Home Artikel Paradoks Nasionalisme Indonesia
Paradoks Nasionalisme Indonesia Print E-mail
(0 votes, average 0 out of 5)
User Rating: / 0
PoorBest 
Monday, 17 August 2009 11:09

 Oleh Sulfikar Amir, pengajar sosiologi di Nanyang Technological University (NTU) di Singapura

 

Indonesia tidak lahir dari tanah. Darahnya tidak mengalir dari mata air di kaki gunung. Ruhnya tidak ditiup oleh Sang Pencipta di atas sana. Dan seluruh takdirnya di masa lalu, kini, dan masa depan tidak tertera dalam kitab-kitab suci masa lampau. Indonesia adalah anak sejarah yang senantiasa mendekap dalam pelukan sang bunda kala yang mengandung dan membesarkannya. Sebuah ikatan yang membentuk wajah dan watak Indonesia yang penuh dinamika dan diwarnai oleh ambivalensi.

Partha Chaterjee pernah bilang, bangunan nasionalisme tidak pernah utuh. Didalamnya mengandung serpihan-serpihan yang tidak pernah bisa menyatu bagai minyak dan air. Imajinasi yang menjadi materi dasar ideologi nasionalisme seperti yang dilontarkan Ben Anderson berubah menjadi arena kekerasan ketika ide kebangsaan berbenturan dengan realitas masyarakat yang penuh dengan fragmen-fragmen sosial budaya yang bersanding diametrikal. Dalam wujud ekstrim, nasionalisme adalah wacana penuh kekerasan, simbolik maupun dalam arti sebenarnya, yang memberangus kemerdekaan individu karena di dalamnya mengandung ikatan kolektif paling primitif yang membentuk identitas. Inilah paradoks nasionalisme yang paling brutal. Dan paradoks ini bersembunyi dengan nyaman di wacana nasionalisme Indonesia tanpa pernah digugat secara tuntas.

Seratus tahun kebangkitan nasional mungkin terdengar gagah. Setidaknya untuk menakut-nakuti negara tetangga yang masih belia (namun berlari kencang). Tetapi Indonesia bukanlah anak kandung bumi pertiwi. “Indonesia” adalah imposisi identitas kaum intelektual Eropa yang kebingungan harus memanggil apa bangsa di kepulauan ini. Dari “kebingungan” itulah Indonesia mungkin terjadi yang kemudian mengalir melalui gagasan modernitas kaum elit Jawa yang ingin mengecap apa rasanya menjadi orang moderen. Inilah awal paradoks nasionalisme Indonesia. Paradoks karena dia tidak pernah ada tetapi ada. Sebuah wujud tanpa bayangan masa lalu. Sebuah diskontinuitas.

Tetapi bukankah bangsa Indonesia telah ada sejak 5000 tahun yang lalu seperti Muhammad Yamin pernah bercerita? Ideologi selalu berdiri diatas mitos dan mitos seperti kita pahami tidak segaris dengan realitas. Setiap masyarakat yang memiliki identitas memiliki mitos. Karena identitas adalah mitos yang terinstitusionalisasi. Nasionalisme dimanapun selalu berpijak pada mitos. Dia dapat merujuk pada ancaman, utopia, atau superioritas ras. Adolf Hitler, Sukarno, Deng Xiao Ping, Lee Kuan Yew, Fidel Castro, hingga George W. Bush adalah aktor-aktor yang sangat lihai mengeksploitasi mitos demi tujuan-tujuan politik kebangsaan. Mitos-mitos nasionalisme dilengketkan pada seremoni kenegaraan dan diidentikkan dengan patriotisme dan heroisme.

Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme dengan cetakan masa lalu. Eksitensi bangsa kepulauan ini dibingkai oleh mitos tentang kerajaan-kerajaan masa silam seperti yang diajarkan oleh guru-guru sejarah di sekolah. Dalam wacana ini, “Indonesia” adalah sebuah kerumuman orang-orang yang sama tuanya dengan tanah dan air di negeri ini. Pada titik ini, diskontinuitas sejarah seakan-akan sirna oleh sebuah mitos yang dihidupkan untuk menghubungkan Indonesia moderen dengan “Indonesia” masa lalu yang jaya, gemah ripah nan sejahtera seperti dalam penggambaran Majapahit yang begitu kental dengan aroma romantisisme.

Kenyataannya, nasionalisme seperti ini membuat Indonesia masa kini terbelenggu oleh keterbatasan imajinasi ke depan. Nasionalisme bukanlah wacana yang mencari sebuah harmoni melainkan hegemoni. Karenanya tidak heran jika nasionalisme menjadi alat institusi negara yang efektif untuk memobilisasi dukungan massa sekaligus menjadi alat legitimasi untuk memberangus musuh-musuh negara yang dianggap tidak nasionalis. Dalam wacana nasionalisme ala negara, kekuasaan menjadi tujuan utama di mana gagasan-gagasan alternatif tentang makna kebangsaan dikungkung dalam ruangan sempit dan gelap. Itulah nasionalisme Indonesia hasil konstruksi sejarah Orde Baru yang hingga sekarang masih kuat mencengkeram dalam kepala-kepala kita. Sebuah nasionalisme yang berpusat pada praktek terorisme negara, begitu kata Ariel Heryanto.

Nasionalisme Orde Baru yang hegemonik tentu saja tidak muncul dari Cendana tetapi berakar pada sejarah Indonesia sebagai suatu politi moderen yang penuh kontestasi. Kontestasi antara nasionalis-sekuler vis-à-vis nasionalis-relijius, sosialisme vis-à-vis kapitalisme, elit vis-à-vis rakyat jelata, Jawa vis-à-vis non-Jawa, pribumi vis-à-vis non-pribumi, individualisme vis-à-vis kolektivisme. Konflik multi dimensi ini menghasilkan ambivalensi yang menunjukkan bahwa nasionalisme Indonesia sebenarnya belum, dan mungkin tidak akan pernah utuh sempurna.

Jika memang harus tetap ada, nasionalisme Indonesia harus didekonstruksi. Tantangan generasi saat ini adalah menciptakan nasionalisme dengan cetakan yang menghadap ke depan, tidak kebelakang. Imajinasi-imajinasi tentang masa lampau yang masih erat menempel pada materi nasionalisme Indonesia seharusnya dipasang pada tempat yang sepantasnya yang memungkinkan terjadinya interpretasi dan reinterpretasi akan makna nasionalisme, sebuah nasionalisme pasca Majapahit. Sebagai bangsa moderen, bangunan nasionalisme Indonesia seharusnya dibangun di atas tanah yang masih segar, bukan diatas kuburan masa lampau yang kering dan gelap.

Nasionalisme Indonesia masa depan melihat Indonesia bukan sebagai tanah warisan tetapi tanah harapan (the land of promise). Artinya, semua orang adalah pendatang yang terikat pada satu komitmen membangun tanah air ini tidak dengan identitas hegemonik tetapi dengan identitas multikultural. Dalam wacana demikian, tidak ada satupun yang memegang otoritas sebagai penterjemah tunggal nasionalisme. Pada saat yang bersamaan, semangat globalisasi harus diakomodasi ke dalam jiwa nasionalisme Indonesia tanpa harus terjebak ke dalam agenda-agenda globalisme. Bagaimanapun, sejarah Indonesia ke depan dibentuk arus global yang diwarnai oleh nilai-nilai lokal. Dipersimpangan inilah nasionalisme Indonesia yang moderen dan beradab dapat berdiri menatap jaman.


