Home Artikel Jurnalisme Orang-orang Pinggiran
Jurnalisme Orang-orang Pinggiran Print E-mail
(1 vote, average 5.00 out of 5)
User Rating: / 0
PoorBest 
Friday, 18 December 2009 04:06

Oleh Nezar Patria, wartawan vivanews.com dan Ketua AJI Indonesia 

 

MEMBACA kumpulan tulisan Linda Christanty pada buku Dari Jawa Menuju Atjeh (DJMA) dengan cepat kita menangkap jurnalisme yang disodorkan Linda lewat 17 tulisan bukanlah jurnalisme biasa. Kumpulan tulisan di DJMA tidak dibuat dengan model soft-news. Linda bahkan mengolahnya jauh dari sekedar features. Dia menggunakan teknik bertutur fiksi, dengan bahan fakta dan peristiwa, atau dikenal dengan jurnalisme sastra.

Tema yang diolah adalah tema orang-orang pinggiran. Kalaupun sedang bertutur masalah besar, Linda kerap memakai cara pandang orang kecil. Misalkan dia menulis tentang krisis keadilan yang mengantarkan orang pada brutalisme, dan aksi main hakim sendiri. Atau bagaimana Wiji Thukul, seorang penyair kampung Kalangan di Solo itu, berontak melalui puisi, menggerakkan perlawanan buruh, sampai kemudian dia “dihilangkan” penguasa. Ada pula tema homoseksual, dengan figur utama Dede Oetomo, penggerak majalah Gaya Nusantara.

Keseluruhan tema itu tampaknya merefleksikan kepedulian sosial Linda sebagai wartawan. Mungkin juga dia menjadi lebih tajam, karena ditempa latar belakangnya sebagai aktivis gerakan mahasiswa melawan kediktatoran Orde Baru, dan sempat bergulat dalam gerakan buruh. Pada kumpulan karya Linda kita menyaksikan satu karnaval orang-orang terpinggirkan, kontroversial, atau juga kisah orang-orang biasa pada keadaan luar biasa.

Mari melihat satu contoh dari kumpulan ini, "Hikayat Kebo". Pada tulisan ini, saya kira, Linda mendemonstrasikan teknik jurnalisme sastra dengan sangat memikat. Mata jurnalistiknya cukup jeli. Kita ingat, pada 2001, ada satu tren mengerikan: warga kampung menghajar mati bandit kecil yang mereka tangkap, lalu membakar mayatnya. Sebagian bahkan belum lagi mati ketika api itu menyambar.

Linda memotret satu dari rangkaian peristiwa itu, yang mungkin hanya dimuat beberapa kolom saja di Pos Kota, atau rubrik kriminal koran lainnya. Tentang seonggok mayat hangus di belakang Tower Anggrek Mall, Jakarta Barat, Minggu, 21 Mei 2001.

Mayat itu adalah Kebo alias Ratno bin Karja. Dia bukan siapa-siapa. Kebo adalah pemulung, yang kebetulan berwatak pemberang, suka menabok kawan, menyiksa Muah istrinya, dan memalak warga di lapak pemulung miskin itu. Kebencian warga padanya memuncak, tapi nyali mereka tak sebesar Kebo.

Sampai pada satu malam, karena kecerobohan Kebo, lapak itu hangus terbakar. Warga marah dan mengamuk. Kebo dihajar sampai mati. Dalam keadaan sekarat dia dinaikkan taksi dengan tangan terikat. Sejumlah warga mengawalnya, agar Kebo tidak kabur. Mereka membawanya ke tempat pembakaran sampah di belakang mal, dan meletakkan tubuh penuh darah itu pada satu gerobak sampah. Seseorang menyiram minyak tanah. Lalu, ada yang menyalakan korek api.

Kelebihan Linda, drama itu dibangun dengan narasi kuat, dan berjalan dalam plot mengejutkan. Dari drama brutal pemukulan di lapak pemulung, dia melompat ke kesunyian di gedung tinggi, tempat seorang wakil rakyat dari PDI Perjuangan yang kebetulan Ketua RW setempat. Sang wakil rakyat menyesal tak sempat mencegah kekejian itu di wilayahnya. Lalu Linda masuk lebih dalam ke kehidupan Kebo, dan kampung asalnya Sisalam. Linda menelisik jagad batin Muah, menggali apa yang dipikirkan perempuan itu tentang suaminya, yang tak menuntut kematian Kebo, dan malah berujar: “Orang dia itu jahat”.

Dari yang mikro, cerita itu diberi konteks makro: krisis ekonomi dan politik Indonesia yang tak menentu, angka-angka, neraca yang defisit, dan melorotnya pendapatan rakyat. Lalu statistik amuk warga. Selama 2001, ada 86 kasus pembakaran orang di Jakarta. Membaca laporan Linda kita paham, betapa Jakarta pernah punya kegilaan absurd. Misalkan, pada satu kawasan ada plang bertuliskan “Di sini tempat orang dibakar pertama kali”. Sebuah perayaan sadisme yang menyedihkan.

Jurnalisme yang dipraktikkan Linda memang membutuhkan usaha yang lebih dari sekadar melaporkan peristiwa. Jurnalisme, dengan kekuatannya pada fakta, bisa menohok lebih dalam, menghujam, atau mengiris perasaan. Mungkin ini adalah ilmu yang diperolehnya selama bergabung dengan Majalah Pantau, atau membaca karya John Hersey, Tom Wolfe, Truman Capote, atau Mark Bowden.

