Home Artikel
Kolom
Oposisi dan Tragedi Print E-mail
Tuesday, 25 August 2009 23:31

Oleh Geger Riyanto, alumnus Sosiologi Universitas Indonesia

 

Tidak, ini bukan cerita oposisi sebagai kecelakaan sejarah. Dalam sejarah politik kita hari ini, oposisi telah disepakati semua pihak sebagai suatu koordinat yang tidak dikehendaki. Setiap mesin politik kita, yang selalu mengejar tempat di episentrum kekuasaan, tak pernah membayangkan jumlah suara sangat sedikit akan didapatkannya dalam pemilu. Kendati harus duduk di kursi belakang, mereka memilih untuk masuk ke kereta api kekuasaan.

Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 05:27
 
Paradoks Nasionalisme Indonesia Print E-mail
Monday, 17 August 2009 04:09

 Oleh Sulfikar Amir, pengajar sosiologi di Nanyang Technological University (NTU) di Singapura

 

Indonesia tidak lahir dari tanah. Darahnya tidak mengalir dari mata air di kaki gunung. Ruhnya tidak ditiup oleh Sang Pencipta di atas sana. Dan seluruh takdirnya di masa lalu, kini, dan masa depan tidak tertera dalam kitab-kitab suci masa lampau. Indonesia adalah anak sejarah yang senantiasa mendekap dalam pelukan sang bunda kala yang mengandung dan membesarkannya. Sebuah ikatan yang membentuk wajah dan watak Indonesia yang penuh dinamika dan diwarnai oleh ambivalensi.

Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 05:27
 
Tepi-tepimu, Leo...(60 Tahun Leo Kristi) Print E-mail
Wednesday, 12 August 2009 16:47

Oleh Yus Ariyanto, redaktur Liputan6.com

 

Setiyadi tergolong penggemar berat Leo Kristi. Manajer di perusahaan multinasional di Jakarta ini mulai mengenal Leo pada 1978, saat duduk di bangku SMP. Anak sulungnya diberi nama Amanda Katia Khairunnisa. Jika ingat lagu Katia, Amanda, dan Aku di album Nyanyian Fajar, niscaya kita mafhum sumber inspirasi Adi, panggilan akrab Setiyadi.



Lihat menara mercu
Tinggal siluet
Tepat di balik kubah, matahari jatuh
Seratus burung melayang
Katia, Amanda, dan aku...

 

Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 05:27
 
Kinoki, si Mata Kamera Print E-mail
Sunday, 31 May 2009 15:57

Oleh Gde Dwitya, alumni Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Pertemuan saya dengan Elida Tamalagi dimulai dari sebuah sua impromptu di dunia maya. Sicut Dei, demikian nama penanya, berkunjung ke halaman blog seorang rekan, Windu Jusuf, dan menuliskan beberapa komentar selepas salam perkenalan. Saya dengan naluri seorang voyeur sempat mengintip dan berkunjung balik.

Saling mengunjungi di blog terus berlanjut sampai suatu hari ketika saya diajak singgah ke sebuah lokasi di Tirtodipuran oleh Windu, sang kamerad intelektual. “Kinoki, nama tempat itu, memutar film alternatif” katanya membujuk.

 

Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 05:28
 
Jangan Kau Tanya Arti Puisiku, Mario Print E-mail
Saturday, 16 May 2009 22:08

Oleh Gde Dwitya, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
 

Untuk Robert Frost dan The Road not Taken-nya
 

Saya sependapat dengan Horace yang pernah mengatakan bahwa puisi itu layaknya imaji atau gambar. Ut pictura poesis, katanya dalam Ars Poetica. Sederhana, sebab kata-kata yang penyair untai berusaha membangun sebuah penggambaran tertentu dalam benak pembaca. Seberapa berhasil sebuah puisi mengesankan saya tergantung dari sejauh mana ia berhasil mengkonstruksi imaji dalam pikiran ini.

 

Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 05:28
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 5 of 13
Banner
Banner
Make sure you have at least Flash Player 7. If not,please download.
Banner

Who's Online

We have 12 guests online

Follow Us On

Facebook Page: jakartabeat.net Twitter: jakartabeat