|
Tuesday, 14 April 2009 14:06 |
|
Oleh Hawe Setiawan, penulis lepas
Penunggang kuda dalam puisi lama, yang menembus "malam bersalju", hanya berhenti sejenak di tepi hutan. Ia memang terpikat oleh hutan yang lebat dan pekat, tapi jarak yang harus ia tempuh masih cukup jauh. Hutan tinggal pesona di tepi jalan, seperti lambaian yang dibalas keraguan. Adapun kami, para penumpang mobil Jepang, menempuh jarak ratusan kilometer untuk masuk ke hutan. Mesin penghisap bensin kami tinggalkan di batas desa. Lalu kami berjalan kaki menuju Ciranji, salah satu lembah terluar di ulayat Kanekes. Malam turun ke punggung-punggung bukit, menyamarkan jalan setapak yang berkelok-kelok dan berundak-undak. Jalan yang kami tempuh, seperti yang dipilih pengembara dalam puisi lama, adalah salah satu di antara "dua jalan" menuju hutan. Kau bisa menempuh jalan dari Ciboleger, melintasi rumah Jaro Dainah yang mengepalai Desa Kanekes. Tapi itu jalan yang ramai, sebetulnya, karena biasa dilalui para pelancong. Televisi telah berkali-kali menayangkannya, bukan? Sedangkan jalan yang kami lalui malam itu adalah "jalan yang tak begitu sering ditempuh". Kau mungkin akan menyebutnya jalan peziarah. Baiklah. Tapi ketimbang menyerupai para peziarah, kami berlima sepertinya lebih cenderung menyerupai tokoh-tokoh cerita detektif cilik Lima Sekawan karya Enid Blyton---sekiranya ada versi dewasa untuk kisah itu. |
|
Last Updated on Sunday, 19 April 2009 21:01 |
|
Saturday, 11 April 2009 16:17 |
Oeh Andrianto Soekarnen Padmadinata, Managing Editor Venue Magazine Saya memiliki afeksi terhadap Inggit Garnasih, istri pertama Sukarno, tokoh proklamasi kita. Pada mulanya, ini sekedar disebabkan ia tinggal di Jl. Ciateul, Bandung, setelah meninggalkan Presiden Pertama RI itu. Rumah nenek saya ada di jalan sama dan Ibu Inggit adalah tokoh yang dihormati di lingkungan Ciateul, tempat saya sempat menghabiskan sebagian masa kanak-kanak. Dalam biografinya, Sukarno menyinggung kisah Inggit sebagai l’Affair Inggit. Percintaan mereka kontroversial. Inggit 15 tahun lebih tua dari Sukarno. Perempuan berkulit putih ini adalah istri dari Sanusi. Sukarno mondok pada keluarga tanpa anak itu selama kuliah di Bandung. Sebagai istri kesepian (Sanusi kerap melewatkan malam di ruang biliar), Inggit menghabiskan waktu menemai Sukarno belajar. Sejak muda, mahasiswa itu telah menunjukkan tanda-tanda orang besar. Ia cerdas, bercita-cita tinggi, dan terutama berani. Kepandaian Sukarno dalam berkisah menambah daya tariknya. Inggit adalah sosok pendengar atentif yang dibutuhkan Sukarno. Perempuan itu, dengan mata berbinar, sangat meminati kisah dan pemikiran yang dituturkan sang mahasiswa. |
|
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 22:41 |
|
|
Friday, 10 April 2009 04:55 |
|
Oleh Nuran Wibisono, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Jember Jawa Timur Banyuwangi, kota kecil yang menyimpan ribuan jejak sejarah. Banyak budaya eksotis yang tersimpan disini, yang sekarang harus rela berkelindan dengan rok mini, celana pensil, dan segala macam produk jaman modern lainnya. Meskipun berhasil berbaur, tak dapat dipungkiri bahwa kebudayaan tradisional itu makin lama makin tergerus ibarat aspal jalanan Anyer-Panarukan yang lambat laun makin tipis tergerinda oleh roda truk raksasa yang angkuh dan tak bersahabat. Tari Seblang adalah satu trademark budaya khas Banyuwangi. Tari ini melambangkan kesakralan, ritual pertemuan dua dunia, sekaligus sebagai rasa syukur atas karunia yang diberikan oleh sang Pencipta dan juga menjadi permohonan untuk tolak bala. Hasnan Singodimayan, salah seorang budayawan Banyuwangi mengatakan bahwa Tari Seblang pada awalnya berfungsi sebagai tari tolak bala dan pernah tercatat di arsip Camat Glagah pada tahun 1930. Namun banyak budayawan lain beranggapan bahwa Tari Seblang sudah eksis sebelum tahun 1930. |
|
Last Updated on Saturday, 18 April 2009 17:22 |
|
Tuesday, 07 April 2009 13:13 |
|
Oleh Amir Mahmud, penulis lepas, tinggal di Cirebon Maaf kalau judul esai ini mengadopsi kredo para mahasiswa angkatan 60-an dahulu yang kehidupannya tidak jauh dari “buku, pesta, dan cinta” seperti dikutip Soe Hok Gie dalam buku “Catatan Harian Seorang Demonstran” . Memang, untuk mendapatkan buku dan musik (dalam konteks ini kaset, CD, atau pertunjukan musik) memang membutuhkan uang. Tapi, bukan itu yang ingin saya sampaikan. Ini cerita agak pribadi memang. UANG “Wah, boro-boro untuk bayar utang. Untuk makan sehari-hari aja sulit,” ujar seorang pria dengan tatapan mata kosong. Padahal, saya tahu, pria itu tadinya seorang pengusaha yang berhasil, bahkan komoditasnya sampai diekspor ke mancanegara. Tapi, sejak datangnya krisis global (dan dia menyingkatnya cukup dengan kata “global” saja, tapi bukan nama stasiun TV tentunya…) usahanya hancur lebur. Dia pun hanya pasrah, bahkan rela kalau asetnya disita. Kini, hari-harinya diisi dengan kerja serabutan hanya untuk sekadar mempertahankan hidup. Begitulah. Kini hari-hari saya dipenuhi dengan keluhan, kemuraman, dan kepasrahan. Ceritanya hampir seragam. Namun, tak jarang ketika segala macam penderitaan itu dialami, mereka juga mengalamatkan kemarahannya pada pemerintah yang tidak berhasil mengentaskan kemiskinan dan mengurangi pengangguran. Tidak berpihak pada rakyat miskin, dan lain-lain. Juga tentang krisis ekonomi yang mendunia. Tentang pejabat yang tidak peka terhadap krisis dan aneka kecaman lainnya. |
|
Last Updated on Sunday, 19 April 2009 20:42 |
|