Oleh Gde Dwitya, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada Saya senang mengaitkan revolusi dengan sastra. Agen-agen peniup angin perubahan seringkali terilhami oleh karya sastra yang ia baca. Bukan kebetulan tampaknya jika Gie ada di Salemba, berjaket kuning dan berada di deretan garda depan generasi '66. Ia yang kini menjadi ikon para demonstran ternyata membaca Chairil dan Andre Gide di masa remajanya. Atau jika ingin contoh yang lebih terkini, Budiman Sudjatmiko dan aktivismenya yang menghebohkan bersama PRD ternyata adalah pengagum Hikmet Ran, penyair Turki yang bersama-sama dengan Pablo Neruda meraih penghargaan dari pemerintah Uni Sovyet di tahun 1950-an. Lalu saat kita berpaling ke seberang lautan, kita tak akan terkejut jika Ernesto Guevara de la Serna ternyata mengapresiasi Garcia Lorca. Kita tentu masih ingat ketika menonton biografi masa mudanya dalam mengelilingi Amerika Latin ditemani seorang sahabat, The Motorcycle Diaries, ia sering mengutip penggalan-penggalan puisi Lorca. Serta yang lebih familiar untuk anak muda sekarang, Subcomandante Marcos, tidak sekedar mengapresiasi tetapi ternyata sudah mengartikulasikan pikirannya lewat karya. Di sini kita jadi akrab dengan kumpulan karyanya yang bertajuk Kata adalah Senjata. Tak heran sebab sebenarnya dia seorang yang berasal dari kalangan ademis. Dunia film juga mengamini hal tersebut. Dancer Upstairs, film yang diadaptasi dari Novel karya Nicholas Shakespeare itu dengan cantik menggambarkan bahwa revolusi dimulai dari seseorang pemimpin yang berjiwa romantis. Disana diceritakan bahwa gerakan Maois revolusioner Sendero Luminoso di Peru, dipimpin oleh seorang yang melawan kekuasaan lewat teror yang puitis.
Tampaknya kesenangan membaca karya sastra membuat nama-nama besar diatas menjadi peka terhadap keadaan di sekeliling mereka. Tak salah, sebab sastra menawarkan semacam dunia kecil dimana mereka bisa terlibat serta berinteraksi sekaligus berempati. Dari empati ini kemudian timbul kesadaran yang mengendap bahwa ada yang tak beres dengan realitas. Banyak ketimpangan yang mungkin tak disadari jika kita tidak mengasah kepekaan dalam membaca keadaan sekitar. Walhasil, darah muda yang menggelegak segera mengambil sikap dan berpihak. Jelas, mereka sadar kemana seharusnya keadaan diperjuangkan; ada yang tertindas dan membutuhkan uluran tangan! II
Pikiran yang agak naif, tapi kira-kira itulah yang saya pikirkan ketika masih berada di sekolah menengah. Saya dulu begitu terobsesi untuk masuk Fakultas Sastra. Saya merasa disinilah tempat bersemainya agen-agen pembawa kabar perjuangan. Terutama setelah saya membaca Catatan Seorang Demonstran-nya Gie, yang tentu saja masih berkover warna merah dan bentuknya kecil seperti novel, bukan yang bersampul Nicholas Saputra seperti sekarang. Saat itu tak jarang saya mengkhayalkan para mahasiswa berjaket kuning berdemonstrasi dan Gie berada di deretan paling depan para demonstran sembari tak henti-hentinya meneriakkan—maaf bukan umpatan semacam Soebandrio andjing Peking dan sebagainya—tetapi sepenggal dari Aku-nya Chairil Anwar: biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang menerjang! Sementara di balik aksi lapangan itu kantung-kantung perkumpulan mahasiswa diramaikan dengan diskusi sastra, mungkin sedikit komentar dari hasil pembacaan novel semacam Germinalnya Emile Zola (Saya tak tahu apakah novel itu sudah masuk Indonesia saat-saat Gie jadi aktivis, novel itu terbit tahun 1968). Lalu media kampus diramaikan dengan tulisan yang mengekspresikan protes dan idealisme mahasiswa yang dianggap subversif. Dunia yang dialami Gie romantik, dan eksotis. Ya, eksotis untuk anak SMU yang masih asing dengan dunia mahasiswa. Tak salah kiranya jika saat itu hasrat di hati ini masuk Fakultas Sastra sangat menggebu-gebu. Sederhana, saya merindukan pertemuan dengan rekan-rekan yang memiliki nyala revolusi di dadanya. Saya ingin mereka mengobarkan api yang sedang berkedap-kedip hilang bentuk di hati ini. Tapi rindu saya karam, megap-megap dalam lamunan ketika saya memasuki tahun kedua di Fakultas Sastra Bulaksumur yang tercinta (saya memang tak jadi terdampar di UI). Saya pangling mencari figur-figur dalam khayalan saya dahulu. Lama sudah beta menyelusup tapi tak kunjung juga ketemu. Tak nyana, karena lelah tersesat dalam pencarian, entah kenapa saya menjadi teryakinkan bahwa revolusi enggan berkunjung kembali. Jelas revolusi dalam artian sempit semisal usaha mereproduksi lagi euforia '98 yang sudah lewat telah menjadi obrolan basi. Tapi bagaimana kabar "revolusi" dalam sikap, karya, serta usaha menjaga atmosfir dimana api gairah terhadap perubahan serta hasrat berkarya yang kritis itu tetap menyala-nyala? Indahnya kampus ketika setiap individu yang melakukan perjumpaan adalah entitas yang penuh vitalitas dalam mengemban sebutan mahasiswa sastra di pundaknya. Mereka adalah individu yang mabuk dengan poetry dan virtue. Saya tak tahu. Ah, mungkin benar kata Goenawan Mohamad: revolusi sudah tak ada lagi. Kini, ketika saya memasuki kampus dan melabuhkan pandangan ke sekeliling, saya selalu tergoda untuk berkomentar. Saya sadar, komentar saya pasti subjektif. Tapi tak ada salahnya dan ada baiknya juga kita bersama bertukar cerita.
