|
Thursday, 17 December 2009 02:52 |
|
Oleh Yus Ariyanto, redaktur Liputan6.com SCTV Bung, Saya terhanyut. Nurmala Kartini Pandjaitan atau Kartini Sjahrir atau Ker begitu piawai mendedahkan kisah kalian. Pada 1968, perkenalan itu terjadi. Ker masuk sebagai mahasiswa baru Fakultas Sastra Universitas Indonesia jurusan Antropologi, sementara dirimu adalah “mahasiswa tua” jurusan Sejarah di fakultas yang sama. Orde Lama telah runtuh, Orde Baru tengah menata diri. |
|
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 05:22 |
|
|
Sunday, 13 December 2009 17:08 |
|
Museum Louvre di Paris mengundang novelis Umberto Eco untuk menggelar sebuah pameran yang akan berlangsung hingga bulan Februari 2010 nanti. Tema pameran itu unik, The Infinity of Lists, mengenai makna pembuatan daftar/list. Mungkin orang menganggap pembuatan list beresiko mengabaikan hal-hal yang tidak dimasukan dalam list, sebab list secara alamiah akan bersifat ekslusif. Setiap list menjadi eksklusif karena ia akan memasukan satu hal dan mengeluarkan hal yang lain. Sehingga, list sering disebut sebagai alat yang menghancurkan keragaman dalam kebudayaan. |
|
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 05:20 |
|
Sunday, 01 November 2009 03:28 |
|
Oleh M. Taufiqurrahman, wartawan The Jakarta Post Dalam tulisannya di jurnal Ethnomusicology musim dingin tahun 2008 yang berjudul "Living the Punk Lifestyle in Jakarta", peneliti musik pop Indonesia Jeremy Wallach, di akhir tulisannya memberi konklusi bahwa pertanyaan yang tidak relevan untuk diajukan adalah bukan seberapa jauh punk di Jakarta memiliki karakter asli Indonesia, namun bagaimana musik punk dan gayanya beroperasi dalam budaya kaum muda Indonesia untuk menemukan arti, komunitas dan ekspresi diri dalam realitas pasca Orde Baru yang telah mengalami globalisasi dan ruwet. Ketika saya ketemu dengan kawan-kawan dari komunitas punk Marjinal di Selatan Jakarta, justru pertanyaan pertama yang malah lebih mengganggu pikiran saya. |
|
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 05:23 |
|
|
Monday, 26 October 2009 03:08 |
|
Oleh Nezar Patria, ketua umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, wartawan vivanews.com
PERANG, kata Sir Henry Maine, adalah praktik kuno manusia. “Tetapi, perdamaian adalah sebuah penemuan modern,” tulis hakim Inggris itu, pada suatu masa di Eropa pertengahan abad ke-19. Perdamaian, boleh jadi adalah ‘penemuan modern’. Atau juga bukan. Di tengah perang yang setua usia peradaban manusia, perdamaian adalah usaha tak mudah. Di Aceh, misalkan, orang kerap mengingat: pada satu masa, perdamaian adalah sebuah kemustahilan. Selama tiga dekade, politik di sana digerakkan amarah. Kata-kata digantikan senjata. Atas nama keadilan, konsep tentang “Indonesia” digugat Gerakan Aceh Merdeka (GAM). “Indonesia,” kata Hasan Tiro, sang pemimpin pemberontakan itu, “tak lain konsep kolonialisme Belanda, yang diteruskan oleh penjajah Jawa”.
|
|
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 05:23 |
|
Monday, 26 October 2009 01:39 |
|
Oleh Yus Ariyanto, wartawan Liputan6.com Matahari membakar Jakarta. Panasnya gampang melumerkan niat berkegiatan di bawah udara terbuka. Tapi, di depan Hall Basket Senayan, sekitar 5.000 mahasiswa berhimpun. Dari mulut anak-anak muda itu terlontar, ""Demokrasi, demokrasi, demokrasi pasti mati…Khilafah, Khilafah akan tegak kembali…" Pada Ahad, 18 Oktober 2009 itu, Kongres Mahasiswa Islam Indonesia (KMII) digelar. |
|
Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 05:23 |
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
|
Page 3 of 13 |