak begitu?” terhadap contoh soal diatas, maka Anda belum layak dikatakan sebagai seorang penggila sepakbola

Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 23:20
 
Bono, Klein, dan Bonoisasi Print E-mail
Friday, 23 January 2009 23:11

Oleh Yus Ariyanto, Koordinator Liputan6.com (SCTV)

 

Paul David Hewson alias Bono tak henti membetot perhatian. Sejak pertengahan Januari ini, kolom-kolom vokalis U2 ini bisa dinikmati di The New York Times. Tentu, ini bukan kali pertama Bono menulis. Dalam beberapa edisi Rolling Stone, ia juga diminta menyumbang esai. Bahkan, ia menyusun kata pengantar untuk buku Jeffrey D. Sach, The End of Poverty (2005)

Pada kolom pertamanya di New York Times, agak di luar dugaan, ia tak berkisah soal konflik Palestina-Israel, krisis ekonomi global atau kehadiran Barack Obama pentas politik Amerika. Alih-alih demikian, ia menulis tentang Frank Sinatra: perjumpaan dan kekagumannya pada penyanyi legendaris tersebut.

Tanpa menulis pun, sejatinya sihir vokalis U2 itu telah demikian kuat. Pada November lalu, Rolling Stone mendapuknya sebagai salah satu dari The 100 Greatest Singers All of Time. Dan, saudara-saudara niscaya mafhum, ini bukan penghargaan perdana.

Tiga tahun lalu, Time memilihnya sebagai Person of The Year 2005 bersama pasangan Bill dan Melinda Gates. Bono dianggap berbuat banyak untuk kemanusiaan, di sela-sela aktivitas keseniannya. Pria kelahiran 10 Mei 1960 ini merupakan salah seorang pendiri DATA (Debt, AIDS, Trade, Africa), organisasi yang berjuang untuk mengemplang kemiskinan dan penyebaran virus HIV di negara-negara berkembang, khususnya Afrika.

 

Last Updated on Saturday, 31 January 2009 07:18
 
<< Start < Prev 11 12 13 Next > End >>

Page 12 of 13
Banner
Banner
Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
Banner

Who's Online

We have 20 guests online

Follow Us On

Facebook Page: jakartabeat.net Twitter: jakartabeat