Sulfikar Amir
About the author:
Sulfikar Amir,  mengajar Sosiologi di Nanyang Technological University (NTU) di Singapura
Read More >>


Comments (3)Add Comment
0
...
written by Denni Pinontoan, February 05, 2010
Bung, saya kira doktrin "nasionalisme" itu sudah berakhir. selain berdasar pada apa yang bung deskripsikan di atas, tapi memang nasionalisme yang bermakna ideologi cinta buta terhada negara sudah berakhir ketika negara-negara modern telah berubah menjadi monster yang memangsa anak2nya sendiri. Leviathan itu masih hidup, dan mungkin akan tetap hidup, sebab sejatinya negara adalah hegemonik. Saya kira pemikiran kebangsaan yang perlu dikembangkan sekarang adalah sikap dialektis kritis antara kita sebagai subjek dengan negara sebagai kosntruksi berdasar mitos persatuan itu.

salam dari Minahasa
0
...
written by nova, September 05, 2009
Sepakat! tulisan ini sangat inspiratif! tetapi, tidak semua orang di pelosok Indonesia (luar Jawa) tidak selalu asing dgn nasionalisme. Penelitian saya di Adonara, sebuah pulau yang menjadi bagian dari Kab.FLores Timur, menggambarkan sebuah masyarakat yang sesungguhnya sangat tahu bagaimana memaknai nasionalisme itu. Negara tidak pernah dgn hadir serius membangun Adonara, air & listrik misalnya, semuanya dikelola secara swadaya oleh masy setempat. tetapi, ketika Hardiknas yg lalu satu berkunjung kesana, ternyata, jam 07.00 pagi semua anak siswa di salah satu desa di sana (Lamatwelu) dr TK hingga SMP bercampur dgn para tokoh masyarakat & tetua adat, semuanya berkumpul utk mengikuti upacara bendera. Jam 10.00 kemudian semua penduduk desa berkumpul di balai desa & merayakan HARDIKNAS bersama-sama dgn tarian, nyanyi, puisi yang diisi oleh murid2 tsb. Acara itu hingga sore hari. Dengan gembira mereka merayakan HARDIKNAS. Mereka merasa memiliki Indonesia dgn cara mereka sendiri2, meski sesungguhnya negara sangat abai dgn mereka!
Lalu, bagaimana dgn kita yg selama ini hidup penuh dgn 'kebaik-kebaikan' negara dari berbagai macam fasilitas yang kita miliki? sudahkah justru kita memiliki nasionalisme sebagaimana orang kampung Lamatwelu itu merasa dimiliki oleh Indonesia?
ENTAH!
Saya jadi bertanya, jangan-jangan justru kita yang hidup di sebuah dunia urban yang sangat kosmopolit-lah yang tidak bisa memaknai nasionalisme.

Salam,
Nova
0
...
written by Hasantoha Adnan, August 18, 2009
Tulisan yang menarik Mas. Kalo bicara paradoks, akan selalu banyak hal yang membuat nasionalisme Indonesia "keberatan beban." Membaca liputan Kompas ttg nasionalisme di tapal batas dalam beberapa hari terakhir juga memperlihatkan betapa asingnya nasionalisme itu bagi masyarakat di pulau-pulau terluar, di pelosok, maupun di perbatasan negeri jiran. Pembiaran, salah urus ataupun eksploitasi habisan2an oleh negara menjadi bentuk "nasionalisme" yang mudah ditemui di wilayah praksis.

Saya kira perlu tulisan lanjutan yang dapat lebih mengedepankan bagaimana nasionalisme Indonesia yang berwawasan ke depan. Nasionalisme yang visioner. Kalo mengikuti pikirannya Romo Mangun, membangun masyarakat "pasca-Indonesia". Agar asa tidak segera hilang, semangat tak segera luntur, dan kita masih punya kepercayaan dan harga diri untuk menatap masa depan Indonesia yang lebih cerah....

Salam, Anto


Write comment
smaller | bigger

security code
Write the displayed characters


busy
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 12:27
 
Banner
Banner
Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
Banner

Who's Online

We have 9 guests online

Follow Us On

Facebook Group: 50072354705 Twitter: jakartabeat