Home Artikel
Kolom
Fakultas Sastra, Setelah Revolusi Tak Ada Lagi Print E-mail
Saturday, 04 April 2009 05:39

Oleh Gde Dwitya, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada

 

 

Saya senang mengaitkan revolusi dengan sastra. Agen-agen peniup angin perubahan seringkali terilhami oleh karya sastra yang ia baca. Bukan kebetulan tampaknya jika Gie ada di Salemba, berjaket kuning dan berada di deretan garda depan generasi '66. Ia yang kini menjadi ikon para demonstran ternyata membaca Chairil dan Andre Gide di masa remajanya. Atau jika ingin contoh yang lebih terkini, Budiman Sudjatmiko dan aktivismenya yang menghebohkan bersama PRD ternyata adalah pengagum Hikmet Ran, penyair Turki yang bersama-sama dengan Pablo Neruda meraih penghargaan dari pemerintah Uni Sovyet di tahun 1950-an. Lalu saat kita berpaling ke seberang lautan, kita tak akan terkejut jika Ernesto Guevara de la Serna ternyata mengapresiasi Garcia Lorca. Kita tentu masih ingat ketika menonton biografi masa mudanya dalam mengelilingi Amerika Latin ditemani seorang sahabat, The Motorcycle Diaries, ia sering mengutip penggalan-penggalan puisi Lorca. Serta yang lebih familiar untuk anak muda sekarang, Subcomandante Marcos, tidak sekedar mengapresiasi tetapi ternyata sudah mengartikulasikan pikirannya lewat karya. Di sini kita jadi akrab dengan kumpulan karyanya yang bertajuk Kata adalah Senjata. Tak heran sebab sebenarnya dia seorang yang berasal dari kalangan ademis. Dunia film juga mengamini hal tersebut. Dancer Upstairs, film yang diadaptasi dari Novel karya Nicholas Shakespeare itu dengan cantik menggambarkan bahwa revolusi dimulai dari seseorang pemimpin yang berjiwa romantis. Disana diceritakan bahwa gerakan Maois revolusioner Sendero Luminoso di Peru, dipimpin oleh seorang yang melawan kekuasaan lewat teror yang puitis.

 

Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 22:40
 
Nasib Kaum Teknokrat Print E-mail
Tuesday, 31 March 2009 05:39

Oleh Ulil Abshar Abdalla, mantan koordinator Jaringan Islam Liberal, mahasiswa Harvard University

 

Kenapa nasib teknokrat di mana-mana hampir sama -- tidak populer, dibenci para politisi, dianggap tidak pro-rakyat, antek-asing, dan sebagainya, dan sebagainya?


Kasus Indonesia adalah contoh yang sangat baik. Mula-mula, kehadiran teknokrat di awal Orde Baru, terutama tahun-tahun pertama setelah Suharto menerima "kekuasaan" dari Bung Karno untuk --konon-- "memulihkan" keadaan, banyak dipuji oleh beberapa pihak. Hingga menjelang pemilu pertama 1971, mereka masih dianggap sebagai (istilah zaman itu) "orang kita" oleh para demonstran 66.

Last Updated on Saturday, 18 April 2009 08:05
 
Kartini dan Eropa: Sebuah Mimikri Print E-mail
Thursday, 26 March 2009 15:35

Oleh Laksmi Pamuntjak, penulis


Selama ini bila Kartini dibicarakan, ia selalu dilihat sebagai sosok yang utuh dan transparan. Atau ia sebagai feminis, sebagai pendekar emansipasi perempuan, atau sebagai pembela rakyat, pejuang anti-kolonial.



Tapi kita perlu ingat, dalam membaca Kartini, kita sebenarnya membaca sejumlah besar surat. Ia bukan saja berbicara mengenai “Aku” dan “Engkau” tapi juga kepada seorang “Engkau”, yang senantiasa harus ditafsirkan dan dinegosiasi. Kartini adalah contoh bagaimana “Aku” selalu merupakan subyek dalam proses.

Ini tampak jelas dalam surat pembuka Kartini kepada Stella Zeehandelar, seorang feminis dan sosialis Belanda berdarah Yahudi, jurnalis majalah mingguan Belanda untuk perempuan-perempuan muda progresif, De Hollandsche Lelie, yang mempunyai hubungan kuat dengan gerakan sosialis ternama di Belanda: “Panggil saja aku Kartini—itu namaku.”

Last Updated on Saturday, 18 April 2009 08:06
 
Krismon di AS dan di Indonesia -- sebuah perbandingan yang menjengkelkan Print E-mail
Wednesday, 25 March 2009 17:24

Oleh Ulil Abshar Abdalla, mantan koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL), mahasiswa Harvard University

Dalam seminar tentang Islam di Asia Tenggara yang saya hadiri di University of Michigan Ann Arbor minggu yang lalu (21/3/09), saya bertemu dengan sejumlah Indonesianis, Islamisis dan sarjana Asia tenggara (South-East Asianist). Antara lain, saya bertemu dengan seorang kawan yang dulu pernah "magang" di Freedom Institue saat melakukan riset di Jakarta dan sekarang mengajar di Universitas Cornell, yaitu Tom Pepinsky. Saya juga bertemu dengan Prof. John O. Voll yang dikenal selama ini karena studinya mengenai gerakan tajdid (pembaharuan) di dunia Islam. Dalam perjalanan pulang ke hotel tempat saya menginap, saya berjalan bareng bersama Tom dan Voll, dan saat itulah berlangsung pembicaraan yang menairk mengenai masalah krisis ekonomi di Amerika.


Caveat: saya bukanlah seorang ekonom, dan catatan yang saya buat ini hanyalah pandangan dari seorang awam yang sama sekali tak menguasai seluk-beluk masalah ekonomi. Di antara kami bertiga, yakni Tom, Prof. Voll dan saya sendiri, hanya Tom lah yang benar-benar belajar ekonomi.

Last Updated on Saturday, 18 April 2009 08:40
 
Potret Sang Mahasiswa Sebagai Rimbaud Muda Print E-mail
Monday, 23 March 2009 16:31

Oleh Gde Dwitya, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada


Saya ingin memulai tulisan ini dengan kisah seorang Arthur Rimbaud, sang petualang. Umurnya belum genap dua puluh saat pertama kali ia menyeret langkahnya menggelandang di Eropa pada tahun 1874. Ia lewatkan hari-harinya di Brussel, Antwerpen, London, bahkan hingga ke Stuttgart dan Marseille hanya untuk merangkak dari bar ke bar, meniduri pelacur-pelacur kontinental, dan tak lupa bertaruh nasib di helai-helai kartu remi. Tak heran jika penanya saat itu menggores tajuk-tajuk semacam Le bateau ivre (Kapal Mabuk), atau yang serupa pengakuan: Une saisons en enfer (Semusim di Neraka).

Di Antwerpen dan Marseille saat ia bekerja sebagai kuli pelabuhan, sempat terdengar olehnya bisik-bisik tentang sebuah terra incognita yang bernama nusantara. Barangkali terpesona atau bahkan tergoda, ia bergegas ke Handerwijk pada 18 Mei 1876 untuk mendaftar sebagai serdadu Nederland Indies. Genap dan usai sudah dua tahun petualangannya di Eropa saat ia diterima keesokan harinya sebagai relawan. Sebuah kapal bernama Prins van Oranje lalu melayarkannya menuju Batavia pada 10 Juni 1876.

Last Updated on Monday, 23 March 2009 17:44
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 8 of 13
Banner
Banner
Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
Banner

Who's Online

We have 33 guests online

Follow Us On

Facebook Page: jakartabeat.net Twitter: jakartabeat