Melangkahlah masuk ke Fakultas Sastra, dan langsung saja lurus arahkan kaki anda menuju plaza (atau bahkan kini bonbin!) dimana berbagai mahasiswa berseliweran bertemu selintas lalu, berbagi kesan dan rupa. Di pojok-pojoknya anda akan menemukan sekelompok mahasiswa yang mungkin sulit dibedakan dengan anak SMU. Mereka tampak begitu hip dengan dandanan terkini ala distro dan pencitraan yang akrab bagi pemirsa MTV. Begitu asyik gosip populer bergulir diantara individu-individu tersebut yang mungkin bisa kita identifikasi sebagai mereka yang hanyut dalam konsumsi budaya massa. Bertanyalah tentang lagu-lagu yang menghiasi chart MTV ampuh, novel chicklit yang terbaru untuk kaum wanitanya, sneakers Vans seri apa yang sedang in, atau kapan film Sembilan Naga tayang di Jogja. Anda sedang mendiskusikannya dengan para pakar. Tapi jangan langsung mencoba topik diskusi seperti, apakah kamu sudah baca The Outsider-nya Camus? Eh, kamu punya bukunya Sade ga? Atau sedikit tajam dengan berdebat tentang payahnya hasil terjemahan karya sastra atau buku tertentu. Itu sangat beresiko membuat anda terlihat seperti Zarathustra di tengah pasar. Saya sering merasa sebagai sobat yang tertinggal atau bahkan idiot diantara para hedonis pengkonsumsi produk culture industry ini. Entah, tampaknya saya termakan ucapan Adorno ketika ia berujar bahwa orang-orang yang tak mampu berbicara dalam bahasa mereka bisa dicurigai sebagai idiot atau intelektual. Saya jelas bukan intelektual, jadi mungkin saya idiot. Selangkah lebih ke dalam menelusuri lanskap Fakultas Sastra, anda akan menemui mahasiswa-mahasiswa yang lebih serius. Menenteng ransel besar dan berat kesana-kemari, serta bergumam tak jelas tentang SKS atau nilai mata kuliah. Topik obrolan mereka lebih fokus, seperti bagaimana perkembangan skripsimu? Atau untuk yang lebih muda akan bercerita tentang nilainya yang kurang memuaskan ditambah omelan tentang dosen yang keparat. Menyenangkan bila berada di sekitar mereka, terutama mengamati determinasi mereka yang tinggi untuk segera menyelesaikan studi. Tak diragukan lagi, ini akibat pragmatisme yang timbul akibat makin meningkatnya biaya kuliah. Tapi saya takut jikalau sikap apatis mereka terhadap keadaan sekitar bisa berakibat terlalu jauh. Calon intelektual Mandarins, kata para tokoh Frankfurt school. Ya, rekan-rekan yang seperti ini biasanya tak ambil pusing dengan isu-isu seputar kampus maupun yang lebih kritis lainnya. Blueprint masa depan mereka sangat jelas; secepatnya keluar dari neraka kampus dan mencari kerja. Syukur-syukur bisa mandiri dan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi bagi saya hidup seperti itu datar, tak bermakna. Dimana romantisme berkarya? Dimana revolusi masa muda? Kasihan. Lebih ke dalam lagi di Fakultas Sastra. Mungkin sekarang sisi-sisi gelap agak terungkap. Berkunjunglah di malam hari ketika Sastra sedang berpesta dalam musik yang ceria. Selain mereka yang berjoget seiring musik yang menghentak, di beberapa sudut mungkin anda akan menemukan beberapa teman yang duduk melingkar mengelilingi gelas minuman. Perkenalkan, ini teman-teman kita yang menghayati Baudelaire dengan sepenuh hati: mabuk dan mabuklah! Get drunk and stay that way On what? On wine, poetry or virtue, as you wish... Jujur, saya juga bagian dari mereka; rekan-rekan yang akrab dengan air kedamaian. Bagi saya alkohol terkadang perlu untuk menjaga kegelisahan, dan kegelisahan adalah tempat bersemainya inspirasi (namun saya juga berusaha mengingat poetry dan virtue, tidak sekedar wine). Satu hal yang ditakutkan; perjamuan dalam kadar yang berlebihan bisa membawa efek yang tidak diinginkan, setidaknya membuat kita menjadi tidak produktif. Karya tidak