Home Artikel Tentang Wikipedia: Jangan Mengeluh, Tulis Saja Versimu!
Tentang Wikipedia: Jangan Mengeluh, Tulis Saja Versimu! Print E-mail
Sunday, 22 February 2009 00:08

Oleh Yus Ariyanto, koordinator Liputan6.com SCTV

 

Lantaran pekerjaan, saban pekan saya mesti mengetuk pintu Wikipedia. Lalu, bercengkerama dengannya. Saya membayangkan, jika pekerjaan ini dilakoni sebelum 2001, betapa menyita energi dan waktu. Hanya dengan membuka Wikipedia, sim sala bim, informasi yang saya incar melesat ke permukaan. Dalam hitungan beberapa detik.

Wikipedia? Ah, pasti cukup banyak di antara Anda yang mencibir: “Masak pseudo-ensiklopedia kayak gitu dipercaya…” Mari kita mudik sejenak ke 2001. Jimmy Wales, seorang pengusaha tajir, mulai membangun sebuah ensiklopedia online dengan cara yang benar-benar baru. Revolusioner. Dia menamainya “Wikipedia.” Dalam bahasa Hawaii, Wiki bermakna “cepat.”

Ya, metode pembuatannya sangat berbeda dengan Encyclopedia Britannica, untuk menyebut yang paling tersohor, yang dikerjakan para pakar selaku kontributor. Lalu sekelompok editor bekerja untuk coba memastikan bahwa kekeliruan telah pergi menjauh. Cara ini juga lazim ditempuh dalam penyusunan ensiklopedia-ensiklopedia lain.



Wikipedia justru “ultra-demokratis”: siapa saja bisa menyumbang bahan alias menjadi kontributor. Syaratnya cuma satu, yaitu punya akses Internet. Tak mengherankan jika jumlah entri-nya hampir mencapai 12 juta, dalam aneka bahasa. Terbanyak adalah edisi Bahasa Inggris yang lebih dari 2,6 juta entri.

Nah, justru karena siapa saja bisa menjadi kontributor maka cibiran semacam di atas meluncur deras. Jadi, sampahkah Wikipedia? Saya ingin mengajak Anda untuk menengok lagi buku yang beberapa waktu lalu sempat menjadi buah bibir: The Long Tail karya Chris Anderson. Dalam salah satu bagian, Anderson menyampaikan “pledoi” buat Wikipedia.

Anderson mengakui, Wikipedia memang tak otoritatif. Tapi, perhatikan fakta-fakta berikut. Pada sebuah riset jurnal ilmiah Nature di 2005, ditemukan bahwa dalam 42 entri untuk bidang sains rata-rata ada empat kesalahan per entri di Wikipedia dan tiga kesalahan per entri di Britannica. Dan, segera setelah laporan itu terbit, kesalahan-kesalahan di Wikipedia dikoreksi. Britannica? Tunggu cetak ulang berikutnya (Kita tentu saja tak membicarakan versi online dari Britannica).

Persis di sana terletak senjata Wikipedia untuk mengempang kesalahan akibat tiadanya seleksi kontributor: koreksi bisa dilakukan siapa saja, kapan saja. Bagaimana jika dalam “koreksi” itu mengandung kesalahan lain? Para penggemarnya yang kian banyak bertindak sebagai anggota sebuah sistem kekebalan, yang dengan sigap dan tanggap bereaksi terhadap ancaman apapun.

Dua kalimat terpokok dari Anderson adalah, ”Wikipedia sebaiknya menjadi sumber informasi pertama, bukan terakhir. Ia menjadi situs menggali informasi, bukan sumber fakta yang definitif.” Inilah yang mesti senantiasa diingat.

Faktanya, banyak orang kini lebih jatuh cinta pada Wikipedia ketimbang Britannica. Lebih lengkap, kerap lebih mendalam--meski harus hati-hati agar tak terjerembab. Saya sendiri tak punya pilihan: memilih Wikipedia atau pekerjaan harus diselesaikan dengan tenaga ekstra dan durasi jauh lebih panjang.

Secara umum, jika dulu para pengguna ensiklopedia hanya bisa mengeluh saat memergoki kekurangan atau kekeliruan, kini mereka bisa ikut berpartisipasi menyempurnakan. Don’t curse the dark, better to light a candle, kata pepatah uzur.


2.
Pada Desember 2007, Google merilis Knol (knol.google.com). Semula cuma boleh diisi para undangan, mulai Juli 2008 berubah: semua orang bisa ikut berkontribusi. Orang mulai membandingkannya dengan Wiipedia. Kendati pendekatan kontennya mirip ensiklopedia, Knol memiliki sejumlah perbedaan dengan Wikipedia. Knol mendorong pengguna untuk menampilkan identitas asli, berbeda dengan Wikipedia yang anonim. Dengan aturan ini, problem akurasi coba diminimalkan.

Ada perbedaan lain. Pada Wikipedia, setiap pengunjung bisa dengan bebas menyunting sebuah entri meski ditulis orang lain. Pada Knol, setiap orang juga bebas memberikan saran atau koreksi, tapi keputusan untuk mengubah tetap berada pada penulis asli. Satu hal, pembaca dapat memberi rating atau komentar atas setiap artikel. Sangat mungkin penyempurnaan dipicu sebuah pertanyaan atau skeptisisme. Definisi kontribusi lantas meluas: bukan melulu menulis dan menyunting, tapi bisa jadi sekadar mengajukan pertanyaan/komentar. Namun, jika ingin semua aspirasi tertampung, sila bikin tulisan dengan subyek serupa.

Perbedaan terakhir, Knol mengizinkan penulis artikel mendulang fulus dari Google AdSense. Kita mafhum, skema ini mustahil berjalan di Wikipedia selama mereka masih menerapkan konsep anonimitas.

Hal yang mengganggu, menurut saya, ditoleransinya tulisan-tulisan berkarakter opini, bukan sebagaimana lazimnya muatan entri di sebuah ensiklopedia yang melulu deskriptif-informatif. Ini membuat Knol seperti mengalami split personality.


3.
Era Pencerahan di Eropa, konon, dipercepat penemuan tiga benda: mesiu, kompas, dan mesin cetak. Mesiu membuat manusia bisa mengakhiri feodalisme, yang bermukim di balik dinding-dinding tebal kastil para ningrat. Mesin cetak menjadikan ilmu pengetahuan bukan lagi milik eksklusif sekelompok elit. Kompas membikin perjalanan jauh lebih aman, dunia baru bisa dirambah.

Bagaimana dengan Internet? Inilah suvenir terbaik dari abad ke-20: menyempurnakan proses demokratisasi informasi sehingga bukan lagi milik eksklusif sekelompok elit. Sejurus setelah itu, membikin orang terlecut untuk menempuh “perjalanan jauh, merambah dunia baru.” Wikipedia dan Knol adalah salah dua penghuninya yang paling berkilau.

Dalam konteks mutakhir, kata orang-orang pintar di bidang multimedia, situs semacam Wikipedia dan Knol merupakan representasi paripurna dari era Web 2.0: ketika partisipasi pengguna dan sifat interaktif menjadi sangat menonjol. Informasi tak hanya mengalir dari satu arah, melainkan timbal balik antara pemilik situs dan pengguna—pada akhirnya, pemilik bahkan sekadar menyediakan tempat. Semua ini masih belum revolusioner buat Anda?


Catatan: versi lain esai ini (yang lebih ringkas) pernah tampil di blog.liputan6.com. Sejumlah komentar berharga, terutama dari Rio Pangkerego, membuat saya tergerak untuk memodifikasinya.


Yus Ariyanto
About the author:
Yus Ariyanto saat ini adalah redaktur Liputan 6.com SCTV. Sebelumnya ia pernah menjadi wartawan untuk beragam media cetak, di antaranya majalah Sinar dan Forum Keadilan. Di masa mahasiswa aktif sebagai pengelola majalah Faktum yang diterbitkan mahasiswa Fakultas Komunikasi (FIKOM) Unpad di Bandung. Sekarang tinggal di Desa Limo, Depok, bersama istri dan dua anaknya.
Read More >>


Comments (5)Add Comment
0
...
written by yus , March 09, 2009
bung stepehen,

kayaknya saya gak keliru. saya menulis, "Bagaimana dengan Internet? Inilah suvenir terbaik dari abad ke-20:..." saya tak sedang menunjuk wikipedia, tapi Internet.

terima kasih.
0
...
written by Stephen Suleeman, March 09, 2009
Rasanya ini bukannya "suvenir terbaik dari abad ke-20", melainkan abad ke-21, karena Jimmy Wales memulainya pada tahun 2001.
0
...
written by ivanlanin, March 09, 2009
Tinjauan yang bagus, Mas. Judulnya sangat mengena dan sesuai dengan semangat Wikipedia. Btw, Wikipedia bahasa Indonesia juga sudah cukup banyak lho jumlah artikelnya. Belum lama ini mencapai 100 ribu artikel dan menjadi Wikipedia ke-25 terbanyak jumlah artikelnya, bahkan ketiga terbanyak di antara bahasa-bahasa Asia (setelah Jepang dan Cina).
0
...
written by athur, March 07, 2009
manusia memang tidak ada yang sempurna... smilies/cheesy.gif
0
...
written by athur, March 07, 2009
ya ga perlu ngeluh lah... di dunia khan ga ada yang sempurnasmilies/grin.gif

Write comment
smaller | bigger

security code
Write the displayed characters


busy
Last Updated on Monday, 23 February 2009 02:43
 
Banner
Banner
Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
Banner

Who's Online

We have 18 guests online

Follow Us On

Facebook Group: 50072354705 Twitter: jakartabeat