Reportase mendalam bukanlah pekerjaan mudah. Saya teringat dengan satu karya dari wartawan senior The Oregonian, Tom Hallman Jr. Tom pernah memenangkan Hadiah Pulitzer. Dia menulis kehidupan seorang bocah yang wajahnya rusak, dan menunggu dioperasi. Si bocah adalah Sam, ada gumpalan daging menutup mukanya sehingga mengharuskan dia hidup dengan topeng. Tom menulis “The boy behind the mask” itu sebanyak empat seri di tahun 2000, dan dimuat di The Oregonian.

Usaha menulis laporan itu ternyata cukup menguras keringat. Tom melakukan reportase selama ratusan jam, hampir sepuluh bulan. Dia bergulat dengan tumpukan catatan medis, membaca jurnal penyakit khusus yang menimpa Sam itu, mewawancarai teman dan kerabat Sam, ikut menemani si bocah ke sekolah, dan ke luar kota. Tom mencatat semua dialog dengan rapi. Tulisannya seperti sebuah novel, dengan dialog nyata keseharian yang menyentuh.

Apapun teorinya, jurnalistik selalu bersandar pada yang klasik: kejelian dalam melakukan reportase. Linda melakukannya dengan baik sekali. Pada "Hikayat Kebo", dia pergi ke kamar mayat, dan mencatat hal-hal detil. Dia mencatat nomor surat keterangan mayat, menggambarkan situasi kamar berbau busuk, dan laci tempat mayat Kebo disimpan. Yang tersisa dari tubuh si preman itu hanya seonggok arang.

Linda juga mencatat dialog dengan detil, dan menuliskannya dengan menonjolkan aksen lokal. Pada tulisannya "Namaku Bre Redana", Linda mengikuti Bre seharian sampai ke rumahnya, sampai tengah malam, dan menyaksikan bagaimana wartawan dan cerpenis yang pernah jadi korban Orde Baru itu memandang bulan dari jendela kamar tamunya.

Kesetiaan pada detil ini membuat laporan jurnalisme sastra, atau juga variannya yang lain seperti “jurnalisme naratif”, menjadi berbeda. Dia nyaris mirip dengan kerja jurnalisme investigasi. Pada jurnalisme investigasi, si wartawan dituntut mengejar fakta baru, membongkar apa yang ditutupi oleh kekuasaan. Kekuatan jurnalisme investigasi adalah manakala dia berhasil menyibak fakta, menampilkan dokumen dan kesaksian, dan meyakinkan pembaca dengan riset mendalam.

Pada jurnalisme sastra, militansi itu diarahkan pada pencatatan adegan, menggali detil, wawancara mendalam dengan beragam sumber untuk mendapatkan perspektif lain dari satu peristiwa. Si wartawan larut atau masuk dalam peristiwa yang dilaporkannya, tanpa memihak, tanpa menghakimi.

Linda juga melakukan hal yang sama untuk semua laporan dalam buku ini. Dia tak memihak, dan juga tak menghakimi. Dia menulis soal homoseksual, yang membuat kita mendapat perspektif lebih dalam bagaimana pergulatan identitas kaum homoseksual di tengah masyarakat yang menolaknya.

Pada "Orang-orang Tiro", dia menulis satu tempat di Pidie, tempat kelahiran Hasan Tiro, pemimpin Gerakan Aceh Merdeka. Linda mencoba melakukan rekonstruksi sejarah Aceh tentang apa yang hidup di kepala orang-orang di kampung Tiro itu. Tentang penindasan, dan cita-cita merdeka. Tentang brutalisme politik, dan kerinduan akan pulangnya sang pemimpin.

Dia bertemu bekas panglima GAM, kerabat HasanTiro, dan orang-orang biasa. Memang, tulisan itu dibuat sebelum kepulangan Hasan Tiro pada Oktober 2008. Linda juga tak nyinyir dengan apa yang menjadi hasrat politik dari para sumbernya. Dia melaporkan dengan dingin, tapi juga penuh detil mengejutkan, yang membuat kita merasakan lebih dalam apa yang bergerak di pikiran orang-orang yang ditulisnya itu.

Saya akhirnya bisa menangkap mengapa Linda bergerak dari Jawa ke Aceh. Saya tahu Aceh bukanlah daerah mudah. Tapi, tampaknya perjalanannya ke Aceh, dan pilihannya untuk menetap sementara di sana adalah konsekuensi dari satu sikap. Dia barangkali mencoba seperti Kenzaburo Oe, sastrawan Jepang yang jadi tema dalam tulisan “Kenzaburo Oe dan Gerbang Dewa Guntur”.

Linda mengutip Kenzaburo, bahwa kesusastraan harus ditulis dari pinggiran menuju pusat. "Di pinggiran kita menjadi kritis terhadap pusat. Manusia yang ada di pusat tak memiliki apapun untuk ditulis. Dari pinggiran kita dapat menulis cerita tentang manusia dan cerita ini bisa mengungkapkan seperti apa kemanusiaan yang ada di pusat”, ujar Kenzaburo.

Saya kira jalan inilah yang ditempuh Linda. Seperti sikapnya dalam sastra, dia menjadikan jurnalisme sebagai karnaval orang-orang pinggiran, yang menggugat pusat kekuasaan.

 

[Catatan pengantar Diskusi Buku Linda Christanty, “Dari Jawa Menuju Atjeh”, Kepustakaan Populer Gramedia, 2009, di Komunitas Salihara, 16 Desember 2009]


Nezar Patria
About the author:
Nezar Patria saat ini adalah ketua umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia. Ia adalah wartawan/pengelola portal berita Vivanews.com. Nezar menyelesaikan pendidikan Master nya di London School of Economics and Political Science (LSE) di London, Inggris.
Read More >>


Comments (0)Add Comment

Write comment
smaller | bigger

security code
Write the displayed characters


busy
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 05:21
 
Banner
Banner
Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
Banner

Who's Online

We have 29 guests online

Follow Us On

Facebook Page: jakartabeat.net Twitter: jakartabeat