lahir dari entitas yang hidup dalam dunia bawah sadar. Saya juga segan jika saya lebih dikenal karena hobi saya menenggak minuman daripada sebagai seorang mahasiswa sastra. Terkadang usaha mendisiplinkan tubuh juga perlu, bukan begitu? Berlawanan dengan kamerad-kamerad pengkonsumsi alkohol tadi adalah teman-teman kita yang sangat religius. Anda tak usah kemana-kemana untuk mencari mereka, di Sastra mereka ada dimana-mana. Tampaknya tak pas membicarakan revolusi atau karya yang subversif dengan rekan-rekan ini. Sebab tak ada riak ombak di laut yang dalam, pepatah lama mengatakan. Jadi mari kita batasi topik ini hanya pada kita yang masih bingung memilih antara religi dan religiositas, dua hal yang bagi Mangunwijaya jelas bedanya. Apalagi untuk saya yang sering mengutip Subagio Sastrowardoyo, salah satu pahlawanku, untuk menggambarkan hubungan saya dengan Beliau: Bapa di sorga. Biar kita jaga jarak Ini antara engkau dan aku Kau hilang diantara keputihan ufuk Dan aku tersuruk ke hutan buta... Berbahagialah mereka yang merasa telah menemukan lentera di ujung perjalanan.
Satu lagi dari Fakultas Sastra; "bidadari-bidadarinya". Sayang, saya tak tahu banyak tentang mereka. Apakah mereka kebanyakan bertipe licin dalam memperdaya lelaki seperti Lolita dalam novelnya Nabokov, gemar berpetualang karena materi seperti Madame Bovary, ataukah yang setia walau derita mendera seperti Hester Prince, entahlah. Saya berharap mereka tertarik dengan "revolusi" yang kita bicarakan. Anda lihat-lihat sendiri saja, siapa tahu anda menemukan satu dara yang bergaya Rive Gauche ala Paris '68 atau Flower Generation alias Hippies tahun 60-an. Lumayan, untuk ditanyai motivasinya tampil beda atau ngobrol tentang Howl-nya Allen Ginsberg:
I saw the best mind of my generation destroyed by madnes, starving hysterical naked,...
III
Lalu dimana Fakultas Sastra yang banyak menginspirasi dan melahirkan para pembawa nyala api revolusi di dadanya? Dimana calon Gie-Gie baru? Dimana Rendra-Rendra baru? Mereka tampaknya tersingkirkan diantara keriuhan pesta pora Fakultas Sastra yang kian riang dan dekaden. Mereka makin asing dengan gedung-gedungnya yang makin tinggi dan menebarkan kemapanan. Mereka mengingatkan saya pada perasaan yang Ayip Rosidi ungkapkan dalam puisinya berjudul New York, musim panas tahun 1972:
Disini matahari terbit tapi entah dimana Disini matahari terbenam tapi entah dimana Sinarnya tak pernah tiba di bumi tersangkut di gedung-gedung tinggi
Ya, Fakultas Sastra kini mirip metropolitan New York, dengan bule-bule lalu lalang kesana kemari. Ia makin asing bagi mereka yang merindukan suatu revolusi yang romantis. Ia semakin berjarak dengan sejarahnya yang pernah melahirkan nama besar seperti Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardoyo, Rendra dan Umar Kayam.
Lalu saya? cuma seorang flaneur di tengah hiruk-pikuk tersebut. Saya berusaha bercerita dari sudut pandang seorang pejalan kaki yang mengamati. Inilah tampaknya realitas di saat aktivisme dalam karya tak lagi memikat, di saat media kampus mulai sekarat, di saat tangan yang terkepal dan lagu darah juang mesti disimpan rapat, disaat Iwan Fals pun mulai menyanyikan lagu cinta, di saat –mungkin—revolusi sudah tak ada lagi.
(Padahal masalah tetap ada, realitas belum banyak berubah. Negara makin voyeuristic dan represif ketika blog pribadi bisa dipermasalahkan, kampus tak becus dalam mengurus GAMA card, DPR makin menggelikan dengan UU yang nyeleneh, dan seabrek masalah lain yang membuat kita mual secara psikis. Sudahlah, amini saja apa yang terjadi. Mari terus bermimpi!)
*tulisan ini juga bisa dibaca di majalah mahasiswa Dian Budaya Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada |