| Paradoks Nasionalisme Indonesia |
|
|
| Monday, 17 August 2009 11:09 |
|
Oleh Sulfikar Amir, pengajar sosiologi di Nanyang Technological University (NTU) di Singapura
Indonesia tidak lahir dari tanah. Darahnya tidak mengalir dari mata air di kaki gunung. Ruhnya tidak ditiup oleh Sang Pencipta di atas sana. Dan seluruh takdirnya di masa lalu, kini, dan masa depan tidak tertera dalam kitab-kitab suci masa lampau. Indonesia adalah anak sejarah yang senantiasa mendekap dalam pelukan sang bunda kala yang mengandung dan membesarkannya. Sebuah ikatan yang membentuk wajah dan watak Indonesia yang penuh dinamika dan diwarnai oleh ambivalensi. Partha Chaterjee pernah bilang, bangunan nasionalisme tidak pernah utuh. Didalamnya mengandung serpihan-serpihan yang tidak pernah bisa menyatu bagai minyak dan air. Imajinasi yang menjadi materi dasar ideologi nasionalisme seperti yang dilontarkan Ben Anderson berubah menjadi arena kekerasan ketika ide kebangsaan berbenturan dengan realitas masyarakat yang penuh dengan fragmen-fragmen sosial budaya yang bersanding diametrikal. Dalam wujud ekstrim, nasionalisme adalah wacana penuh kekerasan, simbolik maupun dalam arti sebenarnya, yang memberangus kemerdekaan individu karena di dalamnya mengandung ikatan kolektif paling primitif yang membentuk identitas. Inilah paradoks nasionalisme yang paling brutal. Dan paradoks ini bersembunyi dengan nyaman di wacana nasionalisme Indonesia tanpa pernah digugat secara tuntas. |
Baca Artikel Lainnya
Hits: 1716 Comments (3)
![]() written by nova, September 05, 2009
Sepakat! tulisan ini sangat inspiratif! tetapi, tidak semua orang di pelosok Indonesia (luar Jawa) tidak selalu asing dgn nasionalisme. Penelitian saya di Adonara, sebuah pulau yang menjadi bagian dari Kab.FLores Timur, menggambarkan sebuah masyarakat yang sesungguhnya sangat tahu bagaimana memaknai nasionalisme itu. Negara tidak pernah dgn hadir serius membangun Adonara, air & listrik misalnya, semuanya dikelola secara swadaya oleh masy setempat. tetapi, ketika Hardiknas yg lalu satu berkunjung kesana, ternyata, jam 07.00 pagi semua anak siswa di salah satu desa di sana (Lamatwelu) dr TK hingga SMP bercampur dgn para tokoh masyarakat & tetua adat, semuanya berkumpul utk mengikuti upacara bendera. Jam 10.00 kemudian semua penduduk desa berkumpul di balai desa & merayakan HARDIKNAS bersama-sama dgn tarian, nyanyi, puisi yang diisi oleh murid2 tsb. Acara itu hingga sore hari. Dengan gembira mereka merayakan HARDIKNAS. Mereka merasa memiliki Indonesia dgn cara mereka sendiri2, meski sesungguhnya negara sangat abai dgn mereka!
Lalu, bagaimana dgn kita yg selama ini hidup penuh dgn 'kebaik-kebaikan' negara dari berbagai macam fasilitas yang kita miliki? sudahkah justru kita memiliki nasionalisme sebagaimana orang kampung Lamatwelu itu merasa dimiliki oleh Indonesia? ENTAH! Saya jadi bertanya, jangan-jangan justru kita yang hidup di sebuah dunia urban yang sangat kosmopolit-lah yang tidak bisa memaknai nasionalisme. Salam, Nova written by Hasantoha Adnan, August 18, 2009
Tulisan yang menarik Mas. Kalo bicara paradoks, akan selalu banyak hal yang membuat nasionalisme Indonesia "keberatan beban." Membaca liputan Kompas ttg nasionalisme di tapal batas dalam beberapa hari terakhir juga memperlihatkan betapa asingnya nasionalisme itu bagi masyarakat di pulau-pulau terluar, di pelosok, maupun di perbatasan negeri jiran. Pembiaran, salah urus ataupun eksploitasi habisan2an oleh negara menjadi bentuk "nasionalisme" yang mudah ditemui di wilayah praksis.
Saya kira perlu tulisan lanjutan yang dapat lebih mengedepankan bagaimana nasionalisme Indonesia yang berwawasan ke depan. Nasionalisme yang visioner. Kalo mengikuti pikirannya Romo Mangun, membangun masyarakat "pasca-Indonesia". Agar asa tidak segera hilang, semangat tak segera luntur, dan kita masih punya kepercayaan dan harga diri untuk menatap masa depan Indonesia yang lebih cerah.... Salam, Anto Write comment
|
| Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 12:27 |
salam dari Minahasa